Thursday, May 24, 2018

Laksamana Keumalahayati akan difilmkan!



(Perjuangan Laksamana Malahayati ditampilkan dalam bentuk tarian dalam acara mlah peserta menampilkan pertunjukan kolosal perjuangan Laksamana Malahayati pada acara Apel Bersama Memperingati Hari Kartini Tahun 2018 di Lapangan Silang Monas, Jakarta, Rabu (25/4/2018) Widodo S. Jusuf /Antara Foto -- dicomot dari Beritagar)

Beritagar memberitakan, Kisah Laksamana Keumalahayati dari Aceh akan difilmkan oleh Marcella Zalianty.

Sementara itu, Marcella dan kawan-kawan juga sudah menerbitkan komik Keumalahayati, jilid 1, dengan penerbit Kepustakaan Populer Gramedia (KPG). Jadi sudah bisa diburu di toko-toko buku Gramedia terdekat.

Digambar oleh Ardian Syaf (yang pernah menggambar Batgirl).




Laksamana Keumalahayati adalah wanita Aceh di abad 16 M yang mengepalai pasukan khusus Inong Balee yang terdiri dari para janda, bertempur melawan pasukan Eropa baik Portugis maupun Belanda yang datang ke Selat Malaka.

Thursday, April 26, 2018

[Bukan Review] AVENGERS: INFINITY WAR *Spoiler*

(petunjuk bagi orang tua di akhir tulisan)

Di dasawarsa 1970an Dennis O'Neil menciptakan Ra's Al-Ghul, seorang teroris pecinta lingkungan yang berniat melakukan langkah ekstrim untuk melindungi flora dan fauna. Karakter ini muncul ke layar lebar tahun 2005 dengan perubahan motiasi dari kepedulian terhadap lingkungan hidup menjadi kebencian terhadap pemerintahan korup, dan Gotham adalah wakil dari korupnya dunia.

Pada masanya, kemunculan Ra's Al-Ghul di genre film superhero cukup radikal. Bahkan Iron Man yang muncul tahun 2008 yang mencoba meniru gaya Batman Begins, dikritik karena tidak memiliki penjahat dengan motivasi kuat. Karakter-karakter supervillain berideologi vacuum dari Marvel Cinematic Universe hingga akhirnya muncul kisah Civil War (Zemo) dan Black Panther.

Enam tahun lalu, saya tidak terlalu tertarik dengan Thanos maupun rencana Infinity War. Saya tak pernah menyukai pertempuran antar kosmik macam Fantastic Four vs Galactus, Justice League vs Apokolips, yada-yada-yada. Russo bersaudara tampaknya punya selera yang sama sepertiku dan mereka sudah dua kali mem-politisasi film Captain America dan kini mereka melakukan hal yang sama. Jika harus memilih antara karakter penjahat super yang memiliki motivisi mabuk kepayang cinta dan penjahat super yang ingin mengembalikan keseimbangan alam semesta, saya lebih menyukai kisah yang belakangan.

Maka, Thanos di adaptasi film pun berubah, menjadi seorang pungguk-merindukan-bulan menjadi sosok 'ala Thomas Robert Malthus yang meramalkan overpopulasi dan sudah terjadi di planetnya sendiri. Karena itu, ia menjelma menjadi pemimpin kultus berideologi macam Polpot, demi mencegah overpopulasi terjadi di alam semesta. "Aku sudah pernah menghindari takdirku dan tidak berakhir dengan baik, kini aku harus memenuhi takdirku" ujarnya pada putri kesayangannya, dan maka sepanjang film, Thanos berupaya mencari akik-akik mestika untuk mempermudah tugasnya semudah menjentikkan jari.

Setidaknya ada dua hal yang cukup rumit untuk membuat film ini, yang pertama adalah karakter terlalu banyak. Itu sebabnya Russo bersaudara tak terlalu ambil pusing menjelaskan masing-masing karakter dan berasumsi semua penonton atau setidaknya sebagian besar sudah mengerti karakter-karakter protagonisnya. Russo bersaudara justru lebih menekankan pada keluarga tak sempurna Thanos yang mengambil unsur-unsur Agamnenon.

Tantangan kedua adalah, bagaimana membumikan adegan perang kosmik superhero, dan Marvel tidak salah memilih Russo bersaudara untuk mengarahkan adegan ini. Russo berhasil di mana Joss Whedon, apalagi Zack Snyder gagal, yakni membuat pertempuran massal superhero memiliki kengeriannya. Dahulu saat Whedon membuat Avengers, tidak ada satupun adegan di mana kita cemas para penduduk bumi akan terluka oleh serangan Chitauri apalagi kekhawatiran tentang nasib protagonisnya. Snyder, walau mengumbar darah di mana-mana dalam film Watchmen tetapi tidak ada perasaan tegang saat menontonnya karena gayanya yang terlalu 'nyeni visual' apalagi ketika ia menyutradarai film superhero remaja yang minim darah, tak ada ketegangan sama sekali. Adegan Batman menyelamatkan Martha? Cih, itu cuma menunjukkan Snyder kebanyakan main game Arkham, tetapi tidak ada greget sama sekali.

Russo bersaudara fasih bermain dengan waktu ketegangan. Misalnya, ketika serangan pertama anak buah Thanos muncul, mereka menampilkan dari hal-hal kecil dahulu seperti getaran gempa, lalu suara-suara kepanikan dari luar. Dan ketika akhirnya karakter protagonis bertemu dengan anak buah Thanos pertama kali, ditampilkan betapa rapuhnya mereka. Ya, seperti kata teman-teman SD-ku dahulu, film laga yang bagus adalah kalau jagoannya kalah duluan.

Alhasil, bahkan walaupun sudah mendapat bocoran akhir film ini, saya tetap bisa menikmati ketegangan sepanjang film. Di sini, tak bisa hanya mengandalkan kekuatan untuk mengalahkan Thanos dan anak buahnya tetapi juga kecerdasan, kesabaran, dan tekad untuk mengorbankan diri maupun orang lain yang disayangi. Kata "war" yang berarti perang memang layak menjadi bagian dari judul film ini.


Petunjuk untuk orang tua:
Walau tanpa darah, adegan kekerasan di film ini cukup ganas. Dari adegan dada tertusuk tombak hingga dada tertusuk kapak ada di sini. Adegan mencekik leher hingga mati lemas juga muncul, begitu juga karakter sekarat karena leher tersaya juga ada. Adegan penyiksaan dengan benda-benda tajam juga muncul begitu juga adegan penyiksaan dengan cara mutilasi juga ada. Selain itu banyak ditampilkan tangan, perut, dan sejumlah anggota-anggota tubuh terpotong-potong.

Walau tidak ada ketelanjangan maupun hubungan seksual, film ini cukup banyak memuat ciuman antara karakter-karakternya sehingga mungkin untuk penonton Indonesia yang membawa anak akan kerepotan.

Tuesday, March 27, 2018

Memperbaharui (Upgrade) PostgreSQL (di Ubuntu)

Butuh upgrade Postgresql tetapi tidak mau kehilangan database dan role serta user yang lama?

Berikut langkahnya:


1. periksa cluster yang ada
$ pg_lscluster

2. install postgresql versi terbaru
$ sudo apt-get install postgresql-[no.versi]

3. periksa lagi cluster yang ada
$ pg_lscluster

4. matikan service postgresql
$ sudo service postgresql stop

kalau di-pg_lscluster mestinya teksnya bakal jadi merah
menandakan mereka sudah dimatikan.

5. hapus cluster postgresql yang baru
$ sudo pg_dropcluster [no.versibaru] main

atau kalau ragu, rename saja
$ sudo pg_renamecluster [no.versibaru] main nama_cluster_lain

6. upgrade cluster lama
$ sudo pg_upgradecluster [no.versilama] main

nantinya akan ada cluster baru, versi baru.
Coba saja pg_lscluster lagi


7.  silakan drop cluster lama.
$ sudo pg_dropcluster [no.versilama] main

Nah, sekarang bisa postgresql versi baru bisa dinikmati dengan password lama dan database yang lama.

petunjuk didapat dari:
https://gorails.com/guides/upgrading-postgresql-version-on-ubuntu-server

Friday, March 23, 2018

[Bukan Review] LOVE FOR SALE (Spoiler)




Sutradara: Andibachtiar Yusuf
Produser: Angga Dwimas Sasongko, Chicco Jerikho

Pertama-tama, film ini 21 tahun ke atas.
Ini bukan guyonan. Layar LSF sebelum film dimulai berwarna merah dan tulisannya menyatakan 21 tahun ke atas. Dengan kata lain, adik-adik yang masih SMU pun tak boleh menonton film ini.

Namun sejujurnya, film ini tidak layak dapat klasifikasi kejam 21 tahun ke atas kecuali untuk bagian sensitif non-seks dan itupun kalau sadar. Adegan seks, ya... sudah bisa diperkirakan ada, tetapi tidak banyak dan sebenarnya bahkan durasinya sangat singkat. Biar bagaimanapun, ini bukan film tentang seks.

Seperti yang bisa dilihat dari judulnya (dan iklannya), "cinta" di sini tidak nyata. Mungkin dari judul film atau dari iklan, kita akan geli, betapa bodohnya si karakter utama jatuh cinta pada wanita yang jelas-jelas ia "sewa". Mungkin ada yang kemudian menganggap film ini "contekan" dari "Pretty Woman" yang tersohor dari awal 90an, yaa... premis awal punya kemiripan tetapi film ini berkembang yang berbeda. Mungkin ada juga yang merasa film ini mirip dengan Her yang diperankan Joaquin Phoenix, dan ya... premis awalnya juga punya kemiripan tetapi akhirnya mungkin sedikit beda.

Kurasa, yang membedakan antara film ini dengan film-film dengan premis serupa adalah film ini mengajak berpikir, untuk apa sih jatuh "cinta"? Apakah "cinta" itu membuat diri korbannya berubah? Apakah "cinta" itu nyata seandainya obyek cintanya palsu ? Ketika si korban tersentak dari ilusinya, apakah berarti jatuh cinta itu bentuk dari perilaku sia-sia ?

Seusai menonton film ini, sejenak saya merenung, bukankah dalam kehidupan kita banyak sekali cinta pada hal yang kita anggap nyata tetapi bisa jadi sekedar ilusi belaka. Cinta tanah air misalnya, bukankah negeri ini berdiri di atas ide belaka. Kita bahkan tak tahu apakah negeri ini benar-benar mencintai kita walaupun kita sering dijejali propaganda untuk mencintai negeri ini. Apa yang membuat tanah air kita lebih layak dicintai daripada negeri orang lain? Kelak ketika kita menjadi korban ketidakadilan negeri ini dan dimusuhi mayoritas penduduk negeri ini, apakah kemudian rasa "cinta tanah air" yang selama ini kita tumbuhkan menjadi sebuah hal yang sia-sia belaka sejak awal? Jangan-jangan cinta tanah air itu tak lebih dari sekedar transaksi barter, "gue cinta ama tanah air, rela berkorban demi tanah air, selama tanah air memberikan kenyamanan buat gue".

Mungkin terlalu jauh membawa film ini ke ranah politik tetapi beberapa unsur sosial politik menyelinap ke dalam celah-celah kehidupan karakternya. Karakternya adalah sosok "Tionghoa" pemilik toko, yang memiliki teman-teman gaul nobar di kafe-kafe tetapi ketika ingin curhat, tempat mengutarakan uneg-unegnya adalah seorang konservatif yang doyan mengutip ayat-ayat Al-Quran dan tidak sungkan menunjukkan ideologi "Indonesia Tauhid"-nya. Bahkan identitas ke-Tionghoa-an karakter utamanya pun juga masih bisa dipertanyakan lagi dari dialog di tengah-tengah film.

Berbicara tentang cinta palsu, film ini bahkan di awal sempat menampilkan sebuah relasi "cinta" singkat, punah sebelum berkembang, dengan iringan dominasi "relasi kuasa" antara pihak laki-laki dan wanita. Ketika sang laki-laki menampilkan kekuasaan dalam hubungan mereka, sang wanita menangis tak bisa membela diri bahkan sukar berkata-kata. Sumpah, rasanya pengen nimpuk si laki-laki dominan yang tak lain adalah karakter utamanya, memanfaatkan hubungan 'bos - anak buah' karena kegagalan dia menjalin hubungan setara dengan wanita-wanita lain. Bahkan sebenarnya, awal hubungan "cinta" yang jadi plot utamanya juga diawali dengan sebuah relasi kuasa yang timpang, antara klien dan pemberi jasa.

Jika ada waktu, uang, dan pasangan (jomblo pun boleh tetapi lebih afdhol menonton ini berpasangan), maka tontonlah film "romantis" tak biasa dengan ketimpangan strata sosial dan nikmati bagaimana seorang pria jatuh cinta tanpa ia sangka sebelum ilusi cintanya hancur berkeping-keping. Tenang, tidak ada adegan tusuk-tusukan berdarah-darah 'ala psikopat dalam film ini.

PS: Film ini diproduseri oleh orang yang membawa Filosofi Kopi dan Buka'an 8 jadi jangan heran kalau ada poster film Filosofi Kopi nongol atau percakapan WA 'ala Buka'an 8. Selain itu, film ini dibuat oleh sutradara gila bola yang sudah bikin film-film tentang bola dari dokumenter, kisah cinta berlandaskan fanatisme bola, hingga kisah fiktif korupsi di jagat sepak bola, jadi jangan heran kalau banyak unsur sepak bola di film ini.

Friday, February 16, 2018

[BUKAN REVIEW] Black Panther

*dan seperti biasa Spoiler*
*untuk panduan orang tua, ada di bagian akhir*

Black Panther adalah film Marvel yang akhirnya bisa melampaui genre-nya, seperti halnya film The Dark Knight. Layaknya The Dark Knight, ada isu-isu kontemporer dalam film ini dan dapat dikatakan lebih dalam daripada Winter Soldier. Kabar buruknya, sementara The Dark Knight bisa dinikmati tanpa harus berpikir berat, Black Panther mungkin sulit dinikmati. Kuamati, banyak kawan-kawan yang mengeluh filmnya membosankan dan bikin mengantuk. Bahkan saat kutonton tadi, saya dan ibu putriku tertawa sendirian sementara sekitar kami diam sunyi.

Jadi, apa sih kisah film Black Panther ini? Kalau ada yang menceritakan film Black Panther sebagai "perebutan tahta" atau "intrik politik Wakanda", maka itu sama saja menganggap The Dark Knight sekedar film tentang Joker memasang bom di rumah sakit, di kantor polisi, dan bikin onar di sana-sini. Berbeda dengan Joker yang menghibur penonton di kemunculannya, maka Killmonger tidak semenawan Joker, tidak teatrikal, tidak memancing tawa macam Loki. Jadi gak usah heran, film yang dapat pujian dari para kritikus ini justru dianggap membosankan bagi para fans di Indonesia.

Film ini dibuka dengan seorang ayah menceritakan tentang Wakanda, negara yang menerapkan politik isolasi ala tirai besi dengan struktur monarki. Kemudian adegan beralih ke tahun 1992 pasca kerusuhan Los Angeles yang disebabkan tindakan kekerasan polisi rasis. Sementara sekelompok anak-anak afro-Amerika bermain basket di luar, di dalam apartemen, dua orang kulit hitam resah, khawatir polisi kulit putih datang menyerang. Sementara itu, di balik awan, cahaya biru menyelinap menuju ke apartemen. Kelak apa yang terjadi di apartemen ini menjadi latar belakang penyebab cerita dalam film.

Seusai 1992, film mengajak penonton ke Nigeria masa kini, salah satu negara Afrika yang menyimpan problem kekerasan oleh milisi-milisi bersenjata (misalnya Boko Haram). Kita menjumpai sang pahlawan berusaha menyelamatkan mantan kekasihnya yang sedang menyamar menjadi wanita yang diculik oleh milisi. Uniknya, ketika sang macan kumbang berniat menghabisi seorang milisi, si wanita malah menghalanginya, menyadarkannya bahwa sosok milisi yang nyaris dihabisi itu tak lebih dari prajurit anak.

Ketika karakter antagonis diperkenalkan kepada penonton, pembuat film mengajak kita melihat sebuah diskusi di kota London, salah satu bekas penjajah yang kekuasaannya meliputi seluruh penjuru bumi di abad 18-19. Sang antagonis, berdiskusi dengan seorang kurator kulit putih tentang koleksi-koleksi Afrika Barat di museum. Tentu saja, sang antagonis akhirnya menyindir bagaimana museum berhasil mendapatkan koleksi benda-benda Afrika dan bagaimana sang kurator memandangnya jijik sejak ia pertama kali menginjakkan kaki di museum itu.

Apa yang dikisahkan tadi barulah menit-menit pertama dan dengan latar belakang inilah, film ini menempatkan mitologi budaya pop-nya. T'challa, sang raja muda yang baru dilantik resah melihat ketidakadilan di sekitar negaranya dan mulai mempertanyakan kebijakan isolasi yang dianut leluhurnya. Namun hal itu tidaklah mudah karena rakyat-rakyatnya tak sependapat dengannya. Berbagai perbedaan pendapat timbul mengenai sikap Wakanda terhadap dunia. Di saat yang sama, reputasi raja muda tidaklah sekuat ayahnya.

Dan ya,
film ini bercerita tentang trauma penjajahan, solidaritas atas ketertindasan, isolasionisme, pengucilan, keterasingan, kesetiaan.

Walau karakter komik Black Panther tidak diciptakan oleh Afro-Amerika -- diciptakan oleh duo Yahudi Stan Lee dan Jack Kirby --, si sutradara, Ryan Coogler, memanfaatkan kesempatan ini memamerkan budaya-budaya Afrika yang selama ini diabaikan. Mantra-mantra, siul-siul, dan dentuman musik-musik perkusi? Ada! Tato dan riasan cat tubuh? Ada! Pernak-pernik perhiasan termasuk yang unik? Ada! Bahkan baju koko dengan pola hiasan yang mirip kaligrafi Arab! Menonton tata artistik dan tata busana film ini seperti sebuah jeritan kepada kaum Afro-Amerika: ini budaya leluhurmu!

Layaknya film Marvel di bioskop lainnya, film ini aslinya untuk 13 tahun ke atas (PG-13), namun LSF dengan bijak menaruhnya di 17 tahun ke atas, sayangnya ketertutupan LSF mungkin membuat orang tua garuk-garuk kepala mempertanyakan alasannya. Tidak ada adegan darah di sini (kecuali adegan darah menetes dari luka tembak) namun sepanjang film kita dijejali penuh tembakan membawa maut. Tak hanya itu, film ini juga memiliki adegan-adegan kekerasan akibat pertarungan senjata tajam seperti tombak dan pisau. Pernah melihat adegan Captain America menusuk pembajak dengan pisau di Captain America: Winter Soldier? Nah, adegan tertusuk tombak di film ini lebih banyak, lebih lama dan menampilkan wajah korban yang kesakitan.

Kalau anda adalah orang tua yang ingin mengajak anak nonton film superhero macam Spider-man, maka sebaiknya hindari film ini dan tunggu Ant-Man dan Wasp di bulan lain. Sebaliknya, kalau anda ingin memperkenalkan bahwa kulit hitam memiliki budaya menarik, wanita-wanitanya bisa menjadi wanita-wanita yang luar biasa, dan anda ingin menunjukkan pada anak anda bagaimana perbedaan tentang politik yang membawa perang saudara, maka Black Panther adalah film yang tepat.

Oh iya,
layaknya film sarat politik,
tentu saja, tidak ada solusi 100% benar di sini. Bisa jadi anda justru lebih simpati pada karakter antagonisnya dan menganggap solusi protagonis sebagai sebuah solusi naif. Atau, bisa jadi anda adalah tetua yang pro status-quo cinta kedamaian dan kestabilan walau berarti menutup mata atas ketidakadilan di luar zona nyamanmu.

Friday, January 26, 2018

[Bukan Review] THE GREATEST SHOWMAN *spoiler*

Secara pribadi, menyadari film ini berjenis musikal, menontonnya sedikit membuatku kecewa. Aku punya harapan tinggi tetapi semua rontok kecuali beberapa adegan. Tapi bisa jadi itu semata karena aku sudah menua, tak sanggup menonton gaya sunting potong cepat (quick cut editing).

Tanpa Wikipedia, tanpa google, semata dari film semata, aku sok menerka "perlawanan" di film ini. Kisahnya mengambil masa Victoria muda, yang masih berpikiran maju (belum kolot), belum menikah dengan Pangeran Albert.

Di masa ini, kaum kapitalis sedang mencoba meraih tempatnya sementara kaum aristokrat mencoba mempertahankan posisinya. Tokoh utama film ini adalah sosok proletar yang menjelma menjadi kapitalis namun masih memiliki dendam ingin dihormati kaum aristokrat. Walau ia sudah memiliki modal besar, dendamnya membara melihat anaknya dilecehkan "bau kacang" oleh kawan-kawan balet yang rata-rata dari para aristokrat.

Tokoh utama sang kapitalis, berhasil menarik aristokrat muda menanggalkan kastanya, warisannya, dan bersama-sama mengais rezeki dengan mengeksploitasi kaum yang terpinggirkan antara lain para cacat tubuh hingga hasil campur ras.

Bisnis mereka sukses, dengan pangsa pasar para kapitalis lain dan kelas menengah namun kerja mereka tak disukai kelas aristokrat maupun kelas proletar. Bagi kelas aristrokat, usaha sirkus mereka tak lebih dari sekedar upaya tipu-menipu sementara bagi para proletar, usaha berbasis eksploitasi mahluk terpinggirkan ini tak lebih dari penyebaran kesesatan.

Phineas, sang tokoh utama, berhasil merayu seorang penyanyi opera kelas atas untuk melakukan pertunjukan tunggal. Melihat akhirnya ia sukses menarik perhatian kaum aristokrat, ia tertarik memanfaatkannya walau - - dasar kapitalis - - dengan mengeksploitasi seniman-seniman miskin agar untung yang didapat lebih tinggi.

Sementara itu, usaha eksploitasi orang-orang terpinggirkannya terlantar, hanya diserahkan pada rekan muda aristokrat yang jatuh cinta pada wanita ras campur. Rekan muda aristokrat ini tak tahu rasanya menjadi kaum bawah dan ia tak punya kemampuan menghadapi proletar konservatif yang berunjuk rasa.

Singkat cerita, bencana pun terjadi dan sang kapitalis pun bangkrut. Di akhir cerita, sang kapitalis menerima takdir bahwa kelasnya adalah kelas kapitalis dan ia tak perlu mencoba menjadi aristokrat. Sementara sang rekan aristokratnya menerima kenyataan bahwa dengan berpindah menjadi kapitalis, ia justru menemukan cinta dan hasratnya dan ia rela kehilangan warisan untuk itu.

Jadi, ya The Greatest Showman bisa ditafsirkan sebagai propaganda kapitalisme. Film ini menjual mimpi bahwa seorang proletar bisa naik kelas menjadi kapitalis. Film ini juga mengajarkan, eksploitasi orang-orang terpinggirkan bisa menjadi bentuk upaya "kemanusiaan" dengan menampilkan mereka di depan penuh percaya diri. Film ini juga mengritik para proletar konservatif yang menghambat upaya kapitalisme "memanusiakan" orang-orang terpinggirkan.

-- ditulis di Mikrolet 16 Ps Minggu - Kp Melayu

Sunday, December 24, 2017

Fenomena Sejumlah "Skeptis" Terhadap Palestina: Netral atau Berkhayal Netral ?

Ada bedanya antara mencoba bersikap netral dengan berkhayal telah bersikap netral tetapi sebenarnya telah menelan mentah-mentah propaganda Zionis. Keinginan bersikap netral dan adil adalah hal yang layak dipuji. Namun apatah artinya netral jika sikap kritis itu ternyata tak lebih dari hasil menelan mentah-mentah propaganda?

Sepuluh tahun lalu, propaganda zionis biasanya hanya beredar di antara kecil orang-orang Kristen yang percaya Yahudi adalah bangsa terpilih. Sementara kaum Muslimin, bahkan yang paling liberal sekalipun, yang menginginkan hubungan dagang dengan Israel sekalipun, tidak akan menyebarkan propaganda zionis melainkan hanya bersikap realistis bila tidak bisa disebut opportunis.

Sekarang, saya melihat sejumlah skeptisme menyebar bahkan di antara kaum muslim. Dengan gagah berani, menyatakan diri bersikap netral, mereka menyebarkan sejumlah propaganda-propaganda zionis yang sebenarnya tak asing. Propaganda ini mencoba menyebarkan keraguan di antara para pendukung perjuangan Palestina. Bahwa sudah ada beberapa muslim yang mulai ikut menyebarkan propaganda ini, bukti bahwa propaganda ini sudah mulai berhasil.

Berikut tiga contoh propaganda zionis yang mulai menyebar di antara orang-orang yang mengira bersikap netral:

1. BANGSA PALESTINA TIDAK ADA, YASSER ARAFAT BUKAN ORANG ASLI PALESTINA
Bangsa Palestina sesungguhnya memang tidak ada dalam sejarah zaman dahulu, dan bisa disebut bangsa khayalan -- tunggu dulu -- sama fiktifnya dengan Bangsa Indonesia yang tak pernah ada hingga munculnya Perhimpunan Indonesia dan dikukuhkan oleh Sumpah Pemuda. Jika Bangsa Indonesia awalnya adalah etnis Melayu-Austronesia yang memiliki persamaan nasib dijajah oleh Belanda, maka Bangsa Palestina adalah etnis Arab yang memiliki persamaan nasib, yakni tanah mereka dijajah oleh Zionis atau bahkan mereka terusir dari tanah mereka dan tidak terserap secara emosional oleh etnis Arab lain yang sudah membentuk negara sendiri yang tercipta di masa pan-Arabisme.

Yasser Arafat memang lahir di Mesir, sebelum negara Israel lahir. Namun ayahnya dan keluarga dari ayahnya punya ikatan emosional dengan tanah Palestina. Seandainya Yasser Arafat tak punya hubungan keluarga dengan penduduk Palestina, maka kepeduliannya dan rasa emosi terhadap tanah Palestina sudah tak diragukan lagi bahkan ia sudah diakui oleh rakyat Palestina sebagai bagian dari mereka. Ini bukan hal yang asing bagi Bangsa Indonesia. Dalam sejarah Indonesia, sejumlah kaum Indo-Belanda macam Setiabudi (Douwes Dekker) atau HC Princen juga diakui sebagai Bangsa Indonesia oleh rakyat Indonesia.


2. BANGSA PALESTINA SUKA MENCARI MASALAH, TERPECAH BELAH
Para sok-netral biasanya akan memberikan daftar kekerasan yang dilakukan oleh faksi-faksi yang ada dalam perjuangan Palestina terhadap rakyat sipil Israel. Terkadang mereka juga memberikan pertikaian antar faksi-faksi di Palestina, mencoba memberikan pesimisme bahwa perjuangan Palestina akan gagal karena dinilai "menciptakan neraka sendiri".

Seharusnya para sok-netral itu paham bahwa dalam perjuangan meraih kemerdekaan, terkadang munculnya faksi-faksi yang saling bertikai tidak terelakkan. Bahkan Indonesia pun pernah mengalami semula di mana antar faksi saling mengejek, culik-menculik, bahkan bunuh-membunuh. Bahkan di antara faksi yang berjuang untuk kemerdekaan Indonesia, kadang ada juga yang melakukan kejahatan perang. Namun semua insiden dalam perjuangan itu tidak berarti keinginan sebuah bangsa untuk merdeka layak diabaikan.

Selain itu, salah seorang sok-netral itu tak sadar, bahwa di antara faksi-faksi bertikai di Palestina sudah ada usaha-usaha rekonsiliasi bertahun-tahun. Bahkan salah satu usaha terbaru untuk rekonsiliasi itu terjadi di tahun 2017 ini. Tapi karena pada dasarnya si sok-netral itu memang sudah menelan propaganda zionis, pengetahuan tentang perpecahan faksi yang ia sebarkan di medsosnya itu tak lebih dari sekedar berita basi.

3. ISRAEL ADALAH NEGARA MODERN YANG JAUH LEBIH DEMOKRATIS DARIPADA NEGERI-NEGERI ARAB
Pertama, harus dibedakan antara bersikap realistis dengan menelan propaganda.
Kita menerima Amerika Serikat adalah negeri yang berdaulat tetapi bukan berarti kita membenarkan berbagai konflik terhadap penduduk asli dalam sejarah negeri mereka. Begitu pula, kita menerima Australia adalah negeri yang berdaulat tetapi bukan berarti kita membenarkan berbagai kebijakan yang merugikan penduduk asli di negeri mereka.

Israel, adalah negara yang sudah menunjukkan kekuatannya berkali-kali, jadi adalah wajar keinginan untuk mengakui kedaulatannya. Namun, bahkan seandainya diakui kedaulatannya pun, bukan berarti harus menutup mata atas penjajahannya terhadap Palestina, menutup mata atas sejarah mereka mengusir etnis Arab di awal-awal berdirinya negara mereka.

Berbicara tentang keterwakilan pun, benar bahwa etnis Arab cukup terwakili secara proporsional di Knesset mereka namun itu hanya jika kita mengabaikan sejarah perubahan drastis perbandingan populasi etnis di wilayah ini pasca Aliyah dan juga mengabaikan populasi yang terusir dari tanah mereka dan belum terserap di negeri tetangga melainkan masih mendamba kembali ke tanah leluhur.

Berbicara tentang "kebaikan Israel", mungkin sebaiknya kenang juga "kebaikan Belanda" atas negeri ini. Dahulu, pasca Perang Jawa, Belanda hanya minta seperlima tanah untuk ditanam tanaman komoditas dan mereka membantu menjualkan ke pasar Eropa dan membagi sebagian kepada penguasa-penguasa lokal. Belanda dengan politik etisnya juga mendidik bangsa Indonesia, bahkan memberikan beasiswa kepada beberapa siswa untuk belajar di negeri mereka. Belanda juga menyediakan posisi-posisi kerja dengan upah lumayan. Perusahaan-perusahaan Belanda di negeri Indonesia juga mempekerjakan tenaga-tenaga kerja pribumi. Lalu kenapa Indonesia masih ingin merdeka dari Belanda ?

Selalu ada kisah di balik kisah, narasi di balik narasi. Tak perlulah saya yang awam ini memaparkan beberapa perbedaan antara teori legal Israel dan praktek di lapangannya. Kalau para sok-netral itu bisa bersikap skeptis kepada perjuangan Palestina, kenapa mereka juga tidak bisa melakukan hal yang sama kepada setiap cerita indah dari Israel ?



SAYA TIDAK BISA NETRAL, SETIDAKNYA SAAT INI TAK BISA NETRAL
Berbeda dengan para sok-netral, saya akui saya tak bisa netral.
Walau sudah bertahun-tahun saya berusaha obyektif, membaca dari kedua sisi, namun saya tetap tak bisa netral dalam memandang konflik ini.
Ketidaknetralan saya sebenarnya irasional dan emosional, yakni hanya karena saya melihat banyak kemiripan antara kisah Indonesia dengan Palestina.

Untuk saya, argumen para zionis yang merasa berhak menguasai tanah Palestina, bergelombang penuh bagai air bah datang dengan gerakan Aliyah mereka, sudah ketinggalan zaman selama tiga belas abad. Ya, sebenarnya, sejak Muslim menguasai Yerusalem, sejak itu pula lah kaum Yahudi sudah bebas pulang ke Yerusalem. Tentu saja, prakteknya, beberapa Yahudi pra-Islam sebenarnya juga sudah ada yang pulang walau harus takluk dan berpindah agama menjadi Kristen di masa Romawi. Sungguh, tak ada alasan buat para imigran Yahudi yang belakangan untuk membuat negeri sendiri dengan mengusir etnis Arab dari tanah mereka yang sudah ditinggali berabad-abad.

Bicara tentang kedaulatan Yahudi pun, bahkan dalam sejarah pasca pendudukan oleh Babylonia, hanya beberapa masa singkat Yerusalem benar-benar merdeka. Kebanyakan berada di bawah kekuasaan bangsa-bangsa lain seperti Persia, Yunani (Seleucid), dan tentu saja Bangsa Romawi. Sangat menggelikan kalau para imigran Yahudi merasa berhak mendirikan negara sendiri dengan alasan sejarah karena kenyataannya, sebagian besar sejarah mereka pasca Babylonia, tak lepas dari campur tangan bangsa lain.

Sejujurnya, ada masa saat berita-berita baik dari Israel membuat saya terlena dan mengira bahwa konflik akan cepat selesai jika Palestina mengakui kekuasaan Israel dengan segera namun ternyata praktek-praktek penyebaran propaganda ini membuat saya kembali berpihak pada Palestina.  Kenyataannya, perlawanan-perlawanan itu tetap ada bahkan usaha-usaha rekonsiliasi antara faksi-faksi Palestina yang selama ini bertikai membuktikan bahwa keinginan Palestina untuk merdeka itu masih ada.

Dan selama nyala api perjuangan Bangsa Palestina masih ada,
saya tetap mendukung Palestina.