About Me
- kunderemp
- I am Narpati Wisjnu Ari Pradana son of Priadi Dwi Hardjito son of Soeparto Hardjowidjojo son of Asmeroe. My great grand father was a member of Sarekat Islam Party in Netherland Indies era
ini adalah caci maki yang keluar dari qalb dan diterjemahkan oleh aql
Blog Archive |
Situs Favorit |
Kategori |
Posted by
kunderemp
at
12:14 AM
0
comments
Labels: marah
Ada bedanya antara mencoba bersikap netral dengan berkhayal telah bersikap netral tetapi sebenarnya telah menelan mentah-mentah propaganda Zionis. Keinginan bersikap netral dan adil adalah hal yang layak dipuji. Namun apatah artinya netral jika sikap kritis itu ternyata tak lebih dari hasil menelan mentah-mentah propaganda?
Sepuluh tahun lalu, propaganda zionis biasanya hanya beredar di antara kecil orang-orang Kristen yang percaya Yahudi adalah bangsa terpilih. Sementara kaum Muslimin, bahkan yang paling liberal sekalipun, yang menginginkan hubungan dagang dengan Israel sekalipun, tidak akan menyebarkan propaganda zionis melainkan hanya bersikap realistis bila tidak bisa disebut opportunis.
Sekarang, saya melihat sejumlah skeptisme menyebar bahkan di antara kaum muslim. Dengan gagah berani, menyatakan diri bersikap netral, mereka menyebarkan sejumlah propaganda-propaganda zionis yang sebenarnya tak asing. Propaganda ini mencoba menyebarkan keraguan di antara para pendukung perjuangan Palestina. Bahwa sudah ada beberapa muslim yang mulai ikut menyebarkan propaganda ini, bukti bahwa propaganda ini sudah mulai berhasil.
Berikut tiga contoh propaganda zionis yang mulai menyebar di antara orang-orang yang mengira bersikap netral:
1. BANGSA PALESTINA TIDAK ADA, YASSER ARAFAT BUKAN ORANG ASLI PALESTINA
Bangsa Palestina sesungguhnya memang tidak ada dalam sejarah zaman dahulu, dan bisa disebut bangsa khayalan -- tunggu dulu -- sama fiktifnya dengan Bangsa Indonesia yang tak pernah ada hingga munculnya Perhimpunan Indonesia dan dikukuhkan oleh Sumpah Pemuda. Jika Bangsa Indonesia awalnya adalah etnis Melayu-Austronesia yang memiliki persamaan nasib dijajah oleh Belanda, maka Bangsa Palestina adalah etnis Arab yang memiliki persamaan nasib, yakni tanah mereka dijajah oleh Zionis atau bahkan mereka terusir dari tanah mereka dan tidak terserap secara emosional oleh etnis Arab lain yang sudah membentuk negara sendiri yang tercipta di masa pan-Arabisme.
Yasser Arafat memang lahir di Mesir, sebelum negara Israel lahir. Namun ayahnya dan keluarga dari ayahnya punya ikatan emosional dengan tanah Palestina. Seandainya Yasser Arafat tak punya hubungan keluarga dengan penduduk Palestina, maka kepeduliannya dan rasa emosi terhadap tanah Palestina sudah tak diragukan lagi bahkan ia sudah diakui oleh rakyat Palestina sebagai bagian dari mereka. Ini bukan hal yang asing bagi Bangsa Indonesia. Dalam sejarah Indonesia, sejumlah kaum Indo-Belanda macam Setiabudi (Douwes Dekker) atau HC Princen juga diakui sebagai Bangsa Indonesia oleh rakyat Indonesia.
2. BANGSA PALESTINA SUKA MENCARI MASALAH, TERPECAH BELAH
Para sok-netral biasanya akan memberikan daftar kekerasan yang dilakukan oleh faksi-faksi yang ada dalam perjuangan Palestina terhadap rakyat sipil Israel. Terkadang mereka juga memberikan pertikaian antar faksi-faksi di Palestina, mencoba memberikan pesimisme bahwa perjuangan Palestina akan gagal karena dinilai "menciptakan neraka sendiri".
Seharusnya para sok-netral itu paham bahwa dalam perjuangan meraih kemerdekaan, terkadang munculnya faksi-faksi yang saling bertikai tidak terelakkan. Bahkan Indonesia pun pernah mengalami semula di mana antar faksi saling mengejek, culik-menculik, bahkan bunuh-membunuh. Bahkan di antara faksi yang berjuang untuk kemerdekaan Indonesia, kadang ada juga yang melakukan kejahatan perang. Namun semua insiden dalam perjuangan itu tidak berarti keinginan sebuah bangsa untuk merdeka layak diabaikan.
Selain itu, salah seorang sok-netral itu tak sadar, bahwa di antara faksi-faksi bertikai di Palestina sudah ada usaha-usaha rekonsiliasi bertahun-tahun. Bahkan salah satu usaha terbaru untuk rekonsiliasi itu terjadi di tahun 2017 ini. Tapi karena pada dasarnya si sok-netral itu memang sudah menelan propaganda zionis, pengetahuan tentang perpecahan faksi yang ia sebarkan di medsosnya itu tak lebih dari sekedar berita basi.
3. ISRAEL ADALAH NEGARA MODERN YANG JAUH LEBIH DEMOKRATIS DARIPADA NEGERI-NEGERI ARAB
Pertama, harus dibedakan antara bersikap realistis dengan menelan propaganda.
Kita menerima Amerika Serikat adalah negeri yang berdaulat tetapi bukan berarti kita membenarkan berbagai konflik terhadap penduduk asli dalam sejarah negeri mereka. Begitu pula, kita menerima Australia adalah negeri yang berdaulat tetapi bukan berarti kita membenarkan berbagai kebijakan yang merugikan penduduk asli di negeri mereka.
Israel, adalah negara yang sudah menunjukkan kekuatannya berkali-kali, jadi adalah wajar keinginan untuk mengakui kedaulatannya. Namun, bahkan seandainya diakui kedaulatannya pun, bukan berarti harus menutup mata atas penjajahannya terhadap Palestina, menutup mata atas sejarah mereka mengusir etnis Arab di awal-awal berdirinya negara mereka.
Berbicara tentang keterwakilan pun, benar bahwa etnis Arab cukup terwakili secara proporsional di Knesset mereka namun itu hanya jika kita mengabaikan sejarah perubahan drastis perbandingan populasi etnis di wilayah ini pasca Aliyah dan juga mengabaikan populasi yang terusir dari tanah mereka dan belum terserap di negeri tetangga melainkan masih mendamba kembali ke tanah leluhur.
Berbicara tentang "kebaikan Israel", mungkin sebaiknya kenang juga "kebaikan Belanda" atas negeri ini. Dahulu, pasca Perang Jawa, Belanda hanya minta seperlima tanah untuk ditanam tanaman komoditas dan mereka membantu menjualkan ke pasar Eropa dan membagi sebagian kepada penguasa-penguasa lokal. Belanda dengan politik etisnya juga mendidik bangsa Indonesia, bahkan memberikan beasiswa kepada beberapa siswa untuk belajar di negeri mereka. Belanda juga menyediakan posisi-posisi kerja dengan upah lumayan. Perusahaan-perusahaan Belanda di negeri Indonesia juga mempekerjakan tenaga-tenaga kerja pribumi. Lalu kenapa Indonesia masih ingin merdeka dari Belanda ?
Selalu ada kisah di balik kisah, narasi di balik narasi. Tak perlulah saya yang awam ini memaparkan beberapa perbedaan antara teori legal Israel dan praktek di lapangannya. Kalau para sok-netral itu bisa bersikap skeptis kepada perjuangan Palestina, kenapa mereka juga tidak bisa melakukan hal yang sama kepada setiap cerita indah dari Israel ?
SAYA TIDAK BISA NETRAL, SETIDAKNYA SAAT INI TAK BISA NETRAL
Berbeda dengan para sok-netral, saya akui saya tak bisa netral.
Walau sudah bertahun-tahun saya berusaha obyektif, membaca dari kedua sisi, namun saya tetap tak bisa netral dalam memandang konflik ini.
Ketidaknetralan saya sebenarnya irasional dan emosional, yakni hanya karena saya melihat banyak kemiripan antara kisah Indonesia dengan Palestina.
Untuk saya, argumen para zionis yang merasa berhak menguasai tanah Palestina, bergelombang penuh bagai air bah datang dengan gerakan Aliyah mereka, sudah ketinggalan zaman selama tiga belas abad. Ya, sebenarnya, sejak Muslim menguasai Yerusalem, sejak itu pula lah kaum Yahudi sudah bebas pulang ke Yerusalem. Tentu saja, prakteknya, beberapa Yahudi pra-Islam sebenarnya juga sudah ada yang pulang walau harus takluk dan berpindah agama menjadi Kristen di masa Romawi. Sungguh, tak ada alasan buat para imigran Yahudi yang belakangan untuk membuat negeri sendiri dengan mengusir etnis Arab dari tanah mereka yang sudah ditinggali berabad-abad.
Bicara tentang kedaulatan Yahudi pun, bahkan dalam sejarah pasca pendudukan oleh Babylonia, hanya beberapa masa singkat Yerusalem benar-benar merdeka. Kebanyakan berada di bawah kekuasaan bangsa-bangsa lain seperti Persia, Yunani (Seleucid), dan tentu saja Bangsa Romawi. Sangat menggelikan kalau para imigran Yahudi merasa berhak mendirikan negara sendiri dengan alasan sejarah karena kenyataannya, sebagian besar sejarah mereka pasca Babylonia, tak lepas dari campur tangan bangsa lain.
Sejujurnya, ada masa saat berita-berita baik dari Israel membuat saya terlena dan mengira bahwa konflik akan cepat selesai jika Palestina mengakui kekuasaan Israel dengan segera namun ternyata praktek-praktek penyebaran propaganda ini membuat saya kembali berpihak pada Palestina. Kenyataannya, perlawanan-perlawanan itu tetap ada bahkan usaha-usaha rekonsiliasi antara faksi-faksi Palestina yang selama ini bertikai membuktikan bahwa keinginan Palestina untuk merdeka itu masih ada.
Dan selama nyala api perjuangan Bangsa Palestina masih ada,
saya tetap mendukung Palestina.
Posted by
kunderemp
at
1:15 AM
0
comments
Ada masa saat saya tertekan menyadari saya bukan "pribumi" Jakarta sementara "pribumi"-nya tersingkir ke pinggir-pinggir kota. Sebagai anak pendatang dari Jawa, saya gelisah saat pertama mendengar kisah suku Betawi terpinggirkan karena mahalnya taraf hidup di tengah ibukota. Lalu saya harus bagaimana? Pulang ke kampung halaman walau ngomong bahasa Jawa ngoko saja gak becus?
Sekarang, setelah dipikir-pikir lagi, MH Thamrin pun sesungguhnya bukan murni "pribumi" Jakarta karena tubuhnya mewarisi gen pendatang. Walau demikian, di Volksraad ia kencang mengritik pemerintah kolonial yang abai terhadap "pribumi" Jakarta, mengindentifikasi dirinya sebagai "pribumi".
Setelah 72 tahun Indonesia Merdeka, saya menyadari, perasaan "tersingkir" dan "terjajah" itu masih ada. Pertanyaannya adalah, "terjajah" oleh siapa? Apakah narasi "pribumi" tepat untuk menggambarkan perasaan itu? Jawaban untuk pertanyaan kedua adalah TIDAK!
Tahun lalu saja, seorang "non-pribumi" terluka saat membela kampung yang sedang digusur.
Jauh sebelum KPK mengungkap kasus penyuapan reklamasi, kawan-kawanku yang "non-pribumi" sudah teriak-teriak di linimasa Facebook-nya menentang kebijakan Gubernur yang satu etnis dengan mereka. Mereka yang doyan teriak-teriak "Cina" justru adalah penumpang belakangan dalam isu reklamasi.
Pribumi punya konotasi negatif. Seseorang boleh berpendapat bahwa pribumi adalah semua orang yang asli lahir di daerah itu. Namun kalau bicara konteks kolonial, keturunan dari para pendatang pun tidak dianggap sebagai pribumi, kebijakan untuk mencegah terjadinya persatuan di antara warga, mempermudah penguasa mengawasi jajahannya.
Okelah, saya berbaik sangka bahwa "pribumi" yang dimaksud Anies adalah seluruh warga Indonesia di Jakarta. Namun reaksi-reaksi beberapa pendukung Anies yang menyebarkan perbedaan "keturunan Arab" dan "keturunan Tionghoa" dari berbagai sumber termasuk yang diragukan asalnya, tak pelak menegaskan pengertian "pribumi" yang digunakan adalah pemahaman warisan kolonial. Berdasarkan pengertian warisan kolonial ini, walau seseorang lahir di negeri ini, kakek mereka mungkin dari luar negeri tetapi sudah menanggalkan warga negara asal dan memilih Indonesia (atau pasca 1958 lupa melapor dan kelak pasrah "diperas" pakai SKBRI), dan ayah-ibu mereka bahkan pasrah tidak mengajarkan budaya leluhur mereka semasa orde baru demi "asimilasi", tetapi tetap saja mereka dicap sebagai "non-pribumi".
Ya, para "non-pribumi" yang dimusuhi itu, bahkan pernah kujumpai sedang belajar bahasa leluhurnya dari guru-guru "pribumi"!
Mau sampai kapan kalian memusuhi warga keturunan Tionghoa dan menganggapnya sebagai "non-pribumi" ?
Sampai pola pikir cuci otak ala Kolonial Belanda ini hilang, memang sebaiknya kata "pribumi" tidak dipakai dalam konteks apapun dan karena itu, Pak Habibie (yang kebetulan juga keturunan Arab) sudah benar dalam menerbitkan Inpres nomor 26 tahun 1998!
Posted by
kunderemp
at
1:11 PM
0
comments
Saya keturunan Jawa, lahir di Jakarta, lebih akrab dengan lenong Jakarta daripada ketoprak atau ludruk, lebih akrab dengan Gambang Kromong dan Tanjidor daripada Gamelan Slendro atau Pelog, lebih menyenangi suara Tekyan digesek daripada Rebab milik ayah saya. Ayah saya pernah begitu marahnya pada saya dan melarang saya berbahasa Betawi. Sebagai gantinya, saya ngambek tidak mau belajar bahasa Jawa.
Singkat kata, latar belakang pribadi saya membuat saya menolak segala sekat-sekat berbasis sukuisme dan rasisme. Sekarang bagaimana pengalaman saya bergaul dengan kawan-kawan keturunan Tionghoa?
Saya pernah memiliki kawan keturunan Tionghoa Palembang, hidup di gang-gang kecil. Si kakak yang jadi teman saya, masih tetap beragama Buddha (setahu saya) sementara adiknya masuk Islam. Jadi penasaran, bagaimana kabar mereka sekarang, karena sudah lama tak bertemu.
Saya punya kawan keturunan Tionghoa Medan, hidup di rumah toko, juga pernah mengalami pahitnya dipecat dalam perjalanan ke kantornya.
Saya punya kawan keturunan Tionghoa Jawa, tak bisa membaca tulisan Pinyin sama sekali dan tidak pula bisa bahasa-bahasa etnis Tionghoa. Kalau dia terjebak di antara orang-orang berbahasa Hanyu atau Tiochiu atau Khek, pastilah dia rekam diam-diam untuk kemudian dia tanya ke kawannya, "mereka ngobrol tentang apa sih".
Saya pernah beberapa kali menemukan "pribumi" begitu asyik bicara tentang cara menyuap untuk mendapat proyek. Dalam salah satu kesempatan, saya sampai marah mendengar ocehan salah satunya dan mendampratnya. Di sisi lain saya malah pernah menemukan pengusaha keturunan Tionghoa, memilih pasrah (tapi ngedumel) "bayarannya ditunda" daripada memberikan uang pelicin proyek. Bahkan ketika salah satu kliennya menawarkan "kamar hotel", dia memutuskan menolak. Hanya menggunakan kamar tersebut agar temannya bisa shalat, dan setelah itu ia dan kawannya pulang, khawatir bila menginap di kamar tersebut nanti didatangi "tamu wanita".
Dan saya punya beberapa teman non-Tionghoa yang acapkali disangka Tionghoa karena bentuk matanya. Cuma ya, tetap saja mereka mendapat "perlakuan berbeda" hanya karena bentuk fisik.
Jadi apa yang salah dengan membawa narasi "pribumi"?
Banyak!
Dari sisi peraturan salah. Zaman Pak Habibie jadi presiden sudah mengeluarkan larangan menggunakan istilah ini.
Dari sisi agama yang kuanut pun salah. Di masa Nabi, beliau sudah memiliki sahabat keturunan Ethiopia dan keturunan Persia. Kenyataannya banyak para pelestari agama Islam berasal dari non-Arab seperti dari Bukhara.
Dari sisi cita-cita para pendiri negara ini pun salah. Coba lihat pidato Bung Hatta di depan orang-orang Tionghoa tahun 1946. Sistem ekonomi negara kita yang baru seharusnya menghapus semua sekat-sekat sosial di masa kolonial. Jadi bukan untuk membalik piramida dan balas dendam.
Dari sisi kenyataan sosial di negara ini pun salah. Orang-orang Tionghoa juga mengalami sebagai pihak terzalimi secara ekonomi sementara orang-orang pribumi juga ada yang di tingkat atas piramida ekonomi.
Dan yang paling berbahaya, narasi 'pribumi'-isme menghalangi isu sesungguhnya.
Kalau seandainya, yang korupsi adalah 'pribumi' apa kita harus menerima karena pelaku adalah 'pribumi'?
Kalau seandainya, para pengusaha yang kelak menguasai dan mengendalikan harga-harga fasilitas yang seharusnya milik publik adalah para pengusaha 'pribumi' apakah kita diam saja karena pelaku adalah 'pribumi'?
Posted by
kunderemp
at
11:15 AM
0
comments
Ada empat jenis informasi yang tak bisa saya sebarkan walaupun saya percaya pada integritas sumbernya (bukan abal-abal)
1. INFORMASI YANG TAK BISA SAYA CEK LEWAT SUMBER LAIN
Biasanya sumber informasi saya adalah orang dalam yang tahu beberapa informasi yang tak semua tahu. Saya kenal dengan orangnya jadi saya tak perlu menudingnya sebagai pembohong. Namun sayangnya, informasi yang diberikan tak bisa diverifikasi lewat sumber lain sehingga saya memutuskan untuk menyimpan informasi itu untuk diri sendiri. Biasanya nanti akan terungkap apakah benar informasi tersebut.
Biasanya informasi yang masuk kategori ini mencakup bidang:
- gosip politik;
- gosip agama;
- gosip perfilman;
2. INFORMASI YANG MEMANG RAHASIA
Biasanya sumber informasinya sama dengan yang di atas, mampu memberikan bukti-bukti. Sayangnya sebelumnya sudah dinyatakan bahwa informasi tersebut adalah rahasia. Mau tak mau ya, saya tak akan sebarkan.
Biasanya informasi yang masuk kategori ini mencakup bidang:
- politik;
- gosip agama;
- perfilman;
3. INFORMASI YANG SAYA TAK PUNYA WEWENANG ATAU SAYA TAK PAHAM
Biasanya sumber informasinya sama dengan nomor satu, memberikan bukti, membolehkan informasinya disebarkan, kemudian saya juga menemukan beberapa petunjuk dari sumber lain yang membuat saya yakin informasinya benar. Sayangnya, saat membaca semua informasi tersebut terlalu banyak pertanyaan di kepala saya sehingga saya khawatir belum memahami informasi tersebut dengan benar. Selain itu, kadang juga saya merasa bukan saya yang layak komentar dengan informasi macam itu.
Biasanya informasi yang masuk kategori ini mencakup bidang:
- kebijakan publik;
- agama
4. INFORMASI YANG AKAN BIKIN RUSUH
Saya tahu sumbernya, saya punya sumber lain yang menegaskan hal sama, saya paham permasalahannya, tetapi bila saya menyebarkan, mengingat keanekaragaman kawan-kawan saya, bisa ditanggapi bermacam-macam tergantung latar belakang kawan-kawan. Lebih sial lagi kalau kebetulan topiknya sedang hangat dan diskusi di berbagai tempat memanas. Saya mending diam saja.
Biasanya informasi yang masuk kategori ini mencakup bidang:
- agama
Yang paling menyebalkan adalah,
bahkan ketika saya tak menyebarkan informasi-informasi tersebut,
semuanya menumpuk di kepala dan bikin gatal untuk mengomentari saat topiknya muncul di depan mata apalagi bila ada kawan-kawan yang sok tahu, yang tidak berusaha menelusuri berita, yang sekedar asal meneruskan meme, video, berita walau sumbernya tak jelas.
Posted by
kunderemp
at
6:45 PM
0
comments
Labels: marah

Akang Sunarya adalah satpam teladan. Di tengah-tengah rasa kalut dan kaget, reaksinya sebagai penjaga keamanan tepat, melumpuhkan ancaman keamanan sesegera mungkin.
Haruskah dedikasinya menyebabkan ia dituntut secara hukum oleh mahasiswi bengal tak tahu aturan?
Hak jawab mahasiswi:
http://megavandjabir.blogspot.com/2011/12/suster-ngesot-moral-duty-requires-me-to.html
Posted by
kunderemp
at
10:27 AM
3
comments
Labels: marah

UPDATE:
Sudah ada kesepakatan antara SMUN 6. Karena penyebar luasan ini hanya dimaksudkan sebagai penyebaran hak jawab, bukan untuk membenci profesi wartawan maka kesepakatan ditulis di bawah artikel ini.
Catatan: Aku menyelipkan foto dari kawan2 di FB. Foto hanya sekedar ilustrasi, mungkin tidak sesuai dengan yang dimaksudkan di jawaban SMUN 6.
sumber: http://www.sman6jkt.web.id/index.php?option=com_content&task=view&id=211&Itemid=1
HAK JAWAB/SANGGAHAN TERHADAP BERITA YANG DIMUAT DI MEDIA INTERNET
1. Tribunnews.com Senin, 19 September 2011
Foto dan Video Wartawan Identifikasi Pelaku Pengeroyokan
Kami membantah keras berita yang ditulis. Tidak terjadi pengeroyokan terhadap kelompok yang mengaku wartawan. Kami menyebut demikian karena tidak ada satupun dari mereka yang hadir menunjukkan kartu identitas sebagai wartawan dan tidak menggunakan atribut khusus, kecuali Bapak Panca menggunakan kemeja abu-abu, berlogo merah hati MI Media Indonesia. Yang terjadi adalah para wartawan telah memancing para siswa dengan kata-kata kotor/kasar/ejekan yang sangat tidak sopan. Bahkan, saat para siswa akan pulang, saat mereka menuju motor yang di parkir di depan sekolah, dan masih dalam kawalan polisi, seorang wartawan memukul wajah siswa dengan menggunakan helm. Hal tersebut tentu saja memancing emosi siswa. Siswa lain melakukan pembelaan terhadap teman mereka yang dipukul helm. Benturan tidak dapat terelakan. Tegas kami bantah, hal tersebut bukan pengeroyokan tapi pembelaan diri (saksi para polisi)
Wartawan melakukan unjuk simpati, semacam demo ± 50 orang, tanpa surat pemberitahuan ke pihak kepolisian. Hal tersebut tentu saja sudah menyalahi aturan yang berlaku. Tapi karena prinsip pelayanan masyarakat, manajemen sekolah menerima 6 perwakilan wartawan untuk bermufakat di ruang kepala sekolah (wartawan lain berada di luar sekolah). Dalam pertemuan tersebut telah terjadi kesepakatan dan titik temu antara sekolah dengan wartawan Tans 7, Saudara Oktaviardi, yang disetujui oleh kapolsek kebayoran Baru, Kapolres Jakarta Selatan, dan instansi terkait. Lalu para wartawan keluar dari SMAN 6. Namun sangat disesalkan, saat siswa akan pulang sekolah dengan dikawal oleh beberapa polisi, terjadi peristiwa yang ada pada paragraf 1.
Tidak hanya wartawan yang terluka tapi puluhan siswa kami juga terluka (foto, bukti lengkap, laporan telah kami lakukan ke pihak kepolisian). Bentrokan tidak dapat terelakan karena para wartawan telah memancing terlebih dahulu.
Seluruh kejadian/insiden tersebut disaksikan oleh banyak pihak, termasuk kepolisian. Kamera SMAN 6 pun merekam insiden tersebut.
2. Tribunnews.com
Lokasi SMAN 6 Harus Segera Dipindah
Mengenai keberadaan/lokasi SMAN 6 yang dikait-kaitkan dengan tawuran perlu dievaluasi kembali. Mengingat SMAN 6 juga sangat berprestasi dalam bidang-bidang lain. Baik akademik maupun nonakademik (data dan bukti dapat kami tunjukan). Tawuran yang dilakukan oleh sekelompok siswa jangan dijadikan alasan/dibesar-besarkan sehingga menjatuhkan SMAN 6, hingga harus dipindah.
Kami, manajemen sekolah, terus berupaya keras dalam menangani kasus tawuran ini. Guru-guru melakukan piket pagi dan sore hari, tidak hanya di lingkungan sekolah tapi juga sekitar sekolah. Bekerja sama dengan Binmas Polsek Kebayoran Baru dan Polres Jakarta Selatan, kami melakukan pembinaan dan kerja sa ma dengan mendirikan Pos Keamanan yang terletak antara SMAN 6 dan 70 agar dapat memantau siswa. Kami juga terus menegakkan tata tertib sekolah, sekaligus Sistem Reward and Punishment bagi siswa yang melanggar tata tertib.
Kami membantah tegas bila dikatakan hampir setiap hari terjadi tawuran. Bila demikian berarti dalam satu bulan terjadi sekitar 20 kali tawuran. Tolong tunjukan data untuk menguatkan pernyataan ini. Berdasarkan investigasi tim guru, ada pihak-pihak tertentu yang sengaja memprovokasi siswa untuk melakukan hal-hal yang tidak sesuai aturan sekolah Kita semua tahu banyak pihak berkepentingan yang menginginkan lahan SMAN 6 bukan dari sudut pandang edukasi.
3. Tribunnews.com
Kepala Sekolah SMA 6 Cuma Diam
Kami membantah keras berita ini. Kepala SMAN 6, Jajaran Manajemen, dan para guru SMAN 6 Jakarta tidak pernah membiarkan, membenarkan adanya aksi kekerasan apapun yang melanggar aturan. Kami pendidik menjunjung tinggi kebenaran dan kejujuran, di bawah payung antara lain UU Sisdiknas No. 20/2003, Permendiknas No. 39/2008 dan Permendiknas Nomor 19/2007.
Dalam pertemuan pihak sekolah dengan wartawan Trans 7, Saudara Oktaviardi, disaksikan oleh beberapa wartawan, kapolsek kebayoran baru, dan Kapolres Jakarta Selatan telah ada kesepakatan/titik temu. Pihak sekolah tetap akan menelisik apa benar ada siswa SMAN 6 sebagai pelaku pengambilan kaset wartawan tetapi tidak menjamin dapat menemukan karena tidak ada identitas fisik yang jelas. Siswa yang bersangkutan, nantinya akan tetap diberikan sanksi sesuai aturan yang berlaku.
Setelah itu, wartawan keluar sekolah dan telah disepakati tidak ada kontak fisik dan wawancara dengan para siswa saat siswa pulang sekolah. Sangat disesalkan, ketika siswa keluar sekolah, salah seorang wartawan di luar berteriak “Kalau berani jangan keroyokan, tapi satu lawan satu”. Hal tersebut memancing emosi para siswa. Tidak hanya itu, salah seorang wartawan lalu naik ke atap Pos Satpam SMAN 6. Karena terpancing, maka terjadilah bentrokan.
Kami secara tegas membantah pernyataan yang menuliskan bahwa pihak sekolah (para guru) tidak berbuat apa-apa. Seluruh guru, terutama guru laki-laki bersama pihak kepolisisan, serentak berusaha meredam kejadian ini. Bahkan dari pihak wartawan ada yang melempar mangkok beling yang mengenai guru dan polisi.
Bahkan saat siswa akan pulang/mengambil motor yang diparkir di depan sekolah, dengan disaksikan oleh pihak kepolisian, tiba-tiba, seorang wartawan memukul wajah siswa dengan helm. Akibatnya siswa tersebut terluka cukup parah di bagian wajah, terutama mulut.
Kami memiliki bukti data dan foto kejadian ini. Saksinya adalah dari pihak kepolisian.
4. Tribunnews.com
Wartawan Jadi korban pengeroyokan Siswa SMAN 6 Jakarta
Kami membantah tegas berita yang menyatakan bahwa kedatangan kelompok yang mengaku wartawan, kami menyebut demikian karena tidak ada satupun dari mereka yang hadir menunjukkan kartu identitas sebagai wartawan dan tidak menggunakan atribut khusus, kecuali Bapak Panca menggunakan kemeja abu-abu, berlogo merah hati MI Media Indonesia mendapat perlawanan dari ratusan siswa SMAN 6. Tepat pukul 11.30, , Ulangan Awal Semester 1 hari ketiga selesai. Seluruh siswa SMAN 6 pulang sekolah. Saat mereka berada di pintu gerbang, para wartawan yang sedang berdemo melakukan provokasi dengan kata-kata kasar/makian/tudingan/ bahkan melempar mangkok soto ke arah guru yang sedang mengawasi siswa. Bapak Deni mawardi terkena lemparan mangkok soto yang masih ada sotonya. Bahkan seorang polisi juga terkena. Hal tersebut tentu saja memancing beberapa siswa. Bentrokan tidak dapat dielakkan.
5. VIVAnews..com
Pria Diduga Wartawan Dianiaya Pelajar SMAN 6
Kami sangat keberatan terhadap isi berita yang ada. Dalam kejadian insiden sama sekali tidak ada siswa SMAN 6 yang menggunakan gir, bambu, dan gesper besi seperti yang dituliskan dalam berita. Sejak Kamis, 15 september 2011 sampai insiden terjadi, para siswa sedang melaksanakan Ulangan Awal Semester 1. Bentrokan tidak dapat dielakan karena para siswa terpancing oleh provokasi yang terlebih dahulu dilakukan oleh kelompok yang mengaku wartawan, Kami menyebut demikian karena tidak ada satupun dari mereka yang hadir menunjukkan kartu identitas sebagai wartawan dan tidak menggunakan atribut khusus, kecuali Bapak Panca menggunakan kemeja abu-abu, berlogo merah hati MI Media Indonesia. Provokasi tidak datang dari siswa. Seharusnyalah para wartawan menjunjung tinggi kode etik profesionalitas mereka.
Dalam pertemuan pihak sekolah dengan wartawan Trans 7, Saudara Oktaviardi, disaksikan oleh beberapa wartawan, kapolsek kebayoran baru, dan Kapolres Jakarta Selatan (Senin, 19 September 2011, sekitar jam 09.30) telah ada kesepakatan/titik temu. Pihak sekolah tetap akan mencari pelaku pengambilan kaset wartawan tetapi tidak menjamin dapat menemukannya. Jika ditemukan, tentunya siswa yang bersangkutan akan tetap diberikan sanksi sesuai aturan yang berlaku.
Setelah itu, wartawan keluar sekolah dan telah disepakati tidak ada kontak fisik dan wawancara dengan para siswa saat siswa pulang sekolah. Sangat disesalkan, ketika siswa keluar sekolah, salah seorang wartawan di luar berteriak “Kalau berani jangan keroyokan, tapi satu lawan satu”. Hal tersebut memancing emosi para siswa. Tidak hanya itu, salah seorang wartawan lalu naik ke atap Pos Satpam SMAN 6. Karena terpancing, maka terjadilah bentrokan.
Kami secara tegas membantah pernyataan yang menuliskan bahwa pihak sekolah (para guru) tidak berbuat apa-apa. Seluruh guru, terutama guru laki-laki bersama pihak kepolisisan, serentak berusaha meredam kejadian ini. Bahkan dari pihak wartawan ada yang melempar mangkok soto yang mengenai guru dan polisi.
Bahkan saat siswa akan pulang/mengambil motor yang diparkir di depan sekolah, dengan disaksikan oleh pihak kepolisian, tiba-tiba, seorang wartawan memukul wajah siswa dengan helm. Akibatnya siswa tersebut terluka cukup parah di bagian wajah, terutama mulut. Dalam insiden tersebut puluhan siswa mengalami luka-luka.
6. KOMPAS.com
Siswa Anarkistis, Kepsek SMAN 6 Diam
Kami sangat keberatan terhadap isi berita tersebut. Dalam pertemuan pihak sekolah dengan wartawan Trans 7, Saudara Oktaviardi, disaksikan oleh beberapa wartawan, kapolsek kebayoran baru, dan Kapolres Jakarta Selatan (Senin, 19 September 2011, sekitar jam 09.30) telah ada kesepakatan/titik temu. Pihak sekolah tetap akan menelisik apa benar ada siswa SMAN 6 sebagai pelaku pengambilan kaset wartawan, tetapi pihak sekolah tidak menjamin dapat menemukannya karena tidak ada identitas fisik yang jelas.. Jika ditemukan, tentunya siswa yang bersangkutan akan tetap diberikan sanksi sesuai aturan yang berlaku.
Setelah itu, wartawan keluar sekolah dan telah disepakati tidak ada kontak fisik dan wawancara dengan para siswa saat siswa pulang sekolah. Sangat disesalkan, ketika siswa keluar sekolah, salah seorang wartawan di luar berteriak “Kalau berani jangan keroyokan, tapi satu lawan satu”. Hal tersebut memancing emosi para siswa. Tidak hanya itu, salah seorang wartawan lalu naik ke atap Pos Satpam SMAN 6. Karena terpancing, maka terjadilah bentrokan.
Kami secara tegas membantah pernyataan yang menuliskan bahwa pihak sekolah (Kepala Sekolah dan para guru) tidak berbuat apa-apa. Seluruh guru, terutama guru laki-laki bersama pihak kepolisisan, serentak berusaha meredam kejadian ini. Bahkan dari pihak wartawan ada yang melempar mangkok soto yang masih ada sotonya, yang mengenai guru dan polisi. Tidak hanya itu, saat siswa akan pulang/mengambil motor yang diparkir di depan sekolah, dengan disaksikan oleh pihak kepolisian, tiba-tiba, seorang wartawan memukul wajah siswa dengan helm. Akibatnya siswa tersebut terluka cukup parah di bagian wajah, terutama mulut. Dalam insiden tersebut puluhan siswa mengalami luka-luka.
Kami juga sangat berkeberatan bila dikatakan siswa kami menghajar dengan menggunakan kayu, batu bata, bahkan senjata tajam. Hari itu, kami sedang melaksanakan Ulangan Awal Semester 1. para siswa tentunya sibuk belajar. Mereka hanya menggunakan apa yang ada dan itupun mereka lakukan sebagai perlawanan/ membela diri akibat para wartawan yang telah memprovokasi terlebih dahulu.
7. mediaindonesia.com
Kepala Sekolah SMAN 6 Lakukan Pembiaran
8. okezone.com
Siswa Bentrok dengan Wartawan, Kepsek SMAN 6 Cuek
Kami membantah dengan tegas pernyataan yang ada dalam berita-berita tersebut. Pihak sekolah, dalam hal ini Kepala Sekolah, mengutuk setiap perbuatan anarkis yang melangggar tata tertib sekolah. Jajaran Manajemen sekolah tidak pernah membiarkan, membenarkan adanya aksi kekerasan apapun yang melanggar aturan. Kami pendidik menjunjung tinggi kebenaran dan kejujuran. Di bawah payung hukum antara lain UU Sisdiknas No. 20/2003, Permendiknas No. 39/2008 dan Permendiknas Nomor 19/2007. Selama tiga tahun Saya menjabat Kepala Sekolah, sudah 31 siswa dikembalikan kepada orang tua mereka, sebagian besar karena melanggar tata tertib sekolah. Proses pengembalian siswa kepada orang tua tentunya sesuai dengan aturan tata tertib yang berlaku.
Tidak benar bila dikatakan bahwa Kepala Sekolah cuek dan seakan-akan melakukan pembiaran terhadap insiden tersebut. Kami, Manajemen Sekolah beserta guru dan karyawan, terjun langsung dalam menangani masalah ini. Bahkan guru-guru kami juga menjadi korban pelemparan mangkok soto oleh pihak wartawan.
Kelompok yang mengaku wartawan melakukan unjuk simpati, semacam demo ±50 orang, tanpa surat pemberitahuan ke pihak kepolisian. Hal tersebut tentu saja sudah menyalahi aturan yang berlaku. Tapi karena prinsip pelayanan masyarakat, Manajemen Sekolah menerima 6 perwakilan wartawan untuk bermufakat di ruang kepalas sekolah (wartawan lain berada di luar sekolah). Dalam pertemuan tersebut telah terjadi kesepakatan dan titik temu antara sekolah dengan wartawan Tans 7, Saudara Oktaviardi, yang disetujui oleh kapolsek kebayoran Baru, Kapolres Jakarta Selatan, dan instansi terkait. Lalu para wartawan keluar dari SMAN 6. Namun sangat disesalkan, saat siswa akan pulang sekolah dengan dikawal oleh beberapa polisi, terjadi peristiwa/insiden yang dipicu oleh pihak wartawan.
Tidak hanya wartawan yang terluka tapi puluhan siswa kami juga terluka (foto, bukti lengkap, laporan telah kami lakukan ke pihak kepolisian). Bentrokan tidak dapat terelakaan karena para wartawan telah memancing terlebih dahulu.
Seluruh kejadian/insiden tersebut disaksikan oleh banyak pihak, termasuk kepolisian. Kamera SMAN 6 pun merekam insiden tersebut.
9. REPUBLIKA.CO.ID
Pelajar SMA 6 Bawa Senjata Tajam untuk Bacok Wartawan
Kami sangat berkeberatan dan membantah keras dengan isi berita tersebut. Dalam kejadian insiden sama sekali tidak ada siswa SMAN 6 yang membawa apalagi mrnggunakan senjata tajam berupa parang dan golok yang tertulis dalam berita direncanakan untuk menyerang wartawan Jakarta selatan dan Mabes Polri yang berada di sekitar lokasi SMA 6. jelas itu suatu kebohongan besar. Justru ada guru dan polisi yang ikut menjadi korban terkena pelemparan mangkok soto oleh oknum wartawan. Foto yang ada dalam berita juga buka foto yang diambil saat insiden terjadi. Kami sendiri tidak mengetahui itu foto siswa mana. Yang jelas bukan siswa SMAN 6. Wartawan sangat sepihak dan tidak berdasar dalam menulis berita ini. Telah hilangkah kode etik jurnalistik wartawan?
10. REPUBLIKA.CO.ID
Inilah Kronologis Pengeroyokan Wartawan oleh Siswa SMA 6
Kami sangat keberatan dengan isi berita tersebut. Kamis, 15 september 2011 sampai insiden terjadi, para siswa sedang melaksanakan Ulangan Awal Semester 1. Bentrokan tidak dapat dielakan karena para siswa terpancing oleh provokasi yang terlebih dahulu dilakukan oleh kelompok yang mengaku wartawan. Kami menyebut demikian karena tidak ada satupun dari mereka yang hadir menunjukkan kartu identitas sebagai wartawan dan tidak menggunakan atribut khusus, kecuali Bapak Panca menggunakan kemeja abu-abu, berlogo merah hati MI Media Indonesia. Provokasi tidak datang dari siswa. Seharusnyalah para wartawan menjunjung tinggi kode etik profesionalitas mereka.
Dalam pertemuan pihak sekolah dengan wartawan Trans 7, Saudara Oktaviardi, disaksikan oleh beberapa wartawan, kapolsek kebayoran baru, dan Kapolres Jakarta Selatan (Senin, 19 September 2011, sekitar jam 09.30) telah ada kesepakatan/titik temu. Pihak sekolah tetap akan mencari pelaku pengambilan kaset wartawan tetapi tidak menjamin dapat menemukannya karena tidak ada identitas fisik yang . Jika ditemukan, tentunya siswa yang bersangkutan akan tetap diberikan sanksi sesuai aturan yang berlaku.
Setelah itu, wartawan keluar sekolah dan telah disepakati tidak ada kontak fisik dan wawancara dengan para siswa saat siswa pulang sekolah. Sangat disesalkan, ketika siswa keluar sekolah, salah seorang wartawan di luar berteriak “Kalau berani jangan keroyokan, tapi satu lawan satu”. Hal tersebut memancing emosi para siswa. Tidak hanya itu, salah seorang wartawan lalu naik ke atap Pos Satpam SMAN 6. Karena terpancing, maka terjadilah bentrokan.
Kami secara tegas membantah pernyataan yang menuliskan bahwa pihak sekolah (para guru) tidak berbuat apa-apa. Seluruh guru, terutama guru laki-laki bersama pihak kepolisisan, serentak berusaha meredam kejadian ini. Bahkan dari pihak wartawan ada yang melempar mangkok beling yang mengenai guru dan polisi.
Bahkan saat siswa akan pulang/mengambil motor yang diparkir di depan sekolah, dengan disaksikan oleh pihak kepolisian, tiba-tiba, seorang wartawan memukul wajah siswa dengan helm. Akibatnya siswa tersebut terluka cukup parah di bagian wajah, terutama mulut. Dalam insiden tersebut puluhan siswa mengalami luka-luka.
Pindaian surat pengaduan Kepala SMUN 6 Jakarta:
UPDATE:
Sudah terjadi kesepakatan antara SMUN 6 dengan wartawan. Bisa dilihat di:
http://www.detiknews.com/read/2011/09/23/193344/1729358/10/pihak-sman-6-jakarta-dan-wartawan-sepakat-berdamai
Saya kutip dari berita tersebut kesepakatannya:
1. Kedua pihak sepakat bersikap kooperatif mendukung kepolisian mengusut kejadian perampasan kaset milik wartawan Trans 7 yang terjadi hari Jumat 16 September 2011. Karena hal tersebut melanggar UU Pers No 40/1999 pasal 4 pasal 8 yang sanksinya diatur dalam pasal 18 (1).
2. Kedua pihak menyadari saling berkontribusi atas terjadinya kekerasan yang terjadi pada Senin 19 September 2011 dan sepakat menempuh perdamaian dan saling memaafkan. Kedua pihak sepakat tidak membawa kasus ini ke ranah hukum.
3. SMA 6 Jakarta berkomitmen menghargai kebebasan pers yang sesuai dengan undang-undang pers dan kode etik jurnalistik.
4. Pihak wartawan berkomitmen menghargai SMA 6 Jakarta sebagai badan publik yang melakukan tugas pendidikan.
5. Dewan pers menangani pengaduan SMA 6 Jakarta tentang pemberitaan pers terkait kekisruhan yang terjadi pada Senin 19 September 2011, yang dianggap tidak sesuai dengan kode etik jurnalistik.
Penandatanganan dilakukan hari ini, Jumat (23/9/2011), dan bertempat di Gedung Dewan Pers, Jl Kebon Sirih, Jakarta Pusat. Hadir oleh Kepala Sekolah SMA 6 Kadarwati, perwakilan siswa, kuasa hukum SMA 6 Jakarta Try Adhyaksa, serta anggota Komite Sekolah.
Sedangkan dari pihak wartawan antara lain hadir Ketua Pewarta Foto Indonesia (PFI) Jerry Adiguna, anggota Poros Wartawan Jakarta (PWJ), serta perwakilan Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia.
Meski sempat berbeda pendapat dalam penyusunan draf kesepakatan tersebut, namun suasana mediasi umumnya berlangsung cair. Tak jarang, gelak tawa terdengar dalam proses mediasi yang dimulai sejak pukul 13.30 WIB hingga pukul 18.00 WIB itu.
Posted by
kunderemp
at
8:00 AM
3
comments
Labels: fact check, hukum, marah

Ali ibn Thalib mengatakan lihatlah apa yang dikatakan jangan lihat siapa yang mengatakan.
Kali ini saya harus berbeda dengan beliau. (lagipula, blog ini punya kata 'cacian' di judulnya).
Sekedar catatan, buat yang mengenalku pasti tahu bahwa aku bukan penggemar film, bukan penggemar film Hollywood.
PRO PAJAK ROYALTI :
1. Deddy Mizwar:
orang s** s***, memanfaatkan kejeniusan Musfar Yasin, tetapi s***** ini membiarkan FFI 2010 menjadi ajang politik. S***** ini lupa bahwa FFI dibayar dengan PAJAK!
2. Rudy Sanyoto:
Gak kenal dia tetapi dari BP2N juga. Artinya dia termasuk s***** yang membiarkan FFI 2010 menjadi ajang politik. S***** ini juga lupa bahwa dia menyalahgunakan FFI yang dibayar dengan PAJAK!
KONTRA PAJAK ROYALTI:
1. Noorca Massardi:
Sebagai wakil dari 21 cineplex, kurasa semua penggemar film mengetahui masalah ini dari tulisan beliau yang emosional. Jujur saja, dia termasuk s****h yang meluluskan Ekskul di FFI 2006 jadi aku juga gak bisa mempercayainya.
2. Ananda Siregar:
Sebagai wakil dari Blitz Megaplex (baca Kompas tanggal 20 Februari lalu). Posisi dia membatalkan argumen tentang monopoli. Ini masalah yang dihadapi bersama oleh usaha bioskop. Ini kutipannya (catatan, dia salah menyebutnya sebagai bea masuk):
Pendiri dan konseptor Blitzmegaplex, Ananda Siregar, mengatakan jumlah film Hollywood yang diputar Blitz selama ini sekitar 80 hingga 90 judul per tahun atau sekitar dua pertiga dari semua judul film yang diputar Blitz. Selebihnya, jaringan bioskop ini memutar film nasional dan film-film asing non-Hollywood. "Jadi, dampaknya sangat negatif. Kalau berkelanjutan itu menyusahkan," ujar Ananda.
Dijelaskan Ananda, distributor film asing non-Hollywood sebenarnya bisa mengisi kekosongan film Hollywood di bioskop-bioskop Indonesia. Namun, ia khawatir distributor film asing lainnya juga akan berkeberatan karena ketentuan bea masuk ini berlaku bagi semua film impor.
Film nasional juga bisa didorong untuk mengisi layar Blitz. Namun langkah itu tidak bisa dalam jangka pendek. "Produksi film lokal memang bisa digenjot, tetapi prosesnya kan makan waktu. Kalau pasokan saat ini belum mencukupi, " ujarnya.
"Kemana pajak film selama ini? Seharusnya diwujudkan untuk film Indonesia"
"Siapa pun sadar, kualitas film Indonesia masih banyak yang di bawah standar. Karenanya masih sangat dibutuhkan film-film asing yg bermutu untuk ditonton dan dipelajari baik oleh pembuat maupun penonton film di Indonesia"
The culture of going to the cinema will fade as film lovers get used to watching pirated DVDs ... If the government wants to help to increase the number of Indonesian films and improve the quality of the local film industry, this is not the solution
Perlu diingat, industri film merupakan suatu kesatuan yang terdiri dari banyak partikel. Industri film adalah suatu sistem yang terdiri dari bukan hanya pembuat film, atau production house, tetapi juga termasuk di dalamnya semua perusahaan yang terlibat di berbagai bidang—teknologi, komersial film, distributor, dan eksibitor. Segenap partikel itu merupakan kesatuan dalam suatu habitat, yang saling membutuhkan satu sama lain, suatu simbiosis mutualisme.
Jika salah satu partikel terganggu, partikel lain akan terganggu pula. Pendek kata, jika film-film asing (baik Hollywood atau non-Hollywood) menghilang di layar eksibitor (bioskop-bioskop), maka penghasilan dari eksibitor akan terganggu. Jika eksibitor menghilang, lalu di mana filmmaker lokal dapat memutar film mereka?
Jadi, pertanyaan kita adalah: benarkah pengenaan pajak dan bea impor ini, yang berpotensi akan mengurangi bahkan menghilangkan film impor dari layar bioskop, akan meningkatkan jumlah film nasional?
Tujuan itu mungkin tercapai jika kita hanya bicara kuantitas film, bukan kualitasnya. Untuk memenuhi kuota, filmmaker dapat saja membuat film dengan cepat, dengan dana seadanya, diproduksi dalam satu minggu, yang akan siap tayang dalam tempo satu bulan, digandakan sebanyak mungkin, kemudian segera dilempar ke pasar.
Masalahnya, dengan kualitas yang rendah dan dibuat asal-asalan seperti itu, apakah masalah yang dihadapi film lokal saat ini akan terjawab? Apakah penonton mau mengeluarkan uang untuk menonton film kacangan? Tentu saja tidak. Jumlah penonton bioskop niscaya akan semakin turun. Kepercayaan masyarakat terhadap film nasional akan semakin sirna. Sebagai gambaran, di tahun 2010 saja jumlah penonton film nasional hanyalah sekitar 500 ribu orang saja—jumlah yang sangat sedikit.
YANG SERING BIKIN SALAH PAHAM
1. Ini kan karena monopoli jaringan 21
Nope.. yang protes juga dari Blitz Megaplex dan dari produser film Nasional.
2. Ini kan karena kapitalis Hollywood.
Nope.. seperti yang dibilang wakil dari Blitz, film asing non-Hollywood pun juga ragu-ragu.
3. Mereka gak bayar pajak dari tahun 1995
Nope.. Mereka sudah bayar pajak. Hanya saja, pihak pajak kali ini membuat tafsiran baru atas aturan perpajakan lama. Sebelumnya pihak pajak cuma menilai dari nilai material, alias tiap salinan. Kali ini, nilai hak cipta intelektual dihitung.
4. Trus apa sih masalahnya?
a. belum ada kejelasan perhitungan pajak hak cipta intelektual ini apalagi pajak ini dipungut SEBELUM FILMNYA DIEDARKAN DI INDONESIA. Apa mau berdasarkan penghasilan di negara asalnya? Padahal apa yang sukses di negara asal belum tentu sukses di Indonesia.
b. belum ada niat baik pemerintah untuk mendukung perfilman Indonesia. Uang pajak belum disalurkan dengan benar ke dunia film Indonesia.
Bacaan:
1. Kompas edisi Minggu tanggal 20 Februari 2011
2. http://www.tribunnews.com/2011/02/20/mira-hak-masyarakat-menonton-film-lokal-dan-asing
3. http://www.tempointeraktif.com/hg/film/2011/02/23/brk,20110223-315617,id.html
4. http://www.thejakartaglobe.com/home/a-preview-of-whats-to-come-under-the-imported-film-levy/423835
5. http://filmindonesia.or.id/post/bagaimana-sebaiknya-membantu-perfilman-indonesia
6. http://filmindonesia.or.id/post/noorca-massardi-film-nasional-mati-jika-bioskop-mati
7. http://filmindonesia.or.id/post/deddy-mizwar-rudy-sanyoto-meluruskan-masalah-film-impor
8. http://filmindonesia.or.id/post/saatnya-membenahi-urusan-film-impor-secara-menyeluruh
9. http://filmindonesia.or.id/post/pajak-film-hollywood-membantu-film-nasional
Posted by
kunderemp
at
5:30 AM
3
comments
Labels: marah
Saya bukan ahli hukum.
Tetapi coba lihat baik-baik UUD 1945, baik yang asli maupun versi amandemen.
Bandingkan pasal 28 dengan pasal 29.
Kebebasan berbicara memang dibatasi oleh Undang-Undang.
Kebebasan beragama tidak dibatasi.
ref: http://www.detiknews.com/read/2011/02/08/070702/1562189/10/hakim-konstitusi-kebebasan-berkeyakinan-dijamin-uud-1945-dengan-syarat
Bapak Ahli Hukum yang punya gelar hukum tetapi amnesia sejarah,
apakah pengikut Ahmadiyah pernah mengancam membunuh non-Ahmadiyah?
Apakah pengikut Ahmadiyah pernah membunuh non-Ahmadiyah?
Apakah pengikut Ahmadiyah pernah mengancam menggulingkan kekuasaan pemerintah?
Bagaimana anda bisa tega menyamakan Ahmadiyah dengan Gerakan Aceh Merdeka?
Anda juga lupa bahwa perdamaian Indonesia dengan GAM tidak terjadi dalam semalam. Kedua pihak sama-sama memiliki korban. Indonesia diberikan kesempatan untuk menunjukkan iktikad baik, masih merasa Aceh sebagai saudara ketika Tsunami terjadi. Barulah GAM Bersedia tanda tangan perjanjian.
http://www.detiknews.com/read/2011/02/08/080940/1562215/10/ahli-pidana-agar-kejadian-tak-terulang-kriminalkan-ahmadiyah
Dari zaman dulu, sebelum negara Indonesia belum ada, Ahmadiyah sudah dicap sesat oleh Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama. Tetapi Ahmadiyah gak diserang oleh dua organisasi Islam yang udah sepuh ini bahkan beberapa pesantren NU atau sekolah Muhammadiyah bisa berdampingan.
Kuncinya bukan pada Ahmadiyah sesat atau tidak.
Iya, saya sepakat Ahmadiyah menyimpang.
Namun, buat saya, memerangi mereka yang tidak terbukti memerangi umat Islam, juga menyimpang dari ajaran Islam.
Buat saya, mereka yang berbuat kerusakan di muka bumi, walau mengatakan 'mereka berbuat kebajikan' dengan membuat kerusakan itu, juga sesat dan bahkan wajib diperangi. Buat saya, mereka yang tidak mengindahkan tangis anak-anak dan wanita, sudah keluar dari Islam. Mereka orang-orang yang hatinya sudah ditutup, sudah sakit.
Lia Eden adalah kasus lain. Dia gak bisa disamakan dengan Ahmadiyah. Dia mengisolasi pengikutnya, melarang anak2 pengikutnya sekolah, dan membakar lidah salah satu pengikut anaknya.
Posted by
kunderemp
at
8:27 AM
1 comments
Labels: marah

Dan jangan sampai ada Prita-Prita lain!
1. Cabut segala ketentuan hukum pidana tentang pencemaran nama baik karena sering disalahgunakan untuk membungkam hak kemerdekaan mengeluarkan pendapat
2. Keluhan/curhat ibu Prita Mulyasari thd RS Omni tidak bisa dijerat dengan Pasal 27 ayat (3) UU ITE
3. Keluhan/curhat Ibu Prita Mulyasari dijamin oleh UU No 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen
4. RS Omni hendaknya memberikan HAK JAWAB, bukan melakukan tuntutan perdata dan pidana atas keluhan/curhat yg dimuat di suara pembaca dan di milis2
Posted by
kunderemp
at
6:14 AM
2
comments
Labels: marah
Pernah gak,
kau ingin bantu seseorang...
tetapi orang terdekat melarangmu..
dan tidak cuma itu, dia mencaci-caci orang yang ingin kamu bantu....
Wajar kah kalau aku marah?
Wajar kah kalau aku tidak akan minta maaf atas kemarahanku?
Posted by
kunderemp
at
2:46 AM
4
comments
Labels: marah
Dahulu, seorang kawan, sebut saja namanya Tyant, pernah mengritikku "tahu banyak hal tetapi tidak tahu apa-apa". Ia benar.
Kemarin, aku berdebat tentang kemungkinan film dengan efek spesial. Ada yang skeptis karena keterbatasan teknologi yang dimiliki Indonesia. Aku membantah dengan memberikan contoh-contoh film produksi Hollywood (dan yang diproduksi di Hollywood) tahun 1940-an yang menurutku tidak kalah bagus dibandingkan film-film produksi tahun 1990-an. Dan sehari kemudian aku dibantah:So yeah. Basically what I'm trying to say is... film-film yang Anda sebutkan emang bagus sekali, tapi walaupun punya keterbatasan teknologi, tapi nggak dibuat dengan biaya murah (well Citizen Kane is relatively cheap to the others in comparison, but the talent behind them is so enormous).
Dan karena aku sempat menyebut Star Wars 1977, sebagai film yang efek spesialnya mungkin ditertawakan generasi sekarang tetapi memulai revolusi efek spesial, ia membantah lagi.
So... hmmm... I think... forget about the special effects for now. As long as you have a good story, you can make a good movie. Kalo situasi kondisi penontonnya udah mendukung untuk pembuat film membuat film-film spesial efek (ga mungkin kan mereka bikin sesuatu yang punya resiko tinggi untuk nggak balik modal), produser pasti nggak akan melewatkan kesempatan itu.
Just as comparison...
budget Wizard of Oz sekitar 2.7 juta dolar
budget Citizen Kane sekitar 700 ribu dolar
budget rata-rata untuk satu episode Fleischer's Superman sekitar 30-50 ribu dolar (but keep in mind that these are 10 minutes shorts each)
How these compare to today's dollar... hmmm gue juga ga begitu yakin. Cara gampangnya sih dikalikan 8 (estimasi aja), tapi itu kalo kita menghitung berdasarkan inflasi, sedangkan harga tiket bioskop di Amerika rata-rata udah berubah dari kurang dari satu dolar (I think they go around 20-50 cents back in the day), jadi 10 dolar lebih sekarang. So... yeah. Not an easy calculation... but you get the idea. Making that kind of movie is expensive. ;)
And oh. As far as Star Wars goes... none of their blue screen special
effect would happen without the VistaVision camera and optical
printer.
Guess what? We don't have any of those kind of technology even now.
Posted by
kunderemp
at
10:14 AM
2
comments
Labels: marah
Karena begitu mudah terusik.
Bagaimana mungkin memparodikan sesuatu yang tak pernah ada gambarnya?
Aku lihat 12 kartun yang katanya 'Nabi Muhammad' yang dahulu muncul di koran Denmark dan...
apakah aku melihat Rasulullah di situ? Tidak!
Apakah aku melihat parodi Rasulullah di situ? Tidak!
Aku melihat stereotype Arab~!
dan aku melihat kebodohan para kartunisnya yang dengan enteng menggambar khayalan mereka lalu mengatakan "ini kartun Muhammad".
Lihatlah.. tidak ada kekompakan di antara kartun-kartunnya. Ada yang gemuk, ada yang kurus. Bentuk janggut pun berbeda-beda.
Karena memang tidak pernah ada gambarnya.
Saya lebih marah melihat anak-anak kecil dipaksa oleh orang-orang dewasa untuk mengamen dan mengemis di perempatan jalan-jalan Jakarta daripada melihat orang bodoh membuat kartun sambil mabuk. Saya lebih muak melihat khatib pemuja Arab menutup matanya dan membela kezaliman di khutbah Jumat daripada melihat provokasi oleh sketsa-sketsa khayalan tak berdasar.
Sadar atau tidak sih,
dengan mengatakan kartun-kartun tersebut sebagai 'kartun Muhammad', artinya sudah mengatakan bahwa gambar-gambar tersebut adalah 'Muhammad' atau setidaknya sangat mirip dengan 'Muhammad'. Dengan mencak-mencak dan marah-marah, artinya sudah mengakui 'menyembah Muhammad'.
Rasulullah menahan hinaan bertahun-tahun di Mekkah. Ia bahkan rela meninggalkan gelarnya, menggunakan namanya "Muhammad ibn Abdullah" untuk perjanjian Hudaibiyah. Dan kalian yang mengaku 'cinta Muhammad' bukannya mengikuti perilaku beliau malah bersikap seperti orang kafir, menuruti hawa nafsu kalian?
Hamzah menusukkan panahnya ke hidung Abu Jahal ketika Muhammad dianiaya di Mekkah. Mu'minin pertama marah ketika isu bahwa saudara mereka, Usman ibn Affan dianiaya ketika menjadi utusan ke Mekkah. Salah satu Muslim mengancam Umar ibn Khattab di penobatannya sebagai khalifah bahwa ia tidak akan segan-segan menggunakan pedangnya untuk meluruskan bila beliau zalim.
Apa yang kulihat sekarang? Anak-anak muslim dipaksa mengemis di perempatan jalan. Dua tahun lalu, saudara-saudara kita yang muslim dianiaya hingga kelaparan saat haji dan setahun kemudian, seorang khatib pemuja Arab membela kezaliman tersebut, menghina dan mengutuk saudara-saudara muslim kita sebagai haji gagal, yang tidak mabrur karena mereka menjerit kelaparan. Dan tidak ada satupun berdiri membungkam khatib zalim tersebut!!
Dan kalian baru bangkit marah ketika orang-orang bodoh mencoba memprovokasi kalian?
Lalu untuk apa puasa-puasa kalian yang kalian lakukan setahun sekali itu? Untuk melegitimasi kezaliman kalian dengan menakut-nakuti mereka yang tidak berpuasa dengan mengancam menutup warung?
Lalu untuk apa puasa-puasa senin-kamis yang kalian lakukan setiap minggu itu?
Lalu untuk apa sholat lima waktu yang kalian lakukan tiap hari itu? Untuk menjadikan pembenaran tindakan kalian mengancam mereka yang berbeda pandangan kalian, entah itu Syiah, entah itu Ahmadiyah?
Lalu untuk apa pengajian yang kalian selenggarakan setiap habis Maghrib itu? Untuk dijadikan alasan menebas leher-leher siswi-siswi SMP yang berbeda agama dengan kalian?
Posted by
kunderemp
at
9:33 AM
0
comments
UPDATE:
Karena banyak yang bertanya2. Kujelaskan bahwa kasus ini tidak ada hubungannya dengan saya atau keluarga saya. Ini menimpa sahabat saya dan tulisan saya di sini merupakan simpati.
Tulisan ini merupakan lanjutan dari "ikut campur saya" di
http://cacianqalbukunderemp.blogspot.com/2008/09/kunderemp-jangan-ikut-campur-urusan.html
Saya tidak akan menggunakan account orang tersebut.
Saya tidak akan bersembunyi dalam anonimitas.
Dan tentu saja,
saya siap dipidana dengan pasal penghinaan dan pencemaran nama baik.
Siapapun anda,
anda adalah pengecut.
Saya tak bisa mempercayai kata-kata anda.
PS:
Dalam hukum AlQuran
barang siapa yang menuduh seorang wanita berbuat zina
tanpa mampu mengajukan 4 saksi
maka orang tersebut layak mendapatkan hukuman.
Tidak membuktikan = tidak layak berbicara!
Posted by
kunderemp
at
10:56 AM
0
comments
Labels: marah
Empat tahun lalu, kamu ikut campur urusan pasangan lain.
Hasilnya, mereka putus. Memang bukan salahmu, tetapi kau selalu muncul pada saat yang tidak tepat.
Dua tahun lalu, kamu ikut campur urusan pasangan lain.
Untunglah mereka berhasil baikan kembali setelah kamu memutuskan untuk tidak ikut campur urusan mereka..
Sekarang?
Kau ikut campur lagi..
ARE YOU NUTS?!
What the hell was in your mind, Narpati?
Stop it and mind your own business, Narpati!
Posted by
kunderemp
at
9:47 PM
0
comments
Labels: marah
before:
http://cacianqalbukunderemp.blogspot.com/2008/09/i-miss-deadlines.html
and now, I've just realized I missed another deadline.
C'mon..
think the alternatives! Think the alternatives!
Posted by
kunderemp
at
9:55 AM
0
comments
Labels: marah
Tebakanku sih manusia...
menyerang AK yang menggunakan phpbb...
tetapi kulihat, kayaknya dia juga nyerang forum lain dengan basis lain seperti moodle.
http://gsyc.escet.urjc.es/moodle/user/view.php?id=3984&course=1
http://www.wellnessvisions.com/user/view.php?id=1048&course=1
Sedang kerepotan terhadap serangan dengan modus serupa neh.
Gak spam sih.. biasanya cuma satu forum yang dia buat thread baru dan setelah itu gak pernah online lagi jadi langsung bisa di-ban oleh moderator.
Oh yah.. jangan klik gambarnya...
nanti dipaksa buat download file .exe (dan 68% kemungkinan adalah virus atau trojan)
UPDATE
Fakultas Ekonomi Universitas Brawijaya menjadi korban
http://elearning.fe.unibraw.ac.id/user/view.php?id=2748&course=1
Posted by
kunderemp
at
12:22 AM
0
comments
Labels: marah
Titik...
Pusing..
dari pukul 17.35 tadi saat pulang kantor
udah mau pingsan
berusaha menjaga kesadaran
ingat ada sms
dari kemarin pilek2 parah
hari ini mulai tambah pusing..
Ah..
siapa perduli..
Intinya gue salah
Titik..
kalau pakai bahasa telegram
ttkhbs
Posted by
kunderemp
at
11:53 PM
1 comments
Labels: marah
Marah sih marah!
Tapi ngapain sih pakai unjuk kekuatan merusak speedometer?
Mikir atau kagak sih, nanti kalau hujan gimana?
Kalau lo benar-benar marah, mending dari hari ini, lo kagak usah makan sama sekali. Mogok makan! Manfaatkan waktu makan siangmu buat kerja!
Posted by
kunderemp
at
7:23 AM
1 comments
Labels: instropeksi diri, marah