Tuesday, February 21, 2006

Double Standard Does Exist...

Seperti yang pernah diucapkan oleh Komaruddin Hidayat dan kukutip dalam tulisanku sebelumnya:

Saya baru ingat, sebebas-bebasnya Eropa, ada satu hal yang tidak akan diizinkan oleh Eropa, yaitu pernyataan-pernyataan berbau anti-Yahudi walaupun dalam tulisan yang obyektif sekalipun.

Mungkin ada yang skeptis dengan pernyataan tersebut yang dikeluarkan oleh seorang muslim. Padahal larangan untuk menyebarkan larangan anti-semit yang bahkan diterapkan untuk hal kecil seperti meragukan kebenaran holocaust, yang bertentangan dengan semangat kebebasan berpendapat, memang ada.

Kebetulan, dalam minggu ini, seorang sejarawan dari sayap-kanan Inggris, David Irving, baru saja dinyatakan bersalah oleh pengadilan Wina, Austria, hanya karena meragukan peristiwa holocaust. Apakah ini namanya kalau bukan pengekangan kebebasan berpendapat?

Sementara, pemerintah Eropa dan Amerika Serikat tampaknya hingga kini tidak bersedia menghukum atau minimal membuat hukum yang membatasi kebebasan pers untuk tidak mencacimaki tokoh-tokoh yang sangat penting dalam agama, seperti nabi. Alasan mereka, untuk menghindari pengekangan semangat mengritisi agama-agama, menghindari ekstremisme yang berlebihan.

Padahal, yang diminta oleh OKI dan orang-orang muslim melalui beberapa seminar internasional (seperti di Malaysia) yang diselenggarakan untuk meredam krisis karikatur (yang katanya Nabi) Denmark, hanyalah untuk tidak menghina. Toh, mengritik tidaklah harus dengan cara menghina.

Sementara kasus David Irving, jelas sudah membuktikan bahwa masyarakat Eropa, yang dalam hal ini diwakili oleh Austria, sebenarnya sudah mengekang tradisi mengritik. Lalu kenapa permintaan kita yang sebenarnya sederhana, tidak dipenuhi?

Kurasa alasannya satu:
Karena kita tidak punya posisi tawar yang kuat. Berbeda dengan orang-orang Yahudi yang mempunyai posisi kuat.

Sebentar! Sebelum menuduhku anti-semit, aku hanya menyatakan bahwa posisi orang-orang Yahudi dalam dunia Internasional lebih kuat daripada orang Muslim. Ada masalah dengan pernyataan tersebut? Adakah masalah yang akan timbul bila seandainya aku mengatakan, "Posisi SBY di Indonesia lebih kuat daripada posisi yang dimiliki orang tuaku"? Tentu saja tidak ada masalah, kecuali di mata orang-orang yang sedang mencari-cari masalah

Sementara, temanku, lulusan S1 Psikologi, yang kini sedang menempuh S2-nya di Yogya, mempunyai pandangan, yang walau serupa denganku tetapi dengan sudut pandang lain. Buat yang berminat, bisa membacanya di http://herdiyanmaulana.blogspot.com/2006/02/andai-mereka-kenal-ibn-abdullah.html

Untuk yang ingin membaca kasus David Irving, bisa membaca di
http://www.news.com.au/story/0,10117,18220736-401,00.html
dan
http://www.news.com.au/story/0,10117,18230820-28793,00.html

Ada baiknya juga dibaca tulisanku sebelumnya, mengenai falsafah Golden Rule yang kadang-kadang didengung-dengungkan para moralis terutama menyangkut kode etik yang belum diatur secara tertulis.

me,
Kunderemp Ratnawati Hardjito A.K.A
Narpati Wisjnu Ari Pradana

0 comments: