Monday, July 16, 2007

Q & A: Kisah Yatim Di Anak Benua

Judul: Q & A
Pengarang: Vikas Swarup
Bahasa: Inggris dan sudah diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia

Novel perdana karya Vikas Swarup, seorang diplomat India ini cukup menarik.

Kisahnya mengingatkanku pada Oliver Twist-nya Charles Dicken.

Kisahnya diawali tentang seorang pelayan restoran bernama Ram Mohammad Thomas (nama yang aneh? Iyah.. ada unsur lucu di balik nama tersebut.. walaupun kurasa Vikas membuat nama tersebut untuk menunjukkan kenetralan) yang digrebek polisi karena memenangkan kuis Who Wants To Be Billionaire. Ram kemudian diselamatkan oleh seorang pengacara bernama Smita Shah yang kemudian meminta kejujuran Ram bagaimana ia bisa menjawab kuis tersebut.

Lalu kita diajak menjelajahi kehidupan Ram Mohammad Thomas semenjak bayi yang diberikan ke gereja, berteman dengan Salim di panti Remaja, bertualang bersama, terpisah, hingga sampai saat kuis tersebut. Berbeda dengan struktur narasi novel yang biasanya beralur maju, atau dimulai di tengah-lalu-flashback-lalu-maju, atau (belum ada di novel tetapi sudah ada di film-film) beralur mundur, struktur narasi di novel ini acak-acakan, tergantung pada urutan pertanyaan di kuis. Setiap fragmen pengalaman hidup Ram Mohammad Thomas, berpengaruh pada pertanyaan kuis tersebut.

Kita diajak menelusuri kekejaman di balik pengamen-pengamen cilik, keterpurukan kupu-kupu malam, rahasia yang disembunyikan seorang pendeta, kemiskinan, ekspatriat, orang-orang India yang bekerja di luar negeri, kerusuhan antar agama, kenangan perang di masa lalu, frustasi seorang pegawai, dan potret-potret lain dari anak benua - yang beberapa hal mirip dengan keadaan di Indonesia.

Dalam beberapa hal,
kisah-kisahnya terlalu fantastis dan sulit dipercaya, tetapi Vikas mampu berkelit dengan menyatakan bahwa itu adalah ucapan tokoh lain yang didengar oleh Ram Mohammad Thomas.

Sudahkah aku mengatakan aku teringat dengan kisah "Oliver Twist" saat membaca novel ini? Karena, walaupun sebenarnya tema dalam novel ini tergolong berat, tetapi penulis novel tidak berpura-pura menjadikan novel ini sebagai novel kritis atau novel sastra. Novel ini adalah novel ringan dan tidak membosankan.

Sebagai gambaran,
saat membaca novel ini di Gramedia Depok, aku begitu larut dengan ceritanya sampai aku tak menyadari sudah 4 jam aku berdiri di tumpukan buku tempat aku mengambil novel tadi.

(hei.. aku baca Harry Potter : The Order of The Phoenix hanya dalam waktu 6 jam, tetapi diselingi waktu untuk tidur, dan membaca Imperia-nya Akmal Nasery Basral hanya dalam waktu kurang dari 2 jam dan juga diselingi waktu untuk tidur).

3 comments:

Anonymous said...

bagus keknya kun. pinjem duong..

~syn

Kunderemp An-Narkaulipsiy said...

Wah.. belum punya..
justru aku baca di tempat karena gak punya duit buat beli.. hihihi...

Tapi nanti kalau sudah punya, kupinjamkan deh.

Anonymous said...

kalo gitu cepetan dong belinya he3x. itung2 turut andil mencerdaskan anak bangsa (kan gw anak bangsa juga) *halah*

~syn