Tuesday, July 07, 2020

Apa maksud dari Surah Al-Baqarah 2: Ayat 62),apakah itu berarti islam bukan agama satu-satunya yang diterima ALLAH?

Saya pernah menulis topik tentang Al-Baqarah ayat 62 saat masih di Australia. Bisa dilihat di
http://cacianqalbukunderemp.blogspot.com/2006/02/kristen-yahudi-dan-shabi.html

Namun kemarin ada pertanyaan di Quora oleh Jacharia Arifien, Apa maksud dari Surah Al-Baqarah 2: Ayat 62,apakah itu berarti islam bukan agama satu-satunya yang diterima ALLAH? dan saya jadi tergelitik untuk menulis kembali karena setelah empat belas tahun, ada beberapa perubahan sikap dariku.  Jadi saya salin jawaban saya di Quora ke blog.

___________________________________________________________________________

Ini adalah ayat yang cukup lama menghantui saya.
Jawaban saya saat ini adalah tetap sama, "Saya tidak tahu".
Sebenarnya, surat Al-Baqarah ayat 62 ini tidak sendirian. Ada dua ayat lain serupa yakni surat Al-Maidah ayat 69 dan surat al-Hajj ayat 17.
Sebaliknya, ada ayat yang tampak kontradiktif, yakni surat Ali Imron ayat 85:
Siapapun yang mencari agama selain Islam, tidak akan diterima darinya, dan di hari kemudian ia akan termasuk orang-orang yang merugi.
Penafsir seperti Taqiyuddin al-Hilali dan Muhammad Muhsin Khan (yang terjemahannya diterbitkan oleh Arab Saudi) berpendapat tiga ayat tadi sudah mansukh (diganti) oleh surat Ali Imron ini. Kalau kalian pernah ikut liqa yang diadakan di jaringan Tarbiyah pasti sudah akrab dengan surat Ali Imron ayat 85 ini karena sering diulang-ulang tetapi tiga ayat yang tersebar yakni Al-Baqarah ayat 62, Al-Maidah ayat 69, dan surat al-Hajj ayat 17 sendiri malah jarang dibahas.
Duet Hilali-Khan umumnya mendasarkan terjemahan AlQuran mereka dalam tradisi, mengikuti pendapat orang-orang salaf. Menurut Hamka, memang ada riwayat dari Ibnu Jarir dan Ibnu Abi Hatim, dari yang mereka terima dari Ibn Abbas, bahwa ayat 2:62 ini sudah mansukh (digantikan) oleh 3:85. Berbeda dengan mereka, Hamka tidak melihat ayat ini sudah mansukh tetapi memperkuat ayat 3:85. Tanpa ayat ini, Hamka berpendapat, orang dapat mengakui diri sebagai Islam tanpa mengamalkannya. Walau begitu, Hamka berpendapat, orang-orang Nasrani, Yahudi yang dimaksud jika belum menerima keterangan kerasulan Muhammad. Hamka berpendapat bahwa para pemeluk Kristen dan Yahudi tidak pernah benar-benar mendapat keterangan sesungguhnya karena perhatiannya selalu dihambat oleh gereja. Saya rasa, pendapat Hamka dipengaruhi oleh asbabul nuzul ayat ini yang mengisahkan tentang curhat Salman al-Farisi.
Muhammad A.S Abdel Haleem, Profesor di School of Oriental and African Studies di London punya pendapat berbeda lagi. Menurutnya kata Islam di dalam surat Ali Imron ayat 85 itu tidak dalam arti sempit agama Islam yang diajarkan oleh Nabi Muhammad tetapi dalam arti tunduk, penyerahan diri kepada Tuhan seluruhnya tanpa dicampuri penyembahan yang lain. Jadi berada di agama manapun, jika bersifat monoteisme, maka pemeluk agama itu adalah Islam dan itu diperjelas di ayat sebelumnya, Surat Ali Imran ayat 64, bahwa seruan yang diserukan Rasulullah adalah:
Katakanlah (Muhammad), “Wahai Ahli Kitab! Marilah (kita) menuju kepada satu kalimat (pegangan) yang sama antara kami dan kamu, bahwa kita tidak menyembah selain Allah dan kita tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun, dan bahwa kita tidak menjadikan satu sama lain tuhan-tuhan selain Allah. Jika mereka berpaling maka katakanlah (kepada mereka), “Saksikanlah, bahwa kami adalah orang Muslim.”
Penerjemah lain, Muhammad Asad malah tidak menggunakan kata Islam saat menerjemahkan Ali Imron ayat 85 melainkan self-surrender (penyerahan diri). Artinya beliau melihat Islam dari segi arti, bukan dari segi nama agama. Terkait surat Al-Baqarah ayat 62, beliau melihat ayat ini untuk membantah pandangan kaum Yahudi bahwa hanya merekalah kaum terpilih. Sebelum ayat 62 ini, memang AlQuran membahas panjang lebar tentang riwayat Yahudi. Begitu juga sebelum surat Al-Maidah ayat 69, situasi ayat sebelumnya pun polemik dengan Yahudi. Hanya pada surat Al-Hajj ayat 17, situasinya berbeda dan bunyi ayatnya memang sedikit berbeda.
Pada surat Al-Baqarah ayat 62:
ada empat pihak yang disebutkan:
  • الَّذِيْنَ اٰمَنُوْ (orang-orang yang beriman)
  • الَّذِيْنَ هَادُوْا (orang-orang Yahudi)
  • النَّصٰرٰى (orang-orang Nasrani)
  • الصَّابِــِٕيْنَ (Orang-orang Shabiin)
Sementara ada tiga hal yang disebutkan:
  • مَنْ اٰمَنَ بِاللّٰهِ (yang beriman kepada Tuhan)
  • وَالْيَوْمِ الْاٰخِرِ (dan hari akhir)
  • وَعَمِلَ صَالِحًا (dan beramal shalih)
Lalu jaminannya adalah:
فَلَهُمْ اَجْرُهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ وَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُوْنَ
bagi mereka, pahala dari Tuhannya, tidak ada rasa takut pada mereka, dan mereka tidak bersedih hati.
Pada surat Al-Maidah ayat 69
Ad empat pihak yang disebutkan:
  • الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا (orang-orang yang beriman)
  • الَّذِيْنَ هَادُوْ (orang-orang Yahudi)
  • الصَّابِـُٔوْنَ (orang-orang Shabiun )
  • النَّصٰرٰى (orang-orang Nasrani)
Sementara ada tiga hal yang disebutkan:
  • مَنْ اٰمَنَ بِاللّٰهِ (yang beriman kepada Tuhan)
  • وَالْيَوْمِ الْاٰخِرِ (dan [beriman] kepada hari akhir)
  • وَعَمِلَ صَالِحًا (dan beramal shalih)
Lalu jaminannya adalah:
فَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُوْنَ
maka tidak ada rasa takut padanya dan mereka tidak bersedih hati
Surat Al-Hajj ayat 17 sedikit berbeda.
Ada enam pihak yang disebutkan:
  • الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا (orang-orang yang beriman)
  • الَّذِيْنَ هَادُوْا (orang-orang Yahudi)
  • الصَّابِـِٕيْنَ (orang-orang Shabiin)
  • النَّصٰرٰى (orang-orang Nasrani)
  • الْمَجُوْسَ (orang-orang Majusi/Zoroaster)
  • الَّذِيْنَ اَشْرَكُوْٓ (orang-orang yang mempersekutukan)
Dan tidak ada hal yang disebutkan harus dilakukan oleh pihak-pihak tersebut. Allah langsung memberikan jaminan berupa:
اِنَّ اللّٰهَ يَفْصِلُ بَيْنَهُمْ يَوْمَ الْقِيٰمَةِ اِنَّ اللّٰهَ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ شَهِيْ
Allah pasti memberi keputusan di antara mereka pada hari Kiamat. Sungguh, Allah menjadi saksi atas segala sesuatu.
Yang menarik adalah, dari tiga ayat yang nyaris serupa tadi, yang disebutkan adalah "orang-orang yang beriman" bukan "orang Islam". Apakah "beriman" identik dengan "muslim"? Ternyata di surat Al-Hujurat, berbeda. Berikut kutipan Surat al-Hujurat ayat 14–17.
قَالَتِ الْاَعْرَابُ اٰمَنَّا ۗ قُلْ لَّمْ تُؤْمِنُوْا وَلٰكِنْ قُوْلُوْٓا اَسْلَمْنَا وَلَمَّا يَدْخُلِ الْاِيْمَانُ فِيْ قُلُوْبِكُمْ ۗوَاِنْ تُطِيْعُوا اللّٰهَ وَرَسُوْلَهٗ لَا يَلِتْكُمْ مِّنْ اَعْمَالِكُمْ شَيْـًٔا ۗاِنَّ اللّٰهَ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ - ١٤
Orang-orang Arab Badui berkata, “Kami telah beriman.” Katakanlah (kepada mereka), “Kamu belum beriman, tetapi katakanlah ‘Kami telah tunduk (Islam),’ karena iman belum masuk ke dalam hatimu. Dan jika kamu taat kepada Allah dan Rasul-Nya, Dia tidak akan mengurangi sedikit pun (pahala) amal perbuatanmu. Sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (ayat 14)
اِنَّمَا الْمُؤْمِنُوْنَ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا بِاللّٰهِ وَرَسُوْلِه ثُمَّ لَمْ يَرْتَابُوْا وَجَاهَدُوْا بِاَمْوَالِهِمْ وَاَنْفُسِهِمْ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ ۗ اُولٰ ىِٕكَ هُمُ الصّٰدِقُوْنَ - ١٥
Sesungguhnya orang-orang mukmin yang sebenarnya adalah mereka yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjihad dengan harta dan jiwanya di jalan Allah. Mereka itulah orang-orang yang benar. (ayat 15)
قُلْ اَتُعَلِّمُوْنَ اللّٰهَ بِدِيْنِكُمْ وَاللّٰهُ يَعْلَمُ مَا فِى السَّمٰوٰتِ وَمَا فِى الْاَرْضِ وَاللّٰهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيْمٌ - ١٦
Katakanlah (kepada mereka), “Apakah kamu akan memberitahukan kepada Allah tentang agamamu (keyakinanmu), padahal Allah mengetahui apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (ayat 16)
يَمُنُّوْنَ عَلَيْكَ اَنْ اَسْلَمُوْا ۗ قُلْ لَّا تَمُنُّوْا عَلَيَّ اِسْلَامَكُمْ ۚبَلِ اللّٰهُ يَمُنُّ عَلَيْكُمْ اَنْ هَدٰىكُمْ لِلْاِيْمَانِ اِنْ كُنْتُمْ صٰدِقِيْنَ - ١٧
Mereka merasa berjasa kepadamu dengan keislaman mereka. Katakanlah, “Janganlah kamu merasa berjasa kepadaku dengan keislamanmu, sebenarnya Allah yang melimpahkan nikmat kepadamu dengan menunjukkan kamu kepada keimanan, jika kamu orang yang benar.” (ayat 17)
Terjemahan Kemenag Daring https://quran.kemenag.go.id/sura/49
Dalam pengertian ini, tampak bahwa cakupan "Islam" lebih luas mencakup pihak-pihak yang belum beriman (bisa jadi tunduk karena keuntungan politis) dan istilah "beriman" digunakan untuk orang-orang Islam yang mengikuti Nabi Muhamad.
Walaupun begitu, ada juga pengertian "Islam" yang lebih sempit, antaranya saat digunakan di surat Al-Baqarah ayat 131.
اِذْ قَالَ لَهٗ رَبُّهٗٓ اَسْلِمْ قَالَ اَسْلَمْتُ لِرَبِّ الْعٰلَمِيْنَ
(Ingatlah) ketika Tuhan berfirman kepadanya (Ibrahim), “Berserahdirilah (aslim)!” Dia menjawab, “Aku berserah diri (aslamtu) kepada Tuhan seluruh alam.”
Padahal sudah jelas bahwa Nabi Ibrahim pastilah seorang mu'min tetapi Allah masih menyuruh Nabi Ibrahim untuk tunduk. Dalam konteks di sini, "Islam" lebih sempit daripada yang digunakan di surat Al-Hujurat.
Ah, saya sudah melantur ke mana-mana ya?
Saya tetap tidak tahu atas jawaban dari pertanyaan ini. Saya rasa Hamka benar, ayat-ayat di atas itu untuk mencegah fanatisme, agar umat Islam tidak dangkal, hanya terpaku pada label semata. Begitu juga Muhammad Asad, bahwa ayat ini untuk mencegah umat Islam berperilaku seperti Yahudi, merasa sebagai umat terpilih.
Ayat ini, tidak untuk kemudian membenarkan orang yang pindah-pindah agama tetapi toh, orang yang berpindah agama berarti memang tidak memiliki keyakinan terhadap agama sebelumnya. Untuk apa dipaksa tetap di agama lamanya? Laa ikraha fi-ddiin (tidak ada paksaan dalam agama). Sementara orang yang punya keyakinan agama yang dianutnya, walau dikatakan agama lain juga punya jalan keselamatan, ia tak akan berpindah dari agamanya.
Saya, seorang agnostik, yang bisa dibilang "tak beriman" toh kenyataannya tetap memilih beragama Islam, tetap shalat sesuai yang saya pelajari masa kecil, tetap berusaha mematuhi etika yang diajarkan oleh guru-guru agama saya. Padahal bisa saja saya memilih keluar dari agama ini dengan mudah bahkan menjadi ateis sekalipun tetapi saya merasa tetap nyaman menjalankan ibadah Islam. Apalagi orang yang mengklaim "beriman", maka apakah Allah akan menerima pemeluk agama lain atau tidak, seharusnya tidak menjadi soal baginya, tidak menjadi keresahan baginya, karena seharusnya sebagai orang beriman ia tunduk kepada Allah, apapun putusan Allah.
Saya rasa, ayat-ayat ini (2:62, 5:69, 22:17) menegaskan bahwa Allah itu bukan Zat yang peduli pada label. Untuk apa seseorang "ustadz" begitu bangga beragama Islam kalau kenyataannya ia mengajak umatnya tertipu berjamaah dengan mengatakan investasi yang ia promosikan pasti akan selalu untung hingga akhir dunia dengan mengutip hadits-hadits yang dikutip di luar konteks?
Coba kita lihat ajaran Islam yang sederhana saja:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِّنْ قَوْمٍ عَسٰٓى اَنْ يَّكُوْنُوْا خَيْرًا مِّنْهُمْ وَلَا نِسَاۤءٌ مِّنْ نِّسَاۤءٍ عَسٰٓى اَنْ يَّكُنَّ خَيْرًا مِّنْهُنَّۚ وَلَا تَلْمِزُوْٓا اَنْفُسَكُمْ وَلَا تَنَابَزُوْا بِالْاَلْقَابِۗ بِئْسَ الِاسْمُ الْفُسُوْقُ بَعْدَ الْاِيْمَانِۚ وَمَنْ لَّمْ يَتُبْ فَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الظّٰلِمُوْنَ
Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok) dan jangan pula perempuan-perempuan (mengolok-olokkan) perempuan lain (karena) boleh jadi perempuan (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari perempuan (yang mengolok-olok). Janganlah kamu saling mencela satu sama lain dan janganlah saling memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk (fasik) setelah beriman. Dan barangsiapa tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim. (Surat Al-Hujurat ayat 11)
Berapa banyak orang yang bangga beragama Islam, merasa diri sebagai orang beriman, berteriak menyerukan Islam yang kaffah tetapi dengan ringan mengolok wanita-wanita dan orang-orang yang tidak satu golongan dengan mereka? Apakah mereka kira label Pemeluk Islam yang mereka sandang akan membuat mereka selamat ?
Berbicara tentang ayat-ayat itu, salah satu detail menarik adalah orang-orang Shabiin yang sampai sekarang misterius, siapakah mereka. Ada berbagai versi siapa yang mereka maksud. Ada entri wikipedia-nya sendiri, silakan cek: Sabians - Wikipedia.

Wednesday, July 01, 2020

[Bukan Review] GEN karya Siddharta Mukherjee -- Elitisme Saintis dan Sains Sampah




Judul Buku: Gen: Perjalanan Menuju Pusat Kehidupan
Pengarang: Siddharta Mukherjee
Judul Asli: The Gene
Jumlah halaman: 634 halaman (tidak termasuk daftar pustaka)

Ada banyak sudut pandang untuk membaca karya Siddharta Mukherjee, bisa membacanya sebagai buku pengantar ilmu tentang gen, bisa pula membacanya sebagai curhat si pengarang mengenai kisah keluarganya, atau bisa juga sebagai peringatan dalam menyikapi sains. Saya memilih mengulas buku ini berdasarkan sudut pandang yang terakhir.

Salah satu pantangan dalam menulis tentang sains adalah melibatkan emosi di dalamnya. Siddharta, dengan berani melanggar pantangan ini dan membuka buku ini dengan kisah keluarga yang tercabik-cabik jiwanya akibat pemisahan India dan Pakistan. Tampak tidak relevan dengan topik buku, Siddharta mengisahkan tentang anggota keluarga yang menjadi tak waras karena terguncang akibat tercerabutnya mereka dari daerah asal mereka. Namun setelah kelahiran generasi kedua, tampak bahwa mungkin kegilaan ini juga terwariskan di generasi selanjutnya. Dengan melanggar tabu dalam penulisan sains, Siddharta menunjukkan bahwa sains dekat dengan kehidupan sehari-hari kita, bukan sekedar topik nun jauh terisolasi di dalam laboratorium.

Saya sempat mengira, membaca GEN hanyalah membahas tentang apa yang kita ketahui tentang gen saat ini tetapi saya salah. Selain membahas perkembangan pengetahuan manusia tentang pewarisan sifat, GEN juga mengisahkan bagaimana bias yang dimiliki mempengaruhi sudut pandang orang berilmu dan bisa memiliki dampak sosial yang buruk. Ya, Siddharta blak-blakan dalam membahas sisi kelam penggunaan sains di sini.

Umumnya, berbicara tentang sejarah genetika, penulis sains akan memulai dari Mendel atau dari Darwin tetapi Siddharta menarik lebih jauh hingga masa Pythagoras, sekitar 530 tahun sebelum masehi. Pythagoras yang terkenal mengidolakan angka ternyata memiliki bias patriarkal menggelikan hingga mengeluarkan teori bahwa hanya pria yang menyumbang anak, sementara wanita hanyalah memberi nutrisi pada janin. Tentu saja teori ini bisa berdampak pada pandangan membunuh ibu atau wanita dianggap lebih ringan karena prialah yang menjadi sumber kehidupan.

Aristoteles, yang tidak punya reputasi sebagai feminis, menyanggah dengan logika. Jika memang manusia hanya sepenuhnya ditentukan oleh mani laki-laki, lalu darimana datangnya alat kelamin perempuan? Maka jelaslah perempuan juga punya andil dalam membentuk janin. Mengamati bahwa siklus menstruasi berhenti saat wanita hamil, Aristoteles menyimpulkan bahwa janin terbentuk dari darah menstruasi dan mani laki-laki. Kesimpulan yang sebenarnya kurang tepat tetapi bisa dimaklumi melihat pengetahuan di masa itu. Bukan hasrat "membela ketimpangan gender" yang menjadi motivasi Aristoteles tetapi cintanya kepada logika.

Babak selanjutnya yang cukup menggugah emosi adalah saat berkisah tentang biarawan bernama Mendel. Gregory Mendel memang bukan sosok yang jenius atau cerdas di bidang sains. Ia gagal berkali-kali dalam ujian tetapi ia punya bakat teliti dan tidak menyerah dalam meneliti. Dengan bahan penelitian yang kebetulan benar (karena ercis tidak berkembang secara aseksual, berbeda dengan beberapa bunga lain), ia meneliti tidak hanya dua generasi ercis tetapi pasti berlanjut hingga ke generasi-generasi selanjutnya. Dari penelitiannya, ditemukan bahwa komponen sifat yang diwariskan bersifat diskrit dan hasilnya bisa tersembunyi (resesif) dan muncul setelah beberapa generasi setelahnya. Di masanya, tak ada yang mengamati sejauh itu tetapi ironisnya, tak ada ilmuwan sezamannya yang peduli dengannya.

Mendel mengirim hasil-hasil penelitiannya ke jurnal yang jarang dibaca tetapi ia meminta empat puluh salinan dan dikirim ke beberapa ilmuwan tetapi sepi tanggapan. Salah satu ilmuwan yang menanggapi, dengan membalas dengan enggan, kadang kasar. Mendel, sebagai seorang peneliti amatir tidak dianggap oleh para saintis dan karyanya diabaikan hingga ia meninggal.

Bukan rekan-rekan biarawan yang kelak mengangkat Mendel tetapi ilmuwan lain, dua puluh tahun setelah kematiannya. Salah satu ilmuwan, terkejut melihat kemiripan percobaan Mendel dengan percobaannya sendiri tetapi mencoba menutupi nama Mendel saat mengumumkan hasil percobaannya. Sayangnya, ternyata bukan hanya si ilmuwan ini yang "tak sengaja" menemukan Mendel tetapi di masanya juga ada ilmuwan lain yang kemudian menegur ilmuwan pertama atas ketidaksopanannya "menjiplak" Mendel. Setelah ditegur, si ilmuwan pertama akhirnya mengakui bahwa Mendel sudah melakukan percobaan serupa tetapi tak patah arang, ia membuktikan bahwa ia sudah melangkah lebih jauh.  Ya, terkadang orang-orang sains pongah dan mengabaikan sejawat yang dianggap tidak sederajat tetapi budaya kejujuran akan memaksa para saintis untuk kembali pada jalan yang "benar".

Bagian paling menguras emosi dari GEN adalah ketika Siddharta menceritakan tentang eugenika, sejarah terkelam dari bidang genetika. Pandangan eugenik sudah ada di masa-masa awal ketika Mendel belum dikenal. Francis Galton, yang kebetulan sepupu Darwin, adalah yang pertama menggunakan teori bahwa kecerdasan itu diwariskan. Darwin, yang hanya membaca 50 halaman, memuji kabur sehingga Siddharta menafsirkan pujian tersebut hanyalah sebuah celaan halus. Usai Darwin meninggal, Galton mengungkapkan ide eugenika pada musim semi 1904 di London School of Economics. Tebak siapa yang ketus mengritiknya? Bateson, seorang ilmuwan yang meneliti gen (melanjutkan Mendel), yang melihat bahwa Galton rancu antara sifat yang tampak (fenotipe) dengan komponen yang diwariskan (genotipe). Walau dicela, Galton tetap bertahan dan delapan tahun kemudian, yakni setahuan setelah ia wafat, konsepnya dibahas dalam konferensi internasional yang dihadiri tokoh-tokoh ternama.

Berbicara tentang eugenika, biasanya para skeptis-terhadap-sains akan memberi contoh NAZI tetapi Siddharta memberi contoh yang lebih mengejutkan, kasus-kasus di Amerika Serikat. Siddharta mengisahkan secara intim tentang Carrie Buck dan ibunya, Emma, serta putrinya, Vivian. Bukannya menyelidiki kasus pemerkosaan, para pendukung eugenika menganggap perilaku Carrie Buck adalah warisan dan demi menyelamatkan masa depan, Carrie harus disterilisasi.

Siddharta, juga menunjukkan pada kejahatan yang dilakukan oleh kaum anti-eugenika, yakni para komunis Uni Sovyet. Ilmuwan terkemuka Uni Sovyet, Trofim Lysenko, dan para sejawat ilmuwan kiri percaya bahwa alamlah yang membentuk perilaku dan gen tak lebih dari khayalan para borjuis. Tentu saja ada para saintis yang mengritik tetapi Lysenko punya dukungan aparat politik. Para saintis yang menentang, seperti Nikolai Vavilov, dikirim ke penjara Saratov yang bereputasi buruk karena menyebarkan sains "borjuis".

Dua mazhab "sains" yang bertentangan, sama-sama menghasilkan kediktatoran. Apakah sains yang salah? Siddharta menunjukkan bahwa saintis seperti Theodosius Dobzhansky, justru bisa menunjukkan kelemahan dari masing-masing mazhab melalui percobaan yang ia lakukan dengan lalat-lalatnya. Dengan percobaan mengisolasi lalat dengan kondisi berbeda, ia menyadari bahwa tidak ada variasi yang lebih superior, lebih kuat dibandingkan variasi yang lain. Yang ada hanyalah variasi yang lebih sesuai dengan kondisi lingkungan.

Tema eugenika akan hadir dalam beberapa bab selanjutnya di mana saintis dengan ceroboh, mengajukan argumentasi bahwa ada perbedaan antara ras manusia seperti kecerdasan. Walau begitu, selalu ada saintis yang bisa melihat kelemahan dan melakukan percobaan tandingan dengan bias yang disingkirkan, sehingga bisa menjelaskan hasil dari si saintis ceroboh tetapi sekaligus juga membuktikan bahwa perbedaan karakteristik antar ras sebenarnya semu.

Pada awal 1970an, sejumlah saintis sudah mulai bermain-main dengan gen. Sanger sudah memperkenalkan cara membaca DNA. Siapakah yang pertama mengingatkan para saintis tentang bahaya ilmu mereka? Bukan para filsuf, bukan para agamawan, bukan para pengamat melainkan lingkungan sesama saintis sendiri.Pada tahun 1973, sejumlah saintis dari bidang virologi, genetika, biokimia, genetika hadir di Asilomar, yang menghasilkan buku Biohazard in Biological Research. Paul Berg tidak puas dengan hasil Asilomar dan memutuskan menyelenggarakan Asilomar II, kali ini bukan hanya para saintis tetapi juga mengundang pengacara, jurnalis, dan penulis. Hasilnya adalah sebuah panduan penelitian yang diterima bulat oleh para peserta. Para ilmuwan telah mengatur kode etiknya sendiri.

Tentu saja, seperti yang diakui oleh Paul Berg, ada hal yang hilang dari Asilomar II yakni etika dan moral dan saya yakin, pembaca yang religius atau filosofis akan tergoda untuk menjadikannya argumentasi bahwa bidang-bidang seperti agama dan filsafat tetap diperlukan. Saya, tidak menyetujuinya karena sejarah membuktikan, pemahaman kita tentang moral berkembang dari masa ke masa.

Contoh paling sederhana adalah, apakah penelitian yang dilakukan untuk menyelamatkan kaum "tak bermoral" dibolehkan? Seandainya ada sebuah penyakit, yang diketahui berkorelasi tinggi dengan sekelompok kaum yang dinilai "tak bermoral", apakah salah menyelamatkan orang-orang itu?

Pada awal 1980an, di Amerika Serikat sebuah penyakit menular terdeteksi. Menyadari bahwa banyak dari pengidap penyakit itu adalah laki-laki homoseksual, para dokter mulai menamainya GRID -- Gay Related Immune Deficiency. Surat-surat kabar menjulukinya "wabah homo".

Seorang religius yang gegabah, dengan berbekal data yang ada mungkin akan tergoda melarang penelitian yang membantu penanganan penyakit ini. Namun perusahaan kapitalis Genentech menyadari sejumlah pasien Hemofilia A terserang penyakit ini. Mereka sadar bahwa wabah baru ini menyebar melalui transfusi darah. Pasien Hemofilia membutuhkan protein khusus, Faktor VIII yang berperan dalam proses koagulasi darah. Mengabaikan stigma yang melekat pada wabah baru, mereka segera melakukan penelitian untuk menyintensis Faktor VIII sehingga bisa membantu pasien Hemofilia tanpa melakukan transfusi darah.

Ternyata wabah baru itu memang bisa menular melalui darah dan pada tahun 1987, pasien Hemofilia pertama disuntikkan Faktor VIII hasil teknologi rekombinan dan sukses. Walaupun datang terlambat, sebagian besar mati pada gelombang pertama, teknologi ini menyelamatkan nyawa.

Buku GEN mengonfirmasi bahwa dunia sains memang memiliki rekam jejak buruk, seperti yang dikhawatirkan oleh para pecinta teori konspirasi. Namun Siddharta juga menunjukkan bahwa bukan sains yang bermasalah melainkan ketika sains sampah, sains yang dibuat dengan bias politik, dengan bias ideologi, mengabaikan rambu-rambu seperti budaya kejujuran dan budaya terbuka terhadap kritik, maka saat itulah sains bisa dibajak ke arah hal-hal mengerikan.

Mengkritik sains bukanlah dengan bersikap pesimis terhadap sains, menganggap para saintis sebagai kaum dungu bin naif nan egois yang tak bisa mengatur dirinya, lalu pongah menganggap ilmunya tak tersentuh oleh tangan-tangan sains. Mengkritik sains adalah dengan memahami sains itu sendiri, menolak kemutlakan mitos kebenaran, menyadari bahwa segala konsep bisa saja salah karena itu harus siap disalahkan (falsifiable).

Mencegah sains disalahgunakan bukanlah dengan cara mengekang sains tetapi dengan membudayakan berpikir secara sains, agar masyarakat tidak mudah terpukau dengan klaim-klaim termasuk yang menyeret-nyeret nama sains sekalipun. Kabar buruknya, sebuah hal yang dianggap sebuah kebenaran bisa jadi kelak terbukti hanya sebagai "kemungkinan" karena tidak bisa direproduksi atau bahkan "tertolak".

Jangan terlalu khawatir melihat "elitisme" kaum saintis yang kadang tampak. Belajar dari kisah Mendel, seorang amatir pun bisa menembus lingkar elit ini.

Friday, June 26, 2020

[Khayal] Jika Saya Mendirikan Partai

Saya salin dari jawaban saya di Quora:
https://id.quora.com/Seandainya-kamu-bisa-membuat-satu-partai-politik-baru-di-Indonesia-seperti-apa-partai-politik-tersebut/answer/Narpati-Wisjnu-Ari-Pradana


Jika saya punya akses terhadap dana dan jaringan, saya akan membuat partai seperti berikut:
1. TIDAK BERAMBISI MENDUDUKI JABATAN PEMERINTAHAN SELAMA DUA DEKADE
Setidaknya dalam 20 tahun pertama, partai baru ini tidak akan ikut dalam perebutan kursi presiden, lobi-lobi jabatan menteri, kursi gubernur, atau kursi pimpinan daerah lain. Partai ini akan murni fokus pada pembuatan legislasi, pengawasan terhadap kinerja eksekutif, pendidikan dan pendampingan hukum pada masyarakat, dan tentu saja pengawasan anggaran.
Para pendiri partai ini tidak akan menjadi eksekutif, tidak akan ikut dalam lobi-lobi demi kursi jabatan. Para pendiri partai ini harus ikhlas demi memastikan generasi selanjutnya dari partai ini benar-benar memahami perjuangan sebelum akhirnya terlibat persaingan kekuasaan di pemilu eksekutif.
2. MEMUSATKAN PERHATIAN PADA PENERAPAN SILA KEMANUSIAAN YANG ADIL DAN BERADAB DAN SILA KEADILAN SOSIAL BAGI SELURUH RAKYAT INDONESIA
Selama ini, partai-partai berkutat pada dua ideologi, ISLAM vs NASIONALISME (KEBANGSAAN). Yang pertama selalu menyanjung-nyanjung sila pertama dari Pancasila sementara yang kedua, walau tak secara eksplisit, menekankan pada sila ketiga. Istilah-istilah seperti NKRI harga mati jelas menunjukkan aliran Nasionalisme/Kebangsaan pada sila ketiga. Sementara itu, sila kedua dan kelima acap kali terabaikan.
Partai baru akan memperjuangkan semangat Sila Kemanusiaan yang Adil dan Beradab dengan memastikan penerapan pasal 28 UUD termasuk amandemen, hak-hak asasi manusia yang sudah diratifikasi oleh Indonesia, dan tentu saja mengawasi terpenuhnya segala peraturan perundang-undangan termasuk KUHAP dan perkap-perkap kapolri dan surat edaran MK yang menjamin kemanusiaan agar tidak menjadi arsip pustaka belaka melainkan dihayati oleh segenap warga negara termasuk para penegak hukumnya.
Partai baru juga akan mengencarkan penerapan sila keadilan sosial dengan berbagai cara antara lain:
  • mengadakan dan mendidik masyarakat melalui kajian sosialisme dari berbagai sudut pandang, baik materialisme ala Marxisme maupun agama seperti Islam atau Kristen;
  • menilai segala rancangan undang-undang yang diajukan dari dampaknya pada kehidupan ekonomi, sosial, dan budaya masyarakat serta pada lingkungan hidup;
  • mengajukan wacana pembatasan aset pasif pengusaha — seperti lahan tidur — yang bisa dimanfaatkan untuk kepentingan rakyat banyak;
  • mendesak pemerintah membenahi sistem-sistem yang menjadi hak dasar bagi rakyat seperti sistem jaminan kesehatan, penanganan fakir miskin;
  • memaksa pemerintah untuk tidak segan menindak pengusaha yang nakal seperti melakukan pembangunan tanpa IMB;
3. MENDESAK DAN MENGAWASI KINERJA PEMERINTAH DALAM PROGRAM-PROGRAM REFORMASI AGRARIA
Partai baru akan mendesak pemerintah menyelesaikan program penyatuan data terkait tanah dari kepemilikan, pajak, hingga sengketa. Partai baru juga mendesak agar data-data ini bisa diakses dengan mudah oleh rakyat miskin yang secara de facto tinggal di tanah tersebut walau tidak memiliki sertifikat tertulis.
Partai baru akan mendesak pemerintah menyelesaikan secepat mungkin sengketa-sengketa yang bisa diselesaikan di luar meja hijau. Partai juga mendesak pemerintah untuk mendeteksi potensi sengketa misalnya ketika ada pengusaha menyatakan membeli tanah, maka institusi pemerintah terkait harus memastikan apakah ada warga yang tinggal di tanah tersebut.
Partai baru akan melakukan kajian hukum-hukum pewarisan adat di berbagai daerah demi menghindari adanya penyalahgunaan sertifikat tanah milik adat menjadi lahan milik pribadi yang dapat membuat individu tersebut terjebak dala permainan kapitalis dan akhirnya mengurangi lahan adat tersebut.
4. MENDESAK PEMERINTAH UNTUK MENEGAKKAN PENGAWASAN TERHADAP PERSAINGAN USAHA
Partai baru akan mengkaji setiap ada perubahan drastis trend ekonomi baik yang biasa dijuluki disruptive economy dan memastikan bahwa tidak ada penguncian akses pada bidang baru tersebut. Selain itu juga mengkaji bahwa dalam ekonomi baru itu, tidak ada para pekerja di bidang tersebut yang dieksploitasi termasuk yang berlindung di bawah label-label semacam "mitra" atau "outsource".
5. MEWACANAKAN PROSEDUR PENGGUSURAN YANG MANUSIAWI
Pemindahan warga, tidak selayaknya dipandang sekedar hanya memindahkan tempat tidur belaka. Jangan sampai pemindahan paksa membuat warga terdampak menjadi terisolasi dari mata pencahariaannya. Karena itu partai baru akan mewacana peraturan perundang-undangan acara penggusuran untuk memastikan warga mendapat ganti rugi bukan sekedar dari materi tetapi juga dari sisi akses warga terhadap pencaharian.
6. KADER YANG SUDAH DIVONIS KORUPSI TIDAK BOLEH MENCALONKAN DIRI PADA JABATAN STRATEGIS APAPUN
Setiap kader yang sudah divonis korupsi, diterima kembali dengan syarat ia tidak akan menjadi calon pada jabatan strategis apapun, termasuk ketua partai, anggota legislatif, kepala daerah, dan lain-lain. Kader tersebut hanya akan menjadi anggota biasa, yang memiliki hak bersuara dan akan dihargai pengetahuan serta pengalamannya namun tidak akan memiliki kekuasaan karena sudah terbukti gagal menahan diri dari godaan. Kader-kader yang lebih muda akan lebih diprioritaskan untuk hal tersebut.
7. KADER PARTAI TIDAK AKAN MEMILIKI PRIVASI ATAS KONDISI KEUANGAN
Setiap kader partai akan wajib melaporkan keuangan keluarganya secara berkala. Selain itu kader partai akan wajib melaporkan setiap pemberian yang didapat dalam jangka waktu sesingkat mungkin. Kader juga wajib melaporkan harta kekayaannya secara berkala.
Laporan-laporan ini akan bisa diakses oleh tim audit dalam skala terbalik. Laporan keuangan kader tingkat ranting hanya bisa diakses oleh tim audit tingkat ranting. Laporan keuangan kader tingkat cabang bisa diakses oleh tim audit tingkat cabang dan tim audit tingkat ranting yang berada di bawah cabang tersebut. Dengan demikian laporan keuangan kader di tingkat pusat bisa diakses oleh semua tim audit baik di tingkat pusat hingga di tingkat ranting. Dengan demikian, para kader tanpa terkecuali akan terbiasa terbuka.
Setiap kader partai yang mencalonkan diri untuk jabatan publik seperti calon anggota legislatif atau calon pemimpin daerah, akan dibuka kepada publik rekam jejak kekayaannya selama menjadi kader partai.
8. PARTAI AKAN SELALU MENGUMUMKAN SECARA TERBUKA KEUANGANNYA TERMASUK LAPORAN DONASINYA
Partai akan selalu mengumumkan secara terbuka keuangannya secara berkala setelah dinilai oleh auditor independent.

Friday, June 19, 2020

Ringkasan Peristiwa Perdebatan tentang Pancasila (dan pasal UUD 1945 terkait sila pertama)

1. Pidato Bung Hatta soal Agama dan Negara (di Sanyo Kaigi, sebelum BPUPK terbentuk);

2. Pidato Yamin 29 Mei 1945. Pidato yang tercantum dalam "Risalah Sidang Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia" kemungkinan bukanlah pidato tanggal 29 Mei seperti yang disanggah Bung Hatta. Di dalam naskah pidato Yamin pun tertera pernyataan "Dua hari yang lampau Tuan Ketua memberi kesempatan kepada kita sekalian juga boleh mengeluarkan perasaan" padahal BPUPK baru mulai rapat tanggal 29 Mei sementara hari sebelumnya adalah apel pelantikan. Di naskah pidato tertera Yamin menyerahkan rancangan undang-undang tetapi di catatan notulis, tidak ada rancangan Undang-Undang yang disampaikan hari itu. Menurut Bung Hatta, M Yamin memang berpidato di hari itu tetapi bunyinya berbeda jauh.

3. AM Dasaad 29 Mei -> mengajukan Islam sebagai dasar negara

4. Mohammad Hatta 30 Mei -> naskah pidato belum ditemukan. Berdasarkan laporan Asia Raja, Bung Hatta menganjurkan agama dipisah dari negara, diduga kemungkinan pidato beliau serupa dengan pidato di Sanyo Kaigi.

5. Abdul Kadir, 31 Mei -> mendukung Islam sebagai bagian dari dasar negara.
 "Agama, jika Indonesia Merdeka sudah terbentuk, tidak boleh tidak agama Islam yang punya penganut banyak akan menjadi agama yang penting dengan sendirinya".

6. Soepomo 31 Mei -> menjawab beberapa pertanyaan teknis yang diajukan Bung Hatta pada tanggal 30 Mei sebelumnya. Sepakat dengan Bung Hatta untuk tidak menyatukan agama dan negara, mengutip Muhammad Abduh dan Ali Abdul Razik. 
"Akan tetapi, tuan-tuan yang terhormat, akan mendirikan negara Islam di Indonesia berarti tidak akan mendirikan negara persatuan. Mendirikan negara Islam di Indonesia berarti mendirikan negara yang akan mempersatukan diri dengan golongan yang terbesar, yaitu golongan Islam. Jikalau di Indonesia didirikan negara Islam, maka tentu akan timbul soal-soal "minderheden" (golongan minoritas), soal golongan agama yang kecil-kecil, golongan agama Kristen dan lain-lain. Meskipun negara Islam akan menjamin dengan sebaik-baiknya kepentingan golongan-golongan lain itu, akan tetapi golongan-golongan agama kecil itu tentu tidak bisa mempersatukan dirinya dengan negara."

7. Ki Bagoes Hadikoesoemo, 31 Mei -> mengeluarkan argumen untuk mendukung Islam sebagai dasar negara.
 "Agama pangkal persatuan, janganlah takut di mana pun mengemukakan dan mengetengahkan Agama.... .... Padahal sebenarnya bukan hanya perkara agama saja yang dapat menimbulkan perselisihan dan perpecahan apabila diperbincangkan dengan tidak berdasarkan kejujuran, kesucian, dan keikhlasan. Perkara apakah bentuk negara kita ini republik atau monarki, serikat atau kesatuan, itu pun dapat menimbulkan perpecahan dan perselisihan yang amat hebat dan dahsyat."

8. Soekarno, 1 Juni.
"Saya yakin, bahwa syarat yang mutlak untuk kuatnya Negara Indonesia ialah permusyawaratan, perwakilan. Untuk pihak Islam, inilah tempat yang terbaik untuk memelihara agama. Kita, sayapun, adalah orang Islam, - maaf beribu-ribu maaf, keislaman saya jauh belum sempurna, - tetapi kalau saudara-saudara membuka saya punya dada, dan melihat saya punya hati, tuan-tuan akan dapati tidak lain tidak bukan hati Islam. Dan hati Islam Bung Karno ini, ingin membela Islam dalam mufakat, dalam permusyawaratan. Dengan cara mufakat, kita perbaiki segala hal juga keselamatan agama, yaitu dengan jalan pembicaraan atau permusyawaratan di dalam Badan Perwakilan Rakyat."

9. 15 Juni, Tujuh anggota BPUPK dipimpin PA Hoesein Djajadiningrat, menyampaikan Rancangan Undang-Undang Dasar tanpa melalui panitia kecil yang dipimpin oleh Soekarno.

10. 22 Juni. Bung Karno mengadakan sidang panitia kecil, dihadiri 38 anggota Cuo Sangi In yang merangkap menjadi anggota BPUPK dan 38 ini memilih 9 orang menjadi tim kecil yang bertugas membuat pembukaan UUD 1945 termasuk Pancasila. Dilaporkan pada rapat BPUPK tanggal 10 Juli oleh Soekarno.

11. Soekarno, 10 Juli, melaporkan kerja tim 9 tentang dasar negara. "Allah subhanahu wa ta'ala memberkati kita. Sebenarnya adalah kesukaran mula-mula antara golongan yang dinamakan Islam dan golongan yang dinamakan golongan kebangsaan. Mula-mula ada kesukaran mencari kecocokan paham antara kedua golongan ini, terutama yang mengenai agama dan negara, tetapi sebagai tadi saya katakan, Allah subhanahu wa ta'ala memberkati kita sekarang ini; kita sekarang sudah ada persetujuan. Pada waktu sesudah sidang Cuo Sangiin kami mengadakan rapat 38 orang anggota-anggota dari Dokuritu Zyunbi Tyuoosakai di dalam kantor besar Jawa Hookokai. Pada waktu itu orang 38 ini membentuk lagi satu panitia kecil yang terdiri dari pada anggota yang terhormat, Soekarno, Hatta, Muh Yamin, Maramis, Wahid Hasyim, Soebardjo, Kiai AK Muzakkir, Abikoesno Tjokrosoejoso, H Agus Salim. Panitia 9 orang inilah telah berhasil baik, sesudah mengadakan pembicaraan yang masak dan sempurna untuk mendapatkan satu modus, satu persetujuan, antara pihak Islam dan pihak kebangsaan. Modus, persetujuan itu termaktub di dalam satu rancangan pembukaan hukum dasar, rancangan preambule hukum dasar, yang rancangan ini dipersembahkan, sekarang oleh Panitia Kecil pada sidang sekarang ini sebagai usul "

12. BPUPK, dari 64 anggotanya, 55 di antaranya memilih bentuk Republik.

13. Pada 13 Juli, terdapat perdebatan tentang agama presiden
Wahid Hasyim, mengatakan "Oleh karena itu diusulkan pasal 4 ayat (2) ditambah dengan kata-kata 'yang beragama Islam'. Jika presiden orang Islam, maka perintah-perintah berbau Islam dan akan besar pengaruhnya. Diusulkan supaya pasal 29 diubah sehingga bunyinya kira-kira 'Agama negara ialah agama Islam, dengan menjamin kemerdekaan orang-orang yang beragama lain, untuk dsb."
Agus Salim, menyanggah Wahid Hasyim. "Dengan ini kompromis antara golongan kebangsaan dan Islam mentah lagi. Apakah hal ini tidak bisa diserahkan kepada Dewan Permusyawaratan Rakyat? Jika presiden harus orang Islam, bagaimana halnya terhadap wakil presiden, duta-duta, dsb. Apakah artinya janji kita untuk melindungi agama lain?"
Soekiman, mendukung Wahid Hasyim, "pada hakekatnya tidak ada akibatnya apa-apa".
Djajadiningrat, menyatakan tak perlu dituliskan, "dalam praktek sudah tentu, jika yang menjadi presiden orang Indonesia yang beragama Islam karena itu setuju jika pasal 4 ayat 2 dihapuskan sama sekali."
Wongsonagoro, tercengang karena kompromis dimentahkan lagi.
Otto Iskandar Dinata mendukung dihapusnya pasal 4 ayat 2. Memasukkan kalimat dari preambule ke pasal 29 ayat 1, dan "negara menjamin kemerdekaan" ke ayat 2.
Wongsonagoro, mengusulkan pasal 29 ayat 2 ditambah dengan kata-kata "dan kepercayaan" antara kata-kata "agamanya" dan "masing-masing".
Ketua (Soekarno) setuju menghapus pasal 4 ayat 2 dan menerima usul Otto Iskandardinata dan Wongsonagoro.

14. Pada 14 Juli, terdapat perdebatan tentang bunyi sila pertama Pancasila.
Ki Bagus Hadikoesoemo tidak nyaman dengan bagian akhir kalimat sila pertama. "... apakah memuaskan seumpamanya di Indonesia ini diadakan larangan, wet larangan minuman keras untuk orang-orang Islam saja? Karena hukum itu rupanya cuma untuk orang-orang Islam saja. Budi Utomo waktu itu merasa dihina. Kalau diadakan wet yang begitu, itu merasa dihina, dan ini yang dari saya sendiri: Jikalau bunyi atau kata-kata itu berarti di sini akan diadakan dua peraturan, satu untuk umat Islam, dan yang satu lagi untuk yang bukan Islam, itu saya kira di dalam satu negara, tetapi saya punya permintaan, prakteknya barangkali nanti sama saja, rasa rasanya kurang enak. Lebih baik sama sekali tidak ada apa-apa."
Soekarno menyanggah keras, "Paduka tuan Ketua yang mulia! Saya hanya mengatakan bahwa ini sebagai hasil kompromis itu yang diperkuatkan oleh Panitia pula. Cuma dari 'bagi pemeluk-pemeluk' dibuang maka itu mungkin diartikan yang tidak Islam pun diwajibkan menjalankan syariat Islam. Sekianlah".
Abikoesno mengatakan, ".. maka apa yang termuat di situ ialah buah kompromis antara golongan Islam dan golongan Kebangsaan. Kalau tiap tiap dari kita harus misalnya yang membentuk kompromis itu, kita dari golongan Islam harus menyatakan pendirian, tentu saja kita menyatakan, ialah sebagaimana harapan tuan Hadikoesoemo. Tetapi kita sudah melakukan kompromis, sudah melakukan perdamaian dan dengan tegas oleh Paduka tuan Ketua dari Panitia sudah dinyatakan bahwa kita harus dapat memberi dan mendapat. Untuk mengadakan persatuan, janganlah terlihat disini tentang soal ini dari steman. Nanti ada tanda yang tidak baik buat dunia luar. Kita harapkan sungguh-sungguh, kita mendesak pada segenap golongan yang ada dalam Badan ini sudilah kiranya kita mengadakan suatu perdamaian. Janganlah sampai nampak pada dunia luar bahwa kita dalam hal ini adalah perselisihan. Sekianlah".
Setelah ditanyakan ulang oleh Ketua Radjiman, Ki Bagoes Hardikoeosoemo menerima bunyi sila pertama.

15. Pada tanggal 18 pagi, Bung Hatta mengumpulkan beberapa kelompok dari PPKI untuk membahas penghapusan.

16. Pada tanggal 18 Agustus siang, pukul 11.30, Bung Hatta melaporkan penghapusan itu. 
"Oleh karena itu maka dapat disetujui, mislnya pasal 6 alinea 1 menjadi 'Presiden ialah orang Indonesia asli'. 'Yang beragama Islam', dicoret oleh karena penetapan yang kedua: Presiden Indonesia orang Islam, agak menyinggung perasaan dan pun tidak berguna, oleh karen amungkin adanya orang Islam 95% jumlahnya di Indonesia ini dengan sendirinya barangkali orang Islam yang akan menjadi Presiden sedangkan dengan membuang ini maka seluruh Hukum Undang-Undang Dasar dapat diterima oleh daerah-daerah Indonesia yang tidak beragama Islam... berhubung dengan itu juga berobah pasal 29. Ini bersangkutan pula dengan preambule. Pasal 29 ayat 1 menjadi begini: 'Negara berdasar atas Ke-Tuhanan Yang Maha Esa'. Kalimat yang di belakang itu yang berbunyi 'dengan kewajiban' dan lain-lain dicoret saja. Inilah perubahan yang maha penting menyatukan segala bangsa".

Ki Bagoes Hadikoesoemo hadir dalam sidang PPKI tanggal 18 Agustus siang itu, mengoreksi beberapa kata yang tidak terkait sila pertama.






Saya menulis ini sambil berkali-kali melihat "Risalah Sidang Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia) yang diterbtkan ulang oleh Aliansi Kebangsaan berdasarkan edisi ke-IV Sekretariat Negara Republik Indonesia tahun 1998 dan buku Lahirnya Undang-Undang Dasar 1945 yang disusun oleh RM AB Kusuma yang diterbitkan oleh Badan Penerbit Fakultas Hukum Universitas Indonesia, edisi tahun 2016.

No photo description available.



Kutipan memoir Bung Hatta tentang lahirnya Pancasila bisa dibaca di:
http://tulisanhatta.blogspot.com/2017/06/lahirnya-pancasila-dikutip-dari-memoar.html


Sunday, May 31, 2020

Bagaimana Orde Baru Membuat Rakyat Indonesia Amnesia Akan Status Agama Kong Hu Chu

Tulisan ini awalnya adalah jawaban saya di Quora atas pertanyaan "Bagaimana agama Kong Hu Chu bisa diresmikan menjadi agama ke 6 di Indonesia".  Bisa dilihat di :

______________________________________________________________


Agama Kong Hu Chu bukan diresmikan tetapi "tidak diakui" di masa Orde Baru karena urusan politik diskriminasi. Apa yang ada dilakukan oleh Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur) melalui Keputusan Presiden No 6 Tahun 2000 adalah mengembalikan kondisi seperti sediakala.
Sebelumnya mari kita tela'ah arti agama. Sepanjang pengetahuan saya, ada peraturan yang membuat definisi tentang agama kecuali UU No 7 tahun 1989 tentang Peradilan Agama. Saya pernah membahas Peradilan Agama di jawaban atas pertanyaan Mengapa pengadilan agama hanya untuk yang beragama Islam?.
Pembatasan agama pertama terjadi di masa senja Presiden Soekarno yakni melalui Penpres No 1 tahun 1965 tentang Penyalahgunaan / Penodaan Agama di mana peraturan itu menyebut tentang "agama yang dianut di Indonesia". Di bagian keterangan, tertera:
Agama-agama yang dipeluk oleh penduduk Indonesia ialah Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Budha[sic] dan Khong Cu (Confusius).
Hal ini dapat dibuktikan dalam sejarah perkembangan Agama-agama di Indonesia.
Karena 6 macam Agama ini adalah agama-gama[sic] yang dipeluk hampir seluruh penduduk Indonesia, maka kecuali mereka mendapat jaminan seperti yang diberikan oleh pasal 29 ayat 2 Undang-undang Dasar, juga mereka mendapat bantuan-bantuan dan perlindungan seperti yang diberikan oleh pasal ini.
Ini tidak berarti bahwa agama-agama lain, misalnya: Yahudi, Zarasustrian, Shinto, Taoism dilarang di Indonesia. Mereka mendapat jaminan penuh seperti yang diberikan oleh pasal 29 ayat 2 dan mereka dibiarkan adanya, asal tidak melanggar ketentuan-ketentuan yang terdapat dalam peraturan ini atau peraturan perundangan lain.
Terhadap badan/aliran kebatinan, Pemerintah berusaha menyalurkannya kearah[sic] pandangan yang sehat dan kearah ke-Tuhanan[sic] Yang Maha Esa.
Jadi sebenarnya tidak ada istilah agama yang diakui. Yang ada adalah 'agama yang dipeluk oleh penduduk Indonesia' karena dalam sejarah memang demikian. Semua agama, baik yang "dipeluk oleh penduduk Indonesia" maupun agama lain mendapat perlindungan Pasal 29 ayat 2 Undang-Undang Dasar 1945. Jadi tidak boleh ada pelarangan itu seharusnya.
Hanya saja, untuk agama-agama yang disebut sebagai "agama yang dianut Penduduk Indonesia" diberikan perlindungan tambahan yakni tidak boleh disalahgunakan atau dinodai. Ini peraturan yang dikeluarkan oleh Presiden Soekarno di masa senjanya menanggapi konflik-konflik yang terjadi.
Kemudian di masa orde baru, tepatnya pada tahun 1967 melalui Instruksi Presiden No 14 tahun 1967, terjadi pembatasan menjalankan upacara Konghucu. Berikut kutipannya.
PERTAMA:
Tanpa mengurangi jaminan keleluasaan memeluk agama dan menunaikan ibadatnya, tata-cara ibadah Cina yang memiliki aspek affinitas culturil yang berpusat pada negeri leluhurnya, pelaksanaannya harus dilakukan secara intern dalam hubungan keluarga atau perorangan.
KEDUA:
Perayaan-perayaan pesta agama dan adat istiadat Cina dilakukan secara tidak menyolok di depan umum, melainkan dilakukan dalam lingkungan keluarga.
KETIGA:
Penentuan katagori agama dan kepercayaan maupun pelaksanaan cara-cara ibadat agama, kepercayaan dan adat istiadat Cina diatur oleh menteri Agama setelah mendengar pertimbangan Jaksa Agung (PAKEM).
Yang menarik di tahun 1967, PAKEM ini belum terbentuk walau sebenarnya lingkup pengawasan kepercayaan sudah disebut pada tahun tahun 1961 dengan tujuan berbeda. Pada tahun 1961, sebenarnya sudah ada peraturan yang menyebut pengawasan aliran kepercayaan oleh Jaksa Agung. UU No 15 tahun 1961 di Pasal 2 ayat 3 menyatakan salah satu tugas kejaksaan yakni
(3) mengawasi aliran-aliran kepercayaan yang dapat membahayakan masyarakat dan Negara
Dan jika dilihat, seharusnya yang diawasi hanyalah 'aliran kepercayaan' tetapi pada Instruksi Presiden tahun 1967, Kejaksaan juga mengawasi 'Agama' yakni agama orang-orang Cina.
Menurut laporan Petrik Manasi untuk Tirto, pada tahun 1974, Menteri Dalam Negeri mengeluarkan Surat Keputusan yang membatasi agama pada kolom KTP hanya lima. Maka secara praktis sejak itu status Konghucu sebagai agama terlupakan oleh memori kolektif rakyat Indonesia.
Bacaan Lain: