Monday, December 24, 2007

Kita memang berbeda tetapi...

Aku tidak percaya juru selamat yang menebus dosa
tetapi aku percaya satu orang bisa mengubah sekelompok kecil orang
sekelompok kecil orang bisa mengubah kelompok yang lebih besar
dan akhirnya bisa mengubah peradaban

Aku tidak percaya berikan pipi kiri bila pipi kanan ditampar
tetapi aku percaya, kasih sayang kepada setiap mahluk
adalah prasyarat untuk berbuat adil termasuk untuk lawan

Pengikut-pengikut Ieosus mungkin tidak segarang kaum zealot Yahudi
apalagi dibandingkan Sicarii,
tetapi tekad mereka terbukti tidak kalah kuat
mampu bertahan selama tiga abad lebih di bawah penindasan Romawi

Dimasa ketidakacuhan masyarakat Eropa akan budaya tulis menulis
Dibawah Gereja Katolik, para pendeta mengawetkan Bahasa Latin
Bahasa yang kelak hingga masa Renaissance merupakan bahasa formal untuk sains
Bahasa di mana PhilosophiƦ Naturalis Principia Mathematica dituliskan
dan sungguh, itu merupakan kerja keras,
mengingat tidak ada mesin cetak dan tidak ada kegairahan akan ilmu dari penguasa.

Ketika Eropa tertinggal zaman karena bersikukuh pada angka Romawi kuno
menolak inovasi angka nol karena takhyul tidak berdasar,
seorang Paus, Gerbert d'Aurillac (aku tidak bisa menerjemahkan nama kepausannya, jadi aku menggunakan nama aslinya), dengan berani memperkenalkan angka nol
dengan resiko dicap sebagai penyihir
(namun kelak membuka jalan untuk Fibonacci memperkenalkan sistem angka India/Arab lebih lanjut)

rekan-rekan sejawat mereka di Timur Tengah (terutama dinasti Abbasiyah) lebih beruntung
karena memiliki penguasa yang masih perduli akan ilmu.

Ketika institusi gereja menjadi sedemikian korup,
adalah seorang rahib, Martin Luther, dari Jerman yang pertama kali mengritik
Para rahib juga masih menoreh sejarah dalam peradaban
ketika Gregory Mendel menjadi pionir bidang genetika.

Thomas More, seorang sarjana injil dan pemeluk Katolik yang sangat taat, menorehkan sebuah karya yang masih membekas hingga kini, Utopia, yang judul karyanya menjadi sebuah kata, melambangkan negeri impian.

Semangat yang sama kulihat masih ada di antara orang-orang Kristen.
Kita tentu sudah tidak asing dengan kisah Bunda Theresa.

Aku pribadi pernah bertemu Franz Magnis Suseno, yang lebih 'Indonesia' daripada orang Indonesia sendiri. Masih ingat, betapa malunya kami, generasi muda yang meragukan Indonesia, ketika Franz Magnis Suseno, yang tidak lahir di Indonesia, tetapi fasih mengungkapkan betapa istimewanya Indonesia.

Aku pernah bertemu dengan Romo Benny Susetyo, yang membuatku terkejut karena ternyata masih ada orang Jawa yang berani mengungkap sejarah Indonesia bukan dari sudut pandang orang Jawa.

Ketika aku masih SMU, aku pernah beberapa kali membaca tulisan Romo Mangunwijaya dan tulisannya menjadi tulisan favoritku setelah tulisan-tulisan Emha Ainun Najib.

Ketika aku masih kuliah di UGM, tulisan-tulisan almarhum Pater J Drost mengenai pendidikan adalah tulisan-tulisan favoritku. Saat ini, beberapa impian J Drost sudah tercapai, tetapi lebih banyak yang menyimpang. Pasti betapa sedihnya ia seandainya beliau masih hidup.


Natal,
di negara-negara Barat (plus Australia), sudah menjadi budaya konsumerisme dan hal itu sering sekali menjadi sebuah kritikan di surat kabar. Namun, tidak pernah sekalipun aku membaca beberita seseorang membunuh demi merayakan Natal.

Di negeri bernama Indonesia ini yang mayoritas di KTP-nya tertulis Islam,
seorang anak membacok kedua orang tuanya karena tidak mereka tidak bersedia membelikan motor sementara sang anak menginginkan motor tersebut untuk arak-arakan Idul Fitri (kasus dua tahun yang lalu).

Pada Ramadhan yang lalu, hari kedua, seorang ibu mencuri baju-baju, untuk dipamerkan pada tetangganya bila ia pulang mudik.

Dan alih-alih prihatin,
khatib-khatib di setiap Jumat lebih tertarik menggembor-gemborkan betapa beruntungnya mereka karena Islam. Betapa piciknya mereka menganggap mereka umat yang spesial yang bisa bersih dari dosa hanya dengan sholat, puasa, dan menyembelih kambing.

Tidak heran kalau beberapa "Muslim" sedari lahir lebih tertarik berpindah agama ( shaba a -- yang konon kata shabiin berasal dari kata ini mungkin setara dengan proselyte, bukan yartadd atau irtidad -- yang arti sesungguhnya berbalik ke arah semula ). Haruskah orang-orang Kristen yang disalahkan? Haruskah para misionaris yang disalahkan?

Seorang Jamaah Tabligh yang kujumpai di Bus Transjakarta Jumat kemarin berbicara tentang satu kampung yang murtad karena disogok uang. Dahulu pula, sering sekali mendengar kabar orang-orang murtad karena Indomie. Tetapi orang-orang yang sama, ketika berbicara 'menghidupkan masjid', mereka lebih tertarik berbicara tentang qiyamul lail semalaman, lebih tertarik beribadah (secara sempit) terus-terusan bagaikan pertapa. Bagaimana mereka tidak tertarik?

(memang ada yang ketika berbicara 'menghidupkan masjid', memaknainya sebagai pusat untuk membantu lingkungan sekitar masjid, tetapi biasanya yang berbicara seperti itu adalah aktivis LSM atau individual. Ada masjid-masjid ideal seperti itu, pernah kutemui beberapa di antaranya, tetapi jumlahnya sangatlah sedikit).

Cukup sering kujumpai khatib-khatib Jumat yang berbicara berapi-api menakut-nakuti jamaah hajinya untuk pergi haji tetapi belum pernah sekalipun kujumpai khatib Jumat yang berani mengritik orang-orang yang pergi ibadah haji berkali-kali sementara tetangganya kelaparan.

Masih bersyukur masih ada cendekiawan muslim, yang menyindir baik lewat tulisan maupun ngobrol-ngobrol santai namun sayang, belum ada yang berani terang-terangan di mimbar masjid. Belum ada pejabat Departemen Agama yang berani mengusulkan kebijakan melarang orang pergi haji dua kali untuk memprioritaskan pengentasan kemiskinan (atau mereka takut kehilangan pendapatan?).

Silakan bandingkan,
1. Kristenisasi di negeri ini dilakukan dengan cara membantu sesama (atau silakan bilang "menyuap pemeluk agama" kalau tidak suka dengan cara mereka),

2. sementara Islamisasi di negeri ini dilakukan dengan cara menebar teror, hoax, formalisasi agama melalui jalur pemerintah ( bandingkan dengan 10:99, "dan jiklau Tuhanmu menghendaki, tentulah beriman semua orang yang di muka bumi seluruhnya. Maka apakah kamu (hendak) memaksa manusia supaya mereka menjadi orang-orang yang beriman semuanya?").

Manakah yang menurut kalian lebih baik?
Sungguh, orang-orang yang mengingkari kebenaran, menyembah egoisme kelompoknya, menyukai perpecahan daripada persatuan, merekalah orang-orang yang disebut sebagai musyrik dan kafir.





Tulisan ini menanggapi tulisan:
1. J. P. Alexander R. Peace: Understanding The Christianity. 2007. http://jpmrblood.blogspot.com/2007/12/peace-understanding-christianity.html (diakses terakhir tanggal 24 Desember 2007)

4 comments:

Anonymous said...

Huaa....jadi ngantuk abis baca tulisan elo. Mudah2an gw bisa mimpi indah :D

Mudah2an orang2 pada sadar seperti elo, kaga fanatik terhadap salah satu agama, baik kristen maupun islam.

Hidup rukun, damai, aman sentosa.

Jalanin ajaran agamanya masing2 secara individu, tapi tetep toleransi dalam bersosialisasi.

Selamat Natal Nar :D

~cardepus

kunderemp said...

Happy Holiday, Lin..

Anonymous said...

Pada saat saya masih kecil, hidup di kota kecil, tetangga menganut kepercayaan beragam. Kalau saat Hari Idul Fitri, mereka datang kerumah mengucapkan Selamat Idul Fitri dan mohon maaf jika selama menjadi tetangga ada kesalahan. Demikian juga jika mereka merayakan Natal, oleh karena itu, saya pernah mengikuti cara ibadah mereka di gereja (jadi saya sedikit tahu perbedaan cara ibadah antara Katolik dan Kristen Protestan).

Karena keluarga ibu ada yang menganut kepercayaan yang berbeda, ada yang Islam, Katolik, Protestan...teman saya malah dalam satu rumah, ada empat kepercayaan yang berbeda, antara ayah ibu dan anak-anaknya...mereka saling menghormati.

Kadang saya jadi ragu, manakah yang benar? Tapi saya percaya Tuhan Maha Adil, yang dicatat adalah kebaikan dan cara kita bersyukur kepada Nya. Andaikata kita semua melihat dari sisi positifnya, tanpa merasa kepercayaan kita paling hebat (padahal tak melakukan sesuai ajaran), maka dunia ini akan damai sejahtera.

jpmrblood said...

Huehehehe... emanglah, gw rada prihatin sama pemimpin2 agama yang gak ngarti, baik di sini mau pun di amrik sana. Menebarkan kebencian sama saja dengan mengontradiksikan agama yang dipeluk.

Jadi, di akhirnya yang diuntungkan adalah para Atheis yang menertawakan para penganut agama sebagai orang-orang buta yang berpikir sempit.

Do we?