Wednesday, September 17, 2008

Astaghfirullah.... Riya!

Beginilah kalau namanya 'Riya'!
Bukankah sudah diingatkan berkali-kali bahwa tidak boleh ada 'riya' dalam ibadah?

Saya jadi ingat sebuah cerpen mengenai seorang dermawan yang menginginan membangun masjid sendirian. Beberapa orang dari Pemerintah dan LSM datang menawarkan bantuan tetapi ia selalu menolak dan menginginkan membangunnya sendiri. Semua terpesona dengan argumen-argumennya. Televisi-televisi, koran-koran, radio-radio terus-terusan menceritakan kedermawanan si tokoh utama. Tapi di akhir cerita nan pendek tersebut, anaknya yang datang dari luar kota mengritik sang ayah dengan keras, "AYAH TELAH BERBUAT  RIYA!" dan meninggalkan tokoh utama yang terdiam.

Apakah Indonesia telah menjadi negara riya?

Lihatlah kisah Supertoy dan Blue Energy. Dengan bangga presiden kita memamerkan, mempromosikan produk dari orang terdekatnya. Dan kita tahu apa yang terjadi setelah itu.

Padahal, seandainya tidak ada kesombongan di hati presiden kita, seandainya presiden kita dengan rendah hati dan menyadari posisinya, dan tidak pandang bulu bahwa produk-produk tersebut adalah milik orang terdekatnya, niscaya presiden kita akan bisa mengatakan, "saya tertarik, tetapi silakan uji melalui lembaga-lembaga seperti LIPI, ristek, departemen pertanian, dsb". Tentu saja, presiden juga harus bisa rendah hati bila lembaga-lembaga tersebut menyatakan bahwa produk-produk tersebut tidak layak untuk dijual.



Sekarang lihat apa yang terjadi di Pasuruan?
Mahasuci Tuhan dari apa yang didustakan oleh manusia-manusia.

Riya lah yang menyebabkan 'dermawan' tidak mau beramal melalui lembaga-lembaga  yang sudah ada, tidak rela namanya hanya menjadi sekedar salah satu nama di antara ribuan donatur yang tercantum di buku tamu. Riya lah yang menyebabkan 'dermawan' mengundang orang-orang yang akan diberi zakat, bukannya mendatangi mereka diam-diam satu per satu.


PS:
1. Riya = beramal agar dilihat banyak orang.

2. Zakat bukanlah sedekah atau infak. Pemberian dengan cara tersebut jelas sudah mencederai makna zakat.

3 comments:

jefri said...

Astagfirullah.... sudzon

Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka! Karena sebagian dari prasangka itu adalah dosa. (Al-Hujurat: 12)

Kunderemp said...

Kalau ada orang memegang senjata, meminta duit dari kasir, kalau kita katakan dia rampok, maka itu namanya bukan su'udzon karena begitulah kenyataannya.

Begitu pula kelakuan uwak haji. Kalau dia masih sekedar tidak menggunakan sarana yang ada, kita masih bisa berprasangka baik bahwa beliau susah percaya pada institusi yang ada.

Tapi kalau kemudian ternyata caranya mengundang orang-orang miskin ke rumahnya,maka jelaslah riya perbuatannya dan layak dicela.

Perbuatan tersebut harus dicela agar tidak diikuti oleh yang lain.

embuhh said...

he he he... (melihat comment 1 dan 2)
sebenarnya banyak sisi yg harus dianalisis lebih lanjut mengapa begini mengapa begitu...
agar lebih berimbang...
saya setuju yg kunderemp sampaikan.. tp itu salah satu faktor aja..