Tuesday, June 03, 2008

Delapan Tahun Lalu, gue berhenti membaca Sabili

Gak ada yang mempengaruhi gue...
hanya sebuah foto di Sabili yang sangat gue ragukan kebenarannya...
Sebuah foto yang gue yakin sudah melalui hasil rekayasa....

Kemudian ada surat pembaca lain yang mempertanyakan foto lain.. Foto yang berbeda, tetapi alasan yang sama..

Selama setahun lebih, emosi gue berkali-kali diguncang oleh Sabili. Selama setahun lebih, gue melihat foto-foto menyedihkan di Sabili...

dan tiba-tiba sebuah foto yang mencurigakan terpasang di majalah tersebut..
Dan aku yakin, itu hasil rekayasa.


Aku berhenti membaca Sabili.
Aku tidak mau lagi diperalat.

Dan kemudian, berkali-kali di Internet gue berkali-kali, baik di milis maupun di beberapa forum menentang hoax. Tidak ada yang lebih buruk dari hoax. Hoax menyebabkan fanatisme. Hoax menyebabkan paranoid. Dan hoax menyebabkan kebencian terlegitimasi.


Mungkin pada heran ngapain gue nulis ginian....
Karena jujur aja
TANGKAP DULU FPI DAN KLI!!!
Kalau mereka punya bukti ada yang bawa senapan di AKK-BB, bawa ke meja hijau
tapi mereka harus merasakan dinginnya sel penjara

Siapa yang bisa menjamin bahwa video mereka bukan hoax? Bukankah tidak ada yang tertangkap langsung pada tanggal 1 Juni kemarin? Bukankah mereka baru kembali ke markas dan menayangkan video tersebut? Kenapa mereka tidak langsung mengatakan ada senapan api saat pertama kali orang mengutuk? Kenapa baru siang mereka membela dengan alasan itu?


Tangkap dulu FPI dan KLI!!!
Apapun bukti yang meringankan mereka, yang membebaskan mereka,
tayangkan itu di meja hijau...

tetapi TIDAK SEKARANG!

4 comments:

alex said...

Setuju! Tangkap siapa saja yang terlibat! Bubarkan FPI dan suruh pulang itu Si Rizieq ke negara moyangnya kalo dia kukuh nolak hukum yang berlaku di Indonesia!!

Saya panas lihat dia nantang rencana penangkapan oleh aparat hukum! Brengsek itu namanya. Sudah melecehkan kewibawaan penegak hukum itu orang!

Dia pikir ini negara bapak-moyangnya apa, pake bikin hukum sendiri?!!

Cuih!

Lis said...

I absolutely agree with you!

cardepus said...
This comment has been removed by the author.
jpmrblood said...

Hmm.. gw juga dulu pernah ngikutin Sabili. Gw pikir dia adalah suatu media untuk melepaskan pikiran alternatif, seperti Pramoedya Noer dengan aliran kirinya. Tapi, gw sih kecewa dan berpikir bahwa majalah ini tidak lebih dari sekedar majalah propaganda dan hoax. Waktu itu ada undangan terbuka dari Israel untuk membuka diri terhadap media asing dan Sabili mendapat surat undangan resmi untuk berdialog. Sebagai sebuah lembaga jurnalistik, seberapa keberpihakan pun, seharusnya Sabili memenuhi undangan dialog tersebut untuk dapat memahami sisi lain, seperti majalah Tempo yang selalu menyediakan kolom terpisah untuk pihak tertuduh untuk menyediakan pembelaannya.