Saturday, October 11, 2008

Ketika Si Sakit Semaput di Bis Antar Propinsi (Amerika Serikat)






"Can you go to hospital?"
"Hey! Are you allright"

Aku terbangun dari tidur ayam di dalam bis. Ternyata ada penumpang di belakang yang sedang menderita.

"Call 911, please!"

Aku masih ngucek-ucek mata dan menengok ke belakang. Para penumpang di belakang pada berdiri. Ada seorang wanita hitam yang berkali-kali bertanya "Are you alright? What we can do for you?".

Kemudian terdengar jawaban lemah yang tak bisa kudengar. Wanita hitam tersebut kemudian berkata pada pria kulit putih botak, "he said his medicine was on the bag on the front".

Pria kulit putih tersebut maju ke bangku paling depan, mengecek tas yang ada di atas bangku tersebut, mengambil obat dan suntikan. Tampaknya insulin. Ada beberapa penumpang yang juga baru terbangun di bis dan bertanya-tanya.

"Someone got sugar attack!".

Pria kulit putih tersebut mencoba menyuntikkan obatnya pada pria yang pingsan tersebut. Pria berkulit hitam tersebut tidak menunjukkan tanda baik. Ia memejamkan mata.

"Hey! Don't let him fall asleep. He might unable to wake up again if he fall asleep"

Wanita kulit hitam yang dari tadi berada di dekat si penderita menampar-nampar kecil pipi penderita. "Please, stay awake. We don't want anything bad happened to you"

Wanita kulit hitam tadi kemudian mencari sesuatu di tasnya, kue-kue manis.

Seseorang yang cemas berteriak lagi, "Call 911, please!"

Sang sopir menjawab yang kemudian ditegaskan oleh penumpang di bangku depan, "we are heading toward hospital now!".

Kemudian tampaklah rumah sakit di depan kami dan kami pun berbelok ke dalamnya.

"Go to the emergency room!".

Kami pun berhenti di gerbang Emergency. Pria kulit putih tadi langsung masuk ke dalam.

"Anyone, please go outside. He need way to go out". Dan kami pun berbondong-bondong keluar memberi jalan bagi si sakit.



"Please stand still. The doctor will come".

Dan tak lama kemudian, pria kulit putih tadi datang bersama dokter dan suster.



"what is the problem".
Dan sopir bis, wanita kulit hitam dan pria kulit putih tadi menceritakan kronologinya.

Dan si sakit dibawa masuk ke dalam rumah sakit. Dan kami pun kembali masuk ke dalam bus. Si sopir ikut masuk ke dalam rumah sakit untuk membantu membuat laporan.

Sekitar lima menit kemudian, sopir kembali ke bis.
"Would you vacant the last seat so the guy can lay down, please? That guy refuse medical treatment."

Terdengar gerutuan dari beberapa penumpang. Kemudian tampaklah si sakit keluar dari gedung dan memasuki bis sambil dipapah oleh wanita kulit hitam dan pria kulit putih. Ada penumpang kulit hitam lain yang ngedumel (dengan logat khas kulit hitam), "you should stay in the hospital, Man!". Si sakit dengan merintih menjawab (dengan logat khas kulit hitam juga), "I'm far from home. Nobody will come from me".

Akhirnya bis berjalan menuju Birmingham, Alabama. Sepanjang perjalanan, pria kulit putih dan wanita kulit hitam tadi menemani si penderita. Setelah yakin si penderita bisa bertahan, barulah mereka ke kursi masing-masing.



BIRMINGHAM, ALABAMA
Di Terminal Birmingham, sopir langsung melapor. Sementara, sebagian besar penumpang turun untuk ke toilet atau untuk membeli makanan dan minuman. Ada juga yang turun untuk sekedar merokok (karena dalam bis benar-benar tidak boleh merokok). Si sakit, dengan tertatih-tatih sendirian mencoba ke bangku paling depan.

"Do you need help, Man?"

Si sakit tak menjawab dan trus berjalan ke depan dan duduk di bangku paling depan. Kemudian sopir datang beserta petugas Greyhound Bus yang kebetulan berkulit hitam. Petugas tersebut menginterogasi sebentar dan kemudian menegaskan, "You know you shouldn't travel in your condition, don't you?"

Tak jelas apa jawaban si sakit tetapi tampaknya ia tak bisa mengelak lagi.



Sementara, dua petugas 911 datang dengan truk pemadam kebakaran (tetapi membawa peralatan medis.. bingung, kan? hehehe).



Salah satu petugas mengecek kondisi si sakit dengan alat pengecek tekanan darah dan peralatan medis lain sambil menginterogasi si sakit sementara petugas yang satu dengan bantuan penumpang lain memberi tahu tas-tas mana saja yang merupakan milik si sakit.



Kemudian dua orang lagi datang membawa ranjang berjalan untuk membawa sakit. Dan si sakit akhirnya kami tinggalkan bersama para petugas 911.



Yang paling membuatku salut di sini adalah, si sakit adalah kulit hitam tetapi tidak ada tanda-tanda rasisme. Padahal, Alabama, kalau menurut film Harold and Kumar adalah negara bagian yang masih ada perkumpulan Klux Klux Klan.

Pria kulit putih yang berkali-kali menolong si penderita dari mencarikan obat, menyuntikkan obat, dan yang pertama kali meloncat turun dari bis untuk memanggil dokter, ternyata adalah seorang pengacara. Padahal wajahnya cukup seram, botak dan berjenggot..


Mungkin aku perlu banyak belajar.



7 comments:

pomponette! said...

wew....kaya nonton film :D

edratna said...

Wahh seru ceritanya....it's nice posting

Ramot said...

kaga semua orang di dunia rasis kale xD di harold n kumar jg kan cuma orang2 bego tertentu :))

Yulis said...

Ceritanya seru banget Mas, Hal yang paling saya sukai di US adalah tingginya penghargaan kepada kemanusiaan.

Salam kenal Mas Narpati/Ari, Nama saya Yulis saya juga baru di CO-US. Selama ini mengenal Mas dari blog Bunda. Salam kenal dan persahabatan bila berkenan. Terimakasih

tk said...

Iyah bener kayak di pelm2 nar. hehehe.... seru....

Catshade said...

But they still asked the black man to go to the back seat of the bus :D

*joking*

kunderemp said...

Memangnya Rosa Park.. hihihihihi

Diminta ke belakang, agar dia bisa berbaring untuk istirahat..