Tuesday, January 19, 2010

Sunday, January 03, 2010

Jacatra Secret

PERINGATAN:
Resensi ini adalah resensi bias. Mengapa bias? Karena artikel ini ditulis olehku yang tidak tertarik dengan teori Konspirasi.

Aku percaya 'tidak ada yang baru di bawah sinar matahari ini'. Berbeda dengan kritikus-kritikus 'snobbish' dadakan di internet yang sering melabel 'jiplakan' pada karya-karya dalam negeri, aku tak pernah meminggirkan sebuah karya dengan alasan 'menjiplak'. Toh, saduran adalah salah satu bentuk karya yang diakui dalam undang-undang hak cipta di negeri ini.

Sah-sah saja ketika seseorang tertarik dengan kesuksesan novel Da Vinci Code dan tertarik untuk membuat novel sejenis untuk pembaca di Indonesia. Sah-sah saja mengikuti formula yang sama, dengan membuat tokoh utamanya seorang sejarawan (atau bidang-bidang fiksi [seperti symbology -- yup, itu bidang fiksi yang tak diakui di universitas] yang nyerempet-nyerempet sejarah), dipanggil menjadi saksi ahli dalam kasus pembunuhan yang unik dan kemudian memecahkan misteri sambil melihat bangunan-bangunan misteri.

Toh, lagipula, gerakan Freemason pernah ada di Indonesia. Jadi apa salahnya membuat kisah kelompok rahasia yang sebenarnya sudah tidak rahasia lagi? (Sekedar catatan, gerakan Freemason terbuka terang-terangan di Amerika Serikat). Lagipula, pasti akan tampak keren bila bisa mengaitkan penguasa sekarang dengan kelompok rahasia.

Tentu saja, seperti halnya teori konspirasi yang menjadi basis novel ini, novel ini menderita penyakit sama yang menjadi kelemahan pertama novel ini.

KETIDAKAKURATAN
Butuh perjuangan besar untuk menyelesaikan novel ini, bukan karena novel ini susah dibaca melainkan banyaknya ketidaktepatan. Setiap kali kutemui hal yang keliru, aku harus berhenti, keluar jalan-jalan atau membaca komik dan setelah bisa memaafkan barulah aku kembali melanjutkan membacanya. Berikut adalah sebagian kecil contoh kesalahan yang ada di buku.

Di halaman 315 tertera:

"Dalam buku itu ada foto Hamengkubuwono VIII di tahun 1952 berkunjung ke Loji Mataram yang terletak di Jalan Malioboro, Yogya".


Saya terkejut membaca kesalahan yang mudah dideteksi ini. Begitu semangat kah penulis dalam mengikuti teori konspirasi sehingga tidak mengecek ulang? Ya! Hamengkubuwono VIII sudah wafat di tahun itu.

Kemudian, di halaman 389 tertulis:
"Lindsay Lohan. Si gadis Spiderman. Pada perayaan ulang tahun Lindsay yang ke-20 .....".
Bahkan anak-anak remaja yang apatis, tidak perduli dengan sejarah dan politik akan tertawa. Kita tidak berbicara tentang penulis skenario, sutradara, penata artistik yang namanya jarang dikenal. Kita berbicara tentang aktris yang mudah dicek ulang di situs seperti imdb.com. Ya! Lindsay Lohan tidak bermain dalam film Spiderman. Kirsten Dunst yang bermain sebagai Mary Jane Watson di trilogi Spiderman.

Lalu, di halaman 396 tercatat
"Wisnu adalah dewa pemeliharan keseimbangan alam semesta, lawan dari Dewa Syiwa 'Sang Perusak'".

Bahkan para hippies generasi tua penggemar Beatles yang masih ada di beberapa negara bagian di Amerika Serikat akan tahu pernyataan itu salah. Benar, 'Dewa Syiwa' adalah sang perusak tetapi tidak pernah 'dilawankan' dengan Wisynu. Novelis sebaiknya berhati-hati sebelum menggunakan terminologi agama lain.

Sementara, di halaman 384 melalui tokohnya, novelis berteori,
"Namun Monas, seperti juga Eifel Tower di Paris, atau Washington Monument di DC, semua simbol lelaki itu baru bisa eksis jika diwadahi oleh simbol feminitas. Bukankah semua kota utama di seluruh negara dunia di sebut 'Ibu'kota, bukan 'Bapak Kota'? Tanah air disebut Ibu Pertiwi atau Motherland, bukan 'Fatherland'. Semua simbol laki-laki itu berdiri tegak di 'Ibu'-kota".


Memang di Barat mengenal kata Motherland atau bahkan Mother Nature karena Barat mengenal beberapa dewi yang berkaitan dengan tanah dan kesuburan seperti Gaia atau Demeter seperti halnya India mengenal Prithvi Mata (dan kita bisa menyinggung tentang budaya Indo-Arya dalam hal ini) tetapi apakah ibukota di Inggris disebut "Mother City"?

Sekedar catatan, menyamakan konsep lingga dan yoni yang mempengaruhi Monas dengan Sacred Sextum di budaya barat dan menyebutnya sebagai pengaruh kelompok rahasia dari Barat hanya menunjukkan kecenderungan novelis untuk mengabaikan sejarah dan budaya sendiri.

Lalu di halaman 366, novel ini hanya melakukan salin-tempel (copy-paste) dari blog-blog Indonesia:

"Doktor Barry Fell dari Oxford University juga menemukan jika berabad sebelum Columbus tiba di Amerika, sekolah-sekolah...".

Penulis novel ini bahkan tidak melakukan riset sederhana, mencari artikel aslinya. Bila ia melakukan riset, niscaya ia akan menyadari kesalahan kalimat yang kukutip di atas. Ya, Barry Fell tidak berasal dari Oxford University dan kesalahan itu hanya ada pada artikel di blog-blog berbahasa Indonesia, tidak pada artikel aslinya yang berbahasa Inggris. (tentu saja, pendapat Dr. Barry Fell masih bisa diperdebatkan apalagi dengan latar belakangnya yang kurang memadai dan hanya meneliti budaya demi hobi)

Kesalahan-kesalahan dalam novel terlalu banyak dan akan panjang bila disebutkan satu-satu. Tetapi ketidakakuratan tersebut bukan satu-satunya kelemahan novel ini.


MENCAMPUR BANYAK BUMBU TANPA MENGENAL RASA
Mari kita asumsikan novelis menjerit "licencia poetica", apakah masalah berhenti di situ? Tidak!

Ada banyak teori-teori konspirasi dan kelompok-kelompok rahasia di muka bumi dan orang yang sedang getol-getol membacanya pasti tertarik untuk membuat benang penghubung di antara cerita-cerita terpisah itu. Hal yang wajar dan sebenarnya dalam sejarah sebenarnya pun juga ada kecenderungan membuat benang penghubung antara peristiwa-peristiwa terpisah.

Hanya saja, seperti ahli masak yang harus mengenal rasa masing-masing bumbu, membuat benang penghubung antar teori konspirasi harus mengenal karakteristik masing-masing tokoh. Tidak bisa langsung mengaitkan satu kelompok rahasia dengan kelompok rahasia lainnya begitu saja.

Misalnya, mengisahkan kelompok Freemason harus paham seperti apa karakter orang-orang yang tergolong Freemason. Hanya sekedar mencomot nama-nama dan sejarah tak jelas dari buku-buku konspirasi tidak cukup. Mencomot kutipan-kutipan pun juga tidak cukup, harus tahu keseluruhan dan konteks ketika kata-kata itu diucapkan.

Begitu juga, mengisahkan kelompok Kabbalah harus tahu seperti apakah Kabbalah itu. Bagaimana mungkin mengisahkan Kabbalah tanpa memberikan satu ciri-ciri Kabbalah yang sudah dikenal jelas dan malah membuat imajinasi khayal ala komik-komik Jack T. Chick. Lebih menggelikan lagi mengatakan Kabbalah sebagai mistis dari Mesir Kuno.

Mau mengaitkan kelompok pluralis dengan salah satu kelompok yang terkenal dengan sikap fanatik pada agamanya? Mau mengaitkan kelompok fiktif kristiani (yang terbukti hoax) dengan kelompok sekuler Yahudi yang bertanggung jawab atas terbentuknya sebuah negara di Timur Tengah? Mau mengaitkan kelompok mistis Yahudi dengan kelompok yang membantai kaum Yahudi di Perang Salib? Silakan, asal sanggup menjelaskan mengapa mereka yang sangat bertolak belakang bisa bersatu. Jangan hanya mengatakan kelompok ini hakikatnya tak lebih dari kelompok itu yang melepas jubah.



MIE TELOR YANG DIBUNGKUS DENGAN BUNGKUS SPAGHETI TETAPLAH MIE TELOR, BUKAN SPAGHETI
Penulis tidak pede dengan orang Indonesia dan sengaja menggunakan tokoh utama dari luar. Yang pria (alias Robert Langdon versi dia) adalah Doktor Pakar Bahasa dari Universitas George Washington sementara yang wanita, walau berdarah Indonesia (suku Minang) tetapi lahir dan besar di Prancis Selatan dan baru setahun di Indonesia untuk penelitiannya.

Kejanggalan pertama, mungkinkah wanita yang lahir di Prancis Selatan dan baru tinggal setahun berani berkata seperti ini kepada polisi saat ditanya tentang kasus pembunuhan, "Sangat yakin. Seribu persen" (halaman 64)? Rasanya terdengar seperti canda orang Indonesia yang bahkan untuk orang Indonesia sendiri akan jarang didengar di saat kondisi serius.

Kejanggalan kedua, ketika Doktor tamu dari Universitas George Washington menjelaskan tentang penaklukkan Jayakarta (halaman 34 penuh dengan sedikit di halaman 33 dan 35) dengan gaya guru sejarah SD yang termakan propaganda pemerintah. Oh, please... Sejarah kalahnya Pangeran Jayakarta jauh lebih menarik dari itu. Masak seorang Doktor tamu dari luar negeri hanya bisa menjelaskan sejarah VOC merebut Jakarta hanya seperti itu?

Kejanggalan ketiga, kefasihan Pakar Bahasa dari Universitas George Washington dalam sejarah perpolitikan modern di Indonesia bahkan menggunakan istilah-istilah yang sekarang sering digunakan 'neolib' (sekedar catatan, istilah dalam bentuk pendek 'neolib' jarang digunakan di luar).

Rasanya, seperti membayangkan Ben Anderson (peneliti Cornell University mengenai sejarah Indonesia, terutama masa pergerakan hingga masa Bung Karno) tiba-tiba ikut-ikutan mengatakan si pejabat A adalah antek nekolim. Tentu saja tidak wajar, karena sikap melabeli seseorang adalah salah satu bentuk kesalahan logika ad-hominem yang harus dihindari apalagi oleh seorang Doktor. Setidaknya, harusnya ada semacam 'penjauhan' misalnya alih-alih mengatakan "si fulan adalah salah satu neolib", tokoh utamanya (bila memang bukan dari Indonesia) memberi jarak, "si fulan adalah salah satu dari kelompok yang kalian sebut neolib".

Kejanggalan keempat, seorang non muslim, Pakar Bahasa dari Universitas George Washington menggunakan istilah 'Bani Israil'? Ah,, Bahkan istilah Bene Israel saja di masa modern tidak merujuk pada kaum Yahudi secara keseluruhan ('bene' dalam Bahasa Ibrani memiliki arti yang sama dengan 'bani' dalam Bahasa Arab).

Tokoh karakter Muhammad Kasturi yang muncul di pertengahan hingga akhir novel juga cukup tak wajar. Karakter ini mungkin wajar bila seandainya cerita ini ditempatkan pada tahun 1970-an. Namun kisah ini ditempatkan di tahun 2000-an akhir dan sangat tak wajar bila tokoh-tokoh seperti Kasturi, Wibisono hanya bergerak sendiri dengan generasi mereka. Benar, tipe-tipe mereka biasanya memiliki semacam 'murid' atau 'anak angkat' yang mewarisi ideologi mereka.


TAK ADA PENGUNJUNG RM PADANG YANG HANYA MAKAN BUMBU RENDANG
Novelis lupa bahwa ia sedang menulis novel, bukan mozaik kisah-kisah komplotan rahasia yang 'konon' benar-benar terjadi. Ia lupa bahwa ia sedang bercerita, bukan berceramah tentang sejarah.

Alih-alih menjadi tegang, menyusuri jalan-jalan kuno. Yang terjadi adalah pembaca dijejali dengan berbagai teori-teori sejarah yang saling tidak sambung (tetapi dipaksakan menyambung) dan loncat-loncat. Setidaknya, saat membaca Rahasia Meede, saya menjadi tertarik untuk berkunjung Pulau Onrust (cita-cita yang belum tercapai) tetapi novel ini tidak membuat saya tertarik dengan MSJ, tidak pula ke gedung Bappenas. Yah, saya memang penasaran dengan dengan lorong bawah tanah di Jakarta Utara, bukan novel ini yang membuat saya tertarik melainkan novel Rahasia Meede.

Latar belakang ilmu adalah bumbu yang menarik untuk novel, terbukti dengan larisnya novel-novel Michael Crichton atau hmmm.. Da Vinci Code. Tetapi penulis novel harus ingat bahwa tujuan utama adalah memberi hiburan pada pembaca. Penyakit ini kujumpai di beberapa novel Indonesia seperti Imperia karya Akmal Nasery Basral tetapi baru di Jacatra Secret lah, aku baru merasa seperti makan bumbu rendang pakai sesendok teh nasi dan secuil daging. Oke, aku berlebihan, tidak separah itu tetapi bayangkan saja rasanya dijejali teori konspirasi sementara ceritanya sendiri datar.

Bayangkan, polanya seperti ini, tokoh utama ketemu tokoh cewek, ngobrol teori sejarah. Trus si cewek ngundang si cowok ke kamarnya dan ngobrol sejarah. Trus ada kasus di mana si cewek dipanggil sebagai saksi dan kemudian si cewek teringat si cowok, dan tiba-tiba jadi obrolan sejarah. Lalu si cowok datang, bertemu dengan polisi, lalu ngobrol teori sejarah lagi. Lalu si cowok ngajak cewek ke restoran dan ngobrol sejarah lagi. Bahkan adegan menyetir dari satu tempat ke tempat lain juga sambil diceramahi sejarah.

Oke, sekarang aku mengerti dahulu istriku sering cemberut bila bersamaku. Aku pasti sangat membosankan seperti tokoh utama novel ini ^^ (Hi, Honey!).



Sebagai penutup, berikut adalah kutipan dari halaman 414 yang berlanjut ke halaman 415 dan saya percaya pembaca awam akan mudah menemukan kesalahan darinya. "Obelisk itu berbentuk tugu empat sisi dengan sebuah piramida di atasnya. Hampir di semua ibukota negara di dunia ini, obelisk dengan bentuk yang berbeda berdiri di lokasi paling penting. Bahkan sejak dulu hingga sekarang, setiap presiden AS harus mengucapkan sumpahnya dengan menghadap obelisk yang diberi nama The Washington Monment[sic]. Padahal itu merupakan obelisk asli yang diboyong dari Mesir, seperti halnya obelisk yang berdiri di tengah lapanga Basilika Santo Petrus di pusat kota Vatican, Roma".


Judul: The Jacatra Secret: Misteri Satanic Symbols di Jakarta
Penulis: Rizki Ridyasmara
Penerbit: The Conspiratus Society Forum
Jumlah Halaman: 479 + lampiran foto



Catatan:
Pembaca novel yang menulis resensi ini adalah moderator "Pengetahuan Umum" di forum Ajangkita dan pernah memfoto lambang Freemason di negara bagian Iowa dan bisa dilihat di:
http://cacianqalbukunderemp.blogspot.com/2009/02/freemason-di-fairfield-iowa.html