Wednesday, November 14, 2018

[Bukan Review] A Man Called Ahok (or it should be called 'Tjung Kim Nam')

Peringatan: Putaran pertama Pilkada 2017, saya memilih Anies, jadi saya jelas bias saat menonton ini.

Seusai menonton, teman kencan saya (pemilih Basuki) bertanya padaku, "So after watching this, are you regretting not choosing him in last election?". "Nope", jawabku, "in fact, this movie reminded me why I couldn't vote for him. He was not his father". Teman kencan saya membalas, "If he was like his father, he would not be a politician". "Valid point", jawabku sekenanya.

'A Man Called Ahok', sepantasnya tidak berjudul ini. Film ini mirip seperti Athirah, berkisah tentang orang tua yang kebetulan anaknya sekarang menjadi politisi. Bahkan seingat saya, dulu kultwit Kurawa (Rudi Valinka) tidak sampai terus-terusan membahas Tjung Kim Nam. Jadi kalian pembenci Basuki bisa melepas beban rasa benci kalian sejenak deh.

Ada enam alasan mengapa film ini layak tonton lepas dari unsur Ahok-nya:
1. penggunaan dialek lokal (yakni Khek dan Melayu) sepanjang film. Para aktor-aktor Jakarta -- kalau tidak salah baca Credit Title-- dilatih dialeknya oleh Rendy Ahmad (Hmm.. apakah ini Rendy Ahmad mantan vokalis band Simponii?);
2. film ini dibuat oleh perusahaan tak terlalu terkenal, The United Team of Art (TUTA) yang berdiri tahun 2007. Jadi boleh dong kalau saya bilang film ini tergolong indie;
3. yang membuat saya kaget, walau dibuat oleh perusahaan tak terlalu terkenal, ternyata didukung oleh kru yang pengalaman seperti Yadi Sugandi sang tukang keker, Aghi Narottama dan Bemby Gusti sang tukang bikin musik, hingga penata suara sejuta film Indonesia siapa lagi kalau bukan Khikmawan Santosa;
4. Chew Kin Wah! Sejak My Stupid Boss, saya jadi fans aktor dari negeri jiran ini;
5. Eriska Rein! Astaga! Saya sampai pangling melihatnya.
6. Belitung!

Pulau Belitung memang indah, dengan tanah pasir putih dan "danau-danau" biru tetapi di balik keindahan itu, tersimpan cerita kemiskinan penduduknya. Masyarakat non-Belitung sudah pernah mendengarnya dari Laskar Pelangi serta Sang Pemimpi dan kini disajikan ulang dari sudut pandang berbeda. Jika sebelumnya kita diajak melihat dari sudut pandang anak-anak dari lingkungan proletar, sekarang kita disajikan sudut pandang borjuis kecil. Bahkan ada dialog peremehan kelas proletar di film ini, ketika sang ayah kecewa, putranya yang diharapkan menjadi pemimpin ternyata hanya sekedar menjadi pekerja, walau penghasilan lebih besar.

Sosok Tjung Kim Nam mengingatkan saya pada cerita guru agama saya tentang sejumlah orang-orang Tionghua di negeri ini. Mereka, walau punya penghasilan kaya di atas rata-rata, tetapi selalu gemar beramal. Guru agama saya mengatakan, "kalau mau nego dengan mereka, katakan saja ini buat amal di masjid, niscaya mereka akan bantu". Jadi sebenarnya sosok macam Tjung Kim Nam tidaklah asing.
Layaknya seorang pebisnis yang hidup di masa orde lama hingga orde baru, dari suku minoritas pula, Tjung Kim Nam selalu menghadapi lingkungan tak kondusif dari birokrasi setempat padahal di satu sisi, ia selalu berharap untuk bisa beramal. Alhasil, sebagai tauke yang dianggap kaya, hidupnya sebenarnya gali lubang tutup lubang, kerap memicu perselisihan dengan istrinya. Bagi Kim Nam, selama anak-anaknya cukup gizi, maka rezeki tak akan ke mana dan sikap seperti itu memaksa sang istri membuka apotek di Manggar.

Suatu hari, ia berniat mengajari kedua putra laki-lakinya berbisnis, mencatat tagihan atas barang belanjanya kepada sosok bernama Aguan (err.. ini Aguan Sedayu Podomoro? atau kah cuma kesamaan nama?). Namun ternyata latihan bisnis tersebut berkembang menjadi pelatihan ketegasan bertindak karena putra pertamanya menemukan kejanggalan pencatatan. Kim Nam memaksa putra keduanya, Yuyu (atau Basuri) untuk bertindak tegas memecat oknum, namun Yuyu tidak tega. Si putra pertama yang akhirnya menyanggupi perintah sang ayah tanpa diminta.

Beberapa adegan kemudian, Kim Nam menyesali tindakannya karena si oknum bertindak didorong oleh kebutuhan mencari perawatan untuk istrinya. Mencoba menebus kesalahannya dengan menawari si oknum untuk bekerja kembali, rasa bersalah semakin besar karena si oknum yang telanjur malu menolak tawarannya. Yang bisa dilakukan Kim Nam hanyalah melayat ketika istri si oknum akhirnya wafat. Kim Nam pun melihat bahwa dirinya bukan pahlawan dan yang dibutuhkan Belitung bukanlah seorang kelas menengah yang bisa mempekerjakan buruh, tetapi dokter dermawan sehingga "orang miskin tak perlu jadi maling". Namun perubahan sikap Kim Nam ini menjadi sumber perselisihan antara ia dan putra pertamanya.

Kisah pun berkembang menjadi perselisihan antara putra pertama dengan Kim Nam. Bukannya mengikuti perintahnya, sang putra pertama memilih mengikuti jejaknya. Walau setengah hati, ia memberi kesempatan pada putranya untuk magang di perusahaannya namun kemarahannya memuncak ketika putranya merumahkan karyawannya demi strateginya. Di saat yang sama, sang putra pertama marah pada kawannya yang membelot memihak ayahnya.

Maka sang putra pertama pun terasingkan dari Belitung, dari sang ayah dan kawan kecilnya. Ia memilih melanjutkan kuliah di Jakarta dan menjadi sekrup kapitalis. Di sisi lain, nasib malang bertubi-tubi juga menimpa tokoh utama.

Kisah diakhiri dengan montase si putra pertama, menyadari kata-kata ayahnya ada benarnya dan akhirnya mencoba memenuhi impian sang ayah, menjadi sosok yang dikenal oleh masyarakat Jakarta.

Seperti yang saya sebutkan, walau dibuat oleh perusahaan film kecil, saya terkejut dengan dukungan kru berpengalaman di sini. Tukang keker Yadi Sugandi, bahkan tampak senang sekali bermain-main dengan kameranya. Saya senang sekali adegan debat kusir di dalam mobil jip, melihat bagaimana latar belakang pemandangan memberi petunjuk rute mobil yang tidak lurus melainkan berbelok-belok.

Rumah Tjung Kim Nam dari awal film hingga akhir sebenarnya masih berupa rumah yang sama namun beberapa detail menunjukkan perubahan, sehingga dari satu adegan ke adegan lain, tampak berasal dari zaman yang berbeda walau berlokasi sama. Misalnya, rumah Kim Nam di akhir film memiliki akuarium sementara di adegan-adegan sebelumnya, tak tampak. Atau menjelang akhir film, ditampilkan jalan di depan rumah Kim Nam sudah beraspal sementara sebelum-sebelumnya, tidak pernah ditampilkan sehingga ada kesan jalan depan rumah belum beraspal.

Tentu saja, ada beberapa kecerobohan yang sedikit mengganggu, misalnya adegan putra pertama kembali ke Belitung di tahun 1999 namun kemudian ditampilkan menonton berita yang membahas krisis moneter yang sedang terjadi. Atau adegan putra pertama yang sedang kampanye, dengan baju berkantong logo PNBK namun bendera-bendera di tempat kampanye berlogo Partai PIB (sekedar catatan, ketika kampanye sebagai bupati, putra pertama berasal dari PNBK tetapi ketika menjadi DPRD Belitung, putra pertama memakai bendera PIB).

Lepas dari apapun pilihan anda di pilkada 2017, film ini sebenarnya layak untuk ditonton. Biar bagaimanapun, beberapa masalah yang terjadi di film ini memang jamak didengar di daerah-daerah lain. Saya justru menyayangkan, dengan judul yang memakai nama putra pertama, malah membuat film ini menjadi propaganda.

Hanya saja, maaf,
melihat karakter putra pertama di film ini, saya jadi ingat mengapa saya tak memilihnya di putaran pertama pilkada lalu. Iya, memang putra pertama di film digambarkan terinspirasi oleh sang ayah tetapi juga diperlihatkan bahwa putra pertama berbeda dengan sang ayah, dan sialnya, tampaknya begitu juga di dunia nyata.

0 comments: