Wednesday, November 22, 2017

[Bukan Review] NAURA & GENG JUARA : Petualangan Sherina + Home Alone

*Spoiler*
*bagian untuk orang tua ada di bagian menjelang akhir*
*bagian tuduhan pelecehan agama ada di bagian akhir artikel*






"Kalian cuma perduli piala! Buat apa kalian pintar (tapi) kalau melihat penculik satwa kalian diam saja" -- Kipli

Jujur saya awalnya tidak tertarik dengan film ini karena saya sudah pasang target menonton dua film lain. Poster filmnya pun tak mengesankan, tidak menunjukkan tema khusus yang membedakan film ini dengan film lainnya. Kurasa, puteri 6-tahunku akan lebih tertarik menonton film bertema gebuk-gebukan atau film kartun sekalian.

Semua berubah ketika seorang ibu mengajak kawan-kawannya tidak menonton film ini. Selain itu ada juga seorang ibu lain yang sudah menonton dan menyayangkan ucapan istighfar dan takbir dalam film ini. Penasaran akibat berita tersebut, saya pun melihat iklannya dan... oke, saya kelak harus mengajak putri saya menonton ini. Namun karena agak khawatir film ini turun layar sebelum akhir pekan, saya memutuskan menonton film ini selepas bekerja semalam. Tentu saja penonton di bioskop saya sedikit, hanya para ibu-ibu berjilbab bersama putra-putranya.

PLOT CERITA
Awal film, kita diperkenalkan pada tiga dari empat tokoh utama film ini yakni Naura, Bimo, Okky yang sedang berkompetisi di sekolah mereka, SD Angkasa. Seusai penjurian, sekolah mereka memutuskan tiga tokoh ini menjadi wakil untuk perkemahan kreatif di Situ Gunung. Bimo, yang meraih nilai tertinggi, sayangnya tidak terpilih menjadi pemimpin tim. Sekolah memutuskan Naura yang punya pengalaman sebagai pemimpin kelompok. Ini konflik pertama.

Setelah menelusuri selintas tentang latar belakang Naura dan minat Naura serta minat-minat dua tokoh lainnya, kita diperkenalkan pada tiga karakter jahat yang sedang menjelajah hutan dan masuk ke dalam ruang karantina. Di bagian ini kita diperkenalkan pada tokoh utama keempat, Kipli, anak yatim piatu yang dipekerjakan di Kemah Kreatif.

Cerita pun bergulir, dari basa-basi perkenalan di Kemah Kreatif, konflik meningkat antara Bimo dan kedua temannya, dan cerita akhirnya baru benar-benar dimulai ketika alat yang dibuat Bimo tak bisa didemonstrasikan karena satu komponennya hilang dan pencariannya membawa mereka bertemu Kipli di tengah hutan. Pencarian komponen ini juga akhirnya membawa mereka ke mobil para pencuri satwa yang disembunyikan.

Naura dan kawan-kawan menolak ikut campur tetapi Kipli memaksa mereka untuk bertindak tetapi akhirnya berujung pada ditahannya Okky oleh para penjahat. Menyadari kurangnya kekuatan mereka, Kipli, Naura, dan Bimo berlari ke Kemah Kreatif melaporkan pada kakak-kakak "rangers" tetapi mencurigai ada oknum bermain, tiga anak ini akhirnya memutuskan menggunakan kawan-kawan sebayanya sebagai pasukan pelacak penjahat.

KEUNGGULAN TEKNIS
Jika ada yang bilang "sains-nya hanya tempelan", "petualangan so and so", percayalah, mereka sudah bias dengan film ini.

Ada beberapa film anak-anak Indonesia dalam satu dasawarsa terakhir, sebagian saya lewatkan, sebagian lagi sudah saya tonton, dan film ini, sebenarnya termasuk di atas rata-rata.  Lagipula, saya juga menonton Petualangan Sherina di bioskop (dengan segala degradasi audio-visual) sekitar satu-dua tahun lalu, jadi ingatan saya masih cukup jelas, dan saya berani bilang, dalam beberapa hal Naura di atas Petualangan Sherina.

Pertama, sebagai film anak-anak, tentu saja wajar karakter antagonis dibuat selucu mungkin. Berbeda dengan Petualangan Sherina yang penjahatnya tampak tidak kompeten bahkan tidak tahu apa yang  harus dilakukan, tiga karakter antagonis ini jelas tahu apa yang mereka lakukan. Melihat postur tubuh mereka, kamu tahu bahwa jangan macam-macam dengan mereka.

Kedua, skenario Petualangan Sherina menempatkan tokohnya dalam situasi terisolasi dan hanya di bagian akhir mereka baru bertemu dengan orang dewasa. Cerita Naura melibatkan karakter dewasa namun ternyata situasi menempatkan para anak-anak harus bertindak sendiri. Di sini, Eugene jelas lebih terinspirasi model Home Alone daripada Petualangan Sherina. Ini juga sebenarnya kritikan kita buat orang dewasa yang kadang mengabaikan permintaan tolong dari anak-anak.

Ketiga, saya suka bahwa di Kemah Kreatif, para anak-anak ditugaskan agar karya mereka berhubungan dengan alam. Ada perdebatan panjang di film ini membahas apa pengaruh karya mereka terhadap alam. Sayangnya, penulis skenario tidak membahas lebih panjang, tetapi orang tua yang ajak nonton anaknya mungkin bisa memperpanjang diskusi ini setelah menonton filmnya.



KELEMAHAN TEKNIS
Film ini bagus dan karena bagusnya, saya jadi tergoda untuk mengurangi kelemahan teknis film ini. Sekali lagi, kelemahan di sini bukan berarti film ini buruk.

Juru Keker Kamera di bagian awal film tampak gagap. Ada beberapa ruang kosong yang mengganggu, tampak tidak seimbang dan tidak pula menuruti kaidah sepertiga. Untungnya, kegagapan ini hanya terjadi pada adegan di SD Angkasa di awal film.

Sebagai sutradara film musikal, Eugene Panji tampaknya kurang galak dalam mengarahkan. Ada beberapa adegan menyanyi yang gerakan bibirnya kurang jelas dan begitu disatukan dengan musik oleh penyunting, jadi tampak tak sesuai antara audio dan visual. Selain itu, ada beberapa ketidakkompakan di antara penari yang membuat saya bertanya-tanya, si Eugene ini butuh berapa take untuk setiap adegan tarian? Pengalaman pribadi menemani adik saya, untuk video klip kurang dari 4 menit, bisa butuh seharian di Ancol.

Selain itu, tarian dan musikal bukan berarti harus menghancurkan karakternya. Si Bimo yang sedang kesal pada teman-temannya, begitu adegan musikal tiba-tiba menjadi berwajah riang gembira. Seharusnya, sebagai sutradara, ia memasang Bimo tetap berwajah kesal.

Ada satu ide bagus namun gagal dalam eksekusi, yakni memanfaatkan api obor sebagai "equalizer" untuk panggung musik. Sayangnya ide tersebut tak berhasil karena dua hal, yakni sutradara lebih suka menampilkan tarian Naura sementara ketika si gitaris dan equalizer obor ini ditampilkan, pas bagian yang kurang greget.

Namanya film yang dibiayai sponsor, wajar bila ada penempatan produk. Namun saya menyayangkan minimnya inisiatif sutradara untuk menyusupkan pesan kebersihan. Seharusnya Eugene bisa menyelipkan pesan dengan sederhana, seperti menampilkan kakak pembina yang mengingat untuk membuang sampah pada tempatnya, atau adegan tokoh utama, menaruh sampahnya di dalam tas mereka seusai mengonsumsi produk sehingga tidak mencemari alam.

Pakaian Naura juga layak dikritik, bukan soal moralitas, tetapi soal fungsi. Saya tak bisa membayangkan berjalan dengan celana pendek di tengah hutan melewati rumput-rumput dan semak-semak. Belum lagi dengan suasana yang mungkin berubah dingin dengan cepat. Dan lucunya, saya mencoba memperhatikan anak-anak lain, mereka celana relatif lebih panjang daripada karakter Naura. Jadi bisa disimpulkan, pemilihan pakaian ini hanya sekedar untuk pemanis saja.

Celakanya, pemilihan pakaian ini juga menimbulkan problem kesinambungan ketika adegan beralih dari dunia nyata ke dunia khayal yang divisualkan dalam bentuk kartun. Jelas tidak ada komunikasi antara studio kartun dengan tim produksi sehingga pakaiannya tidak sama. Memang, ketidaksinambungan ini bisa dibela bahwa yang satu adalah dunia nyata sementara yang lain adalah dunia khayal tetapi bukankah  akan lebih baik jika model pakaian sama, untuk menunjukkan persamaan karakter.

Saya juga mengritik penggunaan istilah "ranger" di sini. Kenapa harus menggunakan istilah asing? Kenapa tidak menggunakan istilah macam "Jagawana" atau sesederhana "Kakak Pembina" ?


UNTUK ORANG TUA
Saya bilang, ini film wajib untuk ditonton orang tua dan anak. Ada beberapa pesan yang bisa diajarkan melalui film ini.

Pertama, film ini mengajari anak untuk inisiatif menolong. Tentu saja, ada hal yang membutuhkan bantuan orang dewasa tetapi kurangnya bantuan bukan berarti anak harus diam pasif mengabaikan tindakan kejahatan yang berada di depan matanya.

Kedua, film ini mengajari anak untuk bersedia mengalah untuk kepentingan yang lebih besar baik itu kepentingan kelompok atau bahkan kepentingan universal. Masing-masing anak di film ini memiliki keunggulannya sendiri dan di babak akhir, masing-masing alat punya kegunaan walau ya... mungkin tak semuanya.

Ketiga, film ini mengajari anak untuk mencintai ilmu pengetahuan. Bahkan ada satu adegan anak-anak ini menciptakan hantu menggunakan salah satu sifat koloid.

Memang nyaris semua percobaan yang dilakukan di film ini, kita sudah sering melihatnya di pameran-pameran ilmu pengetahuan tetapi kapan terakhir anda melakukan percobaan ilmiah bersama anak anda? Lagipula, apakah anak anda sudah pernah melihat seluruh hasil oprekan yang tampil di film ini ?


TUDUHAN PELECEHAN AGAMA
Jawaban singkat, saya berpendapat film ini tidak melecehkan agama.
Anggota-anggota LSF yang menonton dan meloloskan film ini untuk Semua Umur berpendapat film ini tidak melecehkan agama.

Namun untuk yang penasaran, baik saya jelaskan.
Ada tiga adegan menyerempet di film ini, dan adegan-adegan ini sangat singkat. Saya mulai dari adegan kedua di tengah film dahulu sebelum membahas yang pertama dan ketiga karena dua adegan tersebut berkaitan.



Di tengah-tengah film, untuk menghentikan aksi, Naura dan teman-temannya menciptakan hantu. Dua dari tiga penjahat yang sedang ditakut-takuti, bergidik dan langsung meringkuk di dalam mobil. Salah satunya langsung membaca doa, namun entah karena panik atau karena memang dungu, ia membaca doa sebelum makan. "Hei, itu kan doa sebelum makan," tegur temannya. Yang ditegur langsung mengambil cemilan, "kalau takut, bawaannya pengen makan".

Ini adegan humor. Tidak ada unsur pelecehan Islam di sini.

Adegan pertama dan ketiga, semua ucapan istighfar dan asma Allah itu dilakukan oleh karakter yang bercelana pendek (di atas lutut), berbaju jingga, bertopi kupluk, jelas bukan simbol Islam. Karakter ini, tampaknya memang dahulu dibiasakan mengucapkan asma Allah. Jadi di bagian awal, ketika dia menerangkan rencana sementara temannya tidak memperhatikan, dia kesal dan bilang, "Astaghfirullah, Li! Dengarkan!".

Di bagian akhir, mobil yang membawa ketiga penjahat ini dihunjam berbagai macam bom dari roket air, bom pasir warna-warni, bom semangka. Dalam rasa takut ini, si karakter spontan mengucapkan, "astaghfirullah.. ya allah.. allahu akbar... astaghfirullah..".

Saya berpendapat ketiga adegan itu bukan pelecehan Islam. Ketiga karakter tersebut memang berasal dari daerah yang beberapa kali terjadi kejahatan pencurian hewan dan mereka melarikan diri ke Jawa. Silakan googling "pencurian satwa [nama daerah tersebut]" dan niscaya anda akan menemukan banyak berita. Kebetulan,  orang-orang di daerah tersebut memang rata-rata beragama Islam. Saya curiga, aktor yang memerankan antagonis bercelana pendek dan bertopi kupluk, dalam menghayati peran, melakukan improvisasi. Ia mungkin mempertimbangkan, kalau seandainya ia menggunakan kata-kata umpatan padahal film ini untuk anak-anak, mungkin malah takutnya ditiru oleh penonton cilik.

Saya tidak berpendapat film ini melecehkan agama dan begitu juga para anggota LSF.

Kalaupun ada yang bisa dikritik, maka saya menyayangkan sterilisasi film ini dari unsur-unsur agama untuk karakter protagonisnya. Seharusnya, kalau antagonis sudah dibuat latar khusus budaya tertentu, maka protagonis pun seharusnya demikian. Namun mungkin karena terlalu takut, maka setiap dialog protagonis bersih dari unsur budaya dan agama. Dengan demikian ucapan spontan karakter antagonis malah jadi terasa menonjol untuk mereka yang sensitif.



Sekali lagi, saya berpendapat film ini tidak melecehkan agama.
Bahkan kalau mau teliti, karakter Bu Laras -- salah satu tokoh baik dewasa -- , yang sangat medok Sunda-nya, kemungkinan besar ya beragama Islam.

Selain itu, di kantor pengurus Kemah Kreatif, selain stiker-stiker bernada pelestarian alam ( macam stiker "STOP DEFORESTATION" ), ternyata juga nyempil stiker wanita berjilbab menggunakan bendera Amerika Serikat (model macam poster "We The People Are Greater Than Fear"). Jelas berarti salah satu tokoh dari jagawana di Kemah Kreatif (dan jelas bukan sosok oknum) juga seorang muslim yang tergolong idealis.

Wednesday, November 08, 2017

Revenge Porn (Penyebaran Porno dengan Motivasi Balas Dendam)

Begini ya, Bung.
Kita sudah tahu-sama-tahu kalau nonton bokep itu dosa.

Dan kita tahu sama tahu, menyebarkan bokep itu juga dosa dan melanggar peraturan. Jadi kalau kalian nyebar bokep, sudah dua dosa kalian lakukan.

Nah, ada genre porno yang disebut "revenge porn". Intinya, pemeran porno dalam film ini tidak berniat menyebarkan videonya tetapi karena ada seseorang yang sakit hati, video koleksi pribadi ini disebarluaskan.

Nah, untuk kasus penyebaran "revenge porn", selain dosa karena nonton bokep, kalian tuh sudah menambah dosa lain karena:
1. kalian membantu pelaku menganiaya korban;
2. Korban "revenge porn" akan punya tekanan mental dan bahkan ada beberapa kasus, korban begitu tertekan hingga memilih bunuh diri.

Keterlibatan polisi menyelidiki kasus ini juga tidak membantu korban. Kalau kalian biasa mendengarkan cerita korban-korban pemerkosaan ditanyai polisi, saat-saat interogasi itu sudah seperti pemerkosaan kedua kalinya. Jadi ya, kalian menambah dosa lagi kalau ternyata polisi yang menangani kasus ini tidak sensitif dan penuh prasangka.

mBok kalau sudah punya dosa nonton bokep, ya jangan ditambah dosa berbagi bokep.
Kalau sudah punya dosa berbagi bokep, ya jangan menambah dosa menyakiti orang.

Nah,
kalau mendapat video porno berkualitas amatir lengkap dengan informasi identitas nama jelas bahkan latar belakang si pelaku, sebaiknya jangan disebarkan. Bisa jadi itu "revenge porn".

Asal tahu saja, Pornhub, salah satu situs porno, menolak situsnya dijadikan tempat "revenge porn" dan menyediakan fasilitas untuk melaporkan video-video yang diduga "revenge porn".

Ayolah.. masa situs porno bisa lebih bermoral daripada ente-ente yang ngakunya cuma penikmat bokep ?

berita tentang Pornhub berusaha memerangi "Revenge Porn".
http://time.com/4072036/pornhub-revenge-porn/

Dwipangga, sang Penyair Pemerkosa

Ada pria manipulatif macam Dwipangga yang mampu mendapatkan wanita dengan cara "sopan". Pertama, ia menurunkan kewaspadaan si target baik melalui bujuk rayu kata-kata maupun bantuan obat-obatan.

Kemudian saat wanita tersadar ia tak mau melakukan, ia sudah mendapati dirinya dalam kondisi tak sanggup melawan.

Pria macam Dwipangga ini, mungkin saja berusaha membuat korban senyaman-nyamannya untuk memperkecil kemungkinan korban melawan. Ia mungkin melakukan godaan-godaan sensual untuk memancing reaksi biologis korban.

Ketika hubungan usai, korban berada dalam keadaan bingung apa yang baru saja terjadi. Apakah pemerkosaan ataukah hubungan suka sama suka? Begitu juga Nari Ratih dan Mei Hsin, keduanya pucat dan tak tahu apa yang sesungguhnya baru saja terjadi.

Nari Ratih terkekang oleh desakan lingkungan sosial. Sebagai gadis yang tak punya kemandirian dalam membuat keputusan, ia didesak menikahi si perayunya walaupun sebenarnya ia menyukai pria lain, Kamandanu yang tak lain adik si pemerkosanya.

Ketertundukannya pada tekanan sosialnya membawanya ke kehidupan pernikahan tanpa cinta. Penyesalannya membuat sang suami kesal dan akhirnya membuat si suami menyiksanya bahkan di depan anaknya.

Mei Hsin berbeda, sebagai pendekar ia punya keputusan sendiri. Tubuhnya boleh telah dinodai tetapi ia tak sudi menikahi pemerkosanya.

Ketika pria lain, yang lagi-lagi ternyata Kamandanu, menawari menikahinya, ia tak langsung mengiyakan, melihat apakah sang pria dermawan mencintainya atau sekedar bersimpati padanya.

Apa yang dilakukan Dwipangga kepada Nara Ratih maupun Mei Hsin pada dasarnya tindakan yang sama, pemerkosaan, gak perduli senyaman apapun si korban saat mereka digauli. Pada dasarnya, si pelaku ingin menguasai tubuh korban walau tahu korban tak mencintainya, tak menginginkan akibat dari hubungan itu.

Wednesday, October 25, 2017

Hatta dan Orang-Orang Tionghoa



Tahun lalu, saya mendapatkan sebuah artikel yang konon berisi surat Bung Hatta terhadap AR Baswedan. Situs aslinya sudah tidak memuat surat tersebut namun surat tersebut masih dikutip di berbagai situs, blog, dan media sosial. Berikut isi artikel tersebut.

Surat Bung Hatta:*
Tentang Sumpah Pemuda Indonesia Keturunan Arab 1934
Sumpah Pemuda Keturunan Arab ini, yang berisikan:

1. Tanah Air Peranakan Arab adalah Indonesia.
2. Karenanya mereka harus meninggalkan kehidupan sendiri (isolasi).

Dengan sumpah ini, yang ditepati pula sejak itu dalam perjuangan nasional Indonesia menentang penjajahan sambil ikut dalam organisasi GAPI dan kemudian lagi ikut dalam peperangan kemerdekaan Indonesia dengan laskarnya denganmemberikan kurban yang tidak sedikit, ternyata bahwa pemuda Indonesia keturunan Arab, benar-benar berjuang untuk Kemerdekaan Bangsa dan Tanah Airnya yang baru.

Sebab itu tidak benar apabila warga negara keturunan Arab disejajarkan dengan WN turunan Cina. Dalam praktik hidup kita alami juga banyak sekali WNI turunan Cina yang pergi dan memihak kepada bangsa aslinya RRC, WN Indonesia keturunanArab boleh dikatakan tidak ada yang semacam itu. Indonesia sudah benar- benar menjadi tanah airnya.

Sebab itulah, salah benar apabila kedua macam WNI itu disejajarkan dalam istilah “nonpribumi”.
Jakarta, 24 November 1975

Mohammad Hatta
*Catatan asli surat tersebut ada pada A.R. Baswedan, Yogyakarta, Bapak Hari Kesadaran Bangsa Indonesia keturunan Arab dan Perintis Kemerdekaan Bangsa dan Negara Indonesia.

Ternyata, surat tersebut sudah beredar lebih lama.  Bunyi surat tersebut, dalam bahasa Inggris, dikutip oleh Abdul Rachman Patji bulan Juni 1991 dalam halaman 14 tesis-nya "The Arabs of Surabaya: A Study of Sociocultural Integration" yang diajukan kepada Australian National University. Sayangnya, dalam tesis tersebut, tidak ada kejelasan dari buku apakah surat itu berasal ataukah si penulis melihat sendiri.

Saya sempat mengirimkan surel kepada info(at)aniesbaswedan.com pada 26 Oktober 2016 dan menyenggol Anies di Twitter pada tanggal 18 Oktober lalu namun tidak berbalas hingga kini.




Sementara menunggu jawaban dari keluarga Baswedan, saya mencoba melacak pendapat Bung Hatta tentang Tionghoa.

Salah satu informasi adalah tulisan Pramoedya Ananta Toer yang dibukukan dengan judul "Hoakiau di Indonesia", menyebutkan bahwa dalam sebuah majalah, Bung Hatta menulis artikel berjudul "Facets of Indonesia's Economy" dengan kutipannya:

The Indonesian was poor in the midst of overflowing wealth. Those with money were the foreigners who ruled the country; they had authority, capital, and their technical skill. Next to the Dutch, the best off were the Chinese, who were their chief helpers in business and administration, and formed, as it were, a middle class.

Terjemahan bebas: Orang-orang Indonesia dahulu sangat miskin di tengah-tengah kekayaan yang mengalir. Mereka yang memiliki uang adalah orang-orang asing yang menguasai negeri. Mereka memiliki otoritas, modal uang, dan kemampuan teknis. Setelah Belanda, yang di atas rata-rata adalah orang-orang Tionghoa, yang merupakan pembantu utama para Belanda dalam bidang bisnis dan administrasi, dan membentuk, saat itu, kelas menengah.

Pramoedya Ananta Toer mengritik keras kutipan itu dan menganggap Bung Hatta tidak tahu sejarahnya sendiri. Sejujurnya, kritikan Pramoedya benar, bahkan dalam masa kolonial, kita masih bisa menemukan orang-orang Tionghoa miskin. Jadi kurang tepat kalau mereka disamaratakan dalam cap sebagai "pembantu Belanda dalam bisnis dan administrasi".

Walau begitu, tulisan yang dikutip Pram adalah menjelaskan masa kolonial Belanda. Apa sih pendapat Bung Hatta tentang orang-orang Tionghoa di masa sekarang?

Mungkin saya awali dari kutipan beliau di buku "Hatta Menjawab" disunting dan diwawancara oleh Zainul Yasni tahun 1978.

Itulah hebatnya Cina ini.
Kalau jadi kapitalis betul-betul kapitalis.
Kalau jadi nasionalis betul-betul jadi nasionalis Indonesia.
Ada juga yang jadi orang agama dalam Muhammadiyah, betul-betul ia jadi alim.
Tetapi kalau jadi komunis Cina itu betul-betul jadi komunis tulen.

Saat mengatakan ini, Bung Hatta sebenarnya sedang memuji Tan Ling Djie, salah satu lawan politiknya, anggota PKI, yang sengaja mengurangi makan nasi sehingga sisa gajinya bisa diserahkan semua kepada partai.

Dari sini saja sudah jelas, Bung Hatta mengagumi komitmen orang-orang Tionghoa ketika individu-individu dari etnis ini mulai bersikap.

Kalau kita membaca polemik yang dilakukan Bung Hatta di masa kolonial, kita bisa melihat bahwa Bung Hatta menyadari peran-peran pers Tionghoa. Misalnya dalam penjelasannya tentang sikap Non-Kooperasi PNI baru (Daulat Ra'yat no 47, 30 Desember 1932), ia membaca pendapat lawan politiknya, Bung Karno, dalam surat kabar Tionghoa dan surat kabar Indonesia.


Pada tanggal 17 September 1946, Bung Hatta berpidato di depan kelompok Tionghoa. Beliau menyatakan bahwa kelompok-kelompok Tionghoa, karena posisi di masa lalunya sering dianggap sebagai perpanjangan kapitalisme asing bahkan di masa Jepang, bangsa Jepang masih memanfaatkan orang-orang Tionghoa ini sehingga kelompok Tionghoa masih menjadi penyangga. Lebih lanjut, beliau mengatakan -- saya menemukan pidato ini dalam buku berbahasa Inggris "Hatta: Portrait of Patriot" :

It is for this reason that there is still a feeling of dislike for the Chinese, a feeling which tends to become stronger. Often we hear people lamenting 'The Chinese are always in a good position. During the time of the Dutch colony, they were on top. During the Japanese occupation they were still on top. If the Japanese come to power, they will be protected by the Nanking government. If the Allies win, they will be protected by the Chunking government'. These are the feelings as expressed by the ordinary, every-day Indonesian. 

Terjemahan bebas: 
untuk alasan inilah, masih ada perasaan kebencian terhadap Cina, perasaan yang semakin menguat. Seringkali kita mendengar orang-orang mengeluh, "orang-orang Cina selalu dalam posisi bagus. Selama masa kolonial Belanda, mereka di atas. Selama masa penaklukkan Jepang mereka masih di atas. Jika Jepang berkuasa, mereka dilindungi Pemerintahan Nanking. Jika Sekutu menang, mereka dilindungi Pemerintahan Chunking". Inilah perasaan yang sering diutarakan oleh orang-orang Indonesia kebanyakan.

Namun apakah Bung Hatta setuju dengan pendapat kebanyakan itu?
Ternyata tidak. Dalam lanjutan pidatonya, ia mengutarakan:

It is this feeling which often creates hostility between the Indonesians and the Chinese. In peacetime these feelings of hostility can be avoided and abolished. You yourselves know the serious efforts which the government of the Republic of Indonesia made right from the beginning to create a feeling of brotherhood between the Indonesian people and the Chinese people. At first they were to some extent successful. But after the Dutch return to take control of Indonesia and after the considerable amount of fighting, when many Chinese were used as tools of the Dutch, either as policemen or as merchants, the anger against the Chinese rose again to such an extent that hostile action was taken against them. In particular I can say that the government of the Republic of Indonesia expresses its sincere regret for the incidents which have been experienced by the Chinese. We must not forget that the group whose desire it is to destroy the Republic of Indonesia was the group which instigated the people to fight against the Chinese especially around the battlefield. Foolish people and emotional people tend to get swept away by the provocation of the enemy. Because, let us face it, the aim of the enemy is to ensure that the Republic of Indonesia has a bad reputation in the matter of international relationships, the reputation of a nation which is unable to guarantee the security of foreigners residing in its territory. Because of the actions of these people, there are counter-actions on the part of the Chinese, especially in the regions ruled by the Allies. Consequently the relationships between the Indonesian and the Chinese people becomes confused and this in turn makes difficulties for the government.  
We are fully aware of this situation. It is not necessary to keep it in existence. Under the protection of the Constitution we must make all the necessary investigations so as to find out all the various reasons which are at the bottom of this situation so that we can find a remedy which will solve the problem and create an atmosphere of prosperity and goodwill.

Terjemahan ulang bebas:
Perasaan inilah yang sering menciptakan pertengkaran antara orang-orang Indonesia dan orang-orang Cina. Di masa damai, perasaan kebencian bisa dihindari dan dihilangkan. Kalian sendiri tahu betapa serius usaha Pemerintah Republik Indonesia sejak awal untuk menciptakan persaudaraan antara orang-orang Indonesia dan orang-orang Cina. Awalnya, usaha-usahanya tampak berhasil. Namun setelah Belanda datang untuk mengambil alih Indonesia dan setelah beberapa kali berseteru, ketika banyak orang-orang Cina dijadikan alat oleh Belanda, entah sebagai polisi atau pedagang, kemarahan terhadap orang-orang Cina bangkit lagi hingga ada aksi-aksi kebencian dilakukan terhadap mereka. Dengan ini, saya dapat mengatakan bahwa pemerintah Republik Indonesia menyatakan penyesalannya secara tulus terhadap insiden-insiden yang telah dialami oleh orang-orang Cina. Kita tak boleh lupa bahwa kelompok yang menginginkan hancurnya Republik Indonesia adalah kelompok yang memancing rakyat untuk melawan orang-orang Cina terutama di peperangan. Orang-orang bodoh dan emosional cenderung mudah tersapu oleh provokasi musuh. Karena itu, mari kita hadapi, tujuan musuh adalah memastikan bahwa Republik Indonesia memiliki reputasi buruk dalam hubungan internasional, reputasi sebuah bangsa yang tak bisa menjamin keamanan orang-orang asing dalam wilayahnya. Karena tindakan-tindakan orang-orang ini, ada tindakan balasan dari kaum Cina, terutama di daerah-daerah yang dikuasai Sekutu. Akibatnya, hubungan antara orang-orang Indonesia dan orang-orang Cina menjadi semakin membingungkan dan ini membuat kesulitan semakin sukar bagi pemerintah. 
Kami sangat menyadari situasi ini. Kita tidak harus membiarkannya berlarut-larut. Dalam perlindungan Undang-Undang Dasar, kita mesti membuat seluruh penyelidikan untuk menemukan semua alasan di bawahnya sehingga kita bisa menemukan obat yang memecahkan masalah dan menciptakan atmosfer kesejahteraan dan niat baik.

Bung Hatta melanjutkan bahwa ia percaya, masalahnya berawal pada ekonomi.

Perhaps I should clearly explain here that it is my conviction that it is impossible to reach a true solution to the 'Chinese problem' within the economic structure of capitalist colonialism nor within the politics of liberalism. In the capitalist colonial structure, the Chinese group are the wheel of the class struggle, which will feel every stress of the differences in the nation. Consequently the feeling of dislike for the Chinese will become stronger.  
But now we have a new structure, a new economic structure based on social prosperity. The economic life of the country will no longer be controlled by the private employers themselves, but must be coordinated by the Government and this in turn will create an ordered structure. The Government possesses full authority in regard to the coordination of production and the distribution of the goods which are produced.  
If the Chinese here can adapt themselves to fit in with the spirit of the new economy which forms the basis of the economy of the Republic of Indonesia, their position in the economy of Indonesia can be different from what it has been in the past. The Chinese and the Indonesians will no longer oppose one another. Even their economic powers can be coordinated by the Indonesian economic authority. The Chinese will cease to be an opposing party and will become a partner. In this way the 'Chinese Problem' will have disappeared. 

Terjemahan ulang bebasnya:
Mungkin saya harus menjelaskan lebih jernih bahwa keyakinanku mustahil mencapai penyelesaian sungguh-sungguh untuk 'masalah Cina' ini dalam struktur ekonomi kapitalis kolonial dan tidak pula dalam politik liberalisme. Dalam struktur kapitalis kolonial, kelompok-kelompok Cina adalah roda dari perjuangan kelas, yang akan merasakan seluruh tekanan perbedaan dalam negara. Dampaknya perasaan kebencian terhadap orang-orang Cina akan menguat. 
Tetapi sekarang kita memiliki struktur baru, struktur ekonomi berdasarkan kesejahteraan sosial. Kehidupan ekonomi dari negeri tidak lagi dikendalikan oleh pemilik modal swasta sendiri tetapi harus dikordinasikan oleh pemerintah dan selanjutnya akan menciptakan struktur teratur. Pemerintah memiliki otoritas penuh terhadap bagaimana kordinasi produksi dan distribusi barang yang dihasilkan. 
Jika orang-orang Cina bisa beradaptasi dengan jiwa ekonomi baru yang membentuk dasar ekonomi Republik Indonesia, posisi mereka dalam ekonomi Indonesia bisa berbeda dengan apa yang terjadi di masa lalu. Orang-orang Cina dan Indonesia tidak akan saling menyerang. Bahkan kekuatan ekonominya akan dikordinasikan oleh otoritas ekonomi Indonesia. Orang-orang Cina akan berhenti menjadi kelompok berseberangan dan menjadi rekan kerja. Dalam hal ini 'Masalah Cina' seharusnya terselesaikan.

Sejarah mencatat bahwa selama masa demokrasi liberal hingga masa orde baru, sejumlah eksperimen dilakukan oleh rezim untuk menciptakan struktur ekonomi baru di mana kelompok 'Tionghoa' tidak menjadi musuh seperti yang diimpikan Bung Hatta namun ternyata berkat korupsi yang terjadi pada rezim penguasa, ternyata malah menciptakan struktur serupa walau tak formal. Kita masih punya hutang untuk memecah struktur ini, bukannya dengan melestarikan piramida struktur sosial lama.

Kembali ke topik, masih dalam pidato yang sama, Bung Hatta menjelaskan kewarganegaraan orang-orang Tionghoa. Sekedar catatan, saat itu sedang berlaku UU no 3 tahun 1946 (diterbitkan 10 April 1946) di mana orang-orang Tionghoa secara pasif dianggap sebagai warga negara Indonesia kecuali bila mereka menolak. Bung Hatta menegaskan hal tersebut dalam pidatonya:

The Chinese who live here can generally speaking be classified into two groups. The first group consists of those who are citizens of the Republic of Indonesia. In the second place, we have those who are foreigners, who still regard themselves as fully Chinese.  
As citizens of the Republic of Indonesia, the Chinese group will obtain the same positions and the same rights as native Indonesians, in accordance with the provisions of Chapter 27 of the Principles of the Constitution of the Republic. In regard to the distribution of employment and the rational application of power. Chinese who are citizens of the Republic of Indonesia will get jobs and positions solely in accordance with their ability and intelligence. This does not constitute a problem, even thought the Republic of Indonesia is now in need of manpower. Every employable person in our society will be made use of placed in work in a rational manner. These conditions will not only hold good in respect of the Chinese, but also will apply to all citizens of Dutch and Arab origin.  
As regards Chinese who refrain from becoming citizens of the Republic, the Republic which is based on a sense of social justice will be acting rather like the head of a family who shows a courteous and honourable attitude to visitors. There are still many obstacles of a political nature and there are still many difficulties in the way of solving these problems. But our strong desire for goodwill will be bound to succed in the future.  
Terjemahan ulang bebas:
Orang-orang Cina yang hidup di sini secara umum bisa dikelompokkan menjadi dua grup. Grup pertama berisi mereka yang menjadi warga negara Republik Indonesia. Di tempat kedua, kita memiliki orang-orang asing, yang masih menganggap dirinya orang Cina sepenuhnya. 
Sebagai warga negara Republik Indonesia, kelompok Cina akan memiliki posisi dan hak yang sama sebagai pribumi Indonesia, sesuai bunyi pasal 27 dari Undang-Undang Dasar Republik tentang pekerjaan dan kekuasaan. Orang-orang Cina yang merupakan warga negara Republik Indonesia akan mendapatkan pekerjaan-pekerjaan dan posisi-posisi hanya berdasarkan kemampuan dan kecerdasan mereka. Ini tidak akan menjadi masalah walaupun Republik Indonesia sekarang membutuhkan banyak tenaga kerja. Seriap orang yang bisa dipekerjakan dalam masyarakat kita akan diperkerjakan secara rasional. Kondisi ini tidak hanya berlaku untuk orang-orang Cina tetapi juga untuk semua warga negara berasal dari Belanda dan Arab. 
Mengenai orang-orang Cina yang tidak mau menjadi warga negara Republik, Republik ini yang dibangun berdasarkan keadilan sosial akan bersikap seperti kepala keluarga yang menunjukkan keramahan dan penghormatan kepada para pengunjung. Tentu saja akan ada masalah-masalah dari sisi politis dan akan ada kesulitan dalam memecahkan masalah-masalah ini. Tetapi keinginan kami untuk beriktikad baik akan menghasilkan kesuksesan di masa depan.

Pidato ini menunjukkan optimisme Bung Hatta tentang orang-orang Cina. Sayangnya, perjalanan sejarah kelak mengubah stelsel pasif menjadi stelsel aktif yang kelak mengasingkan orang-orang Tionghoa dan menjadi alat pemerasan buat mereka.

Tentu saja menjadi pertanyaan,
setelah Belanda mengakui kedaulatan Indonesia, setelah UU kewarganegaraan baru ada dan setelah terbitnya PP 10 tahun 1959, apakah Bung Hatta masih berpandangan sama tentang keturunan Tionghoa?

Dalam Asian Survey vol V no 3 yang terbit Maret 1965, ketika membahas tentang Malaysia, Bung Hatta menyinggung perilaku orang-orang Tionghoa di Indonesia dan membandingkannya dengan orang-orang Cina di Malaysia.

The attitude of the overseas Chinese in Malaya is completely different from their counterparts in Indonesia. The 'Tionghoa peranakan' (the Chinese who have lived here for generations) do not want to be called Chinese, but consider themselves as Indonesian citizens of Chinese descent. Generally speaking, their feelings are those of Indonesian nationals, with the same national ideals. Their grandparents may still speak Chinese, but they themselves do not. Before Indonesian became the national language -- that is, in the former Netherlands Indies -- the Chinese used to speak the language of the region in which they lived. If they were born in Central or East Java, they spoke Javanese. If they were born in West Java, they spoke Sundanese. If they were born in Minangkabau, they spoke Minangkabau. Chinese intellectuals and those with Western education learned to speak Dutch and 'pasar' Malay, over and above their own regional language. In those days, the Chinese newspaper were written in 'pasar' Malay or in 'Chinese-Malay', a mixed language closely related to Malay. These language no longer exist and have since been replaced by the Indonesian language.  
Why is there such a difference in mentality between the overseas Chinese in Malaya and those in Indonesia? The reason is that before World War II there was no national movement demanding an independent Malaya. This national feeling only came into existence after the emergence of several new independent and sovereign nations in Southeast and South Asia. During the Dutch colonial period a national movement had already become active in Indonesia, and exerted a strong influence upon the Chinese community in Indonesia. In addition, this national movement and the Partai Serikat Islam, which included a number of Chinese among its membership, the Partai Tionghoa-Indonesia, a 'Tionghoa-Peranakan' party under the leadership of Liem Koen Hian, was also striving towards Indonesian independence; its members wanted to give up Chinese nationality and become Indonesian citizen once Indonesia became free. Thus, the Indonesian freedom movement during the Dutch colonial period influenced the development of Indonesian national feelings among the Chinese in Indonesia. At present they no longer like to be called Chinese, but only Indonesians. The course of history in Indonesia has gradually made them real Indonesians. Only their names remind one of the country from which their ancestors came; their language and way of life are Indonesian.  
Terjemahan Bebas:
Perilaku orang-orang Cina perantauan di Malaya sangat berbeda dengan saudara-saudara mereka di Indonesia. Para 'Tionghoa Peranakan' (orang-orang Cina yang sudah tinggal di Indonesia selama beberapa generasi) tidak mau dipanggil Cina, tetapi menganggap mereka sebagai warga negara Indonesia keturunan Cina. Umumnya, perasaan mereka adalah perasaan nasionalis Indonesia, dengan ide nasionalis yang sama. Kakek-kakek mereka mungkin masih berbahasa Cina tetapi mereka sendiri sudah jarang. Sebelum bahasa Indonesia menjadi bahasa nasional -- yakni, di masa Hindia Belanda -- orang-orang Cina sudah menggunakan bahasa di mana mereka tinggal. Jika mereka tinggal di Jawa Tengah atau Jawa Timur, mereka berbicara bahasa Jawa. Jika mereka lahir di Jawa Barat, mereka berbahasa Sunda. Jika mereka lahir di Minangkabau, mereka berbahasa Minang. Para intelektual Cina dan mereka yang menerima pendidikan barat belajar berbahasa Belanda dan Melayu 'pasar'; lebih sering dan lebih utama dibandingkan bahasa daerah mereka. Di hari-hari itu, koran-koran Cina ditulis dalam bahasa Melayu Pasar atau dalam bahasa Melayu Cina, bahasa campuran yang lebih dekat ke bahasa Melayu. Bahasa-bahasa ini kini sudah tiada dan sudah digantikan oleh bahasa Indonesia. 
Mengapa ada perbedaan sikap mental antara Cina perantauan di Malaysia dan di Indonesia? Alasannya adalah sebelum Perang Dunia II, tidak ada pergerakan nasional yang menginginkan Melayu merdeka. Perasaan ini baru muncul setelah timbulnya beberapa negara merdeka di Asia Selatan dan Asia Tenggara. Selama masa kolonial Belanda, pergerakan nasional sudah menjadi aktif di Indonesia dan menimbulkan pengaruh pada komunitas Cina di Indonesia. Apalagi, pergerakan nasional ini dan Partai Serikat Islam -- yang juga memiliki sejumlah orang Cina sebagai anggota --, Partai Tionghoa-Indonesia, partai Tionghoa Peranakan di bawah kepemimpinan Liem Koen Hian, juga berjuang untuk Indonesia merdeka; anggota-anggotanya rela menyerahkan kebangsaan Cina dan menjadi warga negara Indonesia begitu Indonesia merdeka. Karena itu, pergerakan kemerdekaan Indonesia selama masa kolonial Belanda mempengaruhi perasaan kebangsaan Indonesia di antara orang-orang Cina di Indonesia. Saat ini, mereka sudah tidak mau disebut Cina tetapi hanya sebagai orang Indonesia. Perjalanan sejarah Indonesia secara berangsur-angsur telah menjadikan mereka orang Indonesia asli. Hanya nama-nama mereka yang mengingatkan asal-usul nenek moyang mereka; (sementara) bahasa dan cara hidup mereka adalah orang Indonesia.

Pendapat ini dikemukakan oleh Bung Hatta ketika budaya-budaya Tionghoa belum diberangus oleh orde baru dan orang-orang Tionghoa belum "dianjurkan" penguasa untuk mengganti nama. Walau begitu, Bung Hatta sudah mengakui ke-"pribumi"-an orang-orang Tionghoa Indonesia.

Dengan banyaknya tulisan-tulisan Bung Hatta dalam berbagai kesempatan yang mengagumi orang-orang Tionghoa, sukar dipercaya Bung Hatta membedakan keturunan Tionghoa dengan keturunan Arab.


Bacaan lebih lanjut:
1. Pramoedya Ananta Toer. Hoakiau di Indonesia. Pertama terbit sebagai artikel berkala di masa orde lama. Sekarang sudah dibukukan.
Pram dengan cemerlang menceritakan bagaimana para Tionghoa datang dari masa sebelum Belanda dan bagaimana kegiatan mereka hingga masa ditulisnya artikel tersebut.

2. Zainul Yasni. Hatta Menjawab. Terbit tahun 1978.
Berisi wawancara Hatta yang dilakukan oleh Zainul Yasni.

3. Hatta: Portrait of Patriot.
Berisi terjemahan-terjemahan tulisan Bung Hatta dalam bahasa Inggris.

4. Tulisan Hatta terbitan Bulan Bintang.
Ada beberapa artikel dari Daulat Ra'yat di sini.

Wednesday, October 18, 2017

Isu Pidato Soekarno di Semarang 1948 Tentang Hanya Stelsel Pasif

Ada yang sedang menyebarkan ringkasan pidato Bung Karno di Semarang tahun 1948 soal stelsel pasif untuk salah satu etnis tertentu ?

Saya jadi tergelitik ingin tahu sejarah peraturan kewarganegaraan di Indonesia dan... 
TERNYATA di tahun 1946, RI menganut stelsel pasif, sesuai UU no 3 tahun 1946 Pasal 1 ayat b beserta pasal 4.

Artinya, sebagian besar keturunan Tionghoa di Indonesia adalah warga negara Indonesia secara otomatis tanpa embel-embel pendaftaran!

Namun setelah KMB tahun 1949 yang mengaktikan kembali strata sosial, dan kemudian pengakuan negeri RRT tahun 1950 sehingga muncul model kedwiwarganegaraan dan kemudian diubah jadi stelsel aktif berdasarkan UU no 62 tahun 1958 (lihat pasal 4 dari peraturan tersebut). Di sinilah baru muncul metode "pemerasan" yang puncaknya pada kebijakan SKBRI di masa orde baru.

Kembali ke (konon) ringkasan pidato Bung Karno tersebut, agak aneh, kalau jika beliau di tahun itu mengistimewakan satu "golongan" sebagai stelsel pasif. Ini antara ringkasan tersebut berbohong atau si pembuat ringkasan salah memahami pidato beliau. Selain itu pidato tidak seharusnya menjadi sumber peraturan.
Dalam tambahan tulisannya, si penyebar juga menegaskan dengan "fakta" bahwa Bung Karno menerbitkan PP no 10 yang "yang disetujui MPR" bahwa keturunan etnis tersebut status Kewarganegaan ‘Stelsel pasif’ yang sama dengan warga Pribumi yaitu otomatis dianggap dan dicatat sebagai WNI".

Saya bertanya, Peraturan Pemerintah no 10 tahun berapa? Karena PP no 10 tahun 1948 adalah tentang "Komisariat Pemerintah Pusat di Sumatra". Sementara "PP no 10" lain yang cukup terkenal adalah PP no 10 tahun 1959, tentang pembatasan "orang asing" berdagang eceran dan jelas tak relevan dengan pidato Soekarno tahun 1948 karena sudah ada UU baru tentang kewarganegaraan di tahun 1958.

Untuk cerita lebih lengkap tentang sejarah kewarganegaraan keturunan Tionghoa, mungkin sebaiknya baca tulisan yang ada di blog Lisa Suroso tahun 2007 ini.


Saya Bukan "Pribumi" Jakarta

Ada masa saat saya tertekan menyadari saya bukan "pribumi" Jakarta sementara "pribumi"-nya tersingkir ke pinggir-pinggir kota. Sebagai anak pendatang dari Jawa, saya gelisah saat pertama mendengar kisah suku Betawi terpinggirkan karena mahalnya taraf hidup di tengah ibukota. Lalu saya harus bagaimana? Pulang ke kampung halaman walau ngomong bahasa Jawa ngoko saja gak becus?

Sekarang, setelah dipikir-pikir lagi, MH Thamrin pun sesungguhnya bukan murni "pribumi" Jakarta karena tubuhnya mewarisi gen pendatang. Walau demikian, di Volksraad ia kencang mengritik pemerintah kolonial yang abai terhadap "pribumi" Jakarta, mengindentifikasi dirinya sebagai "pribumi".

Setelah 72 tahun Indonesia Merdeka, saya menyadari, perasaan "tersingkir" dan "terjajah" itu masih ada. Pertanyaannya adalah, "terjajah" oleh siapa? Apakah narasi "pribumi" tepat untuk menggambarkan perasaan itu? Jawaban untuk pertanyaan kedua adalah TIDAK!

Tahun lalu saja, seorang "non-pribumi" terluka saat membela kampung yang sedang digusur.
Jauh sebelum KPK mengungkap kasus penyuapan reklamasi, kawan-kawanku yang "non-pribumi" sudah teriak-teriak di linimasa Facebook-nya menentang kebijakan Gubernur yang satu etnis dengan mereka. Mereka yang doyan teriak-teriak "Cina" justru adalah penumpang belakangan dalam isu reklamasi.

Pribumi punya konotasi negatif. Seseorang boleh berpendapat bahwa pribumi adalah semua orang yang asli lahir di daerah itu. Namun kalau bicara konteks kolonial, keturunan dari para pendatang pun tidak dianggap sebagai pribumi, kebijakan untuk mencegah terjadinya persatuan di antara warga, mempermudah penguasa mengawasi jajahannya.

Okelah, saya berbaik sangka bahwa "pribumi" yang dimaksud Anies adalah seluruh warga Indonesia di Jakarta. Namun reaksi-reaksi beberapa pendukung Anies yang menyebarkan perbedaan "keturunan Arab" dan "keturunan Tionghoa" dari berbagai sumber termasuk yang diragukan asalnya, tak pelak menegaskan pengertian "pribumi" yang digunakan adalah pemahaman warisan kolonial. Berdasarkan pengertian warisan kolonial ini, walau seseorang lahir di negeri ini, kakek mereka mungkin dari luar negeri tetapi sudah menanggalkan warga negara asal dan memilih Indonesia (atau pasca 1958 lupa melapor dan kelak pasrah "diperas" pakai SKBRI),  dan ayah-ibu mereka bahkan pasrah tidak mengajarkan budaya leluhur mereka semasa orde baru demi "asimilasi", tetapi tetap saja mereka dicap sebagai "non-pribumi".

Ya, para "non-pribumi" yang dimusuhi itu, bahkan pernah kujumpai sedang belajar bahasa leluhurnya dari guru-guru "pribumi"!
Mau sampai kapan kalian memusuhi warga keturunan Tionghoa dan menganggapnya sebagai "non-pribumi" ?

Sampai pola pikir cuci otak ala Kolonial Belanda ini hilang, memang sebaiknya kata "pribumi" tidak dipakai dalam konteks apapun dan karena itu, Pak Habibie (yang kebetulan juga keturunan Arab) sudah benar dalam menerbitkan Inpres nomor 26 tahun 1998!

Tuesday, October 17, 2017

Hentikan Penggunaan Istilah 'Pribumi' SEKARANG JUGA!

Saya keturunan Jawa, lahir di Jakarta, lebih akrab dengan lenong Jakarta daripada ketoprak atau ludruk, lebih akrab dengan Gambang Kromong dan Tanjidor daripada Gamelan Slendro atau Pelog, lebih menyenangi suara Tekyan digesek daripada Rebab milik ayah saya. Ayah saya pernah begitu marahnya pada saya dan melarang saya berbahasa Betawi. Sebagai gantinya, saya ngambek tidak mau belajar bahasa Jawa.

Singkat kata, latar belakang pribadi saya membuat saya menolak segala sekat-sekat berbasis sukuisme dan rasisme. Sekarang bagaimana pengalaman saya bergaul dengan kawan-kawan keturunan Tionghoa?

Saya pernah memiliki kawan keturunan Tionghoa Palembang, hidup di gang-gang kecil. Si kakak yang jadi teman saya, masih tetap beragama Buddha (setahu saya) sementara adiknya masuk Islam. Jadi penasaran, bagaimana kabar mereka sekarang, karena sudah lama tak bertemu.

Saya punya kawan keturunan Tionghoa Medan, hidup di rumah toko, juga pernah mengalami pahitnya dipecat dalam perjalanan ke kantornya.

Saya punya kawan keturunan Tionghoa Jawa, tak bisa membaca tulisan Pinyin sama sekali dan tidak pula bisa bahasa-bahasa etnis Tionghoa. Kalau dia terjebak di antara orang-orang berbahasa Hanyu atau Tiochiu atau Khek, pastilah dia rekam diam-diam untuk kemudian dia tanya ke kawannya, "mereka ngobrol tentang apa sih".

Saya pernah beberapa kali menemukan "pribumi" begitu asyik bicara tentang cara menyuap untuk mendapat proyek. Dalam salah satu kesempatan, saya sampai marah mendengar ocehan salah satunya dan mendampratnya. Di sisi lain saya malah pernah menemukan pengusaha keturunan Tionghoa, memilih pasrah (tapi ngedumel) "bayarannya ditunda" daripada memberikan uang pelicin proyek. Bahkan ketika salah satu kliennya menawarkan "kamar hotel", dia memutuskan menolak. Hanya menggunakan kamar tersebut agar temannya bisa shalat, dan setelah itu ia dan kawannya pulang, khawatir bila menginap di kamar tersebut nanti didatangi "tamu wanita".

Dan saya punya beberapa teman non-Tionghoa yang acapkali disangka Tionghoa karena bentuk matanya. Cuma ya, tetap saja mereka mendapat "perlakuan berbeda" hanya karena bentuk fisik.

Jadi apa yang salah dengan membawa narasi "pribumi"?
Banyak!
Dari sisi peraturan salah. Zaman Pak Habibie jadi presiden sudah mengeluarkan larangan menggunakan istilah ini.

Dari sisi agama yang kuanut pun salah. Di masa Nabi, beliau sudah memiliki sahabat keturunan Ethiopia dan keturunan Persia. Kenyataannya banyak para pelestari agama Islam berasal dari non-Arab seperti dari Bukhara.

Dari sisi cita-cita para pendiri negara ini pun salah. Coba lihat pidato Bung Hatta di depan orang-orang Tionghoa tahun 1946. Sistem ekonomi negara kita yang baru seharusnya menghapus semua sekat-sekat sosial di masa kolonial. Jadi bukan untuk membalik piramida dan balas dendam.

Dari sisi kenyataan sosial di negara ini pun salah. Orang-orang Tionghoa juga mengalami sebagai pihak terzalimi secara ekonomi sementara orang-orang pribumi juga ada yang di tingkat atas piramida ekonomi.

Dan yang paling berbahaya, narasi 'pribumi'-isme menghalangi isu sesungguhnya.
Kalau seandainya, yang korupsi adalah 'pribumi' apa kita harus menerima karena pelaku adalah 'pribumi'?
Kalau seandainya, para pengusaha yang kelak menguasai dan mengendalikan harga-harga fasilitas yang seharusnya milik publik adalah para pengusaha 'pribumi' apakah kita diam saja karena pelaku adalah 'pribumi'?