Monday, June 04, 2007

Financial Hub itu apa?

nis.ca.ya adv tentu; pasti; tidak boleh tidak

Judul artikel yang ditulis Yanuar Rizki pada Kompas 21 Maret 2007 lalu berjudul Keniscayaan "Financial Hub" dalam Teknologi Informasi. Artikel tersebut kubaca pada malamnya, karena ibuku, Edratna, iseng-iseng mengajakku diskusi soal topik tersebut (susah yah punya ibu iseng.. ada aja topik buat dibicarakan, biarpun itu bukan bidangku). Artikel blog ini sebenarnya kurang lebih apa yang kubahas di malam itu disertai beberapa tambahan pikiran baru (dan juga pengurangan sih.. ) setelah mencoba membaca ulang dan perlahan artikel. Pemicu sebenarnya adalah komentar kurang ajar yang kutulis di blog teman, Anjar Priandoyo dan kemudian ditanggapi oleh penulis aslinya.

"Financial Hub" itu mahluk apa, Rek?
Jujur saja, itu yang pertama kali terlintas saat membaca artikel. Setiap kali menemui istilah asing di sebuah buku, artikel, atau media apapun, maka definisi kata menjadi, tidak boleh tidak, sangat penting. Dengan gaya sok tahu 'ala Kunderemp, aku mencoba menerka:
Financial = tidak perlu dipertanyakan lagi
Hub = penghubung, pusat, titik yang menghubungkan, node. (Silakan lihat Wikipedia)
Dengan salah satu paragraf pembuka:
Lee Hsien Loong (PM Singapura), saat masih menjadi Deputi Perdana Menteri, kepada Parlemen negaranya (12 Oktober 1998) menyatakan, "Singapore is strengthening its position as a financial hub in the region."
maka saya berasumsi financial hub adalah "posisi atau peran yang dipegang oleh suatu daerah atau institusi sebagai pusat jaringan finansial yang terpercaya dan andal". Sekilas melihat ulang di Google sebelum menulis ini, tampaknya pengertian awal saya benar. Untuk sementara kita anggap pengertian saya ini sebagai Definisi Pertama Financial Hub. Kemudian saya cek lagi paragraf-paragraf berikutnya:
Apalagi, tidak terdapat isu financial hub dalam 16 butir Indonesia ICT Flagship.
Masih belum bertentangan dengan Definisi Pertama. Tetapi kalimat selanjutnya:
Kalau rencana dan harmonisasi sektoral saja tidak tampak, bagaimana kita berharap mampu bersaing?
Sudah membuat saya mulai curiga bahwa Definisi Pertama yang saya buat salah. Kecurigaan saya diperkuat oleh pernyataan-pernyataan berikutnya
Karena sifatnya yang IT based, financial hub menjadi infrastruktur dasar perdagangan internasional.
Tampaknya Financial Hub, adalah sebuah sistem berbasis elektronik, bukan sekedar posisi atau peranan daerah atau institusi. Mencoba mencari kalimat-kalimat kata kunci lainnya:
Untuk pasar riil, peranan financial hub sebatas peralihan dana dari pembeli ke penjual, sedangkan pengiriman barang tetap menggunakan pelabuhan.

Sedangkan untuk pasar keuangan, peranan financial hub memiliki dua agenda strategis, yakni jembatan fungsi intermediasi (chanelling, pasar perdana), mempertemukan dunia usaha (sektor riil) bertemu dengan pemilik dana (investor), tanpa dibatasi rigiditas birokrasi lembaga keuangan (batas negara). Dan kedua, menjadi jembatan perdagangan surat berharga (bursa).

....

Perkembangan internet dan sistem keamanannya telah membawa isu financial hub sebagai infrastruktur kunci daya saing negara. Betapa tidak, dengan internet, yang diperlukan hanyalah komunikasi antarpelabuhan sistem elektronik (protokol) lembaga keuangan.

....

Kalau kita kaji, isu financial hub tidak diusung oleh Amerika Serikat, padahal di negeri tersebutlah pusat pasar keuangan dunia serta pebisnis IT.

....

Membangun mimpi Amerika sama dengan investasi IT yang besar di masing-masing perusahaan keuangan. Itulah titik awal terminologi financial hub sebagai institusi bergerak di teknologi infrastruktur keuangan.

Prinsipnya sederhana, hanya satu perusahaan yang membangun infrastruktur lalu dipakai ramai-ramai. Hal itu dikarenakan konsep jaringan data warehouse memungkinkan pengaplingan area IT antarinstitusi secara "ngontrak".

....

Konsep itu menjadi sentral, setiap negara berambisi memiliki institusi financial hub, dengan keinginan kuat agar institusi keuangan di negara lain dapat pula menjadi "penyewa".

Maka, aku kembali meninjau asumsiku dan membuat Definisi Kedua Financial Hub, yakni "Financial Hub adalah sistem finansial berbasis elektronik di mana satu atau lebih institusi berperan sebagai pemilik infrastruktur dan kemudian dimanfaatkan oleh jaringan atau institusi lain secara ngontrak".

Paragraf-paragraf setelahnya kemudian membahas mengenai masuknya asing ke dalam perusahaan-perusahaan telekomunikasi seperti Indosat dan bank-bank. Namun empat paragraf terakhir, jujur saja seperti meloncat. Misalnya:
Melakukan liberalisasi financial hub tanpa membangunnya hanya akan mengakibatkan semakin jauhnya fungsi intermediasi bagi akses kegiatan ekonomi rakyat kebanyakan.
Apa hubungannya akses kegiatan ekonomi rakyat kebanyakan dengan financial hub? Siapa yang melakukan financial hub?
Kita ambil kasus ekstrimnya, seandainya, detik ini juga, hubungan internet terputus dari luar negeri, apakah kegiatan ekonomi rakyat kebanyakan akan terpengaruh? Mungkin iya, tetapi tidak akan fatal bila dibandingkan dengan kehabisan BBM.

Loncat satu paragraf,
Bank yang mayoritas sudah dimiliki asing tidak akan memikirkan akses rakyat kecil dari Sabang sampai Merauke ke arus modal riil. Hal itu terlihat dari topangan laba perbankan (2002- 2006) bersumber dari fee based income dan treasury (financial hub ekonomi perkotaan).
Sebelum dimiliki asing, berapa bank yang memikirkan akses rakyat kecil dari Sabang sampai Merauke? Berapa bank yang memikirkan akses rakyat kecil? Coba lihat nama-nama bank yang disebut: BII, Danamon, NISP, Buana, Niaga, Lippo. Sejauh mana penetrasi bank-bank tersebut sampai ke penjuru daerah?

Lebih membingungkan lagi untuk saya adalah paragraf penutupnya:
Bagaimana dengan kontrol lalu lintas devisa? Wow, ternyata kita termenung dan berpikir, itulah sebabnya financial hub menjadi agenda strategis karena ujungnya menyangkut kedaulatan negara!
Harus saya katakan, saya harus menyatakan bahwa kali ini saya sama sinisnya dengan Anjar Priandoyo sementara saya berbeda pendapat dengannya tentang tulisan Pak Dimitri Mahayana. Beberapa pikiran saya tentang artikel ini:

1. Financial Hub = Monopoli?
Yanuar Rizki mengaitkan topik Financial Hub ini dengan pembelian Indosat dan Lintas Artha. Dengan penjelasan-penjelasan sebelumnya bahwa siapapun yang jadi financial hub akan meraih keuntungan sebesar-besarnya. Hal ini mengesankan sebuah monopoli. Uniknya, seperti yang disebutkan Yanuar Rizki pada paragraf-paragraf awal, Amerika Serikat tidak mengusung Financial Hub dengan alasan semua penduduk dan dunia usaha di negara tersebut telah terkoneksi di Internet. Dengan begitu, ada isu lain yang bisa menjadi alternatif yaitu melepas monopoli.

Maka, alih-alih meratapi semua fakta itu (yang disebut Anjar Priandoyo sebagai upaya meneguhkan diri sebagai Pengamat Nasional dengan mengumbar fakta pahit), seharusnya penetrasi komunikasi hingga ke pelosok menjadi isu lebih penting.

2. Pengaruh Pada Rakyat Kecil?
Jika seandainya saat ini tiba-tiba PLN bangkrut, mungkin akan banyak huru-hara di sana sini. Tetapi bila seandainya Indosat hancur, apakah akan ada kesulitan pada rakyat kecil? Kalau saya jelas iya, karena saya menggunakan ISP Indosat di sini. Tetapi itu bukan akhir dunia untuk saya. Bank-bank yang disebut oleh Yanuar Rizki, setahu saya bukanlah bank-bank yang sampai menjangkau rakyat kecil hingga ke pelosok, kecuali Danamon mungkin. Satu-satunya yang mungkin benar-benar menjangkau adalah ATM Bersama yang digunakan bank-bank BUMN. Tetapi perlu disadari bahwa, bank-bank tersebut sudah ada sebelum ATM Bersama ada.

Sekali lagi, kata kuncinya adalah monopoli. Dan monopoli berbasis telekomunikasi belum mempengaruhi rakyat kecil secara keseluruhan karena penetrasinya masih kecil. Masih sangat sedikit rakyat yang punya akses ke telekomunikasi. Bank-bank yang di daerah pun, banyak yang tidak tergantung pada telekomunikasi dan transaksi masih dilakukan secara lokal.

3. Unsur yang Terlupakan
Yanuar Rizky begitu bersemangat bercerita tentang financial hub yang menurutnya begitu vital sampai ia melupakan satu unsur, bidang Hukum. Membuat Financial Hub tidak bisa semerta-merta dilakukan oleh pemerintah hanya dengan mengatakan 'Ptah!' atau 'Kun Fayakun'. Bahkan seandainya semua infrastuktur sudah kita miliki, Indosat sudah dimiliki kembali oleh Pemerintah, tidak ada jaminan akan terbentuk financial hub tanpa ada dukungan dari peraturan-peraturan yang ada. Seperti yang disebut seorang manajer dana berbasis di Singapura menyikapi berita niat Jepang mengukuhkan kembali sebagai global financial hub yang tertera di YahooNews, "Building buildings doesn't create a financial system. Japan has an unfavourable tax regime both for financial products and the individual. The overall operating environment in Japan is unfavourable because there is a deep suspicion of capitalism".

Bagaimana dengan kita?
Halah...
Transaksi ekonomi berbasis elektronik saja gak jelas keabsahannya dalam hukum kita. Masih menunggu nih, kapan RUU ITE kelar dibahas.


Sekarang begini deh, Mas Yanuar Rizki,
Mas bilang pada saya bahwa sulit menyenangkan semua orang dengan batasan 800 kata dan alasan yang sama mas pergunakan menjawab ibu saya, Edratna, tentang keterbatasan menjelaskan financial hub.

Dengan memohon amat sangat,
salahkah apa tulisan saya di atas apa yang saya tangkap dari tulisan Mas?

hormat saya,
Kunderemp "An-Narkaulipsiy" Ratnawati Hardjito a.k.a
Narpati Wisjnu Ari Pradana


(sesuai tanggapan Yanuar Rizki di blog Anjar yang mengaku mudah dihubungi, seusai memposting di blog, saya akan segera mengirim e-mail ke beliau)

3 comments:

Anonymous said...

eh gw gak kepengen komen ttg finansial hub, panjang banget tulisannya :P

cuman mo ngomong, itu emak kandung elu ya, canggih amat ngeblog segala he3x *gak penting*

~syntia

edratna said...

Wahh ..Syntia, makasih pujiannya.

Jadi wanita zaman sekarang memang tetap perlu mengikuti perkembangan dunia luar..dan thanks untuk anak2ku, yang mendorong ibunya untuk menulis di blog...dan ternyata menarik sekali....diantara waktu sebagai ibu rumah tangga, membereskan keperluan anak dan suami, menjadi pengajar prof di Lembaga Pengembangan perbankan, yang kadang harus bepergian keluar pulau untuk mengajar, meninggalkan anak...syukurah anak2 memahami kegiatan ibunya, yang berniat mendidik orang agar bisa membantu mengembangkan sektor riil.

Hehehe...kok komentarnya jadi bukan tentang financial hub ya....??? Sebetulnya tentang mengembangkan sektor riil, saya setuju pendapat pak Yanuar kok...karena latar belakang pekerjaan saya kan emang disitu.

-Yanuar Rizky- said...

Waduh Komentarnya Banyak dan panjang ya :) ..

Gini dulu deh, sebagai orang yang berangkat dari Dunia Komputer, tentu Mas Kunderemp tahu yang namnya switching (router), orang menyebutnya juga hub.. Karena, dari hardware itu, ada port untuk "colok" kabel untuk masuk ke jaringan.. Atau, kalau yang pakai Wi-Fi tetap ada port juga kan.. Port itu adalah koneksi untuk masuk ke sebuah sistem bersama..

Hub jelas maksudnya adalah sebuah terminal yang bisa menghuungkan banyak sub sistem ke sebuah sistem besar.. Nah, antar sub sistem itu kemudian dapat berkomunikasi (switcing)..

Sekarang Soal Financial, saya kan jelaskan sedikit di artikel saya, ada fungsi treasury (fungsi di bursa), ada fungsi transaksional (misalnya untuk tranfer dan bayar listrik katakan saja), dan ada fungsi intermediasi (kredit, yaitu menyalurkan dana ke yang membutuhkan dana / Sektor Riil).

Saya Juga jelaskan karakteristik penyelesaian dana, sudah bukan TUNAI, dengan sistem Rekening.. Nah, fungsi finansial tersebut perlu hu antara su sistem ke su sistem lainnya.. Jadi, pengertian Financial Hub, ya sebuah institusi keuangan (sistem finansial) yang dapat melakukan transaksi (komunikasi) dengan seluruh fungsi keuangan, baik itu treasury, transaksional dan intermediasi antara para pihak yang membutuhkannya (bisa antar individu, perusahaan, dan apapun juga)..

Gini Mas, kadang-kadang kita tidak perlu terlalu text book oriented untuk mengetahui sebuah definisi, karena cek di google akan banyak orang mendefinisikan dengan banyak cara :)..

Nah, sekarang apa yang saya maksud dengan Financial Hu dari sisi negara, bayangkanlah hub (router) yang bisa mengkonekan seluruh protokol komunikasi dari semua intitusi keuangan untuk transaksi di Indonesia.. maka, anda akan ketemu yang disebut National Switching Gateway.. Itulah financial Hub dalam artian infrastruktur, sebuah sistem berbasis IT yang ngatur soal colok-mencolok kabel di dunia finansial.. Itulah yang saya maksud dengan target Financial Hub sebagai persaingan antar negara, karena anda akan berada di TENGAH dan anda akan atur HUB itu akan mengalir kemana..

Sampai disini, semoga anda bisa paham ada persoalan financial institution (yang ngatur aplikasi dan protokol komunikasi finansial by desain hukum bisnis) dan ada persoalan IT Infrastructure (yang memiliki jaringan dan hardware yang menciptakan "router" hub itu sendiri)..Nah, anda bisa liat kan kenapa Singapura dan Malaysia beli Bank dan perusahaan Infrastruktur Telekomunikasi..

Kita buat simpel, kalau anda usaha router yang bisa jadi RT-RWNet atau LAN di area Kantor. Ada kan biaya sewa "nyolok" kabel untuk ambil bandwidth di Router tersebut.. gitu juga kalau anda punya bisnis National Financial Hub, maka akan ada fee setiap switching ke hub tersebut..

Nah, apa kaitan ama sektor riil, di atas, semoga anda tidak miss penjelasan saya, bahwa hub juga mengkomunikasikan pencari dana (sektor riil) dengan institusi keuangan yang memiliki likuiditas dana dari orang nabung.. Institusi Financial Hub yang dimiliki Singapura dan Malaysia tidak akan mikir ini, karena yang dia kejar fee penggunaan financial hub yang mereka miliki.. ini yang saya tulis dalam artikel saya financial hub perkotaan (jasa transaksional dan treasury).. untuk gerakan hub sampai ke intermediasi, harus jadi strategi negara.. Itu, kritik saya terhadap 16 Butir ICT Flagship dan Arsitektur Perbankan.. itu yang saya maksud harmonisasi sektoral, karena anda tidak akan pernah dapat menyentuh persoalan rakyat kecil (intermediasi) dengan TIDAK MEMILIKI INFRASTRUKTUR, BAHKAN RENCANANYA PUN TIDAK ADA.. Bung, ini yang harus kita pikirkan sama-sama..

Soal Monopoli, ya itu terjadi. Dan poin saya bukan disitu, karena kita tidak punya master plan yang jelas, akhirnya kita hanya melakukan hayalan internet dan hayalan finansial.. yang dibutuhkan negeri ini, INTERMEDIASI, dan itulah sebab infrastruktur Finansial Hub harus ada.. soal Lalu Lintas Devisa, jelas anda pun tahu kita pernah kena krisis moneter tahun 1997, national financial hub adalah tools bagi control lalu lintas devisa, karena audit track switching lalu lintas finansial ada disana..

Gitu aja...Sukses selalu.. dan salam untuk Ibunya...