Monday, March 19, 2007

Pemakaman atau Muhasabah atau Cuci Otak?1

Silakan terapkan argumen ad-hominem kepadaku karena jujur saja, aku memang sedang sentimen, sedang emosional.

Aku sedang bersedih bahwa, seorang wanita cantik telah meninggalkan dunia ini. Senyumannya yang menawan, candanya yang mengimbangi tingkah lakuku dan kakaknya yang sering gak jelas, semua itu tak akan pernah kulihat lagi. Dan ketika aku menarik gas motorku sekencang mungkin, memburu pemakamannya, aku merasa sedih, mengapa mesti dia yang meninggal? Kenapa bukan aku yang belum berguna ini?


Tetapi ketika aku tiba di masjid tempat jenazahnya, aku cukup kaget melihat betapa banyaknya orang yang datang. Ironisnya, dari SMU-ku, yang notabene teman kakaknya, hanya tiga orang, termasuk aku, yang bisa menyempatkan diri untuk datang. Namun kekaguman itu sirna begitu aku mendengar khutbah berapi-api dalam masjid (begitu banyaknya orang, aku tak bisa memasuki masjid).

Ada yang salah,
begitu pikirku.

Berita kematian Ende, panggilan kesayangannya di keluarga dan lingkungannya, memang baru kuterima 15 menit sebelum aku tiba di Masjid. Aku tak tahu apa yang terjadi. Kupikir kematiannya normal, mungkin sakit atau apa. Tampaknya aku salah.

Kutanyakan pada dua kawanku yang sudah lebih dahulu tiba. Mereka pun ternyata tak tahu apa yang terjadi dan sama terkejutnya denganku melihat betapa banyaknya orang yang hadir di Masjid.

Aku ingin bertanya pada orang tuanya yang juga berada di luar, tetapi hatiku merasa tak enak dan akhirnya aku hanya mencuri dengar namun pendengaranku yang memang buruk menghalangiku memanen informasi secara penuh. Dari raungan "saya yakin dia mati SYAHID.. dia seorang SYAHIDAH!" dari dalam masjid dan potongan-potongan kata dari ibunya yang sedang bercerita kepada ibu-ibu lain, saya menyimpulkan kematiannya berhubungan dengan kegiatannya sebagai aktivis.

Khutbah selesai dan orang-orang di pinggir pintu masjid tampak menyingkir. Terlihat keranda Ende sedang diusung. Tampaknya perjalanan ke makam pun dimulai. Aku dan kedua temanku mencoba mengikuti sesegera mungkin persis di belakang keranda, namun para pengusung keranda bergerak sangat cepat. Entah apa yang mereka buru. Selain itu sempat ada kesalahpahaman mengenai letak pemakaman yang sempat mengacaukan lalu-lintas sejenak. Namun tanpa kesulitan berarti keranda berisi jenazah Ende sampai di tempat tujuannya. Kain hijau yang menutupi keranda pun disibak dan dijadikan oleh mereka sebagai peneduh orang-orang yang mengurus jenazah. Beberapa orang yang penasaran seperti aku dan salah satu temanku, ikut memegangi kain peneduh tadi agar bisa mendapat alasan untuk mendekat ke liang kubur.

Prosesi pemakaman berjalan menyedihkan atau lebih tepatnya memuakkan. Ini kedua kalinya aku benar-benar melihat prosesi pemakaman di mana yang pertama sudah terjadi lebih dari satu dekade silam. Beberapa hal yang membuatku muak adalah:

Pertama: adanya seseorang berjaket PKS membawa kamera yang memotret jenazah saat di liang kubur. APAKAH DIA SUDAH TIDAK PUNYA RASA SOPAN SANTUN? Memangnya mau diapakan foto jenazah Ende? Mau dipamerkan?

Kedua: Kawanku, Kakak Ende, turun ke liang, membantu prosesi pemakaman termasuk mengumandangkan Azan. Yang membuatku muak adalah ucapan-ucapan orang di sekitar liang yang seenaknya 'Yan.. kamu mesti..', 'Yan.. kamu [isi perintah di sini] saja', seakan-akan kawanku adalah pelayan. Apakah perilaku tersebut layak?


Ketiga: Setelah tanah-tanah dilimpahkan ke atas tubuh yang tadinya seorang wanita ceria dan murah senyum, seseorang yang mengaku dari kawan-kawannya sesama aktivis PKS, membacakan kesaksian dari orang-orang yang pernah mengenal jenazah. Awalnya, kesaksian tersebut benar-benar seperti kesaksian, mengenai jenazah yang tidak pernah mengeluh, yang selalu aktif, namun tiba-tiba berubah menjadi Muhasabah lengkap dengan gaya raungannya yang tak pernah kusuka. Efeknya? Para hadirin yang tadinya hanya sekedar menampilkan muka berduka tiba-tiba menangis tersendu-sendu.


APA-APA'AN INI? SEJAK KAPAN ADA CERITA 'MUHASABAH' DALAM PEMAKAMAN YANG MEMBUAT WANITA-WANITA YANG HADIR TIBA-TIBA MENANGIS NYARIS IKUT MERAUNG?

Yang lebih membuatku miris,
kematian Ende ternyata dikarenakan karena fisiknya yang sedang lemah, pada saat ia mengikuti pelatihan kaderisasi PKS. Dan di antara baik 'kesaksian' yang dibacakan kawannya, maupun ucapan dari utusan DPW PKS, tidak ada satupun nada penyesalan karena Ende mati di saat pelatihan yang mereka adakan. Satu-satunya kata-kata penyesalan hanyalah sebuah basa-basi, 'Hari ini, PKS telah kehilangan kader terbaiknya'.





Kawan-kawan,
tarik nafas sebentar dan renungkan sejenak.
Kalau seandainya Ende wafat saat aktivitasnya menolong korban banjir, seperti kawanku yang terseret ombak air laut saat mencoba menolong temannya di Anyer, PKS mungkin berhak untuk bangga. Tapi Ende wafat saat sedang menjalani pelatihan yang sedang kalian jalankan, wahai PKS!

Saya, sebagai orang Islam yang juga mengenal Ende, jauh sebelum dia menjadi aktivis kalian, yakin bahwa Ende seorang syahidah, wahai ustadz2 PKS! Tidak ada keraguan dalam diriku. Tetapi tidak adakah muncul rasa malu dan bersalah dalam diri kalian, telah menyebabkan seorang wanita -- yang kalian sebut sebagai kader terbaik kalian di pemakamannya, meninggal? Apakah ada cerita Rasulullah melatih sahabat-sahabatnya dan menyebabkan sahabatnya tewas sebelum maju berperang?

Jika ada mahasiswa tewas dalam inaugurasi, ospek, atau kegiatan apapun di kampus, di akademi, pastilah langsung menjadi kehebohan dan tuntutan-tuntutan pun berdatangan dari keluarga korban. KALIAN BERUNTUNG, wahai PKS! Kalian beruntung karena keluarga kawan saya adalah orang-orang yang kuat. Kakaknya masih sanggup mengumandangkan azan walau kudengarkan ada isak di dalamnya. Ia masih bisa tersenyum dan bercanda melihatku di pemakaman adiknya. Mereka tidak akan menuntut kalian.

Tapi itu bukan alasan untuk kalian untuk mengelak dari kewajiban intropeksi. Allah Maha Menyaksikan dan sungguh, pujian-pujian kalian terhadap Ende sebagai syahidah, tidak akan menghapus kewajiban kalian untuk mempertanggungjawabkan kelak.

Lebih dari itu,
kenapa kalian jadikan pemakaman Ende sebagai ladang cuci otak? Saya mungkin kasar dengan mengatakan muhasabah ala kalian sebagai cuci otak, tetapi apa kata yang lebih pantas untuk mendeskripsikannya kepada khalayak umum bagaimana kalian mengubah rasa kehilangan menjadi sebuah propaganda pada aktivis-aktivis kalian untuk lebih aktif lagi, bagaimana kalian menakuti aktivis-aktivis kalian, bagaimana kalian mengubah sebuah suasana menjadi penuh tangisan?


Jujur saja,
saya mengenal Ende jauh sebelum dia menjadi aktivis.
Saya pernah tertarik pada Ende namun aku tak pernah mencobanya lebih jauh, karena aku tak mau merusak persahabatanku dengan kakaknya.

Aku pernah membayangkan, kelak Ende menikah dengan lelaki yang baik hati dan aku hadir di pernikahannya, menemani sang kakak yang sedang tersenyum bahagia untuk adiknya. Dan impian itu sekarang tak pernah ada. Dan mereka yang berbicara di hari pemakamannya, tak satupun yang menyebutnya sebagai 'Ende'. Semua menyebutnya, 'Lina', nama formalnya. Linawati.

Dan aku tak pernah membayangkan, pemakamannya akan membuatku mual, marah, dan ingin rasanya mengamuk mengusir semua penyelenggara.. biarkan keluarga dekatnya yang hadir, yang tulus mencintainya, yang tak akan membiarkannya menjadi arena cuci otak.




Selamat jalan, Ende.
Maafkan aku memalingkan muka dari makammu.
Engkau orang baik, nDe.
Aku yakin, amalmu tidak akan sia-sia.
Bukankah Allah Maha Menyaksikan, nDe?

5 comments:

cahyo said...

turut berduka mas..

dilLa said...

Ya, turut berduka

Atas perginya seorang muslimah dicintai bnyk orang
Atas kealpaan yang dilakukan kader PKS selama prosesi pemakaman

Sungguh, saya kecewa, marah, bahkan malu saat membacanya.

Mas Narpati menulisnya penuh emosi. Wajar. Mengingat adanya ikatan pertemanan.

Apakah ada sumber tulisan lain yg bisa jadi rujukan ttg kematian dan pemakan Ende, Mas?

dilLa said...

pemakaman, sorry

kunderemp said...

terima kasih, Mas Cahyo dan Dilla.

Dilla,
sayangnya,gak ada rujukan lain, termasuk dari situs PKS maupun PKS Jakarta (terakhir kucek pagi ini, 21 Maret 6.07 pagi WIB).

Satu-satunya berita duka adalah PKS berduka terhadap wafatnya ketua DPD PKS Banyuwangi dan ketua DPD PKS Pangkep pada 13 Maret 2007.

Tetapi yang bikin benar-benar kesal adalah mereka membuat pemakaman Ende (nama resminya Linawati bin Aceng) menjadi arena muhasabah.

Kenapa mesti di pemakaman? yang terdengar seperti raungan? Bukankah Islam melarang meraung saat kematian?

keong prancis said...

narpati maafkan aku ya kalau aku baru kasih tau kabar itu paginya.