Tuesday, July 10, 2007

[Pratayang] Lari Dari Blora

Iseng-iseng melihat situs jaringan bioskop besar, 21 Cineplex, aku tertarik melihat sebuah film berjudul Lari Dari Blora. Filmnya sendiri belum dimulai tetapi dari trailer (4:05 menit, rek! Biasanya Trailer cuma 1-2 menit), sinopsis di situs resminya dan beberapa cerita tentang latar belakang pembuatan film tersebut, setidaknya ada beberapa pandangan sebelum melihat filmnya.

(boleh dong.. Ada penggemar V for Vendetta juga membahas filmnya jauh sebelum filmnya selesai diproduksi)


Thus, beberapa hal yang kuamati

1. RENDRA
Mendengar Rendra bermain dalam film ini sudah membuat kacau balau. Satu sisi, batin saya mengatakan, 'wah.. pasti menarik neh'. Satu sisi, batin saya juga khawatir, 'apakah tidak akan tendesius? apakah tidak akan overacting?'

Melihat trailer yang cukup panjang di mana beberapa kali Rendra muncul sebagai mBah, sesepuh di desa tersebut, kekhawatiran saya menjadi kenyataan.

Satu sisi, kata-kata yang diucapkan oleh Rendra memang beberapa kali saya dengar dari orang-orang kebatinan tetapi tidak dengan gaya overacting 'ala Rendra. Mereka bangga akan budayanya, tetapi tidak dengan gaya overacting 'ala Rendra. Gaya bicara mereka, walaupun kata-kata mereka sebenarnya ada kesombongan sendiri, tetapi tidak pernah muncul gaya sombong (kontradiksi? tidak... bayangkan orang Jawa yang benar-benar orang Jawa.. seperti itulah mereka).

Bung Rendra...
plis dong ah.. ini film, bukan teater.



2. SAMIN
Kelompok Samin adalah daya tarik lain dari film ini. Kelompok ini berdomisili di Kabupaten Pati dan Blora. Menurut deskripsi dari Antara:

Belakangan, ajarannya berkembang menjadi gerakan batin yang menentang segala formalitas, termasuk lembaga sekolah dan pernikahan, pembayaran pajak, administrasi negara dan sejumlah hal lainnya di masyarakat yang lebih lumrah.

Orang Samin lebih mengutamakan keharmonisan hidup dan keselarasan dengan alam. Mereka pidak penah menikah melalui Kantor Urusan Agama (KUA) atau Kantor Catatan Sipil, tetapi jarang sekali terjadi perceraian dalam rumah tangga yang telah mereka bangun.

Komunitas ini juga tidak memeluk agama tertentu, bahkan bisa dikatakan tidak kenal Tuhan layaknya konsep kebanyakan orang.


Dan salah satu cerita dari film Lari Dari Blora yang menarik adalah perbedaan cara pandang antara kelompok Samin dengan kelompok pendukung kemajuan (yang diwakili oleh seorang guru di cerita ini). Menurut deskripsi cerita dari situs resminya:

Di desa itu ada Ramadian, guru yang berusaha menyekolahkan anak-anak orang Samin. Namun usahanya ditentang oleh Pak Lurah yang punya prinsip, dengan tetap menjadikan masyarakat Samin sebagai Cagar Budaya maka desa tersebut memiliki ciri khas, mengundang para peneliti, LSM, mahasiswa, dan sebagainya, yang berarti adalah mengundang dana bantuan. Pelestarian terhadap budaya dan komunitas Samin juga berarti menghargai semangat multikultural yang menjadi ciri kebudayaan Indonesia.


Perbedaan pendapat ini juga muncul di berbagai kelompok agama atau kepercayaan di penjuru dunia. Misalnya, di Amerika Serikat, orang-orang Amish hanya mau bersekolah hingga sekolah dasar dan SMP, dan tidak mau melanjutkan ke SMU apalagi kuliah. Dan tentu saja, hal-hal seperti ini ditentang oleh beberapa orang yang berprinsip bersekolah untuk mendapatkan ilmu adalah hak asasi yang tidak boleh dihalangi oleh orang tua untuk alasan apapun seperti yang disebutkan Richard Dawkins dalam bukunya, The God's Delusion.

But, as Humphrey points out, there is a crucial difference. Monks volunteer for the monastic life of their own free will. Amish children never volunteered to be Amish; they were born into it and they had no choice.

(Akan tetapi, seperti yang ditunjukkan oleh Humphrey, ada perbedaan menyolok. Para rahib secara sukarela menyerahkan untuk kehidupan biarawan atas keinginannya sendiri. Anak-anak Amish tidak pernah sukarela menjadi Amish; mereka lahir di situ dan tidak punya pilihan).
Sejujurnya, aku penasaran, di sisi manakah para pembuat film ini berpihak.


3. SUBVERSIVISME
Ini adalah tema yang tendesius. Memang di masa sekarang, mengritik pemerintah sudah tidak perlu takut terancam lagi. Tetapi topik ini, bila tidak digarap dengan baik, hanya akan melahirkan sebuah propaganda baru.

Dalam dunia nyata,
peristiwa kesalahpahaman, ketidakmengertian Pemerintah mengenai paham-paham aliran-aliran dan budaya-budaya masyarakat beberapa kali terjadi di Indonesia. Peristiwa terakhir yang sangat menyolok adalah kasus kelompok Madi pada tahun 2005 di Dusun Salena, Kelurahan Buluri, Palu, Sulawesi Tengah.

Namun sekali lagi, ini adalah tema yang tendesius. Apakah film ini berhasil menggarap tema ini dengan baik atau tidak, kita harus menunggunya tayang dahulu.


4. SEKS BEBAS
Saya cukup terkejut melihat beberapa patah kalimat dari situs resminya.

Di tengah suasana dan dinamika Desa Samin, berlangsung kisah percintaan dua remaja, Heru dan Wati. Percintaan mereka penuh dengan gairah puber yang menyala-nyala.
Hmm.. akankah ada adegan seks di sini? Tampaknya akan ada. Cuplikan berita dari Antara menyebutkan
Tetapi, Akhlis menyisipkan kisah asmara Heru (Fadly) dan Wati (Tina Astari) yang bergaya modern, termasuk melakukan hubungan seks pra-nikah.
Oke..
Mas-mas pembuat film,
dengan amat memohon, hilangkan adegan itu dari film!

Sekedar buat perbandingan yah:

- Film The Matrix yang pertama, yang populer, yang terbaik di antara triloginya, yang menarik kaum muda, TIDAK ADA ADEGAN SEKS sama sekali.

- Trilogi Starwars yang asli, TIDAK ADA ADEGAN SEKS sama sekali

- Film Transformers yang baru, di sepanjang film hingga perang berakhir, tidak ada adegan bercumbu apalagi seks. Well, kecuali di bagian akhir setelah filmnya selesai

- Aku dan ibuku menikmati film Indonesia I Love You, Om, kecuali adegan di mana Karenina muncul, adegan lesbian Karenina, dan adegan-adegan 'ala sinetron lain di mana Karenina muncul

- Aku tidak menyukai adegan seks di film Riri Riza terbaru, 3 Hari Untuk Selamanya, karena tidak relevan dan tidak penting

Adegan seks adalah adegan tendensius yang bila tidak digarap dengan baik hanya akan menjadi lelucon. Bahkan cerita dua orang melakukan seks bebas saja, kalau tidak digarap dengan baik juga akan menjadi lelucon.

Jadi bila anda seperti apa yang dikutip oleh Antara, "Sang sutradara menyebut itu semua siasat komersialisasi Lari Dari Blora, tidak membiarkannya menjadi sebuah produk film dokumenter", sebaiknya lupakan niat anda.



5. JUDUL BERBAHASA INGGRIS

Film Lari Dari Blora memiliki judul berbahasa Inggris "Harmony Without Law". Tetapi sejujurnya, walaupun kata-kata tersebut berasal dari kutipan salah satu tokoh di film, frasa tersebut janggal untuk dijadikan judul.

Salah satu tokoh di film Makna Di Balik Tragedi berkata "There is no shortcut to heaven (tidak ada jalan pintas ke surga)", kata-kata tersebut tidak secara utuh menjadi judul melainkan mengalami perombakan sehingga judul alternatifnya menjadi "Long Road To Heaven".

Setelah melihat deskripsi tentang masyarakat Samin, judul alternatif tersebut sebenarnya tidak pas. Hukum (Law) sebenarnya juga bermakna konvensi, kebiasaan, budaya alias tidak harus tertulis. Dan jelas, masyarakat Samin mempunyai hukumnya sendiri walau tidak diatur secara tegas dan formal. Frasa yang lebih tepat untuk menggambarkan keadaan masyarakat Samin adalah ANARCHY (anarki).

Judul alternatif dari film tersebut seharusnya adalah "ANARCHICAL HARMONY".
Setidaknya ada dua alasan untuk menggunakan kata 'anarchy'

1. Saatnya membersihkan makna 'anarki'
Di Indonesia, 'anarki' sering diartikan sebagai kekerasan, padahal anarki TIDAK MEMILIKI arti kekerasan.

Anarki dalam kamus Oxford memang juga memiliki arti 'kekacauan politik dan sosial', namun dari akar katanya sendiri makna Anarki tidak berarti kekacauan politik dan sosial. Kekacauan politik dan sosial bisa berasal dari situasi Anarki.

Kamus Merriam Webster justru lebih bijak dengan menempatkan definisi 'ketiadaan pemerintah' di entri pertama.

Main Entry: an·ar·chy
Pronunciation: 'a-n&r-kE, -"när-
Function: noun
Etymology: Medieval Latin anarchia, from Greek, from anarchos having no ruler, from an- + archos ruler -- more at ARCH-
1 a : absence of government b : a state of lawlessness or political disorder due to the absence of governmental authority c : a utopian society of individuals who enjoy complete freedom without government
2 a : absence or denial of any authority or established order b : absence of order :



2. Menarik Perhatian Pasar
Seperti yang disebutkan di atas, judul "HARMONY WITHOUT LAW" adalah judul yang janggal. Kata "anarchy" justru akan lebih menarik minat pasar internasional. Setidaknya

1. ada kelompok aktivis yang percaya anarchism

2. V for Vendetta, komik yang tahun lalu difilmkan, memiliki tema Anarchy dan menggambarkan betapa kebaikan yang formal menjadi korup. Dan seperti yang ditegaskan karakter V,
"Anarchy means “without leaders”; not “without order.“"

3. salah satu judul lagu menggunakan kata 'anarchy', yakni "Anarchy in the UK"

4. pengalamanku pribadi, di balkon kost di Australia, saat sedang ngobrol ngalor-ngidul dengan orang-orang India, Vietnam, Thailand, Cina, Belanda, dan Prancis yang kebetulan menemukan persamaan betapa bencinya kami pada identitas yang mengharuskan membenci tanpa alasan dan kami sepakat, membenci seharusnya tidak boleh karena identitas, tidak boleh karena dendam sejarah, dan kawan dari Belanda mengatakan, "yeah.. long live anarchy"

5. pengalaman pribadi juga, saat ada pemutaran film di tokobuku MP Cipete Selatan. Anarki menjadi topik pembicaraan. Yang pertama kali menyebutkan kata 'anarki' adalah si pembuat film (yang mengatakan ia terinspirasi oleh semangat anarki). Namun, ternyata ia tidak mengerti makna 'anarki' dan akhirnya dikritik oleh peserta lain yang kemudian menjelaskan makna anarki sesungguhnya dan contoh kasusnya di tempat-tempat kumuh Jakarta.


Nah,
terasa kan kalau kata 'anarki' lebih menarik minat daripada 'tanpa hukum'?



KESIMPULAN:
Aku akan menonton film ini. Walaupun aku tidak berharap banyak.

7 comments:

cardepus said...

Ini filem Indonesia yah...sepertinya menarik nih.

Kapan mainnya?

tukang ketik said...

postingan yang berbobot.

boleh di kutip khan??

kunderemp an-narkaulipsiy said...

Iyah.. film Indonesia.
rencananya sih akan keluar bulan Oktober tahun ini..

Tukang Ketik:
Boleh... boleh dikutip kok..

edratna said...

Hayoooo nonton...di Citos?

Anonymous said...

film lari dari blora syuting di pati
Official hotel kurnia alun alun pati
dari warnet epas pati

Anonymous said...

Lha iya, urip iki paribasane mung mampir ngombe. Gawe apik liyan iku ya sepiro abote, Sedulur.

http://groups.yahoo.com/group/saminisme/

Moh Arif Widarto said...

Filmnya sudah main tuh di cineplex 21. Katanya mau nonton?