Friday, February 13, 2015

Ketika Ada Kawan/Keluarga Yang Minta Akses Berkas di Google Drive

Terkadang kita mengirim berkas di Google Drive kepada kawan tetapi lupa untuk memberikan aksesnya. Saat kawan kita mencoba mengunduhnya, ia akan gagal dan biasanya ada pilihan untuknya untuk meminta akses (request access).

Setelah kawan kita meminta akses, kotak surat kita akan menerima surat elektronik yang meminta akses tersebut.




Setelah itu akan muncul dialog untuk membuka akses berkas tersebut.

 

Tinggal klik Kirim (Send) dan selesai sudah.
Tinggal memberitahu kawan tersebut bahwa aksesnya untuk berkas tersebut telah dibukakan.

Thursday, January 29, 2015

Apakah Koruptor Harus Menimbulkan Kerugian Bagi Negara?

Seperti yang tertulis di status facebook
https://www.facebook.com/kunderemp/posts/10152691086289226
"Dia bukan koruptor! Tidak ada uang negara yang masuk ke kantongnya"-- seseorang


Tampaknya dunia pendidikan masih harus kerja keras untuk mempromosikan gerakan anti korupsi. Definisi korupsi tidak sesempit 'mencuri uang negara'.

Dalam pasal 5 UU No 31 tahun 1999 jo UU No 20 tahun 2001 yang sekaligus menghapus pasal 209 KUHP tertera:

(1) Dipidana dengan pidana penjara paling singkat 1 (satu) tahun dan paling lama 5 (lima) tahun dan atau pidana denda paling sedikit Rp 50.000.000,00 (lima puluh juta rupiah) dan paling banyak Rp 250.000.000,00 (dua ratus lima puluh juta rupiah) setiap orang yang:

a. memberi atau menjanjikan sesuatu kepada pegawai negeri atau penyelenggara negara dengan maksud supaya pegawai negeri atau penyelenggara negara tersebut berbuat atau tidak berbuat sesuatu dalam jabatannya, yang bertentangan dengan kewajibannya; atau

b. memberi sesuatu kepada pegawai negeri atau penyelenggara negara karena atau berhubungan dengan sesuatu yang bertentangan dengan kewajiban, dilakukan atau tidak dilakukan dalam jabatannya.

(2) Bagi pegawai negeri atau penyelenggara negara yang menerima pemberian atau janji sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) huruf a atau huruf b, dipidana dengan pidana yang sama sebagaimana dimaksud dalam ayat (1).

Dengan kata lain,
polisi yang meluluskan anak di bawah umur untuk mendapatkan SIM C dengan komisi (baca: uang swasta), walaupun tidak merugikan keuangan negara (alias anak tersebut tetap membayar ke negara atas SIM tersebut) tetap dinilai sebagai koruptor dan dijatuhkan pidana.

Begitu juga, pejabat negara yang berjanji untuk membujuk seorang menteri untuk meloloskan pengusaha dalam perizinan dengan menerima komisi, walaupun pengusaha tersebut kelak bila mendapatkan izin juga akan membayar administrasi dan pajak ke negara, pejabat tersebut tetap dinilai sebagai koruptor dan dijatuhkan pidana.

Tak perlu ada uang negara mengalir ke kantong tersangka dalam dua contoh kasus korupsi tersebut untuk dapat dikenai hukuman pidana.

Sunday, January 18, 2015

Secuil Kisah dari Pinggiran Solo

Alkisah, di sebuah kerajaan di Pulau Jawa, sang raja baru dibesarkan sang Ibu dan paman yang anti Eropa. Walau memiliki pemahaman xenofobia yang disuntikkan dari dini, sang raja tidak berani mengusir orang-orang asing dari Pulaunya.

Hingga kemudian, orang-orang Tionghoa dibantai besar-besaran oleh orang Eropa. Mereka yang masih hidup melarikan diri. Kaum pribumi bersimpati dan memberikan perlindungan dan salah satunya melapor kepada raja. Sang raja menganggap kesempatan menunjukkan kedahsyatannya telah tiba dan ia menitahkan sang patih untuk memberi bantuan kepada orang-orang Tionghoa menyerang orang-orang Eropa.

Orang-orang Eropa itu kelabakan dengan serangan balik orang-orang Tionghoa. Mereka pun mengirim persenjataan kepada bupati pembangkang dari Timur dan menjanjikan kemerdekaannya bila mengkhianati sang raja. Maka orang-orang Eropa berubah kedudukannya setelah dukungan Pembangkang dari Timur.

Sang raja melihat perubahan posisi lawan menjadi takut dan melempar kesalahan kepada sang patih untuk mendekati orang-orang Eropa. Maka sang patih pun menjadi buronan dan akhirnya terbunuh.

Orang-orang Tionghoa beserta pasukan sang patih serta orang-orang Jawa anti-Eropa kecewa pada sang raja dan memilih pemimpin baru dan Pasukan Kuning mereka menyerang istana sang raja. Sang raja pun terusir dari istananya, terlunta-lunta.

Sang Pembangkang dari Timur berhasil merebut istana sang raja dari para Pasukan Kuning dan menyerahkannya kepada Eropa. Orang-orang Eropa ternyata menyerahkan istana itu kembali kepada sang raja.

Sang raja kecewa, tanah kekuasaannya sedikit dan membuat sayembara bagi siapa yang bisa merebut tanah kekuasaannya dahulu dari tangan musuh. Salah satu mantan pendukung Pasukan Kuning kembali ke pihak sang raja, memenangkan sayembara tersebut namun kemudian dikhianati sang raja atas bisik-bisik orang dekatnya. Si panglima yang dikhianati raja kembali mengangkat senjata. Sementara masih ada juga panglima pemberontak lain yang masih meneruskan perlawanannya.

Situasi politik semakin kacau dan sang raja pun pusing.
Akhirnya, sang raja menyerahkan kekuasaannya kepada orang-orang Eropa.

Sang raja yang dilahirkan dan dibesarkan dengan propaganda-propaganda anti-Eropa, akhirnya menutup hayatnya dengan menyerahkan kekuasaannya, secara sukarela, tanpa paksaan kepada orang Eropa.

Catatan:
Nama sengaja saya samarkan supaya tidak ada yang googling nama.
Penyamaran nama memiliki efek samping menimbulkan persepsi yang salah di mata pembaca.

Monday, January 12, 2015

Klarifikasi atas Diari Jonru #09

Ini sekedar klarifikasi atas Diary Jonru #09 yang ditulis di
http://jonru.com/2015/01/12/diari-jonru-09-mulai-rajin-diskusi-debat-di-internet/
yang paragraf akhir sebagaimana dikutip berikut:

Namun belakangan, terjadi konflik internal antarpengurus, yang akhirnya membuat saya memutuskan untuk menutup website ini.

Tergantung bagaimana mendefinisikan "pengurus" Ajangkita.com saat itu, namun konflik antar pribadi pengurus Ajangkita tidak sampai membuat beliau menutup website tersebut, setidaknya sejauh yang kutahu hingga "Konflik Ajangkita II" yang membuat pengurus hengkang.

Pada awal 2011, terjadi "Konflik Ajangkita II" ketika Bang Jonru sebagai pemilik domain dan penyewa alokasi hosting tempat Ajangkita.com berada, kecewa dengan perkembangan Ajangkita yang terlalu bebas dan mengusulkan pengubahan agar Ajangkita menjadi lebih homogen, di antaranya dengan menutup Dialog Antar Agama atau setidaknya mengubah format DAA menjadi lebih terarah.

Para pengurus Ajangkita pra-Konflik Ajangkita II yakni Admin (saya), Moderator Umum, dan para moderator saat itu tidak sepakat dengan ide tersebut dan setelah berhari-hari berdebat dengan Bang Jonru akhirnya menyatakan mengundurkan diri dan mempersilakan Bang Jonru untuk membentuk format website Ajangkita yang ia kehendaki.

Kami yang mengundurkan diri, kehilangan tempat bermain dan akhirnya membuat forum baru Kopimaya.com. Kadang kala kami bercanda bahwa orang-orang Kopimaya.com adalah mereka yang terusir dari lapaknya karena pemilik lahan punya rencana lain.

Bang Jonru sendiri, sempat mengangkat jajaran pengurus baru dan Ajangkita.com tetap beroperasi beberapa bulan ke depan. Entah sejak kapan, terakhir kali saya mengecek, forum ini sudah tidak ada.

Saya tak tahu, apakah 'pengurus' dalam artikel Diary Jonru #9 merujuk pada pengurus Ajangkita terakhir ataukah merujuk pada kami. Kami sendiri, pengurus Ajangkita pra-"Konflik Ajangkita II" tidak merasa memiliki konflik internal yang jadi alasan menutup website bahkan hingga kini kami masih saling berkomunikasi baik di internet maupun di dunia nyata. Jadi asumsi saya, yang dimaksud adalah pengurus terakhir.

Sekedar catatan,
tidak ada foto  pengurus Ajangkita pra-"Konflik Ajangkita II" dalam tulisan Diary Jonru #09 namun sebagai gantinya ada foto pengurus Ajangkita pra-"Konflik Ajangkita I".

Dan jujur,
kadang saya masih merindukan Ajangkita tetapi waktu Ajangkita sudah lewat. Bahkan kehidupan forum internet pun kembang kempis, bersaing dengan jejaring sosial seperti Facebook, Twitter, dan Path.