Deklarasi Balibo November 1975
Pada 30 November 1975, sebuah dokumen yang konon dideklarasikan di Balibo, Timor-Timur -- dan kelak dikenal sebagai Deklarasi Balibo, "mengundang" Pemerintah Indonesia untuk bertindak memerangi Pemerintah "fasis" Fretilin.
Deklarasi Balibo ini menjadi causa belli/alasan berperang Indonesia terhadap Timor Leste. Dokumen ini ditandatangani oleh 6 orang:
1. Francisco Xavier Lopes da Cruz (UDT)
2. Domingos de Oliveira (UDT)
3. Guilherme Gonçalves (APODETI)
4. Alexandrino Borromeo (APODETI)
5. José Martins (KOTA)
6. Domingos da Conceição Pereira (Partido Trabalhista)
Sebagai rakyat Indonesia yang selama ini mendengar sejarah versi Pemerintah Indonesia (Orde Baru) mungkin mengira bahwa terjadi perang saudara di Timor Leste dan mayoritas rakyat Timor Leste menginginkan bergabung (integrasi) dengan Indonesia. Namun kenyataannya berbeda:
1. UDT bertujuan tetap memelihara hubungan dengan Portugis dengan kemerdekaan yang berangsur-angsur. Jadi keberadaan perwakilan UDT dalam deklarasi tersebut sebenarnya bertentangan garis perjuangan;
2. Apodeti hanya memiliki sedikit pendukung;
3. KOTA dan Trabalhista tidak memiliki pendukung yang jelas, tidak memiliki anggaran dasar. Kalaupun ada anggota, jumlahnya sangatlah kecil.
Selain itu, 3 dari 6 penandatangan Deklarasi Balibo kelak menyangkal keabsahan deklarasinya.
1. Guilherme Maria Gonçalves, pada tahun 1995 menarik dukungannya terhadap Deklarasi Balibo karena melihat proses integrasi tidak sesuai yang diinginkan. Ia sendiri menandatanganinya di Atambua bukan di Balibo;
2. José Martins, menulis pada laporan pada April tahun 1976, bahwa dokumen itu dibuat dengan paksaan oleh Bakin di Bali bukan Balibo;
3. Domingos de Oliveira pada sebuah simposium di Portugal pada Maret 1995 mengatakan bahwa ia dan pemimpin-pemimpin Timor Leste lain dipaksa menandatangani dokumen tersebut di Bali bukan Balibo.
Dokumen asli Deklarasi Balibo tampaknya berbahasa Portugis. Ketika diterjemahkan, tampaknya melewati beberapa kali penyuntingan. Setidaknya ada 5 versi bahasa Inggris dan 3 versi bahasa Indonesia. Versi paling awal dalam bahasa Portugis dan bahasa Inggris tampaknya ditulis oleh orang Timor Leste sendiri. Versi selanjutnya disunting untuk mengurangi kesetaraan Indonesia dan Timor Leste dan membuat kesan para penandatangan mewakili mayoritas. Misalnya dokumen awal menggunakan istilah "kepentingan" (interest) karena menyadari mereka bukan mewakili mayoritas tetapi di versi revisi digunakan istilah "keinginan" (wishes).
Sekedar catatan, hingga masa Presiden B.J. Habibie, PBB masih menolak keabsahan serangan Indonesia ke wilayah Timor Timur.
Referensi:
1. Lobato, Lucia Maria Brandao Freitas. Status Timor Timur Ditinjau dari Segi Hukum Pengakuan Internasional. 1993. Surabaya. Fakultas Hukum Universitas Airlangga. https://repository.unair.ac.id/11404/2/KKB%20KK-2%20Int%20185-93%20Lob%20s.pdf (akses terakhir 18 Mei 2026)
2. Matsuno, Akihisa. The Balibo Declaration: Between Text and Fact (from The East Timor Problem and the Role of Europe). 1996. Netherland. International Platform of Jurists for East Timor.
https://researchmap.jp/conflictstudies/published_papers/43293580 (akses terakhir 18 Mei 2026)
0 comments:
Post a Comment