Thursday, September 08, 2022

Bolehkah Menolak Mengizinkan Pendirian Rumah Ibadah ?

Misalkan, ada sebuah kota di Indonesia Timur dengan jumlah penduduk 20 ribu jiwa di mana sebagian besar beragama Kristen. Namun ada sejumlah perusahaan yang pegawainya adalah pendatang dan sebagian di antaranya beragama Islam. Jumlah pegawai pendatang laki-laki Muslim di kota kecil itu kebetulan hanya 100 orang saja dan jika ditambah dengan anggota keluarganya maka kurang lebih ada 400 muslim di kota itu, alias hanya sekitar 2%

Pertanyaannya, apakah 400 muslim di kota kecil ini dilarang berkumpul untuk shalat berjamaah ? 

Jawabannya jelas: Tidak boleh ada larangan itu. UUD 1945 Pasal 29 ayat 2 menyatakan "Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya itu".

Pertanyaan lebih lanjut, apakah 400 muslim di kota kecil itu dilarang membuat "masjid" kecil di tengah-tengah masyarakat Kristiani? Sekedar catatan, jumlah laki-laki Muslim itu sudah memenuhi syarat untuk shalat jumat. Jawabannya seharusnya sudah cukup jelas: tidak boleh ada larangan membuat atau menyediakan tempat khusus untuk beribadah walaupun izin untuk tempat tersebut juga harus mempertimbangkan kondisi seperti lalu lintas, tempat parkir jika jamaah sebagian dari tempat yang jauh, dan semacamnya. 

Pertanyaan lebih lanjut, apakah 400 muslim di kota kecil itu boleh membuat masjid besar, dengan menara megah dengan pengeras suara dahsyat ? Saya yakin yang beragama Muslim pasti akan menggelengkan kepala karena masjid semacam itu hanya akan mengganggu dan malah menyinggung masyarakat sekitar.

Skenario di atas adalah skenario ekstrim di mana saya sengaja membuat pemeluk minoritas dengan persentase kecil membutuhkan sebuah tempat berkumpul untuk beribadah bersama. Persentase pemeluk yang kecil bukan berarti alasan untuk melarang mereka beribadah dan bukan pula alasan untuk melarang mereka berkumpul untuk beribadah. Yang bisa dinegosiasikan dengan alasan "kerukunan" adalah wujud tempat berkumpul itu apakah diperbolehkan berupa rumah ibadah atau hanya sebuah ruang yang dipinjamkan, seberapa besar daya tampung tempat ibadah tersebut dan serta syarat-prasyarat lainnya agar tidak mengganggu.


Sebuah unjuk rasa menolak pendirian tempat ibadah, apalagi jika didukung oleh pemimpin kota, adalah preseden buruk yang dapat memancing aksi atau kebijakan balasan di daerah lain. 

Friday, August 12, 2022

Menelusuri Pemakaian Memory di Java

 Terkadang kita curiga apakah ada baris di program yang memakan memory dan tidak pernah terbebaskan oleh tukang sampah (garbage collector) ?


Mungkin bisa pakai freeMemory dari java.lang.Runtime


int repeated = 300000;//Integer.MAX_VALUE;

StringBuilder sb = new StringBuilder();

Runtime runtime = Runtime.getRuntime();

sb.append("init Memory \n Used memory: ");

long currentMemory = runtime.totalMemory() - runtime.freeMemory();

long lastFreeMemory = currentMemory;

sb.append( currentMemory );

sb.append("\t memory being used (implied): ");

sb.append( currentMemory - lastFreeMemory );


sb.append("\nrepeated log\n Used memory: ");

for(int i = 0; i < repeated; i++) {

// lakukan sesuatu yang memakan memory

}

currentMemory = runtime.totalMemory() - runtime.freeMemory();

sb.append( currentMemory );

sb.append("\t memory being used (implied): ");

sb.append( currentMemory - lastFreeMemory );

lastFreeMemory = currentMemory;

sb.append("\nCall Garbage Collector:\n Used memory: ");

System.gc();

try { Thread.sleep(1000); }

catch(InterruptedException e) { 

; // terlalu malas 

}


Selamat mencoba.

Thursday, July 14, 2022

[BUKAN REVIEW] Ms. Marvel (episode 1-6)


Awalnya aku agak ragu dengan adaptasinya saat melihat iklan. Mulai bagaimana ketika iklannya menampilkan Nakia yang gaul dan ngiler melihat tubuh bugar Kamran, sosok Aamir sang kakak yang tidak salafi, sosok ayah yang lucu. Intinya, Ms Marvel versi Disney+ memang berbeda sekali dengan versi komik.


Untungnya, sudah berminggu-minggu menyiapkan mental sehingga, saat akhirnya tayang, sudah tidak terkejut lagi. Bisha K. Ali menafsirkan Ms Marvel dengan cara yang berbeda dengan G Willow Wilson. Nakia menjadi liberal walau tetap cerdas. Aamir tidak menampilkan atribut tertentu (selain jenggot) dan lebih banyak bercanda. Sang ayah tidak lagi menjadi sosok yang serius seperti di komik tetapi lebih banyak humor.

Saya tidak akan mengomentari tentang mazhab di Ms Marvel karena bahkan seandainya mazhab-nya sama pun, perbedaan lokasi negara akan menyebabkan praktik berbeda. Misalnya, jangan harap budaya mazhab Syafi'i orang-orang yang sudah lama tinggal di Amerika bakal sama persis dengan NU di Indonesia. Apalagi ini mazhab berbeda. Dan latar belakang Bisha K. Ali pun juga berbeda dengan G. Willow Wilson.

G. Willow Wilson, wanita kulit putih kelahiran New Jersey yang belajar Islam di Mesir, saat menulis Ms Marvel, lebih banyak membahas tentang gegap budaya antara imigran dengan masalah sosial di Amerika Serikat, termasuk tentang pengangguran di antara kaum muda, tentang gentrifikasi, dan semacamnya. Baru jilid ke sekian, akhirnya Kamala pergi ke Pakistan, mencari jati diri. Ada kisah tentang partisi/pemisahan India-Pakistan namun tidak semassif di versi Disney+.

Bisha K. Ali, pemimpin tim penulis Ms Marvel untuk Disney+ tampaknya lebih tertarik menggali ke-Pakistan-an Kamala. Ada ibu-ibu menggosip soal perempuan yang memilih batal menikah dan mengejar 'gora' di Eropa. Ada tarian di pernikahan Aamir. Dan puncaknya adalah episode 5 yang mengisahkan partisi/pemisahan India-Pakistan. Komiknya memang menampilkan pemisahan tetapi tidak sedramatis yang ditampilkan serial Disney+.

Episode terakhir mulai menyatukan kembali Ms Marvel dengan versi komiknya, mulai dari pakaian lengkap dengan selendang merah, hingga teriakan "embiggen". Namun di akhir Ms Marvel versi Disney+ tetap berbeda dengan versi komik. Lagu latar mengakhiri perdebatan fans apakah Ms Marvel tetap seorang inhuman di versi MCU. "Apapun itu, tak lebih dari sekedar label lain", ucap Kamala yang mungkin menyadari kemungkinan perdebatan lanjut.

Kalau kalian menonton Ms Marvel dengan harap menonton superhero yang kebetulan beragama Islam, kalian mungkin agak sedikit kecewa karena berbeda dengan yang dibayangkan. Versi komik mungkin lebih sesuai karena ada beberapa isu seperti *uhuk... ciuman pertama.

Saya melihat versi Disney lebih ringan tetapi menekankan pada keragaman termasuk identitasnya sebagai keturunan Pakistan. Episode 4 dan episode 5 adalah episode paling menarik menurutku.


Friday, April 08, 2022

Untuk Kartini, Pendidikan Wanita Bukan Sekedar Untuk Kepentingan Wanita



Seringkali kita mengabaikan Kartini karena menganggapnya hanya sebagai pahlawan emansipasi. Padahal seperti yang pernah kukutip surat-surat sebelumnya, Kartini juga peduli pada diskriminasi berbahasa [1], gelisah akan adat suap-menyuap [2], dan merebaknya candu di Jawa [3].

Perkara pendidikan pun, Kartini bukan hanya peduli kepada perempuan tetapi juga kepada laki-laki. Misalnya dalam suratnya kepada Nyonya Abendanon tertanggal 24 Juli 1903, ia menyampaikan berikut:

Kini aku memiliki permohonan penting kepada Nyonya, sebenarnya kepada Duli Tuanku. Dapatkah Anda menyampaikannya kepada Yang Mulia? Kami menaruh perhatian kepada seorang pemuda dan berharap ia sukses. Nama dari pemuda ini adalah Salim, ia seorang Sumatra, dari Riau, dan tahun ini ia menyelesaikan ujian akhirnya di H.B.S dan meraih nomor 1 dari 3 H.B.S. Bocah ini sangat ingin belajar ke Belanda untuk menjadi dokter namun sayangnya, keuangannya tak memungkinkan. Ayahnya digaji hanya f150. Jika diperlukan, ia siap untuk mengabdi sebagai kelasi asalkan ia bisa pergi ke Belanda. Tanyalah kepada Hasim mengenainya, ia mengenalnya dan mendengarnya berpidato di STOVIA. Ia adalah jejaka berhati keras, yang layak untuk dibantu. 

Ketika kami mendengar tentangnya dan ambisinya, keinginan kuat timbul dalam dada kami untuk melakukan segalanya agar mudah baginya. Kami terpikir keputusan Pemerintah pada tanggal 7 Juli 1903, resolusi yang begitu lama kami tunggu dan kami terima dalam kesedihan. Haruskah buah kerja keras dari kawan-kawan bangsawan, dan harapan, doa serta keinginan kami hilang tak terpakai? Pemerintah menawari kami berdua f4800 untuk menyelesaikan pendidikan kami -- tak bisakah dialihkan kepada ia yang lebih membuthkan dari kami dan tak kurang membutuhkan? Akan sangat menyenangkan jika Pemerintah mempersiapkan membayar seluruh pendidikannya, yang berjumlah f8000 -- jika tak memungkinkan, kami akan berterimakasih jika Salim dapat menerima f4800 yang sudah disisihkan untuk kami. Sisanya akan kami carikan bantuan dari yang lain. Bolehkah kami menulis kepada ratu tentang Salim? Bukan dalam bentuk petisi melainkan surat pribadi?

Oh, biarkan ia merasakan kesenangan yang sudah kami dambakan bertahun-tahun dan tertolak dari kami. Buatlah kami bahagia dengan membiarkan orang lain bahagia, ia yang juga terinspirasi dari keinginan yang sama, perasaan yang sama, dan aspirasi yang sama seperti kami. Kami tahu merasakan kehidupan dalam diri kami, membawa keinginan membara dalam dada kami. Oh jangan biarkan kehidupan muda yang indah, energi yang segar menjadi hilang. Hal-hal ini harus segera dimanfaatkan untuk kebaikan orang-orang yang benar-benar membutuhkan energi tersebut.

Heer van Kol menulis bahwa Menteri Koloni telah menulis kepada G.G atas inisiatifnya sendiri terkait petisi kami tentang pendidikan di Belanda. Tidakkah kasus Salim juga unik? Oetoyo adalah orang Jawa pertama yang mendapatkan posisi teratas dalam ujian akhir H.B.S. Antara dia dan Salim ada jarak 12 tahun. Pastilah akan dahsyat jika Salim dapat membantu rakyatnya sebagai dokter! Bahkan itulah impian Salim: bekerja untuk masyarakatnya!

Memang ganjil permintaan kami, kami sadari tetapi jika seandainya dikabulkan, Moeske, maka berbulan-bulan, bertahun-tahun perjuangan tidak akan terasa terbuang sia-sia. Biarkan kami merasakan kemewahan langka dalam hidup kami melihat buah dari perjuangan dan penderitaan kami: mewujudkan cita-cita Salim.

Semoga Tuhan mendengar doa kami! Haruskah kami menulis kepada Ratu, Bunda? Hidup pemuda baik itu, energi yang segar, tak boleh terbuang sia-sia! Aku tahu sosok yang cocok untuk menjaga Salim, yaitu kakakku. Ia juga orang baik dan menyayangi masyarakat kami. Dia, tak diragukan lagi, akan bersimpati kepada Salim. Kami akan menulis ke Belanda tentangnya. Tahukah Nyonya bahwa Abdul Rivai, mantan Dokter-Jawa, sekarang adalah mahasiswa medis di Amsterdam dengan dukungan finansial dari mantan Menteri Kolonial Cremer? Kami akan mencari orang-orang yang mampu mengulurkan tangan kepada kami.

Salim sendiri tak tahu apapun tentang ini, ia bahkan tak tahu keberadaan kami. Ia hanya tahu bahwa dengan hati dan jiwanya, ia merindukan menyelesaikan pelajarannya sehingga ia kelak dapat bekerja untuk masyarakatnya dan ia tak mampu melakukan ini karena ia tak punya uang.

Kami hidup, berharap, dan berdoa untuk Salim.



Ketika menulis tentang pendidikan bagi kaum wanita pun, Kartini tidak hanya melihat kepentingan wanita tetapi kepentingan bangsanya secara meluas, perempuan maupun lelaki. Misalnya, dalam memorandum kepada Pemerintah Belanda pada Januari 1903, Kartini menulis: 

Sementara sangat mustahil untuk memberikan pendidikan sesegera mungkin kepada populasi 27 juta orang, tidaklah muskil untuk memulainya dengan memberikan pendidikan kepada kelas atas dari populasi itu dan mengembangkan mereka sehingga mereka dapat berguna kepada masyarakat di bawahnya. Rakyat sangat tergantung kepada para bangsawan; apa yang terpancar dari mereka akan mudah diterima oleh rakyat.

Apa keuntungan dari fakta ini yang dapat menyenangkan semua pihak: Pemerintah, Bangsawan, dan rakyat jelata? Sampai hari ini, keuntungan yang didapat hanyalah kepastian hukum dan ketertiban serta bon-bon pembayaran rutin. Negara dan bangsawan telah diuntungkan tetapi apa yang didapat oleh rakyat jelata? Apa keuntungan yang didapat rakyat dari bangsawan yang mereka puja dan pemerintah yang menguasai mereka? Hingga hari ini, tak ada atau jikapun ada sangatlah kecil. Lebih mungkin mereka berada dalam kemalangan ketika para bangsawan menyalahgunakan kekuasaan dan hal itu tetaplah bukan peristiwa yang langka.    

.....

.....

... Dan masyarakat pribumi sangat benar-benar membutuhkan dasar moral yang kuat, tanpanya maka apapun cara yangdilakukan oleh Pemerintah, bagaimanapun niat baiknya, tetaplah akan gagal atau kalaupun berhasil hanya dengan hasil yang minimal. Karena itu, dasar moral masyarakat Pribumi harus ditingkatkan; Sekali dasar moral yang baik telah didirikan maka bibit-bibit kemajuan akan dapat ditumbuhkan.

Siapa dapat yang menyangkal bahwa perempuan lah yang memiliki tugas besar untuk mengembangkan moral masyarakatnya ? Dia lah, tepatnya dia, yang dapat melakukannya; dia yang menyumbang banyak, jika bukan paling banyak, untuk memastikan standar moral masyarakat. Sifat alamiahnya yang menugaskannya demikian. Sebagai ibu, ia adalah pendidik pertama; di kakinya, anak-anak pertama kali belajar merasakan, berpikir, dan berbicara, dan di sebagian besar kasus, pengasuhan awal ini mempengaruhi kehidupan si anak sepanjang hidupnya. Dari tangan ibunya lah, pertama kali ditanam mutiara kebajikan atau kejahatan dalam hati individu dan umumnya bertahan sepanjang hidup. Bukan tanpa alasan pepatah mengatakan pengetahuan baik dan buruk ada di dalam susu ibu. Namun bagaimana ibu-ibu Jawa mendidik anaknya jika mereka sendiri tak terdidik. Pendidikan dan pengembangan orang Jawa tidak akan maju jika wanita disampingkan, jika mereka tak diberi peran untuk ini. Tumbuhkan hati dan pikiran perempuan Jawa dan kalian akan dapati rekan kuat dalam pekerjaan besar nan indah ini; mencerahkan masyarakat yang berjumlah jutaan! Berikan Jawa ibu yang cerdas dan peningkatan kehidupan  dan kebangkitan rakyat tinggal sekedar masalah waktu.

Sementara berikan pendidikan kepada putri-putri bangsawan maka proses peradaban akan mengalir kepada masyarakat. Didik mereka menjadi ibu yang mampu, bijak, dan baik dan mereka akan menyebarkan pencerahan kepada masyarakatnya. Mereka akan mengalirkan  pendidikan dan perbaikan kepada anak mereka, kepada putri-putri mereka yang kelak juga akan menjadi ibu, kepada putra-putra mereka yang akan terpanggil untuk menjaga kesejahteraan rakyat. Dan sebagai sosok yang tercerahkan secara intelektual dan spiritual mereka, dengan berbagai cara akan membantu rakyat mereka dan masyarakat mereka.

.....

... Sungguh, faktor penting untuk meningkatkan populasi adalah kemajuan wanita-wanita Jawa! Karena itu sudah seharusnya menjadi tugas awal Pemerintah utnuk meningkatkan kesadaran moral masyarakat Jawa, mendidiknya, melatihnya, membuatnya menjadi ibu yang mampu, bijak, dan mengasuh! Jumlah pendaftaran di sekolah Pemerintah maupun Swasta menunjukkan bahwa pejabat-pejabat pribumi juga menginginkan pendidikan tercerahkan untuk putri-putri mereka.

Ada beberapa bupati yang bersama anak-anak mereka juga membuat ibu dari anak-anak mereka dilatih oleh guru-guru perempuan Eropa. Dan lebih banyak orang tua yang mengizinkan anak-anak mereka dididik jika ada kesempatan; karena sekolah wanita tidak ada di manapun di skeitar ini dan para orang tua masih ragu untuk mengirimkan anak perempuannya ke sekolah campur.

Selama beberapa tahun, sekolah swasta bersubsidi telah didirikan oleh seorang guru perempuan Eropa di Priyangan terutama untuk bangsawan pribumi. Baik anak laki-laki maupun perempuan menghadiri sekolah tetapi diajarkan di kelas yang terpisah dan anak-anak laki-laki pulang lebih dahulu sehingga anak-anak dari jenis kelamin berbeda tidak berjumpa satu sama lain dan sesuai dengan adat setempat. Tidak perlu diperdebatkan, masyarakat pribumi hanya perlu sadar bahwa sudah ada sekolah semacam ini -- tetapi hanya satu -- untuk perempuan-perempuan bangsawan. Kesuksesan sekolah semacam ini terjamin karena kualitas pribadi dan  reputasi serta kemampuan yang sudah dikenal dari individu yang mendirikan sekolah tersebut tetapi Pemerintah juga punya peran di sini. Pemerintah bisa mempromosikan kesuksesan tersebut dengan mendukung sekolah itu dan lebih dari itu, menunjukkan bahwa Pemerintah menghargai kemajuan perempuan Jawa!

......

......

Sekolah-sekolah tak bisa memajukan masyarakat sendirian: lingkungan rumah harus dapat bekerjasama dalam perkara ini. Dari rumahlah panduan moral datang -- bagaimanapun pengaruh keluarga muncul siang dan malam sementara pengaruh sekolah hanya ada beberpa jam sehari. Namun bagaimana lingkungan rumah dapat memberikan pengasuhan ini jika elemen penting di dalamnya, istri, ibu, tidak siap untuk mengasuh?

Jika Pemerintah terlihat oleh kami, populasi Jawa, senang dengan kemajuan wanita-wanita Jawa, akan membantu isu ini. Dukungan semacam itu akan lebih efektif daripada yang lain. Akan sangat berdampak besar jika Pemerintah secara langsung menginstruksikan semua pejabat pribumi harus mengirimkan putri-putri mereka ke sekolah, yang sayangnya instruksi ini tak akan pernah dikeluarkan oleh Pemerintah!

Jika para bangsawan tahu bahwa Pemerintah menginginkan putri-putri mereka untuk berbudaya tinggi maka mereka mungkin tidak mengirim putri-putri mereka karena keinginan pribadi tetapi tetap saja akan mengirim mereka di luar kehendak mereka. Para bangsawan harus disemangati dalam hal ini. Pentingkah apa yang kelak jadi motivasi para bangsawan mengirimkan putri mereka ke sekolah? Yang penting adalah putri-putri mereka dikirim ke sekolah!

Pernyataan ini dipertegas lagi dalam Memorandum yang menjadi lampiran petisi kepada Pemerintah untuk membantu pendidikan pada 19 April 1903.

Kami mencari dan mencari -- dan kami menyadari, merasakan, dan mengalami penderitaan dari banyak orang yang menderita dan jelas dan semakin jelas hingga begitu nyata bagi  kami, terpatri dalam hati dan pikiran kami: "sekolah saja tidak cukup untuk mendidik dan meningkatkan semangat dan moral seseorang, lingkungan keluarga harus juga dididik."

Bagaimana kami sampai pada kesimpulan itu? Oh itu jelas sekali dan begitu dekat dengan tangan kami! Kami melihat ibu-ibu Jawa mendidik anak-anaknya dan itulah kunci misteri yang kami hadapi. Atau lebih tepatnya, tak akan didapati di dunia ibu yang lebih ramah daripada ibu-ibu Jawa, tetapi juga tak akan ditemukan di dunia ibu yang lebih lemah dan lebih tak bijak dari ibu-ibu Jawa. Metode "selendang" dari mengasuh anak didesain untuk mendidik anak yang cengeng dan sulit diatur, yang akan jadi egois dan diktator di masa depan. Lebih tepatnya, tidak ada tempat yang lebih aman dan hangat daripada hati seorang ibu tetapi di sanalah, di sumber kehidupan, seseorang harus menjaga agar tidak mencampur semangat mempertahankan hidupnya dengan bibit-bibit yang akan menghancurkan karakternya.

Seorang ibu Jawa tidak dapat tahan melihat anaknya menangis, ia akan memanjakannya walaupun ia sadar bahwa sebenarnya lebih baik membiarkannya menangis lebih lama. Tak berlebihan bahwa pendidikan anak dimulai dari hari pertama kehidupannya? Mengangkat bayi merah yang belum berusia seminggu, yang menangis, menjerit tanpa alasan, menggendongnya, membuainya hingga tidur di lengannya dan mereka akan terus-terusan melanjutkan mengasuh dengan cara seperti ini: si anak akan terus-terusan memanggilmu untuk melakukan ini. Dan jika suatu saat si ibu tak mampu, apa yang kelak terjadi? Siapa yang membuatnya tak bahagia? Ia sendiri bersama anaknya!

Inilah yang belum dipahami oleh ibu-ibu Jawa; alasannya adalah "seorang anak masihlah anak, yang tak dapat dan tak seharusnya melakukan apapun selain disayang dan diperhatikan. Karena itu membiarkan anak menderita, menangis adalah kejam".

Oh, para ibu, seandainya kalian menyadari bahwa biarkan anak memenangis sesekali akan menyelamatkan hidup kalian dan buah hati kalian dari lautan tangisan kelak. Menyerah kepada perilaku buruk anak dan wewenangmu akan diremehkan selamanya. Jika anak dibesarkan seperti ini, dimanjakan dengan cara seperti ini, sang ibu akan mengeluh dan menghela nafas tentang kenakalan anak yang ia sudah tak kuasai. 

Dan kemudian sang ibu akan melakukan kesalahan lain, ia menjadi marah terhadap perilaku anak dan menghukumnya dengan memukulnya. Memukulinya akan menyakitkan tetapi tidak selalu meningkatkan perilakunya.  Sungguh menyakitkan melihat anak menyiksa ibunya, ya, bahkan memukulinya, yang bukan hal langka di dunia kami. Dapatkah kami menyalahkan anak untuk ini? Apakah ini kesalahan sang anak belaka? Tidak, ia hanya melakukan apa yang diajari ibunya. Siapa yang mengajarinya untuk menjadi egois, angkuh, dan siapa yang mengajarinya untuk membalas dendam?

Jika anak jatuh ke tanah, terbentur oleh sesuatu, sang ibu menenangkan anaknya dengan memukuli tanah, atau benda yang ditabrak anak, yang sebenarnya tindakan itu hanya menyakiti tangannya sendiri: benda tersebut yang dimarahi, yang disiksa, yang disalahkan bukan si anak. Dengan cara ini, si anak belajar bahwa jika mengalami kecelakaan, ia harus melihat kesalahan orang lain; ia harus menjadi kejam dan mencari pembalasan.

...........

..........

Oh, untuk alasan ini, kami meminta, memohon, mendesak Pemerintah dan semua orang yang peduli kepada orang-orang Jawa: "berikan pendidikan kepada para perempuan Jawa. Kembangkan mereka baik jiwa maupun pikiran, bentuk mereka menjadi perempuan yang bijak dan baik, agar dapat menjadi pengasuh yang baik untuk generasi yang masa depan". 

Dan ketika Jawa telah memiliki ibu-ibu yang baik dan bijak, maka proses mengadabkan rakyat hanya menjadi sekedar masalah waktu! Ketika pikiran-pikiran anak-anak yang kacau terbangun seiring dengan waktu dan menjadi tegas, mereka akan menjadi semakin yakin dan semakin besar keyakinan mereka, semakin kuat, semakin besar keinginan untuk bertindak, untuk menghasilkan sesuatu -- keinginan yang sudah tumbuh dan panas dalam diri kami, dan hati kami serta pikiran kami mengatakan keinginan ini adalah bagus!


Jadi jelas lah, dalam pandangan Kartini, memajukan wanita adalah langkah awal dalam mempercepat kemajuan bangsa. Dengan mengasingkan perempuan dari kemajuan zaman maka sama saja menihilkan segala usaha mencerdaskan bangsa.

Di masa kini, beberapa pandangan Kartini mungkin ketinggalan zaman. Kini kita tahu bahwa mendidik dan mengasuh anak bukanlah tugas perempuan semata melainkan juga tugas para lelaki sebagai ayah. Suami berbagi beban dengan para istri, bukan menimpakan tanggung jawab kepada istri. Namun, pandangan Kartini bahwa kemajuan perempuan adalah titik awal kemajuan bangsa tidaklah salah. 


Referensi:

1. https://cacianqalbukunderemp.blogspot.com/2021/04/kartini-dan-diskriminasi-bahasa.html 

2. https://cacianqalbukunderemp.blogspot.com/2021/04/kartini-dan-praktik-gratifikasi-abad-xix.html 

3. https://cacianqalbukunderemp.blogspot.com/2021/04/kartini-dan-candu-opium.html 


Surat-surat Kartini di atas kuterjemahkan tidak dari bahasa Belanda melainkan bahasa Inggris hasil terjemahan Joost Coté. Dapat ditemukan di buku beliau, Kartini: The Complete Writings 1898-1904.

Sunday, December 05, 2021

Suka Sama Suka



Dalam kisah film American Beauty, produksi tahun 1999, Lester, seorang bapak-bapak tergoda oleh kegenitan seorang remaja putri Angela. Angela, yang menginginkan citra "nakal" menggoda si pria paruh baya berkali-kali dan lirikannya disambut oleh Lester yang memang sedang dikecewakan oleh istrinya. Di babak akhir, ketika akhirnya Lester dan Angela berhasil menemukan momen berdua, sendirian, tanpa gangguan, dan Lester memulai foreplay, Angela terisak. Di detik-detik terakhir, Angela mengakui bahwa ia masih perawan dan sebenarnya ia tak ingin menyerahkan keperawanannya. Angela menyesali candaan-candaan menggodanya. Terkejut, Lester pun memilih menjauh, menjaga jarak dan membatalkan niat merusak keperawanan gadis remaja. Sayangnya kisah itu hanyalah film, tidak banyak pria seperti Lester, bahkan aktor yang memerankan Lester pun tidak sebijak itu (ya, Kevin Spacey si aktor dituduh melakukan pelecehan seksual).


Seberapa banyak perempuan di Indonesia yang berpacaran untuk menyerahkan keperawanannya ? Saya termasuk yang masih percaya bahwa tidak banyak wanita yang ingin menyerahkan keperawanannya sebelum pernikahan mengingat kondisi Indonesia yang konservatif religius. Namun ketika seorang wanita terjebak dalam situasi berdua, sendirian, para pria acap kali menggunakan berbagai cara baik halus maupun kasar. Salah satu cara halus yang digunakan adalah, "saya pasti akan menikahimu" untuk mendapatkan akses ke badan wanita tersebut. Ya, janji menikahi sebenarnya salah satu bentuk cara memperkosa wanita.

Beberapa pemerkosa membujuk rayu korban-korban yang masih muda dengan uang atau finansial. Para pemerkosa tahu tindakan mereka salah dan karena itu sebuah tindakan bujuk rayu seperti uang kerap digunakan agar korban tutup mulut. Kadang tindakan itu juga didampingi ancaman halus seperti tidak akan ada yang mempercayai korban jika korban bercerita.

Para pria yang menjanjikan "saya akan menikahimu" pada dasarnya serupa dengan para pemerkosa yang membujuk rayu dengan iming-iming uang. Perbedaannya hanyalah, iming-imingnya adalah sebuah janji yang belum dipenuhi bahkan setelah hubungan badan itu terjadi. Celakanya wanita yang sudah luluh oleh janji semacam itu, biasanya akan merasa tidak percaya diri dan tergantung pada pria tersebut dan ia jatuh ke dalam tipuan yang sama berulang kali.

Memang sukar apakah seorang pria berjiwa pemerkosa, menggunakan janji untuk melumpuhkan perlawanan korbannya ataukah pria tersebut memang tidak percaya pada norma perkawinan tetapi serius pada ucapannya. Sebagai pria saya paham mengapa banyak pria tidak nyaman menyamakan 'janji-janji muluk' sebagai pemerkosaan.

Namun ketika seorang pria terungkap mengajak wanita yang dikencaninya menggugurkan kandungan anaknya, seharusnya kita menyadari bahwa pria itu pemerkosa dan semua hubungan-hubungan seksual yang ia lakukan adalah bentuk pemerkosaan. Sangat tidak layak kita menggunakan istilah "suka-sama-suka" sementara hubungan itu berdasarkan sebuah janji yang hanya manipulasi belaka.

Seorang pria yang sungguh-sungguh mencintai wanita yang ia berikan janji itu pasti akan berani mengambil tanggung jawab walau itu berarti ia kehilangan kebebasannya, kehilangan masa depannya, diasingkan dari keluarganya.

Berhentilah menggunakan istilah "suka-sama-suka" terhadap korban aborsi kecuali bisa dibuktikan pria tersebut sudah melakukan langkah-langkah konkrit berusaha memenuhi janjinya dan aborsi tersebut terbukti inisiatif dari perempuan.

Ilustrasi: Berita CNN tentang berita pemberhentian Bripda Randy yang menyuruh pacarnya aborsi. https://www.cnnindonesia.com/nasional/20211205165951-12-730160/polri-berhentikan-bripda-randy-dengan-tidak-hormat-lewat-sidang-etik

Thursday, November 11, 2021

[KASUS KHAYAL] Pria Tua Mencium Pipi Gadis Muda

Ilustrasi: Mahasiswi dan Dosen yang ternyata ayah dan anak.
Diambil dari drakor berjudul Law School.

Misalkan Anda seorang mahasiswa dan melihat di ruangan kelas Anda melihat dosen yang sudah berusia sepuh mencium pipi mahasiswi yang lebih muda. Apa yang akan Anda simpulkan? Pelecehan seksual? Perselingkuhan? 

Seandainya ada peraturan yang melarang "menyentuh, mengusap, meraba, memegang, mencium" maka tindakan dosen tua tersebut sudah tentu dianggap bermasalah walaupun si mahasiswi tidak keberatan. Apakah tindakan tersebut adalah tindakan asusila, menjurus pada seks bebas? Belum tentu! 

Bagaimana jika dosen dan mahasiswi tersebut adalah ayah dan anak dan sang ayah terbiasa mencium pipi sang anak. Jika tidak ada hal-hal aneh selain itu, apakah layak si dosen tua dituduh sebagai pelaku seks bebas? 

Mungkin Anda akan berpikir, "kalau begitu tambahkan kata 'bukan mahram' atau 'bukan keluarga' di peraturannya maka tindakan dosen tua itu tidak akan dihukum. Sepintas menyelesaikan masalah tetapi membuka celah untuk kasus lain. Bagaimana jika dosen tua itu ternyata melecehkan putrinya sendiri? Hubungan keluarga tidak menjamin tiadanya pelecehan.

Itulah alasan frasa "dengan persetujuan korban" menjadi penting. Saksi mata di sekitar korban cukup dengan mendengar kata "tidak", seharusnya sudah bisa melakukan intervensi. Tidak perlu harus menunggu korban menjerit minta tolong.

Jika si putri tidak keberatan ayahnya mencium pipinya, saksi mata di sekitar bisa menarik kesimpulan bahwa di rumah pun ayahnya biasa mencium pipi putrinya dan tidak ada hal buruk. Namun kalau si putri menolak dicium, saksi mata bisa tahu ada hal yang tidak beres apalagi jika si dosen tua memaksakan mencium si mahasiswinya.  Dan kabar baiknya, saksi mata bisa intervensi tanpa perlu tahu hubungan antar mereka berdua. 

Bagaimana jika dosen tua itu tidak punya hubungan dengan si mahasiswi dan mereka memang punya hubungan gelap? Maka ranahnya adalah etika tetapi bukan kekerasan seksual, bukan pelecehan. Jika si saksi kenal keluarga si dosen, mungkin bisa cerita langsung dan biarlah pasangan resmi si dosen memutuskan mengadukan atau membiarkan. 

Bagaimana jika dosen tua itu jomblo dan mahasiswinya mau demi nilai? Maka membuktikan si dosen melakukan tindakan asusila lebih sulit  Seandainya dipaksakan ada peraturan yang menjerat perilaku menjurus ke seks bebas, niscaya lebih banyak orang tak bersalah yang terkena daripada pelaku seks bebas itu sendiri. Kalau ada peraturan macam itu, dosen tua dan mahasiswinya bisa berpura-pura tak ada hubungan apa-apa. 

Itu sebabnya, "tanpa persetujuan" memudahkan orang untuk menilai ketidakberesan tanpa harus banyak berprasangka buruk. Sama seperti kasus pencurian, jika seseorang tertangkap membawa barang yang bukan miliknya, cara membuktikan ia maling atau tidak adalah dengan membuktikan apakah pemilik barang itu setuju barangnya dibawa oleh pelaku. 

Anda tidak perlu harus sampai menelusuri kisah asmara antara korban dan pelaku untuk bertindak.


Monday, November 08, 2021

Kenapa Peraturan Pencegahan Kekerasan Seksual Selalu Gagal di-Undang-Undang-kan



"Jika KORBAN SETUJU apakah hal tersebut DIPERBOLEHKAN dalam pergaulan mahasiswa/kampus di Indonesia?", pertanyaan semacam ini selalu muncul setiap kali ada upaya membuat peraturan pencegahan kekerasan seksual. 

Ini adalah jenis kesalahan logika orang-orangan sawah (STRAWMAN FALLACY). Pengguna logika ini menganggap bahwa orang yang mendukung aturan pencegahan ini adalah pendukung kebebasan seksual. Dengan asumsi ini, mereka membangun argumen tandingan yang mereka anggap adalah argumen lawan mereka lalu mereka serang sendiri argumen khayalan ini.

Pertanyaan yang benar adalah, SEANDAINYA TIDAK ADA PERATURAN ini, APAKAH pelaku pelecehan seksual yang menyentuh, mengusap, meraba, memegang, memeluk, mencium BISA DIHUKUM ? 


Sepintas, kalau melihat jawaban Sovia Hasanah SH di Hukum Online pelaku bisa ditindak. Namun kalau dilihat argumennya maka kita akan melihat masalah. 


Pertama, dari sekian banyak pasal pencabulan, Sovia memilih pasal 289 KUHP, yakni dengan ancaman kekerasan berbeda dengan kasus yang ia pilih, yakni kasus di Luwu. Apakah mungkin Bu Sovia kurang teliti? Karena hakim membebaskan terdakwa dari dakwaan primair (pasal 289).

Kedua, membuktikan ancaman itu sulit. Bu Sovia mengakui dalam jawabannya. Jadi pasal 289 yang dipilih sebenarnya juga sulit untuk diterapkan karena ada unsur pembuktian "kekerasan" atau "ancaman kekerasan". 

Ketiga, bahkan dalam jawabannya, Bu Sovia tetap menyarankan MEDIASI SEBELUM MELAPORKAN ke kepolisian. Padahal proses "mediasi" ini akhirnya seringkali menjadi pembungkaman kasus pelecehan seksual. 

Keempat, kasusnya sendiri adalah kasus PERCOBAAN PEMERKOSAAN di mana terdakwa membuka baju korban dan MENEMPELKAN KEMALUAANNYA pada KELAMIN KORBAN. Dan kasus ini dianggap sebagai pencabulan;

Kelima, salah satu penyebab hakim AKHIRNYA tetap MENJATUHKAN HUKUMAN  adalah karena ada saksi yang mendengar teriakan korban. 


Sekarang bagaimana seandainya kasusnya seperti ini:

Ada dosen yang  "tidak sengaja" menyentuh payudara mahasiswinya berkali-kali sehingga membuat korban risih. Tidak ada jeritan minta tolong, hanya ungkapan kekesalan korban, "Pak, jangan begitu dong". 


Paling banter dianggap sebagai melanggar kode etik dan ditegur lisan atau peringatan tertulis sesuai Pasal 60 dan Pasal 78 UU No 14 tahun 2015 dan itupun kalau korban sudah berani melaporkan. 


Bahkan karena tidak ada detail eksplisit apa yang dimaksud dengan kode etik, bisa jadi tindakan pelaku tidak dianggap melanggar kode etik atau normal setempat atau dianggap wajar saja. Ujung-ujungnya pelaku cuma diajak bercanda, "Bro, ente kurang ahli merayu cewek" lalu pelaku dan korban "didamaikan".


Sekarang bandingkan dengan Peraturan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi Nomor 30 Tahun 2021:


1. tindakan-tindakan yang disebutkan di atas sudah secara eksplisit dinyatakan sebagai Kekerasan Seksual. Tidak boleh lagi dijadikan bahan bercandaan;

2. tindakan administrasi yang paling ringan adalah teguran tertulis DAN PERNYATAAN PERMOHONAN MINTA MAAF SECARA TERTULIS YANG DIPUBLIKASIKAN !

Jadi tak ada lagi cerita pelecehan yang disembunyikan diam-diam, pelaku hanya ditegur tak serius dan kasus tersebut hanya dijadikan canda; 

3. kampus diwajibkan membuat layanan pelaporan dan prosedur pendampingan korban. Jadi tidak ada lagi cerita usul mediasi yang ternyata hanya berniat "mendamaikan" dan membungkam cerita pelecehan. 



BACAAN YANG JADI RUJUKAN:


Jawaban Sovia Hasanah di Hukum Online

https://www.hukumonline.com/klinik/detail/ulasan/lt5852311678437/jerat-hukum-bagi-dosen-yang-mencabuli-mahasiswinya


Kasus di Luwu 

Putusan PN LUWUK Nomor 37/Pid.B/2014/PN.Lwk

Tanggal 24 September 2014 — Pidana - MUKHLIS A. LAADI, S.Pd., MM

https://putusan3.mahkamahagung.go.id/direktori/putusan/cdb7ca1462490974f3bd2f67e2c8909d


Undang-Undang no 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen

https://www.hukumonline.com/pusatdata/detail/25759/nprt/729/uu-no-14-tahun-2005-guru-dan-dosen


Salinan Permendikbud nomor 30 tahun 2021

https://jdih.kemdikbud.go.id/sjdih/siperpu/dokumen/salinan/salinan_20211025_095433_Salinan_Permen%2030%20Tahun%202021%20tentang%20Kekerasan%20Seksual%20fix.pdf