Thursday, January 25, 2007

MSJ Bagian VII: Kritik terhadap Museum

Museum Sejarah Jakarta
Bagian ketujuh: Kritik Terhadap Museum
tulisan ini bagian keenam dari tujuh tulisan.

tulisan lain:
  1. MSJ bagian I: Kesan Pertama
  2. MSJ bagian II: Prasejarah dan Awal Tulisan
  3. MSJ bagian III: Kedatangan Portugis dan Belanda
  4. MSJ Bagian IV: Kehidupan Penjajah
  5. MSJ Bagian V: Perang Batavia
  6. MSJ Bagian VI: Kehidupan Batavia
Tulisan dari sudut pandang ibuku bisa dilihat di:
http://edratna.wordpress.com/2007/01/04/menikmati-liburan-dengan-naik-busway



Informasi Kurang
Sebenarnya, di lantai dasar sebelah kanan, tempat dari kehidupan Jakarta sekarang sampai ruangan-ruangan prasasti, aku cukup puas dengan keterangannya. Mungkin karena poster-poster keterangan di samping prasasti yang cukup menjelaskan atau mungkin juga karena tidak ada sesuatu yang bikin penasaran. Paling cuma penasaran mencoba apakah besar kakiku sama dengan besarnya kaki Raja Purnawarman.. Hehehehe

Namun ketika menginjak lantai atas yang berisi koleksi barang-barang tuan-tuan besar kita, aku mulai kecewa karena ada beberapa pertanyaan yang tak terjawab. Terutama yang berkaitan dengan hiasan. Misalnya, siapa yang dimaksud dengan Dewa Kebenaran dan Dewa Keadilan? Dari budaya mana? Dan siapa wanita berpakaian serdadu yang di sebelah kanan dan kirinya ada meriam? Siapa sajakah 14 anggota dewan pengadilan Batavia? Patung siapakah yang ada di ceruk atas di dekat atap?

Bahkan, koreksi ingatanku kalau salah, ada sebuah ukiran Cupid yang diterangkan sebagai Dewa Cinta. Padahal Cupid bukanlah dewa cinta melainkan sekedar peri cinta. Ibunya, Aphrodite atau Venus-lah yang menjadi dewi cinta.

Bahkan perlu dipertanyakan juga, mengapa, Belanda menggunakan hiasan-hiasan yang berasal dari mitologi Yunani (seperti Cupid dan Hermes)? Rasanya seperti melihat orang-orang Minang yang mengoleksi Wayang Kulit.. Aneh dan janggal. Kalau sekedar lukisan Raja Solomon/Sulaiman (Yahudi), mungkin masih bisa diterima nalar karena kisah itu juga merupakan kisah Kristen, agama yang dipeluk oleh orang-orang Belanda.



Tiadanya Buku Pendukung
Hal lain yang kusayangkan adalah tiadanya buku pendukung. Aku ingat, saat masih SD berkunjung ke Museum Satria Mandala Putra, mereka memiliki buku panduan berisi daftar koleksi-koleksi mereka dan keterangannya. Bahkan setelah aku pulang dari museum pun, aku menikmati membaca koleksinya.

Ketika aku bertanya kepada pengelola, sayangnya mereka tidak punya. Padahal buku seperti itu, selain bisa memuaskan dahaga akan pengetahuan, juga bisa menjadi sarana promosi. Bayangkan bila kerabat si pengunjung datang ke rumah dan menemukan buku semacam itu dan berpikir, "kayaknya museum ini menarik juga".

Buku yang dimaksud, bukanlah sekedar buku promosi yang cuma sepintas tentang sejarah museum lalu melainkan buku mengenai isi koleksi museum. Kisah dibalik tiap-tiap pajangan yang ada, hal-hal remeh yang berkaitan tentangnya, sejarah penemuannya, dan hal-hal lain.




Kurangnya Inisiatif Pengelola

Aku dan ibuku sudah mengajukan protes itu saat pergi ke kantin museum. Dan mereka mengiyakan, mungkin karena kekurangan dana.

Salah satu pengelola mengatakan,
"wah.. sebenarnya tadi saya mau nawarin jadi guide, Bu (ke ibu saya maksudnya). Apalagi saya lihat, Ibu dan Mas kayaknya tertarik ama sejarah"..

Yeee...
Kenapa tidak menawari kami dari awal?
Mungkin seharusnya pengelola proaktif dalam menawarkan jasa pemandu. Pemandu selalu berguna untuk bercerita hal-hal menarik dibalik sebuah koleksi atau tempat wisata. Coba, apa menariknya kalau kita sekedar melihat batu di Candi Prambanan? Tetapi kalau pemandu bisa menjelaskan bahwa relif yang ada di sisi candi utama sesungguhnya adalah cerita Ramayana, mungkin sebagai pengunjung kita akan lebih tertarik.

Atau, kalau malu,
mungkin seharusnya jangan sungkan-sungkan menaruh harga pemandu di tempat membeli tiket.



Yang Mungkin Bisa Dilakukan
Aku melihat beberapa potensi dari museum ini. Selama ini tampaknya, pengelola mencoba menarik dana tambahan dari jasa pemandangan seperti sebagai tempat pemotretan (mungkin untuk pre-wed/foto pranikah). Padahal dengan begitu banyak cerita dan barang-barang yang ada, mungkin bisa bikin atraksi.

Misalnya..
Bikin atraksi drama kecil-kecilan seperti penjahat atau pemberontak VOC yang dihukum mati di lapangan. Atau foto pura-pura jadi penjahat yang dirantai di bola-besi di dalam sel.

Selain itu, mungkin seharusnya MSJ membuat semacam perpustakaan kecil (sekaligus toko buku) yang berisi buku-buku mengenai Jakarta. Buku-buku tersebut memang jarang tetapi ada, seperti karangannya A Heuken SJ, Leonard Blusse, atau dari lokal seperti Muhadjir dan Ridwan Saidi. Dengan begitu, Museum Sejarah Jakarta tidak sekedar tempat menyimpan barang-barang yang berhubungan dengan Jakarta melainkan juga pusat informasi sejarah mengenai Jakarta.

(catatan: tetapi aku akhirnya membeli buku A Heuken SJ dari mereka. Penulis-penulis lain yang kusebutkan di atas, bisa dicari karyanya di toko-toko buku, misalnya tulisan Leonard Blusse diterjemahkan dan diterbitkan oleh LKIS)


Akhir kata,
itulah tulisan terakhir mengenai Museum Sejarah Jakarta.
Sumpah.. aku benar-benar terkesan dengan koleksi di museum ini.
Mungkin karena aku juga merasa sebagai anak Jakarta (walau keturunan Jawa) sehingga merasa wajib untuk tahu sejarah kotaku.

Thursday, January 11, 2007

I'm dying...

What's wrong with me?
Sneezing all the time.
Coughing to the death.
And having a headache.


H5N1?
I don't think so. I didn't see any death birds or chicken.

But it is so annoying!!

Saturday, January 06, 2007

MSJ bagian VI: Kehidupan Batavia

Museum Sejarah Jakarta

Bagian keenam: Kehidupan Batavia

tulisan ini bagian keenam dari tujuh tulisan.

tulisan lain:
  1. MSJ bagian I: Kesan Pertama
  2. MSJ bagian II: Prasejarah dan Awal Tulisan
  3. MSJ bagian III: Kedatangan Portugis dan Belanda
  4. MSJ Bagian IV: Kehidupan Penjajah
  5. MSJ Bagian V: Perang Batavia
  6. MSJ Bagian VII: Kritik Terhadap Museum
Tulisan dari sudut pandang ibuku bisa dilihat di:
http://edratna.wordpress.com/2007/01/04/menikmati-liburan-dengan-naik-busway


Orang-Orangnya

Siapa sih orang-orang Betawi itu? Ada yang bilang jika orang-orang Betawi adalah campuran dari berbagai bangsa. Tetapi ada juga yang bilang, sebelum Batavia muncul, ketika namanya masih Sunda Kelapa, sudah ada kampung-kampung yang orang-orangnya berbahasa Melayu, bukan Sunda. Percampuran dari berbagai bangsa menambah budaya mereka sehingga berevolusi menjadi suku Betawi. Foto ini adalah foto keluarga Betawi di abad 19







Selain penghuni asli dan Belanda serta orang-orang Tionghoa dan Mardijkers, orang-orang yang menghuni Batavia juga terdiri dari suku-suku lain baik atas keinginan sendiri maupun diculik dan terjual sebagai budak. Foto lukisan ini (menurut keterangan di kertas di bawah fotonya) menggambarkan orang-orang Bali yang sudah hidup di Batavia. Bentuk pakaiannya sudah agak beda dengan pakaian orang-orang Bali di pulaunya.








Adanya suku yang berbeda-beda yang hidup di Batavia, menimbulkan kesenian yang beraneka ragam di Batavia. Misalnya, Tanjidor adalah kesenian yang tadinya ditujukan untuk menghibur tuan-tuan Belanda. Ada juga Gambang Kromong yang merupakan sintesis dari budaya lokal dengan Tionghoa. Foto ini adalah penyanyi dan penari-penari Cokek yang melengkapi kesenian Gambang Kromong







Salah satu misteri tak terjawab adalah, sangkar burung ini. Milik suku mana kah sangkar burung ini? Milik orang Belanda? Milik orang Jawa (karena orang Jawa yang biasanya dikenal sebagai pecinta burung)? Milik orang Tionghoa? Milik Orang Betawi?









Senjatanya

Aku tidak begitu yakin siapakah yang menggunakan senjata-senjata tajam ini. Yang jelas aku tertarik dengan bentuknya.


Misalkan, tombak pendek. Baru kali ini aku melihat tombak sependek itu. Dan aku juga baru pertama kali melihat trisula namun berlikuk-likuk seperti keris


Ada juga senjata yang seperti kait. Ugh.. Pasti sakit kalau kena. Lalu ada mandau. Lalu ada juga senjata bergaya Eropa, tetapi kok pendek yah?


Kalau si Pitung, dulu waktu merampok Belanda pakai senjata apa yah?







Penjara

Nah, ini namanya penjara. Tempat menahan orang-orang yang dianggap berbahaya oleh kumpeni. Tahanannya ada bawah Museum.







Waktu kujenguk bagian dalamnya, tadinya aku berharap bisa menemukan rantai menempel pada dinding atau kerangka tengkorak. Sayangnya tidak ada.


Sebagai gantinya, aku melihat banyak bola-bola besi. Tadinya kukira itu adalah bola-bola meriam alias tempat tahanan juga berfungsi sebagai gudang senjata.


Tetapi kok, peluru meriam ada kaitnya? Kayak buat ngikat rantai atau apa. Jangan-jangan....






Lalu aku ingin mencoba. Seperti apa sih rasanya di dalam. Dari dalam yang gelap, kuarahkan kameraku menuju ke luar. Ternyata yang terlihat hanyalah tembok yang menghalangi antara penjara bawah tanah dengan halaman belakang Museum. Artinya, walaupun ada tahanan di bawah mereka, mungkin orang-orang Belanda tidak pernah perduli.



Kuberjalan menuju sudut terdalam dari sel penjara. Ternyata semakin gelap. Di masa lalu, tahanan yang mempunyai fobia pada kegelapan dan kesempitan (Claustrophobia) pasti sangat menderita. Jumlah rekan yang semakin banyak pada satu sel mungkin malah menambah sesak nafas.







Jejak Batavia Yang Tersisa

Patung ini pasti familiar buat kalian yang sering melewati Harmoni. Patung ini adalah patung asli yang seharusnya menempel pada jembatan Harmoni. Yang ada di Jembatan Harmoni adalah replikanya. Patung ini adalah patung Hermes, dewa Yunani. Sebenarnya sedikit ironis, karena Hermes, adalah dewa pencuri.








Selanjutnya: Keluhan-keluhan di Museum

MSJ bagian V: Perang Batavia

Museum Sejarah Jakarta

Bagian kelima: Perang Batavia

tulisan ini bagian kelima dari tujuh tulisan.

tulisan lain:
  1. MSJ bagian I: Kesan Pertama
  2. MSJ bagian II: Prasejarah dan Awal Tulisan
  3. MSJ bagian III: Kedatangan Portugis dan Belanda
  4. MSJ Bagian IV: Kehidupan Penjajah
  5. MSJ Bagian VI: Kehidupan Batavia
  6. MSJ Bagian VII: Kritik Terhadap Museum
Tulisan dari sudut pandang ibuku bisa dilihat di:
http://edratna.wordpress.com/2007/01/04/menikmati-liburan-dengan-naik-busway


Pertanyaan Pertama: Meriam apakah yang ada di halaman depan Museum Fatahillah? Milik siapa dan kapan digunakan?







Di ruangan sebelah kiri setelah pintu masuk utama terdapat lukisan panjang. Awalnya lukisan ini tidak begitu nampak karena penempatan cahaya yang salah dan terlalu silau. Selain itu, warnanya juga agak-agak pudar sehingga sulit menangkap bentuk gambar







Tapi gambar di sebelah kiri tampak seorang pria Kaukasia sedang terbaring. Berarti tampaknya lukisan ini melukiskan adegan peperangan. Apalagi ada gambar Pria Kaukasia yang sedang memegang kapak.







Di sebelah kanan lukisan tadi, terdapat lukisan dengan adegan berbeda. Yaitu JP Coen sedang berunding dengan seseorang (entah siapa).










Sementara, di sisi kiri dari lukisan pertama, ada adegan Sultan Agung Hanyokrokusumo sedang dikelilingi para abdinya. Dengan demikian bisa disimpulkan peperangan yang dilukiskan di lukisan pertama adalah pertempuran antara Mataram dan Batavia (VOC).







Dan di ruangan selanjutnya terdapat wayang kulit yang melukiskan Sultan Agung Dan JP Coen. Lucu lho. Pengen deh melihat kedua wayang tersebut dimainkan







Dan ini adalah lukisan JP Coen yang selalu dikutip di buku-buku sejarah. Tahukah kalian, JP Coen adalah gubernur Jendral VOC yang menginginkan Batavia menjadi sebuah kota yang beradab? Sayangnya VOC tidak sepakat dengan JP Coen dan akhirnya yang terjadi adalah, walaupun Batavia adalah pusat pemerintahan, tetapi akhirnya tidak terawat. Mengenai keanehan Batavia di masa VOC coba baca buku karangan Leonard Blusse yang berjudul Persekutuan Aneh: Pemukim Cina, Wanita Peranakan, dan Belanda di Batavia VOC.









Orang-Orang Cirebon Yang Kurang Kerjaan

Aku tergoda untuk mengatakan dengan gaya komik Asterisk bahwa "Orang-orang Cirebon itu gila". Memang mereka mampu membuat persenjataan modern sendiri seperti senapan, pistol atau meriam.


Tetapi begitu kurang kerjaan kah mereka sampai popor senapan dihias? Dengan warna menyala pula. Kayak selendang batik saja. Ck ck ck ck..








Gak cuma itu. Moncong meriam pun juga mereka hias dengan bentuk kepala naga. Hebat.









Sementara tempat meriam yang biasanya bayangan kita adalah kereta biasa dikasih roda biar bisa kemana-mana. Oleh orang Cirebon dihias dalam bentuk Garuda. Wow...







Berarti yang membuat meriam naga, yang dipakai oleh bajak laut Indonesia yang tenggelam di perairan Nusantara, siapa yah? Orang-orang cirebon juga kah? Meriam Naga ini aku lihat di Museum Maritim di Brisbane, Australia. Cukup kaget juga aku melihatnya. Jadi orang Indonesia sudah bolak-balik ke Australia sebelah timur jauh sebelum orang-orang bule mendarat. Hehehehe







Motif Kotak Besi

Tahu kan kotak besi buat nyimpan barang yang sering muncul di cerita-cerita zaman dulu kayak Robin Hood? Dulu kukira, motifnya cuma kotak-kota. Ternyata di tengah kotak-kotaknya ada ukiran-ukirannya. Misalkan, kotak ini, ukirannya berbentuk prajurit.



Di bagian bawahnya sendiri, ukirannya bergambar meriam-meriam. Gak terbayang deh, orang-orang zaman dulu begitu isengnya mengukir kotak-kotak seperti itu. Orang-orang zaman sekarang jarang yah bikin ukiran seperti itu? Kebanyakan pada sederhana



... to be continued

MSJ bagian IV: Kehidupan Penjajah

Museum Sejarah Jakarta

Bagian keempat: Kehidupan Penjajah

tulisan ini bagian keempat dari tujuh tulisan.

tulisan lain:
  1. MSJ bagian I: Kesan Pertama
  2. MSJ bagian II: Prasejarah dan Awal Tulisan
  3. MSJ bagian III: Kedatangan Portugis dan Belanda
  4. MSJ Bagian V: Perang Batavia
  5. MSJ Bagian VI: Kehidupan Batavia
  6. MSJ Bagian VII: Kritik Terhadap Museum
Tulisan dari sudut pandang ibuku bisa dilihat di:
http://edratna.wordpress.com/2007/01/04/menikmati-liburan-dengan-naik-busway

Buatku, bagian ini adalah bagian paling menarik. Aku mengambil banyak foto di bagian ini. Sebagian besar berlokasi di lantai dua walau beberapa ada di lantai dasar.

Bagian ini menarik untukku karena melihat barang-barang koleksi mereka, aku mencoba berkhayal, seperti apakah jalan pikiran orang-orang yang dengan teganya memperbudak sesama manusia. Apakah mereka orang-orang yang buas atau mereka orang-orang yang sombong.



Papan Nama

Papan Nama ini terletak di lantai dasar. Tidak begitu jelas apakah papan nama ini menunjukkan gedung yang sekarang menjadi museum ataukah berasal dari gedung lain. Mencoba menerjemahkan di babelfish (aku tidak bisa bahasa Belanda) dan membandingkannya dengan selebaran yang didapat dari petugas Museum, hasilnya kontradiksi.



Selebaran menunjukkan bahwa Stadhuis (balai kota) kedua yang jadi Museum Sejarah Jakarta ini diselesaikan tahun 1626. Tetapi terjemahan amatiran menggunakan babelfish menyatakan Stadhuis mulai dibangun tahun 1707 setelah menghancurkan yang lama, dan diselesaikan tahun 1710. Adakah yang bisa menjelaskannya?




Raad Van Justitie (Dewan Pengadilan)

Seperti yang sudah diceritakan sebelumnya, selain sebagai balaikota, gedung ini juga berfungsi sebagai tempat Dewan Pengadilan. Lukisan yang terpajang sepanjang ruangan persis setelah balkoni di lantai dua mungkin dipasang di tempat itu sebagai ilham untuk anggota dewan






Lukisan ini terinspirasi dari kisah di Perjanjian Lama, mengenai dua ibu yang memperebutkan seorang bayi yang masih hidup di hadapan Raja Sulaiman. Salah satu dari mereka telah tertimpa tragedi kematian anaknya dan berusaha mengakui bayi yang masih hidup sebagai buah hatinya. Sang Raja akhirnya memutuskan untuk membelah bayi tersebut menjadi dua. Ibu yang asli berusaha menyelamatkan sang bayi dan ibu yang telah ditinggal mati oleh bayinya mengiyakan keputusan Sang Raja. Dua sikap berbeda dari para ibu ini membuat Sang Raja berhasil membedakan ibu kandung asli dengan ibu kandung palsu.



Di lantai dua juga terdapat balkoni tempat Gubernur Jenderal dan para hakim melihat eksekusi yang dilakukan oleh para algojo terhadap narapidana. Balkoni ini menghadap ke Lapangan Fatahillah.







Pedang ini tersimpan di ruangan sidang Dewan Pengadilan. Konon Pedang inilah yang digunakan untuk memancung para terhukum. Disimpan di dalam kotak kaca







Di ruangan yang sama terdapat meja tempat anggota dewan pengadilan bersidang. Di latar, terlihat lemari besar terdiri dari rak-rak buku. Lemari tersebut dibuat dengan gaya Renaissance pada tahun 1747, dari kayu jati,






Di atas, di sudut kanan dan kiri lemari, terdapat dua figur. Figur di sebelah kanan konon adalah Dewa Kebenaran sementara figur di sebelah kiri konon adalah Dewa Keadilan. Pertanyaannya adalah, dewa dari mitologi apa? Siapakah namanya? Sayangnya pertanyaan- pertanyaan tadi, lagi-lagi tidak terjawab di kertas keterangan pada lemari




Di atas lemari, terdapat hiasan yang tidak terlalu kelihatan karena begitu tingginya lemari buku ini. Kuperkirakan, tingginya mencapai 3 meter. Sayang sekali tidak ada tangga agar bisa memperhatikan hiasan di atas dengan lebih jelas






Konon sih, hiasan paling atas berisi 14 lambang dari para anggota dewan. Tetapi siapa saja sih yang menjadi anggota dewan? Apakah mereka bagian dari VOC atau di luar struktur VOC? Dan seperti yang kusebutkan sebelumnya, amat disayangkan tidak ada tangga untuk melihat hiasan paling atas dengan lebih jelas.


Lebih malang lagi, Museum Sejarah Jakarta tidak memiliki buklet yang bisa menjelaskan koleksi-koleksi mereka dengan lebih rinci. Kami hanya mendapatkan selembar kertas yang menjelaskan sejarah Museum Sejarah Jakarta secara sepintas lalu






Perabotan

Lantai 2 mengandung banyak perabotan. Misalnya pemisah ruangan yang terbuat dari kayu ini. Tinggi sekitar 2 meter, namun tampaknya tidak berasal dari ruangan tempat ia berada sekarang karena posisinya di Museum Sejarah Jakarta tidak memisahkan ruangan apapun. :p






Bagian tengah dari pemisah ruangan ini terdapat ukiran seorang prajurit berhelm dengan hiasan kepala singa dan menggunakan perisai berlambangkan kepala orang (Medusa?). Apakah dia Perseus? Tidak jelas karena itu hanya berupa lambang di perisai.






Di bagian atas lagi-lagi terdapat lambang. Lebih tepatnya ada 7 lambang. Mewakili apa sajakah lambang-lambang tersebut? Yang jelas lambang yang ditengah sama dengan lambang yang ada di perisai pada patung Singa VOC. Apakah itu lambang VOC? Lagi-lagi tidak ada kejelasan






Di ruangan lain terdapat perabotan- perabotan lain yang termasuk perabotan standar seperti, lemari penuh laci- laci kecil. Ada juga meja belajar


Sayang sekali, laci-laci mereka dikunci dan gak bisa dibuka. Padahal pengen tahu apakah laci-laci mereka seperti laci-laci lemari kita di masa sekarang atau berbeda jauh. Atau jangan-jangan ada barang-barang yang masih tertinggal di laci tersebut. Peta harta karun misalnya? (Hush! Ngayal aja, kerjaannya!)




Orang-orang Belanda di masa lalu rupanya juga punya permainan untuk menghilangkan kebosanan. Meja tidak jelas ini konon dinamakan Meja Trik Trak. Meja ini dibuat pada abad 18 dan digunakan untuk permainan Backgammon.






Tempat tidur ini juga dibuat pada abad 18. Di atasnya terdapat palang, kemungkinan untuk menaruh kelambu. Dibuat dari kayu jati, tempat tidur seperti ini konon disebut sebagai bergaya Empire.






Tentu saja, tidak ada kehidupan mewah tanpa lampu- lampu kristal gemerlapan. Eh.. Ini lampu atau tempat lilin yah? Pokoknya sesuatu yang mengkilap.






Di lantai dasar sendiri ada kumpulan tabung-tabung gelas yang kami (aku dan Ibu) perkirakan sebagai penutup lampu. Mungkin lampu murahan yang tidak perlu bergaya mewah-mewah.






Hampir lupa.. jangan lupakan rumah tanpa tempat mandi. Ada bak mandi juga lho.. Sederhana banget ternyata.










Kalau yang ini adalah tempat tinta. Bayangkan, Jan Pieterzon Coen harus bolak-balik mencelupkan penanya kedalam wadah tinta agar bisa menulis. Pasti hal yang membosankan. Orang yang menemukan ballpoint benar-benar berjasa.







Keramik dan Piring-Piring



Di atas adalah piring-piring dan barang-barang keramik lain yang didapat dari seluruh penjuru dunia termasuk Eropa, Cina, dan Jepang. Terlalu banyak untuk diceritakan satu-satu, lagipula ceritanya terlalu sedikit :p



Ada juga piring yang dicap lambang VOC. Yup.. Seperti itulah lambangnya. Huruf V besar, lalu huruf O dan C pada masing-masing sisi huruf V.


Di lantai dasar juga terdapat piring logam (bukan keramik) yang juga dicap dengan lambang VOC. Pertanyaannya adalah, kenapa mesti dicap? Apakah pegawai VOC tidak mau makan dari piring yang tidak dicap? Ataukah terjadi kehilangan piring berkali-kali sehingga piring tersebut harus dicap? (Pertanyaan ngaco yah? Hehehehe)











Figur Pada Lukisan dan Patung

Oke.. Kenapa ada patung kepala Sir Thomas Raffles di sini? Memang ia pernah menjabat sebagai Gubernur Jenderal pada tahun 1811-1816 tetapi mewakili Inggris. Siapakah yang menyimpan patung kepalanya? Orang Belanda kah? Atau Orang Belanda membiarkan patung kepala Raffles ada di sini?








Lukisan Herman Willem Daendels. Terkenal karena memaksa rakyat Indonesia untuk membangun jalan raya Pos sepanjang 1000 km dari Anyer sampai Panarukan. Memerintah Nusantara sebelum akhirnya jatuh ke tangan Inggris di tahun 1911. Sayang sekali, replika lukisan ini sudah lama dan warnanya sudah pudar menjadi merah kemerahan. Pencahayaan yang salah juga menyulitkan untuk diambil gambarnya.






Yang ini adalah lukisan Petrus Albertus van der Parra, Gubenur Jendral dari VOC yang memerintah Batavia pada 1761-1775. Berarti sesudah masa Mataram terpecah menjadi dua akibat perjanjian Giyanti.








Kalau yang ini adalah suami istri DeWitt. Konon mereka salah satu orang kaya di Batavia pada abad 19. Sayangnya tidak ada keterangan nama lengkap mereka sehingga aku sulit mencari cerita tentang mereka di internet.






Di atas lantai 2 (dekat atap) terdapat ceruk yang juga diisi oleh patung. Tidak ada keterangan siapakah mereka. Aku merasa familiar dengan figur cowok yang sedang menggendong wanita. Rasanya aku pernah melihat gambar patung itu di sebuah buku. Mungkin ada tema yang sama dan patung kecil di ceruk itu adalah tiruannya.






Maket Tempat Ibadah

Ayo, tebak! Maket apakah ini? Petunjuknya adalah ini tempat ibadah. Masjid? Salah!


Ini adalah maket Gereja Kubah (Koepelker)yang kini sudah tak ada karena digantikan oleh gedung-gedung Geo Wehry & Co. Salah satu gedung itu kini menjadi Museum Wayang.


Tau gak, Jan Pieterszoon Coen, konon dimakamkan di bawah Gereja Kubah. Dan tidak hanya dia, tetapi juga 18 Gubernur Jenderal lainnya.




Mencoba Cermin

Silakan pingsan! Hehehe.
Kapan lagi aku bisa bercermin di cermin yang usianya lebih tua dari aku. Di belakangku, terlihat ibuku yang berbaju putih. Di dinding lainnya, terlihat pemisah ruangan (yang sudah tidak memisahkan ruangan) yang detail gambarnya bisa dilihat di bawah.





Ini, lagi-lagi adalah hiasan yang membuatku bertanya-tanya. Gambar apakah ini? Yang jelas, seorang wanita, berpakaian prajurit. Lalu apa maksudnya meriam di sebelah kanan dan kiri? Lagi-lagi tidak ada penjelasan. Bahkan tulisan yang tergantung cuma menjelaskan bahan baku pemisah dinding tersebut.




... untuk dilanjutkan