Sunday, May 06, 2007

[wayang] Interpretasi dari Ravana dan Vedavati



Semoga gambar ini tidak menyinggung siapapun.

Tujuan aku menggambar, seperti biasa, hanya satu: melatih kemampuan.

Dalam hal ini, aku mencoba melatih kemampuanku bercerita. Kulakukan sambil mendengarkan dosenku bercerita tentang Scheme Programming Language.

Adegan yang kucoba kugambar adalah sebuah adegan yang tidak digambarkan oleh RA Kosasih ketika menceritakan Ramayana, walau kedua karakter tersebut muncul di Lahirnya Rama dan Sinta. Beliau menggambarkan kisah Vedavati (Dewi Widawati) dan Ravana (Rahwana) dengan cerita yang sama sekali berbeda.

Kisah ini pertama kali baru kutemukan di dalam novel Arjuna Sasrabahu karangan Sunardi DM[1] dan tampaknya adalah versi resmi sesuai dengan versi India (setelah membandingkan dengan artikel di wikipedia).

Tentu saja, ketika menggambarkan adegan ini, aku menginterpretasi berbeda, bahkan berbeda seperti salah satu versi dari orang Hindu India yang kutemukan di Chennai Online[2]. Misalnya dalam hal ini, aku lebih suka menganggap bahwa Rahwana benar-benar jatuh cinta pada Widawati namun caranya yang kasar, ketidakperduliannya, obsesinya, membuatnya gagal mendapatkan Widawati.

Selain itu, aku lebih suka (mungkin terpengaruh versi Sunardi DM atau mungkin aku menyukai kisah-kisah tragis seperti Hamlet-nya William Shakespeare) menganggap bahwa Rahwana terpengaruh oleh peristiwa ini. Oleh sebab itu, ketika Sinta berhasil diculiknya, Rahwana sama sekali tidak berani menyentuhnya, takut peristiwa yang sama terulang.

Berikut adalah cerita singkat mengenai adegan tersebut untuk yang belum tahu ceritanya.

Rahwana saat itu sedang di masa-masa jayanya, di mana ia berhasil menaklukkan kerajaan-kerajaan lain bahkan berhasil menaklukkan Indra. Suatu hari, ia mendatangi pertapaan di mana Dewi Widawati berdiam. Rahwana, yang terpesona pada kecantikan Dewi Widawati, segera tanpa basa-basi segera meminangnya.

Dewi Widawati menolak, karena ia sudah dijanjikan untuk menikah dengan Batara Wisnu. Mungkin untuk pertama kalinya ditolak wanita, apalagi ia sedang di masa jaya-jayanya (lagi-lagi, ini interpretasiku), Rahwana menghina Wisnu dan tetap mendesak Dewi Widawati. Dewi Widawati menolak dan karena terus didesak akhirnya ia meloncat ke api yang biasanya digunakan untuk menyelenggarakan upacara korban.

Di masa akhir hayatnya, ia mengutuk akan lahir kembali dan saat Rahwana kembali jatuh cinta pada titisan selanjutnya, saat itulah kerajaannya akan hancur. Dan titisan Dewi Widawati itulah Dewi Sinta (Sita) yang menjadi istri Rama, tokoh utama dalam Ramayana.

Tentu saja ada beberapa detail yang tidak kumasukkan atau tidak sesuai dengan interpretasiku. Selain itu, Rahwana, yang biasanya digambarkan sebagai seorang raja paruh baya (baca berkumis atau apapun lah), kugambarkan sebagai pemimpin perang yang sebenarnya lumayan tampan (seandainya tidak ada pernak-pernik tengkorak dan taring).

Sebenarnya ada sih keinginan untuk membuat komik berjudul Ravana yang kisahnya (sesuai judulnya) bercerita tentang Rahwana, dari kisah kelahirannya yang cukup menggemparkan di versi Jawa, pertempuran menaklukkan dewa-dewa, pertempuran melawan Arjuna Sasrabahu, sampai kisah Ramayana sendiri. Hanya saja, tampaknya aku terlalu sibuk dan mungkin juga karena semangatku kurang sehingga aku tak bisa mengikuti jejak tukang cerita macam RA Kosasih, Sindhunata[3], atau Agus Sunyoto[4].

Di bawah ini adalah salah satu gambar yang adegannya kuinginkan ada di dalam komik (seandainya kelak ada), yakni pertempuran antara Vishrava (Begawan Wisrawa) dan Jambumangli (Panglima Perang Alengka). Wisrawa sedang mematahkan tangan Jambumangli yang ukuran tubuhnya lebih besar.




Referensi:
[1] Novel ini diterjemahkan oleh Balai Pustaka. Bacaan wajib buat penggemar wayang yang tidak bisa berbahasa Jawa

[2] Bisa dibaca di
http://www.chennaionline.com/festivalsnreligion/religion/religion555.asp


[3] novelnya berjudul Anak Bajang Menggiring Angin

[4] novelnya berjudul Rahuna Tattwa, bisa baca salah satu resensi mengenainya di
http://leojuliawan.wordpress.com/2007/03/19/agus-sunyoto-rahuvana-tattwa/

2 comments:

apranum said...

Buset deh referensi wayangnya, aku aja yang namanya nama wayang gak apal segitunya, salam kenal, aku direfer ke sini sama fitri.

Anonymous said...

keren kali ya klo di bikin novel .... :)
tapi penulisanya dengan gaya anak muda. ga nyangka ternyata rahwana ga sejahat itu. so sweet deh jadinya :)