Tuesday, January 02, 2007

Simpati yang Salah

Tadi pagi aku tersentak mendengar berita kriminal di TV. Penyiarnya mengatakan "seorang siswa SD belajar motor tewas dibunuh dan motornya dirampas".

Sayangnya, mendengar kalimat panjang itu, yang terbayang oleh masyarakat kita adalah "seseorang yang belajar motor tewas dibunuh dan motornya dirampas". Mereka lupa bahwa peristiwa "seorang siswa SD belajar motor" sudah merupakan sebuah tindakan melawan hukum. SIM C (SIM untuk sepeda motor) baru bisa diambil jika ia sudah berusia 16 tahun (sekitar kelas 1-2 SMU).

Bahwa sang siswa kelas enam SD bisa tewas dibunuh saat belajar motor, berarti ia belajar motor lepas dari pengawasan. Selain itu usianya juga masih terlalu dini untuk belajar motor.

Sama halnya dengan kisah seseorang yang belanja DVD bajakan lalu dipalak ATM-nya oleh polisi gadungan. Bahwa dia membeli DVD bajakan saja sudah salah. Ketidaktahuannya tentang hukum juga membuat dia mudah diperdaya. Selain itu, kemalasannya berurusan dengan hukum, keinginannya untuk mengambil jalur damai akhirnya membuat ia menyerah dan dipalak.

Sama halnya dengan kasus Smackdown. Para orang tua dan dewasa baru bereaksi setelah ada kasus. Padahal mereka lah yang membiarkan anak-anak mereka menonton tayangan tersebut tanpa pengawasan.

Ada seorang ibu yang mengakui bahwa ia sudah melarang anak-anaknya nonton tetapi anak-anaknya bandel dan tetap nonton. Padahal, di masa lalu, orang tua pasti langsung mematikan TV-nya dan cerita berakhir di situ.

Bahkan dalam peristiwa-peristiwa tersebut, tampaknya tidak ada orang dewasa yang berupaya untuk mencegah anak-anak tersebut meniru adegan yang sama di TV. Bagaimana mungkin seorang remaja 15 tahun bermain kekerasan dengan anak 9 tahun tanpa ada yang mencegah? Bagaimana mungkin seorang anak 9 tahun bermain Smackdown dengan anak perempuan 6 tahun tanpa ada yang mencegah?


..................................................

Memang, pembunuhan anak SD itu tidak bisa dibenarkan oleh alasan apapun. Pemalakan dan pemerdayaan pembeli DVD bajakan tersebut tidak bisa dibenarkan sama sekali. Tayangan Smackdown mungkin menyumbang kenaikan agresivitas anak-anak sehingga perlu adanya koreksi terhadap tayangan tersebut.

Namun, semua peristiwa kriminal tadi juga tidak lepas dari kesalahan masyarakat sendiri. Semua peristiwa kriminal tadi juga tidak lepas dari kesalahan korban. Kitalah yang membiarkan peristiwa-peristiwa seperti itu terjadi. Kita ikut berdosa. Kita ikut bersalah.

Kapankah kita menyadari bahwa, mungkin semua peristiwa tadi bisa diminimalkan? Kapankah kita menyadari bahwa mungkin semua kejadian tadi bisa dicegah? Kapankah kita mau mengakui bahwa kita juga salah dan tidak sekedar menuding orang lain?

5 comments:

aldi said...

kurang setuju sama pendapat kalau anak SD belajar motor itu salah, terlepas dari ada atau tidaknya pengawasan. yang salah itu kalau anak SD itu bikin SIM :)

anak SD boleh kok belajar tentang diferensial, integral, walau itu pelajaran SMU :D

kunderemp said...

Analogi adalah senjata ampuh berargumen yang sangat berbahaya karena seringkali menyesatkan.

Tidak ada persyaratan khusus untuk belajar dan mempraktekkan differensial dan integral selama anak SD tersebut mampu. Tetapi mempraktekkan ilmu kimia tidak sembarangan walaupun itu dalam rangka belajar.


Pengemudi kendaraan bermotor (termasuk sepeda motor tentunya) wajib membawa SIM (dan STNK) saat mengemudikan kendaraannya (Pasal 211 PP No. 43 Tahun 1993).

Mungkin anda bakal bertanya, lalu bagaimana orang yang sedang belajar bisa mempraktekkannya di jalan sementara untuk mengemudi membutuhkan SIM, sementara dia sedang belajar untuk mendapatkannya?

Jawabannya ada di definisi pengemudi pada PP yang sama (Pasal 1 (12) PP No. 43 tahun 1993):
Pengemudi adalah orang yang mengemudikan kendaraan bermotor atau
orang yang secara langsung mengawasi calon pengemudi yang sedang
belajar mengemudikan kendaraan bermotor;


Di sini jelas bahwa belajar mengemudikan kendaraan bermotor wajib diawasi.

Kebetulan dalam hal ini, si bocah yang menjadi korban. Sekarang bayangkan kalau si bocah yang menyebabkan kematian orang lain? Misal si bocah, yang belajar motor, pergi jauh dan menabrak seorang nenek di pasar hingga nenek tersebut menemui ajalnya. Apakah bocah tersebut bisa membela diri bahwa 'ia sedang belajar'? Siapa yang tanggung jawab?

Si Bocah?
Enak saja... Yang tanggung jawab harusnya adalah yang membiarkan si Bocah belajar mengendarai motor tanpa pengawasan.

Di sini kita harus tegas.
Yang salah adalah salah.. Titik!
Jangan mencoba menghindar dengan argumen-argumen ngawur.

Anjar said...

bukannya media tuh biasa membesar-besarkan masalah ya biar oplahnya tinggi

kunderemp said...

Media massa memang cenderung membesar-besarkan masalah tetapi yang mereka angkat adalah sesuatu yang (mungkin) ingin didengar oleh masyarakat.

Bila ada sebuah tragedi dengan banyak faktor seperti itu, manakah yang lebih ingin didengar oleh masyarakat kita?

Apakah berita yang mengangkat tragedi itu dengan mengutuk pihak lain (perampok, pengusaha stasiun TV, pemerintah, pemilik jasa angkutan) ataukah berita yang mengangkat tragedi sama namun mengritik kebiasaan masyarakat yang menyebabkan tragedi itu terjadi?

Btw, nJar.. Kapan istrimu diperkenalkan ke kami?

narpen said...

hahaha.. klo aku tersentak eh tertipu dengan judul posting ini. kirain mah tentang simpatinya telkomsel ^_^ jauh bener