Wednesday, November 14, 2018

[Bukan Review] A Man Called Ahok (or it should be called 'Tjung Kim Nam')

Peringatan: Putaran pertama Pilkada 2017, saya memilih Anies, jadi saya jelas bias saat menonton ini.

Seusai menonton, teman kencan saya (pemilih Basuki) bertanya padaku, "So after watching this, are you regretting not choosing him in last election?". "Nope", jawabku, "in fact, this movie reminded me why I couldn't vote for him. He was not his father". Teman kencan saya membalas, "If he was like his father, he would not be a politician". "Valid point", jawabku sekenanya.

'A Man Called Ahok', sepantasnya tidak berjudul ini. Film ini mirip seperti Athirah, berkisah tentang orang tua yang kebetulan anaknya sekarang menjadi politisi. Bahkan seingat saya, dulu kultwit Kurawa (Rudi Valinka) tidak sampai terus-terusan membahas Tjung Kim Nam. Jadi kalian pembenci Basuki bisa melepas beban rasa benci kalian sejenak deh.

Ada enam alasan mengapa film ini layak tonton lepas dari unsur Ahok-nya:
1. penggunaan dialek lokal (yakni Khek dan Melayu) sepanjang film. Para aktor-aktor Jakarta -- kalau tidak salah baca Credit Title-- dilatih dialeknya oleh Rendy Ahmad (Hmm.. apakah ini Rendy Ahmad mantan vokalis band Simponii?);
2. film ini dibuat oleh perusahaan tak terlalu terkenal, The United Team of Art (TUTA) yang berdiri tahun 2007. Jadi boleh dong kalau saya bilang film ini tergolong indie;
3. yang membuat saya kaget, walau dibuat oleh perusahaan tak terlalu terkenal, ternyata didukung oleh kru yang pengalaman seperti Yadi Sugandi sang tukang keker, Aghi Narottama dan Bemby Gusti sang tukang bikin musik, hingga penata suara sejuta film Indonesia siapa lagi kalau bukan Khikmawan Santosa;
4. Chew Kin Wah! Sejak My Stupid Boss, saya jadi fans aktor dari negeri jiran ini;
5. Eriska Rein! Astaga! Saya sampai pangling melihatnya.
6. Belitung!

Pulau Belitung memang indah, dengan tanah pasir putih dan "danau-danau" biru tetapi di balik keindahan itu, tersimpan cerita kemiskinan penduduknya. Masyarakat non-Belitung sudah pernah mendengarnya dari Laskar Pelangi serta Sang Pemimpi dan kini disajikan ulang dari sudut pandang berbeda. Jika sebelumnya kita diajak melihat dari sudut pandang anak-anak dari lingkungan proletar, sekarang kita disajikan sudut pandang borjuis kecil. Bahkan ada dialog peremehan kelas proletar di film ini, ketika sang ayah kecewa, putranya yang diharapkan menjadi pemimpin ternyata hanya sekedar menjadi pekerja, walau penghasilan lebih besar.

Sosok Tjung Kim Nam mengingatkan saya pada cerita guru agama saya tentang sejumlah orang-orang Tionghua di negeri ini. Mereka, walau punya penghasilan kaya di atas rata-rata, tetapi selalu gemar beramal. Guru agama saya mengatakan, "kalau mau nego dengan mereka, katakan saja ini buat amal di masjid, niscaya mereka akan bantu". Jadi sebenarnya sosok macam Tjung Kim Nam tidaklah asing.
Layaknya seorang pebisnis yang hidup di masa orde lama hingga orde baru, dari suku minoritas pula, Tjung Kim Nam selalu menghadapi lingkungan tak kondusif dari birokrasi setempat padahal di satu sisi, ia selalu berharap untuk bisa beramal. Alhasil, sebagai tauke yang dianggap kaya, hidupnya sebenarnya gali lubang tutup lubang, kerap memicu perselisihan dengan istrinya. Bagi Kim Nam, selama anak-anaknya cukup gizi, maka rezeki tak akan ke mana dan sikap seperti itu memaksa sang istri membuka apotek di Manggar.

Suatu hari, ia berniat mengajari kedua putra laki-lakinya berbisnis, mencatat tagihan atas barang belanjanya kepada sosok bernama Aguan (err.. ini Aguan Sedayu Podomoro? atau kah cuma kesamaan nama?). Namun ternyata latihan bisnis tersebut berkembang menjadi pelatihan ketegasan bertindak karena putra pertamanya menemukan kejanggalan pencatatan. Kim Nam memaksa putra keduanya, Yuyu (atau Basuri) untuk bertindak tegas memecat oknum, namun Yuyu tidak tega. Si putra pertama yang akhirnya menyanggupi perintah sang ayah tanpa diminta.

Beberapa adegan kemudian, Kim Nam menyesali tindakannya karena si oknum bertindak didorong oleh kebutuhan mencari perawatan untuk istrinya. Mencoba menebus kesalahannya dengan menawari si oknum untuk bekerja kembali, rasa bersalah semakin besar karena si oknum yang telanjur malu menolak tawarannya. Yang bisa dilakukan Kim Nam hanyalah melayat ketika istri si oknum akhirnya wafat. Kim Nam pun melihat bahwa dirinya bukan pahlawan dan yang dibutuhkan Belitung bukanlah seorang kelas menengah yang bisa mempekerjakan buruh, tetapi dokter dermawan sehingga "orang miskin tak perlu jadi maling". Namun perubahan sikap Kim Nam ini menjadi sumber perselisihan antara ia dan putra pertamanya.

Kisah pun berkembang menjadi perselisihan antara putra pertama dengan Kim Nam. Bukannya mengikuti perintahnya, sang putra pertama memilih mengikuti jejaknya. Walau setengah hati, ia memberi kesempatan pada putranya untuk magang di perusahaannya namun kemarahannya memuncak ketika putranya merumahkan karyawannya demi strateginya. Di saat yang sama, sang putra pertama marah pada kawannya yang membelot memihak ayahnya.

Maka sang putra pertama pun terasingkan dari Belitung, dari sang ayah dan kawan kecilnya. Ia memilih melanjutkan kuliah di Jakarta dan menjadi sekrup kapitalis. Di sisi lain, nasib malang bertubi-tubi juga menimpa tokoh utama.

Kisah diakhiri dengan montase si putra pertama, menyadari kata-kata ayahnya ada benarnya dan akhirnya mencoba memenuhi impian sang ayah, menjadi sosok yang dikenal oleh masyarakat Jakarta.

Seperti yang saya sebutkan, walau dibuat oleh perusahaan film kecil, saya terkejut dengan dukungan kru berpengalaman di sini. Tukang keker Yadi Sugandi, bahkan tampak senang sekali bermain-main dengan kameranya. Saya senang sekali adegan debat kusir di dalam mobil jip, melihat bagaimana latar belakang pemandangan memberi petunjuk rute mobil yang tidak lurus melainkan berbelok-belok.

Rumah Tjung Kim Nam dari awal film hingga akhir sebenarnya masih berupa rumah yang sama namun beberapa detail menunjukkan perubahan, sehingga dari satu adegan ke adegan lain, tampak berasal dari zaman yang berbeda walau berlokasi sama. Misalnya, rumah Kim Nam di akhir film memiliki akuarium sementara di adegan-adegan sebelumnya, tak tampak. Atau menjelang akhir film, ditampilkan jalan di depan rumah Kim Nam sudah beraspal sementara sebelum-sebelumnya, tidak pernah ditampilkan sehingga ada kesan jalan depan rumah belum beraspal.

Tentu saja, ada beberapa kecerobohan yang sedikit mengganggu, misalnya adegan putra pertama kembali ke Belitung di tahun 1999 namun kemudian ditampilkan menonton berita yang membahas krisis moneter yang sedang terjadi. Atau adegan putra pertama yang sedang kampanye, dengan baju berkantong logo PNBK namun bendera-bendera di tempat kampanye berlogo Partai PIB (sekedar catatan, ketika kampanye sebagai bupati, putra pertama berasal dari PNBK tetapi ketika menjadi DPRD Belitung, putra pertama memakai bendera PIB).

Lepas dari apapun pilihan anda di pilkada 2017, film ini sebenarnya layak untuk ditonton. Biar bagaimanapun, beberapa masalah yang terjadi di film ini memang jamak didengar di daerah-daerah lain. Saya justru menyayangkan, dengan judul yang memakai nama putra pertama, malah membuat film ini menjadi propaganda.

Hanya saja, maaf,
melihat karakter putra pertama di film ini, saya jadi ingat mengapa saya tak memilihnya di putaran pertama pilkada lalu. Iya, memang putra pertama di film digambarkan terinspirasi oleh sang ayah tetapi juga diperlihatkan bahwa putra pertama berbeda dengan sang ayah, dan sialnya, tampaknya begitu juga di dunia nyata.

Tuesday, November 06, 2018

"Ijma" Sebagai Propaganda

Saya sebenarnya terbiasa menyimak dari pinggir orang-orang membicarakan dalil agama dan semakin lama semakin sedikit saya menulis perkara agama, karena semakin lama merasa semakin tak tahu apa-apa. Namun gatal juga melihat seorang cendekiawan, dengan berapi-api menulis tentang suatu perkara dengan mengatakan "sesuai ijma sahabat dan ulama" padahal kalau lihat cuplikannya, para ulama tidak sepakat mengenainya, dan tidak ada hadits yang shahih kecuali ada ulama yang satu mengatakan shahih sementara yang lainnya gharib. Saya malah jadi berprasangka buruk bahwa si cendekia ini tak lebih dari cendekia jahat ya?

Adalah hak si cendekia untuk cenderung pada pendapat yang menyatakan perkara itu benar. Untuk keperluan pergerakan, masih bisalah dimaklumi kalau si cendekia tak menyebutkan pendapat-pendapat yang tak sesuai dengan tujuannya.

Namun, di mana nuraninya ketika ia mengatakan "ijma sahabat dan ulama" padahal sesungguhnya tak ada ijma macam itu bahkan jauh dari itu ? Mencapai pendapat masyhur pun tidak, apalagi ijma.



Tak usah heranlah kalau akhirnya orang-orang pada futur dan akhirnya memilih kehidupan 'ala hikikomori dan menonton anime bergenre saru macam genre harem atau genre netorare.

Tuesday, October 30, 2018

Uji Alternatif Tag di Blogger

Canadian Aboriginal Syllabics

ᐸ bold ᐳ

Sunday, October 28, 2018

Maven + Springboot (Repackage and Run)

Compile dan Package

#Important if you use Java 7 to download jar from Maven Repository since June 2018
export MAVEN_OPTS=-Dhttps.protocols=TLSv1,TLSv1.1,TLSv1.2
mvn clean compile dependency:copy-dependencies package install spring-boot:repackage

Run 
mvn clean spring-boot:run

Kerancuan Pemahaman Ustadz-Ustadz Hizbut Tahrir tentang Ijab Qabul

Pernah membaca Rancangan Undang-Undang Dasar Daulah Khilafah versi Hizbut Tahrir? Salah satu pasalnya (pasal 132 di versi yang kudapat, mungkin agak bergeser sedikit di versi lain ) berbunyi 
Penggunaan hak milik, terikat dengan izin dari Allah -selaku pembuat hukum-, baik pengeluaran maupun untuk pengembangan pemilikan. Dilarang berfoya-foya, menghambur-hamburkan harta dan kikir. Tidak boleh mendirikan perseroan berdasarkan sistem kapitalis, atau koperasi dan semua bentuk transaksi yang bertentangan dengan syara’. Dilarang mengambil riba, memanipulasi harta secara berlebihan, penimbuan, perjudian dan sebagainya.

Lho, kenapa tidak boleh mendirikan perseroan berdasarkan sistem kapitalis? Kenapa tidak boleh mendirikan koperasi? Salah satu penyebabnya adalah mereka menganggap baik perseroan maupun koperasi tidak memenuhi ijab qabul.

"Taqiyuddin an-Nabhani dalam An-Nizhâm al-Iqtishâdi (2004) menegaskan bahwa perseroan terbatas (PT, syirkah musâhamah) adalah bentuk syirkah yang batil (tidak sah), karena bertentangan dengan hukum-hukum syirkah dalam Islam. Kebatilannya antara lain karena dalam PT tidak terdapat ijab dan kabul sebagaimana dalam akad syirkah. Yang ada hanyalah transaksi sepihak dari para investor yang menyertakan modalnya dengan cara membeli saham dari perusahaan atau dari pihak lain di pasar modal, tanpa ada perundingan atau negosiasi apa pun baik dengan pihak perusahaan maupun pesero (investor) lainnya. Tidak adanya ijab-kabul dalam PT ini sangatlah fatal, sama fatalnya dengan pasangan laki-laki dan perempuan yang hanya mencatatkan pernikahan di Kantor Catatan Sipil, tanpa adanya ijab dan kabul secara syar‘i. " -- KH M. Shiddiq al-Jawi 
sumber pernyataan: https://tsaqofah.id/jual-beli-saham-dalam-pandangan-islam/


"dalam pembentukan koperasi yang ada adalah negosiasi atas syarat-syarat (AD). Lalu siapa yang setuju secara sukarela boleh membubuhkan persetujuannya dan dengan itu ia menjadi anggota dan pendiri. Saat semua pendiri sudah membubuhkan persetujuannya, berdirilah koperasi itu. Jadi, semuanya hanya menyatakan persetujuan atau qabul, tidak ada yang menyatakan ijab. Keikutsertaan tiap orang itu semata didasarkan pada kehendak sepihak dari masing-masing. Anggota lainnya tidak ditanya apakah menyetujuinya atau tidak. Kalaupun sebagian tidak setuju seseorang menjadi anggota, maka hal itu tidak berpengaruh dan orang itu tetap menjadi anggota selama ia secara sukarela membubuhkan persetujuannya atas AD itu. Jadi, di situ tidak ada ijab-qabul, sebab yang ada hanya qabul saja. Padahal salah satu rukun akad yang syar’i itu harus ada ijab-qabul. Itu artinya harus ada kehendak bersama (irâdah musytarakah), bukan kehendak sepihak (irâdah munfaridah). Dengan begitu maka akad koperasi itu dalam pandangan Islam adalah batil." -- Yahya Abdurrahman  
sumber pernyataan: http://hizbut-tahrir.or.id/2011/11/29/koperasi/ (sudah tidak aktif, bisa dilihat pakai archive  )


Logika mereka menyangkal keberadaan ijab-qabul dalam proses jual beli saham ini menggelikan. Kalau keberadaan perantara membuat si penjual dan pembeli tak bertemu lalu dianggap tidak ada ijab qabul, maka bagaimana dengan vending machine ? Pemilik produk-produk makanan dan minuman yang memasok isi vending machine tersebut jelas tidak bertemu dengan pembeli. Pada hakekatnya, ketika si pemilik perusahaan awal melepas saham perdananya kepada masyarakat umum (Initial Public Offering [IPO]) maka pada saat itulah terjadi ijab dan saat masyarakat membeli maka di saat itulah terjadi qabul. Selanjutnya, ijab qabul adalah antara pemilik saham lama yang mau melepas dengan calon pemilik baru, dengan proses negosiasinya adalah si pemilik saham lama melepas saham di harga tertentu dan calon pemilik baru sepakat membeli di harga tersebut.

Tentu saja, perseroan masih bisa dikritik, misalnya bahwa si pemilik sudah tak perlu mengorbankan apa-apalagi, cuma ongkang-angking, lalu kemudian mendapatkan hasil dari pembagian dividen. Karena itulah sebagai alternatif bentuk usaha yakni koperasi tetapi alas!  Hizbut Tahrir juga menolak bentuk koperasi. 

Tentu saja dalil si ustadz menolak koperasi tidak kalah konyolnya . Sebuah musyawarah penentuan AD/ART pada hakekatnya adalah proses ijab dan penerimaannya adalah qabul dan dalam qabul mereka sudah setuju bahwa kalau ada anggota baru, mereka akan setuju selama si anggota menerima AD/ART. Ketika ada anggota baru mau bergabung dan diserahkan AD/ART, pada hakekatnya adalah ijab, dan saat dia tetap bergabung, maka itu qabul. 

Aya-aya wae! 

Thursday, October 25, 2018

Presiden Joko Widodo, Isu Kebangkitan Komunisme, dan Kebijakan Lahan

Komik Gump n Hell tentang pemaksaan konversi lahan adat di Kalimantan Barat menjadi lahan sawit

Saat ini, kebijakan Pak Joko Widodo adalah pembagian sertifikat, sama seperti dahulu di masa ia menjabat sebagai gubernur, ia mendukung PRONA.

Ini solusi jangka pendek sedikit bisa membantu tetapi sebenarnya juga punya masalah sendiri. YLBHI pernah nyinyir bahwa sertifikat yang dibagikan ini malah bisa jadi legalitas saat kelak dengan cara 'halus' mengambil alih tanah dengan membujuk mereka meminjam dengan menjaminkan tanah. Para projo, seperti biasa, nggak ngerti apa-apa, langsung nyerang YLBHI.

Pak Joko Widodo sendiri, tampaknya mendengarkan kritikan YLBHI, sehingga di Jatim Expo tanggal 6 September 2018, dia berpesan agar kalaupun misalnya sertifikat ini terpaksa buat jaminan, jangan untuk hal konsumtif macam membeli mobil.

Sayangnya, tanggapan macam ini baru bersifat anjuran namun jelas beliau mengakui bahwa solusi yang ia berikan barulah bersifat jangka pendek dan tidak lepas dari masalah.

Alkisah, dulu di tahun 1950an, melalui sejumlah perdebatan bertahun-tahun, DPR akhirnya berhasil mengeluarkan UU Pokok Agraria tahun 1960 yang membatalkan semua konsep tanah warisan zaman Belanda. Namun di tahun yang sama, Partai Masyumi dibubarkan.

Sepanjang tahun 1960an hingga 1965, terjadi konflik-konflik tanah akibat perbedaan tafsir antara Nahdlatul Ulama dan Partai Komunis Indonesia tentang UU ini (dan UU Bagi Hasil bila tidak salah ingat).

Pasca 1965, PKI, partai yang cerewet soal isu ini, dinyatakan terlarang. Bagaimana nasib partai-partai lain? Nahdlatul Ulama tidak menjadi partai di Pemilu 1971 dan terisolasi dalam wadah Partai Persatuan Pembangunan. Begitu juga Partai Nasional Indonesia, terisolasi di dalam Partai Demokrasi Indonesia.

Sepanjang masa orde baru, baik PDI maupun PPP bisa dikatakan dikendalikan oleh pemerintah. Pada saat yang sama, setiap upaya mengungkit masalah hak-hak tanah bakal dicap sebagai upaya membangkitkan komunisme.

Pada dasawarsa 1980an, tenggat waktu pengubahan bentuk sertifikat dari model lama ke model baru telah tiba dan banyak girik-girik yang belum gagal terkonversi. Kemudian pemerintah orde baru membentuk BPN untuk menyelesaikan masalah namun sejarah membuktikan banyak kasus-kasus ganjil terjadi seperti SHM yang tiba-tiba terbit dan dimiliki oleh orang tak dikenal atau sebaliknya banyak permintaan yang ditolak dengan berbagai alasan, antaranya "tanah milik negara". Padahal konsep "tanah milik negara" (domein verklaaring) secara sepihak ini seharusnya ditiadakan dengan keberadaan UU Pokok Agraria 1960.

Nah,
camkan ini.
Setiap kalian mendukung gerakan-gerakan "anti komunis", berteriak "awas komunis", pada hakikatnya kalian telah membantu mempermudah para kapitalis yang berniat mencaplok lahan-lahan rakyat seperti yang dilakukan pemerintah kolonial Belanda.

PS: Dengan tulisan ini, semoga juga cukup jelas bahwa Pak Joko Widodo bukan seorang komunis, terlihat dari kebijakan yang ia lakukan. Siapapun yang menuding jari bahwa beliau adalah komunis, sesungguhnya ia adalah pendusta.

[penyangkalan: tulisan ini dibuat oleh saya -- orang sok tahu -- yang cuma baca-baca dari hasil pencarian googling alias gak punya ilmu soal hukum pertanahan kecuali sepintas lalu]

sumber gambar: https://www.facebook.com/GumpnHell/photos/a.1039934929398181/2019430171448647/?type=3&eid=ARD_OYoLHRM9P0kfu2iDHhMcOLqdQt5g5zhmNZ9ZN_5A7-iq9JSTxZWtXPXqjqFlUEdhlnG7EeiHRwuG&__tn__=EEHH-R

Saturday, October 20, 2018

Apakah TENGKORAK adalah Film Fiksi Ilmiah ?

Salah satu poster film TENGKORAK


Sebenarnya tulisan ini gak perlu ada tetapi kadang gatal juga melihat pendapat yang mengatakan film "Tengkorak" bukanlah film "Science Fiction". Salah satu tulisan yang berpendapat demikian bahkan berani menyebut nama acuan, yang ironisnya justru malah menunjukkan kedangkalannya: "George Lucas". Ya, seakan-akan genre fiksi ilmiah hanya ditentukan oleh sejumlah film dari budaya populer massal yang sebenarnya justru dikenal sebagai pemuas massa.

Apa yang menyebabkan para penonton menganggap TENGKORAK tidak layak disebut sebagai fiksi ilmiah? Dari beberapa komentar termasuk mereka yang tidak membenci film ini mengatakan bahwa film ini terlalu banyak politiknya, terlalu banyak diskusi tentang "ipoleksosbud", terlalu "filosofis". Komentar singkat saya: Para penonton ini kurang banyak menonton atau membaca genre fiksi ilmiah.

Saya akan menyebut satu karya fiksi ilmiah yang bisa mendobrak semua definisi naif itu, "DUNE" karya Frank Herbert.
Pada awalnya, Dune tampak seperti Star Wars, berkisah tentang keluarga di sebuah pesawat luar angkasa yang sedang menuju planet bernama Arrakis, dikendalikan oleh mahluk hasil mutasi. Planet Arrakis sendiri ternyata dihuni oleh cacing raksasa, dan suku asli yang bermata biru menyala. Setidaknya hingga di titik itu Dune benar-benar fiksi ilmiah yang akan membuat para penggemar Star Wars senang... hingga plot membunuh nyaris semua keluarga Atreides dan mengusir tokoh utama bersama ibunya dari kota dan terasing dalam padang pasir.

Sejak terusir ke padang pasir, tiba-tiba Dune kehilangan elemen-element teknologi canggih. Tokoh utamanya hanya melihat padang pasir, komunitas semi-nomaden yang sangat menghargai air, penakluk monster berbekal pengetahuan tentang tekstur kulit dan kebiasaan monster tersebut. Tokoh utamanya mempelajari tentang mitos-mitos, ramalanan yang beredar di suku ini dan mencoba berpikir bagaimana memanfaatkan mitos itu untuk menggerakkan suku ini melawan musuh keluarganya.

Tentu saja, kalau menurut sudut pandang para penonton yang kecewa dengan TENGKORAK, mereka juga akan mudah mengatakan DUNE itu bukan film fiksi ilmiah. Dune hanya film politik bagaimana orang luar memanfaatkan mitologi suku-suku tertinggal untuk kepentingan negaranya. Dune tak lebih dari penggambaran Lawrence of Arabia dengan balutan teknologi di masa datang. Tapi Dune adalah kisah fiksi ilmiah, tidak ada yang bisa menyangkal itu.

Film fiksi ilmiah tidak harus berada di luar angkasa dengan pesawat-pesawat canggih mereka. Salah satu film fiksi ilmiah yang berada di bumi adalah JURASSIC PARK. Plot utamanya, tak lebih dari kejar-kejaran antara manusia dan monster, bahkan perulangan dari plot film yang pernah dibuat penulis novelnya, WEST WORLD, tetapi baik Jurassic Park maupun West World adalah genre fiksi ilmiah.

Salah satu film ilmiah termiskin yang pernah kulihat adalah THE MAN FROM EARTH dari naskah Jerome Bixby dan disutradarai Richard Schenkman. Film ini tidak menampilkan teknologi macam-macam. Film ini hanya menampilkan sekelompok orang duduk di kursi tamu,ngobrol ngalor-ngidul. Tokoh utamanya mengklaim bukan homo sapiens dan mereka pun berdikusi. Begitu minim akan teknologi, begitu minim pembahasan tentang teknologi terkini, lebih banyak membahas kejadian-kejadian sejarah masa lalu dan klaim-klaim tokoh utama. Tapi film ini adalah genre fiksi ilmiah.

Kita lihat lagi definisi fiksi ilmiah.
MERRIAM WEBSTER memuat definisi "fiction dealing principally with the impact of actual or imagined science on society or individuals or having a scientific factor as an essential orienting component" (Fiksi yang menceritakan dampak dari sains nyata atau imajinasi terhadap masyarakat atau individu, atau memiliki faktor sains sebagai komponen penting pengarah cerita). LONGMAN memuat defisinisi "stories about events in the future which are affected by imaginary developments in science, for example about travelling in time or to other planets with life on them" (kisah-kisah tentang peristiwa di masa datang yang disebabkan oleh perkembangan pengetahuan misalnya tentang menempuh perjalanan waktu atau pergi ke planet lain untuk hidup di sana).  OXFORD memuat definisi, "Fiction based on imagined future scientific or technological advances and major social or environmental changes, frequently portraying space or time travel and life on other planets" (Fiksi yang didasarkan dari khayalan tentang kemajuan sains atau teknologi dan perubahan sosial atau lingkungan besar-besaran, biasanya menampilkan perjalanan lintas waktu atau luar angkasa dan hidup di planet lain).

Melihat dari definisi-definisi tadi, jelas bahwa film fiksi ilmiah tidak harus memiliki plot yang terus-terusan berpusat pada "teknologi" tetapi bisa dan bahkan sebenarnya memang tentang masyarakat atau kelompok masyarakat yang terdampak pada perubahan "pengetahuan" tadi.

Sekarang mari kita lihat plot cerita TENGKORAK. Apa pemicu utama peristiwa yang terjadi di film ini? Terungkapnya sebuah tengkorak yang sangat besar yang tidak masuk akal, tidak logis, seperti yang diungkapkan oleh salah satu ahli di montase awal, "kalau 2 meter mungkin manusia purba tetapi kalau 2 kilometer?".

Apa perubahan yang terjadi pada masyarakat pada film TENGKORAK?

1. Indonesia digambarkan menjadi pusat perhatian dunia. Negara dengan hutang luar negeri ini, tiba-tiba menjadi begitu penting hingga negara luar berusaha mempengaruhi Indonesia dengan berjanji rela menghapuskan hutang dan memberikan sejumlah uang;

2. Indonesia digambarkan menjadi negara paranoid militeristik. Mereka membentuk tim Kamboja yang disangkal keberadaannya, yang bertugas menjaga agar tidak sembarang pengetahuan keluar dari negeri ini;

3. Indonesia bahkan menolak uluran kerja sama dari negara seperti Amerika, Cina, India dan memilih pada negara seperti Jerman yang menurut mereka lebih bisa diajak kompromi. Sebagai balasannya, negara-negara yang ditolak kerjasama, berkali-kali mengirimkan pesawat nirawak (drone) untuk memata-matai kegiatan sekitar Tengkorak. Pemerintah Indonesia membangun menara-menara pengawas untuk menembaki mesin-mesin nirawak penyusup ini;

4. Sejumlah masyarakat bereaksi irasional, membentuk sekte-sekte pemuja tengkorak yang bertendensi bunuh diri;

Tentu saja, perkembangan teknologi komunikasi juga memiliki dampak kepada plot. Misalnya, para anggota Tim Kamboja ternyata memiliki group whatsapp untuk bercanda ngalor-ngidul tentang target-target mereka. Berbeda dengan masa pra-Whatsapp, para anggota tentu tidak bisa menebak raut muka teman-teman mereka ketika menyebarkan calon target. Si nganu mungkin bisa ketawa-ketiwi di grup, tetapi si fulan mungkin punya hubungan emosi dengan si calon target.

Perkembangan teknologi komunikasi juga menjadi pemicu plot di mana pemerintah bisa melakukan referendum atas sebuah keputusan yang akan dijalankan dengan cepat. Namun tanpa keterbukaan dari pemerintah apa manfaat dan mudarat dari keputusan tersebut, referendum itu mungkin tiada artinya walau pemerintah bisa memanfaatkannya sebagai legitimasi atas tindakannya. Orang-orang di warkop mungkin bisa santai mengatakan, "Gitu aja? Telek!" tanpa menyadari pilihannya memiliki dampak serius.

Jadi, apakah TENGKORAK adalah film fiksi ilmiah? YA! TENTU SAJA, MBEL!




Merriam Webster
https://www.merriam-webster.com/dictionary/science%20fiction

Longman
https://www.ldoceonline.com/dictionary/science-fiction

Oxford Dictionary
https://en.oxforddictionaries.com/definition/science_fiction