Saturday, March 29, 2008

Turut Berduka Cita atas tewasnya Sudiksa

Saya tidak tahu bagaimana mengungkapkan kesedihan saya. Walaupun saya tidak mengenal bocah SD di pulau dewata ini.

Walau Rasulullah melarang "berandai-andai" tetapi saya rasa tidak ada salahnya berkhayal seandainya bocah ini bisa hidup dewasa. Ia rajin dan disukai tetangganya. Kalau melihat kesaksian para tetangga, mungkin bila dewasa, ia bisa menjadi sosok yang diharapkan.

Dan alangkah sedihnya, bocah ini dibunuh... hanya karena orang tuanya berutang.
Hanya empat puluh ribu, pula..
Naudzubillah min dzalik.

Sebagai seorang yang mengaku beragama Islam di KTP-nya, jujur saja, saya merasa kecewa pada diri saya. Adalah kewajiban kaum muslimin, meringankan beban seseorang yang ditimpa utang. Dan adalah kewajiban seorang muslim untuk tidak memperberat beban seseorang dengan utang (dan itu sebabnya, bunga itu haram -- walaupun dalam prakteknya, para ulama memberikan toleransi yang berbeda-beda).

Dan tidakkah layak kita menangis karena seorang anak tak berdosa tewas karena utang orang tuanya?

Kenyataan bahwa berita-berita seperti anak putus sekolah, anak diseret bunuh diri ibunya yang sudah tak bisa mencari penghasilan atau sekelompok anak sekolah dipermalukan di sekolahnya karena utang SPP sudah cukup menyedihkan. Haruskah kenyataan dunia ini pahit ditambah oleh ada orang yang tega membunuh anak tak berdosa hanya karena orangtuanya berhutang?




Silakan lihat berita di Detik.com

1 comments:

Koko said...

Turut berduka cita juga meskipun ada juga orang-orang yang dibunuh demi harga yang lebih rendah