Friday, December 08, 2006

[Film] Jin Ping Mei: Politik Seksualitas Wanita

Sebelumnya izinkan aku membenarkan bahwa Jin Pin(g) Mei adalah film semiporno (atau film kelas III kalau di istilah dunia perfilman HK) seperti halnya Kamasutra-nya Mira Nair walaupun mungkin Jin Pin Mei tampak lebih kotor dan saru apalagi dengan sampul VCD yang didominasi oleh gambar tubuh tak berbusana (topless) Asami Kanno (Yang Simin).

Tadinya kukira, film Jin Pin Mei (1998, karena ada versi2 lain seperti versi 1955) hanyalah sekedar plesetan dari salah satu episode Tepi Air (Shui Hu Zhuan) karya Shih-Nai An yakni episode Wu Song si Pembunuh Harimau tetapi ternyata aku salah. Film atau lebih tepatnya mini-seri yang terdiri dari 5 episode (alias 10 VCD di akhir 90-an) ternyata berasal dari novel berjudul sama dan novel itulah plesetan dari Tepi Air.

Cerita, berawal dari usaha Ximen Qing (Hsi-men Ch'ing) yang merayu Pan Jilian (P'an Chin-Lien), istri dari Wu Dalang (Wu Ta-Lang). Singkat cerita, Ximen Qing berhasil menjalin hubungan rahasia dengan Pan Jilian. Namun sayangnya, sang suami berhasil mengungkap hubungan tersebut namun jatuh terkapar karena serangan Ximen Qing yang panik.

Di kamarnya, Wu Dalang berkali-kali mencaci maki Pan Jilian. Pan Jilian yang berusaha menyembuhkan suaminya ditawari obat oleh Ximen Qing -- versi miniseri ini berbeda dengan versi tertulis di internet, mungkin mencoba menarik simpati penonton pada karakter utama wanita. Sayangnya, obat tersebut adalah racun dan Wu Dalang mati pada malam saat ia meminum obatnya.

Wu Song (Wu Sung), Pendekar Pemburu Harimau yang baru pulang dari tugasnya terkejut menemui sang kakak yang mati mendadak. Hasil investigasinya membawanya pada perselingkuhan Pan Jilian dan Ximen Qing. Wu Song segera mencari-cari peracun kakaknya. Sayangnya, taktik Ximen Qing membawa Wu Song membunuh orang yang salah (di titik inilah cerita mulai berbeda dari Tepi Air). Seingat saya, episode pertama diakhiri dengan pembuangan Wu Song ke kota lain.


Politik dalam Poligami
Setelah dibuangnya Wu Song, Ximen Qing mengancam Pan Jilian untuk membunuh Wu Song kecuali Pan Jilian bersedia menjadi istrinya untuk melayaninya seumur hidup. Pan Jilian tak punya pilihan kecuali menjadi istri Ximen Qing -- dalam versi miniseri, Pan Jilian sebenarnya jatuh cinta pada Wu Song sementara dalam versi tertulis, Pan Jilian memang ingin bersanding dengan Ximen Qing.


Cerita berlanjut, ternyata Ximen Qing sudah memiliki banyak istri dan Pan Jilian menjadi istri kelima. Empat episode selanjutnya diisi oleh politik yang dilakukan oleh Pan Jilian, dari motivasi untuk membela diri hingga akhirnya sampai ke posisi tawar paling tinggi dalam keluarga tersebut. Seks menjadi senjata utama Pan Jilian dalam menghadapi istri-istri tua Ximen Qing.

Kehebatan politik Pan Jilian terbukti ketika Ximen Qing memperkosa seorang pelayan wanita (err.. Chun Mei?). Pan Jilian mengubah tragedi itu dengan mencegah si pelayan bunuh diri. Berkat hasutan Pan Jilian, alih-alih mengakhiri hidupnya, si pelayan wanita justru menjadi sekutu Pan Jilian menarik hati Ximen Qing (lewat seks tentunya) yang selanjutnya meningkatkan pertahanan Pan Jilian dalam menghadapi senior-seniornya (baca istri-istri tua).

Akhir politik Pan Jilian diawali dengan ketertarikan Ximen Qing terhadap istri sahabatnya. Kondisi diperparah dengan keberhasilan Ximen Qing merebut istri sahabat melalui cara yang nyaris sama (bunuh suami si wanita lalu nikahi si wanita). Sang istri baru (Li Ping Er?) kemudian hamil dan memiliki anak sehingga derajatnya naik menjadi istri favorit Ximen Qing.

Karena situasi Ximen Qing yang ternyata mempunyai musuh lebih banyak daripada yang diperkirakan Pan Jilian, Ximen Qing akhirnya tewas (dalam versi tulisan karena kebanyakan afrosidiak sementara dalam versi miniseri karena diracun istri pertama) dan hancurlah segala aktivitas politik Pan Jilian.


Seks dalam Dominasi Pria
Perilaku Pan Jilian dalam film miniseri ini mungkin bisa membuat ia dicap sebagai wanita nakal. Namun segala kenakalan Pan Jilian dalam film miniseri disebabkan oleh kekuasaan laki-laki yang terlalu besar, dalam hal ini, Ximen Qing. Ximen Qing adalah pria yang punya uang banyak hingga mampu menyuap pejabat kerajaan. Sementara dalam keluarga, pun Ximen Qing bersikap tangan besi dan otoriter dan tidak segan-segan untuk mengayunkan tangannya pada istri-istrinya yang bermasalah. Seks adalah satu-satunya jalan bagi wanita-wanita di sekitar Ximen Qing.

Dalam masa sekarang pun, ternyata pesona wanita masih mampu mengendalikan para pria. Walaupun berbeda motivasi, di mana dalam cerita Jin Pin Mei politik seks dilakukan untuk menghindari tekanan dari istri-istri lain sementara sebagian besar kasus di masa sekarang politik seks dilakukan untuk mendapat tambahan uang demi mengembangkan karir pribadinya, intinya tetap sama, politik seks akan tetap ada selama kondisi-kondisi yang memungkinkan terjadinya tetap sama:
  1. para pria merasa dirinya hebat,
  2. para pria memiliki uang banyak,
  3. para pria tak mengenal arti kesetiaan.

Ironisnya,
beberapa orang naif menganggap bahwa poligami adalah jalan keluar untuk menghindari kasus seperti ini. Padahal seperti dalam cerita Jin Pin Mei, nafsu seksual tak mengenal batas. Ximen Qing yang sudah memiliki lima istri masih menginginkan istri sahabatnya dan masih memperkosa pelayannya.

Jika kita mempertimbangkan dari sisi wanita, poligami bisa jadi menghancurkan. Ximen Qing mungkin punya kekuasaan tetapi yang jelas ia sebenarnya tak pernah perduli pada istri-istrinya. Yang ia perdulikan adalah nafsunya belaka. Permainan politik seperti kekerasan, dan fitnah terjadi karena ketidakacuhannya terhadap keluarga.

Dalam episode lain Tepi Air (Shui Hu Zhuan) yakni episode Biarawan Duniawi Lu Zhishen (Lu Chi-sen), ada kisah mengenai seorang wanita muda bernama Jin Cuilian yang dipoligami oleh seorang penjagal daging diusir keluar oleh sang istri pertama. Alih-alih bertanggung jawab, si penjagal daging tidak mau dan malah menganiaya Jin Cuilian dan ayahnya.

Karena itu, tidak heran kalau beberapa kekasih gelap dari pejabat lebih suka berstatus kekasih gelap. Menjadi istri kedua tidak akan mengangkat derajat mereka menjadi lebih baik apalagi bila sang pria tak bisa menjamin keamanan si kekasih.



Sekarang pertanyaannya jika anda seorang wanita:
Apakah anda bersedia menjadi wanita kedua dari seorang pria yang menurut saja saat disuruh istri pertamanya mengugurkan kandungan anda?

4 comments:

kunderemp said...

Sekedar catatan:
Aku menonton film ini 7 tahun lalu, alias pada tahun 1999.

Sekitar 3 tahun lalu, aku pernah melihat DVD-nya di Glodok tetapi sayangnya, ternyata dipotong-potong hingga cuma 90 menit sehingga kualitasnya berkurang drastis.

hendra said...

hebat oi.... bisa inget detail film yang ditonton 7 tahun lalu :), btw memang film yang bagus :)

grizzz said...

okey.....thx...


i think film na nice tuch...


did u have copy or original Film ne...??

how can i kuntack u bro...??

kunderemp said...

I'm sorry but I'm not in my country. I'm separated with my collection.

I think some website still sell the movie. Try yesasia.com.