Sunday, May 14, 2017

[Bukan Review] Genius episode 4

Mileva Maric adalah masa produktif Einstein. Pertama kali dahulu melihat foto Mileva Maric, saya sempat "naksir" dan melihat bahwa dia adalah murid terpintar saat ujian masuk di kelasnya Einstein, makin naksir pula. Tetapi entah kenapa jarang sekali dibahas padahal Einstein sangat produktif ketika ia menikah dengan Mileva Maric.

Nah,
Genius episode 2 hingga 4 ini menampilkan banyak sisi Mileva. Mau tak mau penonton diajak bersimpati dengannya. Bukan sekedar cantik dan cerdas, Mileva juga melalui perjuangan berat untuk masuk ke kelas di Zurich Polytechnic. Bahkan ternyata di antara orang Eropa pun, kebangsaan Mileva (Serbia.. yang juga bagian dari bangsa Slavic) dianggap sebagai bangsa paling rendah. Bahkan keluarga Einstein pun tidak suka pada Mileva.

Sementara melihat masa-masa produktif Einstein berada di saat pernikahan dengan Mileva, tak pelak ada rasa curiga bahwa Mileva ini punya peran dalam tulisan Einstein. Sayangnya, Einstein tidak pernah menyebutkan satupun peran Mileva bahkan dalam surat-surat diskusinya dengan teman-temannya.

Daaaan....
Di episode 4 ini, masa ketika Einstein sangat produktif, di saat sama ia digambarkan sebagai sosok bajingan yang memanfaatkan istrinya tanpa pernah membelanya di depan keluarganya, atau memujinya di depan teman-temannya.

Bisa dibilang, episode 4 ini adalah episode Genius paling emosional.

Untunglah istri saya sudah tidur sehingga saya menonton episode ini sendirian. Bisa habis badan saya dicubiti seandainya saya menonton bersamanya.

Sayangnya, episode ini bukan episode tanpa cela.
Episode ini sama sekali mengabaikan eksperimen Michelson-Morley padahal percobaan tersebut gagal membuktikan keberadaan ether (yang sering disebut Einstein dalam Genius episode 1,2, dan 3) dan kegagalan itu punya pengaruh cukup besar untuk mempengaruhi Einstein berani merombak posisi bahwa waktu mungkin tidak semutlak yang diperkirakan.

Demi dramatisasi, alih-alih menampilkan kegagalan eksperimen Michelson-Morley, episode 4 ini lebih menyorot sisi keluarga Winterler di mana sang kepala keluarga, Jost Winteler, yang sedang berduka menjadi inspirasi Einstein untuk teori relativitasnya.

Nah,
demi dramatisasi pula, tapi yang ini saya suka,
episode 4 menampilkan Marie Sklodowska dan suaminya, Pierre. Untuk menunjukkan kejamnya Einstein kepada sang istri, episode ini menampilkan bagaimana si Pierre menolak penghargaan nobel kecuali istrinya, Marie, juga disebutkan. Yup, Pasangan Pierre - Marie Curie.

Episode ini ditutup dengan kertas dengan formula yang terkenal: E = mc kuadrat.

Tuesday, May 02, 2017

May Day Hanya di Negara Dunia ke-3 ?

"May day hanya terjadi di negara dunia ke 3 yang diusung oleh konsep komunis-sosialis." -- seorang kawan sambil berbagi video pembuatan kondom menggunakan mesin.

Pertama,
May Day tidak hanya terjadi di negara dunia ke-3. Di negara maju seperti Amerika Serikat pun ada walaupun sebenarnya untuk negara Amrik karena sejarahnya agak beda, dirayakan bukan tanggal 1 Mei tetapi hari Senin pertama di Bulan September.

Kedua, salah satu hasil kerjaan serikat buruh adalah pembatasan waktu 8 jam bekerja. Sebelumnya, jam kerja itu bisa sampai 15 jam. Mungkin sebaiknya engkau belajar-belajar lagi deh contoh keberhasilan tuntutan buruh dari abad 19 hingga sekarang.

Ketiga,
kalau kamu doyan nonton film Hollywood atau nonton TV serial produksi Hollywood dan kamu mengikuti berita-berita tentang mereka, kau pasti tahu seberapa kuat serikat pekerja hollywood (macam SAG atau Screen Writer Guild) hingga mereka beberapa kali melakukan mogok kerja.

Apakah tuntutan para serikat pekerja Hollywood membuat kualitas film dan serial TV Hollywood menjadi sangat buruk dibandingkan kualitas film dan serial TV negara lain? Tidak!

Beda dengan di Indonesia, di mana para buruh-buruh sinetron (termasuk aktor-aktris) ditekan oleh para pemilik modal tanpa ada posisi tawar yang kuat. Apakah ketiadaan serikat pekerja yang kuat di dunia sinetron Indonesia menjadikan sinetron Indonesia lebih baik? Tidak!

Eh,
tapi kan dengan mahalnya buruh di negara maju, perusahaan-perusahaan melempar pekerjaan ke negara-negara ketiga macam India, RRT, dan tentu saja Indonesia. Bukannya berarti serikat buruh di sana memperparah keadaan di negara sana?

Sebenarnya, tindakan outsourcing untuk menekan produksi itu merugikan negara asal dan negara tenaga kerja. Dari sisi negara asal, jelas lahan pekerjaan menjadi berkurang. Dari sisi negara tenaga kerja, mereka bersaing dengan negara lain tanpa jaminan kecuali kontrak.

Bila sumber tenaga kerja kurang cerdas dalam membuat kontrak, bisa terjadi kasus seperti di balik layar Life of Pi di mana filmnya sangat laris, produser film sangat untung, tetapi perusahan kecil yang mengerjakannya bangkrut.

Balik ke topik,
kalau kamu sinis ama serikat-serikat buruh tetapi kamu masih doyan nonton film Hollywood, doyan nonton serial-serial TV Hollywood, sebaiknya mulai hapus file-file film-mu, bakar koleksi-koleksi Blu-Ray, DVD, dan VCD-mu, dan blokir situs-situs nonton streaming.

~RacauanGakJelasPagiPagi

Monday, May 01, 2017

Perubahan Suara Warga Jakarta Dari Pemilihan Presiden 2014 ke Pilkada DKI Jakarta 2017 (berbasis web bukan yang sudah diresmikan lewat rapat KPU)



Pada tahun 2014, PDIP mengajukan Joko Widodo menjadi Calon Presiden. Warga DKI Jakarta termasuk kelompok garis keras menyadari bahwa jika Joko Widodo menjadi Presiden maka DKI-1 adalah seorang Tionghoa non-Muslim. Jadi tak heran di tahun itu juga ada kampanye-kampanye rasis dan agama.

Walau dengan kepungan kampanye-kampanye berbau SARA, di Pilpres 2014, lebih banyak warga Jakarta merelakan Joko Widodo menjadi presiden yang juga berarti rela membiarkan Basuki menjadi Gubernur Jakarta.

Bagaimana perubahan suara antara Pilpres 2014 dengan Pilkada DKI Jakarta 2017?

Ternyata, partisipasi orang yang datang ke TPS cukup meningkat kecuali Kepulauan Seribu yang jumlah pemilihnya berkurang sekitar 795 orang.

Jumlah golput aktif (datang ke TPS untuk sengaja membuat tidak sah) juga meningkat kecuali Jakarta Pusat yang menurun (dan itu hanya 37 suara).

Di semua kotamadya (plus kabupaten Kepulauan Seribu), terjadi penurunan jumlah orang yang rela Basuki memimpin Jakarta. Dan sebaliknya, terjadi kenaikan pemilih lawan Basuki (menunjukkan secara aktif tidak rela Basuki memimpin Jakarta).

Yang menarik, di Jakarta Pusat, Jakarta Utara dan Jakarta Barat yang tadinya didominasi oleh orang-orang yang rela dipimpin Basuki berubah menjadi didominasi orang-orang yang tidak rela dipimpin Basuki dan ketiga kotamadya tadi menyumbang sekitar 49% suara.

Tampaknya yang menjadi kunci adalah Jakarta Barat, yang persentase kenaikan orang yang tidak rela dipimpin Basuki paling banyak dan di saat yang sama menyumbang suara yang cukup banyak.

Sementara, jumlah kenaikan golput aktif paling banyak terjadi di Jakarta Selatan dan Jakarta Timur.

Sekedar catatan,
tidak memperhitungkan jumlah pemilih baru (yang baru mencapai usia 17 tahun di saat pilkada) atau jumlah penduduk yang baru pindah ke Jakarta atau juga jumlah warga yang meninggal atau pindah ke luar Jakarta.

Saya mungkin juga salah cara menghitung persentasenya.

Ngomong2, ini juga data ada yang tidak akurat karena setelah data di web, data yang lebih akurat adalah yang sudah melalui rembug di berbagai tahap rapat-rapat KPU. 

Thursday, April 20, 2017

Mengapa Basuki Kalah

"Penderitaan keagamaan, pada saat yang sama merupakan ungkapan penderitaan nyata dan sekaligus juga protes melawan penderitaan nyata tersebut. Agama adalah keluh kesahnya makhluk yang tertindas,sanubarinya dunia yang tidak punya sanubari, karena itu agama merupakan roh dari suatu keadaan yang tak memiliki roh sama sekali. Agama adalah opioid (pereda rasa sakit semu) rakyat." -- Karl Marx tahun 1843, 20 tahun lebih sebelum nulis Das Kapital.

[catatan, opium di masa Karl Marx digunakan sebagai obat pereda rasa sakit]

Kalimat terakhirnya memang cukup kontroversial tetapi tak bisa disangkal, banyak kasus protes pemakaian simbol agama sebenarnya memiliki dasar nyata. Dalam satu semester terakhir kita melihat ungkapan-ungkapan terminologi agama bertebaran untuk me-liyan-kan orang seperti 'kafir' dan 'munafik'. Tak heran, yang diserang pun mencap para penyerangnya sebagai anti-keragaman tanpa melihat lebih lanjut apa yang ada di balik simbol-simbol itu.

Basuki Tjahaja Purnama adalah seorang politikus.
Sehebat-hebatnya para nabi palsu buzzer membungkus karakternya bagaikan kaum Saduki membungkus para raja-raja Yahudi dengan citra-citra agamis dan suci, tak bisa dielakkan adalah Basuki adalah seorang politikus.

Untuk para pecinta Basuki, ia adalah seorang "lesser evil" (penjahat yang mudaratnya lebih kecil) tetapi untuk penentang Basuki, ia adalah seorang "greater evil" (penjahat yang mudaratnya lebih besar daripada lawannya).

Basuki bukan sekedar politikus plin-plan [1] dan ingkar janji[2], tetapi dia tidak hormat pada kehakiman[3], pro-pengembang kaya alias tidak menghukum orang-orang kaya yang melanggar hukum [4], tidak transparan dalam pengelolaan keuangan [5].

Jadi ketika ditemukan Basuki mengomentari tafsir surat al-Maidah ayat 51, menuding yang menggunakannya sebagai pembohong padahal guru-guru agama banyak yang mempercayai demikian, maka lengkaplah sudah alasan menarik kegelisahan mereka ke arah topik keagamaan.

Mereka, kaum-kaum tertindas ini, bukanlah kaum ekonomi menengah ke atas yang pandai berdebat, memilih kata-kata, menulis status panjang-panjang menganalisis kebijakan, atau membuat kuliah twitter berseri. Karena itu, jargon-jargon agama lebih mudah digunakan. Basuki adalah kafir, Basuki menista agama, yang intinya satu: Basuki adalah sosok yang tidak peduli pada mereka bahkan mengancam mereka.

Kaum menengah ke atas mungkin menganggap pilkada adalah pesta demokrasi tetapi kaum menengah ke bawah menganggap pilkada adalah kesempatan menggoyang kesombongan Basuki setelah sebelumnya ia berulang kali mengabaikan putusan pengadilan. Ya, buat mereka, Pilkada Jakarta adalah perang.

Itu sebabnya, orang-orang yang dekat dengan mereka tetapi ngotot kampanye Basuki, mereka labeli sebagai sosok "munafik", sosok musuh dalam selimut yang merusak perjuangan mereka menjatuhkan Basuki, sosok yang tidak punya rasa solidaritas.

Namun, simbol-simbol agama, jargon-jargon agama adalah sesuatu yang berbahaya. Terjebak bermain simbol agama, mereka dapat lupa untuk apa pertama kali mereka pertama tak suka pada sang Gubernur Jenderal.

Sejarah membuktikan, ketika sebuah kaum berhasil lepas dari sebuah penindasan, mereka acap kali bingung, apa langkah selanjutnya dan kemudian terjebak pada nabi-nabi palsu. Kaum Musa, setelah lepas dari penjajahan Mesir, terjebak pada rayuan Samiri. Orang-orang Arab, pasca wafatnya Nabi Muhammad, sebagian tergoda pada nabi-nabi palsu macam Musailamah. Orang-orang Prancis, lepas dari feodalisme Louis XVI malah terjebak dalam teror Robespierre dan kelak jatuh kembali pada kediktatoran Napoleon.

Maka,
para pemilih Anies sekarang harus mulai introspeksi, merenung, apakah mereka baru saja menggantikan seorang diktator dengan diktator lainnya.
Mereka harus melepaskan segala atribut pengidolaan, penghambaan, pemberhalaan terhadap Anies. Mereka harus bergabung pada saudara-saudara mereka yang tidak memilih Anies, mengakui mereka sebagai sesama warga Jakarta.

Anies dan Sandi adalah politikus yang juga rentan untuk berbuat zalim.
Ini bukan sekedar Anies dan Sandi mungkin tidak menepati janji tentang program-program macam kemudahan kredit rumah atau program-program muluk lainnya tetapi mereka juga mungkin ingkar janji tentang penggusuran dan segala hal yang dibenci dari masa Basuki.

Jangan sampai, ketika kelak mereka melanggar janji,
tiba-tiba nabi-nabi palsu baru mencap pengkritik sesembahan mereka sebagai anti-agama, ateis, kafir, komunis, dan semacamnya.

PS: Status ini ditulis dengan asumsi hasil pilkada nanti sama seperti hasil QuickCount.
[1] Basuki berubah posisi dari pro-Prona di masa wagub menjadi anti-Prona di masa gubernur

[2] Basuki berjanji tidak menggusur Pasar Ikan dan Bukit Duri. Basuki berjanji menghentikan 6 ruas jalan tol.

[3] Basuki melakukan penggusuran saat pengadilan masih berlangsung. Basuki juga tidak menghormati putusan-putusan pengadilan yang menempatkannya pada posisi kalah.

[4] Basuki walau tahu beberapa pengembang Kelapa Gading merancang drainase-nya dengan kacau dan menyebabkan banjir, bukannya menindak, malah membantu mereka dengan membuatkan pompa. Basuki juga tidak merobohkan bangunan-bangunan tanpa IMB di Pulau D padahal sudah melewati proses peneguran berkali-kali.

[5] diskresi-diskresi penggunaan CSR tanpa audit tetapi hanya appraisal setelah proyek selesai, ini dikritik oleh ketua KPK saat ini dan mantan wakil ketua KPK

Sunday, April 16, 2017

[Bukan Review] - Kartini




Pemeran: Dian Sastro, Deddy Sutomo, Djenar Maesa Ayu
Sutradara: Hanung Bramantyo
Produser: Robert Ronny

Kartini: Kyai, adakah ayat AlQuran tentang ilmu ?
Kyai Sholeh: Iqra bismirabbika -lladzi khalaq ...

Itu adalah cuplikan dialog dari film Kartini versi terbaru buatan Hanung.
Di akhir abad 19, hiruk pikuk teriakan pembaharuan Islam yang dimulai di Timur Tengah sana belum masuk besar-besaran ke Pulau Jawa. Muhammad Darwis belum mendirikan Muhammadiyah apalagi Aisyiyah. Agus Salim, belum nekad membuka tabir laki-laki dan perempuan. Semua keberanian itu baru terjadi di awal abad 20. Kartini sendiri, melalui Kyai Sholeh Darat, mengerti bahwa Islam tidak memasung perempuan seperti yang dipercaya orang-orang Jawa di masanya, tetapi ia hanya mampu meminta sang kyai untuk menyelesaikan terjemahan AlQuran. Namun, ketika masa hidupnya, Kartini belum bisa mengandalkan Islam sebagai zeitgeist dalam menentang feodalisme patriarkal.


Tak heran Kartini akhirnya lebih dekat dengan orang-orang Belanda di masanya. Sejumlah penulis Belanda mempertanyakan struktur masyarakat yang dipegang di masa itu. Eduard Douwes Dekker misalnya, menulis fiksi Pelelangan Kopi Perusahaan Dagang Belanda (atau dikenal sebagai Max Havelaar) tahun 1860 yang menggugat abainya Pemerintah Kolonial Belanda pada kezaliman yang terjadi di Banten. Cecile de Jong, menulis novel Hilda van Suylenburg di tahun 1897, yang menjadikan tokohnya, seorang wanita menjadi pengacara. Mina Kruseman, mengritik tulisan Alexandre Dumas di tahun 1872 tentang hubungan pria-wanita.

Di awal 1890, dengan perubahan iklim politik di Belanda, politik etis mulai dijalankan di Hindia Belanda. Tentu saja tak semua Belanda punya niat tulus membantu rakyat jajahannya. Ada yang sekedar membutuhkannya untuk meraih kedudukan politik. Apapun motivasinya, Kartini memanfaatkan iklim tersebut untuk melakukan perubahan.

Kartini versi Hanung, bukanlah Kartini yang hanya perduli pada nasibnya, yang hanya menjerit nasibnya melalui surat-surat pribadi. Tidak. Hanung menampilkan Kartini sebagai sosok yang terinspirasi sosok Hilda, pembela kebenaran walau berjenis kelamin, dari novel yang ditinggalkan sang kakak, Sosrokartono. Menit demi menit, penonton disajikan usaha Kartini mengubah sistem feodal patriarkal, dari mempengaruhi kedua adiknya, menulis untuk dimuat dalam sebuah jurnal ilmu sosial tentang Asia Tenggara, hingga meningkatkan taraf kehidupan rakyat kabupatennya. Dahsyatnya, semua itu dilakukannya dalam tekanan kakak-kakak laki-lakinya serta ibu tirinya.

Musuh Kartini bukan hanya kakak-kakak dan ibu tirinya tetapi sistem feodal patriarkal. Sang ayah yang mendukung kegiatan Kartini dan adik-adiknya harus bertahan menghadapi serangan dari bupati-bupati lainnya. Beliau pun tak bisa mencegah ketika bangsawan lain menagih janji pernikahan adik Kartini dengan putranya.

Di tengah-tengah kemelut inilah, Kartini mencari jaringan pertemanan yang lebih luas seperti korespondensi surat dengan Stella. Ia pun juga mencari jalan melarikan diri dari kepungan tradisi melalui permohonan beasiswa sekolah ke Belanda, berharap menyusul sang kakak Sosrokartono.

Hanung Bramantyo, sudah tidak asing dengan genre sejarah biopik. Ini adalah film biografi ketiga yang ia buat setelah Ahmad Dahlan dan Soekarno. Kepiawaiannya memilih kru yang cermat menyiapkan properti untuk menciptakan ulang situasi zaman dahulu sudah tidak perlu diragukan lagi. Sepanjang film, kita melihat bagaimana ia mencoba menghindari penampakan jalan aspal dan sebaliknya, jalan berlandaskan pasir. Tentu saja, ada bagian yang tampak seperti anakronis tetapi jumlahnya cukup kecil.

Tentu saja, sebagai film, selalu ada kreativitas seorang sutradara. Kartini, misalnya, digambarkan biasa bermain panjat-panjatan dengan adiknya. Hanung juga tidak mau terkungkung dalam penggambaran "Kartini menulis surat", sehingga alih-alih menampilkan pena menari di atas kertas, ia memilih menggunakan imajinasi Kartini bertemu dan berdialog langsung penerima suratnya.



Ada hal menarik di akhir cerita ketika Kartini memberi syarat-syarat sebelum ia bersedia dinikahi. "Saya mengharuskan calon suami saya untuk membantu saya mendirikan sekolah buat perempuan dan orang miskin".

Untuk Hanung,
Kartini bukan sekedar pahlawan emansipasi wanita tetapi juga pahlawan pendidikan yang perduli pada orang-orang miskin.

Tuesday, March 07, 2017

Kajian Fiqih Kelompok Gerilya

Si fulan di media massa selalu bilang, "saya bukan teroris".
Begitu juga ketika fulan diwawancarai di acara talkshow di media mainstream selalu bilang, "saya bukan teroris". Fulan juga akan fasih mengutip kode-kode etika perang untuk menunjukkan bahwa ia tidak terkait dengan kelompok teror yang baru melakukan aksinya.

Namun ternyata di media-media internal teroris jaringan baru, di blog-blog internalnya, diam-diam ada tulisan perdebatan di mana ada bunyi si fulan meyakinkan kawan-kawan lamanya untuk bergabung dengan kelompok baru walaupun mereka masih ragu untuk bergabung dengan jaringan baru.

Sebelum saya membaca media-media internal tadi, awalnya saya berprasangka baik dengan si Fulan. Saya cuma menganggap si fulan sekedar garis keras lalu ada orang yang mendengar ceramahnya, terinspirasi dan memutuskan melakukan tindakan kekerasan walaupun tidak disetujui si fulan. Membaca surat-surat si Fulan di media internal ini, saya berubah posisi.

Oh iya,
pernah membaca kajian fiqih para kelompok terselubung ini?
Mereka berargumen dengan halus, mengutip sana-sini untuk menunjukkan "kedalaman" ilmunya, dan lalu akhirnya sampai pada kesimpulan bahwa tindakan mereka bisa dibenarkan.

Saya beri contoh konkrit cara penggiringan untuk menyetujui pendapat mereka, yakni tentang perbudakan wanita-wanita Yazidi.

Kalau mereka ditanya, apakah memperbudak wanita non-muslim itu boleh? Mereka akan fasih menunjukkan dalil-dalil bahwa ahli dzimmi harus dilindungi. Untuk berbicara di depan umum, kepada orang-orang awam, mereka akan menggunakan wajah seperti itu. Maka orang awam pun akan merasa tenang, ah... mereka bukan dari golongan nganu.

Namun ketika dalam kajian internal mereka,
mereka akan mulai membahas tentang keyakinan suku Yazidi.
Mereka akan mengutip sumber-sumber lain yang senada dengan tuduhan mereka tentang kesesatan suku Yazidi.
Mereka akan mengeluarkan dalil mengapa keyakinan Yazidi tidak bisa disamakan dengan ahli-kitab.

Dan akhirnya, mereka akan menunjukkan argumen kebaikan dari perbudakan sebagai alternatif dari jizyah atau eksekusi. Akhirnya, seseorang yang sudah melewati tahap-tahap pendidikan mereka akan sampai pada kesimpulan bahwa perbudakan wanita di masa modern bisa dibenarkan.

Nah,
saya terdengar seperti Bigot bin Muslimfobia sekarang. :D

Intinya, jangan langsung berprasangka baik pada "ulama" kontroversial hanya berlandaskan ucapannya yang bahkan baru diucapkan setelah ia dituding sebagai pro-kelompok kekerasan. Perhatikan juga rekam jejaknya.

Pernyataan membela diri seperti ini, "Apakah pernah Negara Islam membunuh orang tak bersalah? Tidak! Yang ada adalah Negara anti-Islam yang membunuh orang yang tak bersalah karena dalam Quran  membunuh orang tak bersalah muslim atau non-muslim maka ia membunuh umat manusia", adalah pernyataan yang sebenarnya bersayap. Bisa jadi, karena dalam kajian internalnya, ia dengan mudah membelokkan kembali pada kawan-kawannya mengatakan, "tetapi yang dibunuh adalah orang-orang yang melakukan kesalahan, kekejaman pada saudara-saudara kita".

Sebelum menerima pernyataan ini,
lihat lagi rekam jejak pernyataan-pernyataan mereka sebelumnya. Seberapa konsistenkah tokoh tersebut dengan pernyataan barunya. Ketika kalian dapati rekam jejaknya cukup konsisten, maka bolehlah kalian percayai dia.


Monday, February 20, 2017

Terus kamu rela Jakarta dipimpin Anies?

"Setidaknya, yang memilih Anies tidak fanatik, tidak 'pejah gesang nderek Anies', tahu rekam jejak inkonsistensi-nya Anies. Jika kelak ia dikritik, tidak akan ada pasukan buzzer atau relawan yang melakukan propaganda membohongi publik dengan cantik. Akan lebih mudah mengritik Anies daripada mengritik Basuki, sang manusia setengah dewa yang 'tak-pernah-salah'. Indonesia sudah pernah dua kali mengalami masa diktator penuh propaganda dengan para pecintanya yang setengah mati membela sang junjungan. Jakarta gak butuh pemimpin kharismatik. Jakarta gak butuh pemimpin yang penuh pesona menyihir para pecintanya. Jakarta gak butuh pemimpin yang berhasil menumpulkan hati para warganya karena keahliannya menampilkan data-data dan foto-foto kota yang cantik dan menawan"



PS: putaran kedua kemungkinan besar saya tak memilih karena satu dan lain hal.