Friday, May 29, 2009

CCTV di Halte Bis Sarinah

Nilai Mega-Pro naik di mataku hari ini

Petunjuk: Baca Kompas hari ini..


Gue yakin itu pasti usul Prabowo. Soalnya gue ingat, kawan gue yang jadi caleg Gerindra dulu bikin kayak gitu. (gak yakin kalau Mega sanggup seperti itu).

Tentu saja masih bisa diperdebatkan,
tetapi pemuatannya adalah hal yang positif menurutku.

(tapi Bu.. mbok jangan ajak ngobrol politik kalau pagi-pagi.. Anakmu lagi murung, neh..)

Status FB pagi ini

I feel sorrow again..

I though I had became better when I mad at her and started to ignore her.. But now, I felt sorrow again.


I miss her again.


She can't read this now but the last time I wrote I miss her, she though I miss somebody else.

Thursday, May 28, 2009

UU LAJ yang baru di mana yah?

Pengen baca.. pengen memutakhirkan pengetahuan.

Setahuku, butuh beberapa bulan sebelum UU baru dapat nomer dan dimuat di legalitas.org.

Wednesday, May 27, 2009

Sekilas Ngalor-Ngidul Bersama "Boediono" (yup.. Cawapres)

Tulisan ini aslinya di forum Ajangkita
http://www.ajangkita.com/forum/viewtopic.php?t=26098&start=21
Kuformat ulang untuk blog.

==================================================================

Aku baru bertemu dengan Boediono di Wetiga (Warung Wedang Wifi) di Langsat. Saya jadi memahami maksud tulisan Faisal Basri yang sempat tersebar di milis-milis dan forum-forum.


Kesan saya terhadap beliau kurang lebih bisa digambarkan sebagai berikut: Saya dan ibu saya punya banyak perbedaan pandangan tetapi bukan berarti ibu saya adalah musuh saya. Dan perasaan yang sama juga saya rasakan saat melihat, bertanya dan mendengar jawaban-jawaban dari Pak Boediono.

Jujur,
saya jadi ingat Presiden Habibie yang kasarnya, gak jadi Presiden pun tak apa-apa karena Pak Habibie sendiri bukan seorang politikus. Begitu juga dengan Pak Boediono, sangat terlihat, bila kalian langsung bertatapan, mendengar dari awal, bukan sekedar klip-klip video atau tulisan wartawan, bahwa beliau bukan seorang politikus.

Seorang blogger sampai menimpali moderator, "bagaimana saya bisa menagih janji dia (Pak Boed), ia memberi janji juga tidak".

Benar, begitu takutnya ia memberi janji sampai berkali-kali meminta maaf tidak bisa memberikan jawaban pada kami, bahkan termasuk pertanyaan saya mengenai kebijakan pemerintah yang akan datang terhadap perfilman Indonesia.


Pak Boediono juga sepanjang acara, adalah seorang yang konsisten. Pertanyaan-pertanyaan yang tidak berkaitan langsung dan ditanyakan dalam selang waktu yang panjang (diselingi pertanyaan-pertanyaan lain), ternyata dijawab dengan sikap yang konsisten.

Saya bahkan baru menyadari bahwa pertanyaan saya berhubungan dengan pertanyaan seorang penuduh Pak Boed adalah Neo-lib setelah saya mengobrol dengan Goenawan Muhammad (yup.. dari Tempo). Lucunya, ketika Pak Boed menjawab pertanyaan seorang pembenci Pak Boed, saya memihak pembenci Pak Boed. Tetapi ketika Pak Boed menjawab pertanyaan saya, saya memihak Pak Boed. Padahal ternyata jawaban beliau didasarkan pada sikap yang sama.

Artinya, saya tidak konsisten sementara Pak Boediono konsisten.

Untuk BLBI, saya melihat, apa yang dialami Pak Boed adalah hal yang sama dengan apa yang dialami oleh ibu saya saat masih di salah satu bank dahulu. Kebijakan saat itu adalah simalakama, bila nasabah tidak dibantu maka bisa menyeret perekonomian. Memang ada nasabah-nasabah nakal dan karena itu ada BPPN yang bisa dibilang sebagai tukang tagih (debt collector).

Aku masih ingat, saat ibuku masih bekerja di perbankan, diriku selalu menyiapkan mental bila suatu hari ada salah kebijakan dan menyeret ibuku masuk penjara karena situasinya bagai di tepi jurang. Berapa kali ibu saya harus menghadapi pertanyaan-pertanyaan dari DPR dan kejaksaan bahkan kadang-kadang, mereka yang bertanya itu tidak disertai niat yang tulus.

Mengenai keterlibatannya pada kasus BLBI, Pak Boed sendiri, menyatakan:
1. itu kebijakan resmi dan itu juga dengan persetujuan DPR. Dan itu bukan keputusan satu orang melainkan menggunakan rapat-rapat kabinet.

Bahasa sederhananya (ini kata-kataku, bukan kata-kata Pak Boed), kalau ada yang teriak padahal dia termasuk anggota DPR saat itu atau anggota kabinet (atau bahkan yang jadi presidennya) maka sama saja maling teriak maling. Menyalahkan Pak Boed seorang adalah tidak adil.



2. Pak Boed sendiri lebih menyukai menyerahkan semua persoalannya pada hukum walau Pak Boed mengakui bahwa ia percaya kebijakan BLBI saat itu dibutuhkan.



Soal privatisasi,
jujur saja,
berapa banyak di antara kalian berharap supaya persaingan dibuka supaya BUMN berkompetisi? Karena kalian tidak terlalu jauh berbeda posisinya.

Sebenarnya saya mau menanyakan hal tersebut tetapi karena semua sudah menanyakan bidang ekonomi dan politik, akhirnya saya malah lebih memilih bidang film.

Tetapi inti jawaban Pak Boediono sama.. Intinya, ia ingin meningkatkan standar produksi Indonesia. Tidak ingin memanjakan. Sikapnya ini tercermin pada jawaban untuk tiga pertanyaan yakni

1. analogi penjual mangga dan importir mangga:
Pak Boed mementingkan konsumen mangga. Bila ada pedagang mangga dari Sumatera tidak bisa bersaing dengan importir mangga karena setiap melintasi propinsi ia ditarik biaya maka menurut Pak Boed, bukan dengan menutup impor mangga solusinya, melainkan dengan memangkas peraturan-peraturan dan pungutan-pungutan di daerah-daerah sehingga penjual mangga bisa bersaing.
(aku tidak puas dengan jawaban yang ini karena menurutku, konsumen tidak perlu dimanja soal ini)


2. privatisasi:
Pak Boed menginginkan masyarakat membedakan antara privatisasi dan divestasi. Obyek Divestasi adalah perusahaan yang sejak awal milik publik yang kemudian dibeli pemerintah untuk diselamatkan dan setelah itu dijual kembali. Obyek Privatisasi adalah perusahaan yang memang dilepas untuk:
a. mendapatkan dana bagi pemerintah
b. meningkatkan kinerja BUMN bersangkutan karena BUMN selama ini sering jadi sasaran pemerasan (ingat kasus Bapindo dan Golden Key serta surat Katebelece?)

Aku sebenarnya pengen bertanya juga tentang ini karena saya ingin tahu apakah privatisasi BUMN tidak bertentangan dengan pernyataan "dikuasai negara" dalam UUD namun akhirnya tidak kutanyakan saat mendapat kesempatan.


3. Industri Film:
Pak Boed percaya, tidak ada hitam dan putih. Pemerintah tidak bisa bersikap sok nasionalis dengan mengatakan industri perfilman harus dari lokal semuanya. Bila memang perlu ada kerjasama dengan pihak luar untuk meningkatkan mutu, mengapa tidak. Yang perlu diperhatikan adalah bagaimana memperbanyak muatan lokalnya.
(Di sini saya sepakat dengan Pak Boed, mungkin karena saya konsumen film tetapi berarti sebenarnya menunjukkan ketidakkonsistenanku)

Sekedar catatan, Pak Boed sebelum menjawab mengatakan ia tidak terlalu menguasai masalah-masalah dan isu-isu di bidang perfilman dan jawabannya untukku bukan jawaban resmi. SBY dan Menbudpar tampaknya punya pandangan berbeda 180 derajat soal ini. Sekali lagi, Pak Boed tidak memberikan janji.



Dan waktu ditanya Enda Nasution mengenai apa yang membedakan ia dengan calon lain, Pak Boed mengatakan, ia tidak membuat kontrak apapun dengan SBY. Ia hanya mengatakan bersedia menjadi wakil (tampaknya nyindir salah satu cawapres nih). Beliau percaya bahwa beliau dan SBY akan menjadi tim yang kompak.

Salah satu beritanya bisa dibaca di:
http://nasional.kompas.com/read/xml/2009/05/26/21453646/Boediono.Minta.Komunitas.Blogger.Ciptakan.Iklim.Kondusif
(aku adalah yang berbaju hitam [berjaket hitam lebih tepatnya], duduk paling depan)



Kesimpulannya,
Saya percaya Pak Boed adalah orang tulus, santun, dan jujur walaupun saya memiliki beberapa perbedaan pandangan terhadap beliau. Dan, jujur saja, saya pikir label neolib sangat tidak pas untuk beliau.

Saya pernah terkejut pada salah satu pemikiran salah satu tokoh yang pernah mencoba ikut bursa capres karena pandangan tokoh tersebut begitu liberal dan begitu kapitalis, dan pandangan seperti itu tidak saya temui pada Pak Boed.

Saya lebih percaya, kebijakan beliau lebih dikendalikan oleh situasi. Itu sebabnya, seorang blogger gemas dan meminta kejelasan kebijakan beliau ke depan namun lagi-lagi, Pak Boed yang cenderung bermain berhati-hati memilih untuk tidak memberikan janji.

Yang saya suka dari Pak Boed adalah, ketika ia tidak tahu, ia akan mengatakan 'tidak tahu'.


Saturday, May 16, 2009

Mencari Taksi Putih di Jakarta

Saya kehilangan dompet coklat berisi SIM A, SIM C, KTP, 2 kartu ATM BRI (gak ada duitnya), 1 kartu ATM BCA (gak ada duitnya), 1 kartu ATM Bank of America dan entah identitas apalagi. Semua itu atas nama Narpati Wisjnu Ari Pradana

Kehilangan terjadi di sebuah taksi berwarna putih. Saya menaiki taksi tersebut karena sudah lelah dan malas menunggu bus. Berangkat dari Otista sekitar pukul 18.05 atau 18.10. Karena macet, sampai di BEJ pukul 18.55. Dan mencapai Blok M Plaza pukul 19.10 (data yang terakhir dikonfirmasi dengan CCTV). Biaya yang dikeluarkan sekitar 44 ribu rupiah.

Saya tidak ingin nama perusahaan taksinya dan saya tidak ingat nomer taksinya, dan juga tidak ingat nomer polisinya.

Yang saya ingat
1. nama awal pengemudi : Boy

2. nama akhir pengemudi adalah nama Indonesia.. Bila saya tidak salah ingat, namanya adalah Nasruddin. Jadi nama pengemudi adalah Boy Nasruddin

3. Seingat saya, kartu pengenal pengemudi taksi berwarna hijau atau biru tetapi saya mungkin salah ingat.

4. Taksi berwarna putih

5. Berdasarkan CCTV, mahkota taksi (bagian atas yang menunjukkan apakah ada penumpang atau tidak) berwarna putih atau putih kebiruan Tidak jelas karena cahaya berpendar, tetapi jelas bukan warna kuning karena di sampingnya ada taksi lain berwarna putih dengan mahkota berwarna kuning (Express)

6. Jenis mobil Vios, setidaknya aku menebaknya Vios karena speedometer berada di tengah, bukan di depan pengemudi. Penumpang yang duduk di sebelah kiri bisa melihat speedometer dengan jelas dan hal tersebut sempat membuatku sangsi karena seingatku, speedometer Vios, walau berada di tengah tetapi hanya bisa dilihat oleh pengemudi.

7. Memiliki radio.

8. Argo diletakkan di atas. Karena saya sempat mencari argo di bawah dan tak ketemu dan si pengemudi menunjukkan argonya di atap.

9. Berdasarkan CCTV, jenis mahkota adalah yang memiliki lengkungan, bukan tipe kaku kotak-kotak

Ada tiga perusahaan taksi berwarna putih yang kami (saya dan keamanan Blok M Plaza) ingat yakni Express, Bintang, dan Dian. Kami mencoret Express dari daftar karena mahkota berwarna kuning (ada wakil dari perusahaan Express yang ikut melihat CCTV dan memberikan dua nama taksi putih lainnya)

Dian Taksi menyatakan, mahkotanya berwarna biru.

Bintang Taksi menyatakan, argo di taksi mereka diletakkan di dashboard alias di bawah, bukan menempel pada atap.

Informasi yang saya butuhkan adalah,
kira-kira perusahaan taksi apa yang memiliki warna putih dengan ciri-ciri di atas. Ada yang ingat taksi apa saja yang berwarna putih?

Terimakasih,


Kunderemp Ratnawati Hardjito a.k.a
Narpati Wisjnu Ari Pradana

Wednesday, May 13, 2009

Jamila dan Sang Presiden: Ternyata Teater dan Film Berbeda

Dahulu aku sering mendengar bahwa mengadaptasi naskah yang digunakan untuk teater ke medium layar lebar tidaklah gampang. Namun selama ini, aku selalu bisa menikmati adaptasi-adaptasi tersebut, dari Hamlet yang diperankan Mel Gibson, Romeo + Juliet yang dibuat Baz Luhrman, Macbeth-nya Roman Polanski, bahkan Phantom of The Opera-nya Joel Schumacher yang jelas-jelas diadaptasi dari versi opera Andrew Lloyd Weber. Jadi ketika saya mendengar bahwa Jamila dan Presiden adalah adaptasi dari teater, saya menyangka, setidaknya bila unsur teaternya masih terasa, saya akan seperti melihat Puisi Tak Terkuburkan-nya Garin Nugroho.

Saya salah!

Mbak Ratna Sarumpaet berhasil membuktikan pada saya bahwa teater dan layar lebar adalah dua medium berbeda dan adaptasi dari satu medium ke medium lain membutuhkan usaha yang tak ringan. Film ini adalah adaptasi yang gagal. Padahal pendukung film ini tak main-main, dari Christine Hakim, Jajang C. Noer, Ria Irawan, bahkan dua dari tiga aktor muda favorit saya yakni Surya Saputra dan Dwi Sasono.

Yang terasa pertama kali adalah wajah Menteri Nurdin yang diperankan oleh Adjie Pangestu. Walau hanya muncul sekilas di layar TV, Adjie tampak terlalu muda sebagai menteri. Sebenarnya aneh, karena kita dahulu punya menteri-menteri muda seperti Khofifah Indar Parawansa atau Nur Mahmudi Ismail, tetapi Adjie Pangestu walau hanya memerankan mayat di awal film, tidak terasa seperti sosok pejabat. Bahkan di bagian akhir, ketika akhirnya terungkap peristiwa pembunuhannya, Adjie lebih tampak seperti bos muda yang belum matang dibandingkan seorang menteri. Tak bisakah diakali, dengan menyuruh Adjie merawat jenggot sebelum syuting filmnya dimulai misalnya?

Di panggung, masalah usia ini tak terlalu bermasalah, apalagi bila penonton jauh dari panggung tetapi di layar, dengan kamera yang begitu akrab hingga penonton bisa sampai melihat jerawat para pemain, hal-hal kecil seperti ini menjadi sangat mengganggu.

Kemudian kita diperkenalkan dengan sosok Ibrahim (Dwi Sasono) dengan kemunculan pertamanya di sebuah diskotik sebagai seseorang yang jatuh hati pada Jamila. Jujur saja, yang paling terasa pertama kali adalah diskotiknya terlalu sepi tetapi hal itu tidak terlalu seberapa bila dibandingkan dialog antara Ibrahim dan Jamila yang juga diselipi monolog. Tampaknya Ratna juga menyadari bahwa dialog antara mereka juga kurang, terbukti di adegan selanjutnya, ketika Jamila menyerahkan diri ke kantor polisi dan ucapan Ibrahim terngiang-ngiang secara voice-over, mereka merekam ulang suara Dwi Sasono, alih-alih menggunakan hasil sebelumnya.

Saya masih merasa ada yang janggal dengan cara berbicara Atiqah Hasiholan. Ketika sosok Jamila kecil muncul, saya menyadari ada yang hilang, yakni logat tokoh Jamila. Jamila kecil memiliki sedikit aksen Sunda walau berbahasa Indonesia namun Jamila dewasa sama sekali tak beraksen. Namun perasaan tidak nyaman ini hanya muncul pada setengah jam awal film dan setelahnya, menghilang.

Kejanggalan juga terasa ketika kita dihadapi pada kilas balik pembunuhan terhadap ayah dan anak yang dilakukan oleh Jamila remaja. Jajang C. Noer mampu menunjukkan mood dengan tepat sebagai nyonya rumah yang lumpuh termasuk ketika menjumpai suaminya tewas terbunuh namun reaksi si pembantu bukannya membuatku ikut merasakan seram namun malah membuatku ingin tertawa terbahak-bahak.

Sekali lagi, saya bisa membayangkan bentuk panggung dari adegan ini, di mana saya membayangkan karakter si pembantu ketakutan melihat mayat pemuda, anak tunggal keluarga di sebelah kanan kemudian lari ke arah kiri menjumpai si nyonya yang hanya diam dan dengan mayat kepala keluarga di belakangnya yang membuatnya semakin panik dan lari keluar panggung. Sayangnya, hal tersebut gagal diterapkan di medium layar lebar, medium di mana saya bisa melihat dengan jelas jerawat-jerawat pemain Lord of The Ring: The Twin Towers dan bulu-bulu tangan Kirsten Dunst di Spiderman 2 apalagi sekedar wajah pemain yang gagal mengekspresikan ketakutannya. Mungkin seharusnya tidak ada close-up ke wajah pemeran pembantu.

Akan lebih mengganggu lagi, ketika duet pemain yang seharusnya punya potensi, gagal hanya karena ketidakjelian skenario. Debat-debat antara Bu Ria (Christine Hakim) dan Surya (Surya Saputra) seharusnya bisa menarik apalagi kualitas Christine Hakim dan Surya Saputra sudah sering teruji namun satu kecerobohan skenario membuat rusak semuanya yakni penggunaan sapaan.

Karakter Bu Ria tampak lebih tua apalagi ia pemimpin sipir. Sungguh aneh rasanya, sosok sipir muda seperti Surya memanggil Bu Ria sebagai 'anda'. Lebih parah lagi, dalam beberapa bagian, Surya bahkan menggunakan kata 'kamu' dalam menunjuk atasannya. Saya yang baru datang dari Amerika Serikat saja sudah merasa janggal, apakah tidak ada yang menyadari dari sekian banyak orang yang terlibat dari pembuatan adegan ini?

Skenario juga terlihat lemah ketika Bu Ria mendatangi Jamila karena ia berteriak-teriak akibat mimpi buruk.

BU RIA:
Membunuh menteri saja kau berani, baru mimpi buruk sudah berteriak-teriak

JAMILA:
Itu adalah pengalaman terburuk yang pernah saya alami.

Penonton mungkin paham apa yang dimaksud dengan "itu" karena di adegan sebelumnya diperlihatkan kilas balik tetapi kepala sipir Bu Ria tak mungkin tahu. Namun, reaksi selanjutnya, seakan-akan Bu Ria sudah tahu atau sudah berhasil membaca isi pikiran Jamila.

Yang kemudian tampak dipaksakan adalah demonstrasi-demonstrasi yang dipimpin oleh Fauzi Badilla. Dari sisi pakaian saja, sungguh, lebih seperti melihat demonstrasi aktivis-aktivis kiri daripada kelompok-kelompok yang mengatasnamakan agama yang saya peluk. Kehadirannya dalam cerita pun juga tak kuat.

Dari sekian banyak razia PSK yang dilakukan oleh satpol PP, pernahkah kita mendengar kelompok-kelompok agama tersebut berdemonstrasi di depan panti rehabilitasi sosial? Dari sekian banyak pembunuhan yang terjadi pada pejabat publik, pernahkah kita mendengar kelompok-kelompok agama tersebut berdemonstrasi menuntut pembunuh pejabat publik tersebut dihukum mati?

Benar kelompok-kelompok agama tersebut pernah berdemonstrasi menentang sebuah majalah. Benar pula, kelompok-kelompok tersebut pernah mengawali sidang terhadap model foto seni. Tetapi diterapkan pada kisah Jamila, rasanya sungguh janggal. Apalagi tak ada tanda-tanda bahwa menteri yang tewas tersebut berasal dari kalangan tertentu (bahkan tampaknya dari kalangan sekuler).

Ada bagian yang menggambarkan bahwa demonstrasi tersebut adalah bayaran, tetapi siapa yang berkepentingan untuk membayar? Awalnya kukira karena menteri yang tewas adalah bagian dari persekongkolan jahat namun di akhir ketika motivasi Jamila terungkap, dugaan saya salah dan justru malah membuat kehadiran demonstrasi-demonstrasi tersebut menjadi aneh.

Mendekati akhir, Jamila menerima tamu tak dikenal di dalam penjara yang berbicara tentang keresahan mengenai agama yang dipolitisir tetapi sungguh, kehadiran tamu tersebut justru malah menambah kejanggalan. Lebih masuk akal bila yang berkata seperti itu adalah para narapidana lain.

Akhirnya, penggambaran-penggambaran demonstrasi tersebut tak lebih dari sekedar propaganda Ratna Sarumpaet dan saya harus mengatakan bahwa propaganda tersebut gagal!

Kehadiran tokoh kyai di akhir cerita mempertegas unsur propaganda tersebut. Reaksi-reaksi kyai tersebut jelas berlebihan dan mirip lelucon.

Ketika El-Manik sebagai Pak Haji merayu istrinya, Salma (Jajang C. Noer) dalam Berbagi Suami-nya Nia Dinata, tokoh agama ini menggunakan dalil yang seringkali diulang-ulang, yakni "daripada zina". Namun akting El-Manik dan kecermatan Nia membuat kita percaya bahwa sosok Pak Haji adalah sungguh meyakini apa yang ia ucapkan sehingga penonton pun merasa gemas terhadap karakter Pak Haji.

Hal yang sama tidak terjadi pada tokoh Kyai di penghujung cerita. Reaksi-reaksi spontan astaghfirullah dan subhanallah yang diucapkan berkali-kali terasa dibuat-buat dan menjadi lelucon. Hasilnya, bukannya penonton merasakan amarah dan depresi yang dirasakan oleh Jamila, kami justru tertawa.

Hal lain yang juga membuat tidak nyaman adalah fakta Jamila langsung ditaruh di Lembaga Pemasyarakatan segera setelah menyerahkan dirinya ke polisi bukannya ditaruh di Rumah Tahanan. Belum lagi aku tak habis pikir darimana Jamila mendapat botol-botol air mineral di dalam sel dan dari mana ia mendapatkan lem untuk menempelkan kliping-kliping korannya di dinding.

Ketika Susi (Ria Irawan) akhirnya bercerita tentang apa yang terjadi di malam itu kepada Ibrahim, akhirnya penonton mengerti mengapa Jamila memilih mati dan menolak pengacara. Keberadaan demonstrasi-demonstrasi, kejanggalan pengadilan yang terlalu cepat menyesatkan penonton yang doyan menebak akhir cerita tetapi tidak bisa memahami mengapa Jamila memilih mati. Ketika alasan sesungguhnya terungkap, faktor-faktor penyesat tersebut justru terasa tidak pada tempatnya. Akhirnya, bukannya sukses menyampaikan pesan untuk mencegah perdagangan wanita dan pelacuran anak kecil, Jamila dan Presiden malah menjadi film detektif yang justru membuat lebih banyak pertanyaan ketika credit-title mulai merayap.

Jujur saja, saya jadi membayangkan seorang Ram Punjabi tertarik dengan cerita ini untuk menunjukkan pada penonton Indonesia bahwa seorang Ram Punjabi tidak hanya membuat sinetron dan film sampah tetapi bisa membuat film berkualitas. Namun sayang, niat baik itu tidak disertai dengan usaha sungguh-sungguh untuk melakukan pengadaptasian dari medium yang sungguh jauh berbeda. Walau kamera yang digunakan sudah bagus (akhirnya.. kekecewaan pada film Drop Out terobati di sini) dan menghasilkan gambar yang cukup indah, tetapi shot-shot yang dihasilkan seperti shot-shot setengah hati.

Saya yakin kalau bagian-bagian akting dan dialog yang bagus diambil berkali-kali, atau setidaknya ada rehearsal sebelum kamera menyala, pasti adegan-adegan yang mengganggu yang saya sebutkan di atas menjadi wajar. Saya yakin kalau naskah diperiksa, dibedah berkali-kali, pasti menjadi lebih bagus.

Mungkin harapan saya terlalu berlebihan sebelum melihat film ini. Mungkin pula, saya masih terlalu terkesan pada akting Cut Mini Theo dan kawan-kawan dalam film Laskar Pelangi yang saya tonton VCD originalnya pada pagi hari di hari yang sama.

Monday, May 11, 2009

Romeo*Juliet

Romeo * Juliet: "Aku Haram Pakai Bajunya!"



"Viking Anjing!", ucap sang Romeo sambil menatap Juliet.
"TheJak Anjing!", balas Juliet pada Romeo dengan senyum manisnya.


Dialog nan absurd dan aneh itu, anehnya buatku lebih romantis daripada "What is in a name? (Apatah artinya nama)" yang dipilih oleh Bill Shakespeare, si pencipta karya yang judulnya dicontek Bang Andibachtiar Yusuf. Dengan dialog ini pun, Bang Andibachtiar membedakan dirinya dengan Shakespeare. Bila Bill mengatakan cinta menghapus sekat-sekat identitas maka tampaknya Bang Andi menyisipkan pernyataan cinta dan identitas bukanlah hal yang harus dipertentangkan. Kasarnya, walau mencintai seseorang, mereka yang dirudung kasih tetap bisa bilang "gue cinta lo tetapi bukan berarti gue mesti doyan suka ama kesukaan lo".

Romeo and Juliet memang adalah cerita dari William Shakespeare (untuk selanjutnya saya panggil sebagai Om Bill saja biar lebih akrab, biar bisa kubandingkan dengan Bang Andi) yang paling terkenal. Bahkan mereka yang tak pernah membacanya atau setidaknya melihat adaptasinya pun pernah mendengar nama Romeo dan Juliet sebagai sosok pecinta yang dihalangi oleh dinding pertengkaran keluarga.

Untuk saya pribadi, Romeo and Juliet sebenarnya karya Om Bill yang paling lemah. Sebut saya skeptis dan tidak romantis, tetapi sukar rasanya mempercayai "jatuh cinta pada pandangan pertama (love at first sight)" bisa menembus batas pertengkaran keluarga. Tentu saja, kelemahan ini juga diwarisi versi Bang Andi.

Adegan pertama dibuka dengan cuplikan-cuplikan nyata kekerasan yang terjadi pada lapangan sepakbola dan sekitarnya. Saya jadi mengingat trik J.M. Stracynzsky dan Clint Eastwood yang menyelipkan potongan-potongan koran dalam skenario yang dibagi-bagikan pada aktor dan aktrisnya untuk mengingatkan mereka, seaneh apapun cerita di tangan mereka, kisahnya pernah terjadi. Bang Andi dan kawan-kawan, dengan pembuka film mengingatkan bahwa kekerasan antar pendukung sepakbola adalah nyata.

Adegan selanjutnya, membuat mual saya seorang Jakarta tetapi bukan maniak sepakbola apalagi TheJak. Dibesarkan dengan lingkungan dengan istilah-istilah seperti "solidaritas", "setia kawan", "makan teman", telah letih aku dengan solidaritas yang disalahgunakan. Sungguh, ingin muntah rasanya melihat seseorang digebukin hanya karena berasal dari Majalaya. Sang Romeo pun juga tak segan-segan berpartisipasi dalam penganiayaan tersebut.

Namun, dalam rangkaian kekerasan-kekerasan tanpa arti yang dilakukan oleh TheJak pada Viking, sosok cantik Juliet membuat sang Romeo terpana. "Dalam keadaan chaos pun ia tetap cantik", curhat sang Romeo pada sosok Mercutio. Juliet pun juga menyadari sepasang selalu menatapnya dalam setiap kerusuhan yang ia alami bersama kawan-kawannya. Memang absurd! Namun bukantah cinta seringkali membuat para merpati menjadi egois?

Sang Romeo pun akhirnya memberanikan diri memperkenalkan diri pada Juliet dan gayung pun bersambut. Bahkan ketika Romeo pun mengantar Juliet ke rumahnya, keluarga Juliet menyambut Romeo dengan ramah. Sang kakak bahkan sempat menasehati Romeo untuk tidak bergabung dengan TheJak walaupun Romeo berasal dari Jakarta.

Sayang, hubungan baik itu tak berlangsung lama. Tybalt mengenali wajah Romeo dari penyerangan-penyerangan yang dilakukan Romeo dan kawan-kawan selama ini dan memberi tahu kawan-kawan Capulet. Para Montague pun juga mengenali wajah Juliet dari majalah. Romeo dan Juliet pun mengalami politik isolasi dari keluarga Capulet dan Montague.

Ibu dan kawan-kawan Juliet serta kawan-kawan dekat Romeo pun berusaha membantu hubungan mereka. Seperti halnya karakter pelayan wanita yang menjadi perantara surat dalan kisah asli Om Bill, mereka mengatur pertemuan Romeo dan Juliet bahkan mengatur pernikahan mereka.

Namun kebahagiaan tak berlangsung lama. Tybalt yang begitu membenci Montague menyerang dan melukai Mercutio (yang dalam versi Bang Andi bahkan bukan seorang TheJak). Dalam kemarahannya, Romeo dan kawannya membalas menyerang Tybalt

Mercutio pun memprotes Romeo, "Cinta you absurd! you yang naksir cewek, gue yang dapat getahnya. You kira, you Romeo? Trus Desi nyang jadi Juliet? Trus The Jak yang jadi Montague dan Viking yang jadi Capulet?". Dan kisah Bang Andi pun mulai berbeda dengan versi Om Bill. Romeo pergi ke luar kota tetapi bukan karena diasingkan. Juliet pun tidak dijodohkan dengan pria lain. Namun kisah Romeo dan Juliet mana yang tidak berakhir dengan tragedi?

Di bagian awal film, digambarkan TheJak sebagai kelompok pecinta sepakbola yang bengis. Tanpa dijelaskan alasannya, mereka menyerbu bis Viking di jalan tol yang seharusnya merupakan jalan paling aman. Seseorang dari Majalaya berkaos hitam tanpa atribut Viking (setidaknya, tidak teramati olehku) dianiaya habis-habisan oleh mereka, bahkan Rangga yang jadi sosok Romeo, juga ikut serta dalam penganiayaan. Bahkan dalam sebuah pertandingan, mereka sengaja menunggu bis berisi pemain untuk diserang. Warna jingga/orange yang jadi warna kebangsaan seakan menjadi simbol api kerusuhan.

Pada perkembangannya, Viking yang di bagian awal digambarkan sebagai korban (walau lambangnya adalah sosok bengis mengenakan helm viking) dengan warna biru yang biasanya buat simbol laut yang lebih tenang, berevolusi menjadi ganas, tidak kalah dengan TheJak. Pada akhirnya, saya pikir, Bang Andibachtiar tidak berpihak dalam membuat film ini. Film ini sangat kontras dengan film pertama beliau yang saya lihat dahulu.

Dalam versi Om Bill, Montague tidak mengucilkan Romeo dan Capulet tidak mengucilkan Juliet sementara di versi Bang Andi, walau Viking tidak mengucilkan Desi, Rangga mengalami politik isolasi oleh TheJak. Hanya kawan-kawan terdekatnya yang masih bersedia membela Rangga. Desi sendiri, walau tidak dikucilkan, kesetiaannya pada Persib diragukan bahkan si kakak berkali-kali mempertanyakan. Maka, dialog mesra antara Rangga dan Desi pun menjadi pernyataan mereka berdua:

"Viking Anjing!", ujar Rangga.
"TheJak Anjing!", balas Desi.

Tidak ada penyangkalan identitas a'la Romeo-nya Om Bill. Tidak ada keraguan seperti pertanyaan retoris what is in a name di versi ini. "Aku cinta Persib sampai mati!" jawab Desi pada sang kakak saat mengundang adiknya untuk ikut menonton pertandingan. "Biar aku yang memakai baju itu. Aku juga haram pakai baju dia!" sergah Desi ketika Rangga dipaksa sang kakak memakai baju Persib untuk membuktikan cintanya pada Desi. Bahkan Desi menolak mengenakan warna jingga di kamar Rangga.

Ketika Rangga sembunyi-sembunyi datang ke Bandung untuk menemui Desi, ia dan kawan-kawannya tetap menggunakan baju jingga di balik pakaiannya walau itu berarti mengantar nyawa. Ketika di akhir film mereka diburu oleh Vikings, baju luar mereka terobek-robek dan warna jingga pun muncul menyala, bersaing dengan darah-darah yang mengalir dari luka-luka mereka.

Film ini ditutup dengan adegan dua tahun kemudian setelah beberapa saat credit title mengalir, memperlihatkan sosok berwarna jingga di antara lautan biru. Dan, kali ini, laut biru tetap tenang walau ada jingga di antara mereka. Apakah ini mewakili harapan dari Bang Andi? Kemampuan untuk menjadi fanatik tanpa harus membuat kerusakan.

Dari sisi teknis sendiri, saya masih merasa seperti menonton film independent. Dialog curhat Desi pada kawan-kawannya, membuat saya terserang de Javu, seperti melihat dialog cheesy film karya kawan saya yang dahulu kami ramai-ramai membantunya. Untungnya, setelah itu cerita mengalir lancar.

Karya Ananda Sukarlan, walau beliau adalah seorang pianis handal, namun seperti halnya karya Jubing Kristianto di Kita Punya Bendera, kurang kuat untuk membuatnya dikenang setelah tulisan Coca Cola muncul di bagian paling akhir film (yup.. ada tulisan Coca Cola muncul dengan sangat jelas dan menyolok di akhir film ^_^*!).

Akhirnya, saya tak mungkin menganggap film ini selain sebagai film independen dan karena itu, saya hanya menulis pesan demikian di facebook saya pada Sabtu lalu pagi-pagi (saya menonton pada Jumat malam):
Romeo * Juliet: The best Indonesian independent movie shown on Indonesia mainstream cinema ever! They even have english subtitle on the movie.

Friday, May 08, 2009

Calo.. oh.. Calo... (SIM)

Berikut adalah perilaku para calo yang kutemui saat memperpanjang SIM A sekaligus mengganti SIM C yang hilang:

1. Persis di Pintu Keluar
Perilaku standar. Langsung nanya "bikin SIM, Pak? Saya punya kenalan, nanti bapak saat di dalam bisa menemui Bapak Fulan".

2. Di Jembatan Penyeberangan
Bapak ini disamping strawberi. Tadinya saat ia berdiri, kukira ia mau menawarkan dagangan strawberi. Terkejutnya saya ketika si Bapak langsung bertanya "bikin SIM, Pak?"

3. Di Dekat Gang
Sambil menunjuk ke arah gang. "Bikin SIM, Pak? Harus lewat sini, Pak. Yang pintu masuk cuma buat yang bawa mobil"

4. Di Dekat Tukang Bakso
Teriak "Kantor SIM-nya tutup, Pak!"



Apakah dalam perjalanan pulang usaha para calo berhenti? Tidak! Mereka masih mempunyai pangsa pasar ternyata.

1. Di Dekat Tukang Bakso
Teriak "Gagal yah, Pak? Gagal ujian teori, yah?"

2. Di Dekat Gang
Tanya baik-baik "Gagal, kan? Gagal?"


Buset deh... emangnya tampang gue saat itu kayak tampang gagal ujian apa?

Sunday, May 03, 2009