Monday, September 11, 2006

Perwujudan Cinta Betina, Yahya, Om Gaza, dan Attilio

Dalam sebulan terakhir boleh dibilang saya beruntung menonton banyak film-film dengan tema-tema cukup menarik, antara lain Betina yang mengundang penonton dengan isu bestialitas (berhubungan badan dengan hewan), Koper yang menyindir masih adakah kejujuran dalam masyarakat Indonesia, I Love You, Om yang mengisahkan cinta monyet anak kecil terhadap orang dewasa, dan Tiger and Snow yang berkisah tentang seorang duda yang mengejar cinta sejatinya. Ternyata di antara keragaman tema tersebut, ada benang merah yang menyatukan keempat film tersebut ke dalam satu tema, yaitu cinta walau pada masing-masing film tokoh-tokohnya memperlakukan cinta mereka dengan cara berbeda-beda.

Betina
Film garapan Lola Amaria ini berhasil menipu saya untuk menontonnya dengan promosi bestialitas yang ternyata tak seberapa. Bahkan, sebenarnya film ini sempat menimbulkan amarah saya, karena di tengah gerilya kawan-kawan saya untuk memperjuangkan kebebasan menganut kepercayaan tanpa rasa takut kehilangan hak sipil, tiba-tiba film ini seenaknya memberi kesan kepercayaan lokal hanya berisi ritual-ritual tak masuk akal. Namun lepas dari amarah saya, cinta yang dialami tokoh utama film ini, Betina (Kinaryosih) menarik untuk diikuti.

Betina adalah tipe wanita yang (mengutip Agus Kurnia di film Jomblo), "cantik sih cantik, tapi tipe kayak gitu yang jadi psikopat saat diputusin. Yang kayak gitu yang koleksi ginjal korban". Pemerah susu yang diincar banyak lelaki ini, lebih senang menyepi bersama sapinya atau mengikuti rombongan kematian demi melihat wajah si pemimpin ritual (Agastya Kandau). Bestialitas yang dilakukannya adalah wujud rindu tak sampai, bukan sekedar kegilaan yang sering ada dalam cerita-cerita internet, dan Betina tidak sendirian karena kawannya, Luta yang juga berada di peternakan juga mengalami penderitaan yang sama.

Terinspirasi oleh perbuatan penggemar rahasianya, Betina akhirnya menemukan cara mendekati sang dukun pujaan. Sayangnya, Betina didahului oleh penggemar rahasianya yang tak rela wanitanya dinodai lelaki lain.

Koper
Film garapan Richard Oh ini berhasil menjadi satu-satunya film Indonesia yang memanjakan telinga saya di menit-menit pertamanya. Kesunyian yang didominasi asap rokok dan kepungan suara sepeda yang mengurung Yahya (Anjasmara) di depan kantornya memukau saya hingga suara ganjil gesekan kursi kayu dan lantai memaksa saya kembali ke bumi.

Tema utama dalam film in sebenarnya adalah Yahya yang bersikukuh menjaga kejujurannya dengan tidak membuka koper yang ditemukannya di pinggir jalan. Namun di film ini sebenarnya ada tema lain, yaitu cinta Yahya terhadap sang istri, Yasmin (Maya Hasan), dan cinta lain yang mulai bersemi terhadap bartender, Noni (Djenar Maesa Ayu) di Kafe Betawi walau tak pernah diakui dan ditunjukkannya karena komitmennya terhadap sang istri. Ironisnya, tak ada yang mengetahui seberapa besar cinta Yahya kepada sang istri kecuali "selingkuhannya". Semua menuding Yahya sebagai pria tak bertanggung jawab hingga keluarga istri pun harus bertindak tegas terhadap Yahya.

I Love You, Om
Film garapan Widy Wijaya ini menampilkan tema yang tak kalah kontroversial dengan Betina. Bila Betina menampilkan bestialitas maka I Love You, Om memilih pedofilia (pecinta [dalam arti seksual] anak-anak) sebagai temanya. Berawal dari simpati yang diberikan kepada Dion (Rachel Amanda), Gaza (Restu Sinaga) terjebak di dalam situasi yang menarik dirinya dari seorang pria normal menjadi pedofilia. Walau didesak oleh keluguan Dion, Gaza menyadari cinta terlarang mereka hanya akan merusak masa depan Dion. Ironisnya, walau Gaza berusaha mengajarkannya tentang cinta yang tak harus memiliki, Dion yang baru berusia 12 tahun tetap bersikukuh mengejar sang kekasih.

Harus diakui, film ini sebenarnya mempunyai potensi. Bahkan seorang Tiara Lestari[1] menyatakan diri tertarik setelah melihat trailernya sementara psikolog Tika Bisono memuji film ini[2]. Sayangnya, ide cerita penuh potensi ini harus tercemari oleh gaya-gaya sinetron yang membuat kualitas film menurun drastis dari tingkat yang sangat diharapkan saat melihat trailernya hingga tingkat di mana penonton merasa menyaksikan sinetron kejar tayang.

Tiger and Snow
Tiger and Snow, adalah satu-satunya film asing yang sengaja kumasukkan sebagai perbandingan. Tokoh utama film ini, Attilio (Roberto Benigni) harus mengejar cintanya yang bertepuk sebelah tangan, Vittoria (Nicoletta Braschi) hingga ke negeri 1001 malam yang sedang dilanda perang. Segala cara ia lakukan agar bisa menyelamatkan sang kekasih yang terbaring koma. Kemampuan membualnya kini harus dimanfaatkannya untuk mendapatkan akses ke rumah sakit dan obat-obatan yang langka di tengah kekacauan.


Cinta Mereka
Cinta yang dialami tokoh-tokoh dalam empat film tersebut bervariasi. Cinta yang dialami oleh Betina adalah cinta paling rendah, yang bersumberkan dari seks belaka. Perilaku bestialitas yang ditunjukkan Betina menunjukkan hasrat tak sampai ini. Tak ada ucapan atau tindak-tanduk yang menunjukkan impian Betina mempunyai tingkatan lebih tinggi. Selektivitas Betina yang hanya memilih pemimpin upacara yang ganteng juga terdapat pada beberapa jenis hewan yang memilih pejantan tangguh untuk pasangannya. Selektivitas seperti itu tak lebih dari nafsu alami untuk pelestarian gen.

Cinta yang dialami Attilio dalam Tiger and Snow sebenarnya juga merupakan cinta yang diwarnai hasrat seks, terlihat dari percakapan menjurus antara Attilio dan Vittoria. Dalam perjalanannya, Attilio mampu menunjukkan bahwa cintanya terhadap Vittoria lebih dari sekedar hawa nafsu. Di akhir film, penonton akan diberikan kejutan mengapa Attilio begitu mencintai Vittoria dan cinta yang tadinya seperti main-main pun menjadi sangat manis.

Cinta dalam I Love You, Om lebih pelik dibandingkan kedua film tadi. Akan sangat mudah menuding cinta Dion, anak kecil berusia 12 tahun sebagai cinta monyet. Tetapi kalau diamati cermat, Dion tidak jatuh cinta kepada Om Gaza karena tampang dan fisik (siapakah yang mau jatuh cinta kepada cowok berjenggot kasar dan bertato?). Dion jatuh cinta kepada Om Gaza karena beliaulah satu-satunya yang mengerti rasa tertekan Dion. Om Gazalah satu-satunya yang bisa menghibur Dion, memberikan tawa kepada Dion. Cinta semacam ini tak bisa didapat Dion dari sang Ibu (Ira Wibowo) maupun teman-temannya, bahkan penggemar rahasianya. Apatah beda cinta Dion yang berusia 12 tahun dengan cinta seorang wanita dewasa yang mendambakan suami?

Gaza juga adalah karakter yang serba salah. Tadinya ia hanya bersimpati kepada Dion yang ditelantarkan oleh ibunya. Ketika Dion menyatakan cintanya, Gaza hanya bisa melongo menerima setangkai mawar merah muda dari tangan mungil Dion. Ia tak tega menghancurkan impian Dion hingga tak berani mengatakan tidak kepada Dion. Namun ketika rasa cemburu timbul saat melihat Dion bersama seorang teman laki-lakinya dan birahi terbit melihat Dion yang berpakaian seksi, Gaza menyadari bahwa perasaannya kepada Dion bukan lagi perasaan seorang kakak terhadap adiknya.

Cinta yang dialami Yahya dalam Koper terbagi dua. Cinta kepada istrinya lebih menunjukkan komitmennya terhadap pernikahan, seperti halnya komitmennya terhadap kejujuran. Sementara cinta yang tak pernah diakuinya kepada si bartender lebih mirip terhadap cinta platonis, didasari oleh rasa hormat terhadap tingkat intelektualitas sang bartender. Kedekatan Yahya kepada "selingkuhannya" tidak membuat Yahya menjadi jauh terhadap sang istri. Celetukan-celetukan si wanita lain justru membantu Yahya dalam langkahnya mendekatkan dirinya kepada istrinya yang sudah jauh jaraknya di adegan pertama.

Fokus Cerita
Cinta dalam cerita Koper bukanlah tema utama. Alih-alih menjadi pengacau tema, ujian cinta Yahya justru memperkuat tema utama, yaitu integritas Yahya dalam mempertahankan koper yang bukan miliknya. Yahya dipaksa harus memilih antara komitmennya terhadap cinta dan pernikahan dan kejujurannya terhadap koper misterius di tangannya.

Cerita Betina nyaris utuh sayangnya beberapa unsur terasa dipaksakan. Beberapa tambahan tak perlu tidak memberi tambahan informasi apa-apa mengenai karakter tokohnya. Mengutip Muji Arso di Layarperak.com, "banyak unsur yang sebenarnya tidak terlalu mendukung kesatuan cerita dan hanya tampak sebagai sensasi-sensasi kering semata" [3].

I Love You, Om adalah film yang paling tidak fokus dibandingkan ketiga film lainnya. Kisah Nayla (Karenina), mantan pacar Gaza, alih-alih menambah kekuatan cerita justru menjadi faktor utama penurunan drastis film ini. Selain kisahnya yang sangat dewasa sehingga tidak layak untuk ditonton anak-anak (catatan: Jangan bawa anak-anak menonton film ini!), cara pengungkapannya yang bertele-tele dan membosankan membuat film ini seakan-akan terdiri dari dua cerita yang sangat berbeda.

Karakter Nancy (Emilia Fox) dalam Tiger and Snow mungkin menjadi contoh baik untuk karakter yang tidak terlalu penting. Tokoh Nayla dalam I Love You, Om, walau tidak penting, namun harus ada untuk menimbulkan konflik hubungan antara Gaza dan Dion. Nancy dalam Tiger and Snow hanya muncul beberapa menit di bagian awal, tetapi keberadaannya menjadi penting, justru setelah rahasia terungkap di bagian akhir cerita. Nancy di awal cerita memberi petunjuk bahwa Attilio adalah seorang pecinta ulung dan mereka memiliki masa-masa indah yang kini sudah lewat. Kemunculannya di awal cerita membuat kita ragu apakah Attilio serius dalam cintanya terhadap Vittoria. Tindakan Nancy yang memilih menghindar (dan kemudian tak terlihat lagi) saat melihat Attilio pulang bersama Vittoria ke apartemennya juga ikut memberi petunjuk kepada penonton jatidiri Vittoria yang terungkap lebih jelas di akhir cerita.



Penyelesaian Cerita
Kelemahan dari ketiga film Indonesia adalah menggunakan kematian tokoh utamanya sebagai penyelesaian dari konflik. Pertama kali menonton film-film yang menggunakan kematian di akhir film memang menarik, tetapi bila terus-terusan melihat para pembuat film menggunakan kematian sebagai pelarian, tentu akanlah sangat membosankan. Merovingian dari The Matrix Reloaded dengan tepat mengatakan "Choice is an illusion, created between those with power, and those without (Pilihan adalah ilusi, antara mereka yang memiliki kekuatan dan mereka yang tak mempunyainya)" . Pembuat film adalah sosok yang seharusnya mempunyai kekuatan untuk menentukan jalannya cerita. Pembuat film harusnya mampu menawarkan pilihan lain yang tak dipikirkan oleh sebagian besar penontonnya sebagai wujud kekuatannya.

Dalam I Love You, Om, ada beberapa pilihan yang bisa dipilih untuk menyelesaikan cerita. Gaza bisa memilih akan menjadi pedofilia atau mencari cinta lain atau kembali ke cintanya yang lama. Sayangnya, alih-alih membiarkan Gaza hidup, pembuat film lebih senang memilih mematikan tokoh utamanya dengan cara serupa dalam lelucon tak lucu Gaza, "Kemarin ada tetangga Om yang cemberut terus mati. Dia cemberut terus tertimpa pesawat jatuh". Tampaknya pembuat film tak rela membuat perpisahan Gaza dan Dion tanpa memasukkan pernyataan dari Dion untuk menunjukkan betapa seriusnya cinta Dion terhadap Gaza, bukan sekedar cinta monyet.

Karakter mantan kekasih Gaza, Nayla juga akhirnya mengambil jalan yang sama dengan karakter Betina-nya Kinaryosih dalam mencoba mendekati cinta mereka, yaitu dengan membunuh penghalang mereka, Betina membunuh ibunya sementara Nayla membunuh selingkuhannya yang menyebabkan Gaza jijik. Seperti halnya pembuat Betina tidak rela Betina mengalami akhir yang bahagia, pembuat I Love You, Om juga tidak rela Nayla mendapatkan akhir bahagia (sementara tokoh utama, Dion tidak bahagia). Karena itu, cinta mereka harus mati. Maaf! Dunia memang kejam, duhai tokoh-tokohku.

Krisis yang dialami Yahya dalam Koper sebenarnya nyaris selesai. Yahya bisa mendapatkan uang untuk operasi istrinya tanpa harus mengorbankan prinsipnya untuk tidak membuka koper. Sayangnya, pembuat film tampaknya tidak rela kalau Yahya bisa bersatu dengan istrinya, karena dengan begitu, mungkin Yahya akan meninggalkan "selingkuhannya" yang selama ini menemaninya dalam kegelisahan. Alhasil, pembuat film memperpanjang konflik dengan Yahya yang mendapatkan uang lebih sedikit daripada target yang diinginkannya, terlambat datang ke rumah sakit sehingga membuat keluarga istri bertindak, dan office boy yang korup berhasil mencemari nama baik Yahya sehingga Yahya juga tak pantas untuk si bartender. Maka, Yahya harus mati walau penyebab matinya selalu kebetulan bagaikan lelucon tak lucu Gaza, "Dia cemberut terus tertimpa pesawat jatuh".

Tiger and Snow memberikan penyelesaian cerita yang lebih menarik. Satu-satunya kematian dalam film ini hanyalah kematian Fuad (Jean Reno) yang bunuh diri akibat tidak sanggup melihat keadaan tanah airnya. Akhir yang dialami oleh tokoh utama adalah akhir yang manis namun tetap open ending. Walaupun sebetik harapan muncul di akhir cerita, bila ingatan penonton kembali ke adegan-adegan awal (tentang sifat Attilio yang pecinta ulung dan cintanya bisa beralih), penonton akan menyadari secercah harapan di akhir cerita justru akan menjadi awal dari sesuatu yang bila tak dijaga akan menjadi penderitaan yang sama. Akhir bahagia tidak harus menurunkan kualitas sebuah film dan akhir tragis tidak harus meningkatkan kualitas sebuah cerita.



Sumber:
[1] http://tiaralestari.blogspot.com/2006/08/i-love-you-om_27.html
[2] http://www.kompas.com/ver1/Hiburan/0609/05/162229.htm
[3] http://www.layarperak.com/news/articles/2006/index.php?id=1156806082

1 comments:

wira said...

aaaargh.. spoiler... =P