Monday, August 19, 2019

Akui saja, Kita Penjajah Papua


Gambar mungkin berisi: teks

Saya dahulu pernah membandingkan pembagian Freeport untuk rakyat Papua yang hanya 10% dengan Nota Kesepahaman Helsinki Agustus 2005 antara GAM dan Indonesia.

Ternyata di Undang-Undang no 21 tahun 2001 tentang Otonomi Khusus bagi Provinsi Papua pasal 34 mengatakan jatah tambang umum (non-migas) adalah 80%. Undang-undang ini ditandangani oleh Presiden Megawati Soekarno Putri pada tanggal 21 November 2001.

Beberapa pekan lalu, ketika pulang dari Yogya, saya bersua dengan seorang Papua (dan OAP) kelahiran Jayapura yang pro-Joko Widodo dan menentang gerakan Papua Merdeka dan menyesalkan mengapa Gubernur Papua kurang lincah dibandingkan presiden. Walaupun demikian terkait jatah Papua pada saham Freeport, beliau juga menyesalkan mengapa begitu sedikit. Beliau berharap Gubernur bisa memperjuangkan hak mereka.

Tentu saja, saya tak yakin harapan agar Gubernur bisa mendesak Pemerintah Pusat memperbesar jatah untuk Papua bakal didengar mengingat ancaman pusat pada gubernur ujung tahun lalu. Akhir Desember lalu, ketika Gubernur Papua bersuara meminta gencatan senjata setelah berdiskusi DPRD, MRP, tokoh gereja, tokoh adat, dan masyarakat Nduga. Bukan saja permintaan ditolak, Pemerintah Pusat bahkan mengancam untuk memecat Gubernur Papua! Dan ini gubernur Papua yang pro-Joko Widodo, terbuka mendukung Joko Widodo, bertentangan dengan keputusan partainya saat itu. Dan ternyata dukungan itu tidak berarti bagi Pemerintah Pusat.

Gubernur dianggap mengada-ngada di akhir tahun tetapi pada bulan lalu, media nasional Kompas sampai memuat para pengungsi Nduga. Tentu saja karena sudah sampai ke Kompas, pemerintah pun memberi bantuan tetapi sebagian pengungsi Nduga menolak begitu mendengar kabar bantuan ini disalurkan lewat tentara. Misalnya salah satu pengungsi mengatakan, "Kalau pemerintah yang langsung bawa ke sini, kami bisa dapat. Tapi karena melalui Kodim, sementara Kodim menghabiskan rumah dan segala macam di sana, jadi kami tidak setuju, tidak suka menerima makanan dari mereka".

Orang-orang di Jawa berbicara berbusa-busa tentang "NKRI harga mati! NKRI harga mati!" tetapi diam saja membiarkan pemerintah pusat ingkar janji. Mereka menyebar foto-foto dan kabar baik tentang pembangunan di Papua, tentang harga bensin, tetapi abai terhadap kasus-kasus penembakan yang tidak diselesaikan dengan baik yang terjadi di masa Joko Widodo. Mereka menyukai suara-suara Papua yang cinta Joko Widodo seperti ketika Gubernur Papua menjanjikan suara untuk presiden mereka tetapi mereka mengabaikan permintaan gubernur yang sama untuk menghentikan operasi militer.

Juga sudah bukan rahasia umum pula bahwa mahasiswa-mahasiswa Papua di seluruh wilayah Indonesia mengalami diskriminasi dan rasisme. Kasus terakhir, sebuah bendera yang jatuh ke got menyebabkan keluarnya makian berupa nama-nama hewan seperti monyet dan babi dari TNI kepada mahasiswa-mahasiswa Papua di Malang. Yang lucu, ternyata tidak ada tersangka setelah diperiksa padahal ungkapan rasis sudah keluar. Tak heran bahkan sampai Majelis Ulama Islam Papua pun bersuara mengecam ungkapan rasis itu.

Inilah yang ditakutkan oleh Bung Hatta ketika bersuara menolak Papua dimasukkan ke batas wilayah Indonesia pada sidang BPUPKI tanggal 11 Juli 1945. Bung Hatta melihat bahwa alasan-alasan seperti yang diutarakan Muh Yamin untuk mengklaim Papua bisa menjadikan Indonesia menjadi bangsa Imperialis. Bung Hatta juga melihat bahwa Indonesia tidak siap mendidik Papua. Bung Hatta juga menolak bahwa Papua masuk ke Indonesia karena ada tentara Indonesia mengorbankan jiwanya di Papua. Ingat, saat itu Bung Papua adalah satu-satunya orang di BPUPKI yang pernah menginjakkan kaki di Digul, Papua.

Sudahlah, lupakan propaganda-propaganda khayal "NKRI harga mati" kalau berbicara tentang Papua. Saat ini, kita adalah penjajah yang sedang menipu diri sendiri. Teruskan saja rasisme, pengingkaran janji, dan kekerasan di Papua.

Silakan pilih, antara mau berubah sikap, menganggap orang-orang Papua sebagai saudara kita, yang hidupnya kita hargai seperti hidup kita, yang hak-hak ekonominya kita hargai seperti hak-hak ekonomi kita, yang harga dirinya kita jaga seperti harga diri kita, atau tetap bersikap seperti penjajah yang eksplotatif, menipulatif, culas, ingkar janji, dan tak segan menggunakan kekerasan.

Sumber:
Undang-Undang Otsus Papua
http://www.bphn.go.id/data/documents/01uu021.pdf

Pernyataan presiden tentang jatah saham freeport untuk masyarakat Papua
https://www.cnbcindonesia.com/news/20181221163855-4-47514/jokowi-freeport-tuntas-masyarakat-papua-dapat-jatah-10

Ancaman Kemendagri untuk Gubernur Papua
https://www.cnnindonesia.com/nasional/20181222222932-20-355765/kemdagri-kecam-gubernur-papua-soal-tarik-tni-polri-dari-nduga

Dukungan Gubernur untuk Joko Widodo di pemilu
https://nasional.tempo.co/read/1123783/gubernur-papua-lukas-enembe-bungkus-tiga-juta-suara-untuk-jokowi/full&view=ok

Berita Kompas tentang Pengungsi Nduga
https://kompas.id/baca/nusantara/2019/07/25/warga-kelaparan-dan-mulai-emosional

Pengungsi menolak bantuan lewat Kodim
https://www.bbc.com/indonesia/media-49205610
https://nasional.tempo.co/read/1235961/bantuan-kemanusiaan-ke-nduga-papua-diharap-tanpa-tni-polri/full&view=ok

Tidak ada tersangka perusakan bendera
https://tirto.id/kontras-tak-ada-mahasiswa-papua-jadi-tersangka-perusakan-bendera-egvh

MUI Papua mengecam rasisme
https://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/islam-nusantara/19/08/18/pwfk8y458-kecam-rasisme-mui-papua-kita-harus-saling-menghargai


[Bukan Review] ADAPTASI dan BERHALA AUTENTISITAS (membahas Bumi Manusia)

Saya pembaca komik sejak kecil. Dan kadang saya tak suka pada hasil adaptasi filmnya, misalnya Watchmen. Namun tak bisa dipungkiri lebih banyak yang mengenal Watchmen dari versi Snyder daripada medium aslinya.

Contoh lain dari adaptasi penuh reduksionisme bahkan menyimpang dari semangat naskah asli adalah V for Vendetta. Namun tanpa adaptasi hasil kerja James McTeigue ini, niscaya karya Alan Moore ini hanya terkubur di perpustakaan para nerd. Tak akan ada para peretas bertopeng Guy Fawkes atau demonstran-demonstran mengenakan topeng itu terinspirasi dari adegan film yang dahulu disebut para kritikus terlalu berasa Hollywood.

Novel BUMI MANUSIA adalah berhala. Kisah penciptaan karyanya yang menunjukkan kekaguman atas kegigihan Pram menulis, dan kisah bagaimana karya ini dahulu ditindas, mengangkat derajat novel ini. Sayangnya, ini juga membuat novel ini menjadi berhala, dipuja-puja tanpa kritik.

Bumi Manusia adalah karya Pram ketiga yang saya baca dan saya tidak melihat Bumi Manusia sebagai karya terbaik Pram. Kisah cinta antara Minke dan Annelies yang menjadi plot utama dibuat terlalu cepat dan terlalu 'murah' untuk seleraku. Kekuatan Bumi Manusia justru pada tokoh-tokoh samping terutama Nyai Ontosoroh. Kekuatan lain novel ini yang jarang ada di novel Indonesia lain adalah bagaimana Pram menggambarkan politik etis membuka pergaulan antara pribumi dan Eropa begitu besar.

Sebelum ini, saya sudah pernah beberapa kali mendengar bahwa Bumi Manusia beberapa kali diadaptasi menjadi karya panggung namun dengan Ontosoroh yang menjadi pusatnya. Saya jarang mendengar tentang Minke dan Annelies. Mungkin Bunga Penutup Abad salah satu dari sedikit adaptasi yang fokus pada Annelies dan tetap saja karakter samping macam Jean Marais yang mencuri perhatian.

Karena itu, ketika Hanung memilih Minke dan Annelies menjadi pusatnya, sesungguhnya ia tidak bermain aman walau cerita ini sudah dipanggungkan berkali-kali. Teater berbeda dengan film walau sama-sama merupakan media audio-visual. Tak mungkin memasang Reza Rahadian sebagai Minke di film karena berbeda dengan teater, kamera membawa wajah Reza lebih dekat, sulit untuk menutupi usia.

Penonton film juga lebih umum daripada penonton teater. Para penikmat teater umumnya lebih mafhum tentang latar sosial kisah yang dibawakan. Berbeda dengan penonton film yang acap benar-benar tak tahu sehingga menikmati karya lebih bebas tanpa prasyarat pengetahuan tertentu.

Saya tak yakin generasi masa kini paham derita yang ditanggung penyandang label Nyai. Hanung mengerti perbedaan target pasarnya dan karena itu menambahkan adegan tambahan menggambarkan seorang Nyai di jalan yang direndahkan oleh suaminya sendiri. Hanung juga menambahkan karakter-karakter tukang gosip bin julid untuk membuat situasi itu lebih terasa. Adaptasi teater tidak membutuhkan itu semua.

Penonton film umum tidak paham tentang debat teknis hukum antara Eropa dan hukum pribumi. Maka Hanung pun berimprovisasi, mempertajam perbedaan diskriminasi itu dengan menunjukkan perbedaan tingkat bahasa, hal yang hanya disinggung Pram dengan satu kalimat.

Ya, dalam novel, perbedaan bahasa itu tak kentara, hanya disebut sepintas dan dialog-dialog di buku tetap dalam Bahasa Indonesia walau konon dalam bahasa lain. Pram bahkan melakukan stereotype cadel pada gaya bahasa Babah Ah Tjong, sesuatu yang tak dilakukan Hanung.

Tak hanya perkara bahasa, Hanung juga melakukan perubahan sudut pandang dari bagian kecil. Dua paragraf dari Pram yang menceritakan opini Kommer menanggapi berita protes ulama, Hanung visualkan lebih dramatis dari sudut kaum pribumi, dari percakapan para kyai dan santri hingga penampakan demonstrasinya sendiri. Teater tidak membutuhkan improvisasi macam ini karena penonton dinilai sudah mafhum.

Tentu saja tak ada gading tak retak. Saya, misalnya, menyayangkan penghalusan bahasa dalam adegan Jean Marais melukis. Tragedi yang dikisahkan Jean dihaluskandengan mengganti kata "kafir" menjadi "pengkhianat". Aneh jika "kafir" dianggap sebagai kata sensitif padahal toh di penghujung film kata "kafir" dipakai juga dengan konteks berbeda.

Tentu saja durasi yang jauh lebih pendek akan memangkas banyak aspek dari karya aslinya. Para pemuja berhala BUMI MANUSIA itu lupa, bahwa pada dasarnya plot utama novelnya adalah pemuda yang belum matang, jatuh cinta dan terlibat skandal, plot yang acap muncul dalam kisah cinta masa modern. Mereka mengangkat berhala ini setinggi mungkin karena bumbu-bumbu samping dan riwayat penciptaan karya tersebut.

Saya sendiri awalnya skeptis dengan film ini. Namun Hanung memilih Annelies yang tepat. Annelies yang rapuh tetapi berani berbeda dengan kakaknya. Annelies yang melihat Robert Suurhoff dan menolak jatuh dalam permainannya. Annelies yang dipilih Hanung membuat kita percaya bahwa ia memang putri Ontosoroh.

Pencuri perhatian di film ini adalah Darsam. Saat membaca novelnya, saya abai pada karakter Darsam, ia tenggelam di antara bumbu-bumbu karakter terpelajar yang bertaburan di karya aslinya. Darsam dalam adaptasi menjadi seorang pribumi tak terpelajar namun berkepribadian kuat dan punya rasa membedakan salah dan benar dan punya inisiatif.

Film BUMI MANUSIA bukan film adaptasi kata per-kata dari novelnya. Ada pengurangan aspek demi durasi tetapi di saat yang sama juga ada penambahan, tafsir dari sutradara dan kru. Maka selayaknya pemujaan seseorang pada berhala novel aslinya tidak menutupi penilaian pada karya adaptasinya.

Catatan kecil: baru kali ini saya mendengar Bahasa Madura. Selama ini hanya mendengar logat Madura. Ternyata bahasanya berbeda dengan bahasa Jawa walau bertetangga ya?

Friday, July 26, 2019

Content-Assist (Ctrl+Space) pada Eclipse

Entah bagaimana, Eclipse-ku akhir-akhir ini ngambek karena pengaya bernama recommenders gagal mengunduh data. Lha, saya malah baru tahu ada pengaya itu dan lebih terkejut lagi karena pengaya ini ternyata selalu mencoba mengunduh data.

Sebentar, untuk fitur menebak nama Java masa harus mengunduh sih? Gak benar nih.
Jadi akhirnya saya memberanikan diri melepas pengaya itu dari Eclipse.

Sayangnya kemudian saat saya menekan kombinasi ctrl + space, ternyata kosong. Saya harus menekan ctrl + space berkali-kali barulah mendapatkan class atau method Java yang bisa saya gunakan.

Ternyata fitur ini disebut content assist dan bisa diatur urutan template-nya.

Klik menu Window -> Preferences dan lalu tampil menu seperti ini.

Tinggal pilih Java -> Editor -> Content Assist -> Advanced
Centang Java Proposal di bagian default lalu di bagian cycling, taruh Java Proposal di alternatif paling pertama.

Saturday, July 20, 2019

[BUKAN REVIEW] GARIS DUA BIRU



Untuk yang khawatir apakah film ini bisa ditonton remaja, film ini jauh lebih sopan daripada sebagian besar sinetron di TV. Tidak ada adegan seks di film ini. Ya, adegan itu hanya digambarkan tersirat dan itu hanya ada di menit-menit awal. Jadi buat para orang tua nekat yang ingin membawa putrinya yang sudah berusia 9-10 tahun, tenang saja, filmnya aman ditonton tetapi bioskop yang menayangkan ini biasanya juga memutar iklan film horor karena klasifikasinya 13 tahun ke atas. Jadi tetap tidak disarankan membawa anak di bawah 10 tahun menonton ini di bioskop. Tentu saja itu dengan asumsi putra-putri kalian sudah siap mental diajak diskusi tentang kehamilan di luar nikah.

Ini adalah film pertama Ginatri S Noer sebagai sutradara walau ia sudah punya rekam jejak panjang dalam dunia perfilman sebagai penulis dan... WOW! Mbak Gina! Saya menantikan film anda selanjutnya. Anda punya bakat dalam penempatan aktor, memancing kemampuan terbaik mereka bahkan Dwi Sasono bisa melepaskan diri dari citra komedi yang melekat selama ini. Bahkan ada beberapa adegan ketika juru kamera Padri Nadeak hanya memilih beberapa aktor yang tampil tajam tetapi saya bisa mengamati akting para aktor yang berada di latar, tidak menjadi fokus di kamera. Mbak Gina mengingatkan saya pada Hanung Bramantyo di awal-awal karirnya pada pertengahan 2000an.

Berbeda dengan Hanung yang awal karir selalu tampak berusaha kompromistis dengan penyandang dana (ya, sebenarnya sampai sekarang pun kadang masih ada nuansa itu -- lihat saja Soekarno dan Sultan Agung), Gina tampak diberikan kesempatan sebebas-bebasnya oleh Pak Chand Parvez. Mungkin rekam jejak dia sebagai penulis membantu mendapatkan kepercayaan dari produser.

Gina juga bermain dengan detail-detail artistik yang umumnya jarang diperhatikan oleh sutradara komersial. Hal-hal seperti stiker di cermin, jus stroberi diblender memiliki pesan sendiri. Kadang, pesan juga tak disampaikan melalui dialog melainkan dengan tatapan mata.

Jika kalian beruntung menontonnya di bioskop yang menayangkan teks terjemahan, kalian akan menyadari bahwa bahkan ucapan-ucapan karakter-karakter pinggiran, celotehan orang-orang sekitar dalam film ini pun ternyata punya arti. Di bagian awal misalnya, Gina menampilkan bagimana para remaja dengan ringan mengatakan, "pacaran melulu nih, Pak. Nikahin aja!", "cieeee! Pertengkaran suami istri" dan semacam itu. Begitu karakter Dara terputus dari keluarganya yang berlatar ekonomi tinggi, karakter sekitarnya adalah para suami istri muda kelas ekonomi bawah yang saling bertengkar mengenai uang belanja membawa Dara ke dunia nyata. Dialog-dialog ini anehnya tidak terlalu terdengar dan Bima, sebagai cowok, tampaknya tak terlalu peduli, sementara Dara menyimak dengan baik walau ia tetap berjalan melewati gang.

Ya, sebagai film yang ditulis dan disutradarai oleh wanita, kritik tajam pada laki-laki terasa tajam di sini. Kepengecutan, sikap tidak sensitif, kemalasan mencari ilmu, bahkan sikap tidak acuh muncul saling berganti. Akui saja, jumlah laki-laki yang siap menjadi suami siaga itu sedikit. Untung saja saya menonton film ini sendirian. Seandainya saya menonton bersama Ara dan ibunya, saya mungkin akan tersiksa.

Saya tidak bisa menemukan cela di film ini. Sungguh, ini film layak dapat nilai 10. Duhai, juri-juri FFI yang akan datang, kalau kalian gak memberikan piala citra untuk penulis, sutradara, aktor, aktris, aktor pendukung, aktris pendukung, penata kamera, tata artistik, penata suara, maka kinerja kalian layak dipertanyakan.

Sekarang mari bicara tentang kondisi yang sangat jarang ada di dunia nyata.
Iya, Ginatri S Noer berusaha membuat film ini tidak terjebak menjadi kisah suram tetapi tetap membuatnya masih bisa terjadi di dunia nyata, walau kecil kemungkinannya.

Pertama, sangat jarang wanita yang hamil tak diinginkan sekuat karakter Dara. Kebanyakan akan depresi dan karena takut pada tekanan masyarakat yang membawa mereka tunduk pada keputusan-keputusan bodoh yang dilakukan pasangannya atau keluarganya.

Kedua, sangat jarang keluarga yang sangat kaya, mau mendengarkan permintaan keluarga sang pacar yang berasal dari kelas ekonomi yang jauh di bawah mereka.

Ketiga, sangat jarang keluarga dari pihak laki-laki memaksa anaknya untuk bertanggung jawab.

Bisa dibilang, kelemahan film ini adalah solusi yang ditawarkan nyaris tak mungkin terjadi di dunia nyata. Namun ini mungkin bukan kelemahan melainkan pesan dari sutradara, "hei! Siapapun bisa berbuat salah. Kalau kalian sebagai keluarga mau mendengarkan niscaya kalian akan bisa mencarikan solusi yang baik untuk putra-putri kalian. Bukannya sibuk berupaya menutupi aib, sibuk menyalahkan sana-sini. Dan kalian para cewek, jadilah cewek yang kuat. Pria-pria yang kalian kira bisa diandalkan, bisa jadi ternyata lemah dalam situasi ini. Jangan takut bicara pada keluarga kalian."

Sunday, March 17, 2019

Laporan Pandangan Mata acara Patungan Rakyat oleh Partai Solidaritas Indonesia, 16 Maret 2019



Jadi, semalam, saya menjadi "tamu" caleg Permaswari Wardani (DPRD Jakarta Dapil 7) untuk acara Patungan Rakyat. Saya melihat jadwal acara ini dari dinding media sosialnya. Meihat bahwa ini kesempatan untuk bertemu caleg-caleg PSI, maka saya pun tertarik menjadi "tamu".

Untuk menjadi "tamu" maka saya diwajibkan menyumbang. Pertama-tama, saya dialihkan ke website mereka, https://patungan.jakarta.psi.id/. Setelah mengisi sejumlah data, saya diberi pilihan metode pembayaran. Setelah memilih metode pembayaran, melalui surel, saya diberitahu nomor Virtual Account tujuan saya harus membayar patungan tersebut.

Saya sangka urusan sudah selesai itu dan di hari-H tinggal bawa badan. Ternyata di hari-H, saat pendaftaran ulang, saya diberikan form yang harus menyatakan bahwa saya tidak dalam keadaan menunggak pajak, dalam keadaan pailit, sumber dana tidak berasal dari tindakan pidana, dan sumbangan tidak bersifat mengikat. Sementara saya memuji hal ini, tentu saja muncul pertanyaan di kepala.

Sementara itu, berikut adalah cuplikan-cuplikan dialog antara PSI (diwakili oleh Michael Victor SianiparRian Ernest, dan Tsamara Amany Alatas) dengan para "tamu".

Ternyata, ini bukan acara penggalangan dana yang pertama. Michael Sianipar, ketua DPW PSI Jakarta mengatakan mereka sudah melakukan ini beberapa kali (bila tidak salah dua tahun) dan menyebut jumlah dana yang mereka kumpulkan beserta jumlah donatur. Michael dengan percaya diri mengatakan bahwa semua dana yang didapat bisa dipertanggung jawabkan karena mereka meminta penyumbang dana untuk mengisi form yang ternyata sesuai dengan form KPU (baru saya cek usai sampai di rumah, ternyata form yang harus ditandatangani penyumbang itu identik dengan contoh form di PKPU no 29 tahun 2018).

Michael bercerita bahwa ia sebenarnya sempat menjadi caleg dari Gerindra ketika Basuki T Purnama masih di Gerindra namun gagal. Ketika tahun 2017, ia melihat bahwa Indonesia tak bisa tergantung pada satu orang saja. Seorang hebat bisa muncul tetapi akan mudah hilang, entah 20 tahun, entah 30 tahun. Jadilah ia punya keinginan untuk memunculkan seseorang. Jadi ia fokus membesarkan PSI.

Michael juga mengatakan visi PSI lebih besar daripada sekedar satu institusi politik. Kader-kader PSI juga membantu menyebarkan pengetahuan di sejumlah pemda. Michael sendiri juga sempat membantu provinsi yang daerahnya dikuasai oleh PKS tetapi ia tak peduli selama bisa membuat standar yang lebih baik. Michael sendiri bercerita bagaimana kawan-kawannya percaya pada perjuangannya sehingga rela menyumbang dalam jumlah fantastis walau dalam kesusahan.

Ditanya mengenai menjaga idealisme, Tsamara mengatakan bahwa PSI mewajibkan caleg-calegnya tandatangan kontrak. Nantinya juga akan ada laporan aktivitas mereka sehingga mereka harus terbuka. Kelak juga akan ada review sehingga caleg yang kinerja buruk harus siap dipecat.

Tsamara juga bercerita bahwa mereka juga berniat menimbulkan "disrupsi" dalam parlemen, meningkatkan standar. Mereka berniat merevisi peraturan-peraturan yang terlalu mempermudah kunjungan kerja. Mereka juga berniat melakukan bersih-bersih DPR, misalnya menjadi mitra KPK jika mencium ketidakberesan. Mereka juga berniat membuat peraturan pembatasan transaksi tunai.

Rian bercerita, bahwa selama kampanye, ternyata aksinya cukup membuat partai saingan gerah dan meminta kader mereka untuk tidak kalah aktif. Menurutnya, adalah hal bagus kalau partai lain panas dan mencoba untuk tidak kalah, artinya PSI sudah berhasil "disrupt" dan menetapkan standar baru. Mereka ingin menetapkan standar baru di parlemen seperti Basuki membuat standar baru bagi gubernur setelahnya.

Ketika ditanya apakah kawan yang menyumbang dalam jumlah fantastis juga mengisi form KPU, Michael mengatakan bahwa ia justru berani bercerita karena temannya sudah mengisi form tersebut. Jika seandainya temannya menyumbang tetapi tidak mau tandatangan, maka mereka terpaksa harus menyerahkan uang tersebut ke negara. Selain itu, Michael mengatakan bahwa mereka selalu berupaya mengarahkan sumbangan melalui web, agar benar-benar masuk ke rekening PSI. Selain itu, Michael mengatakan bahwa temannya mau menyumbang karena ia tahu Michael tidak akan terbeli dengan sumbangan tersebut.

Ditanya apakah PSI sebagai pengusung Joko Widodo berani mengritiknya seandainya beliau terpilih kembali, Tsamara mengatakan bahwa PSI sebenarnya sudah melakukan kritik selama ini. Misalnya PSI kemarin sempat mengritik penangkapan Robertus Robert. PSI juga pernah mengritik pengangkatan perwira aktif polisi sebagai plt gubernur.

Selain kritik kepada Joko Widodo, PSI juga mengritik kebijakan diskriminatif. Misalnya, ungkap Tsamara, PSI berniat mencabut SKB 3 menteri yang mereka nilai menghambat pendirian rumah ibadat.

"Memang dari luar, selama ini yang kami lakukan adalah perang wacana, " Tsamara menjelaskan, "tetapi seandainya nanti kami terpilih dan masuk parlemen, membahas kebijakan bersama menteri, kami akan tancap gas. Kami akan mendukung pemerintah dengan memastikan pemerintah berada right-on-track".

"Jangankan partai sesama koalisi, kami akan lawan teman kami jika mereka tidak adil kepada masyarakat," tegas Tsamara.

PS: Laporan ini acak-acakkan karena saya tidak bawa perekam dan murni hanya dari catatan di notes digital (ponsel)

Friday, February 22, 2019

Pemerkosaan dalam Sejarah Hukum Islam


Indonesia sedang darurat krisis seksual. Kita seringkali menjumpai berita-berita pemerkosaan. Reaksi masyarakat Indonesia menghadapi berita tersebut biasanya mengecam. Terkadang muncul wacana hukuman yang kejam terhadap pelaku pemerkosaan. Namun sayangnya, yang menghambat penanganan kekerasan seksual adalah bagaimana sistem hukum di Indonesia tidak bersimpati pada korban.

Acapkali, ketika korban mau melaporkan pemerkosaan, orang-orang sekitar justru menyalahkan korban seperti mengapa korban sendirian, atau mengapa korban berpakaian dengan "tidak pantas", atau mengapa korban lama baru melapor, atau mengapa korban menemui pelaku berkali-kali. Pada akhirnya, bukannya kasus pemerkosaan itu ditangani dengan cepat, penegak hukum justru menganggap kejadiannya sebagai "suka-sama-suka".

Tentu saja penilaian "suka-sama-suka" ini akan menurunkan derajat korban pemerkosaan menjadi pelaku zina. Korban akan tertekan dan tidak jarang dalam beberapa kasus menghabisi dirinya sendiri seperti yang terjadi di Bogor pada bulan Juli 2018 (pemerkosaannya sendiri terjadi pada akhir Juni).

Alhasil, percuma saja kita mewacanakan hukuman-hukuman yang berat bagi pemerkosa jika laporan pemerkosaan tidak ditangani dengan baik dan penegak hukum tidak bersimpati pada masyarakat.  Mengingat Indonesia sebagian besar beragama Islam, maka kita lihat kembali bagaimana generasi-generasi awal menghadapi kasus pemerkosaan.


MASA RASULULLAH
Kasus pemerkosaan terjadi di masa Rasulullah dan diriwayatkan oleh Abu Daud dan Tirmidzy.

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ يَحْيَى بْنِ فَارِسٍ حَدَّثَنَا الْفِّرْيَابِيُّ حَدَّثَنَا إِسْرَائِيلُ حَدَّثَنَا سِمَاكُ بْنُ حَرْبٍ عَنْ عَلْقَمَةَ بْنِ وَائِلٍ عَنْ أَبِيهِ أَنَّ امْرَأَةً خَرَجَتْ عَلَى عَهْدِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تُرِيدُ الصَّلَاةَ فَتَلَقَّاهَا رَجُلٌ فَتَجَلَّلَهَا فَقَضَى حَاجَتَهُ مِنْهَا فَصَاحَتْ وَانْطَلَقَ فَمَرَّ عَلَيْهَا رَجُلٌ فَقَالَتْ إِنَّ ذَاكَ فَعَلَ بِي كَذَا وَكَذَا وَمَرَّتْ عِصَابَةٌ مِنْ الْمُهَاجِرِينَ فَقَالَتْ إِنَّ ذَلِكَ الرَّجُلَ فَعَلَ بِي كَذَا وَكَذَا فَانْطَلَقُوا فَأَخَذُوا الرَّجُلَ الَّذِي ظَنَّتْ أَنَّهُ وَقَعَ عَلَيْهَا فَأَتَوْهَا بِهِ فَقَالَتْ نَعَمْ هُوَ هَذَا فَأَتَوْا بِهِ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَمَّا أَمَرَ بِهِ قَامَ صَاحِبُهَا الَّذِي وَقَعَ عَلَيْهَا فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَنَا صَاحِبُهَا فَقَالَ لَهَا اذْهَبِي فَقَدْ غَفَرَ اللَّهُ لَكِ وَقَالَ لِلرَّجُلِ قَوْلًا حَسَنًا قَالَ أَبُو دَاوُد يَعْنِي الرَّجُلَ الْمَأْخُوذَ وَقَالَ لِلرَّجُلِ الَّذِي وَقَعَ عَلَيْهَا ارْجُمُوهُ  
فَقَالَ لَقَدْ تَابَ تَوْبَةً لَوْ تَابَهَا أَهْلُ الْمَدِينَةِ لَقُبِلَ مِنْهُمْ قَالَ أَبُو دَاوُد رَوَاهُ أَسْبَاطُ بْنُ نَصْرٍ أَيْضًا عَنْ سِمَاكٍ

Pada masa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam ada seorang wanita keluar rumah untuk melaksanakan shalat berjamaah. Lalu, ia bertemu dengan seorang laki-laki yang kemudian memaksanya untuk melakukan hubungan intim, laki-laki itu akhirnya memerkosanya sementara ia hanya bisa berteriak. Setelah puas laki-laki itu kabur melarikan diri. 
Kemudian lewatlah seorang laki-laki di hadapannya, wanita itu berkata, "Orang itu telah memperlakukan aku begini dan begini (memperkosa)! Pada saat yang bersamaan lewat juga sekelompok orang dari Muhajirin, wanita itu berkata, "laki-laki itu telah melakukan begini dan begini kepadaku (memperkosa)." Rombongan itu lalu mengejar laki-laki yang disangka oleh wanita itu telah memperkosanya. Mereka kemudian membawanya ke hadapan wanita itu, wanita berkata, "Benar, laki-laki inilah yang telah memperkosaku!" 
Mereka kemudian membawa laki-laki malang itu kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, maka ketika beliau memerintahkan untuk menghukum (rajam) laki-laki tersebut, laki-laki yang memperkosa wanita itu berdiri dan berkata, "Wahai Rasulullah, akulah yang telah memperkosanya." 
Beliau bersabda kepada wanita itu: "Pergilah, semoga Allah mengampuni kekeliruanmu (salah tuduh)." Beliau juga mengatakan ucapan yang baik kepada laki-laki itu." Abu Dawud berkata, "maksudnya laki-laki yang diambil karena salah tangkap. Dan Rasulullah berkata untuk si pelaku: "Rajamlah ia." Kemudian beliau melanjutkan: "Dia telah bertaubat, dan sekiranya taubatnya dibagikan kepada seluruh penduduk Madinah, niscaya taubatnya akan diterima." Abu Dawud berkata, " Asbath bin Nashr juga meriwayatkannya dari Simak." (HR.Abu Daud )

Hadits ini berstatus hasan (baik).



MASA UMAR IBN KHATTAB
Dalam Ali Muhammad Ash-Shalabi menuliskan dalam biografi Umar Ibn Khattab:
Beberapa janda yang telah dipaksa berzina oleh beberapa orang pemuda anak pejabat dibawa ke hadapan Umar. Umar kemudian menjatuhkan hukuman cambuk kepada orang-orang yang memaksa untuk melakukan zina dan tidak mencambuk perempuan-perempuan yang dipaksa berzina. 
Ada juga seorang perempuan berzina dibawa ke hadapan Khalifah Umar. Dia berkata kepada khalifah, "ketika saya bangun dari tidurku, tiba-tiba ada orang lelaki yang menekan-nekan kepadaku." Mendengar perkataannya, Khalifah Umar membebaskannya dan tidak mencambuknya. Kejadian yang menimpa perempuan tersebut adalah merupakan bukti yang belum pasti dan hukum had dapat digagalkan jika ada bukti yang belum pasti. Dalam hal ini tidak ada bedanya antara orang yang dipaksa karena pihak pemaksa mampu menekannya ataupun orang yang dipaksa karena diancam akan dibunuh. 
Ada seorang perempuan yang meminta kepada seorang penggembala untuk mengambilkan air. Penggembala tersebut bersedia mengambilkan air, jika orang perempuan itu mau melakukan zina dengannya. Orang perempuan itu bersedia untuk memenuhi syarat  yang diminta oleh penggembala. Kejadian ini kemudian dilaporkan kepada Umar. Dia bertanya kepada Ali bin Abi Thalib, "Bagaimana pendapatmu terhadap orang perempuan ini?" "Dia melakukan hal itu karena terpaksa." jawab Ali. Umar Radiyallahu Anhu memberikan sesuatu kepada perempuan itu kemudian membebaskannya.
Ali Muhammad Ash-Shalabi menuliskan dalam catatan kaki bahwa kisah-kisah tersebut didapatnya dari Sunan Al-Kubra yang ditulis oleh Al-Baihaqi dan Al-Mughni.


QANUN ACEH
Pemerkosaan diatur dalam Qanun Aceh nomor 6 tahun 2014.  Korban pemerkosaan tidak harus menghadirkan 4 saksi melainkan cukup dengan pengakuan dan bukti permulaan. Jika bukti permulaan tidak cukup, maka korban pemerkosaan diharuskan bersumpah di depan hakim. Ketika korban tidak bersedia bersumpah ini lah, baru hukuman qadzaf diberlakukan.

Ketika bukti pemerkosaan tidak cukup, cara Qanun Aceh memperlakukan tersangka pelaku dan korban pemerkosaan mirip seperti kasus sumpah Li'an antara suami dan istri yakni kedua belah pihak saling bersumpah dan bersedia dilaknat oleh Allah jika berbohong.

Walau ternyata peraturannya cukup adil, menurutku definisi "Qadzaf" di pasal 1 perlu diubah karena tidak sesuai dengan proses di pasal 52.

Yang menarik, ternyata Qanun Aceh cukup maju. Misalnya di pasal 36, kehamilan di luar nikah tidak bisa menjadi bukti perbuatan zina. Hal ini bahkan dipertegas lagi dalam penjelasannya, "Kehamilan bukanlah alat bukti untuk menuduh seorang perempuan telah melakukan jarimah zina. Orang yang menuduh perempuan hamil telah berzina tetapi tidak mampu menghadirkan 4 (empat) orang saksi, dianggap melakukan jarimah qadzaf."

Selain itu, definisi pemerkosaan di Qanun Aceh juga lebih maju daripada tafsir KUHP. Di KUHP, tindakan pemerkosaan adalah jika terjadi persetubuhan dan para penafsir (seperti SR Sianturi dan R. Soesilo) biasanya mengatakan persetubuhan berarti kemaluan laki-laki masuk ke dalam kemaluan perempuan (bukan sekedar menempel). Sementara, Qanun Aceh mendefinisikan pemerkosaan adalah "hubungan seksual terhadap faraj atau dubur orang lain sebagai korban dengan zakar pelaku ATAU BENDA LAINNYA yang digunakan pelaku atau terhadap faraj atau zakar korban DENGAN MULUT PELAKU atau TERHADAP MULUT KORBAN dengan zakar pelaku, dengan kekerasan atau paksaan atau ancaman terhadap korban".


Jadi kalau ada yang menganggap sebuah tindakan "menyentuh dan memasukkan jarinya pada kemaluan" sekedar sebagai pencabulan atau pelecehan -- atau bahkan lebih parah menggunakan kata yang lebih halus "perundungan seksual" maka mereka perlu malu pada ulama-ulama Aceh yang selama ini dianggap konservatif.


APAKAH PERATURAN YANG ADA SEKARANG CUKUP?
Jawaban singkat, tidak!

Coba lihat kembali kasus di masa Umar ibn Khattab tentang wanita yang berzina karena syarat yang diberlakukan si penggembala untuk mengambilkan air. Apakah wanita itu diancam? Tidak! Apakah wanita itu dipaksa dengan kekerasan? Tidak! Apakah wanita itu dipaksa? Tidak! Tetapi seperti ijtihad Ali ibn Abi Thalib, walaupun wanita itu tidak diancam ataupun mendapat kekerasan, wanita itu terpaksa berzina.

Ali ibn Abi Thalib, memahami apa yang sekarang dikenal oleh kaum sosiolog dan filsafat sebagai "relasi kuasa". Ia memahami bahwa walaupun si wanita tidak diancam, dipaksa, ataupun mendapat kekerasan fisik, si wanita berada dalam posisi lemah yang membuatnya sulit untuk menolak.

Itu sebabnya, di dalam Rancangan Undang-Undang Penghapusan Kekerasan Seksual, pemerkosaan didefinisikan ulang dalam pasal 16, "Kekerasan Seksual yang dilakukan dalam bentuk kekerasan, ancaman kekerasan, atau tipu muslihat, atau menggunakan kondisi seseorang yang tidak mampu memberikan persetujuan untuk melakukan hubungan seksual.".

Pendefinisian ulang pemerkosaan ini, walau mungkin terpengaruh oleh Barat, tetapi pada hakikatnya juga dipahami oleh Ali ibn Abi Thalib. Langkah pendefinisian ulang yang dilakukan oleh RUU PKS sebenarnya tidak bertentangan dengan Islam tetapi sebaliknya, justru mengembalikan pemahaman kita kembali tentang perlindungan kepada wanita.

Adalah hal fatal, ketika berbicara tentang "penghapusan kekerasan seksual" ditanggapi dengan pernyataan moralistik semacam "berarti kalau tidak dipaksa maka tidak bersalah". Padahal dalam hukum Islam, justru diharuskan untuk berprasangka baik dan mencari keraguan agar tidak mudah menjatuhkan hukum had dengan salah satu kaidah fiqih  الحدود تُدرأ بالشبهات (al-Hudūd Tudra'u bi as-Syubuhat)  yang berarti hukum hudud bisa digugurkan dengan keraguan.

Jadi jika ada tuduhan zina pada seorang wanita sementara pihak wanita berdalih ia dalam keterpaksaan, sikap awal yang harus diambil adalah berprasangka baik kepada pihak wanita seperti yang dilakukan oleh Ali ibn Abi Thalib dan Umar ibn Khattab.






REFERENSI

Untuk teks hadits Abu Daud, saya mengambil dari Lidwa
http://hadits.in/?abudaud/3806
Mereka memiliki aplikasi yang cukup bagus untuk terjemahan bahasa Indonesia dari Kutubus Tis'ah (9 kitab hadits)  di
https://play.google.com/store/apps/details?id=com.saltanera.hadits


Qanun Jinayat No 6 Tahun 2014
https://dsi.acehprov.go.id/wp-content/uploads/2017/02/Qanun-Aceh-Nomor-6-Tahun-2014-Tentang-Hukum-Jinayat.pdf

Contoh Penerapan
https://regional.kompas.com/read/2017/10/12/18393471/untuk-pertama-kalinya-pemerkosa-di-aceh-tengah-dihukum-cambuk

Pembahasan tentang definisi pemerkosaan dalam KUHP yang berlaku saat ini
https://materihukumlbhtrisaktiforjustice.blogspot.com/2017/10/analisis-unsur-unsur-tindakan.html

https://magdalene.co/story/definisi-hukum-soal-pemerkosaan-kerdilkan-pengalaman-korban

Rancangan Undang-Undang Penghapusan Kekerasan Seksual
http://www.dpr.go.id/doksileg/proses2/RJ2-20170201-043128-3029.pdf



Saturday, February 02, 2019

Laporan Percobaan Pemasangan Foto Habib Rizieq di Media Sosial Facebook





Berawal dari percobaan Pak Budi Rahardjo pada tanggal 31 Januari siang hari, menguji apakah benar foto Habib Rizieq dilarang di media sosial seperti Instagram  dan Facebook.

Sementara posting beliau di Instagram selamat, beliau melaporkan pada pukul 18.40 posting di Facebook telah dihapus.

Tentu saja laporan beliau membuat saya tertarik untuk mengulangi percobaan serupa. Maka pada hari yang sama pukul 22.42, saya mencomot foto dari Detik dan memasangnya di Facebook. Di hari yang sama dan di waktu yang berdekatan, kawan Risky Pratama juga melakukan hal yang sama tetapi menggunakan foto berbeda.

Menggunakan gambar yang sama, tiga kawan melakukan hal yang sama antara lain:
1. Andre Tampubolon dengan pengaturan hanya untuk dilihat oleh kawan pada tanggal 31 Januari pukul 23.23
2. Sagi Arsyad dengan pengaturan hanya untuk dilihat oleh kawan pada tanggal 1 Februari pukul 09.16.
3. Agusta Firmansyah dengan pengaturan bisa dilihat umum, pada tanggal 1 Februari pukul 08.19


Pada hari Jumat tanggal 1 Februari pukul 11.25, kawan Risky melaporkan dihapusnya foto Habib Rizieq oleh Facebook karena tidak mengikuti Standar Komunitas Facebook sementara foto yang saya pasang masih selamat. Risky mengeluarkan hipotesa bahwa foto saya selamat mungkin karena ada watermark Detik.

Setelah itu,
rekan Nur Iswantoro juga akhirnya melakukan uji coba yang sama yakni dengan foto varian berbeda yakni lukisan Habib Rizieq yang duduk di kursi. Foto tersebut langsung dihapus oleh Facebook dalam waktu kurang dari 20 menit. Saya sendiri sempat menyebarkan tautan link foto di laman saya ke sejumlah grup WA agar kawan-kawan saya melaporkan foto tersebut namun ternyata sampai berjam-jam kemudian foto tersebut masih selamat.

Rekan Reza Lesmana dalam komentar di laman Andre berkomentar bahwa mungkin posting saya dan Andre Tampubolon (dan juga Sagi Arsyad dan Agusta Firmansyah) tidak menggunakan gambar yang sama seperti yang dicoba oleh Pak Budi Rahardjo.

Maka melalui laman Risky, pada tanggal 1 Februari pukul 15.05 saya bertanya ke pada Pak Budi Rahardjo sumber gambar yang bisa saya coba untuk posting ulang. Pak Budi memberikanku tautan ke instagram beliau. Maka pada pukul 15.10, saya memasang uji coba kedua yakni foto yang sama yang digunakan oleh Pak Budi, tanpa melalui penyuntingan. Hingga pagi ini, foto tersebut belum dihapus oleh Facebook setelah melalui 14 jam.

Kesimpulan saya,
penghapusan foto dari akun Pak Budi, Risky, maupun Nur Iswantoro bukanlah hasil dari algoritma pengenalan foto  belaka.


Sejumlah variabel yang belum dicoba:
1. pemasangan foto oleh saya, Sagi, Andre, maupun Agusta tidak menyertakan nama beliau ataupun singkatan nama. Walau demikian, foto yang dipasang oleh Nur Iswantoro juga tidak menyertakan nama;

2. saya hanya meminta kawan-kawan melaporkan foto pertama tetapi belum mencoba meminta kawan-kawan melaporkan foto kedua yang identik dengan foto yang digunakan eksperimen Pak Budi;

3. belum ada pemetaan jumlah teman dan follower dari akun yang posting fotonya dihapus maupun yang posting fotonya selamat;

4. belum ada pemetaan jumlah laporan yang diterima oleh Facebook atas posting foto tersebut. Sayangnya dalam laporan penghapusan yang diterima pengguna, tidak ada keterangan berapa akun yang menyatakan foto tersebut melanggar Standar Komunitas Facebook.


UPDATE tanggal 4 Februari 2019
Pada tanggal 3 Februari 2019, gambar HRS sampel kedua (yang sama dengan yang digunakan Pak Budi) akhirnya diturunkan paksa oleh Facebook. Penurunan paksa terjadi antara pukul 10 siang hingga pukul 4 sore. Screenshot gambar terakhir yang saya miliki adalah pukul 8 pagi namun hingga pukul 11, saya masih bisa mengakses Facebook tanpa dipaksa login ulang dan tanpa pemberitahuan apapun.





Sementara itu, Endang Setio pada tanggal 2 Februari pukul 14.57 ikut melakukan percobaan dengan memasang gambar Habib Rizieq Shihab deangan gambar yang sama seperti yang dilakukan pukul Pak Budi dengan penyetelan umum. Hingga saat ini (4 Februari pukul 08.30), gambar tersebut masih bertahan.

Di saat yang serupa, Riyogarta P juga memasang foto Habib Rizieq yang sama namun sekitar 28 menit kemudian foto tersebut diturunkan paksa. Ia melaporkan pada tanggal 2 Februari pukul 15.52.


SUMBER-SUMBER:

Gambar Habib Rizieq di instagram Budi Rahardjo
https://www.instagram.com/p/BtP8M9vBfdy/

Laporan dari Pak Budi Rahardjo bahwa posting foto sebelumnya dihapus.
https://www.facebook.com/budi.rahardjo/posts/10156065888131526

Laporan dari Risky Pratama
https://www.facebook.com/photo.php?fbid=2542722765744534&set=a.584579744892189&type=3&theater


Posting uji coba saya 31 Januari pukul 22.42 (alias sekitar 1 hari 7 jam lalu)
https://www.facebook.com/photo.php?fbid=10156166147984226&set=a.178999514225&type=3&theater

Posting uji coba kedua yang saya lakukan dengan foto dari instagram,
tanggal 1 Januari 15.10 (alias 14 jam lalu)
https://www.facebook.com/photo.php?fbid=10156167981184226&set=a.78614844225&type=3&theater

Posting uji coba Andre Tampubolon tertanggal 31 Januari pukul 23.23 (alias 1 hari 6 jam lalu)
https://www.facebook.com/photo.php?fbid=10205394869307223&set=a.1247430841926&type=3&theater

Posting uji coba Sagi Arsyad tertanggal 1 Februari pukul 09.16 (alias 20 jam lalu)
https://www.facebook.com/photo.php?fbid=10216381707348849&set=a.2262389552801&type=3&theater

Posting uji coba Agusta Firmansyah tertanggal 1 Februari pukul 08.19 (alias 20 jam lalu)
https://www.facebook.com/photo.php?fbid=10216680913309013&set=a.1180044655057&type=3&theater


Posting uji coba Endang Setio tertanggal 2 Februari 14.57 (alias 1 hari 16 jam lalu)
https://www.facebook.com/photo.php?fbid=10217412543363632&set=a.2041228508440&type=3&theater

Posting laporan Riyogarta P tertanggal 2 Februari 15.52
https://www.facebook.com/riyogarta/posts/10216518875417704