Thursday, July 19, 2018

[Bukan Review] 22 MENIT

Singkat kata, film ini adalah film propaganda kepolisian paling membosankan diiringi dengan pesan-pesan anti feminisme menggunakan cerita fiksi yang dangkal.

Peristiwa Thamrin sebenarnya adalah peristiwa menarik di mana kita bisa melihat dari berbagai sudut pandang, dari kesigapan polisi yang sudah ada di sekitar TKP, penyebaran hoax yang meresahkan (hoax tidak sekedar ujaran kebencian seperti pesan film propaganda ini lho), tukang sate yang tetap ngotot jualan, dan bagaimana media membentuk citra salah satu korban sebagai tersangka sehingga keluarga korban terusir dari kontrakannya.

Namun, bukannya menggunakan cerita-cerita kemanusiaan yang sudah ada, Eugene dan Myrna malah menggunakan kisah rekayasa mereka, tanpa memberi kesempatan penonton terlibat secara emosi sehingga tragedi yang menimpa mereka pun terasa datar dan tawar.

Sebagai film propaganda, saya sebenarnya dapat menerima pencitraan polisi sebagai sosok manusia yang mau membantu. Namun ketika awal-awal film terjebak menjadi iklan layanan masyarakat yang berkepanjangan, saya pun mulai menguap karena kantuk. Ya, semembosankan ini filmnya.

Ketika bom meletus, tadinya saya menyangka akan melihat sebuah rekonstruksi ulang adegan-adegan keberanian polisi yang dahulu kita saksikan bersama lihat lewat tayangan langsung televisi. Apa daya, Eugene lebih memilih menggunakan karakter fiksinya yang bahkan tidak berjalan sesuai ingatan kolektif kita (dan saya terlalu malas untuk mengecek berita-berita masa itu untuk meneliti keakuratannya). Jangan harap melihat polisi dengan perlengkapan minim yang nekat menyerbu di film ini dan jangan harap pula melihat polisi dengan tas mahal di sini atau polisi ganteng yang sempat bikin para netizen wanita naksir. Intinya, bagian yang paling mengesankan dari tragedi Thamrin, justru dilewatkan habis-habisan oleh Eugene dan Myrna.

Oh iya, si tukang sate ada di film ini, tetapi begitu bom meledak, si tukang sate tidak pernah muncul lagi.
Ya! Film ini begitu membosankan!

Celakanya, film ini juga menempatkan karakter-karakter wanita sebagai karakter dangkal.
Misalnya, salah satu karakter adalah tunangan polisi lalu lintas yang ngambek karena sang tunangan akan dipindahkan ke Sangihe. Sang tunangan ingin tetap di Jakarta karena ingin mengembangkan karirnya di sini walau ayahnya tak setuju. Selain itu, kawan wanita si tunangan juga mendukung keputusan karakter ini dengan bertanya, "ada mall kah di sana?". Ya, Tuhan! Ini film propaganda polisi yang membenci perempuan!

Selain itu, ada juga karakter wanita yang terkena tilang. Digambarkan wanita ini begitu cerewet, abai pada sekitarnya sehingga terpaksa pemberian bukti pelanggaran dilakukan di pos polisi. Di pos polisi pun, wanita ini masih sangat cerewet sehingga polisi-polisi lain tidak betah dan keluar dari pos. Ya, Tuhan! Ini film propaganda polisi yang membenci perempuan!

Dan akhir film ini SANGAT MENJIJIKKAN.
Digambarkan, seusai insiden dan berbagai insiden lain, seorang tersangka diikat di kursi, di lapangan parkir yang gelap dengan sumber penerangan hanya dari lampu mobil yang menyala. Si karakter utama yang polisi menginterogasi tersangka sendirian, menunjukkan sejumlah foto, dan mendesak tersangka mengakui teori pribadinya.
Ini film propaganda polisi yang merayu penontonnya bahwa tindakan main hakim sendiri oknum polisi adalah sesuatu yang keren.
Bagus sekali, EUGENE PANJI! Bravo!!

Ngomong-ngomong, Eugene Panji,
peraturan belok kiri harus mengikuti lampu lalu lintas itu baru ada lagi seusai berlakunya UU no 22 tahun 2009 (pasal 112). Sebelum itu, belok kiri boleh langsung sesuai dengan Peraturan Pemerintah no. 43 tahun 1993 (pasal 59 ayat 3). Jadi kalau engkau, Eugene Panji, membuat karakter polisi berdebat dengan pelanggar bahwa peraturan belok kiri harus sesuai lampu lalu lintas sudah ada dari dulu, anda kurang riset.

0 comments: