Saturday, January 06, 2007

MSJ Bagian III: Kedatangan Portugis dan Belanda

Museum Sejarah Jakarta

Bagian ketiga: Kedatangan Portugis dan Belanda

tulisan ini bagian ketiga dari tujuh tulisan.

tulisan lain:
  1. MSJ bagian I: Kesan Pertama
  2. MSJ bagian II: Prasejarah dan Awal Tulisan
  3. MSJ bagian IV: Kehidupan Penjajah
  4. MSJ Bagian V: Perang Batavia
  5. MSJ Bagian VI: Kehidupan Batavia
  6. MSJ Bagian VII: Kritik Terhadap Museum
Tulisan dari sudut pandang ibuku bisa dilihat di:
http://edratna.wordpress.com/2007/01/04/menikmati-liburan-dengan-naik-busway



Mereka Datang

Semua berawal dari rempah-rempah dan kekayaan alam lain yang kita miliki. Ketegangan di Timur tengah memaksa pedagang-pedagang Spanyol dan Portugis tidak bisa berharap banyak dari pedagang-pedagang Arab tempat mereka biasa membeli rempah-rempah. Alhasil, mereka mulai menggiatkan kegiatan pelayaran melacak rempah-rempah kita.






Berbeda dengan Spanyol yang mencoba ke Barat, Portugis mencoba melalui jalur timur, memutari Afrika hingga sampai Goa, India. Setelah India berhasil dikuasai, mereka menemukan bahwa semua perdagangan berasal dari Malaka.





Di bawah kepemimpinan Afonso d'Albuquerque, Portugis menyerang Kerajaan Malaka dan berhasil menguasainya. Seharusnya, Portugis sudah mampu memonopoli perdagangan rempah-rempah yang hanya bisa disaingi oleh Spanyol yang datang dari Laut Pasifik di bawah kepemimpinan Ferdinand Magellan (sebenarnya orang Portugis namun melayani Kerajaan Spanyol).

Dua negara serakah ini bersaing dan terpaksa dicampuri oleh Paus melalui Perjanjian Tordesillas.





Sementara, Kerajaan Pajajaran yang menguasai Sunda Kelapa merasa terancam oleh bangkitnya Kerajaan-Kerajaan Islam seperti Demak. Hal ini tidak lepas dari usaha pedagang-pedagang Muslim yang berusaha menghindari kekuasaan Portugis di Malaka dan beralih ke bandar-bandar lain seperti yang ada di Pulau Jawa. Dengan keputusasaannya, Kerajaan Pajajaran meminta tolong kepada Portugis.






Portugis dan Kerajaan Pajajaran mengadakan perjanjian ditandai oleh keberadaan Prasasti Padrao. Pada prasasti ini, ditemukan tulisan:


DSPOR
ESFERRa
ME

yang sesungguhnya singkatan dari Do Senhario de Portugal, Esfera do Mundo.


Hal yang masih kupertanyakan adalah apa arti lambang bola dunia di bagian paling atas. Menurut A Heuken SJ (penulis Gereja-Gereja Tua di Jakarta), yang ada di prasasti tersebut adalah salib Ordo Christi. Apakah bola dunia tersebut yang dimaksud olehnya? Tertera di bukunya, lambang salib tersebut di atas huruf O. Huruf O yang mana? Ada yang bisa memberitahuku?



Portugis datang ke Sunda Kalapa membawa kapal-kapalnya. Namun pasukan Muslim di bawah pimpinan Fatahillah (yang sampai sekarang masih diperdebatkan asal-usulnya) berhasil merebut Sunda Kalapa sebelum Portugis sampai. Di bawah kepemimpinannya, Pasukan Muslim berhasil mencegah Portugis mendarat sehingga Sunda Kalapa diberi nama Jayakarta (tetapi kemenangan siapa?).






Meriam Si Jagur (yang berada di halaman belakang Museum Fatahillah) adalah peninggalan Portugis. Meriam ini lebih besar daripada meriam-meriam lain yang berada di halaman depan Museum Fatahillah. Di pangkal meriam terdapat tulisan yang entah artinya apa.






Yang membuatku geli adalah pahatan di pangkal meriam berbentuk kepalan tangan. Bahkan disebut kepalan tangan pun juga tak cocok karena kondisi jari tengahnya yang mengingatkanku pada pose Kuku Bima (namun tanpa Kuku kuatnya itu). Sayang sekali, tak ada keterangan di sekitar meriam yang bisa menjelaskan mengapa pangkal Si Jagur ada bentuk tangan seperti itu.






Setelah Portugis, penjajah lain kembali mengincar Sunda Kalapa yang sudah berubah menjadi Jayakarta. Perusahaan Belanda bernama VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie) yang dibentuk Heeren XVII, setelah mendapatkan peta dengan berkat pengalamannya ikut serta dalam pelayaran-pelayaran sebelumnya, tertarik menjadikan Jayakarta sebagai basis monopoli mereka, terutama dalam menghadapi persaingan dengan Inggris yang mendominasi di Banten. Dan mulailah babak baru kota Jayakarta, dari sekedar kota kecil yang tunduk di bawah Kerajaan Banten dan sebelumnya tunduk di bawah Kerajaan Pajajaran, kini menjadi cikal bakal ibukota dari sebuah jajahan yang luas.


Patung singa ini adalah salah satu simbol VOC. Lambang pedang yang berada di perisai di cengkeraman sang singa, juga terdapat pada barang-barang lain

0 comments: