Showing posts with label resensi tontonan. Show all posts
Showing posts with label resensi tontonan. Show all posts

Monday, December 04, 2023

[Bukan Review] Jatuh Cinta Seperti di Film-Film



Dahulu di era 2000an awal, saya menonton Ringgo Agus Rahman dari zaman Jomblo hingga Leher 2013. Kemudian saya agak abai mengikutinya sampai terakhir kali menonton Keluarga Cemara. Menurut saya, ia termasuk aktor yang berkembang walau mungkin tak sampai menarik perhatian. Karena itu ketika iklan menampilkan dia di film hitam putih, saya langsung tertarik.


Nirina Zubir juga termasuk aktris yang berkembang dari zaman culun tomboy di Heart, seksi di Comic 8. Terakhir kali saya menontonnya beradu akting dengan Cut Mini Theo di Saiyo Sakato. Walau tokohnya sama-sama janda, karakter yang diperankan di JCSFF berbeda dengan karakternya di Saiyo Sakato.

Jatuh Cinta Seperti di Film-Film seperti nostalgia buat pecinta film Indonesia dari masa 2000an dan lebih sukses daripada Ada Apa Dengan Cinta 2. Jika akhir AADC2 memberikan akhir menjengkelkan -- syukurlah kemudian ada spin-off Milly & Mamet, maka JCTSFF memberikan akhir semanis saccharin.

Skenario adalah kekuatan utama di film ini. Membuat film bergenre romansa membutuhkan dialog-dialog yang bisa membuat penonton terpikat pada tokoh-tokohnya. Penulis skenario sebenarnya menempuh jalan riskan dengan menempatkan karakternya seperti Jesse dari trilogi Before-nya Richard Linklater. Namun Yandi Laurens, penulis sekaligus sutradara, berhasil menciptakan percakapan panjang tetapi tak membosankan.

Kekuatan lain dari film ini adalah keputusan-keputusan sinematografi. Pilihan riskan awal yang terlihat sejak di iklan adalah penggunaan warna hitam putih. Pilihan lainnya adalah perubahan resolusi, menyesuaikan mood. Kemudian, bahkan di segmen hitam putih pun ada color grading berbeda. Tentunya juga ada variasi penggunaan kamera, sudut pandang, dan seterusnya.

Kekuatan lain film ini adalah makeup dan busana, terutama pemilihan makeup dan busana untuk karakter Hana -- Nirina Zubir. Entah bagaimana, kombinasi antara make up, busana dan akting Nirina berhasil mengeluarkan "aura janda" dan ini terlihat ketika karakter lain memerankan Hana, Julie Estelle, aura ini tidak muncul walaupun "Julie" berusaha memerankan Hana sebaik mungkin. Tim make up dan tim busana sukses membuat dua Hana ini berbeda walau dialognya sama.

Namun, di luar hal-hal teknis itu, apakah filmnya bisa dinikmati? Iya, film tersebut bisa dinikmati. Hanya satu hal kecil yang mengganggu: pilihan supermarketnya terasa tak cocok dengan mobil yang dikendarai karakter Hana.

Thursday, July 14, 2022

[BUKAN REVIEW] Ms. Marvel (episode 1-6)


Awalnya aku agak ragu dengan adaptasinya saat melihat iklan. Mulai bagaimana ketika iklannya menampilkan Nakia yang gaul dan ngiler melihat tubuh bugar Kamran, sosok Aamir sang kakak yang tidak salafi, sosok ayah yang lucu. Intinya, Ms Marvel versi Disney+ memang berbeda sekali dengan versi komik.


Untungnya, sudah berminggu-minggu menyiapkan mental sehingga, saat akhirnya tayang, sudah tidak terkejut lagi. Bisha K. Ali menafsirkan Ms Marvel dengan cara yang berbeda dengan G Willow Wilson. Nakia menjadi liberal walau tetap cerdas. Aamir tidak menampilkan atribut tertentu (selain jenggot) dan lebih banyak bercanda. Sang ayah tidak lagi menjadi sosok yang serius seperti di komik tetapi lebih banyak humor.

Saya tidak akan mengomentari tentang mazhab di Ms Marvel karena bahkan seandainya mazhab-nya sama pun, perbedaan lokasi negara akan menyebabkan praktik berbeda. Misalnya, jangan harap budaya mazhab Syafi'i orang-orang yang sudah lama tinggal di Amerika bakal sama persis dengan NU di Indonesia. Apalagi ini mazhab berbeda. Dan latar belakang Bisha K. Ali pun juga berbeda dengan G. Willow Wilson.

G. Willow Wilson, wanita kulit putih kelahiran New Jersey yang belajar Islam di Mesir, saat menulis Ms Marvel, lebih banyak membahas tentang gegap budaya antara imigran dengan masalah sosial di Amerika Serikat, termasuk tentang pengangguran di antara kaum muda, tentang gentrifikasi, dan semacamnya. Baru jilid ke sekian, akhirnya Kamala pergi ke Pakistan, mencari jati diri. Ada kisah tentang partisi/pemisahan India-Pakistan namun tidak semassif di versi Disney+.

Bisha K. Ali, pemimpin tim penulis Ms Marvel untuk Disney+ tampaknya lebih tertarik menggali ke-Pakistan-an Kamala. Ada ibu-ibu menggosip soal perempuan yang memilih batal menikah dan mengejar 'gora' di Eropa. Ada tarian di pernikahan Aamir. Dan puncaknya adalah episode 5 yang mengisahkan partisi/pemisahan India-Pakistan. Komiknya memang menampilkan pemisahan tetapi tidak sedramatis yang ditampilkan serial Disney+.

Episode terakhir mulai menyatukan kembali Ms Marvel dengan versi komiknya, mulai dari pakaian lengkap dengan selendang merah, hingga teriakan "embiggen". Namun di akhir Ms Marvel versi Disney+ tetap berbeda dengan versi komik. Lagu latar mengakhiri perdebatan fans apakah Ms Marvel tetap seorang inhuman di versi MCU. "Apapun itu, tak lebih dari sekedar label lain", ucap Kamala yang mungkin menyadari kemungkinan perdebatan lanjut.

Kalau kalian menonton Ms Marvel dengan harap menonton superhero yang kebetulan beragama Islam, kalian mungkin agak sedikit kecewa karena berbeda dengan yang dibayangkan. Versi komik mungkin lebih sesuai karena ada beberapa isu seperti *uhuk... ciuman pertama.

Saya melihat versi Disney lebih ringan tetapi menekankan pada keragaman termasuk identitasnya sebagai keturunan Pakistan. Episode 4 dan episode 5 adalah episode paling menarik menurutku.


Monday, August 10, 2020

[Bukan Review] LEGAL V EX-LAWYER SHOKO TAKANASHI

 Legal V ~ Moto Bengoshi Takanashi Shôko (2018)


Jumlah episode: 10

Asal negara: Jepang

Tersedia di : Netflix, Viu


"Lagipula, aku kan tak punya izin praktik hukum" -- Shoko, mantan pengacara


    Tadinya aku asal memilih saja serial ini untuk kutonton di akhir pekan tetapi ternyata malah keterusan, maraton hingga menamatkan episodenya. Serial ini, cewek-ceweknya tidak terlalu cantik (kecuali yang jadi Rie -- Yumi Adachi), cowok-cowoknya juga tidak tampan. Jadi benar-benar mengandalkan kekuatan cerita.

    Dengan genre komedi, aktingnya sengaja dilebih-lebihkan untuk efek komikal yang dramatis tetapi kasusnya dekat dengan dunia modern seperti kasus perundungan (bullying), doxxing berjamaah (membongkar aib masa lalu), perdagangan pengaruh, ketimpangan kuasa, dana ilegal dalam dunia startup, manipulasi foto, pemanfaatan pers dan warganet, penipuan terhadap para jomblo. 

    Alkisah, Shoko Takanashi (diperankan Ryoko Yonekura), dipecat dari kantornya, Firma Hukum Felix & Tenma, karena tertangkap basah oleh wartawan menyuap seorang Yakuza. Dalam perjalanan menenangkan diri, dia bertemu dengan pengacara muda idealis nan naif, Keita Aoshima (diperankan Kento Hayashi) yang membuatnya mengajak sejumlah orang untuk mendirikan firma hukum baru. Membujuk Profesor Kyogoku (diperankan Hideki Takahashi) yang ahli hukum ternama tetapi minim pengalaman sidang, ia berhasil mendapatkan dana untuk menyewa kantor dan menjadikan si profesor sebagai Rekan Utama sekaligus menjadi nama firma itu. Mengapa tidak menggunakan namanya sendiri? Karena Shoko sudah tak punya izin praktik. 

    Selain dua pengacara yang berhasil dibujuk, secara tak resmi, ada satu pengacara lagi yang ikut dalam firma mereka, yakni seorang mantan jaksa bernama Takashi Otaka. Berbeda dengan dua pengacara lain, Otaka membenci Shoko yang ia anggap sebagai penipu, tak layak ikut campur dalam urusan hukum karena tak punya izin. Ia nongkrong di dalam firma hanya untuk membujuk Profesor Kyogoku untuk keluar dari firma tersebut.

    Selain para pengacara, firma hukum Kyogoku juga mempekerjakan tiga paralegal terdiri dari seorang mantan karyawati bank, seorang mantan satpam, dan seorang mantan host (pramuwisma bar). Masing-masing dari paralegal ini memiliki rekam jejak menjalankan "tugas negara", yakni menjalani hukuman penjara atas kejahatan mereka antara lain menggelapkan uang perusahaan hingga menguntit seorang wanita. 

    Jadi firma hukum Kyogoku memiliki tim yang terdiri dari:

1. Profesor yang minim pengalaman sidang;

2. pengacara muda idealis yang naif dan sering gak sengaja membocorkan strategi ke pihak lawan;

3. mantan jaksa konservatif yang memandang kasus dari sisi penegak hukum;

4. dan mantan-mantan narapidana

5. serta tentu saja si mantan pengacara yang dipecat tidak hormat sehingga fungsinya hanya sebagai pengamat / pengawas.

    Entah bagaimana, kasus yang receh-receh yang mereka pilih, sebagian besar kebetulan menemukan lawan dari firma hukum besar Felix & Tenma tempat kerja Shoko dahulu. Mungkin saja kebetulan tetapi mungkin saja karena Shoko selalu menilai sebuah kasus dari potensi keuntungan finansial yang didapat jika mereka menang. Ya, Shoko yang ogah-ogahan menerima kasus ecek-ecek selalu berbinar-binar penuh semangat begitu tahu lawan adalah sebuah perusahaan berpenghasilan besar.

    Episode terburuk adalah episode 1, karena kasusnya terlalu ringan. Saksi korban bersaksi dusta dan terlalu mudah dideteksi. Walau begitu, di episode 1 ini, kita diperkenalkan karakter masing-masing pengacara. Episode-episode setelahnya menjadi lebih menarik karena abu-abu. Bahkan ada beberapa kasus di mana klien tidak seratus persen benar, alias memiliki dosa juga. Saksi pun juga tidak selalu mau datang. Bahkan kesaksian saksi pun masih bisa dimentahkan pula. 


Petunjuk bagi orang tua

    Di Netflix, serial ini memiliki rating 13 tahun ke atas. Sebagian besar adegan bisa ditonton oleh anak-anak tetapi dengan catatan, karena serial ini nyerempet skandal dan pemerasan maka ada:

1. adegan pelecehan seksual, tangan meremas pantat (bagian dari kesaksian);

2. adegan ciuman panas di dalam mobil (sebagai alat untuk memeras lawan);

3. adegan ciuman meraba payudara (sebagai alat untuk memeras saksi).

Semua adegan-adegan itu dilakukan dalam kondisi berpakaian lengkap.


Selain itu, juga ada adegan:

1. menunjukkan mayat seorang wanita di tebing (bunuh diri);

2. menunjukkan tubuh seseorang yang pingsan dengan banyak darah. 


Lalu juga ada adegan berikut:

1. foto cewek berbaju terbuka (menunjukkan si cewek punya masa lalu sebagai wanita penghibur);

2. video cewek-cewek berbikini mengelilingi pria.


Dan juga ada adegan minum-minum ringan baik untuk merayakan kemenangan maupun saat frustasi karena tidak ada kemajuan dalam kasus yang mereka kerjakan. Tidak ada adegan mabuk dengan pesta liar sepanjang sinetron ini.


Karena sinetron ini juga menyinggung isu ketimpangan kuasa dalam dunia kerja, sinetron ini juga menampilkan adegan berikut:

1. adegan seorang pria menumpahkan segelas anggurnya ke atas rambut sekretarisnya;

2. adegan seorang pria (yang sama) menumpahkan anggurnya ke dalam baju sekretarisnya.


Tuesday, November 05, 2019

[Bukan Review] LOVE FOR SALE 2

Setidaknya ada tiga cara menikmati film terbaru Andibachtiar Yusuf berjudul Love for Sale 2.

Pertama,  menikmatinya sebagai film yang mengisahkan Ican,  yang harus belajar mencintai ibunya dengan menghormati keinginan beliau. 

Kedua,  menikmatinya sebagai film yang mengisahkan Sang Ibu,  yang terasing dari putra-putranya walau ada di depan mata,  dan harus belajar mencintai mereka sebagai anaknya bukan sebagai perwujudan keinginannya. 

Ketiga,  menikmatinya sebagai film yang mengisahkan keluarga yang memiliki anggota dari berbeda unsur layaknya lapisan-lapisan masyarakat. 

Ada Sang Ibu yang mewakili kubu konservatif baik dari segi adat maupun agama.  Ucapan sang ibu mungkin terdengar klise bagi para penonton masa kini tetapi kita tahu bahwa sang ibu sungguh yakin pada apa yang diucapkan.

Ada unsur sang kakak yang mewakili kubu negara yang mencoba lepas dari adat walau tetap menghormatinya namun harus siap mendengar serapah sang ibu yang tak menerima keputusannya memilih pasangan. 

Ada Ican,  anak tengah yang juga mewakili kelas menengah,  generasi yang tak peduli adat dan moral agama tetapi sang ibu dan teman-teman konservatifnya tak menyadari sudah berapa jauh hidup Ican.

Ada si bungsu, si anak hilang yang kembali,  mewakili masyarakat bawah yang emosional karena tak punya penghasilan stabil.  Si bungsu yang tampak penuh kebencian tetapi biar bagaimana pun ia bagian dari keluarga. 

"Kita beda pemikiran tetapi kita tetap saudara",  kata Si Sulung yang aparat negara menanggapi polah adiknya yang menganggur. 

Jadi,  apa peran Arini di film ini?  Arini Chaniago bukanlah Arini Kusuma yang aktif mencari informasi tentang korbannya, aktif berpura-pura sama-sama menyukai bola. 

Arini Chaniago adalah kawan curhat yang baik,  yang tidak berprasangka dan tidak pula menambah prasangka.  Ia tidak perlu membuat teori mengapa si fulan begini, mengapa si fulanah begitu. Ia menyapa setiap anggota keluarga,  memperlakukan mereka layaknya bagian dari keluarga. 

Dan itulah kisah horornya,  anggota ideal keluarga itu sebenarnya tak ada.  Seluruh keluarga Ican harus tetap bisa mencintai walaupun anggota hantu Arini telah lenyap tak tentu rimbanya. 

"Jika telah habis kontrakku,  masihkah engkau mencintai keluargamu? " tanya Arini menunda kecupan Ican.

Monday, August 19, 2019

[Bukan Review] ADAPTASI dan BERHALA AUTENTISITAS (membahas Bumi Manusia)

Saya pembaca komik sejak kecil. Dan kadang saya tak suka pada hasil adaptasi filmnya, misalnya Watchmen. Namun tak bisa dipungkiri lebih banyak yang mengenal Watchmen dari versi Snyder daripada medium aslinya.

Contoh lain dari adaptasi penuh reduksionisme bahkan menyimpang dari semangat naskah asli adalah V for Vendetta. Namun tanpa adaptasi hasil kerja James McTeigue ini, niscaya karya Alan Moore ini hanya terkubur di perpustakaan para nerd. Tak akan ada para peretas bertopeng Guy Fawkes atau demonstran-demonstran mengenakan topeng itu terinspirasi dari adegan film yang dahulu disebut para kritikus terlalu berasa Hollywood.

Novel BUMI MANUSIA adalah berhala. Kisah penciptaan karyanya yang menunjukkan kekaguman atas kegigihan Pram menulis, dan kisah bagaimana karya ini dahulu ditindas, mengangkat derajat novel ini. Sayangnya, ini juga membuat novel ini menjadi berhala, dipuja-puja tanpa kritik.

Bumi Manusia adalah karya Pram ketiga yang saya baca dan saya tidak melihat Bumi Manusia sebagai karya terbaik Pram. Kisah cinta antara Minke dan Annelies yang menjadi plot utama dibuat terlalu cepat dan terlalu 'murah' untuk seleraku. Kekuatan Bumi Manusia justru pada tokoh-tokoh samping terutama Nyai Ontosoroh. Kekuatan lain novel ini yang jarang ada di novel Indonesia lain adalah bagaimana Pram menggambarkan politik etis membuka pergaulan antara pribumi dan Eropa begitu besar.

Sebelum ini, saya sudah pernah beberapa kali mendengar bahwa Bumi Manusia beberapa kali diadaptasi menjadi karya panggung namun dengan Ontosoroh yang menjadi pusatnya. Saya jarang mendengar tentang Minke dan Annelies. Mungkin Bunga Penutup Abad salah satu dari sedikit adaptasi yang fokus pada Annelies dan tetap saja karakter samping macam Jean Marais yang mencuri perhatian.

Karena itu, ketika Hanung memilih Minke dan Annelies menjadi pusatnya, sesungguhnya ia tidak bermain aman walau cerita ini sudah dipanggungkan berkali-kali. Teater berbeda dengan film walau sama-sama merupakan media audio-visual. Tak mungkin memasang Reza Rahadian sebagai Minke di film karena berbeda dengan teater, kamera membawa wajah Reza lebih dekat, sulit untuk menutupi usia.

Penonton film juga lebih umum daripada penonton teater. Para penikmat teater umumnya lebih mafhum tentang latar sosial kisah yang dibawakan. Berbeda dengan penonton film yang acap benar-benar tak tahu sehingga menikmati karya lebih bebas tanpa prasyarat pengetahuan tertentu.

Saya tak yakin generasi masa kini paham derita yang ditanggung penyandang label Nyai. Hanung mengerti perbedaan target pasarnya dan karena itu menambahkan adegan tambahan menggambarkan seorang Nyai di jalan yang direndahkan oleh suaminya sendiri. Hanung juga menambahkan karakter-karakter tukang gosip bin julid untuk membuat situasi itu lebih terasa. Adaptasi teater tidak membutuhkan itu semua.

Penonton film umum tidak paham tentang debat teknis hukum antara Eropa dan hukum pribumi. Maka Hanung pun berimprovisasi, mempertajam perbedaan diskriminasi itu dengan menunjukkan perbedaan tingkat bahasa, hal yang hanya disinggung Pram dengan satu kalimat.

Ya, dalam novel, perbedaan bahasa itu tak kentara, hanya disebut sepintas dan dialog-dialog di buku tetap dalam Bahasa Indonesia walau konon dalam bahasa lain. Pram bahkan melakukan stereotype cadel pada gaya bahasa Babah Ah Tjong, sesuatu yang tak dilakukan Hanung.

Tak hanya perkara bahasa, Hanung juga melakukan perubahan sudut pandang dari bagian kecil. Dua paragraf dari Pram yang menceritakan opini Kommer menanggapi berita protes ulama, Hanung visualkan lebih dramatis dari sudut kaum pribumi, dari percakapan para kyai dan santri hingga penampakan demonstrasinya sendiri. Teater tidak membutuhkan improvisasi macam ini karena penonton dinilai sudah mafhum.

Tentu saja tak ada gading tak retak. Saya, misalnya, menyayangkan penghalusan bahasa dalam adegan Jean Marais melukis. Tragedi yang dikisahkan Jean dihaluskandengan mengganti kata "kafir" menjadi "pengkhianat". Aneh jika "kafir" dianggap sebagai kata sensitif padahal toh di penghujung film kata "kafir" dipakai juga dengan konteks berbeda.

Tentu saja durasi yang jauh lebih pendek akan memangkas banyak aspek dari karya aslinya. Para pemuja berhala BUMI MANUSIA itu lupa, bahwa pada dasarnya plot utama novelnya adalah pemuda yang belum matang, jatuh cinta dan terlibat skandal, plot yang acap muncul dalam kisah cinta masa modern. Mereka mengangkat berhala ini setinggi mungkin karena bumbu-bumbu samping dan riwayat penciptaan karya tersebut.

Saya sendiri awalnya skeptis dengan film ini. Namun Hanung memilih Annelies yang tepat. Annelies yang rapuh tetapi berani berbeda dengan kakaknya. Annelies yang melihat Robert Suurhoff dan menolak jatuh dalam permainannya. Annelies yang dipilih Hanung membuat kita percaya bahwa ia memang putri Ontosoroh.

Pencuri perhatian di film ini adalah Darsam. Saat membaca novelnya, saya abai pada karakter Darsam, ia tenggelam di antara bumbu-bumbu karakter terpelajar yang bertaburan di karya aslinya. Darsam dalam adaptasi menjadi seorang pribumi tak terpelajar namun berkepribadian kuat dan punya rasa membedakan salah dan benar dan punya inisiatif.

Film BUMI MANUSIA bukan film adaptasi kata per-kata dari novelnya. Ada pengurangan aspek demi durasi tetapi di saat yang sama juga ada penambahan, tafsir dari sutradara dan kru. Maka selayaknya pemujaan seseorang pada berhala novel aslinya tidak menutupi penilaian pada karya adaptasinya.

Catatan kecil: baru kali ini saya mendengar Bahasa Madura. Selama ini hanya mendengar logat Madura. Ternyata bahasanya berbeda dengan bahasa Jawa walau bertetangga ya?

Saturday, July 20, 2019

[BUKAN REVIEW] GARIS DUA BIRU



Untuk yang khawatir apakah film ini bisa ditonton remaja, film ini jauh lebih sopan daripada sebagian besar sinetron di TV. Tidak ada adegan seks di film ini. Ya, adegan itu hanya digambarkan tersirat dan itu hanya ada di menit-menit awal. Jadi buat para orang tua nekat yang ingin membawa putrinya yang sudah berusia 9-10 tahun, tenang saja, filmnya aman ditonton tetapi bioskop yang menayangkan ini biasanya juga memutar iklan film horor karena klasifikasinya 13 tahun ke atas. Jadi tetap tidak disarankan membawa anak di bawah 10 tahun menonton ini di bioskop. Tentu saja itu dengan asumsi putra-putri kalian sudah siap mental diajak diskusi tentang kehamilan di luar nikah.

Ini adalah film pertama Ginatri S Noer sebagai sutradara walau ia sudah punya rekam jejak panjang dalam dunia perfilman sebagai penulis dan... WOW! Mbak Gina! Saya menantikan film anda selanjutnya. Anda punya bakat dalam penempatan aktor, memancing kemampuan terbaik mereka bahkan Dwi Sasono bisa melepaskan diri dari citra komedi yang melekat selama ini. Bahkan ada beberapa adegan ketika juru kamera Padri Nadeak hanya memilih beberapa aktor yang tampil tajam tetapi saya bisa mengamati akting para aktor yang berada di latar, tidak menjadi fokus di kamera. Mbak Gina mengingatkan saya pada Hanung Bramantyo di awal-awal karirnya pada pertengahan 2000an.

Berbeda dengan Hanung yang awal karir selalu tampak berusaha kompromistis dengan penyandang dana (ya, sebenarnya sampai sekarang pun kadang masih ada nuansa itu -- lihat saja Soekarno dan Sultan Agung), Gina tampak diberikan kesempatan sebebas-bebasnya oleh Pak Chand Parvez. Mungkin rekam jejak dia sebagai penulis membantu mendapatkan kepercayaan dari produser.

Gina juga bermain dengan detail-detail artistik yang umumnya jarang diperhatikan oleh sutradara komersial. Hal-hal seperti stiker di cermin, jus stroberi diblender memiliki pesan sendiri. Kadang, pesan juga tak disampaikan melalui dialog melainkan dengan tatapan mata.

Jika kalian beruntung menontonnya di bioskop yang menayangkan teks terjemahan, kalian akan menyadari bahwa bahkan ucapan-ucapan karakter-karakter pinggiran, celotehan orang-orang sekitar dalam film ini pun ternyata punya arti. Di bagian awal misalnya, Gina menampilkan bagimana para remaja dengan ringan mengatakan, "pacaran melulu nih, Pak. Nikahin aja!", "cieeee! Pertengkaran suami istri" dan semacam itu. Begitu karakter Dara terputus dari keluarganya yang berlatar ekonomi tinggi, karakter sekitarnya adalah para suami istri muda kelas ekonomi bawah yang saling bertengkar mengenai uang belanja membawa Dara ke dunia nyata. Dialog-dialog ini anehnya tidak terlalu terdengar dan Bima, sebagai cowok, tampaknya tak terlalu peduli, sementara Dara menyimak dengan baik walau ia tetap berjalan melewati gang.

Ya, sebagai film yang ditulis dan disutradarai oleh wanita, kritik tajam pada laki-laki terasa tajam di sini. Kepengecutan, sikap tidak sensitif, kemalasan mencari ilmu, bahkan sikap tidak acuh muncul saling berganti. Akui saja, jumlah laki-laki yang siap menjadi suami siaga itu sedikit. Untung saja saya menonton film ini sendirian. Seandainya saya menonton bersama Ara dan ibunya, saya mungkin akan tersiksa.

Saya tidak bisa menemukan cela di film ini. Sungguh, ini film layak dapat nilai 10. Duhai, juri-juri FFI yang akan datang, kalau kalian gak memberikan piala citra untuk penulis, sutradara, aktor, aktris, aktor pendukung, aktris pendukung, penata kamera, tata artistik, penata suara, maka kinerja kalian layak dipertanyakan.

Sekarang mari bicara tentang kondisi yang sangat jarang ada di dunia nyata.
Iya, Ginatri S Noer berusaha membuat film ini tidak terjebak menjadi kisah suram tetapi tetap membuatnya masih bisa terjadi di dunia nyata, walau kecil kemungkinannya.

Pertama, sangat jarang wanita yang hamil tak diinginkan sekuat karakter Dara. Kebanyakan akan depresi dan karena takut pada tekanan masyarakat yang membawa mereka tunduk pada keputusan-keputusan bodoh yang dilakukan pasangannya atau keluarganya.

Kedua, sangat jarang keluarga yang sangat kaya, mau mendengarkan permintaan keluarga sang pacar yang berasal dari kelas ekonomi yang jauh di bawah mereka.

Ketiga, sangat jarang keluarga dari pihak laki-laki memaksa anaknya untuk bertanggung jawab.

Bisa dibilang, kelemahan film ini adalah solusi yang ditawarkan nyaris tak mungkin terjadi di dunia nyata. Namun ini mungkin bukan kelemahan melainkan pesan dari sutradara, "hei! Siapapun bisa berbuat salah. Kalau kalian sebagai keluarga mau mendengarkan niscaya kalian akan bisa mencarikan solusi yang baik untuk putra-putri kalian. Bukannya sibuk berupaya menutupi aib, sibuk menyalahkan sana-sini. Dan kalian para cewek, jadilah cewek yang kuat. Pria-pria yang kalian kira bisa diandalkan, bisa jadi ternyata lemah dalam situasi ini. Jangan takut bicara pada keluarga kalian."

Wednesday, November 14, 2018

[Bukan Review] A Man Called Ahok (or it should be called 'Tjung Kim Nam')

Peringatan: Putaran pertama Pilkada 2017, saya memilih Anies, jadi saya jelas bias saat menonton ini.

Seusai menonton, teman kencan saya (pemilih Basuki) bertanya padaku, "So after watching this, are you regretting not choosing him in last election?". "Nope", jawabku, "in fact, this movie reminded me why I couldn't vote for him. He was not his father". Teman kencan saya membalas, "If he was like his father, he would not be a politician". "Valid point", jawabku sekenanya.

'A Man Called Ahok', sepantasnya tidak berjudul ini. Film ini mirip seperti Athirah, berkisah tentang orang tua yang kebetulan anaknya sekarang menjadi politisi. Bahkan seingat saya, dulu kultwit Kurawa (Rudi Valinka) tidak sampai terus-terusan membahas Tjung Kim Nam. Jadi kalian pembenci Basuki bisa melepas beban rasa benci kalian sejenak deh.

Ada enam alasan mengapa film ini layak tonton lepas dari unsur Ahok-nya:
1. penggunaan dialek lokal (yakni Khek dan Melayu) sepanjang film. Para aktor-aktor Jakarta -- kalau tidak salah baca Credit Title-- dilatih dialeknya oleh Rendy Ahmad (Hmm.. apakah ini Rendy Ahmad mantan vokalis band Simponii?);
2. film ini dibuat oleh perusahaan tak terlalu terkenal, The United Team of Art (TUTA) yang berdiri tahun 2007. Jadi boleh dong kalau saya bilang film ini tergolong indie;
3. yang membuat saya kaget, walau dibuat oleh perusahaan tak terlalu terkenal, ternyata didukung oleh kru yang pengalaman seperti Yadi Sugandi sang tukang keker, Aghi Narottama dan Bemby Gusti sang tukang bikin musik, hingga penata suara sejuta film Indonesia siapa lagi kalau bukan Khikmawan Santosa;
4. Chew Kin Wah! Sejak My Stupid Boss, saya jadi fans aktor dari negeri jiran ini;
5. Eriska Rein! Astaga! Saya sampai pangling melihatnya.
6. Belitung!

Pulau Belitung memang indah, dengan tanah pasir putih dan "danau-danau" biru tetapi di balik keindahan itu, tersimpan cerita kemiskinan penduduknya. Masyarakat non-Belitung sudah pernah mendengarnya dari Laskar Pelangi serta Sang Pemimpi dan kini disajikan ulang dari sudut pandang berbeda. Jika sebelumnya kita diajak melihat dari sudut pandang anak-anak dari lingkungan proletar, sekarang kita disajikan sudut pandang borjuis kecil. Bahkan ada dialog peremehan kelas proletar di film ini, ketika sang ayah kecewa, putranya yang diharapkan menjadi pemimpin ternyata hanya sekedar menjadi pekerja, walau penghasilan lebih besar.

Sosok Tjung Kim Nam mengingatkan saya pada cerita guru agama saya tentang sejumlah orang-orang Tionghua di negeri ini. Mereka, walau punya penghasilan kaya di atas rata-rata, tetapi selalu gemar beramal. Guru agama saya mengatakan, "kalau mau nego dengan mereka, katakan saja ini buat amal di masjid, niscaya mereka akan bantu". Jadi sebenarnya sosok macam Tjung Kim Nam tidaklah asing.
Layaknya seorang pebisnis yang hidup di masa orde lama hingga orde baru, dari suku minoritas pula, Tjung Kim Nam selalu menghadapi lingkungan tak kondusif dari birokrasi setempat padahal di satu sisi, ia selalu berharap untuk bisa beramal. Alhasil, sebagai tauke yang dianggap kaya, hidupnya sebenarnya gali lubang tutup lubang, kerap memicu perselisihan dengan istrinya. Bagi Kim Nam, selama anak-anaknya cukup gizi, maka rezeki tak akan ke mana dan sikap seperti itu memaksa sang istri membuka apotek di Manggar.

Suatu hari, ia berniat mengajari kedua putra laki-lakinya berbisnis, mencatat tagihan atas barang belanjanya kepada sosok bernama Aguan (err.. ini Aguan Sedayu Podomoro? atau kah cuma kesamaan nama?). Namun ternyata latihan bisnis tersebut berkembang menjadi pelatihan ketegasan bertindak karena putra pertamanya menemukan kejanggalan pencatatan. Kim Nam memaksa putra keduanya, Yuyu (atau Basuri) untuk bertindak tegas memecat oknum, namun Yuyu tidak tega. Si putra pertama yang akhirnya menyanggupi perintah sang ayah tanpa diminta.

Beberapa adegan kemudian, Kim Nam menyesali tindakannya karena si oknum bertindak didorong oleh kebutuhan mencari perawatan untuk istrinya. Mencoba menebus kesalahannya dengan menawari si oknum untuk bekerja kembali, rasa bersalah semakin besar karena si oknum yang telanjur malu menolak tawarannya. Yang bisa dilakukan Kim Nam hanyalah melayat ketika istri si oknum akhirnya wafat. Kim Nam pun melihat bahwa dirinya bukan pahlawan dan yang dibutuhkan Belitung bukanlah seorang kelas menengah yang bisa mempekerjakan buruh, tetapi dokter dermawan sehingga "orang miskin tak perlu jadi maling". Namun perubahan sikap Kim Nam ini menjadi sumber perselisihan antara ia dan putra pertamanya.

Kisah pun berkembang menjadi perselisihan antara putra pertama dengan Kim Nam. Bukannya mengikuti perintahnya, sang putra pertama memilih mengikuti jejaknya. Walau setengah hati, ia memberi kesempatan pada putranya untuk magang di perusahaannya namun kemarahannya memuncak ketika putranya merumahkan karyawannya demi strateginya. Di saat yang sama, sang putra pertama marah pada kawannya yang membelot memihak ayahnya.

Maka sang putra pertama pun terasingkan dari Belitung, dari sang ayah dan kawan kecilnya. Ia memilih melanjutkan kuliah di Jakarta dan menjadi sekrup kapitalis. Di sisi lain, nasib malang bertubi-tubi juga menimpa tokoh utama.

Kisah diakhiri dengan montase si putra pertama, menyadari kata-kata ayahnya ada benarnya dan akhirnya mencoba memenuhi impian sang ayah, menjadi sosok yang dikenal oleh masyarakat Jakarta.

Seperti yang saya sebutkan, walau dibuat oleh perusahaan film kecil, saya terkejut dengan dukungan kru berpengalaman di sini. Tukang keker Yadi Sugandi, bahkan tampak senang sekali bermain-main dengan kameranya. Saya senang sekali adegan debat kusir di dalam mobil jip, melihat bagaimana latar belakang pemandangan memberi petunjuk rute mobil yang tidak lurus melainkan berbelok-belok.

Rumah Tjung Kim Nam dari awal film hingga akhir sebenarnya masih berupa rumah yang sama namun beberapa detail menunjukkan perubahan, sehingga dari satu adegan ke adegan lain, tampak berasal dari zaman yang berbeda walau berlokasi sama. Misalnya, rumah Kim Nam di akhir film memiliki akuarium sementara di adegan-adegan sebelumnya, tak tampak. Atau menjelang akhir film, ditampilkan jalan di depan rumah Kim Nam sudah beraspal sementara sebelum-sebelumnya, tidak pernah ditampilkan sehingga ada kesan jalan depan rumah belum beraspal.

Tentu saja, ada beberapa kecerobohan yang sedikit mengganggu, misalnya adegan putra pertama kembali ke Belitung di tahun 1999 namun kemudian ditampilkan menonton berita yang membahas krisis moneter yang sedang terjadi. Atau adegan putra pertama yang sedang kampanye, dengan baju berkantong logo PNBK namun bendera-bendera di tempat kampanye berlogo Partai PIB (sekedar catatan, ketika kampanye sebagai bupati, putra pertama berasal dari PNBK tetapi ketika menjadi DPRD Belitung, putra pertama memakai bendera PIB).

Lepas dari apapun pilihan anda di pilkada 2017, film ini sebenarnya layak untuk ditonton. Biar bagaimanapun, beberapa masalah yang terjadi di film ini memang jamak didengar di daerah-daerah lain. Saya justru menyayangkan, dengan judul yang memakai nama putra pertama, malah membuat film ini menjadi propaganda.

Hanya saja, maaf,
melihat karakter putra pertama di film ini, saya jadi ingat mengapa saya tak memilihnya di putaran pertama pilkada lalu. Iya, memang putra pertama di film digambarkan terinspirasi oleh sang ayah tetapi juga diperlihatkan bahwa putra pertama berbeda dengan sang ayah, dan sialnya, tampaknya begitu juga di dunia nyata.

Saturday, October 20, 2018

Apakah TENGKORAK adalah Film Fiksi Ilmiah ?

Salah satu poster film TENGKORAK


Sebenarnya tulisan ini gak perlu ada tetapi kadang gatal juga melihat pendapat yang mengatakan film "Tengkorak" bukanlah film "Science Fiction". Salah satu tulisan yang berpendapat demikian bahkan berani menyebut nama acuan, yang ironisnya justru malah menunjukkan kedangkalannya: "George Lucas". Ya, seakan-akan genre fiksi ilmiah hanya ditentukan oleh sejumlah film dari budaya populer massal yang sebenarnya justru dikenal sebagai pemuas massa.

Apa yang menyebabkan para penonton menganggap TENGKORAK tidak layak disebut sebagai fiksi ilmiah? Dari beberapa komentar termasuk mereka yang tidak membenci film ini mengatakan bahwa film ini terlalu banyak politiknya, terlalu banyak diskusi tentang "ipoleksosbud", terlalu "filosofis". Komentar singkat saya: Para penonton ini kurang banyak menonton atau membaca genre fiksi ilmiah.

Saya akan menyebut satu karya fiksi ilmiah yang bisa mendobrak semua definisi naif itu, "DUNE" karya Frank Herbert.
Pada awalnya, Dune tampak seperti Star Wars, berkisah tentang keluarga di sebuah pesawat luar angkasa yang sedang menuju planet bernama Arrakis, dikendalikan oleh mahluk hasil mutasi. Planet Arrakis sendiri ternyata dihuni oleh cacing raksasa, dan suku asli yang bermata biru menyala. Setidaknya hingga di titik itu Dune benar-benar fiksi ilmiah yang akan membuat para penggemar Star Wars senang... hingga plot membunuh nyaris semua keluarga Atreides dan mengusir tokoh utama bersama ibunya dari kota dan terasing dalam padang pasir.

Sejak terusir ke padang pasir, tiba-tiba Dune kehilangan elemen-element teknologi canggih. Tokoh utamanya hanya melihat padang pasir, komunitas semi-nomaden yang sangat menghargai air, penakluk monster berbekal pengetahuan tentang tekstur kulit dan kebiasaan monster tersebut. Tokoh utamanya mempelajari tentang mitos-mitos, ramalanan yang beredar di suku ini dan mencoba berpikir bagaimana memanfaatkan mitos itu untuk menggerakkan suku ini melawan musuh keluarganya.

Tentu saja, kalau menurut sudut pandang para penonton yang kecewa dengan TENGKORAK, mereka juga akan mudah mengatakan DUNE itu bukan film fiksi ilmiah. Dune hanya film politik bagaimana orang luar memanfaatkan mitologi suku-suku tertinggal untuk kepentingan negaranya. Dune tak lebih dari penggambaran Lawrence of Arabia dengan balutan teknologi di masa datang. Tapi Dune adalah kisah fiksi ilmiah, tidak ada yang bisa menyangkal itu.

Film fiksi ilmiah tidak harus berada di luar angkasa dengan pesawat-pesawat canggih mereka. Salah satu film fiksi ilmiah yang berada di bumi adalah JURASSIC PARK. Plot utamanya, tak lebih dari kejar-kejaran antara manusia dan monster, bahkan perulangan dari plot film yang pernah dibuat penulis novelnya, WEST WORLD, tetapi baik Jurassic Park maupun West World adalah genre fiksi ilmiah.

Salah satu film ilmiah termiskin yang pernah kulihat adalah THE MAN FROM EARTH dari naskah Jerome Bixby dan disutradarai Richard Schenkman. Film ini tidak menampilkan teknologi macam-macam. Film ini hanya menampilkan sekelompok orang duduk di kursi tamu,ngobrol ngalor-ngidul. Tokoh utamanya mengklaim bukan homo sapiens dan mereka pun berdikusi. Begitu minim akan teknologi, begitu minim pembahasan tentang teknologi terkini, lebih banyak membahas kejadian-kejadian sejarah masa lalu dan klaim-klaim tokoh utama. Tapi film ini adalah genre fiksi ilmiah.

Kita lihat lagi definisi fiksi ilmiah.
MERRIAM WEBSTER memuat definisi "fiction dealing principally with the impact of actual or imagined science on society or individuals or having a scientific factor as an essential orienting component" (Fiksi yang menceritakan dampak dari sains nyata atau imajinasi terhadap masyarakat atau individu, atau memiliki faktor sains sebagai komponen penting pengarah cerita). LONGMAN memuat defisinisi "stories about events in the future which are affected by imaginary developments in science, for example about travelling in time or to other planets with life on them" (kisah-kisah tentang peristiwa di masa datang yang disebabkan oleh perkembangan pengetahuan misalnya tentang menempuh perjalanan waktu atau pergi ke planet lain untuk hidup di sana).  OXFORD memuat definisi, "Fiction based on imagined future scientific or technological advances and major social or environmental changes, frequently portraying space or time travel and life on other planets" (Fiksi yang didasarkan dari khayalan tentang kemajuan sains atau teknologi dan perubahan sosial atau lingkungan besar-besaran, biasanya menampilkan perjalanan lintas waktu atau luar angkasa dan hidup di planet lain).

Melihat dari definisi-definisi tadi, jelas bahwa film fiksi ilmiah tidak harus memiliki plot yang terus-terusan berpusat pada "teknologi" tetapi bisa dan bahkan sebenarnya memang tentang masyarakat atau kelompok masyarakat yang terdampak pada perubahan "pengetahuan" tadi.

Sekarang mari kita lihat plot cerita TENGKORAK. Apa pemicu utama peristiwa yang terjadi di film ini? Terungkapnya sebuah tengkorak yang sangat besar yang tidak masuk akal, tidak logis, seperti yang diungkapkan oleh salah satu ahli di montase awal, "kalau 2 meter mungkin manusia purba tetapi kalau 2 kilometer?".

Apa perubahan yang terjadi pada masyarakat pada film TENGKORAK?

1. Indonesia digambarkan menjadi pusat perhatian dunia. Negara dengan hutang luar negeri ini, tiba-tiba menjadi begitu penting hingga negara luar berusaha mempengaruhi Indonesia dengan berjanji rela menghapuskan hutang dan memberikan sejumlah uang;

2. Indonesia digambarkan menjadi negara paranoid militeristik. Mereka membentuk tim Kamboja yang disangkal keberadaannya, yang bertugas menjaga agar tidak sembarang pengetahuan keluar dari negeri ini;

3. Indonesia bahkan menolak uluran kerja sama dari negara seperti Amerika, Cina, India dan memilih pada negara seperti Jerman yang menurut mereka lebih bisa diajak kompromi. Sebagai balasannya, negara-negara yang ditolak kerjasama, berkali-kali mengirimkan pesawat nirawak (drone) untuk memata-matai kegiatan sekitar Tengkorak. Pemerintah Indonesia membangun menara-menara pengawas untuk menembaki mesin-mesin nirawak penyusup ini;

4. Sejumlah masyarakat bereaksi irasional, membentuk sekte-sekte pemuja tengkorak yang bertendensi bunuh diri;

Tentu saja, perkembangan teknologi komunikasi juga memiliki dampak kepada plot. Misalnya, para anggota Tim Kamboja ternyata memiliki group whatsapp untuk bercanda ngalor-ngidul tentang target-target mereka. Berbeda dengan masa pra-Whatsapp, para anggota tentu tidak bisa menebak raut muka teman-teman mereka ketika menyebarkan calon target. Si nganu mungkin bisa ketawa-ketiwi di grup, tetapi si fulan mungkin punya hubungan emosi dengan si calon target.

Perkembangan teknologi komunikasi juga menjadi pemicu plot di mana pemerintah bisa melakukan referendum atas sebuah keputusan yang akan dijalankan dengan cepat. Namun tanpa keterbukaan dari pemerintah apa manfaat dan mudarat dari keputusan tersebut, referendum itu mungkin tiada artinya walau pemerintah bisa memanfaatkannya sebagai legitimasi atas tindakannya. Orang-orang di warkop mungkin bisa santai mengatakan, "Gitu aja? Telek!" tanpa menyadari pilihannya memiliki dampak serius.

Jadi, apakah TENGKORAK adalah film fiksi ilmiah? YA! TENTU SAJA, MBEL!




Merriam Webster
https://www.merriam-webster.com/dictionary/science%20fiction

Longman
https://www.ldoceonline.com/dictionary/science-fiction

Oxford Dictionary
https://en.oxforddictionaries.com/definition/science_fiction

Friday, July 20, 2018

[Bukan Review] BUFFALO BOYS

Singkat kata, kalau anda mengharapkan film koboi dengan adegan laga yang keren dan seru, film ini memberikan keinginan anda. Namun tidak lebih dari itu.

Saya mulai dari peringatan untuk orang tua,
film ini bukan untuk anak-anak. LSF memberi rating 17 tahun ke atas. Ada adegan tangan terpotong, mata tertusuk, leher dijerat pelan-pelan lalu korban digantung secara perlahan, adegan luka cambuk dengan darah segar mengalir, dan ada adegan pemerkosaan dalam bentuk sodomi.

Sejak dahulu, saya selalu menganggap genre laga sebagai genre yang riskan. Sangat susah membuat keseimbangan antara drama dan laga. Kalau drama terlalu banyak, film genre ini akan membosankan sementara kalau laga terlalu banyak, film genre ini berpotensi menjadi film murahan. Biasanya, saya menonton film laga karena... ya karena laga. Kalau kebetulan ceritanya bagus, maka itu adalah bonus.

Jalan cerita film ini terlalu menuruti pakem film koboi. Sungguh aneh, di satu sisi tampaknya pembuat film menginginkan inovasi tetapi pola cerita terlalu berpaku pada pakem genre koboi. Jangan berharap film Satay Western ini memiliki kesegaran yang sama dari segi cerita seperti Marlina: Pembunuh dalam Empat Babak.

Seperti apakah pola pakem film koboi? Kurang lebih seperti ini: Alkisah sejumlah jagoan koboi datang ke kota terpencil di mana penjahat sadis berkuasa. Jagoan-jagoan koboi ini awalnya berusaha membaur dan diterima salah satu keluarga lokal yang tinggal di pinggir kota. Terkadang, keluarga lokal ini memiliki perempuan yang berperan sekedar sebagai pelengkap penderita. Lalu, ada sebuah insiden dan keluarga lokal ini berantakan, kepala keluarga mati dan meninggalkan putri atau janda, dan akhirnya para jagoan-jagoan ini pergi ke kota menantang duel bos penjahat dan begundal-begundalnya. Akhir cerita, digambarkan para jagoan yang tersisa meninggalkan kota menuju matahari terbenam.

Yang mungkin agak bikin nyesek penonton modern adalah, pembuat film ini awalnya ingin bikin inovasi, menciptakan karakter wanita yang sangar, keren, tetapi kemudian mereka ciut dan kembali menjadikannya sebagai pelengkap penderita. Sayup-sayup aku mendengar, "Apaaa?! Pevita Pearce ternyata cuma segitu doang?".

Ya, di tengah-tengah gempuran film-film bertema wanita-wanita perkasa macam Star Wars episode 7 dan 8 ataupun Marlina, jalinan cerita BUFFALO BOYS tampak menjadi sebuah kemunduran. Ketika yang lain maju, mereka yang stagnan sesungguhnya mundur.

Tapi ini film laga, Bung!
Kita menonton Buffalo Boys untuk menikmati laganya dan film ini menepati janjinya.

Sejak pertarungan awal melawan ninja, dentingan ninja dan bunyi tebasan pedang terdengar sangat merdu di telinga penggemar genre laga. Namun adegan tarung judi di kereta mengingatkan penonton bahwa genre film ini adalah Western, bukan Kungfu. Tokoh utama mungkin bisa mengelak dari tembakan tetapi bukan berarti peluru yang keluar dari pistol penjahat tidak melukai seseorang.

Jadi, duduklah dengan manis dan nikmati satu per satu karakter di film mati terbunuh dengan berbagai cara. Tinggal pilih, mau pakai peluru, tali, kapak, pisau pendek, golok, atau hiasan dinding.

Secara visual, film ini juga keren, mengingatkanku pada karya-karya Larry Fong yang acap bekerjasama dengan Zack Snyder. Apalagi dengan tata artistik yang bagus, dengan pilihan warna-warni yang mencolok antara coklatnya para pribumi, baju biru penjajah, hitamnya pakaian dan riasan para begundal, hijaunya pemandangan sawah, kuningnya api, dan tentu saja, merah darah yang tertumpah ke sana kemari. Memang sih, beberapa darah jelas tampak merupakan CGI tetapi tenang, tidak mengganggu seperti yang kubayangkan.

Oh iya,
saya menyukai karakter-karakter begundal di film ini terutama karakter yang diperankan oleh Zack Lee (Bartender) dan Hannah Al-Rashid. Selain itu, karakter algojo bertopeng yang bengis juga cukup membuat merinding.


Thursday, July 19, 2018

[Bukan Review] 22 MENIT

Singkat kata, film ini adalah film propaganda kepolisian paling membosankan diiringi dengan pesan-pesan anti feminisme menggunakan cerita fiksi yang dangkal.

Peristiwa Thamrin sebenarnya adalah peristiwa menarik di mana kita bisa melihat dari berbagai sudut pandang, dari kesigapan polisi yang sudah ada di sekitar TKP, penyebaran hoax yang meresahkan (hoax tidak sekedar ujaran kebencian seperti pesan film propaganda ini lho), tukang sate yang tetap ngotot jualan, dan bagaimana media membentuk citra salah satu korban sebagai tersangka sehingga keluarga korban terusir dari kontrakannya.

Namun, bukannya menggunakan cerita-cerita kemanusiaan yang sudah ada, Eugene dan Myrna malah menggunakan kisah rekayasa mereka, tanpa memberi kesempatan penonton terlibat secara emosi sehingga tragedi yang menimpa mereka pun terasa datar dan tawar.

Sebagai film propaganda, saya sebenarnya dapat menerima pencitraan polisi sebagai sosok manusia yang mau membantu. Namun ketika awal-awal film terjebak menjadi iklan layanan masyarakat yang berkepanjangan, saya pun mulai menguap karena kantuk. Ya, semembosankan ini filmnya.

Ketika bom meletus, tadinya saya menyangka akan melihat sebuah rekonstruksi ulang adegan-adegan keberanian polisi yang dahulu kita saksikan bersama lihat lewat tayangan langsung televisi. Apa daya, Eugene lebih memilih menggunakan karakter fiksinya yang bahkan tidak berjalan sesuai ingatan kolektif kita (dan saya terlalu malas untuk mengecek berita-berita masa itu untuk meneliti keakuratannya). Jangan harap melihat polisi dengan perlengkapan minim yang nekat menyerbu di film ini dan jangan harap pula melihat polisi dengan tas mahal di sini atau polisi ganteng yang sempat bikin para netizen wanita naksir. Intinya, bagian yang paling mengesankan dari tragedi Thamrin, justru dilewatkan habis-habisan oleh Eugene dan Myrna.

Oh iya, si tukang sate ada di film ini, tetapi begitu bom meledak, si tukang sate tidak pernah muncul lagi.
Ya! Film ini begitu membosankan!

Celakanya, film ini juga menempatkan karakter-karakter wanita sebagai karakter dangkal.
Misalnya, salah satu karakter adalah tunangan polisi lalu lintas yang ngambek karena sang tunangan akan dipindahkan ke Sangihe. Sang tunangan ingin tetap di Jakarta karena ingin mengembangkan karirnya di sini walau ayahnya tak setuju. Selain itu, kawan wanita si tunangan juga mendukung keputusan karakter ini dengan bertanya, "ada mall kah di sana?". Ya, Tuhan! Ini film propaganda polisi yang membenci perempuan!

Selain itu, ada juga karakter wanita yang terkena tilang. Digambarkan wanita ini begitu cerewet, abai pada sekitarnya sehingga terpaksa pemberian bukti pelanggaran dilakukan di pos polisi. Di pos polisi pun, wanita ini masih sangat cerewet sehingga polisi-polisi lain tidak betah dan keluar dari pos. Ya, Tuhan! Ini film propaganda polisi yang membenci perempuan!

Dan akhir film ini SANGAT MENJIJIKKAN.
Digambarkan, seusai insiden dan berbagai insiden lain, seorang tersangka diikat di kursi, di lapangan parkir yang gelap dengan sumber penerangan hanya dari lampu mobil yang menyala. Si karakter utama yang polisi menginterogasi tersangka sendirian, menunjukkan sejumlah foto, dan mendesak tersangka mengakui teori pribadinya.
Ini film propaganda polisi yang merayu penontonnya bahwa tindakan main hakim sendiri oknum polisi adalah sesuatu yang keren.
Bagus sekali, EUGENE PANJI! Bravo!!

Ngomong-ngomong, Eugene Panji,
peraturan belok kiri harus mengikuti lampu lalu lintas itu baru ada lagi seusai berlakunya UU no 22 tahun 2009 (pasal 112). Sebelum itu, belok kiri boleh langsung sesuai dengan Peraturan Pemerintah no. 43 tahun 1993 (pasal 59 ayat 3). Jadi kalau engkau, Eugene Panji, membuat karakter polisi berdebat dengan pelanggar bahwa peraturan belok kiri harus sesuai lampu lalu lintas sudah ada dari dulu, anda kurang riset.

Sunday, July 08, 2018

[Bukan Review] KOKI-KOKI CILIK -- Film yang Mengandalkan Karakter Anak Bukan Pemandangan Indah



"Dunia orang dewasa itu rumit. Kelak kamu akan tahu" -- Janitor Rama

Ada dua film anak-anak Indonesia muncul dalam dua pekan ini yakni KULARI KE PANTAI dan KOKI-KOKI CILIK. Sementara film pertama dibuat oleh Miles Production yang menjadi nilai jual, film kedua (diproduksi MNC Pictures) memanfaatkan Ifa Isfansyah (Sang Penari, 9 Summer 10 Autums) sebagai sutradara. Selain itu ada Yadi Sugandhi sebagai Penanggung Jawab Gambar.

Untuk memilih di antara dua film ini, saya sengaja membiarkan putri saya memilih berdasarkan iklan dari dua film itu. Putriku ternyata lebih tertarik pada film Koki-Koki Cilik karena iklannya sukses menimbulkan kesan dibandingkan iklan film Kulari Ke Pantai yang terlalu biasa.

Menit-menit pertama ketika nama-nama pemain dan kru disebutkan, kami sudah menangkap keunikan dari film ini yakni penggunaan sapaan "Om", "Tante", dan "Kakek" dalam penyebutan nama aktor dan kru. Ketika cerita berjalan, sudah jelas bahwa film ini tidak menonjolkan sosok ganteng atau cantik dan tidak pula menjual pemandangan indah walau Om Yadi tetap mengambil shot-shot ciamik. Oh iya, untuk menghormati kredit pembuka film ini, saya juga akan menggunakan sapaan Om dan Tante untuk setiap penyebutan aktor dewasa.

Alkisah, ada sebuah sekolah memasak , Cooking Camp, yang berjalan selama liburan, didirikan oleh Pak Malik (diperankan Kakek Ardi Kurdi) yang ahli memasak. Sekolah memasak ini berada di pegunungan, memiliki perkebunannya sendiri dan peternakannya sendiri. Dipimpin oleh Chef Grant (diperankan Om Ringgo Agus Rahman) dan didukung sejumlah staf termasuk janitor Rama (diperankan Om Morgan Oey), sekolah ini menjadi terkenal karena kompetisi internal yang selalu diliput oleh TV. Dikisahkan, kompetisi internal Cooking Camp sudah tiga tahun berturut-turut dimenangi oleh Audrey (diperankan Chloe Xaviera), putri seorang janda ambisius yang memiliki restoran kelas atas (diperankan Tante Aura Kasih).

Kemudian kita diperkenalkan kepada tokoh utama, Bima (diperankan Farras Fatik), putri seorang janda yang menjadi penjahit di dekat pasar (diperankan Tante Fanny Fabriana). Bima yang terinspirasi mendiang sang ayah, juru masak di sebuah warung, ingin mengikuti Cooking Camp dan bersama sang ibu, mereka menabung karena uang pangkal yang cukup mahal untuk sekolah mereka.

Singkat cerita, Bima berhasil mendaftar di Cooking Camp namun rasa rendah dirinya muncul melihat kawan-kawannya berasal dari kalangan atas yang sudah mencicipi berbagai makanan. Untuk mengimbangi rasa rendah dirinya, Bima mengandalkan buku panduan pramuka siaga eh... buku resep masak warisan mendiang sang ayah walau dengan segala keterbatasan pengetahuan ayahnya.

Di tangan sutradara dan penulis lain, kisah ini mungkin akan menjadi kisah standar persaingan antar dua anak, namun di tangan Om Ifa Isfansyah dan naskah garapan Tante Vera Varidia (juga pernah menulis Me vs Mami -- film kocak yang tak banyak orang tahu), setiap anak di Cooking Camp memiliki karakternya sendiri. Apalagi, ternyata tak semua anak di Cooking Camp berambisi menjadi koki yang hebat, ada yang sekedar mengisi waktu liburan dan ada juga yang bahkan sekedar ingin punya kesempatan makan.

Karakter anak yang pertama kali terlihat adalah karakter Oliver. Karakter ini memang terlalu satu dimensi tetapi pemilihan Patrick Milligan cukup tepat untuk menampilkan sosok bengal bermasalah. Sejak pertama melihatnya penonton akan langsung menebak tokoh ini akan menjadi sumber masalah buat tokoh utama.

Kemudian kita diperkenalkan dengan anak aneh Melly (dperankan Alifa Lubis) yang cukup ekspresif. Dari awal sudah jelas bahwa ia memanfaatkan Cooking Camp sebagai ajang menunjukkan keberadaannya. Ia karakter yang paling cerewet, rajin "menasehati" kawan-kawannya, dan mengajarkan teknik-teknik fitness seperti Yoga.

Karakter lain yang juga menonjol adalah Kevin (diperankan Marcello), bocah tergemuk dalam Cooking Camp. Awal melihatnya, kusangka ia sekedar menjadi tokoh pelengkap penderita penghibur penonton namun dalam perjalanan cerita, ia adalah sosok paling optimis dan paling inisiatif sepanjang Cooking Camp. Salah satu subcerita dalam film ini terjadi akibat karakternya.

Karakter lain mungkin lebih mendapat peran kecil seperti Key (diperankan Romario Simbolon) dan Niki (diperankan Clarice Cutie) tetapi di akhir cerita, karakter ini memiliki sumbangan tersendiri untuk perjalanan tokoh utama dalam menempuh tantangan di Cooking Camp.

Film ini sangat kuat di karakter masing-masing anak, tetapi sayangnya cukup lemah dalam mengisahkan proses memasak itu sendiri. Jangan salah, setiap adegan memasak di film ini digarap dengan baik dan hasilnya cukup bikin ngiler para penonton namun informasi tentang proses memasaknya sangatlah minim. Hanya sedikit petikan informasi seperti "nanas untuk melembutkan daging" yang ada di film ini.

Kelemahan lain film ini adalah tata busana dan properti. Bima, sosok yang seharusnya berada dari kalangan yang berbeda dengan peserta lain, tampil dengan baju yang sama modisnya dengan anak-anak lain. Selain itu juga ada adegan Bima menelpon ibunya dengan telepon canggih nan tipis.

Walau dengan kelemahan semacam itu, secara keseluruhan film ini tidak mengecewakan bahkan melebihi harapan saya. Ada proses pendewasaan yang terjadi pada Bima sebagai tokoh utama maupun Audrey sebagai saingan berat.

Om Ringgo Agus Rahman awalnya kusangka memiliki peran macam Pak Marsono di film Naura & Geng Juara, yakni karakter dewasa yang menyebalkan. Untungnya dengan cepat sangkaanku dengan cepat terbantahkan. Sebagai sosok yang awalnya meremehkan karakter utama, ia digambarkan mampu menghargai kemampuan memasak Bima. Om Ringgo bahkan sukses memancing tawa penonton tanpa harus banyak bertingkah laku.

Om Morgan Oey, mungkin perannya tak sekompleks Patrick di film Ngenest, tetapi ia menunjukkan bahwa ia bukan aktor yang mengandalkan sosok ganteng. Ia mampu berperan sebagai paman misterius yang berusaha menyembunyikan dirinya di antara orang-orang dewasa lain. Salah satu adegan yang kusuka adalah ketika aku tak menyadari tukang sapu di latar adalah Morgan Oey.

Film Koki-Koki Cilik adalah film untuk semua umur, dengan kandungan sejumlah tema yang sebenarnya agak dewasa seperti isu kemarahan, tekanan ambisi orang tua, bahkan isu kebahagiaan anak dalam perceraian tetapi hal ini tidak menjadikan film ini menjadi terlalu kelam.

Buat saya pribadi, film Koki-Koki Cilik adalah penebusan dosa Ifa Isfansyah atas film Pendekar Tongkat Emas-nya yang membosankan itu. :P

Thursday, April 26, 2018

[Bukan Review] AVENGERS: INFINITY WAR *Spoiler*

(petunjuk bagi orang tua di akhir tulisan)

Di dasawarsa 1970an Dennis O'Neil menciptakan Ra's Al-Ghul, seorang teroris pecinta lingkungan yang berniat melakukan langkah ekstrim untuk melindungi flora dan fauna. Karakter ini muncul ke layar lebar tahun 2005 dengan perubahan motiasi dari kepedulian terhadap lingkungan hidup menjadi kebencian terhadap pemerintahan korup, dan Gotham adalah wakil dari korupnya dunia.

Pada masanya, kemunculan Ra's Al-Ghul di genre film superhero cukup radikal. Bahkan Iron Man yang muncul tahun 2008 yang mencoba meniru gaya Batman Begins, dikritik karena tidak memiliki penjahat dengan motivasi kuat. Karakter-karakter supervillain berideologi vacuum dari Marvel Cinematic Universe hingga akhirnya muncul kisah Civil War (Zemo) dan Black Panther.

Enam tahun lalu, saya tidak terlalu tertarik dengan Thanos maupun rencana Infinity War. Saya tak pernah menyukai pertempuran antar kosmik macam Fantastic Four vs Galactus, Justice League vs Apokolips, yada-yada-yada. Russo bersaudara tampaknya punya selera yang sama sepertiku dan mereka sudah dua kali mem-politisasi film Captain America dan kini mereka melakukan hal yang sama. Jika harus memilih antara karakter penjahat super yang memiliki motivisi mabuk kepayang cinta dan penjahat super yang ingin mengembalikan keseimbangan alam semesta, saya lebih menyukai kisah yang belakangan.

Maka, Thanos di adaptasi film pun berubah, menjadi seorang pungguk-merindukan-bulan menjadi sosok 'ala Thomas Robert Malthus yang meramalkan overpopulasi dan sudah terjadi di planetnya sendiri. Karena itu, ia menjelma menjadi pemimpin kultus berideologi macam Polpot, demi mencegah overpopulasi terjadi di alam semesta. "Aku sudah pernah menghindari takdirku dan tidak berakhir dengan baik, kini aku harus memenuhi takdirku" ujarnya pada putri kesayangannya, dan maka sepanjang film, Thanos berupaya mencari akik-akik mestika untuk mempermudah tugasnya semudah menjentikkan jari.

Setidaknya ada dua hal yang cukup rumit untuk membuat film ini, yang pertama adalah karakter terlalu banyak. Itu sebabnya Russo bersaudara tak terlalu ambil pusing menjelaskan masing-masing karakter dan berasumsi semua penonton atau setidaknya sebagian besar sudah mengerti karakter-karakter protagonisnya. Russo bersaudara justru lebih menekankan pada keluarga tak sempurna Thanos yang mengambil unsur-unsur Agamnenon.

Tantangan kedua adalah, bagaimana membumikan adegan perang kosmik superhero, dan Marvel tidak salah memilih Russo bersaudara untuk mengarahkan adegan ini. Russo berhasil di mana Joss Whedon, apalagi Zack Snyder gagal, yakni membuat pertempuran massal superhero memiliki kengeriannya. Dahulu saat Whedon membuat Avengers, tidak ada satupun adegan di mana kita cemas para penduduk bumi akan terluka oleh serangan Chitauri apalagi kekhawatiran tentang nasib protagonisnya. Snyder, walau mengumbar darah di mana-mana dalam film Watchmen tetapi tidak ada perasaan tegang saat menontonnya karena gayanya yang terlalu 'nyeni visual' apalagi ketika ia menyutradarai film superhero remaja yang minim darah, tak ada ketegangan sama sekali. Adegan Batman menyelamatkan Martha? Cih, itu cuma menunjukkan Snyder kebanyakan main game Arkham, tetapi tidak ada greget sama sekali.

Russo bersaudara fasih bermain dengan waktu ketegangan. Misalnya, ketika serangan pertama anak buah Thanos muncul, mereka menampilkan dari hal-hal kecil dahulu seperti getaran gempa, lalu suara-suara kepanikan dari luar. Dan ketika akhirnya karakter protagonis bertemu dengan anak buah Thanos pertama kali, ditampilkan betapa rapuhnya mereka. Ya, seperti kata teman-teman SD-ku dahulu, film laga yang bagus adalah kalau jagoannya kalah duluan.

Alhasil, bahkan walaupun sudah mendapat bocoran akhir film ini, saya tetap bisa menikmati ketegangan sepanjang film. Di sini, tak bisa hanya mengandalkan kekuatan untuk mengalahkan Thanos dan anak buahnya tetapi juga kecerdasan, kesabaran, dan tekad untuk mengorbankan diri maupun orang lain yang disayangi. Kata "war" yang berarti perang memang layak menjadi bagian dari judul film ini.


Petunjuk untuk orang tua:
Walau tanpa darah, adegan kekerasan di film ini cukup ganas. Dari adegan dada tertusuk tombak hingga dada tertusuk kapak ada di sini. Adegan mencekik leher hingga mati lemas juga muncul, begitu juga karakter sekarat karena leher tersaya juga ada. Adegan penyiksaan dengan benda-benda tajam juga muncul begitu juga adegan penyiksaan dengan cara mutilasi juga ada. Selain itu banyak ditampilkan tangan, perut, dan sejumlah anggota-anggota tubuh terpotong-potong.

Walau tidak ada ketelanjangan maupun hubungan seksual, film ini cukup banyak memuat ciuman antara karakter-karakternya sehingga mungkin untuk penonton Indonesia yang membawa anak akan kerepotan.

Friday, March 23, 2018

[Bukan Review] LOVE FOR SALE (Spoiler)




Sutradara: Andibachtiar Yusuf
Produser: Angga Dwimas Sasongko, Chicco Jerikho

Pertama-tama, film ini 21 tahun ke atas.
Ini bukan guyonan. Layar LSF sebelum film dimulai berwarna merah dan tulisannya menyatakan 21 tahun ke atas. Dengan kata lain, adik-adik yang masih SMU pun tak boleh menonton film ini.

Namun sejujurnya, film ini tidak layak dapat klasifikasi kejam 21 tahun ke atas kecuali untuk bagian sensitif non-seks dan itupun kalau sadar. Adegan seks, ya... sudah bisa diperkirakan ada, tetapi tidak banyak dan sebenarnya bahkan durasinya sangat singkat. Biar bagaimanapun, ini bukan film tentang seks.

Seperti yang bisa dilihat dari judulnya (dan iklannya), "cinta" di sini tidak nyata. Mungkin dari judul film atau dari iklan, kita akan geli, betapa bodohnya si karakter utama jatuh cinta pada wanita yang jelas-jelas ia "sewa". Mungkin ada yang kemudian menganggap film ini "contekan" dari "Pretty Woman" yang tersohor dari awal 90an, yaa... premis awal punya kemiripan tetapi film ini berkembang yang berbeda. Mungkin ada juga yang merasa film ini mirip dengan Her yang diperankan Joaquin Phoenix, dan ya... premis awalnya juga punya kemiripan tetapi akhirnya mungkin sedikit beda.

Kurasa, yang membedakan antara film ini dengan film-film dengan premis serupa adalah film ini mengajak berpikir, untuk apa sih jatuh "cinta"? Apakah "cinta" itu membuat diri korbannya berubah? Apakah "cinta" itu nyata seandainya obyek cintanya palsu ? Ketika si korban tersentak dari ilusinya, apakah berarti jatuh cinta itu bentuk dari perilaku sia-sia ?

Seusai menonton film ini, sejenak saya merenung, bukankah dalam kehidupan kita banyak sekali cinta pada hal yang kita anggap nyata tetapi bisa jadi sekedar ilusi belaka. Cinta tanah air misalnya, bukankah negeri ini berdiri di atas ide belaka. Kita bahkan tak tahu apakah negeri ini benar-benar mencintai kita walaupun kita sering dijejali propaganda untuk mencintai negeri ini. Apa yang membuat tanah air kita lebih layak dicintai daripada negeri orang lain? Kelak ketika kita menjadi korban ketidakadilan negeri ini dan dimusuhi mayoritas penduduk negeri ini, apakah kemudian rasa "cinta tanah air" yang selama ini kita tumbuhkan menjadi sebuah hal yang sia-sia belaka sejak awal? Jangan-jangan cinta tanah air itu tak lebih dari sekedar transaksi barter, "gue cinta ama tanah air, rela berkorban demi tanah air, selama tanah air memberikan kenyamanan buat gue".

Mungkin terlalu jauh membawa film ini ke ranah politik tetapi beberapa unsur sosial politik menyelinap ke dalam celah-celah kehidupan karakternya. Karakternya adalah sosok "Tionghoa" pemilik toko, yang memiliki teman-teman gaul nobar di kafe-kafe tetapi ketika ingin curhat, tempat mengutarakan uneg-unegnya adalah seorang konservatif yang doyan mengutip ayat-ayat Al-Quran dan tidak sungkan menunjukkan ideologi "Indonesia Tauhid"-nya. Bahkan identitas ke-Tionghoa-an karakter utamanya pun juga masih bisa dipertanyakan lagi dari dialog di tengah-tengah film.

Berbicara tentang cinta palsu, film ini bahkan di awal sempat menampilkan sebuah relasi "cinta" singkat, punah sebelum berkembang, dengan iringan dominasi "relasi kuasa" antara pihak laki-laki dan wanita. Ketika sang laki-laki menampilkan kekuasaan dalam hubungan mereka, sang wanita menangis tak bisa membela diri bahkan sukar berkata-kata. Sumpah, rasanya pengen nimpuk si laki-laki dominan yang tak lain adalah karakter utamanya, memanfaatkan hubungan 'bos - anak buah' karena kegagalan dia menjalin hubungan setara dengan wanita-wanita lain. Bahkan sebenarnya, awal hubungan "cinta" yang jadi plot utamanya juga diawali dengan sebuah relasi kuasa yang timpang, antara klien dan pemberi jasa.

Jika ada waktu, uang, dan pasangan (jomblo pun boleh tetapi lebih afdhol menonton ini berpasangan), maka tontonlah film "romantis" tak biasa dengan ketimpangan strata sosial dan nikmati bagaimana seorang pria jatuh cinta tanpa ia sangka sebelum ilusi cintanya hancur berkeping-keping. Tenang, tidak ada adegan tusuk-tusukan berdarah-darah 'ala psikopat dalam film ini.

PS: Film ini diproduseri oleh orang yang membawa Filosofi Kopi dan Buka'an 8 jadi jangan heran kalau ada poster film Filosofi Kopi nongol atau percakapan WA 'ala Buka'an 8. Selain itu, film ini dibuat oleh sutradara gila bola yang sudah bikin film-film tentang bola dari dokumenter, kisah cinta berlandaskan fanatisme bola, hingga kisah fiktif korupsi di jagat sepak bola, jadi jangan heran kalau banyak unsur sepak bola di film ini.

Friday, February 16, 2018

[BUKAN REVIEW] Black Panther

*dan seperti biasa Spoiler*
*untuk panduan orang tua, ada di bagian akhir*

Black Panther adalah film Marvel yang akhirnya bisa melampaui genre-nya, seperti halnya film The Dark Knight. Layaknya The Dark Knight, ada isu-isu kontemporer dalam film ini dan dapat dikatakan lebih dalam daripada Winter Soldier. Kabar buruknya, sementara The Dark Knight bisa dinikmati tanpa harus berpikir berat, Black Panther mungkin sulit dinikmati. Kuamati, banyak kawan-kawan yang mengeluh filmnya membosankan dan bikin mengantuk. Bahkan saat kutonton tadi, saya dan ibu putriku tertawa sendirian sementara sekitar kami diam sunyi.

Jadi, apa sih kisah film Black Panther ini? Kalau ada yang menceritakan film Black Panther sebagai "perebutan tahta" atau "intrik politik Wakanda", maka itu sama saja menganggap The Dark Knight sekedar film tentang Joker memasang bom di rumah sakit, di kantor polisi, dan bikin onar di sana-sini. Berbeda dengan Joker yang menghibur penonton di kemunculannya, maka Killmonger tidak semenawan Joker, tidak teatrikal, tidak memancing tawa macam Loki. Jadi gak usah heran, film yang dapat pujian dari para kritikus ini justru dianggap membosankan bagi para fans di Indonesia.

Film ini dibuka dengan seorang ayah menceritakan tentang Wakanda, negara yang menerapkan politik isolasi ala tirai besi dengan struktur monarki. Kemudian adegan beralih ke tahun 1992 pasca kerusuhan Los Angeles yang disebabkan tindakan kekerasan polisi rasis. Sementara sekelompok anak-anak afro-Amerika bermain basket di luar, di dalam apartemen, dua orang kulit hitam resah, khawatir polisi kulit putih datang menyerang. Sementara itu, di balik awan, cahaya biru menyelinap menuju ke apartemen. Kelak apa yang terjadi di apartemen ini menjadi latar belakang penyebab cerita dalam film.

Seusai 1992, film mengajak penonton ke Nigeria masa kini, salah satu negara Afrika yang menyimpan problem kekerasan oleh milisi-milisi bersenjata (misalnya Boko Haram). Kita menjumpai sang pahlawan berusaha menyelamatkan mantan kekasihnya yang sedang menyamar menjadi wanita yang diculik oleh milisi. Uniknya, ketika sang macan kumbang berniat menghabisi seorang milisi, si wanita malah menghalanginya, menyadarkannya bahwa sosok milisi yang nyaris dihabisi itu tak lebih dari prajurit anak.

Ketika karakter antagonis diperkenalkan kepada penonton, pembuat film mengajak kita melihat sebuah diskusi di kota London, salah satu bekas penjajah yang kekuasaannya meliputi seluruh penjuru bumi di abad 18-19. Sang antagonis, berdiskusi dengan seorang kurator kulit putih tentang koleksi-koleksi Afrika Barat di museum. Tentu saja, sang antagonis akhirnya menyindir bagaimana museum berhasil mendapatkan koleksi benda-benda Afrika dan bagaimana sang kurator memandangnya jijik sejak ia pertama kali menginjakkan kaki di museum itu.

Apa yang dikisahkan tadi barulah menit-menit pertama dan dengan latar belakang inilah, film ini menempatkan mitologi budaya pop-nya. T'challa, sang raja muda yang baru dilantik resah melihat ketidakadilan di sekitar negaranya dan mulai mempertanyakan kebijakan isolasi yang dianut leluhurnya. Namun hal itu tidaklah mudah karena rakyat-rakyatnya tak sependapat dengannya. Berbagai perbedaan pendapat timbul mengenai sikap Wakanda terhadap dunia. Di saat yang sama, reputasi raja muda tidaklah sekuat ayahnya.

Dan ya,
film ini bercerita tentang trauma penjajahan, solidaritas atas ketertindasan, isolasionisme, pengucilan, keterasingan, kesetiaan.

Walau karakter komik Black Panther tidak diciptakan oleh Afro-Amerika -- diciptakan oleh duo Yahudi Stan Lee dan Jack Kirby --, si sutradara, Ryan Coogler, memanfaatkan kesempatan ini memamerkan budaya-budaya Afrika yang selama ini diabaikan. Mantra-mantra, siul-siul, dan dentuman musik-musik perkusi? Ada! Tato dan riasan cat tubuh? Ada! Pernak-pernik perhiasan termasuk yang unik? Ada! Bahkan baju koko dengan pola hiasan yang mirip kaligrafi Arab! Menonton tata artistik dan tata busana film ini seperti sebuah jeritan kepada kaum Afro-Amerika: ini budaya leluhurmu!

Layaknya film Marvel di bioskop lainnya, film ini aslinya untuk 13 tahun ke atas (PG-13), namun LSF dengan bijak menaruhnya di 17 tahun ke atas, sayangnya ketertutupan LSF mungkin membuat orang tua garuk-garuk kepala mempertanyakan alasannya. Tidak ada adegan darah di sini (kecuali adegan darah menetes dari luka tembak) namun sepanjang film kita dijejali penuh tembakan membawa maut. Tak hanya itu, film ini juga memiliki adegan-adegan kekerasan akibat pertarungan senjata tajam seperti tombak dan pisau. Pernah melihat adegan Captain America menusuk pembajak dengan pisau di Captain America: Winter Soldier? Nah, adegan tertusuk tombak di film ini lebih banyak, lebih lama dan menampilkan wajah korban yang kesakitan.

Kalau anda adalah orang tua yang ingin mengajak anak nonton film superhero macam Spider-man, maka sebaiknya hindari film ini dan tunggu Ant-Man dan Wasp di bulan lain. Sebaliknya, kalau anda ingin memperkenalkan bahwa kulit hitam memiliki budaya menarik, wanita-wanitanya bisa menjadi wanita-wanita yang luar biasa, dan anda ingin menunjukkan pada anak anda bagaimana perbedaan tentang politik yang membawa perang saudara, maka Black Panther adalah film yang tepat.

Oh iya,
layaknya film sarat politik,
tentu saja, tidak ada solusi 100% benar di sini. Bisa jadi anda justru lebih simpati pada karakter antagonisnya dan menganggap solusi protagonis sebagai sebuah solusi naif. Atau, bisa jadi anda adalah tetua yang pro status-quo cinta kedamaian dan kestabilan walau berarti menutup mata atas ketidakadilan di luar zona nyamanmu.