Thursday, December 04, 2014

Terjemahan Laporan Um Antara Tentang Lokakarya Sabandar di Yogyakarta 8-9 November 2014

Sumber:
salinan laporan dalam Bahasa Inggris dari forum Sahabat Silat (sumber asli saat ini tidak bisa diakses) yang disalin-rekat oleh Kang Irfan M Fanani ke dalam topik grup fesbuk Komunitas Penggemar dan Praktisi Beladiri Indonesia

https://www.facebook.com/groups/komunitas83/permalink/748008971941898/

Tautan asli di Sahabat Silat (mungkin harus login dahulu)
http://sahabatsilat.com/forum/techniques-and-style-(jurus-silat)/workshop-sabandar-8-9-november/


Berikut adalah terjemahan dari tulisan Um Antara tersebut (diterjemahkan secara bebas).


Pertama-tama, saya (Antara) harus memberikan sedikit latar belakang tentang hubungan saya dengan aliran-aliran macam ini. Selain untuk memanjakan ego saya -yang selalu dikeluhkan istri saya-, saya juga merasa berkewajiban untuk menjaga harapan pembaca untuk tidak berlebihan.

Saya tidak tahu Sabandar. Tentu saja saya telah mendengar bahwa Sabandar, bersama dengan saudara-saudaranya, Kari dan Madi, yang menjadi pondasi-pondasi utama banyak dari aliran-aliran Sunda tetapi saya tak tahu bagaimana persisnya. Pengalaman saya dengan Silat terbatas dan sebagian besar adalah aliran-aliran Betawi, yang langsung kasat mata dan praktis. Dengan aliran-aliran Betawi yang saya kenal, tidak banyak yang berbicara tentang konsep-konsep. Fokus utama adalah  mengalahkan orang lain secepat mungkin, "jika dia melakukan ini, maka Anda melakukan begini". Jika ada konsep yang melandasinya, siswa harus menemukannya sendiri setelah bertahun-tahun berlatih.

Saya menganggap diri saya orang yang lebih mencintai konsep, sampai-sampai saya suka berbicara dan membaca tentang mereka dan malah tidak punya waktu untuk menempatkan mereka ke dalam keringat. Dan itu sebabnya saya akhirnya datang untuk bertanya-tanya tentang Sabandar dan saudara-saudaranya.

Dari workshop pertama yang diadakan beberapa bulan yang lalu - dan saya lewatkan- saya belajar bahwa Sabandar adalah silat jenis 'Tenaga Dalam'. Dan dari sekian banyak versi 'Tenaga Dalam', aliran ini termasuk tipe yang melempar orang lain tanpa menyentuh.

"Oh, tipe yang seperti itu", pikir saya tak acuh.

Saya punya alasan untuk apatis. Saya pernah latihan seperti itu lebih dari dua puluh tahun yang lalu dan tidak berhasil. Setelah setahun berlatih, saya masih tidak bisa mendorong siapa pun dengan --konon-- tenaga yang tak terlihat dan tidak pula merasakan tenaga dari orang yang mengaku mengerahkannya pada saya. Sangat kecewa melihat orang-orang terlempar dengan mudah di sekitar saya, yang kebetulan adalah junior saya, dan saya hanya berdiri diam di sana seperti patung perunggu. Lebih buruk lagi, saya dicap sebagai mati rasa dan tidak peka, bukannya mereka yang seharusnya dicap lemah dan tak berdaya.

Butuh waktu lima belas tahun untuk menyembuhkan luka harga diri saya. Pada percakapan dengan almarhum O'ong Maryono, semua orang termasuk saya menghormatinya sebagai tokoh terkemuka di Silat Indonesia, saya belajar bahwa ia memiliki pengalaman serupa. Bedanya, sementara saya mempercayainya sebagai tanda kelemahan,  O'ong justru menantang guru yang mengklaim memiliki kekuatan seperti ini dan sukses memukul mereka. Dia tak percaya pada tenaga macam itu. Baginya, Silat adalah murni fisik. Silat murni tentang kecepatan, kekuatan, dan waktu.

Saya hingga sekarang dan selamanya akan selalu bersyukur telah mendengar ceritanya.

Namun, pikiran sempit niscaya akan menuju jalan kehancuran. Pikiran skeptis yang sehat tidak akan menampik melainkan meminta bukti dan melakukan eksperimen. Mereka mengamati, bertanya, dan melihat dari perspektif orang lain. Jadi ketika saya mengetahui bahwa akan ada lokakarya lain di Jogja, saya mendaftarkan diri segera. Jangan-jangan saya adalah orang pertama yang mendaftar.

====

Saya tidak akan menjelaskan tentang sejarah Syahbandar / Sabandar sini, selain itu tidak dibahas dalam lokakarya ini, sudah ada banyak versi yang ditulis dalam internet, dengan berbagai kualitas tulisan dan tingkat seberapa bisa dipercaya ceritanya. Oleh karena itu, izinkan saya untuk fokus hanya untuk pengalaman belajar pribadi saya.

Setelah dua hari mengemudi dari rumah dan satu hari penuh Merapi Lava Tour dengan anak-anak (Anda percaya mereka mengizinkan saya untuk pergi ke Jogja sendirian?), Saya tiba di Really Fitness Center, tempat lokakarya. Masih belum pulih dari kelelahan, saya berjabat tangan dengan peserta lainnya, beberapa sudah saya kenal, dan beberapa lainnya saya punya firasat pasti kelak bertemu di suatu tempat, dan sisanya baru saya kenal. Pada dasarnya mereka adalah orang-orang itu lagi, yang dicap istri saya sebagai orang gila Silat.

Fasilitator, Pak Bambang Kurniawan dari Sukabumi adalah orang yang menyenangkan untuk diajak bercakap-cakap. Dia memancarkan kepercayaan penuh dengan seni yang dipelajarinya, dan tidak pernah enggan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan. Yang mengejutkan saya, dia mengakui bahwa ia keturunan Tionghoa dengan nama keluarga Chen, ya seperti nama aliran Taichi Chen. Ketika saya bercanda apakah dia akan mengajari kita Taichi bukan Sabandar dia tertawa dan berseru bahwa Sabandar tak lain adalah Taichi Sunda. Kemudian ia tiba-tiba berubah serius dan mengatakan bahwa jika saya telah belajar Taichi sebelumnya, saya akan segera melihat kemiripan.

... Dan kami mulai. Tidak ada pidato, tidak ada formalitas, dan tidak ada pemanasan. Hanya perintah sederhana, "mengambil posisi Anda".

Pertama, kita belajar sebuah jurus. Menurut Pak Bambang, hanya ada lima jurus di Sabandar ia belajar, yaitu dari garis keturunan Aki Ochim. Yang ia ajarkan adalah jurus pertama.

Itu adalah jurus yang sangat sederhana, dan tentu saja bukan jurus tipe "how-to". Kami diminta untuk membentuk kuda-kuda lebar sekehendak kita ... Rincian bagaimana persisnya tidak menjadi hal penting. Pak Bambang menepis semua pertanyaan mengenai sudut, arah, posisi kaki, atau sejenisnya, ia hanya berkata "serendah mungkin yang nyaman bagi Anda." Saya langsung tertarik. Itu kemungkinan jurus prinsip, bukan tentang rincian atau bentuk.

Dengan tangan terentang ke depan, membungkuk di siku, dan membentuk tinju longgar, kami diminta untuk menarik nafas dan mengeraskan semua otot sambil menahan nafas. Ini mengingatkan saya pada latihan isometrik, mirip dengan yang dilakukan oleh Kata-Kata yang ada di aliran-aliran Okinawa lama (misalnya Sanchin). Lalu kami membuat langkah kecil ke depan, melepas tinju kita ke depan sedikit, dan menghembuskan ledakan napas sekaligus melalui hidung, semua dilakukan dalam hitungan tunggal. Setelah itu, datang ciri khas dan yang paling penting dari jurus tersebut; relaksasi total. Hanya sesaat setelah gerakan meledak, kita harus mengendurkan semua otot-otot kita sambil tetap mempertahankan postur tubuh, dari seratus menjadi nol dalam sekejap mata.

Begitulah jurus berakhir. Kami memulai kembali dengan menarik nafas lagi.

Setelah beberapa kali melakukan jurus bolak-balik, saya melihat beberapa hal yang layak disebutkan dari jurus tersebut;

     1. Ini mengajarkan siswa yang pertama kali belajar dasar-dasar memukul. Semua orang yang latihan di seni bela diri lebih dari tiga bulan dapat menghargai pentingnya tiga serangkai dalam pukulan, yaitu pernafasan yang kuat (kadang-kadang dinyatakan sebagai teriakan/kiai), ketegangan otot selektif, dan menempatkan berat badan di belakang pukulan. Jurus ini, dilakukan dengan benar, akan memungkinkan siswa untuk mempelajari tiga hal tersebut sekaligus.
   
     2. Membentuk Otot-skeletal. Dengan mengawali otot lengan yang longgar namun di tengah jurus mengeras, merentang ke depan, memberikan pemahaman dasar kepada siswa tentang struktur bodi dalam gerakan memukul. Siswa tidak diperkenankan untuk menarik lengan sebelum melangkah maju dan melepas tenaga ke depan; mereka harus tetap dalam kondisi sama dalam keseluruhan gerakan, seperti ketika menusukkan tombak. Ini mengajarkan siswa untuk tidak bergantung pada otot lengan saja, tapi juga menyalurkan berat badan.
   
     3. Penguatan inti dan pemanfaatannya. Tak perduli apakah siswa menyadari atau tidak, melakukan jurus yang akan memberi mereka kontrol yang lebih baik atas otot-otot inti. Bergerak maju dengan semua otot tegang memperjelas rasa gerakan, sehingga memberikan siswa dengan semacam "kinestetik / kesadaran saraf" tentang otot yang digunakan untuk gerakan tersebut, terutama otot inti. Tentu saja, karena jurus itu isometrik alamiah, maka juga akan memperkuat otot-otot.
   
     4. Kontrol atas otot, kemampuan untuk mengendurkan otot-otot sesuai kehendak. Saya melihat ini memiliki dua manfaat. Pertama, pada tingkat fisik itu memungkinkan siswa untuk menyingkirkan ketegangan yang tak perlu yang mengurangi efektivitas teknik tempur mereka. Kedua, ia mengajarkan siswa untuk tetap tenang dalam pertempuran. Selain itu, pada tingkat yang lebih praktis, penting bagi tempur untuk dapat beralih posisi di antara santai dan tegang sesuai tuntutan situasi. Jurus ini memberikan dasar keterampilan penting tersebut.



Tentu saja, saya membayangkan bahwa siswa yang pertama kali belajar akan merasa sulit memahami semua konsep di balik jurus tersebut. Ini adalah tahap ketika siswa hanya harus berlatih dengan tekun, dan bahkan taqlid atau ikut instruksi membabi buta, di bawah pengawasan guru yang berkualitas, sampai keunggulan tersebut terwujud dengan sendirinya. Hal ini yang saya suka dari metode tradisional, Anda tidak mengajukan pertanyaan-pertanyaan dan hanya menempatkan percaya penuh pada guru anda. Jadilah hubungan orang tua-anak.

Tadi adalah pemahaman saya tentang jurus tersebut, menggunakan otak saya yang keras kepala dan sudah dijejali pendidikan ilmiah.

Sekitar satu jam dan beberapa nafas kemudian Pak Bambang menghentikan kami, sudah waktunya untuk banbanan.

===

Aku memutar mataku dan melihat sekeliling. Mahluk apakah banbanan itu?

Rupanya itu adalah permainan pelempar dan yang dilempar (jika kata tersebut ada sama sekali) yang telah melukai harga diri saya bertahun-taun yang lalu. Saya tak tahu permainan itu memiliki nama. Jadi seolah-olah tangan Ilahi telah memutar waktu, aku mendapati diriku berdiri di sekitar orang-orang yang bahagia dilemparkan ke sana kemari. Déjà vu yang berusia dua puluh tahun.

Bertekad untuk tidak tergoyahkan oleh trauma waktu lama, saya datang ke Pak Bambang untuk bercakap secara pribadi.

Dia mengamati saya untuk sementara waktu dan kemudian berkata, "Ini tidak akan sulit bagi Anda. Ayo, sikap pasang". Aku berdiri dalam bentuk kuda-kuda jurus.

"Baik, sekarang kita akan melakukan prosesnya secara perlahan. Seperti belajar huruf, Anda akan belajar mengeja huruf", ia meletakkan tangannya ke depan, ringan menyentuh lengan saya sendiri. "Sekarang, kita mulai dengan kepekaan gerakan".

Pak Bambang pindah tangannya sedikit, dan saya secara intuitif menyesuaikan posisi saya sesuai. Saya mempelajari Musubi di masa-masa latihan aikido dahulu, Kakei di masa-masa latihan Karate, dan pernah memiliki kawan sebagai pasangan berlatih Tuishou Taichi. Aku tahu apa yang diharapkan dari jenis latihan, dan saya menganggap diri saya mampu dari segi mengikuti gerakan.

"Bagus," seru Pak Bambang. "Anda sudah memiliki rasa. Sekarang ke langkah berikutnya. "

Dia pindah tangannya pergi sedikit sehingga tangan kita tidak lagi bersentuhan tapi masih cukup dekat sehingga aku bisa merasakan panas memancar dari kulitnya. Ia pindah lagi dan aku menyesuaikan diriku dengan gerakannya.

"Ternyata kita bisa melewatkan bagian ini juga." Pak Bambang membuat satu langkah mundur. "Kali ini, masih sama. Anda hanya merasa dan ikuti. "

Nah sekaranglah kesulitan dimulai. Saya tak merasakan apa-apa karena Pak Bambang adalah satu langkah menjauh dan ia tak membuat gerakan apapun.

"Tegangkan dirimu sedikit, seperti saat melakukan jurus."

Aku melakukan apa yang dia katakan dan tiba-tiba saya merasakan dorongan ringan pada bagian tertentu dari tubuh saya. Saya mengubah kuda-kuda saya.

"Jangan melawannya. Rasakan dan ikuti, seperti yang Anda lakukan sekarang. "

Aku membiarkan diriku jatuh setelah terdorong, melakukan Ukemi sesuai dengan arahnya. Dengan itu, aku lebih baik memahami mengapa itu disebut ukemi, "seni menerima".

  "Mari kita lakukan lagi, hanya saja kali ini saya tidak akan memberitahu Anda kapan dan arahnya. Hal ini untuk meyakinkan Anda bahwa sensasi tersebut nyata dan bukan hanya produk dari imajinasi Anda. "

... Dan kemudian hal-hal itu terjadi. Aku membiarkan diriku didorong. Kadang terdorong mundur, kadang-kadang ke samping, kadang-kadang ke bawah yang membuat saya merasa tubuh saya menjadi berat, dan ada masa saya merasa tubuh saya mendapat terkunci, saya tidak bisa bergerak.

"Baik," Pak Bambang tertawa kepuasan jelas. "Anda sudah memiliki semua yang kita butuhkan untuk bermain banbanan. Sekarang lakukan pada saya. Sama seperti di jurus, kecuali sekarang Anda memproyeksikan tegang pada otot Anda kepada saya. "

Saya melakukan instruksinya dan Pak Bambang jatuh ke arah yang kuhendaki. Tidak ada permainan menebak keinginan.

"Anda sudah baik dalam hal itu, hanya saja selama ini tidak pernah mendapat instruksi yang benar," Pak Bambang mengusap wajahnya dengan nya t-shirt, gerakan yang sekarang saya kenali sebagai ciri khasnya. "Sekarang carilah pasangan dan bermain-main lah. Anda tidak perlu pelajaran lagi. "

Sungguh mencerahkan.
... tetapi pada dengan diri saya yang analitis.

Meninjau pelajaran yang baru saya dapati, jelaslah bahwa banbanan bukan permainan mengerahkan tenaga untuk membuang lawan dari jarak jauh, setidaknya tidak dalam arti agresif. Seseorang membutuhkan pasangan berlatih dengan kepekaan tertentu untuk dapat mengerahkan 'tak terlihat'. Jika tidak, maka tidak akan berhasil. Jika saya harus membuat analogi, itu seperti membawa senapan yang hanya bekerja melawan jenis lawan tertentu, tapi Anda tidak tahu lawan seperti apa. Saya jelas tidak akan mempercayakan hidup saya dengan senjata tersebut. Jadi bahkan jika energi itu nyata (yang pada saat ini saya cenderung untuk percaya) mengapa repot-repot berlatih banbanan? Ini memiliki nilai yang tempur yang kecil.

Pertanyaan lain ... bagaimana bisa hal itu sekarang bekerja pada tubuh saya?

===

Beberapa gelas teh Jawa, memar, dan kecelakaan kecil (beberapa orang terlempar ke dinding atau pilar) kemudian, kelas kembali dipanggil untuk istirahat. Cukup dengan banbanan, sekarang adalah waktu untuk Kereteg.

Bahasa Jawa saya memalukan dan kemampuan Bahasa Sunda saya jauh lebih buruk. Sepengetahuan saya Kereteg berarti jembatan dalam Bahasa Jawa. Saya tak tahu apakah itu memiliki arti yang sama dalam Bahasa Sunda. Pikiranku mengembara ke tempat yang disebut "Titi Bobrok" di Medan, di mana Titi berarti jembatan dalam bahasa Melayu klasik. Mie Aceh yang disajikan di dekatnya sangat mewah.

Ya, saya tahu saya harus memperbaiki kemampuan saya memusatkan pikiran.

Jadi bagaimana Kereteg dilakukan?

Konsep ini, Pak Bambang menjelaskan, untuk bisa mendeteksi niat lawan, bahkan sebelum ia benar-benar bergerak.

Pak Bambang memasangkan dirinya dengan salah satu peserta. Keduanya membuat kuda-kuda lebar dan lengan terentang ke depan. Instruksinya adalah untuk merasakan seperti dalam permainan Banbanan tadi.

Tidak ada yang terjadi pada beberapa percobaan pertama. Aku bahkan tidak menyadari apakah ada percobaan. Di mata saya, mereka hanya terlibat dalam lomba saling menatap.

Tiba-tiba mereka saling menukar serangan. Pak Bambang mencegat kepalan yang tertuju ke dagunya.

"Baik", Pak Bambang hampir bertepuk tangan. "Itulah caranya". Orang-orang mengangguk serempak.

Ya Allah, bantulah saya. Saya tak tahu apa yang sedang terjadi. Semua orang kecuali tampaknya tahu apa yang akan terjadi. Jadi mereka memiliki pertukaran serangan singkat, lalu apa?

Tidak ada waktu untuk menjadi pemalu. Aku melangkah ke depan, siap untuk meminta pelajaran langsung.

"Seperti di banbanan, rasakanlah," Pak Bambang mengatakan setelah kami memasang kuda-kuda. Aku seperti yang diperintahkan.

Saya merasa apa-apa dan dari ekspresi Pak Bambang, saya bisa mengatakan bahwa saya melewatkan sesuatu.

"Ok," katanya. "Coba lagi. Mari kita mengeja lagi. "

Dia membuat tiba-tiba bergerak, seolah-olah ia akan memukul saya. Saya secara naluri bereaksi dengan antisipasi.

"Baik. Tetap jaga perasaan waspada itu dan mari kita coba lagi. "

Kali ini aku merasa gerakan di sekitar perut saya dan itu mengirim pulsa untuk bergerak. Saya melakukan, saya tiba-tiba dalam keadaan menangkis.

"Aish," Pak Bambang menghentikan gerakan saya. "Kenapa ditangkis? Anda memiliki kesempatan untuk bereaksi sebelum saya membuat saya bergerak. Menangkis adalah membuang-buang kesempatan. Pukul! "

Jadi saya menyiapkan pikiran saya untuk memukul ketika perasaan itu datang lagi. Terjadi lagi dan kali ini kulepas tinjuku ke wajah Pak Bambang, hampir tidak sadar. Untungnya aku berhasil menghentikannya dalam waktu yang tepat.

"Nah begitu," tawa Pak Bambang adalah memekakkan telinga saya. Dia senang sebagai seorang anak. "Coba lagi."

Kami melakukan beberapa putaran lagi sampai Pak Bambang puas.

Jadi itulah Kereteg. Itu adalah permainan lain, seperti Banbanan, di mana seseorang harus menggunakan rasanya untuk mendeteksi serangan yang akan masuk dan bereaksi sebelum serangan diluncurkan. Penyerang harus mengerahkan serangan dalam pikirannya, dan pemain harus mampu me'rasa'kan serangan itu dan menjawabnya. Serangan balik lebih disukai dari tangkisan atau elakan, karena menggunakan pengetahuan pre-emptive secara maksimal. Namun, orang-orang yang percaya pada 'Ni Sente Nashi' (tidak ada serangan pertama) tidak perlu merasa bersalah karena serangan itu sudah dilakukan, hanya saja belum dilaksanakan.

Yah, aku tahu kalimat tadi membingungkan ... pada dasarnya niat untuk menyerang ada di sana.

Mereka yang berlatih seni memukul Jepang dapat membandingkannya dengan "Deai", serangan sebelum serangan, atau banyak orang juga menyebutnya "Sen No Sen".

Itu adalah akhir hari pertama. Pak Bambang menunjukkan beberapa hal yang berkaitan dengan kepekaan, misalnya ia menempatkan kotak rokok di saku belakang dan meminta saya untuk mengambilnya kapan saja dari punggungnya. Dia selalu bisa memberitahu dan menangkap saya kapan saja saya membuat bergerak.

"Dengan rasa yang sangat terlatih," jelasnya. "Anda bakan tidak perlu untuk melawan sama sekali. Anda akan mampu mendeteksi niat buruk dari jarak jauh dan menjauh. "

Memang tidak baik untuk harga diri, tapi saya setuju dengan dia.

Sayang sekali bahwa saya harus melewatkan hari kedua karena saya dibutuhkankan untuk menghadiri untuk penyakit putri saya.

===


Renungan ...

pertama,
Permainan melempar orang bukanlah pertunjukan serangan bola api ala Kamehame Dragon Ball. Ini adalah permainan yang dirancang untuk mengasah kepekaan siswa. Apakah itu untuk menunjukkan keterampilan seseorang, yang dilempar, karena dia memiliki kemampuan untuk merasakan tenaga 'tak terlihat' dan menerimanya dengan tubuhnya. Menjanjikan kemampuan untuk melontarkan orang-orang dari jarak jauh adalah konsep yang melenceng dari permainan ini.

kedua,
Banbanan dilengkapi dengan Kereteg yang memberi nilai tempur. Kereteg memanfaatkan kepekaan yang diperoleh dari melakukan jurus dan permainan banbanan untuk mendeteksi niat lawan. Semakin peka, semakini dini mendeteksinya dan semakin jauh jarak deteksinya.

ketiga,
Saya tidak bisa menyimpulkan belum, apakah energi yang terlibat dalam dua permainan tersebut. Saya tidak ingin membuat hipotesa apa pun, karena saya hanya mengalaminya di lokakarya dan tidak pula saya akan mengajukan hipotesis-hipotesis seperti plasebo, imajinasi, NLP, hipnosis, bio-energi atau apa pun. Untuk saat ini saya akan memutuskan bahwa saya merasakan energi jadi itu mungkin ada. Pengamatan lebih jauh dibutuhkan sebelum saya dapat membuat penjelasan.

keempat,
Kepekaan saya gagal dua puluh tahun namun sekarang bekerja hanya dalam satu hari lokakarya.
Saya tak tahu apakah dengan instruksi yang benar siapapun akan mampu mencapai kepekaan dalam satu hari, atau saya telah tanpa sadar mencapainya dengan latihan-latihan saya yang lain dan Pak Bambang hanya membantu saya menyadarinya? Jika yang terjadi adalah yang pertama, maka metode apapun akan membawa hasil yang sama, hanya soal kapan menyadarinya. Kalau yang terjadi adalah yang terakhir, maka kepekaan bukanlah benar-benar konsep yang sulit untuk dipahami, dapat diperoleh dalam satu hari.

Kesimpulan?
Hal ini masih terlalu dini bagi saya untuk memutuskan. Saya perlu mengamati lebih dari seni menarik ini. Dengan itu dikatakan, saya memutuskan untuk mendedikasikan tiga bulan ke depan untuk secara eksklusif berlatih jurus pertama (seperti yang disarankan oleh Pak Bambang). Jika ada sesuatu yang lebih untuk itu, saya seharusnya dapat melihatnya menuju suatu hal.


Saturday, October 18, 2014

Mewarnai bersama Ara


Bahan:
1. kertas (di balik kertas ada gambar lain sebenarnya);
2. ballpoint (Babehnya yang menggambar)
3. crayon berminyak, entah merek apa.

Ara mewarnai matahari, pesawat, gunung-gunung (termasuk pohon).

Babehnya mewarnai naga.

Tuesday, September 30, 2014

[Pratayang] Dua Film Cokroaminoto ?

Saya mendengar Garin Nugroho membuat film tentang H. Oemar Said Tjokroaminoto dengan Reza Rahadian sebagai Pak Tjokro.




Tapi kemudian saya mendengar desas-desus bahwa Tanta J Ginting (sebelumnya berperan sebagai Sutan Sjahrir di film Soekarno-nya Hanung) akan berperan sebagai Musso. Kukira dia berperan di filmnya Garin. Tetapi sekarang aku tak yakin.



Jadi, apakah empat foto itu berasal dari film yang sama ataukah dari film yang berbeda?

Monday, September 01, 2014

Path dan Rasa Aman Semu

Ada tulisan menarik di salah satu blog yang mengangkat hal yang mengusikku dari dahulu.
http://celotehnel.wordpress.com/2014/08/30/3039/

Saya kutip dari blog tersebut:

Kasus D**** dan F****** itu, mudah sekali mencari siapa yang menyebarkan “kemarahan” keduanya. Kenapa? Karena di Path, hanya teman-teman yang sudah kita setujui dan kita pilih yang bisa mengakses informasi dan post kita. Tidak seperti Facebook yang lebih terbuka meskipun sudah disetting, Path benar-benar terbatas hanya untuk teman saja. Bahkan friends of friends pun tidak bisa melihat atau mengakses. Jika dilihat lebih jauh, ini tentu menyiratkan sebuah maksud, bukan? Mari kita telaah apa artinya. Arti yang paling mudah kita pahami adalah Path sudah memberikan satu layer privasi yang lebih baik dari Facebook. 

Salah satu yang agak membingungkan dari kedua kasus tersebut, kawan-kawannya, di skrinsyut, tampak seperti mendukung pendapat dari pemilik Path.

Misalnya, "N" dalam kasus F vs Yogya, meminta izin re-path, seakan-akan 'menyetujui' pendapat F.



Atau "F", "A", dan "S" dalam kasus D vs Ibu Hamil, mengomentari status Path Dinda dengan dukungan terhadapnya.



Saya heran, tak adakah kawan-kawan D atau F yang mengritik mereka?
Dan siapa yang skrinsyut? Apakah yang melakukan skrinsyut sudah melakukan kritik pada D dan F? Ataukah mereka gak berani mengritik terang-terangan dan menyebarkan skrinsyut ke luar?

Bila demikian, saya turut berduka pada D dan F karena memiliki kawan-kawan yang buruk, yang tidak mengingatkan. Bahkan yang tak setuju pun bersikap pengecut.

Saya justru belum melihat pola yang sama pada dua jejaring yang kebetulan saya ikut (disclaimer, saya tidak punya akun Path), Twitter dan Facebook. Sebaliknya di Twitter maupun Facebook, ada status kontroversial, niscaya akan dihujani oleh kawan-kawannya atau bahkan kawan dari kawan-kawannya. Bahkan karena sering kali pengguna malas menyetel privasi, yang menghujani bukan sekedar kawan dari kawan tetapi juga orang yang tak kenal sama sekali.

Jangan-jangan,
D dan F adalah korban rasa keamanan semu karena setelan privasi Path dan lupa peribahasa zaman dahulu, ditutupi bagaimanapun, bau bangkai akan tetap keluar.

Saya pribadi, dalam menulis di jejaring sosial, saya menerapkan aturan standar,
kalau saya mengatakan sebuah pernyataan di depan umum, maka saya tidak akan mengeluarkan pernyataan tersebut di jejaring sosial. Ada pepatah, "mulutmu, harimaumu", maka sekarang bisa diganti "jari-jarimu, harimaumu".


Wednesday, March 26, 2014

[Review] The Raid 2 Berandal - The Story of Rascal (spoiler.. a lot of spoiler)

Warning:
This is a review of The Raid 2 Berandal, based on the story.
Avoid this review if you do not want to be spoiled.




"Bapak minta maaf sama mereka.. pakai bahasa mereka.. di tanah kita"
(How could you apologize to them, using their language, in our land)
-- Ucok


Ucok (Arifin Putra), was the prince of Bangun (Tio Pakusadewo) family. He thought he would have his own charisma as how his father was. He was wrong. He got into a fight with another spoiled brat and was taken into prison. In the prison, he knew better, he should use his father name to scare people instead of relying on his own. He gathered a group of muscle man to protect him, lead by Beni.

Those run well at the beginning. The prison guards let him walked with his gang, even let him brought knife everywhere inside the prison. Until a new guy came into prison and put on a show. Several person was beaten by the new guy alone in the toilet stall and this guy refused Ucok's offer to be part of his men.

The new guy was Yudha (Iko Uwais), a man from nowhere, not affiliated to any group. Eka (Oka Antara), Bangun's caretaker, had run a background checking and confirmed to Ucok, Yudha did not came from any rival groups. Ucok took interest on him. But not until the incident of the prison riot, he could gain friendship from Yudha. In the riot itself, Ucok learnt that he couldn't trust anyone, not even his own men.

Two years later,
when Yudha had been released from prison, Ucok personally picked him and drove him to his father. Ucok wanted Yudha to be part of his family. His father approved and put Yudha to be Ucok bodyguard. Yudha himself had successfully proven to be a great killing machine in his first task.

Somehow, being a bodyguard, didn't mean Yudha would follow whatever Ucok wanted. The Karaoke incident told Ucok that Yudha had his own thought. While Yudha might be a killing machine, it seemed he could not enjoy the nightlife as other thugs. Worse, it seemed Yudha had his own moral code.

Meanwhile, the Karaoke incident made Ucok learnt that while his father was in power, it didn't make all people respect him. Yes, some people may aware of his father existence and afraid to insult him yet it didn't stop the other people to disobey Ucok. It didn't make Yudha, his own bodyguard, obey him either.

And then, a mysterious call came. It offered Ucok to fullfill his ambition, to raise him into a new respected guy in a higher position than he was. The call came from Bejo and he invited Ucok to his restaurant.



"Jadi tukang sampah pun saya sudah lebih sukses dari ayah saya "
(by being a simple garbage man, I would have been considered as
more successful man than my father ever was)" -- Bejo

Bejo (Alex Abbad) came from a low class. He kept reminding himself how he came from a low class and he did not shy to tell that to other people, including his enemies. He was a social climber, a calculated one. He knew who should be ridden and who should be taken as company.

His action, no matter how aggressive it was, was still considered as a small thing. Even though some Yakuza had suspect his move, they could not lay hands on him since the scope of his action was small enough. The best they could do was report him to Bangun.

However, Bejo was now ready to take a giant leap. He invited Ucok to his restaurant and offer him to build his own legend, to create his own charisma. In a humble proposal, he told Ucok that he only wanted a small land with no liability of protection money.

Bejo told Ucok that to create a legend, they need a war. They had to unbalanced the structure so they could rebuild a new empire. Ucok had to sacrifice his own palace to raise the battle cry.

And then start the battle scene which being praised by the audience in Sundance and SXSW Festival 2014.

Arifin Putra, I've seen him in previous Indonesia film, Badai di Ujung Negeri and I was surprised he could actually act. The most amazing scene of him and also the scariest one was the Karaoke. That was so real and Yudha, the good guy, couldn't do anything on that scene. The karaoke girl could be slashed to death and there was nothing the protagonist could do.

Alex Abbad, I loved when he played in Merantau. I knew I would be in treat when I heard he would be Bejo in this movie. And he didn't disappoint.

Oka Antara. I have seen his movie a lot. Most of them were about being a kind and full of smile guy. I knew he tried to be different character. One of his movie where he tried to be 'bad guy' was Killers directed by Mo Brothers, yet I still saw him as a nice and kind guy. In The Raid 2, he was different. He became a serious guy on his job and there was no good guy anymore.

Tio Pakusadewo. Uncle Tio is a senior actor, just like uncle Ray Sahetapy who played as Tama in the first movie. Here, he played Bangun, an old father who wished his son could learn patience.

Yayan Ruhiyan. The Mad Dog of The Raid Redemption, returned as a totally different character. He played as an assasin and also an old servant of Bangun family. In return, Bangun family considered him as a close member of the family. When Ucok needs someone to express his anger, he would call Prakoso, the servant.


Wednesday, January 08, 2014

Surat Terbuka dari Narablog untuk Para Caleg

Assalammu’alaikum Warrahmatullahi Wabarakatuh

Yang terhormat,
para calon legislatif,
baik DPR maupun DPD,

Perkenalkan, saya, salah satu pemilih yang berniat untuk tidak golput namun tidak tertarik memilih partai melainkan individu, mengeluarkan uneg-uneg di hati.
Salah satu kawan FB saya telah proaktif mengumpulkan data rekam jejak tentang kalian, walau baru terbatas pada para caleg DPR dan ia letakkan penelusurannya di blog khusus berikut: 

Blog tersebut cukup informatif dan membantu saya untuk menandai prospek nama-nama yang akan saya pilih nanti. Namun saya ingin langkah kampanye proaktif dari kalian.

Saya termasuk orang yang jarang di rumah sehingga, jujur, bila anda datang ke masjid di perumahan saya atau ke posyandu, kecil kemungkinan anda bertemu dengan saya. Namun saya termasuk orang yang cukup sering mengintip internet jadi berikut saran saya untuk anda agar informasi yang anda sebarkan di internet menarik saya dan tentu saja menarik orang-orang macam saya.

1. Dokumentasikan Setiap Hal di Kunjungan Anda
Saya melihat kalian sekarang rajin mengunjungi masyarakat. Itu hal yang tepat dan saya tetap menyarankan begitu. Namun saya merasa dokumentasi berupa foto atau berita kurang cukup untuk menampilkan kapasitas anda. Saya menginginkan anda membuat semacam laporan kerja, tidak harus formal, tetapi memuat informasi yang menunjukkan bahwa anda cakap dalam mengorek cerita dan masalah.

Misalkan begini, anda berkunjung ke sebuah pasar tradisional. Umumnya yang saya lihat hanya berita bahwa anda pergi ke pasar. Tetapi usaha minimal yang ingin saya lihat adalah, anda bisa menyebutkan harga rata-rata cabai berapa dan apakah menurut pedagang dan pembeli harga tersebut pantas. Semakin anda pandai mendekati rakyat, niscaya akan semakin banyak hal yang bisa anda ceritakan seperti perjalanan harga cabai dari masa ke masa, jasa transportasi yang digunakan oleh para pedagang untuk mengurangi biaya angkut sehingga untung bisa lebih banyak, berapa persen dari keuntungan yang harus diberikan pada pengelola pasar, berapa yang merupakan pungutan tanpa dasar.

Anda bisa menunjukkan kemampuan persuasif anda, kemampuan membujuk anda, sekaligus membuktikan niat anda untuk mau mendengar cerita rakyat dan anda juga memberikan kesadaran dan informasi kepada kami tentang lingkungan kami.

2. Analisa Sebagian Hal yang Anda Jumpai di Kunjungan
Anda menginginkan kami memilih anda untuk mewakili kami membuat kebijakan dan mengawasi alokasi dana yang akan digunakan oleh pemerintah. Maka saya ingin anda menunjukkan pada kami, seberapa cerdas anda, setelah berhasil menemui sejumlah masalah, menganalisanya dan membuat skema solusi. Anda harus menunjukkan pada kami bahwa anda mumpuni.

Sebagai contoh, anda telah berkunjung ke pasar dan mendapatkan semua data yang mempengaruhi harga cabai. Anda bisa membuat analisa faktor-faktor apa sajakah yang bisa diakali sehingga harga cabai tetap murah namun memberikan keuntungan besar bagi penjual dan petani cabai. Anda bisa membandingkan menceritakan kebijakan-kebijakan apa yang menimpakan beban biaya pada cabai hingga di tangan penjual akhir. Anda bisa membandingkan cabai lokal dan cabai impor, melihat apakah ada ketimpangan kebijakan. Anda juga bisa mengutip pendapat yang kontra pada solusi anda dan membantahnya atau mengutip pendapat yang pro pada solusi anda.

Tentu saja tidak mungkin semua kunjungan anda dibuat analisisnya dan toh, kenyataannya nanti di tempat kerja anda, anda akan dibagi-bagi menjadi komisi-komisi. Anda tidak diharapkan untuk menyelesaikan semua masalah. Tapi saya ingin melihat bahwa anda bukan tipe si pandir dalam pembahasan rapat-rapat yang akan anda jumpai kelak. Di komisi manapun anda ditempatkan, masalah apapun yang akan anda hadapi kelak, anda adalah tipe yang siap mengumpulkan data, siap untuk berpikir.

3. Terbuka dan Jujurlah
Sederhana saja,
sebutkan kesalahan anda yang anda siap untuk mengakui.
Apakah ada obyek pajak yang anda miliki dan belum anda laporkan?
Apakah anda pernah ditilang di masa lalu?

Anda bisa menceritakannya dengan gaya komedi, atau dengan tersipu-sipu, atau dengan diplomatis. Yang penting, ceritakanlah kesalahan yang pernah anda lakukan.

Tidak ada orang yang bersih dari dosa. Kami perlu tahu apakah anda tipe mengelak dari kesalahan atau anda tipe siap mengakui kesalahan bila kelak anda melakukannya.

Salam Hormat dari Saya,
Narpati Wisjnu A. Pradana
atau Kunderemp

Thursday, December 26, 2013

Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck (Film) -- Mengapa Novelnya Jadi Perseteruan antara Pramoedya (Lekra) dengan Jassin (Manikebu) ?


Dalam silaturrahim keluarga, Om Jacob Soemardjo, pernah berkata padaku, hakikatnya sebuah karya yang bagus itu, ketika dikupas satu lapis masih ada lapisan makna lain. Sebagai seorang pemuda saat itu, saya hanya bisa mengangguk tak membantah walau dalam hati bertanya, adatah roman Indonesia yang memiliki karakter seperti yang disebut beliau.

Semalam, saya baru saja menyadari saya baru saja menonton adaptasi dari salah satu karya yang berlapis makna.

Alkisah, siang kemarin, saya ditraktir nonton Tenggelamnya Kapal van Der Wijck oleh ibu saya. Saya bersiap untuk tidak menyenanginya mengingat banyak komentar kawan yang kecewa. Tak kusangka ternyata saya menyukai filmnya atau lebih tepatnya menyukai ceritanya. Saya malah bisa mengabaikan bagian-bagian yang tidak akurat di film ini. Saya tidak rewel seperti ketika saya menonton film Soekarno: Indonesia Merdeka.

Beberapa kali ada bagian-bagian yang bikin saya terhenyak, "Hamka menulis ini? Menghina adatnya sendiri"? Ada beberapa bagian di mana tokoh sampingan Bang Muluk seperti menjadi perwakilan perasaan kesal penonton, "Engku itu seorang yang berpengetahuan! Kenapa menghancurkan diri demi perempuan". Bahkan ada bagian yang membuat saya menahan nafas, dan ketika kulihat para penonton, yang sebelumnya ramai komentar sana-sini, di bagian itu pada kompak tak bersuara.

Seusai menonton, seperti biasa, saya dan Ibu berdiskusi membahas film yang kami tonton. Kami membahas apakah di tahun 50-60-an adat Minang masih ketat sehingga novel Hamka laris dan Ibu pun lancar bercerita tentang percintaan antar suku di antara kawan-kawan kuliah beliau yang mengalami hambatan tersebut.

Tapi saya belum dapat jawaban, mengapa Pramoedya sangat memusuhi novel ini. Mengapa Jassin sangat membela novel ini. Kenapa ketika Jassin menerjemahkan novel Prancis, Magdalena - Di Bawah Pohon Tilia, yang konon jadi sumber Hamka menjiplak, agar masyarakat bisa menilai sendiri, Pram dan Lekra tetap bersikukuh mengerdilkan novel ini? Dan mengapa, Pram diancam oleh Penguasa Perang Daerah Jakarta untuk tidak meneruskan polemik tersebut?

Jawaban standar para pendukung Hamka di masa sekarang tidak memuaskan, 'Hamka adalah seorang ulama, karena itu dia diserang Pram'.

Tidak!
Pram seorang sastrawan Lekra. Pramoedya Ananta Toer tidak sekerdil itu. Ia tidak akan menyerang sebuah karya hanya karena penulisnya berseberangan politik dengannya. Masalah pasti ada di karya itu sendiri.

Dan tengah malam ku terbangun. Tiba-tiba imajiku melayang, membayangkan, di tahun 1962 itu, Pram, membaca novel yang sudah terbit berkali-kali, dan menyadari sebuah pesan yang kontra-revolusi, yang bertentangan dengan revolusi yang ia perjuangkan bersama Bung Karno. Dan ia memutuskan, novel ini harus dijauhkan dari masyarakat, dikerdilkan, dianggap sebagai sampah sehingga tak ada rakyat yang membacanya.

Saya sendiri belum pernah membaca tulisan Pram, tetapi saya yakin argumennya pasti meyakinkan sehingga sastrawan seperti Jassin memeriksanya, menemukan kesamaan, menyadari bahwa tuduhan Pram memiliki dasar kuat. Tapi Jassin juga menemukan bahwa novel ini harus dibela, novel ini tidak boleh terkubur oleh tuduhan plagiarisme.  Rakyat justru harus membaca novel ini, jangan mau didikte oleh Lekra.

Menurut Wiki (yang artinya fakta Wiki sebenarnya tak boleh dianggap sebagai referensi tetapi bolehlah pakai sebentar sampai ada yang mengoreksi), novel ini pertama kali terbit tahun 1938 (dan cerita di film juga berakhir tahun 1938, entah bagaimana versi novel) namun kemudian diterbitkan lagi pada tahun yang tak diketahui dan terbitan ketiga mulai tahun 1951 dan diterbitkan ulang sepanjang tahun 50-an dan awal 60-an hingga akhirnya dikerdilkan oleh Pram di tahun 1962.

Sebelum dilanjutkan, saya harus jujur  bahwa saya belum membaca novelnya. Saya menyandarkan pada kata-kata Akmal Nassery Basral di status facebooknya bahwa:

"Tim skenario (termasuk Sunil di dalamnya, selain Imam Tantowi dan Donny Dhirgantoro) memilih setia pada plot kisah yang dikembangkan Buya Hamka. Tak ada puntiran, sisipan, pengubahan, pengembangan, alur kisah dari yang sudah dikenali publik yang, sedikitnya, pernah sekali membaca roman itu. Jadi dari sisi ini, Sunil berhasil menjadikan film ini sebagai "palapeh taragak" (pelepas rindu) terhadap Buya Hamka. "

Untuk memahaminya, mesti mengetahui latar belakang budaya yang diangkat oleh Hamka, yakni Minang.

Saya mengenal Minang dari para Bapak Bangsa kita yang berasal dari suku ini, seperti Mohammad Hatta, Sutan Sjahrir, Agus Salim, Mohammad Yamin, dan lain-lain. Saya ingat bahwa mereka semua punya persamaan, mereka semua demokrat, dalam arti bisa diajak berunding, percaya pada kebebasan mengemukakan pendapat. Hatta pernah mengatakan bahwa sikap demokratnya itu terbentuk karena demokrasi desa yang ia dapat di kampungnya, bukan karena ikut-ikutan 'barat'.

Iya, saya mengerti bahwa di tahun 1930-an, adat Minang cukup ketat mengatur pernikahan. Marah Rusli menuliskannya dua kali, dalam Siti Nurbaya dan kemudian Memang Jodoh. Yang belakangan diterbitkan 50 tahun setelah ia wafat agar tokoh-tokoh yang bersangkutan sudah wafat.

Namun tetap, ketatnya adat yang digambarkan penulis seperti Marah Rusli tak menghapus kekaguman saya pada budaya Minang yang menjunjung musyawarah untuk mufakat dan ironisnya justru musyawarah itulah yang diserang di film ini, asumsi saya juga ada di novelnya. Setidaknya ada dua adegan di mana justru adat musyawarah ini yang diserang.

Adegan pertama serangan terhadap adat musyawarah adalah ketika tokoh utamanya dilarang ikut dalam musyawarah karena dia bukan orang Minang. Karakter utama di novel ini hakikatnya seorang Minang dari sisi ayah namun tak diakui sebagai Minang di kampung halaman ayahnya sendiri bahkan ketika dia tinggal di kampungnya.

Ini adalah serangan bagi demokrasi semu, di mana orang-orang yang punya andil, punya hak untuk ikut dalam rapat yang menentukan nasib baginya, dikucilkan dengan label yang dibuat-buat. Di masa Belanda (ketika novel ini ditulis), kita memiliki Volksraad, semacam perwakilan untuk rakyat Indonesia menyampaikan aspirasinya, walau dalam kenyataannya tak semua berhak berada di dalamnya, hanya yang mau dan bersedia cooperatie dan tidak revolusioner yang boleh duduk. Begitu juga di masa Demokrasi Terpimpin, hanya partai-partai dan kelompok-kelompok yang tidak kontrarevolusi lah yang boleh ikut andil dalam pemerintahan.

Adegan kedua serangan terhadap adat musyawarah adalah ketika para ninik-mamak sepakat untuk menolak lamaran karakter utama dan menerima pinangan yang satu lagi, dari pria yang Minang tulen. Suara yang meminta kesediaan menimbang hakikat Minang mereka bungkam. Dan dengan halus menekan karakter wanita untuk menerima keputusan, menyatakan dengan lisannya.

Begitu jugalah karakter demokrasi semu, wadah perwakilan semu, ketika suara sumbang mereka bungkam dan pihak yang terkena dampak mereka paksa untuk setuju. Tak ada kebebasan individu menyatakan haknya.

Adalah sebuah ironi dalam kisah selanjutnya, ketika ninik-mamak yang bangga pada adat Minang yang 'beradat, berbudaya', dalam keputusan melalui musyawarah justru memilihkan pria yang salah untuk wanita mereka sementara yang mereka usir justru pria yang baik.  Di sinilah, Hamka menyerang lagi bahwa demokrasi pun juga bisa membuat keputusan buruk, apalagi bila mereka yang berada di dalamnya tercemari oleh ujub, tinggi hati, takkabur.

Di sinilah, kisah Tenggelamnya van der Wijck menawarkan alternatif dari musyawarah, yakni 'cinta' sesuatu yang dianggap sebagai 'khayalan belaka', 'cuma ada di kitab-kitab' bahkan 'melemahkan', tetapi ternyata akhirnya menguatkan karakter utamanya.

Begitu juga di masa kolonialisme Belanda, semangat nasionalisme para aktivis diejek para profesor sebagai khayalan tetapi toh nyatanya sebuah semangat kebangsaan khayalan, imajiner, yang sesungguhnya cuma berdasarkan persamaan nasib ini nyatanya bisa bersatu dan kelak memproklamasikan dirinya sebagai negara.

Begitu juga di masa demokrasi terpimpin, hak-hak berbicara dipasung, humanisme dicerca sebagai 'melemahkan revolusi', agama dianggap sebagai khayalan yang menguatkan posisi tuan tanah dan melemahkan buruh tani. Toh motivasi 'khayalan' yang 'melemahkan revolusi' ini menguatkan perlawanan mereka yang percaya.

Saya tidak tahu dengan novel Magdalena: Di Bawah Pohon Tilia tetapi novel Tenggelamnya Kapal van der Wijck adalah novel yang berbahaya. Saya, yang belum membaca novelnya, bersyukur ada yang mengadaptasi ke layar lebar (mungkin saya harus mencari novelnya), akhirnya paham mengapa Lekra terancam oleh novel ini dan berusaha mengerdilkannya sebagai karya plagiat.




Pustaka sambil lalu saat menulis ini:
- Akmal Nassery Basral https://www.facebook.com/akmal.n.basral/posts/10152149836837780 (terakhir diakses 26 Desember 2013)
- Wikipedia Berbahasa Indonesia, Tenggelamnya Kapal van der Wijck . http://id.wikipedia.org/wiki/Tenggelamnya_Kapal_Van_der_Wijck
- dan sejumlah artikel blog yang membahas tentang polemik 'Tenggelamnya Kapal Van der Wijck'.