Tuesday, April 27, 2010

Baru Ngerti Leluconnya Gus Dur

Sekarang aku baru mengerti salah satu leluconnya Gus Dur.
http://www.politikana.com/baca/2010/04/26/polisi-kita.html

Kuliah lagi atau OCW?

Mendingan nabung buat kuliah lagi atau cukup kah mencari-cari bahan dari OCW (Open CourseWare) dari universitas2 ?

Salut

Salut buat murid2 SMUN 3 Yogya yang 'berbeda' dalam merayakan kelulusannya.

http://cetak.kompas.com/read/xml/2010/04/27/04565345/hasil.un.mengejutkan

Friday, April 23, 2010

Para Wartawan, Tolong Jangan Ganggu Anang

Gak usah usik-usik soal KD ke dia..
Kasihanilah dia..

Yang ada, kalian hanya membuat ia susah sembuh dari penderitaannya
dan malah menghalangi dia mencari kehidupan yang lain.

Tanyakan soal yang lain kek..
kayak apa yang dia lakukan sekarang.. apa masih mengarang lagu atau tidak dan semacamnya.

Wednesday, April 21, 2010

Selamat ulang tahun cinta pertamaku...

Nyokap dan Ani dilarang komentar.. namanya termasuk salah satu passwordku soalnya. Bahaya kalau terungkap.

Ngoding pake bahasa apaan yah gue?

Harusnya sih C#..
kenyataannya mainan Javascript yang.. mencakup E4X.
Dan berhubung javascript-nya bisa pakai class java.. jadilah ngoding Java di dalam JavaScript untuk nyambung ke aplikasi C#.

Bingung, kan?

Monday, April 19, 2010

Merantau won Best Film in Action Fest?

Rumours said, Merantau had won the Best Film in ActionFest 2010. The festival itself was held from 15th to 18th April 2010 in Asheville, North Carolina. The other nomination was Ong Bak 2, Raging Phoenix, and 14 Blades.


UPDATE:
Yes, it did.
You can read the news here:
http://twitchfilm.net/news/2010/04/undisputed-3-14-blades-and-merantau-win-at-action-fest-2010-chuck-norris-declines-lifetime-acheiveme.php

Menebus Impian - Zenith untuk Acha, Nadir untuk Hanung

Majikan: MLM?
Nur: Bukan, Pak. Personal Franchise.
Majikan: Ya itu namanya MLM! Lagian kamu kok ngajari aku bisnis.


Judul film ini adalah 'Menebus Impian', bukan 'Menembus Impian'. Menurut salah satu kamus gadang negeri ini, pengertian 'menebus' adalah: 1. membayar dengan uang untuk mengambil kembali barang yang tergadai; 2. membayar dengan uang untuk membebaskan. Dengan kata lain, judul film ini mengisyaratkan ada harga yang harus dibayar untuk mendapatkan impian.

Di atas kertas, film ini seharusnya bisa kuat. Film ini disutradarai oleh Hanung Bramantyo (Catatan Akhir Sekolah, Jomblo, GetMarried), ditulis oleh Titien Wattimena (Mengejar i) dan mengambil topik yang jarang disentuh, yakni MLM. Seingatku, hanya dua film sebelum ini yang menyinggung tentang MLM, yakni Garuda di Dadaku dan Arisan (versi sinetron) tetapi baru film ini yang tokoh utamanya adalah penjaja MLM.

Rasanya, tak perlulah membahas nilai plus dari film ini karena menurutku sudah sewajarnya. Misalnya, suasana gang yang ramai adalah hal yang sudah diharapkan dari seorang Hanung (semenjak Catatan Akhir Sekolah). Wajar juga bila ada jeda jawaban di adegan awal film ketika sang ibu bertanya apakah putrinya sudah membayar uang kuliah, tanda ada yang disembunyikan oleh sang putri. Wajar juga bila kamar rumah sakit yang menampung sang ibu saat jatuh sakit tampak kurang privasi dengan tabung oksigen kumuh. Wajar juga bila komputer milik salah satu tokoh ditampilkan dengan model destop (bukan tower), monitor VGA, dan printer dot matrix. Walaupun semua itu adalah nilai plus tetapi itu sudah kewajiban buat seorang Hanung. Saya justru akan heran kalau tokohnya putih bersih, komputer kawan yang ia pakai adalah macbook terbaru dengan printer laserjet dan ketika sang ibu sakit, beliau ditempatkan di kamar khusus yang bersih dan berpendingin ruangan, atau tokoh-tokohnya seperti terburu-buru mengucapkan dialognya seperti di sinetron-sinetron.

Sebaliknya, beberapa klise justru tampak mengganggu. Misalnya, Hanung tampaknya masih mendendam dengan Jakarta. Benar, Hanung benci Jakarta. Awalnya ia 'menyindir-nyindir' di Brownies. Sementara di 'Kamulah Satu-Satunya' ia memberi kesan Jakarta nan gersang dan rawan dan orang-orangnya mudah panas. Di film ini, dua kali adegan pengeroyokan tampil. Adegan pertama rasanya sekedar menjadi alat penunjang plot (plot device) sementara adegan yang kedua malah banal.

Kejadulan lainnya adalah begitu banyaknya adegan hujan di film ini. Adegan berlatar belakang hujan pun juga sudah terlalu umum di film-film. Sang DOP, Faozan Rizal bahkan lebih klise lagi, ketika mengambil sudut pandang di mana gelas sangat menonjol, karakter perempuan tampak sedang duduk tersedu-sedu, sementara karakter pria melangkah menuju gelas tersebut sehingga hanya tampak lengan dan badannya. Benar, sudut pandang seperti itu biasanya mengisyarakatkan tokoh pria yang sudah punya pikiran buruk pada sang wanita.

Namun klise tadi bukan kelemahan utama film ini. Kelemahan film ini adalah kegagalan Bang Hanung dan mBak Titien untuk mengeksplorasi MLM. Mereka hanya berani bermain aman dan terjebak pada stereotype MLM. Kabar buruknya, film ini justru menampilkan apa yang justru membuat para anti-MLM alergi. Alhasil perjuangan tokoh utama pun susah mendapatkan simpati dari penonton awam.

Apa sih yang sebenarnya membuat orang enggan dengan MLM? Karena tidak yakin dengan cara kerja MLM itu sendiri. Memfokuskan pada penambahan downline, mencari anggota sebanyak-banyaknya.

Benar, film ini juga sempat menyinggung tentang Money Game, penipuan berbasis MLM tetapi film ini hanya mengelak dengan tokoh utamanya mengatakan, 'kalau gak ada produknya, itu pasti penipuan'. Masalahnya, Neng Acha.. Di film ini, walaupun sosok perusahaan 'Grand Vision' diperlihatkan memiliki produk, tak ada satupun adegan menjual produk. Usaha tokoh utamanya hanyalah mencari anggota, merekrut atau bahasa di film ini, 'memprospek' tanpa ada satupun adegan penjualan. Penghasilan yang didapat oleh tokoh utamanya pun hanyalah bonus dari Grand Vision, bukan dari penjualan. Lalu apa bedanya Grand Vision dengan MLM tanpa produk?

Alhasil, biarpun tokoh utamanya dapat mobil sekalipun bahkan impian masa kanak-kanak sang ibu juga tercapai di akhir cerita, niscaya penonton tak tergugah, apalagi untuk bersimpati pada agen MLM di dunia nyata. Kata-kata mutiara berhamburan tetapi menjadi mirip jargon-jargon dan propaganda-propaganda MLM. Maaf, mBak Titien dan Bang Hanung.. kalian gagal menggugah melalui film ini.

Buatku pribadi, yang menarik dari film ini justru bukan perjuangan tokohnya dalam dunia MLM tetapi justru dalam dunia sampingannya selama beberapa hari, kehidupan malam. Benar, menurutku, masih jarang film Indonesia yang menampilkan sosok pekerja keras di dunia malam seperti itu, sosok yang tidak menjual tubuhnya tetapi justru harus membersihkan meja-meja, mengepel lantai. Mungkin menarik kalau kelak ada film yang benar-benar mengeksplorasi dunia ini, bukan hanya sisi superfisialnya tetapi justru memperlihatkan kisah tukang pukulnya, tukang bersih-bersihnya, tukang parkirnya dan kemudian pekerjaan mereka dibenturkan dengan pihak-pihak lain dari polisi sampai sosok-sosok berjubah putih. Okeh.. aku menyimpang jauh di sini.

Kembali ke topik,
kawanku, mantan aktivis teater kampus di kota kecil di Jawa Timur, pernah berteori, "Hanung bukan tipe sutradara yang bisa memaksa aktor bermain melewati batas kemampuannya. Ia memilih aktor sesuai perawakan dan sifat asli si aktor". Kawanku mungkin benar, terutama melihat Fedi di film ini. Namun, Acha Septriasa mungkin bisa jadi antitesis dari pernyataan kawanku. Aku berani bersumpah, sepanjang film ini aku berkali-kali ragu apakah benar Acha yang bermain film ini. Acha seakan-akan menjelma menjadi sosok seperti... Nirina Zubir. Acha di sini bukan Acha di film "Love" apalagi di film "Love is Cinta" (apalagi film "Heart"). Jujur, aku berharap aku bisa melihat lagi sosok Acha yang lain di masa mendatang.

Bang Hanung, anda sedang tidak bikin film propaganda, kan?
Karena jujur saja, menurutku, ini titik terendah dari jejak karya anda ( walau kuakui, aku belum nonton Lentera Merah dan Sundel Bolong ). Sayang sekali, neng Acha yang sudah berusaha mengubah citra di sini jadi sia-sia.

Friday, April 16, 2010

Kutipan iklan "Alangkah Lucunya (Negeri Ini)"

"Itu hasil pendidikan. Kalau lu gak berpendidikan, lu gak akan tahu kalau pendidikan itu gak penting. Makanya itu pendidikan penting."

"Kalau mau cepat kaya, lu pelihara cicak, buaya, ama gurita!"

Abang: Orang yang berpendidikan yang mencopet itu tidak disebut pencopet tetapi koruptor
Bocah: Iyah, Bang! Kita pengen jadi koruptor! Hidup koruptor!!
Bocah2 lain: HIDUP!!!


Jarot: Koruptor korupsi duitnya banyak, tetap! Kenapa? Karena mereka sekolah! Lu kan gak sekolah.

Abang: Itu gedung DPR tempat wakil rakyat
Bocah: Wakil copet, ada gak, Bang?

Thursday, April 15, 2010

Film Indonesia tahun 2010 yang akan kuusahakan kutonton

Menebus Impian
Alasan:
1. Hanung sebagai sutradara;
2. si caem Acha sebagai aktris;
3. sohib SMU gue sebagai aktornya;
4. Titien Wamena (penulis "Mengejar Matahari") sebagai penulis skenario;
5. tema MLM, profesi yang sering di-misuh-misuhi.

Alangkah Lucunya (Negeri Ini)
Alasan:
1. Dedy Mizwar sebagai sutradara;
2. penulis favoritku, Musfar Yasin, sebagai penulis skenario;

Demi Dewi
Alasan:
1. Wulan Guritno yang hamil 4 bulan ditendang di sini
2. Wulan Guritno (atau minimal stuntman-nya) terjun di sini
3. Wulan Guritno memecahkan kaca di sini..


dan untuk nonton film Indonesia, gw mesti pergi ke kota tetangga (baca: Denpasar)

hiks hiks hiks

Tuesday, April 13, 2010

Gula

Wanita: Kenapa gulanya mesti sedikit?
Pria: Karena mantan istriku pernah bilang kalau batuk jangan terlalu banyak minum gula.
Wanita: Tapi kau tak mendengar kata-kataku.
Pria: ........



Pesan moral: Jangan sekali-kali menyebut mantan istri atau namanya di depan wanita lain.

Daftar Film Indonesia yang Pengen Ditonton

Film Lama:
1. Kereta Api Terakhir
2. Semua film-film Nja Abas Akub
3. Semua film-film Usman Ismail
4. Loetoeng Kasaroeng (film cerita pertama di Indonesia)


Film Baru:
1. Film tentang Wulan Guritno yang hamil 4 bulan terjun dari lantai dua (atau lantai tiga?) dan ditendang ama cowok (si Volland kah yang nendang?)

2. Film tentang si caem Acha yang ikut jualan produk MLM.

Thursday, April 01, 2010

Nyaris Tertipu Satu April

http://dailysocial.net/2010/04/01/facebook-akan-buka-kantor-di-indonesia/

Udah mau meneruskan ke kawan yang lagi ngoprek API-nya fesbuk, sudah nyaris tekan tombol "send".. Wait..

Sekarang satu april, kan?

Wakakakakakak