Saturday, October 18, 2014

Mewarnai bersama Ara


Bahan:
1. kertas (di balik kertas ada gambar lain sebenarnya);
2. ballpoint (Babehnya yang menggambar)
3. crayon berminyak, entah merek apa.

Ara mewarnai matahari, pesawat, gunung-gunung (termasuk pohon).

Babehnya mewarnai naga.

Tuesday, September 30, 2014

[Pratayang] Dua Film Cokroaminoto ?

Saya mendengar Garin Nugroho membuat film tentang H. Oemar Said Tjokroaminoto dengan Reza Rahadian sebagai Pak Tjokro.




Tapi kemudian saya mendengar desas-desus bahwa Tanta J Ginting (sebelumnya berperan sebagai Sutan Sjahrir di film Soekarno-nya Hanung) akan berperan sebagai Musso. Kukira dia berperan di filmnya Garin. Tetapi sekarang aku tak yakin.



Jadi, apakah empat foto itu berasal dari film yang sama ataukah dari film yang berbeda?

Monday, September 01, 2014

Path dan Rasa Aman Semu

Ada tulisan menarik di salah satu blog yang mengangkat hal yang mengusikku dari dahulu.
http://celotehnel.wordpress.com/2014/08/30/3039/

Saya kutip dari blog tersebut:

Kasus D**** dan F****** itu, mudah sekali mencari siapa yang menyebarkan “kemarahan” keduanya. Kenapa? Karena di Path, hanya teman-teman yang sudah kita setujui dan kita pilih yang bisa mengakses informasi dan post kita. Tidak seperti Facebook yang lebih terbuka meskipun sudah disetting, Path benar-benar terbatas hanya untuk teman saja. Bahkan friends of friends pun tidak bisa melihat atau mengakses. Jika dilihat lebih jauh, ini tentu menyiratkan sebuah maksud, bukan? Mari kita telaah apa artinya. Arti yang paling mudah kita pahami adalah Path sudah memberikan satu layer privasi yang lebih baik dari Facebook. 

Salah satu yang agak membingungkan dari kedua kasus tersebut, kawan-kawannya, di skrinsyut, tampak seperti mendukung pendapat dari pemilik Path.

Misalnya, "N" dalam kasus F vs Yogya, meminta izin re-path, seakan-akan 'menyetujui' pendapat F.



Atau "F", "A", dan "S" dalam kasus D vs Ibu Hamil, mengomentari status Path Dinda dengan dukungan terhadapnya.



Saya heran, tak adakah kawan-kawan D atau F yang mengritik mereka?
Dan siapa yang skrinsyut? Apakah yang melakukan skrinsyut sudah melakukan kritik pada D dan F? Ataukah mereka gak berani mengritik terang-terangan dan menyebarkan skrinsyut ke luar?

Bila demikian, saya turut berduka pada D dan F karena memiliki kawan-kawan yang buruk, yang tidak mengingatkan. Bahkan yang tak setuju pun bersikap pengecut.

Saya justru belum melihat pola yang sama pada dua jejaring yang kebetulan saya ikut (disclaimer, saya tidak punya akun Path), Twitter dan Facebook. Sebaliknya di Twitter maupun Facebook, ada status kontroversial, niscaya akan dihujani oleh kawan-kawannya atau bahkan kawan dari kawan-kawannya. Bahkan karena sering kali pengguna malas menyetel privasi, yang menghujani bukan sekedar kawan dari kawan tetapi juga orang yang tak kenal sama sekali.

Jangan-jangan,
D dan F adalah korban rasa keamanan semu karena setelan privasi Path dan lupa peribahasa zaman dahulu, ditutupi bagaimanapun, bau bangkai akan tetap keluar.

Saya pribadi, dalam menulis di jejaring sosial, saya menerapkan aturan standar,
kalau saya mengatakan sebuah pernyataan di depan umum, maka saya tidak akan mengeluarkan pernyataan tersebut di jejaring sosial. Ada pepatah, "mulutmu, harimaumu", maka sekarang bisa diganti "jari-jarimu, harimaumu".


Wednesday, March 26, 2014

[Review] The Raid 2 Berandal - The Story of Rascal (spoiler.. a lot of spoiler)

Warning:
This is a review of The Raid 2 Berandal, based on the story.
Avoid this review if you do not want to be spoiled.




"Bapak minta maaf sama mereka.. pakai bahasa mereka.. di tanah kita"
(How could you apologize to them, using their language, in our land)
-- Ucok


Ucok (Arifin Putra), was the prince of Bangun (Tio Pakusadewo) family. He thought he would have his own charisma as how his father was. He was wrong. He got into a fight with another spoiled brat and was taken into prison. In the prison, he knew better, he should use his father name to scare people instead of relying on his own. He gathered a group of muscle man to protect him, lead by Beni.

Those run well at the beginning. The prison guards let him walked with his gang, even let him brought knife everywhere inside the prison. Until a new guy came into prison and put on a show. Several person was beaten by the new guy alone in the toilet stall and this guy refused Ucok's offer to be part of his men.

The new guy was Yudha (Iko Uwais), a man from nowhere, not affiliated to any group. Eka (Oka Antara), Bangun's caretaker, had run a background checking and confirmed to Ucok, Yudha did not came from any rival groups. Ucok took interest on him. But not until the incident of the prison riot, he could gain friendship from Yudha. In the riot itself, Ucok learnt that he couldn't trust anyone, not even his own men.

Two years later,
when Yudha had been released from prison, Ucok personally picked him and drove him to his father. Ucok wanted Yudha to be part of his family. His father approved and put Yudha to be Ucok bodyguard. Yudha himself had successfully proven to be a great killing machine in his first task.

Somehow, being a bodyguard, didn't mean Yudha would follow whatever Ucok wanted. The Karaoke incident told Ucok that Yudha had his own thought. While Yudha might be a killing machine, it seemed he could not enjoy the nightlife as other thugs. Worse, it seemed Yudha had his own moral code.

Meanwhile, the Karaoke incident made Ucok learnt that while his father was in power, it didn't make all people respect him. Yes, some people may aware of his father existence and afraid to insult him yet it didn't stop the other people to disobey Ucok. It didn't make Yudha, his own bodyguard, obey him either.

And then, a mysterious call came. It offered Ucok to fullfill his ambition, to raise him into a new respected guy in a higher position than he was. The call came from Bejo and he invited Ucok to his restaurant.



"Jadi tukang sampah pun saya sudah lebih sukses dari ayah saya "
(by being a simple garbage man, I would have been considered as
more successful man than my father ever was)" -- Bejo

Bejo (Alex Abbad) came from a low class. He kept reminding himself how he came from a low class and he did not shy to tell that to other people, including his enemies. He was a social climber, a calculated one. He knew who should be ridden and who should be taken as company.

His action, no matter how aggressive it was, was still considered as a small thing. Even though some Yakuza had suspect his move, they could not lay hands on him since the scope of his action was small enough. The best they could do was report him to Bangun.

However, Bejo was now ready to take a giant leap. He invited Ucok to his restaurant and offer him to build his own legend, to create his own charisma. In a humble proposal, he told Ucok that he only wanted a small land with no liability of protection money.

Bejo told Ucok that to create a legend, they need a war. They had to unbalanced the structure so they could rebuild a new empire. Ucok had to sacrifice his own palace to raise the battle cry.

And then start the battle scene which being praised by the audience in Sundance and SXSW Festival 2014.

Arifin Putra, I've seen him in previous Indonesia film, Badai di Ujung Negeri and I was surprised he could actually act. The most amazing scene of him and also the scariest one was the Karaoke. That was so real and Yudha, the good guy, couldn't do anything on that scene. The karaoke girl could be slashed to death and there was nothing the protagonist could do.

Alex Abbad, I loved when he played in Merantau. I knew I would be in treat when I heard he would be Bejo in this movie. And he didn't disappoint.

Oka Antara. I have seen his movie a lot. Most of them were about being a kind and full of smile guy. I knew he tried to be different character. One of his movie where he tried to be 'bad guy' was Killers directed by Mo Brothers, yet I still saw him as a nice and kind guy. In The Raid 2, he was different. He became a serious guy on his job and there was no good guy anymore.

Tio Pakusadewo. Uncle Tio is a senior actor, just like uncle Ray Sahetapy who played as Tama in the first movie. Here, he played Bangun, an old father who wished his son could learn patience.

Yayan Ruhiyan. The Mad Dog of The Raid Redemption, returned as a totally different character. He played as an assasin and also an old servant of Bangun family. In return, Bangun family considered him as a close member of the family. When Ucok needs someone to express his anger, he would call Prakoso, the servant.


Wednesday, January 08, 2014

Surat Terbuka dari Narablog untuk Para Caleg

Assalammu’alaikum Warrahmatullahi Wabarakatuh

Yang terhormat,
para calon legislatif,
baik DPR maupun DPD,

Perkenalkan, saya, salah satu pemilih yang berniat untuk tidak golput namun tidak tertarik memilih partai melainkan individu, mengeluarkan uneg-uneg di hati.
Salah satu kawan FB saya telah proaktif mengumpulkan data rekam jejak tentang kalian, walau baru terbatas pada para caleg DPR dan ia letakkan penelusurannya di blog khusus berikut: 

Blog tersebut cukup informatif dan membantu saya untuk menandai prospek nama-nama yang akan saya pilih nanti. Namun saya ingin langkah kampanye proaktif dari kalian.

Saya termasuk orang yang jarang di rumah sehingga, jujur, bila anda datang ke masjid di perumahan saya atau ke posyandu, kecil kemungkinan anda bertemu dengan saya. Namun saya termasuk orang yang cukup sering mengintip internet jadi berikut saran saya untuk anda agar informasi yang anda sebarkan di internet menarik saya dan tentu saja menarik orang-orang macam saya.

1. Dokumentasikan Setiap Hal di Kunjungan Anda
Saya melihat kalian sekarang rajin mengunjungi masyarakat. Itu hal yang tepat dan saya tetap menyarankan begitu. Namun saya merasa dokumentasi berupa foto atau berita kurang cukup untuk menampilkan kapasitas anda. Saya menginginkan anda membuat semacam laporan kerja, tidak harus formal, tetapi memuat informasi yang menunjukkan bahwa anda cakap dalam mengorek cerita dan masalah.

Misalkan begini, anda berkunjung ke sebuah pasar tradisional. Umumnya yang saya lihat hanya berita bahwa anda pergi ke pasar. Tetapi usaha minimal yang ingin saya lihat adalah, anda bisa menyebutkan harga rata-rata cabai berapa dan apakah menurut pedagang dan pembeli harga tersebut pantas. Semakin anda pandai mendekati rakyat, niscaya akan semakin banyak hal yang bisa anda ceritakan seperti perjalanan harga cabai dari masa ke masa, jasa transportasi yang digunakan oleh para pedagang untuk mengurangi biaya angkut sehingga untung bisa lebih banyak, berapa persen dari keuntungan yang harus diberikan pada pengelola pasar, berapa yang merupakan pungutan tanpa dasar.

Anda bisa menunjukkan kemampuan persuasif anda, kemampuan membujuk anda, sekaligus membuktikan niat anda untuk mau mendengar cerita rakyat dan anda juga memberikan kesadaran dan informasi kepada kami tentang lingkungan kami.

2. Analisa Sebagian Hal yang Anda Jumpai di Kunjungan
Anda menginginkan kami memilih anda untuk mewakili kami membuat kebijakan dan mengawasi alokasi dana yang akan digunakan oleh pemerintah. Maka saya ingin anda menunjukkan pada kami, seberapa cerdas anda, setelah berhasil menemui sejumlah masalah, menganalisanya dan membuat skema solusi. Anda harus menunjukkan pada kami bahwa anda mumpuni.

Sebagai contoh, anda telah berkunjung ke pasar dan mendapatkan semua data yang mempengaruhi harga cabai. Anda bisa membuat analisa faktor-faktor apa sajakah yang bisa diakali sehingga harga cabai tetap murah namun memberikan keuntungan besar bagi penjual dan petani cabai. Anda bisa membandingkan menceritakan kebijakan-kebijakan apa yang menimpakan beban biaya pada cabai hingga di tangan penjual akhir. Anda bisa membandingkan cabai lokal dan cabai impor, melihat apakah ada ketimpangan kebijakan. Anda juga bisa mengutip pendapat yang kontra pada solusi anda dan membantahnya atau mengutip pendapat yang pro pada solusi anda.

Tentu saja tidak mungkin semua kunjungan anda dibuat analisisnya dan toh, kenyataannya nanti di tempat kerja anda, anda akan dibagi-bagi menjadi komisi-komisi. Anda tidak diharapkan untuk menyelesaikan semua masalah. Tapi saya ingin melihat bahwa anda bukan tipe si pandir dalam pembahasan rapat-rapat yang akan anda jumpai kelak. Di komisi manapun anda ditempatkan, masalah apapun yang akan anda hadapi kelak, anda adalah tipe yang siap mengumpulkan data, siap untuk berpikir.

3. Terbuka dan Jujurlah
Sederhana saja,
sebutkan kesalahan anda yang anda siap untuk mengakui.
Apakah ada obyek pajak yang anda miliki dan belum anda laporkan?
Apakah anda pernah ditilang di masa lalu?

Anda bisa menceritakannya dengan gaya komedi, atau dengan tersipu-sipu, atau dengan diplomatis. Yang penting, ceritakanlah kesalahan yang pernah anda lakukan.

Tidak ada orang yang bersih dari dosa. Kami perlu tahu apakah anda tipe mengelak dari kesalahan atau anda tipe siap mengakui kesalahan bila kelak anda melakukannya.

Salam Hormat dari Saya,
Narpati Wisjnu A. Pradana
atau Kunderemp

Thursday, December 26, 2013

Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck (Film) -- Mengapa Novelnya Jadi Perseteruan antara Pramoedya (Lekra) dengan Jassin (Manikebu) ?


Dalam silaturrahim keluarga, Om Jacob Soemardjo, pernah berkata padaku, hakikatnya sebuah karya yang bagus itu, ketika dikupas satu lapis masih ada lapisan makna lain. Sebagai seorang pemuda saat itu, saya hanya bisa mengangguk tak membantah walau dalam hati bertanya, adatah roman Indonesia yang memiliki karakter seperti yang disebut beliau.

Semalam, saya baru saja menyadari saya baru saja menonton adaptasi dari salah satu karya yang berlapis makna.

Alkisah, siang kemarin, saya ditraktir nonton Tenggelamnya Kapal van Der Wijck oleh ibu saya. Saya bersiap untuk tidak menyenanginya mengingat banyak komentar kawan yang kecewa. Tak kusangka ternyata saya menyukai filmnya atau lebih tepatnya menyukai ceritanya. Saya malah bisa mengabaikan bagian-bagian yang tidak akurat di film ini. Saya tidak rewel seperti ketika saya menonton film Soekarno: Indonesia Merdeka.

Beberapa kali ada bagian-bagian yang bikin saya terhenyak, "Hamka menulis ini? Menghina adatnya sendiri"? Ada beberapa bagian di mana tokoh sampingan Bang Muluk seperti menjadi perwakilan perasaan kesal penonton, "Engku itu seorang yang berpengetahuan! Kenapa menghancurkan diri demi perempuan". Bahkan ada bagian yang membuat saya menahan nafas, dan ketika kulihat para penonton, yang sebelumnya ramai komentar sana-sini, di bagian itu pada kompak tak bersuara.

Seusai menonton, seperti biasa, saya dan Ibu berdiskusi membahas film yang kami tonton. Kami membahas apakah di tahun 50-60-an adat Minang masih ketat sehingga novel Hamka laris dan Ibu pun lancar bercerita tentang percintaan antar suku di antara kawan-kawan kuliah beliau yang mengalami hambatan tersebut.

Tapi saya belum dapat jawaban, mengapa Pramoedya sangat memusuhi novel ini. Mengapa Jassin sangat membela novel ini. Kenapa ketika Jassin menerjemahkan novel Prancis, Magdalena - Di Bawah Pohon Tilia, yang konon jadi sumber Hamka menjiplak, agar masyarakat bisa menilai sendiri, Pram dan Lekra tetap bersikukuh mengerdilkan novel ini? Dan mengapa, Pram diancam oleh Penguasa Perang Daerah Jakarta untuk tidak meneruskan polemik tersebut?

Jawaban standar para pendukung Hamka di masa sekarang tidak memuaskan, 'Hamka adalah seorang ulama, karena itu dia diserang Pram'.

Tidak!
Pram seorang sastrawan Lekra. Pramoedya Ananta Toer tidak sekerdil itu. Ia tidak akan menyerang sebuah karya hanya karena penulisnya berseberangan politik dengannya. Masalah pasti ada di karya itu sendiri.

Dan tengah malam ku terbangun. Tiba-tiba imajiku melayang, membayangkan, di tahun 1962 itu, Pram, membaca novel yang sudah terbit berkali-kali, dan menyadari sebuah pesan yang kontra-revolusi, yang bertentangan dengan revolusi yang ia perjuangkan bersama Bung Karno. Dan ia memutuskan, novel ini harus dijauhkan dari masyarakat, dikerdilkan, dianggap sebagai sampah sehingga tak ada rakyat yang membacanya.

Saya sendiri belum pernah membaca tulisan Pram, tetapi saya yakin argumennya pasti meyakinkan sehingga sastrawan seperti Jassin memeriksanya, menemukan kesamaan, menyadari bahwa tuduhan Pram memiliki dasar kuat. Tapi Jassin juga menemukan bahwa novel ini harus dibela, novel ini tidak boleh terkubur oleh tuduhan plagiarisme.  Rakyat justru harus membaca novel ini, jangan mau didikte oleh Lekra.

Menurut Wiki (yang artinya fakta Wiki sebenarnya tak boleh dianggap sebagai referensi tetapi bolehlah pakai sebentar sampai ada yang mengoreksi), novel ini pertama kali terbit tahun 1938 (dan cerita di film juga berakhir tahun 1938, entah bagaimana versi novel) namun kemudian diterbitkan lagi pada tahun yang tak diketahui dan terbitan ketiga mulai tahun 1951 dan diterbitkan ulang sepanjang tahun 50-an dan awal 60-an hingga akhirnya dikerdilkan oleh Pram di tahun 1962.

Sebelum dilanjutkan, saya harus jujur  bahwa saya belum membaca novelnya. Saya menyandarkan pada kata-kata Akmal Nassery Basral di status facebooknya bahwa:

"Tim skenario (termasuk Sunil di dalamnya, selain Imam Tantowi dan Donny Dhirgantoro) memilih setia pada plot kisah yang dikembangkan Buya Hamka. Tak ada puntiran, sisipan, pengubahan, pengembangan, alur kisah dari yang sudah dikenali publik yang, sedikitnya, pernah sekali membaca roman itu. Jadi dari sisi ini, Sunil berhasil menjadikan film ini sebagai "palapeh taragak" (pelepas rindu) terhadap Buya Hamka. "

Untuk memahaminya, mesti mengetahui latar belakang budaya yang diangkat oleh Hamka, yakni Minang.

Saya mengenal Minang dari para Bapak Bangsa kita yang berasal dari suku ini, seperti Mohammad Hatta, Sutan Sjahrir, Agus Salim, Mohammad Yamin, dan lain-lain. Saya ingat bahwa mereka semua punya persamaan, mereka semua demokrat, dalam arti bisa diajak berunding, percaya pada kebebasan mengemukakan pendapat. Hatta pernah mengatakan bahwa sikap demokratnya itu terbentuk karena demokrasi desa yang ia dapat di kampungnya, bukan karena ikut-ikutan 'barat'.

Iya, saya mengerti bahwa di tahun 1930-an, adat Minang cukup ketat mengatur pernikahan. Marah Rusli menuliskannya dua kali, dalam Siti Nurbaya dan kemudian Memang Jodoh. Yang belakangan diterbitkan 50 tahun setelah ia wafat agar tokoh-tokoh yang bersangkutan sudah wafat.

Namun tetap, ketatnya adat yang digambarkan penulis seperti Marah Rusli tak menghapus kekaguman saya pada budaya Minang yang menjunjung musyawarah untuk mufakat dan ironisnya justru musyawarah itulah yang diserang di film ini, asumsi saya juga ada di novelnya. Setidaknya ada dua adegan di mana justru adat musyawarah ini yang diserang.

Adegan pertama serangan terhadap adat musyawarah adalah ketika tokoh utamanya dilarang ikut dalam musyawarah karena dia bukan orang Minang. Karakter utama di novel ini hakikatnya seorang Minang dari sisi ayah namun tak diakui sebagai Minang di kampung halaman ayahnya sendiri bahkan ketika dia tinggal di kampungnya.

Ini adalah serangan bagi demokrasi semu, di mana orang-orang yang punya andil, punya hak untuk ikut dalam rapat yang menentukan nasib baginya, dikucilkan dengan label yang dibuat-buat. Di masa Belanda (ketika novel ini ditulis), kita memiliki Volksraad, semacam perwakilan untuk rakyat Indonesia menyampaikan aspirasinya, walau dalam kenyataannya tak semua berhak berada di dalamnya, hanya yang mau dan bersedia cooperatie dan tidak revolusioner yang boleh duduk. Begitu juga di masa Demokrasi Terpimpin, hanya partai-partai dan kelompok-kelompok yang tidak kontrarevolusi lah yang boleh ikut andil dalam pemerintahan.

Adegan kedua serangan terhadap adat musyawarah adalah ketika para ninik-mamak sepakat untuk menolak lamaran karakter utama dan menerima pinangan yang satu lagi, dari pria yang Minang tulen. Suara yang meminta kesediaan menimbang hakikat Minang mereka bungkam. Dan dengan halus menekan karakter wanita untuk menerima keputusan, menyatakan dengan lisannya.

Begitu jugalah karakter demokrasi semu, wadah perwakilan semu, ketika suara sumbang mereka bungkam dan pihak yang terkena dampak mereka paksa untuk setuju. Tak ada kebebasan individu menyatakan haknya.

Adalah sebuah ironi dalam kisah selanjutnya, ketika ninik-mamak yang bangga pada adat Minang yang 'beradat, berbudaya', dalam keputusan melalui musyawarah justru memilihkan pria yang salah untuk wanita mereka sementara yang mereka usir justru pria yang baik.  Di sinilah, Hamka menyerang lagi bahwa demokrasi pun juga bisa membuat keputusan buruk, apalagi bila mereka yang berada di dalamnya tercemari oleh ujub, tinggi hati, takkabur.

Di sinilah, kisah Tenggelamnya van der Wijck menawarkan alternatif dari musyawarah, yakni 'cinta' sesuatu yang dianggap sebagai 'khayalan belaka', 'cuma ada di kitab-kitab' bahkan 'melemahkan', tetapi ternyata akhirnya menguatkan karakter utamanya.

Begitu juga di masa kolonialisme Belanda, semangat nasionalisme para aktivis diejek para profesor sebagai khayalan tetapi toh nyatanya sebuah semangat kebangsaan khayalan, imajiner, yang sesungguhnya cuma berdasarkan persamaan nasib ini nyatanya bisa bersatu dan kelak memproklamasikan dirinya sebagai negara.

Begitu juga di masa demokrasi terpimpin, hak-hak berbicara dipasung, humanisme dicerca sebagai 'melemahkan revolusi', agama dianggap sebagai khayalan yang menguatkan posisi tuan tanah dan melemahkan buruh tani. Toh motivasi 'khayalan' yang 'melemahkan revolusi' ini menguatkan perlawanan mereka yang percaya.

Saya tidak tahu dengan novel Magdalena: Di Bawah Pohon Tilia tetapi novel Tenggelamnya Kapal van der Wijck adalah novel yang berbahaya. Saya, yang belum membaca novelnya, bersyukur ada yang mengadaptasi ke layar lebar (mungkin saya harus mencari novelnya), akhirnya paham mengapa Lekra terancam oleh novel ini dan berusaha mengerdilkannya sebagai karya plagiat.




Pustaka sambil lalu saat menulis ini:
- Akmal Nassery Basral https://www.facebook.com/akmal.n.basral/posts/10152149836837780 (terakhir diakses 26 Desember 2013)
- Wikipedia Berbahasa Indonesia, Tenggelamnya Kapal van der Wijck . http://id.wikipedia.org/wiki/Tenggelamnya_Kapal_Van_der_Wijck
- dan sejumlah artikel blog yang membahas tentang polemik 'Tenggelamnya Kapal Van der Wijck'.

Saturday, November 30, 2013

Ide Film terinspirasi Kasus Siska Makatey dan Dugaan Malpraktek Dr. Ayu

Setelah membandingkan kedua dokumen putusan Pengadilan Negeri Manado NO.90/PID.B/2011/PN.MDO dengan putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia Nomor 365 K / Pid / 2012, kayaknya kasus ini cocok banget buat film.

Ayolah.. Kapan terakhir kita membuat film berdasarkan kasus hukum yang benar-benar terjadi di Indonesia dan filmnya 'mencerahkan' publik tentang aspek hukum kasusnya? Rasanya gak pernah. Kayaknya paling banter cuma dari sisi emosional. Lebih parah lagi, ada yang bikin film cuma dari sisi 'darah' lalu ditambah aspek sekwilda.

Kasus ini cocok untuk jadi film tiga babak, tidak harus ada klimaks, bisa juga ditutup dengan non-klimaks. Yang penting, begitu selesai menonton, para penonton merasa tidak nyaman dan menggosip kepada sesama penonton lainnya.

Oke, begini rincian film fiksi -- Ya! Mesti disebut sebagai film fiksi kalau perlu nama karakternya diubah sekalian --  yang terinspirasi dari kisah nyata tersebut :




BABAK PERTAMA adalah dari sudut pandang Ibu Sisca. Pokoknya trailer film ini sebagian besar bakal berasal dari babak pertama. Babak pertama harus mengharukan dan bikin banjir air mata para penontonnya*lebay*. Akhir babak pertama adalah si Ibu melihat benang di hidung sepanjang 2 cm dan melaporkan pada kepolisian. Tentu saja penggarapannya harus membuat kesan ambigu apakah sang ibu benar-benar melihat kejanggalan ataukah itu efek dari limpahan emosi sepanjang hari.




BABAK KEDUA adalah Pengadilan Negeri Manado. Ini babak paling sulit untuk digarap. Tetapi bayanganku ya.. bakal seperti serial TV Law and Order. Walaupun temanya pengadilan yang sebenarnya membosankan tetapi harus digarap menarik. Misalnya bagaimana si Ibu membantah kesaksian terdakwa.

Babak kedua bakal berisi bagaimana para jaksa berusaha menunjukkan bahwa terdakwa sebenarnya tidak punya izin praktek dan tidak punya pelimpahan wewenang, bagaimana terdakwa mengabaikan catatan medis dari surat rujuk Puskesmas, bagaimana terdakwa memalsukan tanda tangan korban. Sementara terdakwa membela diri dengan menceritakan dari sudut pandangnya, bagaimana mereka melakukan kegiatan mereka hari itu dengan flashback menunjukkan bahwa mereka memeriksa ulang kondisi bukaan pasien dan memutuskan ada kemungkinan bisa melahirkan normal kemudian setelah pukul 6 mereka gelisah karena belum melahirkan juga dan mereka memutuskan untuk melakukan operasi.

Di babak kedua ini juga, penonton akan dibawa tentang birokrasi perizinan praktek dokter di mana ada saling tuding antara Dekan dengan Dinas Kesehatan. Kalau perlu di sini nanti ada babak di mana para terdakwa, agak menangis, menunjukkan bahwa mereka sudah dipercaya di rumah sakit untuk melakukan 100 kali pembedahan Cesar dan tidak ada masalah. Rekan-rekan mereka juga akan membela mereka di mana mereka berpendapat bahwa para terdakwa sudah mandiri walau ada yang berpendapat bahwa mandiri dalam hal ini masih dalam pengawasan. Nanti juga ada bagian di mana pembela menunjukkan keputusan Mahkamah Konstitusi No.4/
PVV-V/2007 tanggal 19 Juni 2007 yang membuat majelis hakim Pengadilan Negeri memutuskan bahwa ketiadaan praktek Surat Izin Praktek  bukan ranah pidana.

Babak kedua juga akan membawa penonton mengenai emboli, penyebab kematian Sisca. Bagian ini mesti mirip-mirip CSI, nanti ada orang forensiknya segala. Termasuk membantah kesaksian Ibu Sisca di babak pertama mengenai benang di hidung. Intinya, majelis hakim percaya bahwa prosedur operasinya sudah benar dan bukan penyebab kematian.

Majelis Hakim di babak kedua ini mengabaikan dakwaan mengenai tanda tangan palsu karena menganggap tidak ada yang bisa membuktikan siapa yang membubuhkan tanda tangan tersebut walau tanda tangan tersebut dinyatakan sebagai rekaan.

Babak kedua ditutup dengan pernyataan bahwa terdakwa tidak bersalah dan diputuskan bebas dari semua tuntutan.



BABAK KETIGA diawali dengan sidang di Mahkamah Agung. Saksi Ahli di Mahkamah Agung menyatakan bahwa dari pertama masuk UGD, seharusnya berdasarkan rujukan, sudah dianggap sebagai keadaan darurat, bukan dibiarkan begitu saja. Selain itu mungkin akan ada adegan di mana para hakim mencecar para terdakwa dengan pertanyaan ulang dan mengungkap ketidaktahuan terdakwa obat apa saja yang ada di infus. Ditambah dengan fakta (cuma sekilas ditunjukkan di babak pertama) bahwa ibu korban pernah ditolak apotek karena membeli obat yang sama dua kali. Hal ini meyakinkan hakim bahwa terdakwa telah lalai.

Hakim juga mencecar terdakwa, bagaimana mungkin sebuah tindakan cesar darurat yang sebenarnya tidak membutuhkan permohonan izin tetapi ternyata malah ada surat persetujuan tindakan. Majelis Hakim menganggap tindakan ini sebagai ketidakkonsistenan kesaksian. Hakim di Mahkamah Agung juga cenderung berpihak pada keluarga korban dengan tidak mempercayai bahwa para terdakwa sudah menjelaskan resiko operasi. Hakim menganggap, bahwa setelah peringatan operasi memiliki resiko tinggi, kewajiban menjelaskan pada keluarga korban tidak ditunaikan tetapi terdakwa sibuk membuat surat persetujuan tindakan.

Para saksi ahli saat persidangan Mahkamah Agung tidak secara eksplisit menyatakan tindakan operasi yang dilakukan oleh terdakwa menyebabkan kematian korban. Namun hakim melihat pertimbangan bahwa ada kemungkinan kematian korban akibat komplikasi dan reaksi tubuh korban akibat obat dan ketidaktahuan para terdakwa mengenai obat apa saja yang telah diberikan kepada korban, inisiatif terdakwa yang kurang untuk melakukan rekam medis seperti pemeriksaan jantung EKG sementara surat rujukan sudah memberi peringatan riwayat buruk kesehatan korban adalah bukti kelalaian terdakwa.

Selain itu keberadaan tanda tangan rekaan sudah cukup bagi Mahkamah Agung untuk menunjukkan pemalsuan tanpa harus dibuktikan siapa di antara ketiga terdakwa yang membubuhi tanda tangannya.

Babak Ketiga ditutup dengan wajah ketidakpuasan rekan-rekan terdakwa yang menghadiri sidang.

Nanti di credit-title bakal ada semacam fakta sekilas seperti nasib ketiga terdakwa, apakah Peninjauan Kembali sukses atau tidak dan juga tentang reaksi rekan-rekan sejawat mereka.

Nah,
yang susah untuk bikin film ini adalah..
Bagaimana caranya membuat ambigu.