Wednesday, March 19, 2008

Roy Suryo versi Wanita

Saya jujur aja pernah sakit hati pada beliau. Ketika saya demam berdarah di tahun lalu, dan saya tahu bagaimana sulitnya mendapatkan ruangan, si Ibu malah berkomentar "berita Demam Berdarah" terlalu dibesar-besarkan.

Sakit...
Sakit hati saya...

Kemudian si Ibu menulis buku...
trus kayaknya kok gak laku yah..
Oh ya udah, tiba-tiba menarik buku
dan entah dari mana, tiba-tiba beredar gosip "atas permintaan AS"
tentu saja, Dubes AS menyangkal
lalu tiba-tiba si Ibu bilang
"oh saya gak nyerang AS dan WHO di buku saya kok"

lalu si Ibu mengeluarkan pernyataan
"karena ada terjemahannya salah"
kemudian meralat pernyataan
"oh ternyata tidak ada yang salah terjemahannya"
lalu kemudian
"bukunya gak jadi ditarik"

Sejujurnya, saya sepakat dengan seseorang di milis Budaya-Tionghua...
Publikasi murahan!!

Kemudian beredar masalah susu berbakteri.
Si Ibu mungkin berada di posisi yang benar
tetapi jelas dengan ALASAN YANG SALAH dan dengan CARA YANG SALAH.
Yang pertama kali ia lakukan adalah
"Siapa yang membiayai penelitian itu??!"

Peneliti mana yang tidak sakit hati dibegitukan?
Rektor mana yang tidak sakit ketika penelitian legal di kampusnya tiba-tiba dicap dibiayai 'pihak-pihak tertentu'?

Bahkan Iip Wijanarko yang penelitiannya membuat marah orang-orang Yogya, tak ada satupun saat demonstrasi berteriak, "siapa yang bayar kamu, Iip?". Tidak ada! Karena bukan begitu cara memperlakukan sebuah hasil penelitian, tidak perduli sekontroversial apapun.

Lalu si Ibu hari ini berada di Surabaya, membuat berbagai kekonyolan. Silakan baca ucapan-ucapan si ibu yang dibuat dalam satu hari

"Buku saya itu meledak di luar negeri. Tapi di dalam negeri, ditutup-tutupi oleh susu formula. Padahal itu data tahun 2003, ngapain dikeluarkan kemarin,"
( bukan ditutup-tutupi, karena kami memang gak percaya pada Ibu.. lagipula masalah susu formula lebih dekat pada rakyat daripada teori konspirasi )
Fadilah menyatakan, tayangan televisi itu menyesatkan. Filmya juga menyesatkan. Dan tampilan televisi hanya berisi demo. Isinya hanya soal kelaparan, yang meninggal dan perceraian.
(jadi wartawan tidak boleh memberitakan kelaparan yah? Wartawan juga tidak boleh memberitakan orang-orang yang berjuang lewat demonstrasi?)
Yang membuat bu menteri semakin sewot ketika buku karangan miliknya di Indonesia tidak mendapat porsi yang memadai di media massa dalam negeri. Padahal menurut dia, di luar negeri bukunya justru mendapat penghargaan.

(Omong kosong!
Aku melihat berita di luar negeri, adem ayem aja tuh. Orang-orang lebih tertarik pada skandal Walikota Spitzer atau menjauhnya Obama dengan pendeta yang sebelumnya akrab dengannya atau pada demonstrasi rusuh di Tibet)
"Eee... dapat darimana data itu. Tahun 2003 berapa orang yang gizi buruk? 3 Kali lipat dari itu,"
Trus Ibu bangga?
Apakah jumlah tersebut menurun karena akhirnya kenyang karena bantuan pangan oleh pemerintah atau karena udah pada tewas kelaparan semua, Bu?
Seharusnya, sebagai Menteri Kesehatan,
selama masih ada orang sakit yang tidak bisa tertolong di rumah sakit karena masalah biaya,
selama masih ada orang-orang kelaparan dan karena itu menderita sakit, seharusnya Ibu gak boleh merasa tugas Ibu selesai.

Benar,
kelemahan para wartawan sekarang adalah kurang memahami data, kurang melakukan riset untuk mencari data. TAPI ITU GAK BOLEH JADI ALASAN UNTUK MENUTUPI KEKURANGAN IBU!


Mungkin karena selama ini bidang kedokteran adalah bidang yang sakral, kita tidak tahu sejauh mana si Ibu berkata benar. Tetapi dari tanda-tanda ketidakkonsistenan ia selama ini, saya berani menyatakan

I DON'T BELIEVE SITI FADILAH SUPARI
NOT EVEN A BIT

3 comments:

danalingga said...

Ternyata pandangan kita terhadap ibu satu ini sama kund.

=inu= said...

me too, ni orang bullshit bgt, salah satu menteri paling gagal tapi kok malah dipertahanin.

belom lagi ni orang bikin peraturan buat kepentingan sendiri, abis puas dibalikin lagi.

~jadiEmosi

Sidicx said...

Saya juga sama Nar, kok kenapa masih aja dipertahanin menteri yang kayak gitu....

males banget kan...iihh...ngeliat dia aja udah maless