Thursday, April 20, 2017

Mengapa Basuki Kalah

"Penderitaan keagamaan, pada saat yang sama merupakan ungkapan penderitaan nyata dan sekaligus juga protes melawan penderitaan nyata tersebut. Agama adalah keluh kesahnya makhluk yang tertindas,sanubarinya dunia yang tidak punya sanubari, karena itu agama merupakan roh dari suatu keadaan yang tak memiliki roh sama sekali. Agama adalah opioid (pereda rasa sakit semu) rakyat." -- Karl Marx tahun 1843, 20 tahun lebih sebelum nulis Das Kapital.

[catatan, opium di masa Karl Marx digunakan sebagai obat pereda rasa sakit]

Kalimat terakhirnya memang cukup kontroversial tetapi tak bisa disangkal, banyak kasus protes pemakaian simbol agama sebenarnya memiliki dasar nyata. Dalam satu semester terakhir kita melihat ungkapan-ungkapan terminologi agama bertebaran untuk me-liyan-kan orang seperti 'kafir' dan 'munafik'. Tak heran, yang diserang pun mencap para penyerangnya sebagai anti-keragaman tanpa melihat lebih lanjut apa yang ada di balik simbol-simbol itu.

Basuki Tjahaja Purnama adalah seorang politikus.
Sehebat-hebatnya para nabi palsu buzzer membungkus karakternya bagaikan kaum Saduki membungkus para raja-raja Yahudi dengan citra-citra agamis dan suci, tak bisa dielakkan adalah Basuki adalah seorang politikus.

Untuk para pecinta Basuki, ia adalah seorang "lesser evil" (penjahat yang mudaratnya lebih kecil) tetapi untuk penentang Basuki, ia adalah seorang "greater evil" (penjahat yang mudaratnya lebih besar daripada lawannya).

Basuki bukan sekedar politikus plin-plan [1] dan ingkar janji[2], tetapi dia tidak hormat pada kehakiman[3], pro-pengembang kaya alias tidak menghukum orang-orang kaya yang melanggar hukum [4], tidak transparan dalam pengelolaan keuangan [5].

Jadi ketika ditemukan Basuki mengomentari tafsir surat al-Maidah ayat 51, menuding yang menggunakannya sebagai pembohong padahal guru-guru agama banyak yang mempercayai demikian, maka lengkaplah sudah alasan menarik kegelisahan mereka ke arah topik keagamaan.

Mereka, kaum-kaum tertindas ini, bukanlah kaum ekonomi menengah ke atas yang pandai berdebat, memilih kata-kata, menulis status panjang-panjang menganalisis kebijakan, atau membuat kuliah twitter berseri. Karena itu, jargon-jargon agama lebih mudah digunakan. Basuki adalah kafir, Basuki menista agama, yang intinya satu: Basuki adalah sosok yang tidak peduli pada mereka bahkan mengancam mereka.

Kaum menengah ke atas mungkin menganggap pilkada adalah pesta demokrasi tetapi kaum menengah ke bawah menganggap pilkada adalah kesempatan menggoyang kesombongan Basuki setelah sebelumnya ia berulang kali mengabaikan putusan pengadilan. Ya, buat mereka, Pilkada Jakarta adalah perang.

Itu sebabnya, orang-orang yang dekat dengan mereka tetapi ngotot kampanye Basuki, mereka labeli sebagai sosok "munafik", sosok musuh dalam selimut yang merusak perjuangan mereka menjatuhkan Basuki, sosok yang tidak punya rasa solidaritas.

Namun, simbol-simbol agama, jargon-jargon agama adalah sesuatu yang berbahaya. Terjebak bermain simbol agama, mereka dapat lupa untuk apa pertama kali mereka pertama tak suka pada sang Gubernur Jenderal.

Sejarah membuktikan, ketika sebuah kaum berhasil lepas dari sebuah penindasan, mereka acap kali bingung, apa langkah selanjutnya dan kemudian terjebak pada nabi-nabi palsu. Kaum Musa, setelah lepas dari penjajahan Mesir, terjebak pada rayuan Samiri. Orang-orang Arab, pasca wafatnya Nabi Muhammad, sebagian tergoda pada nabi-nabi palsu macam Musailamah. Orang-orang Prancis, lepas dari feodalisme Louis XVI malah terjebak dalam teror Robespierre dan kelak jatuh kembali pada kediktatoran Napoleon.

Maka,
para pemilih Anies sekarang harus mulai introspeksi, merenung, apakah mereka baru saja menggantikan seorang diktator dengan diktator lainnya.
Mereka harus melepaskan segala atribut pengidolaan, penghambaan, pemberhalaan terhadap Anies. Mereka harus bergabung pada saudara-saudara mereka yang tidak memilih Anies, mengakui mereka sebagai sesama warga Jakarta.

Anies dan Sandi adalah politikus yang juga rentan untuk berbuat zalim.
Ini bukan sekedar Anies dan Sandi mungkin tidak menepati janji tentang program-program macam kemudahan kredit rumah atau program-program muluk lainnya tetapi mereka juga mungkin ingkar janji tentang penggusuran dan segala hal yang dibenci dari masa Basuki.

Jangan sampai, ketika kelak mereka melanggar janji,
tiba-tiba nabi-nabi palsu baru mencap pengkritik sesembahan mereka sebagai anti-agama, ateis, kafir, komunis, dan semacamnya.

PS: Status ini ditulis dengan asumsi hasil pilkada nanti sama seperti hasil QuickCount.
[1] Basuki berubah posisi dari pro-Prona di masa wagub menjadi anti-Prona di masa gubernur

[2] Basuki berjanji tidak menggusur Pasar Ikan dan Bukit Duri. Basuki berjanji menghentikan 6 ruas jalan tol.

[3] Basuki melakukan penggusuran saat pengadilan masih berlangsung. Basuki juga tidak menghormati putusan-putusan pengadilan yang menempatkannya pada posisi kalah.

[4] Basuki walau tahu beberapa pengembang Kelapa Gading merancang drainase-nya dengan kacau dan menyebabkan banjir, bukannya menindak, malah membantu mereka dengan membuatkan pompa. Basuki juga tidak merobohkan bangunan-bangunan tanpa IMB di Pulau D padahal sudah melewati proses peneguran berkali-kali.

[5] diskresi-diskresi penggunaan CSR tanpa audit tetapi hanya appraisal setelah proyek selesai, ini dikritik oleh ketua KPK saat ini dan mantan wakil ketua KPK

Sunday, April 16, 2017

[Bukan Review] - Kartini




Pemeran: Dian Sastro, Deddy Sutomo, Djenar Maesa Ayu
Sutradara: Hanung Bramantyo
Produser: Robert Ronny

Kartini: Kyai, adakah ayat AlQuran tentang ilmu ?
Kyai Sholeh: Iqra bismirabbika -lladzi khalaq ...

Itu adalah cuplikan dialog dari film Kartini versi terbaru buatan Hanung.
Di akhir abad 19, hiruk pikuk teriakan pembaharuan Islam yang dimulai di Timur Tengah sana belum masuk besar-besaran ke Pulau Jawa. Muhammad Darwis belum mendirikan Muhammadiyah apalagi Aisyiyah. Agus Salim, belum nekad membuka tabir laki-laki dan perempuan. Semua keberanian itu baru terjadi di awal abad 20. Kartini sendiri, melalui Kyai Sholeh Darat, mengerti bahwa Islam tidak memasung perempuan seperti yang dipercaya orang-orang Jawa di masanya, tetapi ia hanya mampu meminta sang kyai untuk menyelesaikan terjemahan AlQuran. Namun, ketika masa hidupnya, Kartini belum bisa mengandalkan Islam sebagai zeitgeist dalam menentang feodalisme patriarkal.


Tak heran Kartini akhirnya lebih dekat dengan orang-orang Belanda di masanya. Sejumlah penulis Belanda mempertanyakan struktur masyarakat yang dipegang di masa itu. Eduard Douwes Dekker misalnya, menulis fiksi Pelelangan Kopi Perusahaan Dagang Belanda (atau dikenal sebagai Max Havelaar) tahun 1860 yang menggugat abainya Pemerintah Kolonial Belanda pada kezaliman yang terjadi di Banten. Cecile de Jong, menulis novel Hilda van Suylenburg di tahun 1897, yang menjadikan tokohnya, seorang wanita menjadi pengacara. Mina Kruseman, mengritik tulisan Alexandre Dumas di tahun 1872 tentang hubungan pria-wanita.

Di awal 1890, dengan perubahan iklim politik di Belanda, politik etis mulai dijalankan di Hindia Belanda. Tentu saja tak semua Belanda punya niat tulus membantu rakyat jajahannya. Ada yang sekedar membutuhkannya untuk meraih kedudukan politik. Apapun motivasinya, Kartini memanfaatkan iklim tersebut untuk melakukan perubahan.

Kartini versi Hanung, bukanlah Kartini yang hanya perduli pada nasibnya, yang hanya menjerit nasibnya melalui surat-surat pribadi. Tidak. Hanung menampilkan Kartini sebagai sosok yang terinspirasi sosok Hilda, pembela kebenaran walau berjenis kelamin, dari novel yang ditinggalkan sang kakak, Sosrokartono. Menit demi menit, penonton disajikan usaha Kartini mengubah sistem feodal patriarkal, dari mempengaruhi kedua adiknya, menulis untuk dimuat dalam sebuah jurnal ilmu sosial tentang Asia Tenggara, hingga meningkatkan taraf kehidupan rakyat kabupatennya. Dahsyatnya, semua itu dilakukannya dalam tekanan kakak-kakak laki-lakinya serta ibu tirinya.

Musuh Kartini bukan hanya kakak-kakak dan ibu tirinya tetapi sistem feodal patriarkal. Sang ayah yang mendukung kegiatan Kartini dan adik-adiknya harus bertahan menghadapi serangan dari bupati-bupati lainnya. Beliau pun tak bisa mencegah ketika bangsawan lain menagih janji pernikahan adik Kartini dengan putranya.

Di tengah-tengah kemelut inilah, Kartini mencari jaringan pertemanan yang lebih luas seperti korespondensi surat dengan Stella. Ia pun juga mencari jalan melarikan diri dari kepungan tradisi melalui permohonan beasiswa sekolah ke Belanda, berharap menyusul sang kakak Sosrokartono.

Hanung Bramantyo, sudah tidak asing dengan genre sejarah biopik. Ini adalah film biografi ketiga yang ia buat setelah Ahmad Dahlan dan Soekarno. Kepiawaiannya memilih kru yang cermat menyiapkan properti untuk menciptakan ulang situasi zaman dahulu sudah tidak perlu diragukan lagi. Sepanjang film, kita melihat bagaimana ia mencoba menghindari penampakan jalan aspal dan sebaliknya, jalan berlandaskan pasir. Tentu saja, ada bagian yang tampak seperti anakronis tetapi jumlahnya cukup kecil.

Tentu saja, sebagai film, selalu ada kreativitas seorang sutradara. Kartini, misalnya, digambarkan biasa bermain panjat-panjatan dengan adiknya. Hanung juga tidak mau terkungkung dalam penggambaran "Kartini menulis surat", sehingga alih-alih menampilkan pena menari di atas kertas, ia memilih menggunakan imajinasi Kartini bertemu dan berdialog langsung penerima suratnya.



Ada hal menarik di akhir cerita ketika Kartini memberi syarat-syarat sebelum ia bersedia dinikahi. "Saya mengharuskan calon suami saya untuk membantu saya mendirikan sekolah buat perempuan dan orang miskin".

Untuk Hanung,
Kartini bukan sekedar pahlawan emansipasi wanita tetapi juga pahlawan pendidikan yang perduli pada orang-orang miskin.

Tuesday, March 07, 2017

Kajian Fiqih Kelompok Gerilya

Si fulan di media massa selalu bilang, "saya bukan teroris".
Begitu juga ketika fulan diwawancarai di acara talkshow di media mainstream selalu bilang, "saya bukan teroris". Fulan juga akan fasih mengutip kode-kode etika perang untuk menunjukkan bahwa ia tidak terkait dengan kelompok teror yang baru melakukan aksinya.

Namun ternyata di media-media internal teroris jaringan baru, di blog-blog internalnya, diam-diam ada tulisan perdebatan di mana ada bunyi si fulan meyakinkan kawan-kawan lamanya untuk bergabung dengan kelompok baru walaupun mereka masih ragu untuk bergabung dengan jaringan baru.

Sebelum saya membaca media-media internal tadi, awalnya saya berprasangka baik dengan si Fulan. Saya cuma menganggap si fulan sekedar garis keras lalu ada orang yang mendengar ceramahnya, terinspirasi dan memutuskan melakukan tindakan kekerasan walaupun tidak disetujui si fulan. Membaca surat-surat si Fulan di media internal ini, saya berubah posisi.

Oh iya,
pernah membaca kajian fiqih para kelompok terselubung ini?
Mereka berargumen dengan halus, mengutip sana-sini untuk menunjukkan "kedalaman" ilmunya, dan lalu akhirnya sampai pada kesimpulan bahwa tindakan mereka bisa dibenarkan.

Saya beri contoh konkrit cara penggiringan untuk menyetujui pendapat mereka, yakni tentang perbudakan wanita-wanita Yazidi.

Kalau mereka ditanya, apakah memperbudak wanita non-muslim itu boleh? Mereka akan fasih menunjukkan dalil-dalil bahwa ahli dzimmi harus dilindungi. Untuk berbicara di depan umum, kepada orang-orang awam, mereka akan menggunakan wajah seperti itu. Maka orang awam pun akan merasa tenang, ah... mereka bukan dari golongan nganu.

Namun ketika dalam kajian internal mereka,
mereka akan mulai membahas tentang keyakinan suku Yazidi.
Mereka akan mengutip sumber-sumber lain yang senada dengan tuduhan mereka tentang kesesatan suku Yazidi.
Mereka akan mengeluarkan dalil mengapa keyakinan Yazidi tidak bisa disamakan dengan ahli-kitab.

Dan akhirnya, mereka akan menunjukkan argumen kebaikan dari perbudakan sebagai alternatif dari jizyah atau eksekusi. Akhirnya, seseorang yang sudah melewati tahap-tahap pendidikan mereka akan sampai pada kesimpulan bahwa perbudakan wanita di masa modern bisa dibenarkan.

Nah,
saya terdengar seperti Bigot bin Muslimfobia sekarang. :D

Intinya, jangan langsung berprasangka baik pada "ulama" kontroversial hanya berlandaskan ucapannya yang bahkan baru diucapkan setelah ia dituding sebagai pro-kelompok kekerasan. Perhatikan juga rekam jejaknya.

Pernyataan membela diri seperti ini, "Apakah pernah Negara Islam membunuh orang tak bersalah? Tidak! Yang ada adalah Negara anti-Islam yang membunuh orang yang tak bersalah karena dalam Quran  membunuh orang tak bersalah muslim atau non-muslim maka ia membunuh umat manusia", adalah pernyataan yang sebenarnya bersayap. Bisa jadi, karena dalam kajian internalnya, ia dengan mudah membelokkan kembali pada kawan-kawannya mengatakan, "tetapi yang dibunuh adalah orang-orang yang melakukan kesalahan, kekejaman pada saudara-saudara kita".

Sebelum menerima pernyataan ini,
lihat lagi rekam jejak pernyataan-pernyataan mereka sebelumnya. Seberapa konsistenkah tokoh tersebut dengan pernyataan barunya. Ketika kalian dapati rekam jejaknya cukup konsisten, maka bolehlah kalian percayai dia.


Monday, February 20, 2017

Terus kamu rela Jakarta dipimpin Anies?

"Setidaknya, yang memilih Anies tidak fanatik, tidak 'pejah gesang nderek Anies', tahu rekam jejak inkonsistensi-nya Anies. Jika kelak ia dikritik, tidak akan ada pasukan buzzer atau relawan yang melakukan propaganda membohongi publik dengan cantik. Akan lebih mudah mengritik Anies daripada mengritik Basuki, sang manusia setengah dewa yang 'tak-pernah-salah'. Indonesia sudah pernah dua kali mengalami masa diktator penuh propaganda dengan para pecintanya yang setengah mati membela sang junjungan. Jakarta gak butuh pemimpin kharismatik. Jakarta gak butuh pemimpin yang penuh pesona menyihir para pecintanya. Jakarta gak butuh pemimpin yang berhasil menumpulkan hati para warganya karena keahliannya menampilkan data-data dan foto-foto kota yang cantik dan menawan"



PS: putaran kedua kemungkinan besar saya tak memilih karena satu dan lain hal.

Tuesday, February 14, 2017

Haruskah Islam Dilepas dari Politik ?

Islam itu bukan sekedar agama untuk pribadi tetapi juga panduan dalam berpolitik, sebuah ideologi. Jadi Islam sejak awal dalam sejarahnya tak terpisahkan dari politik.

Ketika Islam lepas dari politik, maka hasilnya adalah koruptor yang merasa dirinya sudah cukup dengan ibadah-badah ritual tetapi saat menjalankan kekuasaan ia seakan lupa bahwa ada Allah yang mengawasinya. Padahal Islam, sesuai namanya, mengisyaratkan ketertundukan manusia pada Allah semata, tidak pada setan, tidak pada hawa nafsunya sendiri.

Ketika Islam tak lepas dari politik, maka hasilnya adalah orang-orang macam Umar bin Khattab, Umar ibn Abdul Aziz, Faisal ibn Abdulaziz al-Saud. Atau jika di Indonesia, ketika Islam tak lepas dari politik maka hasilnya adalah orang-orang macam Mohammad Hatta, Natsir, Agus Salim, bahkan Hakim Bismar Siregar atau Jaksa Agung Baharuddin Lopa.

Nah, yang membedakan adalah, bagaimana masing-masing tokoh itu menafsirkan ideologi tersebut dan menerapkannya dalam masyarakat. Itu sebabnya "ijtihad", "tafsir", dengan demikian Islam menjadi luwes. Begitu juga dalam sejarah politik Islam, musyawarah dan perjanjian damai juga merupakan bagian dari ajaran Islam.

Apa kalian kira, ketika Mohammad Hatta membujuk kelompok Islam untuk menanggalkan 6-7 kata dari Piagam Jakarta itu karena beliau memisahkan politik dari Islam ? Tidak, dia menggunakan teladan Rasulullah ketika membuat perjanjian Hudaibiyah dan mencari 'kalimatun sawa'. Dan ulama-ulama seperti Daud Bereuh (Aceh) dan Hasyim Asyari (Jawa Timur) pun menyadari pola pikir ini ketika mereka memutuskan untuk bergabung, berjuang bersama Pemerintah Republik Indonesia di masa perang.

Bung Karno, ketika pidato 1 Juni 1945 pun juga menyadari bahwa Islam tidak lepas dari politik. Dalam pidato tersebut ia mengatakan, "Jikalau memang kita rakyat Islam, marilah kita bekerja sehebat-hebatnya, agar supaya sebagian yang terbesar daripada kursi-kursi badan perwakilan rakyat yang kita adakan, diduduki oleh utusan-utusan Islam. Jikalau memang rakyat Indonesia rakyat yang bagian besarnya rakyat Islam, dan jikalau memang Islam di sini agama yang hidup berkobar-kobar di dalam kalangan rakyat, marilah kita pemimpin-pemimpin menggerakkan segenap rakyat ini agar supaya mengerahkan sebanyak mungkin utusan-utusan Islam kdalam badan perwakilan ini.".

Jadi himbauan melepaskan agama dari politik, dalam masyarakat Islam adalah himbauan ahistoris, himbauan yang tidak memahami ajaran Islam.

Nah, terkait pemilihan pemimpin,
tak perlu dikhawatirkan. Umat Islam sudah menyepakati dalam bentuk undang-undang bahwa tidak ada persyaratan agama sebagai calon pemimpin dan pemimpin dipilih rakyat. Perkara apakah rakyat memutuskan apakah awliya itu berlaku dalam konteks pemimpinan modern, serahkan pada rakyat. Nahdlatul Ulama, salah satu ormas Islam yang memiliki massa besar, membuka kemungkinan non-muslim menjadi pemimpin walau dengan syarat kekhususan yang ketat. Partai Keadilan Sejahtera, salah satu partai Islam, sudah pernah mencalonkan kandidat non-muslim.

Friday, January 27, 2017

Paradigma Pelebaran Sempadan Kali Dalam Kota



Bolehkah saya iseng ngobrolin kali walaupun saya sebenarnya gak punya ilmunya?

Dahulu, saya sering tidak mengerti dengan Komunitas Ciliwung (ini beda dengan Ciliwung Merdeka-nya Romo Sandyawan yah) yang terus-terusan mengritik tentang pembangunan turap (beton) di sekitar kali.

Nah, ternyata, katanya di beberapa negara maju memang sudah mulai berubah paradigma-nya. Kalau kalian ingat debat (non-resmi) cagub yang pertama, si Nirwono Joga si panelis mengritik Basuki di situ. Dia bilang, sekarang itu, trend-nya bukan mengalirkan air secepatnya ke laut melainkan bagaimana kota menampung air sebesar-besarnya ke dalam tanah.

Benar, salah satu penanggulangan sungai adalah penataan sungai dan baik model turap + jalan inspeksi maupun model alternatif yakni pelebaran sempadan, ada kemungkinan melibatkan pemindahan penduduk dari pinggir kali (ntar dijelaskan nanti).  Namun sekarang kita bicara tentang pelebaran sempadan.

Nah, salah satu yang mulai  menerapkan paradigma itu adalah Singapura, dengan Taman Bishan Ang Mo Kio di sekitar Sungai Kallang. Berikut adalah sketsa menunjukkan pelebaran sempadan alih-alih menggunakan turap.





Dan berikut adalah tampilan Sungai Kallang sebelum dilakukan perubahan paradigma tadi:


Dan berikutnya adalah tampilan Sungai Kallang setelah diterapkan perubahan paradigma. Bisa dilihat, sungai jauh lebih 'normal' dan lebih alami.




Pertanyaannya, kalau ada luapan air sehingga banjir bagaimana bentuknya?


Saya yakin, yang terpikir pasti adalah "yah.. kok tetap banjir? Kenapa tidak buat tanggul yang tinggi?"

Sebenarnya, banjirnya sudah diantisipasi... ada penanda merah untuk batas.



Jadi apakah keunggulannya memperlebar sempadan alih-alih menggunakan tanggul?
Walau sebenarnya sama-sama untuk menanggulangi air sungai yang meluap, model memperlebar sempadan ini :

1. ramah terhadap ekosistem. Di Taman  Bishan Ang Mo Kio , biodiversity (keanekaragaman flora dan fauna) meningkat 30%. Telah muncul beberapa hewan di sekitar sungai.

2. Tak ada ancaman tanggul jebol seperti yang beberapa kali terjadi di Jakarta tahun lalu. (daripada capek-capek teriak "sabotase! sabotase!")

Sekarang lihat lagi foto banjir terbaru di taman.



Itu tampilan "banjir" di Taman Bishan Ang Mo Kio beberapa hari lalu. Perhatikan, jembatan masih berfungsi karena memang sudah diperkirakan luapan airnya.

Semua foto-foto di atas berasal dari http://mothership.sg/2017/01/heres-why-you-shouldnt-be-alarmed-by-pictures-of-flooding-in-bishan-ang-mo-kio-park/


Nah, kalau Ciliwung Merdeka (sekarang kayaknya jadi Forum Kampung Kota), idenya nyeleneh, nimbrung dari paradigma tadi. Seperti yang kubilang, untuk ide tadi, mau gak mau rumah di pinggir kali pun harus digusur. Namun kawan-kawan Ciliwung Merdeka yang anti penggusuran mencoba berkompromi dengan paradigma baru ini.

Model mereka agak mirip rumah panggung. Ketika banjir, ya biarkan kebanjiran.


Sebenarnya, ini yang dimaksud dengan "kota apung" versi Agus Harimurthi Yudhoyono walaupun istilah "apung" itu menyesatkan.

Setahu saya, konsep ini belum diterapkan di kota manapun, setidaknya, belum diterapkan pada air yang mengalir.

Tentu saja masih bisa diperdebatkan seperti... adakah landasan hukum yang membolehkan bangunan permanen di atas sungai.


Untuk lebih tahu tentang versi Ciliwung Merdeka (tampaknya sekarang sudah menjadi Forum Kampung Kota ya?), bisa lihat
https://medium.com/forumkampungkota/kampung-susun-manusiawi-kampung-pulo-4eb363c74b31#.sxf2kfvy7


Saya baru mengetahui, ternyata Ridwan Kamil diam-diam juga sedang tertarik dengan konsep itu. Ada kawan yang menyuruh saya mengintip Instagram beliau.



Penjelasan Kang Emil:
"Bulan ini sudah dimulai lelang beberapa proyek danau retensi utk menangani banjir Pagarsih dll. Ini adalah danau retensi di area Sirnaraga. Jika kemarau jadi lap olahraga warga, jika musim penghujan menjadi parkir air sungai Citepus. Doakan lancar agar tengah tahun sdh selesai. Nuhun. *jika kolamnya penuh dgn lumpur, cocok buat membuang mantan."

Bisa dibaca di https://www.instagram.com/p/BPbcx04AJQ2/


Konsep Kang Emil, sedikit mengingatkanku pada rencana di Kopenhagen.


bisa dilihat di: http://citiscope.org/story/2016/why-copenhagen-building-parks-can-turn-ponds

Saya agak penasaran, terbuat dari apa ya  alasnya? Kalau di Kopenhagen, nantinya ada alat pompa yang penggeraknya adalah energi anak-anak (yup... Perbudakan Anak-Anak versi modern ! ☺☺☺☺☺)

Hmmm... mungkinkah untuk konsepnya Ridwan Kamil alas-nya pakai material semacam ThruCrete, beton yang bisa menyerap air? Bahan ini digunakan untuk pembuatan trotoar di Melawai.


Cukup sekian saja ngobrolin kalinya.


Monday, January 23, 2017

Meragukan Tulisan Selamat Genting Republika Tentang Tentara India Non-Muslim

Agak terkejut membaca tulisan di Republika yang di-forward teman karena bertentangan dengan beberapa cerita sikap pasukan India yang saya dengar di berbagai cerita. Tulisannya cukup panjang tetapi saya ambil satu bagian saja untuk membuktikan bagaimana tulisan di Republika menampilkan versi yang berbeda sendiri yakni versi Republika terang-terangan mengatakan "India non-Muslim" sementara versi-versi lain tak pernah menyatakan demikian.
Kesimpulan sementara, saya sangat meragukan versi jurnalis senior Republika ini bukan sekedar saya tak menemukan versi bagian cerita yang sesuai dengan tulisannya, namun keseluruhan temanya pun bertentangan dengan semua cerita tentang tentara India yang pernah saya dengar. Tema tulisannya bahkan bertentangan dengan akhir tulisan si Jurnalis sendiri yang mengakui bahwa India pernah mengusir kapal-kapal Belanda dari pelabuhannya untuk sebagai bentuk solidaritas terhadap Indonesia.

1. Versi Selamat Ginting, Jurnalis Senior Republika 23 Januari 2017:
Pada saat itu di rumah Tabib Sher sedang berkumpul beberapa orang serdadu Pakistan. Seketika pasukan Pakistan segera meluncur dan memerintahkan tentara NICA agar menyingkir. Kedua serdadu sudah dalam posisi ‘steeling’ dan mengokang senjata. Posisi tentara India Muslim itu lebih menguntungkan, karena mengepung pasukan NICA dari India non-Muslim. Pasukan India non-Muslim itu pun akhirnya keluar dari rumah dokter Soeharto. Nyawa Sukarno yang sudah di ujung tanduk itu, terselamatkan.

2. Versi Roso Daras (seorang fans Soekarno) di blog pribadi 1 Juni 2009:
Peristiwa itu, sontak menggegerkan masyarakat yang melihatnya. Kabar tersebar begitu cepat, laksana tertiup angin. Salah satu menerima kabar adalah Tabib Sher, seorang tabib asal India yang membuka praktek di Jl. Senen Raya, tak jauh dari Jl. Kramat Raya. Kebetulan, saat kabar diterima, di situ tengah berkumpul para serdadu Sekutu yang beretnis India muslim.
Tabib Sher yang memang pro kemerdekaan Indonesia, dan juga pendukung Sukarno, kontan mengajak para serdadu Sekutu India muslim dan sejumlah pejuang, menuju TKP (tempat kejadian perkara). Terjadilah pemandangan sengit, ketika tentara Sekutu India Muslim menodongkan senapannya ke arah rekan tentara Sekutu gabungan Inggris dan Belanda. Tentara Nica Sekutu diperintahkan meletakkan senapan dan mengangkat tangan. Perang mulut tak terhindarkan. Nica semula bersikukuh hendak menghabisi, setidaknya merangsek Bung Karno sebagai “musuh nomor satu” Nica.

3. Versi Zahir Khan saat diwawancara Inti Jaya News (terverifikasi secara administrasi di Dewan Pers) 7 Juni 2015:
Begitu tahu tentara muslim asal Pakistan yang sedang kumpul di rumah Tabib Sher di Senen langsung mengajak teman-temanya yang lain untuk menolong Bung Karno maka terjadilah perdebatan seru antara serdadu Nica yang menodongkan senjata kepada Bung Karno dengan pasukan muslim dari Pakistan yang jumlahnya jauh lebih banyak sambil mengarahkan laras panjang ke tentara Belanda. Meskipun tentara Nica mengatakan Bung Karno adalah musuh,tentara muslim tetap memerintahkan agar tentara Nica meletakan senjata dan mengangkat tangan kalau tidak menurut akan ditembak habis akhirnya serdadu Nica mundur ambil memaki-maki. 

4. versi Zahir Khan yang dikutip situs Majalah Fakta (terdaftar di Dewan Pers tetapi belum terverifikasi faktual dan administrasi) 8 Maret 2014:
Pada saat itu di rumah Tabib Sher sedang berkumpul beberapa orang serdadu Pakistan dan kemudian langsung diajak menuju rumah Dr Soeharto. Sementara itu di tempat kejadian, serdadu NICA telah pasang steeling dengan senjata ke arah mobil Bung Karno. Maka terjadilah perdebatan seru antara pasukan Pakistan melawan pasukan NICA. Pasukan Pakistan memerintahkan tentara NICA agar menyingkir, akan tetapi serdadu kolonial itu menjawab bahwa Soekarno itu musuhnya. Maka serdadu Pakistan juga pasang steeling dan mengokang senjata. Akhirnya serdadu NICA mundur sambil memaki-maki serdadu Pakistan. Pada kesempatan itu Dr Soeharto keluar rumah menuju Bung Karno, lalu membimbing sang proklamator masuk ke dalam rumahnya.


Sekedar catatan,
saya tidak meragukan dukungan Pakistan, tetapi saya meragukan bagian dari tulisannya yang membahas sikap India kecuali di bagian akhir.

Rujukan: 


3. http://ijn.co.id?p=1011 (dicek 23 Januari 2017)