Saturday, September 08, 2007

Ratu Langkasuka (atau Ratu Pattani)



Pernahkah membayangkan akan ada yang membuat film tentang Ratu Kidul dari negara lain? Atau bayangkan kalau tiba-tiba ada pembuat film dari negeri tetangga (katakanlah, New Zealand) membuat epik berbasis La Galigo?


Tenang... tenang...
Itu belum terjadi..

Tetapi ada sebuah film Thailand (dari perusahaan sama yang memproduksi Ong Bak dan Tom Yum Goong) yang memproduksi film berbasis cerita Melayu berjudul Queen of Pattani namun tampaknya akan diubah menjadi Queen of Langkasuka karena nama Pattani terlalu sensitif ( ingat bahwa beberapa rakyat Pattani masih menginginkan kemerdekaan dari Thailand).

Memang kurang tepat kalau disebutkan bahwa film tersebut dibuat oleh negeri lain karena Pattani sekarang adalah bagian dari Thailand. Namun melihat karakter-karakter yang dibungkus dengan pakaian adat melayu, mengacungkan keris ditengah-tengah meriam naga yang menyalak namun menggunakan bahasa Thailand?

Wow.. That's weird... tetapi menarik.. tetap saja menarik.

Kisahnya mengenai sebuah kerajaan Langkasuka yang orang-orangnya memiliki kemampuan berkomunikasi dengan mahluk-mahluk laut dan harus berjuang melawan serbuan bajak laut yang telah bersekutu dengan negeri-negeri tetangganya untuk mendapatkan meriam terbesar kerajaan tersebut.

Trailer-nya bisa dilihat di http://www.youtube.com/watch?v=-ujKr-Y0Wz8



Makasih buat para fans Tony Jaa yang menyebut2 film ini sehingga aku tahu.
Berikut situs-situsnya:
http://www.iamtonyjaa.com/phpBB3/viewtopic.php?f=1&t=44&p=1054&hilit=
http://www.cineglobe.de/forum/the-queen-of-langkasuka-t563.html
http://www.angkor.com/2bangkok/2bangkok/forum/showthread.php?t=1833
http://tonyjaa.blog.fr/2007/05/25/cannes_festival_2007_thai_movies_on_film~2331386

3 comments:

Iwan said...

Wow keren!
70% CG!

Kunderemp An-Narkaulipsiy said...

Jujur saja, 70% CG-nya sebenarnya agak2 norak. Karena yang penting kan hasil akhirnya.. :p

Tapi trailernya saja sudah cukup menarik kok..

edratna said...

Mana resensi "Opera Jawa nya"

Biar banyak yang cinta film Indonesia, asal nontonnya nggak terlalu malam, bisa tidur di bioskop.