Thursday, July 09, 2009

Analisis Awal Tentang Film Trilogi "Merah-Putih"

Awalnya Hasyim memiliki gagasan untuk memproduksi film dengan alasan karena dua pamannya yang bertugas sebagai anggota Tentara Nasional Indonesia (TNI), Lettu RM Subianto Djojohadikusumo dan Kadet RM Sujono Djojohadikusumo gugur di medan perang Lengkong, Bandung, Jawa Barat, pada tahun 1946.

"Dua paman kami yang gugur di medan perang menjadi sumber inspirasi untuk membuat film layar lebar bergenre perang tentang perjuangan kemerdekaan Indonesia," kata Hasyim di Jakarta, Senin.


Berarti dari sudut pandang tentara. Sayang sekali karena sebenarnya sudah cukup banyak film-film seperti itu. Bukankah ayah mereka adalah salah satu yang menjadi wakil Indonesia dalam perjuangan diplomasi di Konferensi Meja Bundar di Den Haag? Tetapi dari sudut pandang tentara sebenarnya bisa menarik. Aku cukup menikmati Soerabaia '45.

Hasyim yang berperan sebagai produser eksekutif memercayakan Conor Allyn, Rob Allyn, dan Jeremy Stewart sebagai ahli perfilman dunia untuk mengubah ide tersebut menjadi naskah dan skenario sebuah film yang berkualitas.


Tidak pernah mendengar. Ada yang tahu?

Sedangkan posisi sutradara dipercayakan kepada Yadi Sugandi yang sebelumnya menangani penata gambar dan pembuatan salah terbaik film terbaik di Indonesia, yakni Laskar Pelangi, dibantu Sastha Sunu sebagai penyunting gambar dan Iri Supit (pengatur artistik dan desain produksi).


Berarti dari segi gambar wajib bagus yah neh walau Bang Yadi sebagai sutradara, bukan penata gambar.

Sementara itu, Sutradara Yadi Sugandi mengatakan, produksi film tentang perjuangan rakyat Indonesia masa 1945 hingga 1948 itu membutuhkan peralatan seperti kamera hingga mencapai tujuh unit, jumlah personel sebanyak 300 orang, dan fasilitas pendukung lainnya yang canggih dengan trik adegan yang sangat membahayakan, contohnya ledakan bom berbahan asli standar TNI.

Kalau masanya dari 1945 -1948, beranikah mereka menyebut tentang ReRa? Karena ReRa adalah salah satu kebijakan kabinet Hatta yang kontroversial dan memicu PKI Muso serta Kahar Muzakkar (koreksi bila aku salah).

Soal adegan ledakan pun, sebenarnya tak harus berbahan asli standar TNI tetapi asalkan bisa mengecoh penonton, maka itu sudah cukup. Tetapi kurasa cukup untuk bahan promosi yang bagus.

Pada 1947, Amir yang diperankan Lukman Sardi adalah seorang pemeluk Islam asal Jawa Tengah yang memiliki kepribadian halus karena berlatar belakang sebagai guru, sedangkan Thomas (Doni Alamsyah) yang berasal Manado, seorang penganut Kristen dari anak seorang kuli peternak ayam, memiliki watak emosional dan pembalas dendam karena punya pengalaman buruk tentang keluarganya yang dibunuh di Sulawesi.

Sementara itu, Dayan (Darius Sinathrya) merupakan seorang pemeluk Hindu asal Bali, yang tangkas menggunakan pisau, tetapi tidak bisa membagi rahasia hidupnya. Serta Marinus (T Rifnu Wikana) digambarkan sebagai anak yang pengecut dan bersahabat dengan Soerono (Astri Nurdin) sebagai orang terkenal dari kalangan keluarga yang kaya

Koreksi bila aku salah, seingatku, para pejuang dari Bali cukup kesulitan karena tekanan dari raja-raja di pulaunya sendiri. Memangnya sempat ada pejuang Bali yang sampai ke tanah Jawa? Kecuali orang Bali ini bekas tentara KNIL yang beralih kesetiaan mendukung Republik saat Jepang datang seperti TB Simatupang atau AH Nasution


Agresi militer Belanda cukup keras, bahkan pasukan yang dipimpin Jenderal Van Mook (Rudi Wowor) tersebut tidak segan membunuh warga pribumi yang tidak berdosa.

Setahuku, Hubertus Johannes Van Mook itu gemuk, tidak kurus. Kecuali Rudi Wowor bersedia menggemukkan dirinya, rasanya aneh membayangkan seorang yang kurus seperti beliau memerankan Van Mook. Memang sih, sebenarnya postur tubuh tidak wajib sama, seperti John Nash yang kurus diperankan oleh Russel Crowe yang gemuk. Tetapi buat yang kadang2 lihat foto2 dokumentasi zaman dulu, rasanya aneh saja.



Kesimpulannya?
Saya tidak tahu.
Tetapi jujur saja, saya melihat potensi film ini untuk sekedar menjadi propaganda belaka.

Kecuali mereka berani memasukkan ReRa, penculikan Sutan Sjahrir, penahanan Tan Malaka, dan kisah-kisah pasukan liar lainnya, maka film ini mungkin sekedar.. yah.. seperti film-filmnya Michael Bay.

Untuk sementara, buat saya, Soerabaia '45 adalah film terbaik tentang perang kemerdekaan yang dibuat oleh oang Indonesia karena berani menampilkan konflik-konflik dan kengawuran antar pejuangnya sendiri.


Terlalu dini untuk menilai sekarang. Saya tetap menunggu.




Merdeka!

Kunderemp Ratnawati Hardjito a.k.a
Narpati Wisjnu Ari Pradana

2 comments:

irvan said...

Aku sepakat banget bung.

1. Ini film serasa janur kuning dll semoga aku salah. walau aku tidak menutup bahwa ini salah satu kebangkitan film indonesia setelah kita di suguhi paha dan dada akhir2 ini

3. bukan hanya perawakan van mook yang merasa mengganjal, Van mook itu bukan jendaral perang tapi gubernur jendaral dan dia ga ikut perang. panglima perangnya belanda itu Jendral Spoor yang emang doyan perang. coba baca cerita George Kahin tang ketemu anaknya Van mook di kapal menuju indonesia, van mook ga setuju agresi satu yang di angkat di sini tapi tertekan sama Spoor yang emang soldados murni.

2. Memang akan lebih menarik untuk mengangkat Rera dll. apa lagi ada cerita anak2 pesindo ga pernah sampai di front terdepan mereka turun di mojokerto dan balik ke kampung masing2. apa lagi kalo ngangkat cerita diplomasi renvile, lingga jati sampe KMB di balut dengan penangkapan syahrir oleg persatuan perjuangan, counter tenahanan tan malaka oleh pemerintah sampe pembunuhan tan malaka di selo panggung di garap dengan setting spionase wah bakal seru sekali itu.

Namun saya sangat2 menunggu film ini...

Merdeka!!!!

kunderemp said...

Yup.. saya tetap akan menonton.