Thursday, May 20, 2021

Langkah Manual Mengunduh HLS (Http Live Streaming) Tanpa Ekstensi Peramban (Browser Extension)

 




Saya baru mencoba mengunduh video dari situs PBB (webtv.un.org) secara manual karena tidak puas dengan Chrome extension yang kugunakan (lambat). Jadi saya membagikan caranya


Ringkasan

  1. cari MasterManifest (m3u8);
  2. unduh track audio dan video berdasarkan MasterManifest
  3. mux (gabungkan) kedua track tersebut.


Aplikasi yang dibutuhkan:

  1. Peramban yang punya developer mode seperti Firefox atau Chrome
  2. alat pengunduh seperti wget
  3. player yang bisa memutar streaming seperti vlc
  4. ffmpeg untuk unduh track video dan audio serta untuk melakukan muxing (penggabungan)


Keterampilan yang dibutuhkan:

  1. keahlian googling jika ada masalah untuk mencari referensi;
  2. keberanian untuk ketik-mengetik instruksi panjang di console;
  3. terbiasa menggunakan aplikasi-aplikasi yang disebutkan di atas;
  4. kesabaran;


LANGKAH

1. Buka peramban, buka developer mode lalu buka tab Network. Kemudian di laman awal, refresh lalu periksa tab Network dan cari file .m3u8 yang berupa master manifest. Untuk situs UN, namanya adalah master.m3u8. Salin link penuhnya lalu unduh menggunakan pengunduh seperti wget;


2. Buka master manifest yang sudah terunduh. Akan ada pilihan-pilihan dengan pola kurang lebih seperti berikut:

#EXT-X-MEDIA:TYPE=AUDIO,GROUP-ID="audio-0" yada-yada-yada-yada URI="http://yada-yada-yada"

#EXT-X-STREAM-INF:PROGRAM-ID=0,yada-yada-RESOLUTION=yada-yada,AUDIO="audio-0",URI="http://yada-yada-yada"


3. cek masing-masing link dengan program vlc. Jika menjalankan vlc dari console cukup

$ vlc htp://yada-yada-yada

Sementara kalau vlc dengan GUI, pilih Open Network Stream


4. jika link tersebut bisa dibuka dengan vlc, maka bisa diunduh dengan ffmpeg.

unduh track video: 

$ ffmpeg -i http://yada-yada -an -c:v copy file_video.mp4


unduh track audio:

$ ffmpeg -i http://yada-yada -vn -c:a libmp3lame file_audio.mp3


-an : tidak pakai track audio

-vn : tidak pakai track video

-c  : convert. -c:a convert audio -c:v convert video


Silakan cek manual ffmpeg untuk ubah-ubah parameter.


5. setelah berhasil mengunduh dua track tersebut maka gabungkan.

$ ffmpeg -i file_video.mp4 -i file_audio.mp3 -c copy -map 0:v:0 -map 1:a:0  -shortest file_muxed.mp4


6. silakan cek lagi hasilnya dengan pemutar video

$ vlc file_muxed.mp4


Keterangan gambar: file master manifest rekaman Pleno ke-66 tahun 2021 PBB tanggal 18 Mei 2021 ketika Indonesia dan ke-14 negara lain memilih Tidak Setuju untuk The Responsibility to Protect and The Prevention of Genocide, War Crimes, Ethnic Cleansing and Crimes Against Humanity



Sekarang jadi penasaran, adakah yang bikin program python sederhana untuk melakukan ini.


Wednesday, May 19, 2021

Sheikh Jarrah dan Vonis "Penghuni Liar / Penyerobot Tanah"

 Yayasan Eits Chaim, yang dikelola oleh Yahudi Indonesia dan Bnei Noah Indonesia[1]. Saya pernah menulis tentang Hukum Dasar dan Sheikh Jarrah dan ketika itu ada bagian yang sengaja saya keluarkan dari tulisan, yakni terkait sengketa hukum dan proses pengadilannya. Saya tahu, cepat atau lambat pasti akan ada yang menyebutkannya.

Jadi pembelaan atas penggusuran Sheikh Jarrah adalah:

1. tanah tersebut milik organisasi Yahudi sejak abad 19 M;

2. sengketa tersebut adalah sengketa pribadi;

3. penduduk tanah tersebut adalah penghuni liar;

Jadi mari saya tuliskan ulang kronologinya. Saya rasa kronologi ini akan sepintas serupa dengan versi Yayasan Eits Chaim. Ya, saya akui sejumlah fakta yang dipaparkan adalah benar tetapi dengan catatan yang akan kusebutkan belakangan.


KRONOLOGI

Di abad 19, Sheikh Jarrah dihuni oleh Muslim dan Yahudi.

Pada sensus 1905 oleh Turki Utsmaniyah, Sheikh Jarrah Nahiya berisi 167 keluarga Muslim, 97 keluarga Yahudi (tinggal di daerah Shim'on HaTzadik dan Nahalat Shim'on), dan 6 keluarga Kristen.[2]

Hingga tahun 1876, makam Shimon HaTzadik berada di tangan Arab. Kemudian pada tahun 1876 itu, kepala Dewan Komunitas Sephardic dan kepala Dewan Umum Jemaat Israel Ashkenazi membeli gua HaTzadik dan gua Sanhedrin dan wilayah sekitar seluas 17.5 dunam (sekitar 1/4 Acre) dengan harga 16000 franc. [3] Ya, tahun pembeliannya sedikit berbeda dengan versi Eitschaim. Tanah yang dibeli itu didaftarkan ke otoritas Utsmaniyyah atas nama Rabbi Avraham Ashkenazi (yang lahir di Turki) sebagai wakil Sephardic dan Rabbi Meir Aurbach sebagai wakil dari Ashkenazi.

Pada tahun 1890 pembangunan komunitas Sephardic dimulai. Sementara wilayah Ashkenazi di selatan makam dibiarkan kosong terbuka hingga tahun 1956.[3]

Yang menarik, ternyata di tahun 1916, di wilayah yang dibeli ini hanya tersisa 13 rumah tangga (Sephardim).

Pada tahun 1938, setelah konflik Arab-Yahudi, wilayah ini ditinggalkan.

Pada tahun 1940, wilayah ini kembali didiami kaum Yahudi namun ternyata kaum mudanya memilih pergi dan tersisa kaum tua. 

Kaum Ashkenazi sudah menunjuk perusahaan konstruksi dan membangun perumahan tetapi ternyata tetap kosong. 


Pada tahun 1891, juga dibangun di sebelah barat Jalan Nablus dan makam Shimon HaTzadik, yakni Nahalat Shim'on), dilakukan oleh perusahaan swasta. Perusahaan swasta ini kemudian membagi tanah ke individu-individu yang terdiri dari 3 komunitas: Yaman, Halabi, dan Georgia. Pada tahun 1916, ada 93 keluarga tinggal di wilayah ini. Pada tahun 1947, ada 100 keluarga tinggal di lingkungan ini.


Pada bulan Maret 1948, Inggris menyuruh penduduk Yahudi pergi dari Nahalat Shimon (asumsi saya juga Inggris juga memberi perintah sama kepada penduduk wilayah Shimon HaTzadik) [4]. Instruksi ini diberikan karena UN Partition Plan 1947 gagal dijaga oleh Inggris dan pada tanggal 13 April 1948 terjadi penyerbuan konvoi medis RS Hadassah yang menewaskan 78 Yahudi sebagai balasan atas pembantaian Deir Yassin yang menewaskan 107 Arab Palestina termasuk anak-anak. Instruksi Inggris menanggapi konflik ini menyebabkan wilayah ini sudah kosong sebelum Israel didirikan.


Pada tanggal 14 Mei 1948, Israel menyatakan kemerdekaannya yang langsung disusul dengan perang antara Koalisi Arab -Israel.

Setelah tahun 1948, wilayah Sheikh Jarrah berada di tangan kekuasaan Yordania. 


Pada tahun 1956, Yordania menempatkan 28 keluarga Muslim di sebelah timur Jalan Nablus dan sebelah selatan gua Shimon HaTzadik.


Pada tahun 1967, wilayah ini direbut kembali oleh Israel. 

Pada tahun 1970, semua wilayah yang tadinya berada di tangan Yordania dan berhasil direbut oleh Israel, menjadi wilayah Kementerian Kehakiman. Israel mengizinkan orang-orang Yahudi yang diusir oleh Inggris maupun Yordania untuk kembali selama dapat memberikan bukti kepemilikan.

Pada tahun 1972, dua kelompok Yahudi yang membeli tanah Shimon HaTzadik,  Dewan Komunitas Sephardic dan Dewan Umum Jemaat Israel Ashkenazi, memulai ulang pendaftaran tanah atas nama mereka. Proses legalnya selesai pada bulan September 1972. Tidak ada proses pemberitahuan kepada warga Arab yang sudah mendiami daerah tersebut.

Pada tahun 1982, dua kelompok Yahudi itu menggugat 23 keluarga Arab yang mendiami pemukiman Shimon HaTzadik termasuk selatan kuburan Shimon HaTzadik. Pengacara yang mewakili keluarga-keluarga Arab tersebut, yakni Yitzhak Tussia-Cohen, tidak melakukan banding atas klaim dari kelompok Yahudi tersebut tetapi langsung melakukan negosiasi dan menjadikan keluarga-keluarga Arab tersebut berstatus "Penyewa Dilindungi" dalam arti mereka tidak boleh diusir selama membayar sewa.

Pada tahun 1993, dua kelompok Yahudi menggugat untuk mengusir keluarga-keluarga itu karena tidak membayar sewa.


Apakah kronologi di atas cukup untuk meyakini keluarga-keluarga Arab itu adalah penghuni liar yang layak diusir? Ada hal-hal yang belum diceritakan di kronologi di atas.


NAKBA

Pada April 1948, terjadi pembantaian Deir Yassin, yang mengakibatkan konflik kekerasan. Kasus penyerbuan konvoi medis RS Hadassah dibalas oleh Israel dengan perang di Haifa dan Jaffa. Pada tanggal 1 Mei 1948, sudah nyaris 175 ribu Palestina yang mengungsi, khawatir pembantaian Deir Yassin terjadi pada mereka. Pengungsian besar-besaran ini disebut sebagai Nakba dan menjadi alasan perang Arab-Israel 1948. 

Seperti yang dijelaskan di atas, bahwa pada tahun 1956, Yordania menaruh 28 keluarga Muslim di daerah Shimon HaTzadik. Yang tidak diceritakan di atas adalah, 28 keluarga muslim itu adalah pengungsi Nakba. Para pengungsi ini boleh menyewa rumah-rumah yang diberikan dengan catatan mereka tidak lagi diberi jatah bantuan sebagai pengungsi oleh Pemerintah Yordania. Jika mereka kelak memutuskan kembali ke rumah lama sebelum mengungsi maka rumah ini harus dikembalikan kepada Pemerintah Yordania. Jika tetap di rumah tersebut, setelah tiga tahun, mereka boleh memperpanjang sewa 30 tahun kepada Pemerintah Yordania. 

Selain itu, wilayah tempat keluarga muslim itu, walau konon termasuk wilayah Ashkenazi dari pembelian 1876, tidak pernah ditempati. Keputusan Yordania menaruh keluarga Muslim itu pun juga berdasarkan proyek bersama antara Pemerintah Yordania dan UNRWA (badan PBB untuk pengungsi Palestina).

Keluarga-keluarga Arab tidak pernah setuju dengan keputusan negosiasi yang dilakukan oleh pengacara mereka, Yitzhak Tussia-Cohen dan menyesali negosiasi itu. Usaha-usaha untuk membatalkan perjanjian itu pun tak pernah disetujui oleh Mahkamah Israel. 

Inilah sebabnya, banyak warga Palestina yang bersimpati pada keluarga-keluarga yang diusir di Sheikh Jarrah walaupun secara hukum tertulis, posisi keluarga-keluarga ini lemah. Selain itu, bahkan disadari oleh orang-orang Yahudi sendiri, hukum terkait tanah di Israel tidak seimbang. Salah satu hukum tanah yang kontroversial, Absentee Property Law (Hukum Properti milik Absentee/bukan Israel) sering kali dijadikan senjata untuk mengambil paksa lahan-lahan milik Arab [6][7]


DAFTAR

[1] Eitschaim. Kebenaran tentang Sengeta Sheikh Jarrah. http://www.eitschaim.org/2021/05/11/kebenaran-tentang-sengketa-sheikh-jarrakh/

[2]  Adar Arnon, The quarters of Jerusalem in the Ottoman period, Middle Eastern Studies, vol. 28, 1992, pp 1–65. https://www.jstor.org/stable/4283477

[3]  Prof. Yitzhak Reiter, Dr. Lior Lehrs. The Sheikh Jarrah Affair. 2010. The Jerusalem Institute for Israel Studies.  https://jerusaleminstitute.org.il/en/publications/the-sheikh-jarrah-affair-the-strategic-implication-of-jewish-settlement-in-an-arab-neighborhood-in-east-jerusalem/

[4] Israel National News. 13 New Jewish Homes in Jerusalem. (2011). https://www.israelnationalnews.com/News/News.aspx/142186

[5] Prof. Yitzhak Reiter, Dr. Lior Lehrs. The Sheikh Jarrah Affair. 2010. The Jerusalem Institute for Israel Studies.  https://www.theguardian.com/commentisfree/2021/may/17/palestinians-sheikh-jarrah-jerusalem-city-identity

[6] Hasson, Nir. Israel's AG: Absentee Properties in East Jerusalem Can Be Confiscated. 2013. Haaretz.com. https://www.haaretz.com/.premium-absentee-homes-can-be-seized-ag-rules-1.5273746

[7] Roisen, Anna. Why We Need To Speak About the Absentee Property Law. 2020. Blog under Times of Israel. https://blogs.timesofisrael.com/why-we-need-to-speak-about-the-absentee-property-law/ 


Hukum Dasar Israel dan Sheikh Jarrah

 Negara Israel tidak punya konstitusi atau Undang-Undang Dasar. Sebagai gantinya, Negara Israel memiliki seperangkat Hukum Dasar yang diresmikan oleh Knesset (DPR merangkap MPR / unikameral). 

Negeri ini misalnya, baru memiliki perlindungan terhadap Hak Asasi pada tahun 1992.

Pada tahun 2018 lalu, Knesset (dengan suara tidak bulat) mengeluarkan Hukum Dasar: Israel - Negara Bangsa untuk orang-orang Yahudi. Yang menjadi kontroversi dari Hukum Dasar ini, selain memprioritaskan orang Yahudi, juga karena bunyi pasal 7 terkait Pemukiman Yahudi. 

"Negara memandang pemukiman Yahudi sebagai nilai nasional dan harus bertindak untuk mendukung dan mempromosikan pembangunan dan pengembangannya".


Apa kaitannya dengan Sheikh Jarrah?

Sheikh Jarrah adalah pemukiman Palestina sejak lama, sejak masa Shalahuddin Al-Ayyubi. Nama Sheikh Jarrah sendiri berasal dari Hussam Al-Din Al-Jarrahi, seorang tabib pribadi. Pada tahun 1905, masa Turki Utsmaniyyah, sudah ada 167 keluarga tinggal di daerah itu. 

Sebagai bekas kota besar Yahudi, tentu tidak mengherankan jika ada makam Imam Yahudi dari masa Kuil Kedua (sekitar 300 tahun Sebelum Masehi). Keberadaan makam tersebut sudah diakui dari masa Turki Utsmaniyyah dan sejak dahulu orang-orang Yahudi diizinkan untuk berziarah ke makam tersebut. 

Lalu Negara Israel berdiri dan tanah orang-orang Palestina di sekitar makam tidak diakui. Dan kini bahkan ada Hukum Dasar yang dengan eksplisit menunjukkan keberpihakannya. 

Bayangkan kalau di Undang-undang Dasar Republik Indonesia ada pasal yang mewajibkan Negara harus mendukung dan mempromosikan pembangunan dan pengembangan pemukiman Jawa sementara ada kasus-kasus di mana tanah-tanah adat masyarakat non-Jawa tidak diakui. 



Bacaan lebih lanjut

https://m.knesset.gov.il/en/activity/pages/basiclaws.aspx


Hukum Dasar tahun 2018 sendiri sedang tidak bisa diakses tetapi melalui situs Archive.org untuk tanggal 9 Mei lalu. 

https://web.archive.org/web/20210509233601/https://knesset.gov.il/laws/special/eng/BasicLawNationState.pdf


Untuk membaca proses politik di belakang Hukum Dasar tahun 2018 dan hal apa yang berubah akibat peraturan ini bisa membacanya di German Institute for International and Security Affairs (SWP)

https://www.swp-berlin.org/en/publication/israels-nation-state-law/


Wikipedia punya laman terkait Hukum Dasar 2018 ini termasuk kebijakan praktik setelah Hukum Dasar ini diberlalukan. 

https://en.wikipedia.org/wiki/Basic_Law:_Israel_as_the_Nation-State_of_the_Jewish_People


Tentang asal usul Sheikh Al-Jarrahi

https://en.wikipedia.org/wiki/Hussam_al-Din_al-Jarrahi 


Tentang Imam Yahudi yang dimakamkan di situ: https://en.wikipedia.org/wiki/Simeon_the_Just

Tuesday, April 27, 2021

Kartini dan Diskriminasi Bahasa Penjajahan

 


Dikutip dari surat Kartini kepada Stella Zeehandelaar tertanggal 13 Januari 1900, diterjemahkan dari bahasa Inggris hasil terjemahan Joos Cote yang ada di buku Kartini: The Complete Writings 1898-1905.


"... jadi tidak sia-sia ia diasingkan bertahun-tahun di tempat terkucil itu -- ia telah belajar tentang kehidupan, di antaranya, tak ada cara yang lebih baik untuk melayani orang-orang Eropa selain merangkak di depan mereka bersimpuh debu dan tidak berbahasa Belanda di lingkungan mereka. Ia boleh berbicara bahasa Prancis kepada babi-babi yang menghancurkan kebun-kebun warga desa, bercakap-cakap dalam bahasa Inggris dengan anjing-anjing yang membuatnya terjaga di malam hari, dan berdiskusi dalam bahasa Jerman bersama sapi atau kucing-kucing. Orang lain kini telah mengambil alih kursi atasannya dan ketika posisi penerjemah bahasa Jawa tersedia, ia dipercaya dengan posisi itu. Kini ia bukan penghalang siapa-siapa!

Stella, aku tahu seorang asisten residen yang berbicara Melayu kepada bupati walaupun ia tahu persis bahwa si bupati bisa berbicara bahasa Belanda dengan fasih. Semuanya, bahkan berbicara bahasa Belanda kepada penguasa-penguasa pribumi di sini kecuali si asisten residen ini. Kakak-kakakku harus berbicara dengan bahasa Jawa Kromo (Jawa Halus) kepada atasannya dan atasannya akan berbicara dalam bahasa Belanda atau Melayu. Yang berbicara dalam bahasa Belanda adalah kawan-kawan kami dan beberapa di antara mereka mengajak kakak-kakakku menggunakan bahasa Belanda tetapi kakak-kakakku menolaknya dan Romo tidak mengizinkannya. Kakak-kakakku serta Romo tahu persis bahwa mereka harus menahan diri dalam hal ini. Terlalu banyak perhatian kepada 'gengsi' diberikan para pejabat yang mengira mereka adalah para dewa. Saya tak menaruh perhatian kepada kepura-puraan mereka: sungguh, saya terhibur melihat cara mereka membela gengsi itu di depan kami, para orang Jawa. Aku telah bercakap-cakap tentang ini bersama para pelayan sipil yang bersahabat. Mereka tidak menunjukkan ketidaksetujuan ataupun persetujuan dengan penilaianku tetapi aku yakin dalam hati mereka setuju. Tentunya ini juga demi gengsi mereka. Bisakah kau mengerti aku sulit menahan senyum di situasi seperti itu ? Betapa menarik para pria-pria besar itu mencoba menanam rasa hormat pada mereka di jiwa kami.

Aku harus menggigit bibirku untuk menahan tawa ketika, selama perjalanan, aku melihat asisten residen bepergian dari kantornya ke rumahnya di bawah bayang-bayang payung emas yang dipegang pelayannya di atas kepala "ningrat" sang asisten. Sungguh pemandangan yang menggelikan! Oh, manusia dewa, jika kau tahu betapa mayoritas, yang menyingkir dari jalan penuh hormat karena payung megah itu, kelak mengejekmu di belakang punggungmu. Apa yang engkau pikirkan terhadap fakta bahwa banyak, ya, sangat banyak, para pejabat pemerintah resmi meminta kepala-kepala desa mencium kaki mereka ? Ciuman kaki adalah penghormatan tertinggi yang diberikan kami, orang Jawa, kepada orang tua kami, anggota keluarga yang lebih tua, atau pemimpin kami. Kami tidak rela menunjukkan penghormatan ini kepada orang asing dan kami hanya melakukannya karena terpaksa, jika dibutuhkan.

Tidak! Orang Eropa hanya membuat dirinya tampak konyol di mata kami ketika ia meminta kami menunjukkan penghormatan yang hanya layak diberikan kepada pemimpin kami. Para residen dan asisten residen meminta kami memanggil mereka "Kanjeng" seperti seharusnya tetapi kini bahkan mandor kebun, mandor jalan, dan bisa jadi esok kepala stasiun pun juga akan meminta bawahan mereka memanggil gelar seperti itu yang sebenarnya bodoh. Apa mereka tahu arti 'Kanjeng' ? Mereka meminta bawahan mereka menghormati seperti menghormati pemimpin besar. Oh! Oh! Kukira hanya orang-orang Jawa bodoh yang suka pencitraan berlebihan itu, tetapi kini kulihat bahwa orang-orang barat yang berbudaya, berpendidikan, juga tidak lepas dari itu -- ya -- bahkan dengan semangat telaten terhadap pencitraan.

Aku tak akan mengizinkan wanita yang lebih tua dariku, walau status sosial mereka di bawahku, menunjukkan rasa hormat semacam itu walau aku layak. Aku tahu mereka bersedia, walau aku lebih muda, aku adalah keturunan bangsawan yang mereka puja, yang mereka bersedia mengorbankan nyawa dan harta. Sungguh menyentuh melihat orang-orang sederhana ini menyanjung atasannya. Sangat melukaiku melihat orang-orang, lebih tua dariku, berjongkok merayap bersimpuh debu di depanku.

Ketika kakakku pergi ke Belanda, ia juga meninggalkan musuh-musuhnya di sini. Bukannya ia pernah bersikap buruk kepada mereka tetapi mereka tidak akan memaafkan si Jawa yang berani berinisiatif untuk meraih keterampilan dan pengetahuan yang menjadi milik penguasanya. Banyak orang-orang Eropa di sini khawatir bahwa orang-orang Jawa -- bawahan mereka -- perlahan belajar mendidik diri sendri, dan kini seorang kulit coklat muncul menunjukkan bahwa ia juga punya otak di kepala dan hati di badan yang sama seperti kulit putih.

Banyak perhatian kepada ceramah kakakku itu, bahkan dikutip di pidato anggaran tahu 1900. Sebuah komisi akan didirikan untuk menyelidiki kebenaran perkataannya tentang betapa besar keinginan untuk membuat bahasa Belanda menjadi sebagai bahasa wajib antara orang-orang Eropa dan para pelayan sipil lokal. Dan, oh senangnya, semua koran-koran Hindia berada di sisi kakakku. Sebagai tanggapan, seorang kawan kaum Jawa menulis berbagai editorials membahas kepentingan murid-muridnya (para orang Jawa). Oh, aku tahu saat kakakku pulang nanti, ia bisa menghitung banyaknya kebencian para pejabat Eropa di sini dan ia juga akan menemukan perlawanan yang sama dari warga swasta Belanda.

Tapi lakukanlah terserah kalian, kalian tak akan bisa menahan gelombang waktu. Aku senang dengan orang Belanda dan aku bersyukur banya hal hal yang bisa kunikmati dari mereka. Banyak dari mereka yang bisa kami panggil teman tetapi juga cukup sangat sangat banyak yang membenci kami tanpa alasan selai karena kami berani bersaing dengan mereka dalam akademis dan budaya. Mereka menunjukkan hal ini dengan jelas kepada kammi dengan cara yang menyakitkan. 'Saya Eropa, Engkau Jawa' atau dengan kata lain, 'Saya penakluk, engkau yang ditaklukkan' Tidak hanya sekali tetapi beberapa kali kami disapa dalam bahasa Melayu terbata-bata walaupun mereka tahu persis kami fasih berbahasa Belanda. Sebenarnya tidak masalah bagi kami bahasa apa yang digunakan selama niatnya tulus. Akhir-ahir ini, seorang Raden Ayu disapa dengan cara tak hormat seperti ini oeh seorang pria dan dengan percaya diri, ia menjawab, 'Tuan, maafkan aku untuk meminta, tetapi maukah Anda dengan baik berbicara kepadaku dengan bahasa Anda sendiri. Saya bisa berbicara dan paham bahasa Melayu tetapi sayangnya hanya Melayu tinggi. Saya tidak bisa berbahasa Melayu pasar.' Apakah rupa hidung tuan kita itu berubah?! Ya, dengan sangat buruk!

Kenapa betapa banya orang-orang Belanda yang tak suka bercakap dengan kita dengan bahasanya sendiri? Oh! Aku tahu! Bahasa Belanda pastilah terlalu indah untuk diucapkan oleh mulut kulit coklat. Di hari lain kami mengunjungi beberapa kaum Totok. Orang-orang yang melayani di sana adalah mantan sahabat-sahabat kami. Kami tahu persis mereka bisa mengerti dan berbicara bahasa Belanda secara fasih. Aku katakan pada orang-orang tentang ini dan apa tanggapan dari tuan rumah kami? 'Tidak! Mereka tak boleh berbahasa Belanda.' 'Kenapa tidak? Kenapa?', tanyaku. 'Orang-orang inlander tak boleh berbicara bahasa Belanda.' Dengan terkejut, aku menatap tuan rumah kami. Aku sadar cukup cepat dari rasa terkejut dan senyum mengejek kecil muncul di sudut bibirku. Pria necis ini memerah, menggumamkan sesuatu di jenggotnya, dan tamapaknya menemukan sesuatu menarik di sepatunya, setidaknya ia memberikan seluruh perhatiannya ke arah itu."

Kartini dan Praktik Gratifikasi Abad XIX

 



Dari surat kepada Stella tertanggal 13 Januari 1900

".... Tidak, Stella, rakyat sudah tidak lagi membiarkan dirampok oleh pemimpin mereka dan seandainya ini terjadi, individu yang bersalah akan dipecat atau diturunkan jabatannya. Namun yang masih ada, atau bahkan meningkat, adalah kejahatan ini: menerima suap yang kurasa sama buruknya dengan merampas milik warga desa seperti pada cerita Max Havelaar.

Namun aku tak boleh menghakimi kejahatan ini hanya dari fakta mentah semata. Aku harus juga mempertimbangkan kondisi di mana kejahatan ini terjadi. Pada awalnya, para pribumi menganggap pemberian hadiah kepada atasan mereka sebagai bentuk penghormatan. Menerima hadiah seperti ini sebenarnya dilarang oleh Pemerintah tetapi para pejabat pribumi yang lebih rendah dibayar dengan buruk sehingga sulit dipercaya bagaimana memenuhi kebutuhan mereka dengan gaji yang kecil.

Seorang juru tulis wilayah, misalnya, yang duduk di meja tulisnya setiap hari, hanya mendapat jumlah kecil yang sulit dipercaya sekitar 25 Guilder per bulan, dengannya ia harus menghidupi dirinya sendiri dan keluarganya; membayar sewa, berpakaian pantas, dan mempertahankan citra luar yang  pantas di hadapan bawahannya. (Jangan menghakimi perkara terakhir terlalu keras, tetapi kasihanilah anak-anak gede ini, karena sebagian besar, seperti itulah kawan-kawanku). Awalnya, juru tulis ini hanya ditawari sejumlah pisang atau semacamnya oleh warga desa dan ia akan menolaknya. Ia akan terus menolak di saat kedua kalinya tetapi ketika ketiga kalinya ia menolak ia mulai ragu. Ia mengatakan pada dirinya sendiri: bukanlah kejahatan, lagipula aku tidak memintanya karena ini diberikan padaku dan bodohlah aku untuk menolaknya jika aku bisa menggunakannya. Menawarkan hadiah bukan saja bentuk penghoratan tetapi juga berjaga-jaga melawan kesialan yang kelak datang dari Pemerintah. Seandainya si pemberi kelak diseret Wedana untuk pelanggaran kecil, ia bisa mengandalkan si juru tulis wilayah untuk membelanya.

Para ambtenaar ini diupah rendah. Seorang asisten Wedana, tingkat 2, mendapat 85 Guilder. Sekarang, dari 85 Guilder itu, ia harus membayar seorang juru tulis (asisten wedana tidak mendapatkan juru tulis yang digaji peerintah walaupun mereka juga memiliki urusan surat-surat yang tidak kurang dari para wedana, jaksa, dan lain-lain), bendi, dan kuda untuk menginspeksi hutan, membeli rumah, membayar biaya umum, menghibur kontrolir, bupati, dan kadang-kadang asisten residen yang datang ke subdistriknya untuk project tertentu. Dan jika asisten wedana tinggal jauh dari kota maka tamunya akan tinggal di pasangrahan dan asisten wedana mendapat kehormatan menjamu mereka. Rokok, air belanda, minuman keras, dan hal-hal lain membutuhkan biaya besar, percayalah, dan cukup mahal untuk seorang kepala subdistrik. Kau juga harus menghargai bahwa ia tidak hanya menjamu tamunya dari sajian yang tersedia di wilayahnya. Tidak, semua jamuan ini harus didapat dari kota. Memang sebenarnya tidak wajib tetapi sebagai tuan tamu harus memberikan yang terbaik yang dimiliknya -- atau yang tidak dimilikinya -- kepada tamunya.

Di wilayah Romo, hal ini, alhamdulillah, tidak terjadi. Ketika Romo pergi inspeksi, Romo selalu membawa makanannya sendiri bersamanya. Kontrolir juga melakukannya dan begitu juga asisten residen. Dan secangkir teh yang mereka nikmati bersama pejabat-pejabat ini tidak akan merugikan mereka. Jika ada pembunuhan atau perampokan di desa, asisten wedana tentu saja harus menyelidikinya; dan dalam tugasnya mencari pelakunya, ia harus mmerogoh kantungnya. Bukan hal yang jarang terjadi, kepala desa setempat harus menggadai perhiasan anak istrinya untuk mendapatkan uang untuk biaya penyelidikan. Tapi tentunya uang yang dikeluarkan kelak akan diganti oleh Pemerintah, kan? Aku berharap demikian. Banyak pejabat, maksudku pejabat pribumi, yang menjadi miskin dengan cara ini. Ketika kakakku tidak bisa memenuhi kebutuhan ini dengan gajinya, Romo membantunya. Apa yang bisa dilakukan petugas yang tidak bisa memenuhi dari gaji, tidak punya uang, orang tua, atau keluarga yang bisa membantu keuangan mereka? Dan ketika warga terus menerus datang dengan tawaran hadiah sementara ia melihat anak istrinya dengan baju yang sobek ... jangan menghakimi terlalu keras, Stella."

Kutipan ini diterjemahkan dari Bahasa Inggris terjemahan Joost Coté, Kartini: The Complete Writings 1898-1904.

Kartini dan Candu (Opium)


 Dikutip dari surat Kartini terhadap Stella, tertanggal 25 Mei 1889:

".... Yaitu candu. Oh! Kesengsaraan yang dibawa oleh zat itu ke negeriku, ke rakyatku, susah diutarakan dengan kata-kata. Candu adalah wabah untuk Jawa. Ya, candu lebih buruk daripada wabah. Wabah tidak bertahan selamanya, cepat atau lambat akan mereda tetapi kejahan yang diakibatkan oleh candu meningkat dengan cepat, menyebar semakin luas, lebih luas, dan tidak akan berhenti karena dilindungi oleh Pemerintah! Semakin banyak yang menggunakan candu, semakin penuh harta pemerintah. Kontrak candu adalah salah satu sumber dana paling menguntungkan bagi Pemerintah Hindia Belanda. Apa pedulinya jika hasilnya rakyat sejahtera atau sebaliknya? Selama Pemerintah untung, itu tujuan utamanya. Terkutuklah orang-orang yang mengisi kantung-kantung Pemerintah Hindia Belanda dengan hasil setara ribuan, jutaan emas.

Banyak yang mengatakan penggunaan candu tidak akan melukai siapapun tetapi siapa yang berpendapat demikian tidak pernah melihat Hindia atau buta terhadap apa yang ada di depannya.

Tidak ada yang terluka?! Lalu bagaimana dengan banyaknya pembunuhan, pembakaran sengaja, perampokan yang terjadi karena akibat langsung dari penggunaan candu? Ya, menghisap candu tidak buruk selama kau bisa melakukannya, selama memiliki uang untuk membeli racun itu. Namun, ketika kau tak bisa, kau tak punya uang untuk membelinya, dan kau sudah menjadi pecandu, maka kau akan menjadi orang yang berbahaya, maka kau akan tersesat jalan. Kelaparan pada perutmu dapat mengubahmu menjadi pencuri, tetapi kelaparan terhadap candu mengubahmu menjadi pembunuh. Ada ungkapan di sini:'awalnya kau yang mengonsumsi opium tetapi akhirnya opium yang akan mencernamu'. Dan ungkapan ini sungguh, sungguh benar!

Oh Gusti! Oh Gusti! Sungguh mengerikan melihat betapa banyak kejahatan di sekitarmu dan dan tak punya kuasa melawannya. Setahun lalu aku membaca di salah satu harian bahwa pemerintah melarang penjualan morfin di keda-kedai candu karena penggunaan morfin akan mengurangi pemakaian candu."

Surat ini kuterjemahkan tidak dari bahasa Belanda melainkan bahasa Inggris hasil terjemahan Joost Coté. Dapat ditemukan di buku beliau, Kartini: The Complete Writings 1898-1904. Surat ini adalah surat pertama Kartini terhadap Estelle "Stella" Zeehandelaar.

Dari buku Joost Joost Coté, Stella adalah putri seorang dokter, vegetarian, hobi berkuda, dan aktif dalam pergerakan feminis sosialis. Saat berkorespondensi, ia bekerja sebagai juru tulis di Amsterdam Post dan layanan Telegraf. Stella adalah anggota Geheelonthoudersbond (Kelompok Anti Alkohol), juga seorang pekerja sosial Toynbee yang mempromosikan pelatihan orang-orang miskin dan menganggur, dan anggota dari Vereeniging Onderlinge Vrouwenbescherming (Perhimpunan Perlindungan terhadap Wanita).

Kartini dan Praktiknya

 


"Kartini hanya bisa menulis sementara wanita-wanita ini sudah melampaui langkahnya mendirikan sekolah", cela tulisan yang beredar melalui Facebook.

*uhuk. 
Sebelum mengamini celaan tersebut mari kita tinjau lagi apa yang dilakukan oleh Kartini.

Pertama, Kartini sudah membuat "sekolah tak resmi" sebelum beliau wafat pada tahun 1904.

Kedua, pernah dengar Kartini dapat beasiswa ke Belanda yang terpaksa direlakan karena pernikahannya? Tahu untuk apa beasiswa itu? Untuk belajar menjadi guru. 

Jadi sejak tahun 1902, Kartini sudah menyatakan keinginannya membuka sekolah dan usah mendapatkan izin belajar ke Belanda adalah untuk memperlancar cita-citanya. 

Ketika beasiswa itu direlakannya pun bukan berarti ia tidak berhenti bercita-cita. Ia membuka kelas untuk mengajari para perempuan. 

Ketiga, tahukah kenapa yang diprioritaskan oleh Kartini adalah pendidikan bagi perempuan ? Karena Kartini melihat sulit untuk mendidik 27 juta orang sekaligus. Dengan mendidik perempuan, maka para perempuan ini akan mendidik putra-putrinya. Dan para putrinya kelak juga akan menjadi ibu yang mendidik putra dan putrinya. Ini adalah konsep yang ditawarkan Kartini ke Abendanon pada bulan Januari 1903. 

Jadi sementara para lelaki berusaha mengadu domba antara Kartini dengan pahlawan-pahlawan wanita lain, yang ada di pikiran Kartini adalah bagaimana mempercepat pendidikan untuk bangsanya, tak peduli laki ataupun perempuan. 

Agus Salim pada bulan April 1925 di harian Hindia Baroe, walau tak sepakat dengan kritik Kartini terhadap agama, ia menyalahkan pemuka agama yang membiarkan kezaliman yang terjadi  pada Kartini dan tetap sepakat pada cita-cita Kartini. Beliau bahkan mendoakan Kartini di penghujung tulisannya:

"... suara itu haruslah menjadi peringatan kepada kita, bahwa besar hutang kita dan berat tanggungan kita akan mengobati kecelaan dan menolak bahaya itu.
Dan kepada marhumah yang melahirkan suara itu, tidaklah mengucapkan cela dan nista, melainkan do'a mudah-mudahan diampuni Allah kekurangan pengetahuannya dengan karena kesempurnaan cintanya kepada bangsanya dan jenisnya."

Sumber foto:
Kartini: The Complete Writings 1898-1904 yang diterbitkan oleh Monash University Publishing.