Monday, April 24, 2006

Minangkabau, the land of Indonesia's Founding Fathers...

Sebut saja: Moh. Hatta, Sutan Sjahrir, Tan Malaka, Agus Salim, M. Yamin, M. Natsir, dan entah siapa lagi.

Beberapa minggu lalu, aku ke sana, bersama Ibu, Lis, dan Ani, berjalan-jalan. Buatku, ini kedua kalinya aku mengunjungi daerah di luar Jawa (yang pertama: Bali). Dan aku penasaran, seperti apa sih daerah yang mencetuskan banyak intelektual di masa-masa Indonesia masihlah berupa janin.

Universitas Andalas
Universitas ini, sangat mirip dengan University of Queensland yang ada di Gatton. Benar-benar luas, ada beberapa ternak. Perbedaannya adalah, di Gatton, tidak ada Fakultas Teknik.

Perhatikan pula gerbangnya yang menunjukkan ciri khas daerah Minang. Yang pertama adalah atapnya yang seperti tanduk kerbau. Yang kedua adalah tiangnya yang miring.







Bukit Barisan

Pertama kali menjejakkan kaki di bumi Minang, pemandangan yang tertangkap olehku adalah Bukit Barisan yang megah dan indah. Percayalah, beberapa kali aku melihat gunung di Pulau Jawa, tak pernah setakjub ini.

Aku membayangkan para bapak bangsa kita dahulu sedih, mengapa sebuah bangsa yang memiliki pemandangan alam nan indah mesti takluk pada bangsa lain yang nun jauh di sana.

Sekarang aku menyadari, kenapa Soe Hok Gie, yang lahir dan besar di Jakarta, berkali-kali naik gunung sebelum kembali ke kota untuk memprotes ketidakadilan. Dengan berada di pemandangan alam yang indah, kita menyadari bahwa kampung atau kota tempat kita tinggal, hanyalah sebagian kecil dari bumi ini. Dan gunung-gunung yang indah menunjukkan bahwa, masih ada kekayaan kita yang harus kita jaga dari keserakahan tangan-tangan manusia.


Replika Istana Pagaruyung
Istana Pagaruyung yang sekarang sekedar replika sudah tampak megah. Padahal di masa lalu, istana ini berada di atas bukit, yang jelas lebih menggetarkan daripada posisinya di masa kini. Tetapi ada juga kok sisi baiknya, yaitu turis-turis jadi lebih mudah untuk datang (bukitnya terjal sekali.. kalau seandainya replikanya di bangun di posisi yang sama, niscaya awak mesti panjat tebing dulu sebelum bisa memasukinya).



Istana yang asli sudah dibakar oleh Belanda. Aku salut mendengarnya, berarti kerajaan ini bukanlah kerajaan serakah yang tunduk sama Belanda, seperti yang umumnya dilakukan oleh kerajaan-kerajaan lain seperti Mataram pasca-Sultan Agung. Padahal, menilik sejarahnya, kerajaan ini tak lebih dari simbol belaka, sebagai lambang minang walaupun sebelum kerajaan ini berdiri, Minangkabau sudah ada.

Istana ini adalah tempat tinggal raja dan putri-putrinya (anak cowok, seperti kebiasaan Minang, disuruh tinggal di Surau untuk melatih kemandirian mereka). Di bagian depan Istana, terdapat bangunan yang tak kalah tingginya, yang ternyata adalah lumbung padi (!!!). Di bagian belakangnya, terdapat dapur, sementara di sampingnya, terdapat semacam bedug (lupa istilahnya) yang konon dipergunakan untuk memanggil para menteri dan hulubalang.





Istananya sendiri terdiri dari tiga tingkat di mana tingkat teratas digunakan oleh raja untuk bersemedi sementara tingkat kedua dipergunakan oleh putri-putri raja yang belum menikah. Tingkat pertama, seperti yang bisa kalian tebak, adalah tempat rapat raja dan menteri-menterinya. Tetapi yang sulit dibayangkan oleh para pengunjung adalah bagaimana rasanya tidur berdua dengan pasangan (seperti putri raja dan suaminya, atau sang raja sendiri dengan permaisurinya) di kamar yang hanya dipisahkan oleh tirai.

Sementara kamar sang raja dan permaisuri mungkin dilapisi oleh.. hmmm.. tujuh tirai (koreksi kalau aku salah), sementara ruang-ruang putri dan suami-suami mereka, hanya dipisahkan oleh satu lapis tirai dan itu benar-benar persis di dekat ruang utama. Wah.. Apa para pengawalnya tidak tergoda untuk mengintip yah?

Danau-Danau nan Indah




Ke Bumi Minang serasa tak lengkap tanpa mengunjungi danau-danau yang ada di sana. Ada empat danau di bumi Minang tetapi karena terbatasnya waktu, hanya dua danau yang kami kunjungi yaitu Danau Singkarak dan Danau Maninjau.

Danau Singkarak (di sebelah kiri, yang ada foto Lis), berada di antara kota Padang dan Bukittinggi. Dan saat kalian menelusurinya, kalian akan kagum, betapa besarnya danau ini, lebih besar daripada danau-danau yang ada di pulau Jawa. Selain itu, danau ini sendiri masih bersih, sehingga kita melihat danau ini begitu biru dan indah. Dan ada ganggang yang hidup di danau ini lho..




Sementara, saat kami berada di Danau Maninjau, waktu sudah sore sehingga aku tak bisa mendapatkan foto yang indah, walau pemandangannya masih indah di mata. Dan dari bukit, kami turun melewati Kelokan 44 untuk menikmati pemandangan Danau Maninjau dari dekat yang sayangnya hanya bisa dinikmati beberapa menit karena matahari telanjur tenggelam. Namun kami sempat menikmati teh manis hangat sambil memandangi karamba-karamba di danau tersebut.

Ngomong2, kalau kalian pergi melewati Kelokan 44, bawalah makanan-makanan kecil untuk diberikan kepada kera-kera jinak yang berada di sekitar kelokan bawah.

Pantai Malin Kundang

Hah? Pantai Malin Kundang? Emang ceritanya benar-benar terjadi?
Pasti itu yang ada di pikiran kalian.


Nama pantainya sendiri sih Pantai Air Manis, dan sebenarnya, tanpa atraksi Malin Kundang, kita bisa menikmati pemandangan matahari terbenam yang indahnya ratusan kali lebih indah daripada pemandangan matahari terbenam di Anyer, dan jutaan kali lebih indah daripada pemandangan matahari terbenam di UI Depok (jelas lah!!!).



Si Ricky, lulusan ITB yang sedang berada di Padang, tergoda untuk mengambil foto adikku saat berada di pantai ini dengan ponselnya. Aku heran, apakah hasilnya bisa jelas mengingat kondisi cahaya yang begitu minim.

Aku sendiri tergoda untuk mengambil foto siluet Lis di detik-detik terakhir menjelang matahari terbenam. Hasilnya sih lumayan indah, seandainya tidak ada anjing yang nongol di sebelah kanan.

Oh ya..
Satu hal yang tak kusangka akan kulihat di Bumi Minang adalah banyaknya anjing-anjing di sini. Ternyata masyarakat Minang banyak memelihara anjing. Katanya sih, untuk berburu Babi Hutan. Dan sekedar berburu (bukan untuk dimakan).

Jembatan Siti Nurbaya


Dijamin kalian pasti bingung lagi.
Bukankah Siti Nurbaya hanyalah sekedar cerita yang ditulis oleh almarhum Marah Rusli?
Entah tipuan atau beneran (seperti halnya cerita Malin Kundang). Tetapi jembatan yang berada di kota Padang ini memberikan pemandangan unik di malam hari, yaitu pinggirannya menjadi tempat rekreasi alias duduk-duduk gak jelas sambil bersama teman atau pasangan dan menikmati teh botol. Mereka, juga melakukan hal seperti ini di pinggir pantai (dan di malam hari!!!).

Sayangnya, aku tidak membawa tripod dari Jakarta, sehingga aku harus pasrah dengan foto-foto kabur yang kuambil saat berada di jembatan ini.

Melihat kapal dari jembatan ini ternyata asyik juga. Aku tak mengira akan melihat lagi banyak kapal dari jembatan setelah aku berpisah dari Brisbane. Maklumlah, bayanganku, semua sungai seperti sungai-sungai di Jawa yang kecil, kotor, dan tidak bisa dilewati oleh kapal-kapal.


Bukit Tinggi

Bukit Tinggi adalah kota kelahiran M. Hatta. Dan di kota ini terdapat beberapa obyek wisata seperti Jam Gadang yang berada di tengah kota. Walaupun sebenarnya biasa-biasa saja, tetapi taman tempat Jam Gadang ini berada adalah tempat rekreasi buat warga sekitar. Yang menarik bagiku, di tangga di taman ini, ada tulisan peringatan, "pacaran itu haram" ^^*!.

Obyek wisata lain yang bisa dikunjungi adalah Gua Jepang. Jangan khawatir jika anda termasuk Claustrophobia (trauma gelap dan sempit). Gua ini sudah diterangi oleh lampu neon. Yang jadi masalah adalah, kalian harus menuruni tangga sejauh 200 m ke bawah untuk melihat guanya dan sesudah puas melihat-lihat, kalian harus menaiki tangga 200 m, dan percayalah, bikin lelah. Kalau kalian hanya butuh sekali istirahat saat menaiki tangga, berarti kalian sudah termasuk hebat (aku butuh sekali istirahat, yang kedua karena aku menunggu ibu untuk sampai).

Di Gua Jepang, sangat disarankan untuk menyewa pemandu untuk mendengar kisah yang mungkin terjadi di Gua Jepang. Hati-hati, para pemandu akan mengisahkan cerita-cerita kekejaman yang akan membuat kalian bergidik dan akan membuat kalian marah kepada orang-orang Jepang. Tetapi sebelum hal itu terjadi, ingatlah, orang Jepang di masa itu, tidak hanya kejam kepada orang-orang Indonesia, tetapi juga kejam terhadap diri mereka sendiri. Generasi muda Jepang sekarang, adalah generasi frustasi, yang muat terhadap kemunafikan generasi tuanya (itu sebabnya banyak komik-komik dan game-game bagus berasal dari Jepang). Jangan ikuti orang-orang Cina dan Korea yang begitu dendam terhadap Jepang.

Jangan lupakan pula, tanpa orang Jepang, mungkin kita tidak akan siap berperang melawan Belanda saat mereka kembali untuk menjajah kita. Dari latihan Jepanglah, tentara kita siap untuk melawan Belanda.

Ngomong-ngomong, aku lupa memberitahu kalau sesungguhnya panjang Gua Jepang ini 7 km dan berada persis di bawah kota Bukit Tinggi, termasuk di bawah Jam Gadang. Yang dibuka untuk umum, hanyalah 1,4 km, karena ditakutkan gua ini runtuh suatu saat, dan juga memperhitungkan oksigen dan kelembapan udara.



Obyek wisata lain yang bisa dilihat adalah Ngarai Sianok yang indah walau beberapa tebingnya tampak lebih terjal akibat gempa bumi yang menerpa Padang tahun lalu.

Sebenarnya sih, pemandangan ini untukku serupa dengan pemandangan jalur lava Gunung Merapi yang ada di Kaliurang, Yogyakarta, tetapi serupa bukan berarti jiplakan karena tetap saja mempunyai keistimewaan sendiri dan tetap saja membuatku takjub.

Oh ya,
salah satu pintu keluar dari Gua Jepang adalah ngarai (catatan: ngarai = lembah) ini. Lebih tepatnya, setiap mayat-mayat dari gua, akan dibuang oleh tentara Jepang dari gua ke ngarai ini. Terbayang gak, betapa mengerikannya di tahun 1946, ketika orang-orang yang menemukan Gua Jepang, menemukan tumpukan mayat-mayat tentara Jepang yang harakiri di ngarai ini?

Apapun kisahnya, ngarai ini tetap indah dipandang. Salah satu obyek wisata yang wajib dikunjungi bila berkunjung ke Bukit Tinggi (jangan cuma ke pasarnya doang!).

Akhir kata,
sebenarnya masih banyak pemandangan indah yang ada di negeri ini. Minangkabau adalah salah satu contoh daerah dengan banyak panorama nan memukau. Mungkin sebelum kita berpikir untuk berwisata ke luar negeri (apalagi hanya dengan tujuan belanja), cobalah untuk ke daerah-daerah dahulu.

14 comments:

James Belacan said...

Tambah lagi banyak photo permandangan dari negara awak....

tino said...

walaupun indah2 bgitu, gw baru mudik 3 kali hehhee

indigo wine said...

ade lu lucu juga =D

jefri said...

my home.....

kunderemp said...

Heran.. ada 4 komentar dari James Belacan, Tino, Indigo_wine, dan Jefri, tetapi kok gak muncul yah? What's wrong with my blog?

Narpati said...

Kenapa tidak muncul yah? Blogger juga lambat banget hari ini... sigh..
Error berkali-kali neh..

ipun said...

that's where i belong.. ;)

masyhuri said...

Mas Narpati,trimakasih sudah mengingatkan rekan2 yg lain akan indahnya negeri sendiri. Kalo punya waktu ke Sumbar lagi,mungkin bisa menikmati tahu susu di dekat danau di atas dan di bawah yg dingin hawanya atau jalan2 di lembah harau di Payakumbuh. Jalan darat menyusuri pantai samudera Indonesia dari Teluk Bayur ke Painan, mungkin bisa membangkitkan rasa cinta kita betapa sangat indah dan eloknya bumi persada, kalah jauh Australia.

Salam hangat

Masyhuri

edratna said...

Jalan2 ke Sumbar tak lengkap tanpa disertai info wisata makanan. Di Padang ada restoran Pagi Sore (didaerah dekat Pecinan nya Padang), yang ayam gorengnya renyah dan garing. Terus durian nya benar2 asyik. Juga ada rumah makan Soaso dekat gedung Rohana Kudus, makannya enak dan ga terlalu pedas untuk lidah bukan orang Minang. Sapo tahunya...hmmm sedaaap.
Benar juga, kalau kita makan didesa Bungus (letaknya ditengah sawah), diperjalanan antara Padang ke arah Painan, menyusuri pantai nan indah sekali dan melihat pelabuhan Teluk Bayur dari kejauhan,....makanan khasnya berupa kepala ikan dan sayur paku (pakis)...benar2 kenyang, apalagi sambil merasakan angin sepoi-sepoi dari sawah...waduhh rasanya benar2 nikmat.
Jadi lain kali kalau sempat ke Sumbar lagi, mesti lihat jembatan akar dan lembah Aro...dekat Payakumbuh (mungkin bisa coba tahu susu seperti saran Uda Masyhuri).

adhy said...

foto-fotonya menarik. dari dulu pengen ke sana setelah baca biografi-nya bung hatta waktu smp. kayaknya harus meluangkan waktu ke sana nih. thx.

Anonymous said...

om kund... been there *lol* enjoy west sumatera ya ;) dix dah pernah ke beberapa tempat yang om kund ceritain. yang blom pernah ke Pantai Air Manis, Jembatan Siti Nurbaya. hehehe.

mei said...

ari kumpretttt,...bagus banget sii.plus ada lis nya jd model jg euy...pokoknya,klo aku mau liburan kesana,..AKU MENUNTUT UNTUK DIANTAR ..awas klo ga..

rezayazdi said...

barusan liat blog ibunya, eh gak ada foto nya, adanya di sini... di blog anaknyaaa

WewW said...

Jih, manteb banget dah semua pemandangannya! Btw Ngarai Sianoknya kok sama persis kayak yang di Merantau ya? (ya iyya lha, tempatnya sama.. wekeke..)

Jadi pengen jalan2 ke sana juga.. Tapi, FYI, paling jauh gw jalan2 ke Pantai Pangandaran and Carita doang. =))

Pantainya banyak sampah. Tapi keren pas di Pasir Putih sih, airnya juga jernih.

Lha, malah cerita di sini, harusnya di blog sendiri, OI! wakaka..