Tuesday, June 02, 2015

Menggunakan Rsync Sebagai Alternatif SCP

Sebenarnya saya sudah lama mendengar program rsync tetapi selama ini tak pernah menggunakan. Biasanya saya menggunakan scp untuk melakukan transfer antar server.


Karena kemarin ada kebutuhan melakukan transfer file yang cukup besar dengan jaringan lemot, tampaknya saya perlu melirik rsync sebagai alternatif karena ada kemampuan untuk melanjutkan penyalinan data.

Yang saya coba saat ini syntax-nya adalah
rsync -v --partial --append --progress --port 22 [user]@[host]:[path/from/file] [user]@[host]:[path/to/file]

Parameter partial katanya sih untuk mengecek akhir berkas yang hilang. Bila ujung berkas tersebut hilang maka penyalinan berkas dilanjutkan dari ujung yang ada.

Parameter append konon untuk membagi berkas besar menjadi berkas-berkas kecil sehingga bila terputus,ya... ujungnya hilang. Tanpa parameter, setiap ada proses pembatalan maka berkas yang disalin hilang.

Parameter progress agar kemajuan penyalinan berkas ditampilkan ke user.

Jika port SSH-nya tidak standar, maka perintahnya adalah

rsync -v --partial --append --progress -e "ssh -p [portNumber]" [user]@[host]:[path/from/file] [user]@[host]:[path/to/file]

Demikian catatan saya untuk dicontek kembali di masa depan

Wednesday, April 29, 2015

Kenapa sih Kartini Dirayakan?

Dari status Facebook saya di
https://www.facebook.com/kunderemp/posts/10152873063669226

Masih tentang Kartini (sigh!),
begini, Nusantara sudah mengenal wanita-wanita perkasa. Saya gak usah jauh-jauh ke Aceh atau ke Minahasa atau ke Maluku. Mari kita bicara tentang wanita Jawa pra-Islam.

1. Ratu Simha dari Kalingga
Sang ratu terkenal dengan ketegasannya tentang hukum. Bahkan sang pangeran pun nyaris dihukum mati karena melanggar, hanya karena bujukan seluruh pejabat, hukumannya diringankan sehingga "hanya" dipotong kakinya.

2. Ken Dedes dari Tumapel
Kisahnya memang tidak menonjol, tampak seperti sekedar sebagai "harta" buat para lelaki. Tetapi perhatikan bahwa, seorang prajurit mantan rampok yang sudah memiliki kekasih, berani menikam atasannya demi mendapatkan dia. Perhatikan pula bahwa anaknya membunuh ayah angkatnya demi baktinya padahal si anak tadinya masih dalam kandungan ketika ayah kandung tertikam alias hanya Ken Dedes yang menyaksikan kejadian sebenarnya.

Jelas di balik kelemahannya, Ken Dedes adalah wanita yang berbahaya. (hmm.. kapan ya difilmkan? Terakhir sih, zaman George Rudy dan adegan 'uhuy'-nya tongue emotikon )

3. Ratu Gayatri Rajapatni dari Majapahit
Pasca tewasnya si anak angkat, Jayanegara oleh tabib kesayangan sang raja, Majapahit kehilangan pemimpin. Sang Ratu yang sebenarnya sudah menjadi bhikkuni, mengambil inisiatif, mengendalikan kerajaan dan mengangkat putrinya, Tunggadewi sebagai ratu boneka di Majapahit. Begitu ia wafat, sang putri langsung mengundurkan diri dan mengangkat Hayam Wuruk, menjadi raja.

Jadi sebenarnya wanita-wanita perkasa bukanlah hal yang aneh dalam sejarah Jawa. Namun, pasca penyerahan kekuasaan dari seorang Raja Jawa kepada VOC, dunia Jawa berubah. Para Bangsawan Jawa sudah mulai kehilangan rasa percaya dirinya.
Apalagi pasca Perang Jawa (Java Oorlog), para Bangsawan yang tadinya "pemilik tanah" berubah menjadi sekedar orang upahan. Bisa dibilang, di masa-masa ini, kita sudah tak pernah mendengar wanita perkasa, walaupun di istana Mangkunegara ada pasukan khusus wanita.

Lalu apa peran Kartini?
Kartini adalah wanita cerdas, tidak kalah dengan sang kakak, RM SosroKartono. Namun ia hidup dalam alam Priyayi Jawa di mana wanita sangat direndahkan. Secerdas apapun dia, tak bisa mengelak dari takdirnya untuk menjadi istri muda seorang bangsawan yang mata keranjang dan korup.

Jadi kisah Kartini adalah kisah seorang wanita tragis yang sebenarnya mewakili zaman dan budaya tempat dia hidup. Kebetulan, teman-teman curhatnya adalah orang-orang Belanda dan salah satu penyebab kesengsaraannya adalah rendahnya pengetahuan para bangsawan berkat pemerintahan Belanda.

Jadilah Kartini diangkat menjadi simbol oleh orang-orang Belanda sebagai simbol politik etis sama halnya dengan cerita Saijah dan Adinda. Bedanya, yang belakangan adalah fiksi (walau berdasarkan kisah nyata) Multatuli, sementara Kartini adalah sosok nyata. Mereka malu bahwa bangsa mereka menyebabkan kemunduran di Nusantara.

Dan pasca kematian Kartini kita melihat:
1. beberapa sekolah Kartini didirikan oleh Belanda dan beberapa para wanita Belanda datang untuk mengajar di Hindia Belanda;
2. Rohana Kudus ditawari kerjasama beberapa kali oleh Belanda untuk memasarkan karyanya. Walau pasca perselisihan dengan temannya menyebabkan ia lebih mandiri tanpa bantuan Belanda;
3. Dewi Sartika diberi penghargaan oleh Belanda atas sekolah-sekolahnya;
4. Permintaan Maria Walanda Maramis agar wanita memiliki hak memilih dikabulkan oleh Belanda;
5. diterimanya beberapa murid wanita di STOVIA dan di sekolah-sekolah Belanda.

Kembali ke kisah Kartini,
ia bukan hanya seorang wanita yang pandai menulis curhat-curhat belaka.
Alkisah, Belanda sempat menawarinya beasiswa untuk melanjutkan sekolah ke Belanda. Kartini menolak beasiswa tersebut karena ia, dengan jejaring temannya, mendengar ada seorang pribumi Minang di Batavia yang jauh lebih membutuhkan beasiswa tersebut. Maka Kartini meminta agar beasiswa untuknya, diserahkan kepada pemuda Minang tersebut.

Jadi, ya, Kartini bersikap sebagai seorang pahlawan, mengorbankan nasib dirinya untuk orang lain. Untuk hal ini saja, kurasa tak layak kita mencaci maki Kartini.
Memang sih, di akhir cerita, pemuda Minang yang tampan itu, menolak beasiswa untuknya begitu tahu Belanda memberikannya karena permintaan seorang bangsawan wanita. Pemuda itu tersinggung, merasa dirinya dinilai Belanda lebih rendah dibandingkan bangsawan sehingga tidak jadi prioritas. Kelak pemuda Minang tampan itu banyak aktif di Jawa membantu Tjokroaminoto.

Dari salah satu komentar mBak Novita di status tersebut.

Sebenarnya kalau baca catatan Kartini pemikiran yahh jauh ke depan, yang berpolemik harus baca tulis tulisan Kartini dulu. Mengenai pengorbanan Narpati,kenapa akhirnya Kartini memilih untuk dipoligami karena berdasarkan pertimbangan pertimbangan, salah satunya Bupati Rembang calon suaminya mengijinkan untuk mendirikan sekolah Keputrian di Rembang

Narpati sudah pernah baca buku ini? Juga bagus buat referensi, setiap surat Kartini diuraikan kembali oleh Pramoedya dan disertai rujukan tulisan Kartini.

Sebagian orang mungkin hanya mengetahui Kartini menulis dalam"curahan hati" yang dikumpulkan lewat buku Habis Gelap Terbitlah Terang,padahal Kartini sudah menulis sejak umur 14 tahun dan dipublikasikan ke umum di usia 16 tahun,tulisan pertama yang dipublikasikan adalan sebuah tinjuan atropologi tentang Perkawinan Pribumi di Koja Jepara.Kartini seoarng pemikir yang revolusioner,alasan kenapa satra yang menjadi pilihanya,karena ruang lingkup dan jangkuan yang lebis luas setiap gagasan,ide,perlawanannya akan dipublikasikan. 
Jadi menurut saya, Kartini layak diberikan gelar Pahlawan Emansipasi Wanita.

Jadi,
kurasa cukup jelas ya?
Walaupun ada banyak pahlawan-pahlawan wanita di bumi nusantara ini,
Kartini mempunya peran yang cukup "menggugah" di masa-masa awal pergerakan modern menuju Indonesia merdeka.

Bagaimana Membuat Clone Baru dari Project Mercurial Berukuran Besar

Terkadang suatu project mercurial sudah sangat lama, nyaris satu dekade, jumlah history-nya sangat banyak sehingga proses clone sukar dilakukan apalagi jika jaringan terbatas. Mercurial tidak memiliki pause and resume dan bahkan rollback setiap kali gagal sehingga mau tak mau proses clone harus dipecah menjadi beberapa proses pull.

Berikut adalah langkah-langkah memecah proses clone.

1. Buat folder baru tempat project mercurial tersebut akan di-clone.

2. Clone hingga revisi tertentu, baik menggunakan aplikasi seperti TortoiseHg atau menggunakan perintah hg clone.

Sebaiknya gunakan revisi yang cukup kecil namun sebagian source code-nya sudah ada misalnya revisi ke-4.
contoh:

hg clone -r 4 http://bitbucket.org/edwinang/owi

3. Selidiki ada berapa revisi yang dimiliki oleh project mercurial tersebut.

Cara paling mudah adalah menggunakan aplikasi tortoiseHg, dan coba pull semua baik lewat fitur workbench atau fitur synchronize dan lihat ada berapa changeset yang dimiliki project tersebut.

Alternatifnya, jika menggunakan perintah command-line, maka buat agar semua progress terlihat dengan syntax
hg pull --verbose --debug

Perhatikan ketika outputnya mulai menyatakan adding changeset dan perhatikan berapa changeset yang muncul.
Misal, saat menampilkan changeset terakhir layar keluaran menyatakan seperti ini:
changesets :11121 chunks
add changeset 044db2dcc931

Artinya saat ini project-nya memiliki 11121 changeset and changeset terakhir memiliki Node ID  044db2dcc931

Sebenarnya, untuk contoh ini, (sumber bitbucket.org/edwinang/owi di tanggal 28th April 2015) Node ID lengkapnya adalah  044db2dcc931faf11738b5d195e2507c932df058

Jika informasi changeset terakhir terlewat, ketika proses adding manifest, total changeset bisa terlihat.

Misalkan, output-nya menyatakan
manifest: 1085/11121 chunks (9.76%)

Artinya saat output tersebut, aplikasi hg sedang mengunduh manifest untuk changeset ke-1085 dari jumlah total 11121 changeset.

Sebenarnya, berarti ada 11125 revisi (karena saat clone pertama kita di revisi 4).

Setelah mengetahui jumlah total changeset, maka rencanakan berapa kali dan di revisi2 ke berapa saja akan dilakukan pull.

4. Lakukan pull untuk revisi tertentu sesuai rencana
hg pull --verbose --debug -r [nomorrevisi]

5. Lakukan update setelah pull revisi tersebut.
hg update --clean

6. Ulangi langkah keempat hingga semua changeset sukses terunduh.

Jika komponen yang sedang diunduh tampak lama sekali tanpa ada kemajuan, sebaiknya pasang sniffer seperti Wireshark untuk mengendus apakah aplikasi hg menyerah atau masih sedang berusaha mengunduh. Gunakan filter ip address server asal lokasi misalnya filter di Wireshark bisa diatur seperti berikut:
ip.addr == [no].[ip].[add].[ress]
contoh:
 ip.addr == 131.103.20.0/16

Jika karena suatu sebab, unduhan terputus dan transaksi tidak berlanjut dan tak bisa rollback, gunakan mercurial recover
hg recover --verbose --debug

Selamat mengunduh project Mercurial!

Thursday, April 09, 2015

[BUKAN REVIEW] TJOKROAMINOTO - (Std: Garin Nugroho, aktor: Reza Rahadian, Tanta Ginting, Ibnu Jamil)


Garin belajar dari Soegija. Tjokroaminoto-nya bisa dibilang lebih baik dari Soegija.
Dari sisi kualitas produksi sih, tata artistik, musik, dan sebangsanya, bisalah film ini kunilai 8. Teorinya sih begitu. 

Sayangnya ini film sejarah yang juga cukup dikenal. Jadi aku membawa beberapa harapan saat menontonnya. Alhasil, saya tidak bisa menilai setinggi 'kualitas produksi'-nya. Toh, proses menonton juga melibatkan sisi emosional subyektif si pemirsa.

Durasi film ini nyaris tiga jam dan sebenarnya bisa dibagi menjadi dua bagian. Bagian pertama adalah sejarah berdirinya Sarekat Islam dan bagian kedua adalah sejarah berdirinya Partai Komunis Indonesia.

Bagian pertama, LAHIRNYA SAREKAT ISLAM saya kecewa berat. Lebih baik membaca buku-buku tentang masa berdirinya Sarekat Islam baik non-fiksi maupun fiksi (seperti Jejak Langkah-nya Pramoedya Ananta Toer) yang jauh lebih memberikan kisah tentang kondisi ekonomi, persaingan bisnis antar pedagang, politik etis yang tak cukup, dan hal-hal semacam itu. 

Di film ini, Garin lebih banyak bermain simbol-simbol (dan jangan salah, saya mengerti dan menangkap beberapa simbol tersebut) tetapi mengabaikan narasi tentang pergerakan menjelang terbentuknya Sarekat Islam versi Tjokroaminoto sehingga terkesan melompat-lompat. Saya berani bertaruh, anak SMU yang awam sejarah dan menonton film ini pasti tidak tahu siapakah itu Haji Hasan Ali Surati. Paling yang cukup jeli mungkin bisa menebak bahwa beliau ada hubungannya dengan perusahaan bernama "Setia Oesaha". Jangankan sosok itu, sosok Samanhoedi pun juga hanya ditampilkan sekilas.

Selain itu, Garin juga lebih sibuk mencoba menampilkan pesan politiknya tentang keberagaman (diwakilkan oleh suku bangsa Tionghoa yang sudah membentuk perkumpulan THHK dan Stella, karakter campuran Indonesia-Belanda) dari Indonesia sehingga karakter-karakter yang terlibat dalam pembentukan Sarekat Islam jadi terkesan sekedar ditempel.

Alhasil, saya hanya bisa memberi nilai 6 dari 10 untuk bagian pertama tapi tenang, keseluruhan film ini nilainya tidak serendah itu karena masih ada bagian kedua.


Bagian kedua, yakni LAHIRNYA PARTAI KOMUNIS INDONESIA justru adalah -- dan saya sudah bisa menebak dari jauh2 hari melihat daftar tokoh dan cast -- bagian terbaik dari film Tjokroaminoto.

Berbeda dengan bagian pertama, karakter pendukung di bagian kedua, Semaoen, Muso, Darsono, Sosro sudah diperkenalkan di bagian pertama dan penonton diajak terlibat dalam perkembangan karakternya, dari karakter yang "nyantrik" pada Tjokroaminoto kemudian membangkang. Dan seperti yang saya harapkan, mereka terlihat mempunyai pikiran sendiri, bukan 'boneka Sneevliet' yang selama ini digemborkan oleh pelajaran-pelajaran sejarah di sekolah masa orde baru.

Yang juga membuat bagian kedua berhasil adalah sosok Agus Salim yang mungkin tidak akurat (seingat saya Agus Salim sudah berjenggot dari zaman pergerakan) tetapi cukup sukses untuk menampilkan "sosok baru" dalam Sarekat Islam yang 'beda budaya' dan *uhuk* mantan pegawai Belanda. Ya, Garin berani mendobrak, menampilkan Agus Salim, dengan penampilan berbeda dengan sosoknya pasca 1940 yang sudah "Islam banget".

Selain itu, walau tidak berani bermain di taraf perdebatan teoritis Marxis, tetapi di bagian kedua ini, ada beberapa isu-isu yang dimunculkan oleh tokoh-tokohnya. Untuk pertama kalinya, dalam sejarah perfilman Indonesia pasca orde baru, Partai Komunis Indonesia ditampilkan sebagai sosok-sosok idealis yang punya cita-cita.

Sayangnya, Garin terlalu ber-indah-indah-ria di bagian kedua ini sehingga mengurangi nilainya. Ia menampilkan buruh-buruh yang berdiskusi dengan Semaoen adalah buruh-buruh tani sehingga dalam diskusi serius, tampaklah warna-warna hijau yang rimbun di latarnya. Padahal, kenyataannya yang diajak diskusi jugalah buruh-buruh pabrik dan buruh-buruh kereta api. Pakaian Semaoen dan kawan-kawan saat berdiskusi sana-sini juga selalu necis tanpa pernah ada sepercik pun kotoran sehingga menimbulkan kesan elit yang jauh dari buruh. 
Bagian kedua ini, dan akhirnya menjadi penilaian saya untuk keseluruhan film, kunilai 7,5 dari 10. 

Tentu saja masih ada bagian-bagian lain dari film ini seperti kemunculan Koesno (Soekarno) atau kisah pribadi Tjokroaminoto dan istrinya namun jujur saja, kurang membuat saya tertarik. Bahkan cara aktor Soedjiwo Tedjo melakukan perannya di film ini, tak sebaik di film Soekarno. Bagian-bagian lainnya, terlalu "drama panggung" bahkan kadang seperti "Ludruk" yang dibawa ke layar lebar. Begitu kuat kesan "ludruk" terutama di bagian pertama film ini, saya sempat terpikir, mungkin seharusnya Garin membuat pendekatan ala opera (seperti yang dilakukan dia di Opera Jawa) kalau memang mau benar-benar 'nyeni'. 

Sebenarnya, kalau mau benar-benar meresensi film ini, bisalah saya sebut simbol-simbol yang muncul di film ini seperti kapas, lagu Terang Bulan, adegan Tjokro berbicara pada tembok keempat (pada penonton), adegan potong kuncir, adegan wanita Tionghoa berbaju ala Barat, gambar pendopo ala panggung ludruk yang ada di rumah Peneleh, karakter Stella dan Bagong tapi saya sedang tak mau meresensi film ini. Cukuplah sekedar menyampaikan uneg-uneg yang mengganjal saat menontonnya.

Friday, February 13, 2015

Ketika Ada Kawan/Keluarga Yang Minta Akses Berkas di Google Drive

Terkadang kita mengirim berkas di Google Drive kepada kawan tetapi lupa untuk memberikan aksesnya. Saat kawan kita mencoba mengunduhnya, ia akan gagal dan biasanya ada pilihan untuknya untuk meminta akses (request access).

Setelah kawan kita meminta akses, kotak surat kita akan menerima surat elektronik yang meminta akses tersebut.




Setelah itu akan muncul dialog untuk membuka akses berkas tersebut.

 

Tinggal klik Kirim (Send) dan selesai sudah.
Tinggal memberitahu kawan tersebut bahwa aksesnya untuk berkas tersebut telah dibukakan.