Friday, December 22, 2006

Selamat Hari Ibu (dan Wanita)!

Pertama-tama saya bingung mau menyelamati bagaimana. Soalnya saya tahu kalau berdasarkan sejarah, hari ini bukan Hari Ibu tetapi Hari Wanita, perayaan untuk seluruh wanita yang bisa membuktikan bahwa dirinya bukanlah sekedar pasangan dari laki-laki.


Tapi, Bu...
apapun penafsirannya.. Ibu layak mendapatkan ucapan selamat.

Ibu seorang ibu yang baik yang rela walau anaknya sebegitu menyebalkan seperti ini.
Dan Ibu juga seorang wanita yang kuat.



Sebenarnya, budaya kita bukanlah budaya Patriarkal murni yang merendahkan wanita. Banyak dalam sehari-hari, aku menemui banyak wanita kuat. Bahkan jika aku pergi ke kampus naik bis, aku akan menemui ibu-ibu di Pasar Minggu yang membawa beban lebih berat dari tasku.

Eropa cuma punya satu Joan D'Arc. Kita punya Cut Nja Dhien, Cut Mutiah, Njai Ahmad Dachlan, Nyi Ageng Serang, Rasuna Said, dan tak terhitung jumlahnya. Di awal kelahiran negara ini pun, kita punya menteri wanita.

Di India masa lalu, para janda dibakar setelah suaminya meninggal (Sati). Di Nusantara, para Janda melanjutkan perjuangan suami-suami mereka, bahkan dalam beberapa kasus lebih ganas. Di Mesir dan Cina Daratan, penguasa wanita mencoba ditutup-tutupi oleh penguasa setelahnya. Di Nusantara, kita mengenal Tribuana Tungga Dewi.

Bandingkan kisah Ken Dedes dengan Diaochan. Mereka berdua sama-sama menjadi motivasi seorang pendekar untuk membunuh dan merebut kekuasaan. Tetapi sejarah tidak mencatat apa yang terjadi pada Diaochan setelah Lu Bu berhasil merebut kekuasaan. Lu Bu pun tak pernah mendirikan kerajaan. Tetapi Ken Arok berhasil menjadi penguasa Jawa. Kecantikan Ken Dedes pun diabadikan dengan patung Prajnaparamita, sebuah simbol ilmu pengetahuan.

Anyway,
selain mengucapkan selamat kepada ibunda tercinta,
izinkan aku untuk memberi selamat kepada seluruh wanita Indonesia.





Kunderemp Ratnawati Hardjito
a.k.a
Narpati Wisjnu Ari Pradana

2 comments:

wadehel said...

Budaya kita sebenarnya meletakkan perempuan di posisi yang terhormat. Entah kenapa makin kesini, perempuan makin lama makin dilaknat, hanya dianggap sebagai penggoda dan pemuas syahwat.

Selamat hari Ibu, salam hormat saya untuk jiwa keibuan dalam diri anda.

Anonymous said...

Terimaksih nak. Ibu bersyukur mendapat karunia anak seperti dirimu, walau kadang2 ibu ber tanya2,apakah yang ibu lakukan telah sesuai dengan harapan anaknya. Maafkan jika tidak sesuai harapan, tapi ibu berusaha menyelami hati anak2nya.

Menjadi ibu adalah karunia yang indah dari Allah swt, melihat anaknya tumbuh dan berkembang, dan tiada ibu yang menyesal pernah melahirkan anak2nya.
Semoga hidupmu bahagia.