Showing posts with label iseng. Show all posts
Showing posts with label iseng. Show all posts

Tuesday, November 05, 2024

ANEKA RAGAM MEDITASI

 


Di beranda Facebook sedang ramai orang bahas meditasi karena ada ustadz yang konon ikut meditasi. Ramailah orang membahas dari perkara tasyabbuh sampai perkara apakah shalat itu meditasi.

Sebelum menyamaratakan meditasi, pahami dahulu bahwa meditasi itu ada banyak macamnya dan banyak motivasinya.

Dari segi postur tubuh, ada yang duduk, ada yang berdiri, ada yang sambil berjalan, dan bahkan ada yang dengan berbaring. 

Ada meditasi yang pakai mantra, ada yang meditasi pakai model renungan -- misal mengingat kematian, ada juga meditasi yang mengamati sensasi yang dialami. Benar, tidak semua meditasi itu pakai mantra.

Ada yang pakai alat bantu seperti manik-manik, genta, suara dengan frekuensi tertentu. Ada juga yang tidak pakai alat bantu sama sekali. 

Dari sisi motivasi pelaku, ada yang keagamaan, ada yang ingin dapat kesaktian, ada yang ingin membuat diri lebih sehat, ada yang ingin dapat pencerahan, ada yang ingin lebih kreatif, ada yang ingin menenangkan emosi, ada juga yang ingin mendisiplinkan pikiran. Bahkan ada juga yang meditasi untuk dapat  pinjaman kuliah sekaligus peluang bekerja.

Keanekaragaman praktik meditasi ini kadang juga membuat praktisi berbeda pendapat. Misalnya saya pernah menjumpai seorang praktisi meditasi dari sebuah agama di Asia berdebat dengan praktisi meditasi sekuler di Barat terkait apa yang harus dicapai oleh meditasi.


Terkait ilustrasi: Pernah ada kawan Ethiopia di Amerika yang bertanya, "Nar, do you understand what would we get when we meditate?". Saya jawab dengan bercanda, "Do you know Star Wars? Do you see the Jedi meditate? Yes, they want us to be part of Jedi temple". Ia terkejut, "Holy sh**. Like Skywalker!".

Tentu saja saya bercanda. Bagaimana lagi saya harus menjelaskan sesuatu yang sangat Asia ke orang Afrika selain lewat film. Ya, saat itu kami meditasi agar dapat pinjaman dana untuk kuliah.


Wednesday, July 28, 2021

Berapa Banyak Kematian Yang Bisa Ditekan Oleh Program Vaksinasi ?

Minggu lalu, saya sempat stress karena kawan ibu saya, sudah dua kali dapat vaksin, wafat karena Covid dengan komorbid jantung. Waktu sejak gejala sesak mulai muncul hingga wafat cukup cepat, hanya sekitar 4-5 hari.

Namun saya dapat infografis vaksinasi terinfeksi di Jakarta (yang sampai sekarang saya gak tahu sumbernya tetapi ada siaran pers Kominfo[1] tanggal 22 Juli yang mengonfirmasi sebagian datanya) dan saya penasaran membandingkan dengan data kasus [2] untuk periode di infografis tersebut.



Siaran pers Kemkominfo mengatakan "Case Fatality Rate atau CFR Jakarta bergerak di sekitar angka 1.7% pada kasus sebelum divaksin" namun angka ini sebenarnya adalah angka CFR pada tanggal 11 Januari 2021. 

Jika kita membatasi hanya pada pasien sejak tanggal 12 Januari hingga 8 Juli, maka sebenarnya terjadi penurunan CFR yakni 1.35% sementara CFR yang tidak divaksin pada periode itu adalah 1.39%. Jika yang digunakan adalah data akumulasi (dari tanggal 2 Maret 2020 hingga tanggal 8 Juli) maka CFR-nya adalah 1,46%. 

Saya memakai angka CFR tidak tervaksin yang paling kecil saja, yakni 1.39%. Ternyata tetap saja, yang divaksin (dosis 1) sudah terjadi penurunan hingga 0.33%. 

Sepintas angkanya kecil, tetapi kalau selisih persentase ini dikalikan dengan populasi Jakarta (anggaplah 10 juta [3]), maka jumlah jiwa yang diselamatkan seandainya semua tervaksin bisa lebih dari 100 ribu.  Perhitungan kasar main-main yang saya lakukan ini baru dengan Sinovac (dengan sebagian kecil Astrazeneca dosis 1) dan tanpa kebijakan PPKM[4].

Benar, bahwa ada kasus-kasus kematian walaupun pasien sudah divaksin lengkap. Juga benar bahwa variant baru membuat serangan semakin dahsyat. Walaupun begitu, menghakimi bahwa program vaksinasi tidak bekerja tidaklah tepat.  Ada hal-hal yang perlu diperbaiki tetapi sebenarnya program vaksinasi sudah menunjukkan manfaat.


Catatan

[1] https://www.kominfo.go.id/content/detail/35902/siaran-pers-no-249hmkominfo072021-tentang-menkominfo-laporan-gubernur-dki-jakarta-buktikan-vaksinasi-signifikan-tekan-angka-kematian/0/siaran_pers 


[2] diperoleh dari siaran umum KawalCovid https://kcov.id/daftarpositif tetapi sebenarnya mereka mengambil dari pengumuman Satgas yang ada di twitter BNPB  ( https://twitter.com/bnpb_indonesia


[3] https://jakarta.bps.go.id/pressrelease/2021/01/22/541/jumlah-penduduk-hasil-sp2020-provinsi-dki-jakarta-sebesar-10-56-juta-jiwa.html


[4] PPKM darurat mulai tanggal 3 Juli. Data sampai tanggal 8 juli. Selisih 5 hari harusnya tak cukup signifikan dibandingkan data nyaris lima bulan. 

Saturday, February 02, 2019

Laporan Percobaan Pemasangan Foto Habib Rizieq di Media Sosial Facebook





Berawal dari percobaan Pak Budi Rahardjo pada tanggal 31 Januari siang hari, menguji apakah benar foto Habib Rizieq dilarang di media sosial seperti Instagram  dan Facebook.

Sementara posting beliau di Instagram selamat, beliau melaporkan pada pukul 18.40 posting di Facebook telah dihapus.

Tentu saja laporan beliau membuat saya tertarik untuk mengulangi percobaan serupa. Maka pada hari yang sama pukul 22.42, saya mencomot foto dari Detik dan memasangnya di Facebook. Di hari yang sama dan di waktu yang berdekatan, kawan Risky Pratama juga melakukan hal yang sama tetapi menggunakan foto berbeda.

Menggunakan gambar yang sama, tiga kawan melakukan hal yang sama antara lain:
1. Andre Tampubolon dengan pengaturan hanya untuk dilihat oleh kawan pada tanggal 31 Januari pukul 23.23
2. Sagi Arsyad dengan pengaturan hanya untuk dilihat oleh kawan pada tanggal 1 Februari pukul 09.16.
3. Agusta Firmansyah dengan pengaturan bisa dilihat umum, pada tanggal 1 Februari pukul 08.19


Pada hari Jumat tanggal 1 Februari pukul 11.25, kawan Risky melaporkan dihapusnya foto Habib Rizieq oleh Facebook karena tidak mengikuti Standar Komunitas Facebook sementara foto yang saya pasang masih selamat. Risky mengeluarkan hipotesa bahwa foto saya selamat mungkin karena ada watermark Detik.

Setelah itu,
rekan Nur Iswantoro juga akhirnya melakukan uji coba yang sama yakni dengan foto varian berbeda yakni lukisan Habib Rizieq yang duduk di kursi. Foto tersebut langsung dihapus oleh Facebook dalam waktu kurang dari 20 menit. Saya sendiri sempat menyebarkan tautan link foto di laman saya ke sejumlah grup WA agar kawan-kawan saya melaporkan foto tersebut namun ternyata sampai berjam-jam kemudian foto tersebut masih selamat.

Rekan Reza Lesmana dalam komentar di laman Andre berkomentar bahwa mungkin posting saya dan Andre Tampubolon (dan juga Sagi Arsyad dan Agusta Firmansyah) tidak menggunakan gambar yang sama seperti yang dicoba oleh Pak Budi Rahardjo.

Maka melalui laman Risky, pada tanggal 1 Februari pukul 15.05 saya bertanya ke pada Pak Budi Rahardjo sumber gambar yang bisa saya coba untuk posting ulang. Pak Budi memberikanku tautan ke instagram beliau. Maka pada pukul 15.10, saya memasang uji coba kedua yakni foto yang sama yang digunakan oleh Pak Budi, tanpa melalui penyuntingan. Hingga pagi ini, foto tersebut belum dihapus oleh Facebook setelah melalui 14 jam.

Kesimpulan saya,
penghapusan foto dari akun Pak Budi, Risky, maupun Nur Iswantoro bukanlah hasil dari algoritma pengenalan foto  belaka.


Sejumlah variabel yang belum dicoba:
1. pemasangan foto oleh saya, Sagi, Andre, maupun Agusta tidak menyertakan nama beliau ataupun singkatan nama. Walau demikian, foto yang dipasang oleh Nur Iswantoro juga tidak menyertakan nama;

2. saya hanya meminta kawan-kawan melaporkan foto pertama tetapi belum mencoba meminta kawan-kawan melaporkan foto kedua yang identik dengan foto yang digunakan eksperimen Pak Budi;

3. belum ada pemetaan jumlah teman dan follower dari akun yang posting fotonya dihapus maupun yang posting fotonya selamat;

4. belum ada pemetaan jumlah laporan yang diterima oleh Facebook atas posting foto tersebut. Sayangnya dalam laporan penghapusan yang diterima pengguna, tidak ada keterangan berapa akun yang menyatakan foto tersebut melanggar Standar Komunitas Facebook.


UPDATE tanggal 4 Februari 2019
Pada tanggal 3 Februari 2019, gambar HRS sampel kedua (yang sama dengan yang digunakan Pak Budi) akhirnya diturunkan paksa oleh Facebook. Penurunan paksa terjadi antara pukul 10 siang hingga pukul 4 sore. Screenshot gambar terakhir yang saya miliki adalah pukul 8 pagi namun hingga pukul 11, saya masih bisa mengakses Facebook tanpa dipaksa login ulang dan tanpa pemberitahuan apapun.





Sementara itu, Endang Setio pada tanggal 2 Februari pukul 14.57 ikut melakukan percobaan dengan memasang gambar Habib Rizieq Shihab deangan gambar yang sama seperti yang dilakukan pukul Pak Budi dengan penyetelan umum. Hingga saat ini (4 Februari pukul 08.30), gambar tersebut masih bertahan.

Di saat yang serupa, Riyogarta P juga memasang foto Habib Rizieq yang sama namun sekitar 28 menit kemudian foto tersebut diturunkan paksa. Ia melaporkan pada tanggal 2 Februari pukul 15.52.


SUMBER-SUMBER:

Gambar Habib Rizieq di instagram Budi Rahardjo
https://www.instagram.com/p/BtP8M9vBfdy/

Laporan dari Pak Budi Rahardjo bahwa posting foto sebelumnya dihapus.
https://www.facebook.com/budi.rahardjo/posts/10156065888131526

Laporan dari Risky Pratama
https://www.facebook.com/photo.php?fbid=2542722765744534&set=a.584579744892189&type=3&theater


Posting uji coba saya 31 Januari pukul 22.42 (alias sekitar 1 hari 7 jam lalu)
https://www.facebook.com/photo.php?fbid=10156166147984226&set=a.178999514225&type=3&theater

Posting uji coba kedua yang saya lakukan dengan foto dari instagram,
tanggal 1 Januari 15.10 (alias 14 jam lalu)
https://www.facebook.com/photo.php?fbid=10156167981184226&set=a.78614844225&type=3&theater

Posting uji coba Andre Tampubolon tertanggal 31 Januari pukul 23.23 (alias 1 hari 6 jam lalu)
https://www.facebook.com/photo.php?fbid=10205394869307223&set=a.1247430841926&type=3&theater

Posting uji coba Sagi Arsyad tertanggal 1 Februari pukul 09.16 (alias 20 jam lalu)
https://www.facebook.com/photo.php?fbid=10216381707348849&set=a.2262389552801&type=3&theater

Posting uji coba Agusta Firmansyah tertanggal 1 Februari pukul 08.19 (alias 20 jam lalu)
https://www.facebook.com/photo.php?fbid=10216680913309013&set=a.1180044655057&type=3&theater


Posting uji coba Endang Setio tertanggal 2 Februari 14.57 (alias 1 hari 16 jam lalu)
https://www.facebook.com/photo.php?fbid=10217412543363632&set=a.2041228508440&type=3&theater

Posting laporan Riyogarta P tertanggal 2 Februari 15.52
https://www.facebook.com/riyogarta/posts/10216518875417704


Tuesday, June 20, 2017

Metamorfosis Kunderemp

Dahulu, di situs lama, saya sempat menampilkan foto-foto perubahan dari tahun ke tahun.
Karena situs tersebut sudah menghilang,
sekarang saya menampilkan kembali perubahan wajahku dari tahun ke tahun.



Kelas 1 SD (1988)
Masih imut-imut, belum nakal.

Kelas 5 SD (1993)


Saya malah lupa, kenapa saya punya foto ini.

Kelas 6 SD (1994)
Badan saya menggemuk cukup drastis pasca sunat.

Kelas 2 SMU (1998)

 

Kelas 3 SMU (1999-2000)


 Foto yang kanan diambil awal tahun 2000.

Universitas Gadjah Mada (2000)



 Hanya dalam waktu 6 bulan, berat badan saya berkurang dari 60 kg menjadi 48 kg (turun 12 kg)

Universitas Indonesia (hmm.. 2003? 2004?)

Berat badan mulai normal lagi.

Setelah kembali dari Bali (hmm.. 2012? 2013?)


Foto Terakhir ( 2017 )



Sunday, June 11, 2017

Correspondence between Don Rosa and I



A decade ago, I bought Life and Time of Scrooge McDuck Companion by Don "Keno" Rosa, published by Gemstone Publishing. One of the story was The Cowboy Captain of Cutty Sark. While the story itself was very entertaining, I couldn't help but notice that Keno made a mistake in naming his character.

Inspired by Q&A in that book, I sent e-mail to advise him about the character name and ironically, it made me do a little research by myself.

My first email was sent on December 28, 2006:

Dear Keno,
I hope you still have this e-mail.

I'm your fans, even before knowing your name (Thanks to Surien, an employee of Gramedia Groups which published Donald Duck Comics in Indonesia.. She wrote an article about you in one of the magazines).

We, Indonesian Readers, have heard about "The Cowboy Captain of the Cutting Shark", the told of Scrooge McDuck's adventure in Java. Unfortunately the story have not been published yet in Indonesia.

Fortunately, I found illegal copies in internet a few months ago (but the sites had been taken down.. maybe Disney had suited the owner) and found "Life and Times of Scrooge McDuck Companion" in bookstores yesterday (and only one copy!).

Although you try to describe Java accurately, you still fail in some aspect.

Firstly, the most obvious mistake was the headband/headcover. We call it "blangkon" (you can find it in Google Images). If you want to repair it, you can do that by add some motives (we call it 'batik') in blangkon and ask the colorist to color 'blangkon' mostly in black or brown. It rarely colored in red.

Secondly, The name of Sultan Djokja was Hamengkubuwono. The current Sultan was Hamengkubuwono X and the Sultan in 1940s was Hamengkubuwono IX, then in the setting of your stories, it would be Hamengkubuwono VII or Hamengkubuwono VI (you should do more research). Mangkunegara was a duke in Solo and have nothing to do with Djokja.

But you were right describing rivalities between Djokja and Solo which still happened until now.. :lol:
My ex-girlfriend (now in Fairfield, Iowa.. sigh..) laugh when I showed her the story (the illegal copies found in Internet). She always proud of her trait from Solo. :p

Thirdly, Batavia is on the north, Krakatoa is on the the West of Java (not East of Java like a title of Hollywood movie) on Sunda trait, Madoera (Madura) is on the East of Java on Madura trait. Hence, if Sultan Solo went from Batavia to Madoera and Scrooge McDuck tried to after him, then they wouldn't pass Krakatoa. But most people won't realize the mistake.

Fourthly, you can write Madura instead of Madoera. It will be easily read by english reader (the "oe'" was old spelling, influenced by the Dutch, and pronounced as "u"). By the way, Karapan Sapi still exist today and of course, Sultan Djokja and Solo is not taking a part in the race. :p

Fifthly, Batavia was totally under Dutch Rule while both Sultan Djokja and Solo was limited to their town (Djokja and Solo was a city in Central Java -- nowadays Djokja was a province, separated from Central Java) while Batavia was a city on the north of West Java. I doubt one of them had a land or plain in Batavia in the past. Unfortunately, I cannot prove they didn't have.. :p

Six, although most of Javanese Muslim, the traditional rarely pronounced "Allah". They added "Gusti" (means Lord). Hence, instead of 
"Huh? What did you say? I can't hear anything since Allah yelled at me several minutes ago
you can add into:
"Huh? What did you say? I can't hear anything since Gusti Allah yelled at me several minutes ago "
It would be more sounding like Javanese. 


In the end,
regardless a few inaccuracies I found in the story, I enjoyed it! I really enjoy the fiction that 'car' was first build in Batavia (hey.. I live in Jakarta). Enjoy the fiction about traffic fine was first issued in Batavia.. woww.. :lol:

And you're right how Javanese (actually all people in Indonesia, Malaysia, Singapore) pronounced a two-adjective-noun word in reverse way.
longhorn = long (panjang) and horn (tanduk). But we will call them "tanduk panjang" which will be "hornlong" in english. :lol:


best regards,

Kunderemp Ratnawati Hardjito a.k.a
Narpati Wisjnu Ari Pradana
Jakarta, Indonesia.
And he responded quickly at the same day:


>>>> Firstly, the most obvious mistake was the headband/headcover. We call it "blangkon" (you can find it in Google Images). If you want to repair it, you can do that by add some motives (we call it 'batik') in blangkon and ask the colorist to color 'blangkon' mostly in black or brown. It rarely colored in red. 

I have virtually NO ability to tell the colorists even at the company I work for how to color my comics properly. And less ability than that to compel the colorists at all the other publishers around the world to color things as I wish.
I don't see anyone in the story with a headband, so you must mean the turban-type head covers? I can see they are drawn too tiny and wrinkled to show patterns, so I can see why I might have left such off even if I knew about it. But I can tell that I was looking carefully at some pictures to see how the turbans were wrapped properly -- I can see two distinctly different wrapping styles, and I recall copying all the costumes from photos of 1880's native costumes.


>>>> Secondly, The name of Sultan Djokja was Hamengkubuwono. The current Sultan was Hamengkubuwono X and the Sultan in 1940s was Hamengkubuwono IX, then in the setting of your stories, it would be Hamengkubuwono VII or Hamengkubuwono VI (you should do more research). Mangkunegara was a duke in Solo and have nothing to do with Djokja. 

Oh! I don't mind when people try to find errors in my work. In fact, I *like* it -- I certainly DO make errors and when I find out about them I can correct them in future editions. But PLEASE don't say I should do "more research"!!!!!!!! I already spend WEEKS of research on every story I do, all work that I do for only my own amusement and out of respect for the stories and the readers -- I get paid NO extra for all that additional work. And each story only shows you the very TIP of the "iceberg" of the research I've done since I end up using only about 2% of the reams of notes I make, most of which I never find a use for. In fact, that Java story may have involved more research than anything I've ever done short of my Templar treasure stories. It involved research into Java history and customs, volcano facts and Krakatoa history, and even contacting Dutch translators to help me write out newspaper headlines and background store names.
 I just went and found the notebook filled with hundreds of facts and notes that I wrote during my research for that story. I see that I got the names of the sultans, and their photos, from an 1890's traveler's memoir titled ON THE SUBJECT OF JAVA. I see that the book stated that during 1861-1892 the Sultan of Surakarta (Solo) was Pakubuwana IX. And during 1881-1896 the Sultan of Djokjakarta was Mangkunagara V. I see my notes say he was the "res. sultan in Batavia"... if that means "resident sultan" which is different than the main sultan, I don't know. I also am at the mercy of the correctness of the books I get my facts from. I personally don't know who was the Sultan of Djokja in 1882, but the book I got from the history library at the University of Louisville said it was Mangkunagara V. If that story is ever reprinted *again*, I will double-check that name. But it seems like you are not actually telling me that you know the name of the 1882 Sultan of Djokja. If you're IN Java, it's 10,000 times easier for YOU to find out that historical fact than it is for me. Can you please find a reference for me proving who was that 1882 sultan?
But PLEASE don't ever say I need to do "more research". 

>>>> Thirdly, Batavia is on the north, Krakatoa is on the the West of Java (not East of Java like a title of Hollywood movie) on Sunda trait, Madoera (Madura) is on the East of Java on Madura trait. Hence, if Sultan Solo went from Batavia to Madoera and Scrooge McDuck tried to after him, then they wouldn't pass Krakatoa.  
Of course, you are right. But my story obviously *needed* them to travel past Krakatoa. So that's the way they went. I can always think of several reasons why they did so that it wasn't worth mentioning in the story. Perhaps the sultan thought that prevailing winds would make it more difficult for a schooner to follow them in that direction. Perhaps they planned to make another stop on that side of Java that wasn't mentioned.


>>>> Fourthly, you can write Madura instead of Madoera. It will be easily read by english reader (the "oe'" was old spelling, influenced by the Dutch, and pronounced as "u").  

And I found that in 1882 it was commonly spelled as "Madoera" so that is what was important to me, not what spelling would be easier for a modern reader to pronounce.


>>>> Fifthly, Batavia was totally under Dutch Rule while both Sultan Djokja and Solo was limited to their town (Djokja and Solo was a city in Central Java -- nowadays Djokja was a province, separated from Central Java) while Batavia was a city on the north of West Java. I doubt one of them had a land or plain in Batavia in the past. 

What do you refer to here? "The King's Plain"? I don't know what translation of my story you are looking at, which is another *entirely different* problem! I have no control over how my stories are mis-translated around the world. "The King's Plain" was the large central city park in Batavia. My story did not say that it was land that belonged to one of the sultans. Apparently the translator of the version you read did not understand that "the King's Plain" was the name of a public park -- you mean he translated it as "the Sultan's land"? That was the mistake of the translator.
But wait -- you say you read this story in an American edition? So I don't know why you say that my story says that a sultan owned land in Batavia.


>>>> Six, although most of Javanese Muslim, the traditional rarely pronounced "Allah". They added "Gusti" (means Lord). 

Also in 1882? This would be rather difficult for me to have known. On the other hand, all of that dialogue would be "translated" for the reader from the original Javanese which was being spoken, so I'm not sure if an untranslated word like "Gusti" should be in that English version or not. But this is an interesting fact that I'll try to put into future reprints just to amaze another Java reader with my accuracy.
Thanks for writing! Virtually ALL readers assume that I'm simply making up all my history and authentic facts out of thin air like all the other writers & artists do. I am always pleased when someone notices the lengths I go to to TRY to get all my facts correct. I will check on the name of the 1882 Sultan of Djokja next time this story is reprinted by some publisher I have contact with.

After that, on the next day, I wrote

Dear Keno,

Yup.. You're right. It's easier for me to get the correct name.
My father have a list of Sultan Djokja.
(actually, even if my father didn't have it, I could asked my friend who lived in Djokja and got the name for you).

The Sultan of Djokja in 1883 was "Sultan Hamengkubuwono VII" and ruled between 1877 - 1921 and his real name (not important for comic, but for your curiousity) was Murtejo. 

(As I wrote before, the current Sultan of Djokja is Sultan Hamengkubuwono X and his real name was Herjuno Derpito)

Mangkunegara wasn't even lived in Djokja.  The traveler whose memoir you read probably had mistakenly thought Mangkunegara Palace was located in different city and concluded he was in Djokja.

I'm sorry for being rude.
I know it hard to had some history fact of my country, even in this internet-era.
(I used to edit some Javanese-history articles in wikipedia and I still feel the Javanese-related articles need to be edited).

Thanks for replying me..
Don't worry about the path of Sultan Solo's escaping, I didn't think about it in the first time I read. And you're right, you can explain it in many ways, so it is not important. (and I can't prove the Sultan of Solo [Pakubuwana IX] didn't experience Krakatoa... :smile: )

And relax,
by mentioning 'Batavia', 'Djokja', 'Solo', 'Pakubuwana', 'Mangkunegara', 'Karapan Sapi', and show  we know you had struggle to get facts for your story. (and one of my friends always humorously tell me) most of Indonesian doesn't know their own history.

And.. wow... you even drew a javanese rhinoceros with only-one-nose horn. If you were just ordinary comic-artist, you would probably drew the rhino with two-nose-horn.

Best regard,

Kunderemp Ratnawati Hardjito a.k.a
Narpati Wisjnu Ari Pradana
Jakarta, Indonesia.

However, Keno was not satisfied and asked again, on the same day.

>>>> The Sultan of Djokja in 1883 was "Sultan Hamengkubuwono VII" and ruled between 1877 - 1921  

I'm sure you are correct. But WHERE did this misinformation of the wrong name of "Mangkunagara V" AND wrong ruling date of "1881-1896" come from? Who is my "Mangkunagara V" and where and when did he rule, if he ruled anything?
(pause)
Okay.... I just plugged the name into Google and I found an entry that listed that name and ruling period under the heading of "Kerajaan Mangkunegara"... but I couldn't read any of the site's information (in Java-ese?). Can you tell me what "Kerajaan Mangkunegara" means? He was the Sultan of "Kerajaan"? Where is that?

And I answered in the same day

Dear Keno,

Kerajaan means "Kingdom". Raja means "King".
Kesultanan means "Sultanate". 
Keraton or Kraton means "Palace"
Pangeran means "Prince"

The structure of kingdom in Java after VOC came to Indonesia (added by some intrigue and strict protocol in Javanese history and culture) was a little bit confusing. 

Mangkunegara was an 'Adipati' and ruled 'Kadipaten Mangkunegaraan'. 
"Kadipaten" was (usually) an autonomous region inside a "Kerajaan" (Kingdom) but they had their own army.

I think we have to see the history of the first Sultan Solo, Sultan Djokja, and Mangkunegara to understand their relationship. 

Kesultanan SoloKesultanan Djokja, and Kadipaten Mangkunegaran was used to be a kingdom called Kesultanan Mataram. In 1755, after a war, it broke into two kingdom, Kesultanan Djokja (the first Sultan was Sri Sultan Hamengkubuwono I ) and Kasuhunan Solo (the first Sunan/Susuhunan/Sultan was Sri Susuhunan Pakubuwana III ).

Both Sultan and Sunan (Susuhunan) means the same thing and the same hierarchy. Kesultanan and Kasuhunan also means the same thing. 

In Solo or Surakarta case, both of them are interchangebly. Some people call the kingdom "Kesultanan Solo" or "Kesultanan Surakarta" while others call "Kasuhunan Surakarta" or "Kasunanan". Some people call the King of Solo as "Sultan Solo" while some others call "Susuhunan Solo" or "Sunan Solo". Note that "Kasuhunan" or "Kasunanan" only belong to Surakarta/Solo. Don't ask me why.. 

Back to the history,
Raden Mas Said or Pangeran Sambernyawa (the latter literally means "Prince of Soul Reaper"), a former ally of Hamengkubuwono I was unsatisfied with the division of Mataram. He attacked both Solo and Yogya. However, in 1757, he surrendered to Pakubuwono III, Sultan Solo. Then, witnessed by envoys from Hamengkubuwono I and VOC, his sovereignity was acknowledged by Pakubuwono III. 

However, Sultan Solo (and emissaries of Sultan Djokja and VOC) only acknowledge Pangeran Sambernyawa as Adipati which known as Mangkunegara I ( the complete title was Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Mangkunegara I  or abbreviated as KGPAA Mangkunegara I ) and his territory was called Kadipaten Mangkunegaran. 

Theoretically, Mangkunegara sovereignity compared to Sultan Solo should be just like a governor to president. However, probably due to political reason and the weakening of Kesultanan Solo, sometimes the Dutch treat Adipati Mangkunegara as the third king of Java (the other two was Sultan Solo and Sultan Djokja). 

You can read the complete history in Wikipedia Articles, Mataram Sultanate under the section "Division of Mataram".

The Kadipaten Mangkunegaran on the east of Solo. ( Djokja was on the south of Solo). 

I attached a map of Mataram (Kesultanan Solo, Kesultanan Djokja, Kadipaten Mangkunegaran, Kadipaten Pakualaman [it was a different story]) in 1830 from Wikipedian in Indonesian Language's Article: Kadipaten Mangkunegaran. 

Note the 1830 was the year after Java-War and the territory of Dutch ( Indonesian: Belanda) was expanded while the territory of both sultanate (Solo and Djokja) was reduced. Please, remember what I wrote before, that Kraton Mangkunegara (Mangkunegara Palace) was located in Surakarta (Solo). 

In conclusion,
answering your questions:
Yup.. Mangkunegara V had territory called as Kadipaten Mangkunegaran. And he was a ruler with a title KGPAA (Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya).

Could his territory be called as Kerajaan (Kingdom)? 
Theoretically, it couldn't. 

Let me translate a paragraph from Wikipedian in Indonesian Language: Kadipaten Mangkunegaran:

Penguasa Mangkunegaran, berdasarkan perjanjian pembentukannya, berhak menyandang gelar Pangeran (secara formal disebutKangjeng Gusti Pangeran Adipati Arya, mirip dengan Fürst di Eropa) tetapi tidak berhak menyandang gelar Sunan atau pun Sultan. Karena itu, penyebutannya sebagai kerajaan secara hukum tidak tepat.

The ruler of Mangkunegaran, according to the treaty which founded the region, had a right to assumed the title Pangeran/Prince ( formally called as Kangjeng Gusti Pangeran Adipati Arya, similar with Fürst in Europe ) but should not assumed the title Sunan and/or Sultan. Hence, calling the region as kerajaan (kingdom) was inaccurate. 


But practically, since Mangkunegara (from Mangkunegara I) had his own army, had power to rule autonomous region almost as wide as Kesultanan Solo, and the Dutch itself sometimes treat Mangkunegara as the third king of Java, it can be understand why some people called it Kerajaan Mangkunegara (Kingdom of Mangkunegara). 

(I've just edited an article in Indonesian Language Wikipedia which contained list of King of Jawa [Daftar Raja-Raja Jawa] -- replacing Kerajaan Mangkunegara with Kadipaten Mangkunegaran )

Dear Keno,
I hope I didn't bore you with long history. I hope it can clear who Mangkunegara V was.



regards,
Kunderemp Ratnawati Hardjito a.k.a
Narpati Wisjnu Ari Pradana
PS: Do you know any mailing list about Duckburg fans which you can recommend to me?

And I also attached a map of Central Javanese at that time



And he answered

>>>> I hope I didn't bore you with long history. I hope it can clear who Mangkunegara V was. Yes, NOW I know who Mangkunegara V was! He was the guy who IMPERSONATED the Sultan of Djokja and got the two bulls that $crooge had promised to the real Sultan whom he had never met in person! The Sultan of Solo's people never said anything -- they had heard that $crooge had brought the bulls for the S of D, as you see the "emitter" saying, but when they saw Mangkunegara V trying to buy them, the S of S decided to also try to get them. Note that the S of S never refers to the other as the S of D -- he knew that's not who it was and he assumed $crooge also knew it.
YES! (Whew... that was tough!)

And I laughed when I read the reply. I know I would get this kind of reply because I read similar reply about the same topic on the book I bought.

So I finally ended our discussion.

I couldn't answer anything but.. :laugh on loud:
No wonder I always laugh when I read your comic.

Nice..
You found another way to answer my critics.. :lol:

Thx for replying..

Narpati W.A. Pradana

And
Yes, thank you, Don Rosa for replying my e-mail.

By the way, The Cowboy Captain of Cutty Sark was finally published in Indonesia years after the correspondence ( I believe somewhere about 2009-2011) and the name of both sultan was censored and replaced by "Sultan Wetan" (Sultan of the East) and "Sultan Kulon" (Sultan of the West).

Thursday, March 24, 2016

Pengalaman Mencoba Blue Bird Gratisan Paska Demo anti-Uber

Semalam saya sengaja mencoba Blue Bird.

Pukul 20.35, saya mulai menunggu di halte BEJ yang menghadap ke arah Pacific Place. Antrian banyak dan taksi Blue Bird sangat jarang ada. Begitu lewat, rata-rata dengan lampu mati. Ada yang lampu nyala tetapi bahkan tidak menepi, kemungkinan karena sudah dipesan di tempat lain.

Pukul 21.10, saya mulai bergeser tempat menunggu, kini di Jalan Jenderal Sudirman, yakni di depan Plaza Bapindo. Masih sama, taksi-taksi Blue Bird nyaris semua lewat jalur cepat.

Pukul 21.19, ada taksi Blue Bird nyala dan menepi mengambil penumpang sebelum saya tetapi entah mengapa tidak jadi, lalu kemudian taksi tersebut menghampiri saya. Saya membuka pintu, sebelum duduk ditanya sopir, "mau ke mana Pak?", saya jawab "ke belakang Cilandak Town Square", dan sopirnya menolak, "Waduh, Pak, saya mencari yang searah dengan saya, sekalian pulang". Saya tutup dan saya hafalkan nomor taksinya,  CDJ 5190.

Dua menit kemudian, pukul 21.21, ada taksi Blue Bird menyala dan berada di jalur lambat dan kebetulan agak tengah. Saya mencoba agresif untuk memanggilnya dengan sengaja ke tengah jalan. Taksi tersebut langsung menghindar ke arah kanan dan berpura-pura tidak melihat saya. Saya cuma kesal dan iseng menghafal nomor taksinya, CYR 3060.

Akhirnya pukul 21.30, saya bergeser lagi ke arah halte bus TransJakarta Gelora Bung Karno (depan gedung CIMB Niaga). Setelah melihat banyaknya taksi-taksi Blue Bird kosong melompong melaju kencang di jalur cepat, saya putuskan memasang aplikasi My Blue Bird. Jaringan internet Indosat Ooredo di daerah tersebut cukup cepat sehingga tak ada kesusahan memasang aplikasi ini. Namun sayangnya, saat verifikasi nomor telepon, tampaknya ada kendala untuk server Blue Bird mengirimkan kode ke ponsel saya.

Pukul 21.35, akhirnya saya mencari call center Blue Bird di website resmi Blue Bird. Nomor yang pertama saya hubungi adalah 021-79171234 dan selalu terputus. Apakah ini nomor valid?

Pukul 21.37, saya mencoba nomor lain call center Blue Bird yakni 021-7941234 dan berhasil tersambung. Operator mengatakan dia akan mencoba mengarahkan taksi ke tempat saya menunggu.

Pukul 22.17, saya menelpon kembali call center Blue Bird. Mas-nya bilang bahwa memang masih belum ada yang bisa diarahkan ke tempat saya tetapi meminta saya bersabar menunggu 5-10 menit lagi.

Pukul 22.18, akhirnya salah satu taksi Blue Bird kosong ada di jalur lambat dan begitu saya memanggil ia, walau penuh perjuangan karena banyak motor di samping kirinya, berusaha menepi. Nomor taksinya, CD 6644. Saya tidak terkena biaya sama sekali menggunakan taksi ini walaupun argo menunjukkan bilangan 40ribuan.



Kesimpulan:
1. masyarakat kita memang menginginkan pelayanan semurah mungkin. Antrian taksi Blue Bird di Cilandak Town Square pukul 17.15 kemarin tiba-tiba panjang sementara tiada taksi Blue Bird yang ada di pangkalan maupun lewat TB Simatupang. Sopir taksi Blue Bird yang kemarin juga mengakui bahwa beberapa dari penumpangnya tidak pernah naik taksi sama sekali sebelumnya tetapi biasa naik angkutan umum massal;

2. Blue Bird perlu mendisiplinkan sopir-sopir yang memilah-milah penumpang. Saya penasaran, memangnya waktu pergantian shift Blue Bird sehingga pada pukul 21.19 saya ditolak diantar oleh sopir taksi karena "tidak searah perjalanan pulang"? Bukannya pukul 1 malam ya biasanya?

3. Tidak adakah tombol mematikan lampu jika seandainya taksi Blue Bird sedang dalam keadaan menerima pesanan? Saya cukup terganggu melihat banyaknya taksi-taksi kosong dengan lampu menyala tetapi tidak menarik penumpang.

4. Taksi Blue Bird juga perlu memperbaiki komunikasi dengan sopir terutama jika ada kebijakan mendadak. Misalnya, sopir yang mengantarkan saya, tidak tahu apakah komisi untuk dia nanti juga akan dikasih atau tidak karena belum ada kejelasan, yang jelas argo dinyalakan untuk bukti dia narik penumpang.

5. Dari ngobrol-ngobrol dengan sopir taksi (yang di hari demo kebetulan tidak narik maupun ikut demo karena mengurus KTP), pelaku penyerangan Gojek justru dimulai oleh sopir Bajaj. Sopir-sopir taksi sebenarnya tidak bermusuhan dengan Go-jek tetapi karena situasi panas dan provokator, akhirnya juga ikut.

Jadi konflik bukan sekedar taksi konvensional versus 'taksi aplikasi' tetapi antara pengemudi Bajaj dan ojek berbasis aplikasi.

Thursday, January 07, 2016

Shotcut Video Editing Review

Dari dulu pengen edit-edit video tetapi gak pernah berhasil.
Sempat mencoba Kino, Cinelerra, dan saya lupa apalagi tetapi biasanya masalahnya berkutat antara hal-hal berikut:
1. laptop gak kuat di masa itu;
2. tampilannya yang kurang intuitif menurutku, sukar kupahami;
3. aplikasi tak mendukung format sumber-sumber video yang ingin kugunakan

Kalau cuma menggabungkan dua video sih, bisa pakai Avidemux sebenarnya.

Nah,
karena demam Star Wars kemarin,
akhirnya pengen mencoba lagi.

Sempat mencoba Window Movie Maker tetapi entah kenapa menurutku masih ribet.
Mencoba Lightworks ternyata harus registrasi. Blender? Nanti dulu deh.. saya masih trauma.

Akhirnya, pilihan jatuh ke Shotcut ( http://www.shotcut.org )


Dari sisi tampilan, tampak lebih intuitif dalam arti, saya gak perlu lihat buku petunjuk atau manual penggunaan. Cukup iseng klik sana-sini, tahan klik sana-sini, geser klik, lepas, dan voila!




Dan dari beberapa percobaan, fitur2 berikut ada:
1. tambahkan video klip baru: .mp4, .mts (kamera digital)
2. tambahkan gambar: berguna buat watermark (yup bisa transparant), opening title, credit title
3. tambahkan audio : .mp3 maupun audio dari file video yang ada
4. transisi sederhana (saling timpa fade-in dan fade-out)



Dan berikut adalah hasilnya:
(ya, acak-acakkan... (T_T ) )




Tentu saja, masih banyak fitur yang belum ada di Shotcut tetapi untuk kondisi saat ini saja, sudah cukup untuk membuat film pendek sederhana.

Kelemahan yang mengganggu untukku adalah:
1. kadang scrollbar horizontal dan vertical di jendela timeline hilang. Itu cukup mengganggu kalau sedang edit multi-track.

2. aplikasi kadang-kadang crash tanpa penyebab yang jelas.

Tapi terakhir, saya setel Display Method menjadi DirectX dan dua masalah yang kusebutkan belum terjadi lagi.


Versi Shotcut yang kugunakan untuk bahan tulisan ini adalah 15.12.03
Lisensi GNU General Public License v 3.0


Wednesday, April 29, 2015

Kenapa sih Kartini Dirayakan?

Dari status Facebook saya di
https://www.facebook.com/kunderemp/posts/10152873063669226

Masih tentang Kartini (sigh!),
begini, Nusantara sudah mengenal wanita-wanita perkasa. Saya gak usah jauh-jauh ke Aceh atau ke Minahasa atau ke Maluku. Mari kita bicara tentang wanita Jawa pra-Islam.

1. Ratu Simha dari Kalingga
Sang ratu terkenal dengan ketegasannya tentang hukum. Bahkan sang pangeran pun nyaris dihukum mati karena melanggar, hanya karena bujukan seluruh pejabat, hukumannya diringankan sehingga "hanya" dipotong kakinya.

2. Ken Dedes dari Tumapel
Kisahnya memang tidak menonjol, tampak seperti sekedar sebagai "harta" buat para lelaki. Tetapi perhatikan bahwa, seorang prajurit mantan rampok yang sudah memiliki kekasih, berani menikam atasannya demi mendapatkan dia. Perhatikan pula bahwa anaknya membunuh ayah angkatnya demi baktinya padahal si anak tadinya masih dalam kandungan ketika ayah kandung tertikam alias hanya Ken Dedes yang menyaksikan kejadian sebenarnya.

Jelas di balik kelemahannya, Ken Dedes adalah wanita yang berbahaya. (hmm.. kapan ya difilmkan? Terakhir sih, zaman George Rudy dan adegan 'uhuy'-nya tongue emotikon )

3. Ratu Gayatri Rajapatni dari Majapahit
Pasca tewasnya si anak angkat, Jayanegara oleh tabib kesayangan sang raja, Majapahit kehilangan pemimpin. Sang Ratu yang sebenarnya sudah menjadi bhikkuni, mengambil inisiatif, mengendalikan kerajaan dan mengangkat putrinya, Tunggadewi sebagai ratu boneka di Majapahit. Begitu ia wafat, sang putri langsung mengundurkan diri dan mengangkat Hayam Wuruk, menjadi raja.

Jadi sebenarnya wanita-wanita perkasa bukanlah hal yang aneh dalam sejarah Jawa. Namun, pasca penyerahan kekuasaan dari seorang Raja Jawa kepada VOC, dunia Jawa berubah. Para Bangsawan Jawa sudah mulai kehilangan rasa percaya dirinya.
Apalagi pasca Perang Jawa (Java Oorlog), para Bangsawan yang tadinya "pemilik tanah" berubah menjadi sekedar orang upahan. Bisa dibilang, di masa-masa ini, kita sudah tak pernah mendengar wanita perkasa, walaupun di istana Mangkunegara ada pasukan khusus wanita.

Lalu apa peran Kartini?
Kartini adalah wanita cerdas, tidak kalah dengan sang kakak, RM SosroKartono. Namun ia hidup dalam alam Priyayi Jawa di mana wanita sangat direndahkan. Secerdas apapun dia, tak bisa mengelak dari takdirnya untuk menjadi istri muda seorang bangsawan yang mata keranjang dan korup.

Jadi kisah Kartini adalah kisah seorang wanita tragis yang sebenarnya mewakili zaman dan budaya tempat dia hidup. Kebetulan, teman-teman curhatnya adalah orang-orang Belanda dan salah satu penyebab kesengsaraannya adalah rendahnya pengetahuan para bangsawan berkat pemerintahan Belanda.

Jadilah Kartini diangkat menjadi simbol oleh orang-orang Belanda sebagai simbol politik etis sama halnya dengan cerita Saijah dan Adinda. Bedanya, yang belakangan adalah fiksi (walau berdasarkan kisah nyata) Multatuli, sementara Kartini adalah sosok nyata. Mereka malu bahwa bangsa mereka menyebabkan kemunduran di Nusantara.

Dan pasca kematian Kartini kita melihat:
1. beberapa sekolah Kartini didirikan oleh Belanda dan beberapa para wanita Belanda datang untuk mengajar di Hindia Belanda;
2. Rohana Kudus ditawari kerjasama beberapa kali oleh Belanda untuk memasarkan karyanya. Walau pasca perselisihan dengan temannya menyebabkan ia lebih mandiri tanpa bantuan Belanda;
3. Dewi Sartika diberi penghargaan oleh Belanda atas sekolah-sekolahnya;
4. Permintaan Maria Walanda Maramis agar wanita memiliki hak memilih dikabulkan oleh Belanda;
5. diterimanya beberapa murid wanita di STOVIA dan di sekolah-sekolah Belanda.

Kembali ke kisah Kartini,
ia bukan hanya seorang wanita yang pandai menulis curhat-curhat belaka.
Alkisah, Belanda sempat menawarinya beasiswa untuk melanjutkan sekolah ke Belanda. Kartini menolak beasiswa tersebut karena ia, dengan jejaring temannya, mendengar ada seorang pribumi Minang di Batavia yang jauh lebih membutuhkan beasiswa tersebut. Maka Kartini meminta agar beasiswa untuknya, diserahkan kepada pemuda Minang tersebut.

Jadi, ya, Kartini bersikap sebagai seorang pahlawan, mengorbankan nasib dirinya untuk orang lain. Untuk hal ini saja, kurasa tak layak kita mencaci maki Kartini.
Memang sih, di akhir cerita, pemuda Minang yang tampan itu, menolak beasiswa untuknya begitu tahu Belanda memberikannya karena permintaan seorang bangsawan wanita. Pemuda itu tersinggung, merasa dirinya dinilai Belanda lebih rendah dibandingkan bangsawan sehingga tidak jadi prioritas. Kelak pemuda Minang tampan itu banyak aktif di Jawa membantu Tjokroaminoto.

Dari salah satu komentar mBak Novita di status tersebut.

Sebenarnya kalau baca catatan Kartini pemikiran yahh jauh ke depan, yang berpolemik harus baca tulis tulisan Kartini dulu. Mengenai pengorbanan Narpati,kenapa akhirnya Kartini memilih untuk dipoligami karena berdasarkan pertimbangan pertimbangan, salah satunya Bupati Rembang calon suaminya mengijinkan untuk mendirikan sekolah Keputrian di Rembang

Narpati sudah pernah baca buku ini? Juga bagus buat referensi, setiap surat Kartini diuraikan kembali oleh Pramoedya dan disertai rujukan tulisan Kartini.

Sebagian orang mungkin hanya mengetahui Kartini menulis dalam"curahan hati" yang dikumpulkan lewat buku Habis Gelap Terbitlah Terang,padahal Kartini sudah menulis sejak umur 14 tahun dan dipublikasikan ke umum di usia 16 tahun,tulisan pertama yang dipublikasikan adalan sebuah tinjuan atropologi tentang Perkawinan Pribumi di Koja Jepara.Kartini seoarng pemikir yang revolusioner,alasan kenapa satra yang menjadi pilihanya,karena ruang lingkup dan jangkuan yang lebis luas setiap gagasan,ide,perlawanannya akan dipublikasikan. 
Jadi menurut saya, Kartini layak diberikan gelar Pahlawan Emansipasi Wanita.

Jadi,
kurasa cukup jelas ya?
Walaupun ada banyak pahlawan-pahlawan wanita di bumi nusantara ini,
Kartini mempunya peran yang cukup "menggugah" di masa-masa awal pergerakan modern menuju Indonesia merdeka.